PEREMPUAN DENGAN SIHIR

 

https://www.backpacker.com/


PEREMPUAN 

DENGAN SIHIR

Archana Universa



Aku menyeka keringat dengan kain yang sedari tadi kukalungkan di leher. Panas terik menyengat hingga kulit. Aku sudah berusaha bersembunyi di bawah bayang pohon yang bergerak perlahan karena pergeseran matahari. Tapi tetap saja, panas.

 

 

 

 

 

 

"Lihat kulitmu!" tawa adikku yang datang membawakan makan siangku.

 

"Eksotik, kan?" balasku, acuh.

 

"Santai, bro! Aku gak bilang kau jelek karena warna kulitmu," katanya sambil duduk di saung area tempatku bekerja.

 

"Jelek memang bukan karena warna kulit, tapi karena bentuk muka!" seruku, sebal.

 "Tenang, bro! Mana mungkin aku mengatai saudaraku jelek? Berarti aku sendiri juga jelek dong?" balasnya.

 

Tapi distribusi gen antara ibu dan ayah di antara kami memang beda. Adikku banyak mendapat gen ibu. Dia cantik, banyak yang tersihir dengan rupanya. Sementara aku dominan gen ayah. Singkatnya, jelek.

 

"Lagi-lagi kau memikirkan soal jelek dan cantik," tegurnya seolah bisa membaca pikiranku.

 

"Aku tidak memikirkan itu!" bantahku, bohong tentunya.

 

"Memangnya kau sedang memikirkan apa?" selidiknya.

 

"Memikirkan apa kayu yang sudah kusiapkan cukup untuk membakarmu hidup-hidup!" jawabku, asal. Kedengarannya mengerikan, aku langsung merasa bersalah karena sudah bicara omong kosong. Aku tahu salah, tapi karena pengecut, aku tidak minta maaf.

 

Adikku melotot. "Tidak lucu!" bentaknya sambil beranjak pulang.

 

Tentu dia kesal. Aku pun akan kesal jika jadi dia. Kuharap saat pulang petang nanti, adikku sudah tidak marah lagi. Memaafkan tanpa perlu aku mengucap maaf.

 

Sisa hari itu kulalui dengan suasana pikiran yang kusut. Mestinya aku lebih bisa menjaga mulutku. Komentar yang tidak perlu, melukai adikku bukan secara fisik, tapi tetap saja menyakitkan.

 

Meski begitu, tetap saja aku tidak berencana minta maaf. Bertengkar dalam hubungan keluarga adalah hal yang wajar. Karena satu keluarga, kami lebih sering bertemu satu sama lain di banding dengan orang lainnya. Jadi kemungkinan buat bertengkar sesama anggota keluarga tentunya lebih tinggi dibanding bertengkar dengan orang lain. Wajar, jadi tidak perlu minta maaf.

 

Dari kejauhan aku tahu rumahku didatangi tamu. Jumlah orang yang ada di rumah lebih banyak daripada yang seharusnya. Tidak, aku tidak bermaksud berkata itu adalah pemandangan yang tidak semestinya. Itu justru pemandangan yang cukup sering kulihat, terutama ketika adikku sudah mulai memasuki umur menikah.

 

Tiga belas, dan mereka tidak akan menuduhmu sebagai pedofilia. Entah sudah berapa pria dari desa kami juga dari desa sebelah yang mencoba membujuk adikku jadi istrinya. Mereka seolah terpikat sihir karena paras adikku yang rupawan. Itulah nasib adikku.

 

Diperebutkan banyak pemuda. Mereka berkompetisi, bersaing, bahkan bertaruh soal siapa yang akan di terima adikku.

 

"Tidak ada yang kau suka?" tanyaku setelah dia menolak seorang pemuda dari desa sebelah. Perawakannya tinggi, wajahnya tampan, dari ekonomi yang lebih baik dari keluarga kami. Tapi seluruh modal latar belakang pemuda itu tidak mampu meluluhkan hati adikku.

 

"Bukankah jawabannya sudah jelas?" gerutunya.

 

"Kau menyukai seseorang." Itu bukan pertanyaan. Itu pernyataan.

 

"Orang yang kau sukai tidak datang melamarmu," lanjutku.

 

Adikku bergeming.

 

"Kalau dia tidak pernah datang padamu, apa yang akan kau lakukan?" desakku.

 

"Berarti dia bukan jodohku? Oh! Kenapa kau membuatku patah hati?" Adikku menghambur masuk ke kamarnya sambil menahan air mata.

 

Padahal aku hanya berandai-andai. Kata-kataku belum tentu tepat. Seperti biasa aku hanya asal bicara dan karenanya adikku terluka.

 

Seperti malam itu, adikku muram. Dia memang muram tiap kali ada yang datang hendak mempersuntingnya. Singkatnya, karena yang datang bukan orang yang ia cinta. Apalagi kini umurnya sudah enam belas. Tiga tahun menunggu pujaan hatinya yang tidak pernah muncul.

 

"Siapa sih orangnya?" tanyaku setelah sekian tahun tidak menanyakan hal itu.

 

Adikku terlihat ragu sejenak sebelum dia mengaku.

 

"Sahabatmu."

 

"Ferto?" ucapku, kaget.

 

Adikku mengangguk samar.

 

"Kok bisa?"


"Mungkin karena aku sering melihatnya karena dia teman bermainmu, mungkin karena itu aku sering melihatnya, mungkin karena itu aku menyukainya.... Ah! Entahlah! Aku tidak tahu!" serunya sembari mengacak rambut, hal yang selalu dilakukan adikku tanpa sadar ketika frustasi.

 

"Kau mau aku coba bicara dengannya?" Aku sedang berperan menjadi kakak yang baik, membantu adiknya.

 

"Bro, apa yang akan kau bilang padanya?" tanya adikku, terkejut.

 

"Serahkan saja padaku!" Aku meyakinkannya.

 

Maka dari itu ketika keesokan harinya aku bertemu dengan Ferto, aku mulai melancarkan rencanaku. Mencari tahu apakah dia punya ketertarikan pada adikku.

 

"Adikku menolak lamaran lagi," kataku dengan nada mengeluh yang disengaja. Padahal mau dia menikah minggu depan atau sepuluh tahu lagi sebenarnya aku tidak masalah, semua terserah adikku.

 

"Siapa kali ini?" timpal Ferto sambil mengaduk tanah, mencari cacing gendut yang akan digunakan sebagai umpan kami memancing.

 

"Kepala desa," ungkapku.

 

"Apa maksudnya? Menjadikan adikmu istri ke lima?"

 

"Maka dari itu, orang tua itu sudah sinting kan?"

 

"Bagus adikmu menolak!"

 

Hanya begitu balasannya. Ferto tidak memberi komentar lebih lanjut.


"Kau tidak mau ikutan?" selidikku.

 

"Ikutan apa?"

 

"Melamar adikku."

 

Ferto menghentikan tangannya. "Kau mau aku memperpanjang daftar manusia yang ditolak adikmu?"

 

"Sahabat sekaligus adik ipar. Kedengarannya asyik."

 

Ferto tertawa, tidak memberi komentar.

 

"Kurasa kau tidak tertarik dengan adikku," simpulku.

 

"Bukan begitu. Adikmu cantik, aku sudah lama mengenalnya, dia anak yang baik. Tapi jika orang-orang yang lebih hebat dariku saja ditolak, bagaimana denganku?" ungkapnya.

"Intinya kau menyerah kan?" Aku kembali menyimpulkan dengan semena-mena.

 

Ferto cemberut. "Entahlah."

 

Rumit sekali urusan percintaan ini. Di satu sisi adikku menunggu kedatangan sahabatku. Di sisi lain nyali sahabatku ciut padahal kesempatan berhasilnya sangat besar.

 

Aku menghela napas. "Coba saja dulu."

 

Ferto tidak menyahut, dia kembali mengaduk tanah buat mencari cacing.

 

Yah... Mungkin bukan hari ini. Kuharap aku bisa membujuk Ferto sedikit demi sedikit. Setidaknya hari ini aku tahu cinta adikku sebenarnya bukan cinta sepihak. Masih ada peluang. Aku hanya perlu lebih sering menyemangati Ferto untuk mengambil langkah.

 

Tangkapan ikan hari itu cukup banyak. Ferto dan aku masing-masing mendapat tiga ekor. Semua ikannya gendut. Semuanya lebih dari dua kilo per ekor.

 

"Bakar sebagian hari ini, sisanya besok!" seruku dalam perjalanan menuju rumah bersama Ferto.

 

"Pesta!" timpal Ferto, riang. "Hei! Apa keluargamu tahu kita akan bakar-bakar ikan hari ini?"

 

"Aku tidak yakin. Kenapa?"

 

"Kayunya sudah disiapkan dan api sudah dinyalakan," ungkap Ferto dengan nada terkejut.

 

"Tapi kenapa kobarannya besar sekali?"

 

"Apa rumahku terbakar?" tanyaku, panik. Penglihatan Ferto lebih baik. Jadi aku bertanya padanya.

 

"Tidak. Rumahmu ada di balik api unggun. Uh! Kenapa banyak orang di halaman rumahmu?" Ferto kebingungan dengan pemandangan yang ada di hadapannya.

 

Aku jadi tidak tenang. Aku dan Ferto bergegas mendekati rumah. Kami berjalan cepat sembari membawa bejana berisi air dan ikan yang rasanya menjadi lebih berat.

 

Semakin pendek jarak antara aku dan rumah, aku bisa mendengar orang-orang menyerukan kalimat yang sama berulang-ulang.

 

"Penyihir harus diberangus!"

 

"Penyihir harus diberangus!"

 

"Penyihir harus diberangus!"

 

Aku tahu tradisi itu. Pembakaran penyihir. Kebanyakan penyihir adalah wanita. Dibunuh secara sadis tanpa dapat membela diri.

 

Biasanya kepala desa yang menunjuk siapa penyihirnya. Kebanyakan dari keluarga bangsawan, bukan rakyat jelata seperti kami.

 

Lantas kenapa kini keluargaku jadi sasaran?

Jeritan yang kukenal itu sampai ke telingaku.

 

Suara milik adikku. Sontak aku tahu alasannya, mengapa adikku dituduh sebagai penyihir. Kini aku juga tahu kayu yang kemarin kusiapkan ternyata cukup untuk membakar adikku hidup-hidup.

 

Marah. Aku menyerang kepala desa dengan kapak yang selalu kugunakan buat membelah kayu. Kemudian gelap.

 

 

 

 

 

 

*

 

Archana Universa


 


AN1MAGINE VOLUME 6 NOMOR 5 MEI 2021

An1magine (baca: animagine). An1mgine Jurnal majalah digital bulanan populer seni, desain, animasi, komik, novel, cerita mini, dan sains ringan yang dikemas dalam format education dan entertainment (edutainment). An1magine (baca: animagine) mewadahi karya kreatif seperti cerita mini, cerita bersambung dalam ragam genre, tutorial, dan komik dalam ragam gaya gambar apa pun.

An1magine edisi ini dapat diunduh juga di An1mage JournalDcreatePlay Store, dan Google Book. Silakan klik link aktif yang ada untuk mengunduhnya. Gak mau ketinggalan berita saat An1magine terbit? Gabung yok di An1mareaders WA GrupFacebookInstagramTwitter.

Komentar

Postingan Populer