PINTU ENAM

 

https://upload.wikimedia.org/




PINTU ENAM

Archana Universa



"Sampai jumpa di pintu enam."

 

"Roger!" Pon memberi hormat.

 

"Kalau tujuan kita sama, kenapa tidak berangkat bersama?" tanyaku pada Pon setelah orang-orang itu pergi.


"Karena rute kita berbeda," jawab Pon sembari menurunkan tangannya. Dia tidak akan memberi hormat padaku karena pangkatku tidak lebih tinggi darinya.

 

"Karena tantangan kita berbeda," bisik Sujin padaku.

 

Aku mengangguk samar.

 

"Sebaiknya kita segera berangkat," saran Pon dengan nada memerintah. Timer berbunyi, kami punya waktu satu jam.

 

Jika tadi regu A berbelok ke kanan. Maka kami bertiga menuju kiri. Area C11. Kurasa aku pernah melaluinya, tapi bisa jadi juga tidak. Kumpulan bangunan ini cukup rumit, membingungkan.

 

Sudah dua bulan di sini, tapi belum seluruh ruangan kujejaki. Ini karena bangunannya dikoneksikan satu sama lain baik dengan meruntuhkan tembok, atau menggunakan jembatan untuk menyeberang.

 

"Jangan sampai tersesat... Oh! Sebenarnya tidak masalah jika kalian ingin mencari pintu enam secara mandiri." Pon segera mengoreksi ucapannya.

 

"Apa yang terjadi jika kami tidak mencapai pintu enam tepat pada waktunya?" tanyaku. Ini adalah pertama kalinya aku mengikuti Pon.

 

"Kau akan tahu nanti." Pon menyunggingkan senyuman miring.

 

Kami memasuki area yang dulunya merupakan pusat perbelanjaan. Masih banyak etalase toko yang memamerkan barang dagangan mereka. Di tinggal berbulan-bulan, penuh debu.

 

Kurasa situasinya cukup kacau saat itu. Kebanyakan pengunjung panik, kabur keluar. Meninggalkan barang mereka. Betapa materi jadi kurang bernilai saat situasi bencana. Sayangnya ketika mereka keluar, kebanyakan akan mati baik secara cepat maupun perlahan.

 

Kami sudah mengitari gedung ini beberapa kali. Berbagai lantai secara acak. Ketika berada di lantai 16, Sujin menepuk pundakku. "Lihat itu ada gaun yang semenjak dulu kucari!"

 

"Buat apa? Toh kita selalu menggunakan seragam di sini." Aku menahannya supaya tidak menyelinap ke toko yang dia maksud.

 

"Tidak akan lama. Aku akan segera menyusulmu." Sujin melepaskan pegangan tanganku pada seragamnya.

 

Aku menghela napas. Jengkel. Bisa-bisanya Sujin tidak fokus. Kurasa dia meremehkan Pon karena terus membuat kali mengelilingi gedung yang sama. Aku mencari-cari Pon yang ternyata sudah menaiki eskalator di sebelah kanan.

 

"Segera cari kami," kataku sambil meninggalkannya.

 

Tidak mungkin meminta Pon menunggu. Jadi aku berlari mengejarnya, berusaha mengurangi jarak di antara kami.

 

Sial! Kenapa laju Pon begitu cepat?

 

Seketika itu informasi mengenai Pon muncul. Kenangan dari masa lalu yang tidak sepenuhnya kuingat. Suara seseorang yang sepertinya familiar, tapi aku tidak mengingatnya siapa.

 

"Pon kurancang seperti itu. Makin lama makin cepat. Apalagi dia android."

 

"Sebenarnya kau memberikannya kemampuan apa?" tegurku.

 

"Kecepatan mobil sport. 588km/h dalam 2,3 detik? Bukankah Pon keren?" jawabnya dalam tawa.

 

"Tidak sekalian kau buat kecepatannya di atas 7.000 km/jam layaknya pesawat militer?" cibirku.

 

"Atau disamakan dengan roket? 40.000 angka yang fantastis!" serunya, senang.

 

"Dasar gila! Tidak akan ada yang lolos kalau begitu."

 

"Mungkin saja bagi mutan!" sergahnya.

 

"Objekmu kebanyakan manusia biasa." Aku mengingatkannya.

 

Orang itu cemberut.

 

Kembali ke kenyataan. Aku bisa melihat kelebatan Pon. Ia sudah melewati gedung samping yang temboknya sudah dijebol. Tidak lagi berada di gedung pusat perbelanjaan. Sementara itu Sujin masih belum kelihatan. Dia mungkin mengira Pon dan aku akan terus mengelilingi pusat perbelanjaan.

 

"Sujin! Kami pindah ke gedung sebelah lewat tembusan lantai 13!" seruku, entah Sujin akan mendengarnya atau tidak. Kuharap petunjukku sampai padanya.

 

Fokus! Aku tidak boleh kehilangan robot itu! Rasanya mustahil menemukan pintu enam secara mandiri.

 

Aku berlari secepat yang aku bisa. Mencoba menyusul, tapi rasanya aku bakalan gagal.

 

Koridor di gedung ini membuat ku merasa sedikit pusing. Nampaknya ini semula adalah gedung hotel. Banyak sekali pintu-pintunya.

 

Aku mendengar dentingan lift. Sial! Sial! OK tenang! Lihat di lantai mana liftnya berhenti, baru pikirkan langkah selanjutnya. Sementara itu aku menekan tombol lift sebelahnya.

 

Basement 2. Ya. Aku akan segera menyusul ke sana. Kuharap masih bisa menemukan jejak Pon meski sebenarnya aku sudah mulai putus asa.

 

Ting!

Pintu lift terbuka dan aku sendirian. Tidak ada bayangan yang bergerak. Tidak ada kelebatan sama sekali.

 

Di hadapanku hanya ada ruangan kosong. Salah satu pintu di sini pasti dilalui Pon. Masalahnya yang mana?

 

Pintu enam. Hanya itu yang aku tahu. Tujuanku.

Sedikit gemetar, aku mulai melangkah maju.

 

Benar-benar clueless sekarang. Apa memang perjalananku sampai sini saja? Tidak ada kesempatan buat mencapai tujuan? Tidak ada siapa-siapa di sini. Tidak ada peta, kondisi tanpa petunjuk.

 

Merasa seratus persen sudah gagal. Timer di tanganku menunjukkan waktu yang tersisa tinggal lima belas menit lagi. Aku merosot. Duduk di lantai penuh debu. Memejamkan mata. Mengatur napas yang pendek-pendek karena berlari.

 

Mendengarkan. Tidak ada langkah kaki. Tidak ada suara selain hembusan napasku. Tamat sudah riwayatku.

 

Haruskah aku menyerah dan berdiam diri di sini saja?

 

Suara benda berbahan gelas mengagetkanku. Ada orang lain di sini. Mungkin di salah satu ruangan di balik tembok ini. Tentu saja aku tidak mungkin sendirian. Secercah harapan membuncah dalam diriku.

 

Kuharap keberuntunganku sedang terisi penuh hingga aku bisa menyelesaikan misi yang kuanggap lebih banyak potensi gagalnya ini.

Aku bangkit dari posisi berlutut. Mengambil beberapa langkah kecil. Mataku mengawasi sekitar, siapa tahu ada jejak yang tertinggal.

Kudatangi salah satu pintu terdekat, kuayunkan tuasnya.

 

Terkunci.

 

Sebelum aku bisa mengontrol diri, aku sudah menggedor-gedor pintu itu sambil berteriak-teriak.

 

"Ada orang? Ada kan di balik pintu ini? Aku mendengar suara benda jatuh dan pecah. Tolong jawab aku!"

 

Selanjutnya seperti mimpi yang terwujud. Pintu itu terayun terbuka. Pria berjas putih yang bicara padaku soal Pon dalam ingatanku, kini ada di hadapanku.

"Easy! Kenapa harus menggedor-gedor panik seperti itu! Pintu ini bahkan hampir tidak pernah dibuka selama beberapa bulan terakhir!" serunya sebal. Namun ketika melihatku dia langsung diam.

 

"Aku kehilangan Pon!" seruku, frustasi.

 

"Lalu?" balasnya pendek.

 

"Kantormu punya shortcut menuju pintu enam kan? Bantu aku!" pintaku sambil memasang tampang memelas. Entah dari mana pengetahuan itu muncul. Pokoknya aku tahu saja.

 

"Kenapa aku harus membantumu?" gerutunya, kembali memasang tampang sebal.

 

"Kau tidak ingin membantuku?"

 

"Aku tidak bermaksud seperti itu ...."

 

"Waktuku kurang dari lima belas menit!"

 

Dia terlihat bimbang sejenak. "Masuk!" perintahnya.

 

Ruangan kerja itu begitu familier. Ya. Aku pernah menjadi salah satu peneliti di sini. Namun entah apa yang terjadi. Banyak memoriku yang hilang. Beribu pertanyaan muncul di kepalaku.

 

"Sebaiknya kau bergegas!" Pria itu mengingatkanku.

 

"Pintu enam."

 

"Kau memodifikasi jalurnya?" tanyaku berusaha tidak menanyakan apa yang sebenarnya sedang terjadi.

 

"Tidak. Masih sama seperti yang kau buat. Jalur laser. Hati-hati dengan jebakan yang kau buat sendiri. Semoga berhasil!" Dia menepuk punggungku dari belakang.

 

Pintu yang lain dibuka menggunakan kartu akses pria itu. Lorong gelap penuh jebakan. Aku menarik napas panjang dan mulai menghitung dalam hati.

 

Jebakan ini aku buat berdasar ketukan lagu favoritku. Sebaiknya perhitunganku tidak meleset.

 

"Hari ini bukan hari kematianku," gumamku pada diri sendiri.

 

Aku bisa merasakannya setiap kali jaring lasernya muncul. Aku tahu jarak antar jebakan karena aku penciptanya.

Meski begitu ini tetap menegangkan.

 

Lorong ini kurang dari dua ratus meter. Dengan kecepatan santai seperti ini, diperlukan dua kali lagu favoritku, sekitar tujuh menit. Aku masih bisa mencapai pintu enam sebelum timernya selesai.

 

Sekitar lima puluh meter mencapai pintu keluar, aku melihat ada orang lain yang menyeberang dari arah sebaliknya.

 

"Hei!" sapanya. "Tidak kusangka kau akan kembali kemari setelah dua bulan. Kupikir mereka membuangmu."

 

Tidak terdengar ramah.

 

"Aku lewat saja karena harus mencapai pintu enam," ujarku.

 

"Ah! Jadi ingatanmu belum pulih. Good luck kalau begitu," jawabnya sambil melewatiku.

 

Akhirnya aku mencapai ujung lorong. Keluar dari pintu dengan tulisan exit hijau di atasnya. Menegangkan. Aku banyak berkeringat melalui lorong jebakan tadi. Tegang, juga senang karena ini pertama kalinya aku mencoba melalui lorong mematikan itu.

 

Gedung tembusannya adalah tempat menyimpan mesin-mesin yang terbengkalai. Mesin mobil hingga mesin pesawat kecil. Mungkin tadinya semacam bengkel. Aku tidak tahu pasti.

 

Di seberang aku bisa melihat beberapa orang berkerumun. Pon, dengan tim dari regu A yang ironisnya masih lengkap. Aku tidak melihat Sujin di sana.

 

Setengah berlari aku melewati mesin-mesin yang tergeletak diam. Siapa sangka ternyata aku tetap berhasil mencapai tempat ini meski kehilangan jejak Pon di tengah perjalanan.

 

"Pon! Akhirnya aku menemukanmu!" seruku senang.

 

Namun detik berikutnya tidak terduga. Pon mengeluarkan pistol dari jaketnya dan mengarahkan senjata itu ke arahku.

 

DOR!


Tamat riwayatku! Pikirku panik. Tapi tidak ada rasa sakit. Tembakannya meleset atau dia sebenarnya tidak menembakku? Atau aku mati dalam sekejap? Apa orang mati masih bisa berpikir seperti ini?

BRUK!

 

Aku menoleh ke belakang dan melihat Sujin terjatuh. Pon menembaknya lagi dan lagi hingga gadis itu mandi darah.

 

"Apa yang kau lakukan?" teriakku histeris.

 

"Penyusup harus dibinasakan," jawab Pon enteng. Dasar android tak berperasaan!

 

"Penyusup apa? Apa kau juga akan membunuhku?" tanyaku mengkonfrontasi, padahal sebenarnya takut setengah mati.

 

"Untuk apa Agen B16x?" geram Pon.

 

"Huh? Apa sih maksudnya?" keluhku.

 

Pintu tempat aku keluar lorong tadi kembali terbuka. Peneliti pencipta Pon muncul. Melewati tubuh Sujin tanpa melirik seolah-olah itu hanya serangga.

 

"Kerja bagus Pon!" pujinya. Ia kemudian berhadapan denganku. "Jadi apa kau mau ingatanmu kembali atau mau melanjutkan tes ini?"

 

"Kembalikan saja. Bukankah aku juga sudah curang karena adanya kebocoran memory?" ujarku.

 

"Sudah kuduga keputusanmu ini. Aku bilang juga apa? Tembakan memorymu belum mumpuni, buktinya kau masih ingat cara melewati lorong jebakan."

 

"Jadi kau kecewa aku tidak jadi daging panggang karena laser?" protesku.

 

"Aku senang tembakan memorymu tidak berfungsi dengan baik jadi kau masih hidup sekarang. Kuharap pengembali memory ini berfungsi dengan baik." Peneliti itu menempelkan benda ciptaanku ke pelipisku.

 

Rasanya seperti mimpi. Aku mengingat semuanya. Bagaimana orang-orang yang meninggalkan gedung mati karena radiasi. Sementara kami para peneliti mencoba menyelamatkan peradaban manusia yang masih bertahan di dalam gedung.

 

Maka dari itu kami tinggal dari satu gedung ke gedung lainnya. Tidak keluar. Robot seperti Pon diciptakan untuk mendapat sumber daya dari luar.

 

Jebakan dibuat untuk penyusup seperti Sujin. Dia adalah salah satu manusia yang berhasil bertahan meski sempat berada di luar gedung. Mungkin dia kuat, mutan, tapi belum tentu dengan kami yang bisa jadi terkena radiasi dari carrier seperti dia.

 

"Sudah ingat?" selidik si peneliti.

 

"Kurasa... Entah jika ada yang terlewat. Ngomong-ngomong kenapa kau membuatku satu tim dengan penyusup itu? Kau tidak khawatir aku terkena radiasi?" protesku.

 

"Agar dia tidak curiga sedang diburu. Lagipula Pon sebenarnya berusaha memisahkan kalian supaya orang itu bisa cepat dihabisi. Tapi ternyata Sujin cukup cerdik untuk bisa sampai pintu enam."

 

Peneliti itu kemudian bicara pada robotnya. "Pon, tolong kuburkan penyusup ini di luar. Aku tidak suka ada mayat di dalam gedung."

 

"Jadi apa rencanamu selanjutnya?" Dia menanyaiku lagi.

 

"Membuat alat yang mampu menurunkan radiasinya dengan cepat. Bukan hanya untuk lingkungan, tapi juga buat manusia yang terkontaminasi. Aku benci melihat pembunuhan seperti hari ini. Aku khawatir lama-lama kita jadi psikopat, bukan peneliti lagi."

 

  

*

 

Archana Universa






An1magine Volume 6 Nomor 3 Maret 2021

Jurnal majalah bulanan populer seni, desain, animasi, komik, novel, cerita mini, dan sains ringan yang dikemas dalam format education dan entertainment (edutainment). An1magine mewadahi karya cerita mini, cerita bersambung dalam ragam genre, tutorial, dan komik dalam ragam gaya gambar apa pun. Jurnal majalah An1magine ini dapat diakses (open access system). Silakan klik link di atas untuk mengunduhnya.

An1magine edisi ini dapat diunduh juga di An1mage JournalDcreatePlay Store, dan Google Book. Silakan klik link aktif yang ada untuk mengunduhnya. Gak mau ketinggalan berita saat An1magine terbit? Gabung yok di An1mareaders WA GroupFacebookInstagramTwitter

Komentar

Postingan Populer