ANNIVERSARY

 

https://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/f/f6/Riftia_tube_worm_colony_Galapagos_2011.jpg



ANNIVERSARY

Archana Universa


"Wow tempatnya oke bingits!"

 

Aku tidak bisa menyembunyikan raut wajah cemberut. Manusia di depanku ini benar-benar pintar berhemat. Aku lebih suka menyebutnya si kikir.

 

"Jadi apa yang sedang kita rayakan?" tanyaku sambil melipat kedua tangan di depan dada.

 

"Semuanya. Perayaan hari jadi kita, ulang tahunku, juga hari valentine," jawabnya sambil bertepuk tangan kecil.

 

"Sungguh kebetulan," cibirku.

 

"Ayo lihat menunya! Kau yang pesan tempat, aku yakin harganya terjangkau. Kau tahu kondisi keuanganku kan sayang," lanjutnya tidak menggubris sindiranku.

 

"Sekitar dua ratus ribu buat makan berdua." Aku mengiyakan.


"Lebih sedikit tidak masalah," balasnya sambil meneliti deretan menu.

 

"Jaga-jaga ada service fee di luar pajak." Aku ikut-ikutan meneliti buku menu.

"Pizza! Aku pesan bacon, kau tuna dengan nanas. Tentu kita akan sharing, saling icip. Minumnya cola. Seporsi kentang goreng kayaknya oke," cerocosnya sambil mengangkat tangan buat memanggil pelayan.

 

Mike menyebutkan pesanannya sementara aku melihat-lihat restoran ini dalam posisi duduk. Pengunjungnya cukup banyak. Beberapa anak kecil berlarian sambil diekori orang tuanya. Tidak ada playground tapi, ruangannya cukup luas untuk bermain lari-larian.

 

"Harus kuakui kau pintar mencari sesuatu. Tempat ini benar-benar bagus. Kita bisa melihat laut dari sini. Restorannya keren, kau bisa foto-foto buat diunggah ke sosial media, harganya juga tidak membuat dompetku kering. Perfect!" Mike memujiku.

 

"Kau sendiri juga bisa kok jika mau menyempatkan waktu buat mencari. Zaman digital, tinggal ketik keywordnya di ponsel pintarmu. Cek foto dan rating terutama dari pengunjung. Kadang foto dari owner itu tipu-tipu," kataku setengah melamun.

"Kenapa kau memandangi laut dengan tatapan seperti itu?" sahut Mike.

 

Aku mengalihkan pandangan ke matanya. "Seperti apa tepatnya?"

 

"Rindu sekaligus benci," kekehnya.

 

"Kau yakin itu pandanganku ke laut bukan pandanganku ke kau?" Aku memicingkan mata.

 

"Yang benar ah?" Mike membulatkan matanya.

 

"Eh gimana kalau nanti sore kita main ke pantai?"

 

"Kalau mau berenang ke kolam renang saja. Aku tidak suka pasir-pasir menyelip di kuku kaki atau masuk baju renang. Kalau mau ke pantai duduk-duduk saja memelototi sunset."

 

"Dasar wanita kejam," gerutu Mike. "Sebegitu

tidak sukanya kau kena air laut!"

 

"Jangan pura-pura buta. Sungai yang bermuara ke pantai di penuhi sampah. Kalau dinas terkait tidak menjaring sampahnya pasti pantainya kotor parah. Meski sampahnya ditahan, airnya tetap kotor."

 "Kalau pantai lain yang masih belum populer kau mau nyemplung? Di area pedesaan jadi lebih bersih," usul Mike.

 

"Warga desa juga banyak kok yang buang sampah ke selokan." Aku berhenti sejenak sebelum menambahkan. "Banyak yang masih mandi, mencuci pakaian, bahkan buang hajat di sungai."

 

"Dasar banyak mengeluh!" seru Mike, gantian mencibirku.

 

"Intinya aku oke kalau di kolam renang. Itupun harus bersih, gak mau yang lumutan," tegasku.

 

"Ya sudah nanti sore kita duduk-duduk saja di pinggir pantai." Mike mengalah.

 

Pesanan kami datang sekitar tiga puluh menit setelah order dibuat.

 

"Kau tahu kenapa aku benci memasak? Karena lamanya persiapan, proses memasak, dan beres-beresnya lebih lama dari pada waktu yang dibutuhkan buat makan." Aku mengajukan pertanyaan dan menjawabnya sendiri.

 

"Menurutmu berapa lama buat kita menghabiskan seluruh makanan ini?" timpal Mike sambil mulai mengangkat sepotong pizza menggunakan tangannya.

 

"Lima belas menit."

"Kurang lebih," sahut Mike setuju dengan jawabanku.

 

Aku baru saja memasukkan potongan terakhir pizza ke mulut ketika getaran itu muncul.

 

"Gempa bumi." Mike mengerutkan keningnya. Beberapa pengunjung menjerit kaget sementara pegawai di sini memasang tampang pucat.

 

"Sebaiknya kita segera keluar," usulku sambil berdiri. Pizzanya masih di mulut, belum sempat tertelan.

 

"Kita belum bayar makanannya. Kurasa para staff akan menghentikan kita?" Mike ragu tapi, dia ikut berdiri.

 

"Ini bukan karena kita akan kabur atau bagaimana. Buruan!" desakku.

 

Kami bergegas menuju pintu ketika aku mendengar suara lain. Berasal dari tempat yang jauh, datang dengan kecepatan tinggi.

 

"Tsunami," gumamku.

 

"Tsunami?" ulang Mike shock. "Hei jangan berucap hal buruk seperti itu!"

 

Aku mengerutkan keningku. "Ayo lekas pergi. Masih ada waktu mungkin sekitar sepuluh menit lagi."

Aku berbalik ke meja kasir. Melemparkan beberapa lembar uang dan meyakinkan bahwa itu lebih dari jumlah yang harus dibayar. "Ambil kembaliannya."

 

Kasirnya ingin menahan kami. Memastikan jumlahnya memang tidak kurang, tapi aku sudah menarik lengan Mike buat keluar dari restoran.

 

"Hei! Santai! Bukankah kita berada di atas? Pantai ada sekitar dua puluh meter di bawah sana. Tidak perlu terlalu cemas oke? Jika memang terjadi, Tsunaminya tidak akan sampai atas sini," tahan Mike.

 

Jadilah kami menanti kasir menyelesaikan transaksi, bahkan memberikan kembalian.

 

Mike melanjutkan omelannya. "Lagipula kenapa kau yang bayar? Aku memang ingin makan di tempat yang terjangkau, bukan berarti kau yang mentraktir!"

"Kau berulang tahun, aku mentraktir agar kau senang. Tidak ada masalah. Sekarang ayo kita menjauhi pantai!" pintaku.

 

Mike menepis tanganku dengan sebal.

 

"Gempanya sudah selesai, belum tentu akan ada Tsunami. Tenang oke? Kau tahu aku benci tiap kau negatif thinking. Apa yang kau pikirkan belum tentu jadi kenyataan. Jangan ditakuti oleh pikiranmu sendiri!"

 

"Tapi Tsunaminya sedang mengarah ke sini Mike! Bagaimana jika tebingnya longsor dan kita digulung ombak?" Aku coba meyakinkannya.

 

"Tarik napas panjang, lepaskan. Ayolah! Beberapa menit lalu kau masih bersikap manis. Gempanya sudah berlalu. Posisi kita ada di tempat tinggi...."

 "Bagaimana jika kita naik ke area yang lebih tinggi lagi? Itu akan membuatku lebih tenang," rengekku.

 

Mike jelas kesal dengan sikapku. Namun dia mendengarkan. Kami keluar area restoran dan mulai mendaki bukit kecil di belakangnya. Kami berangkat ke tempat ini menggunakan angkutan umum. Tinggal mengikuti jadwalnya buat kembali ke area kota.

 

Namun sekarang bukan waktunya bus datang, jadi lebih baik naik ke bukit. Di atas sana juga ada halte.

 

"Berolahraga tepat setelah selesai makan bukanlah ide yang bagus," gerutunya ketika kami mencapai halte. "Sudah tenang sekarang?"

 

"Lumayan," gumamku terengah-engah.

 

Bumi kembali bergetar. Gempa lagi.

Mike memandangiku dengan tatapan ngeri.

 

"Kuharap tidak Tsunami," katanya dengan bibir bergetar.

 

Aku menunjuk ke arah laut. Mike mengikuti arah tanganku. Namun penglihatannya buruk.

 

"Apa?" tuntutnya.

 

"Airnya datang," jawabku.

 

"Haruskah kita naik lagi? Tapi aku sudah lelah. Pizza tadi saja sudah mau keluar!" keluhnya.

 

"Kuharap posisi halte ini cukup tinggi," ujarku, khawatir.

 

"Aku tidak kuat menggendongmu naik." "Bertahan di sini?" Mike menanyakan persetujuan dariku.

 

Aku diam saja. Tidak yakin tindakan apa yang semestinya dilakukan.

 

Mike ikut diam dan air bah itu makin mendekati kami. Mula-mula nampak seperti garis putih. Namun siapa pun di bawah sana akan menyadari betapa tingginya air yang datang dengan cepat itu.

 

Aku melihatnya dengan jelas ketika air itu mencapai pinggiran tebing tempat di mana tadi kami berada. Mencapai restoran pizza.

 

"Na-naik ke pohon!" seru Mike panik.

 

"Aku tidak bisa memanjat!" jawabku.

 

"Aku akan menarikmu! Cepat!" perintahnya.

Mike menaiki salah satu pohon besar dekat halte dan mengulurkan tangannya kepadaku.

 

Kuraih tangannya. Namun air mencapai kakiku. Tidak tinggi hanya semata kakiku. Tsunaminya sudah mencapai batas tertingginya.

 

Harusnya aku selamat, mestinya semuanya baik-baik saja seperti kemarin, seperti tadi pagi saat aku bangun. Namun nyatanya tidak.

 

Tanpa aba-aba aku berubah ke wujud asliku. Manusia mungkin akan mengira aku sebagai Riftia pachyptila, cacing laut, tapi sebenarnya evolusiku jauh lebih tinggi dari makhluk itu.

 

Bersama air laut, aku bergegas kembali ke the trenches zone tanpa berani melihat wajah Mike untuk terakhir kalinya.


*

Archana Universa

Adalah Penulis Kreatif Sci-fi Populer






An1magine Volume 6 Nomor 2 Februari 2021

Jurnal majalah bulanan populer seni, desain, animasi, komik, novel, cerita mini, dan sains ringan yang dikemas dalam format education dan entertainment (edutainment). An1magine mewadahi karya cerita mini, cerita bersambung dalam ragam genre, tutorial, dan komik dalam ragam gaya gambar apa pun. Jurnal majalah An1magine ini dapat diakses (open access system). Silakan klik link di atas untuk mengunduhnya.

An1magine edisi ini dapat diunduh juga di An1mage JournalDcreatePlay Store, dan Google Book. Silakan klik link aktif yang ada untuk mengunduhnya. Gak mau ketinggalan berita saat An1magine terbit? Gabung yok di An1mareaders WA GroupFacebookInstagramTwitter

Komentar

Postingan Populer