PAK SAMI

 

https://www.merdeka.com/jatim/8-teknik-memancing-ikan-agar-cepat-dapat-banyak-perhatikan-langkahnya-kln.html



PAK SAMI

Archana Universa



Jika dilihat dari jauh, kau akan mengira itu ikan terbang. Ikan itu tidak sedang melayang di udara. Dia terjebak jaring canggih, nyaris kasat mata, menunggu ajalnya tiba.

 

 

 

"Lapar?" Pak Sami menyapaku. Dia selalu menawariku makanan.

 

"Istri bapak bakal cemberut kalau jatah ikannya berkurang!" balasku asal.

 

"Dia malah akan senang. Kami terlalu banyak makan ikan dalam hidup kami. Kami sudah lama tidak bahagia ketika makan ikan!" tegasnya.

 

"Lalu kenapa Pak Sami terus menangkap ikan? Tangkap hewan lain untuk disantap!" seruku gemas.

 

"Apa misalnya? Buaya? Katak? Perjelas maksudmu, nak!" cerocosnya padaku.

 

"Contohnya belut!" Aku tersenyum lebar padanya.

 

Pak Sami menangkap maksudku dengan jelas. 


Rumah Pak Sami boleh dibilang merupakan hunian yang paling menyatu dengan alam di area sini. Salah satu dindingnya menempel pada pohon dengan batang yang tidak bisa kupeluk. Dinding dari susunan kayu tegak dengan atap jerami. Alasnya mayoritas tanah. Beberapa sudah dilapisi batu.

 

"Bu, Bapak pulang!" seruannya merupakan pengganti ketukan pintu. Lagipula siapa sih yang suka mengetuk pintu rumahnya sendiri?

 

Tidak ada jawaban.

 

"Belum pulang rupanya," cetus Pak Sami sembari membuka pintu dan memberiku isyarat untuk masuk.

 

"Sepi," komentarku, singkat.

 

"Kalau mau ramai ke pasar malam saja!" gerutunya sambil meletakkan ember berisi tangkapannya ke dekat tungku.

Beliau lalu meraih lampu minyak dan mencari korek. Aku menyodorkan korek api kayu padanya.

 

"Masih merokok kamu?" tanyanya sambil meraih benda dari tanganku, menyalakan sebatang untuk menyulut sumbu lampu.

 

"Mana pernah aku merokok!" protesku.

 

"Kau pikir aku tidak tahu kan? Kelayapan bareng teman-temanmu di bawa pohon beringin. 


Ngebul!" katanya sebal.

 

Aku meringis. "Ya... diberi, mau tidak mau ya terima daripada dicap sombong."

 

"Kalau dicap goblok mau?" sindirnya.

 

"Ya ... gak gitu juga sih Pak!" Aku protes. 

Pak Sami berkacak pinggang sebentar lalu mengulurkan tangannya padaku. "Sudah, mana barangnya? Berikan padaku!"

 

"55 Cancri e?" tanyanya sambil menaikkan alis sebelah. "Kau tahan suhu 2700 derajat celcius?"

 

"Sudah ada android yang bisa melakukannya. Pak Sami terlalu lama di Bumi dan tidak ke mana-mana. Apa benar kau seorang petualang?" gerutuku.

"40 tahun cahaya bukan jarak yang jauh." Dia malah mengejekku. "Manusia zaman sekarang belum paham kalau berlian itu berharga. Sebaiknya kau memberiku emas saja. Lebih mudah ditukar dengan uang pada zaman ini!"

 

Dia melemparkan berlian kembali padaku.

 

"Ya sudah pindah saja ke tempat di mana kau bisa menukar berlian dengan banyak uang," gerutuku.

 

Pak Sami terkekeh. "Kalau aku memang ingin hidup bergelimang harta aku tidak akan memilih waktu dan tempat yang kutinggali sekarang. Terima kasih oleh-olehnya, tapi aku lebih suka sesuatu yang bisa dimakan."

 

"Pak Sami, kau tahukan aku mengenalmu dengan baik?" Aku mulai membongkar ransel dan mengeluarkan beberapa makanan siap saji dari brand terkenal. Tidak lupa aku membawa microwave portabel yang bisa dilipat.

 

"Ah!" seru Pak Sami, detik berikutnya dia tertawa-tawa girang.

 

"Yang mana dulu?" tanyaku.

 

Pak Sami menunjuk Pizza kemudian Carbonara. Dia mengelus-elus perut yang akan dimanjakannya itu.

 

"Aku juga membawakan minuman kesukaanmu!"

 

"Root beer, Sarsaparilla!" soraknya, senang.


Setelah Pizza dan Carbonara siap, aku kembali memasukannya ke microwave. Kali ini mode mendinginkan. Alat-alatku memang secanggih itu.

 

"Kau sudah dengar Cosmicafe? Mereka baru meluncurkan delivery antar waktu dan lokasi. Pak Sami harus jadi pelanggannya biar gak kelamaan menunggu aku datang."

 

"Bagaimana cara kerjanya?" tanyanya, tertarik.

 

"Pakai sistem decoder encoder, tenaga ion. Cuman karena mereka pionir, harga alatnya masih mahal."

 

"Kau meremehkan aku miskin karena rumahku reyot?" tuduhnya. Aku memicingkan mata. "Tentu saja Pak Sami yang kaya mampu memiliki alat tersebut. Kau bahkan tidak perlu menjual rumah ini untuk bisa membeli alatnya."

 

"Zaman ini orang-orang belum melakukan  jual beli rumah. Manusia membangun rumah mereka di tanah yang mereka mau!" ujarnya sembari menoyor kepalaku.

"Aku bisa tahu area yang kau sukai, area yang tidak banyak tetangganya sehingga kau bisa memindahkan danau tadi dari timeline lain dengan mudah!"

 

"Memangnya apa yang kau harapkan? Haruskah aku membawa eskavator kesini? Mengeruk tanahnya? Belum lagi menebar bibit ikan dan lobster ke dalamnya? Aku bisa dikira dewa! Manusia zaman ini bahkan belum tahu ada benda bernama sepeda!"

 

Aku tertawa. Inilah alasanku ke sini. Berjumpa dengan veteran time traveller. Mendengarkan berbagai kisah dari Pak Sami yang sudah menjelajahi semesta lebih banyak daripada aku.

 

Kuharap suatu saat rasa bosannya menjelajah semesta akan mereda sehingga kami bisa berpetualang bersama. Ya. Aku berharap bisa melakukannya suatu saat nanti.

 



GRATIS. An1magine 1 Januari 2021.  An1magine adalah Jurnal majalah bulanan populer seni, desain, animasi, komik, novel, cerita mini, dan sains ringan yang dikemas dalam format education dan entertainment (edutainment).

An1magine Volume 6 Nomor 1 Januari 2021

Jurnal majalah bulanan populer seni, desain, animasi, komik, novel, cerita mini, dan sains ringan yang dikemas dalam format education dan entertainment (edutainment). An1magine mewadahi karya cerita mini, cerita bersambung dalam ragam genre, tutorial, dan komik dalam ragam gaya gambar apa pun. Jurnal majalah An1magine ini dapat diakses (open access system). Silakan klik link di atas untuk mengunduhnya.

An1magine edisi ini dapat diunduh juga di An1mage JournalDcreateiteks, Play Store, dan Google Book. Silakan klik link aktif yang ada untuk mengunduhnya. Gak mau ketinggalan berita saat An1magine terbit? Gabung yok di An1mareaders WA GroupFacebookInstagramTwitter

Silakan klik PDF di bawah ini untuk mengunduhnya.




 

Komentar

Postingan Populer