GRAY: ABU-ABU

 

https://scitechdaily.com/astronaut-says-alien-lifeforms-that-are-impossible-to-spot-may-be-living-among-us/


GRAY: ABU-ABU

M.S. Gumelar


“Ji-hoon jangan berisik, bergerak pelan” bisik  Sung-ho kepadaku setelah bergerak merayap dengan cepat untuk menyusulku.

 

“Kenapa?”

 

“Sepertinya di depan ada potensi pasukan lawan telah bergerak pula ke arah sini,” jawab Sung-ho sembari melihatku dengan tajam dengan tujuan menekankan perkataannya dan berhati-hati.

 

Aku mengangguk. Kini Sung-ho memimpin dan bergerak merayap perlahan melewatiku. Mei 1951, hari ini, entah hari apa dan tanggal berapa, kami berada di tengah hutan dekat Chorwon. Mengingat urutan dan nama hari menjadi tidak penting lagi.

 

Kami bersepuluh orang mengikuti Sung-ho merayap ke arah tertentu, mendekati area rendah dan terlindung, kemudian di dalam cekungan tersebut seperti ada gua kecil seukuran anak-anak, tidak cukup untuk  dimasuki oleh orang dewasa seperti kami, kecuali dengan cara merunduk atau merayap seperti ini.

 

Kriiiiiiiiiik …

Kriiiiiiiiiiiiiiiiiik

Kriiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiik

 

Suara maemi di pepohonan mulai terdengar setelah kami berhenti bergerak. Dari sisi ini, pemandangan jelas mengarah gunung kecil yang berada di atas, potensi pasukan lawan melintasi gunung atau bergerak menyamping di salah satu sisi gunung yang ada di atas kami.

 

Satu sisi kiri kami gunung tersebut dibatasi oleh sungai yang dalam dan masih banyak buaya dan ular di sana, di sebelah kiri kami, sehingga potensi pasukan lawan muncul dari arah sisi sungai atau sisi kiri gunung sangat kecil sekali, walaupun potensi itu ada.

 

Namun potensi kuat adalah dari sisi kanan, karena lebih mudah dijalani dan pasukan lawan diprediksi lebih mudah untuk bergerak cepat, kecepatan gerak setiap pasukan adalah kunci dalam setiap peperangan.

 

Sung-ho terlihat memberikan aba-aba untuk menunggu di tempat ini, tempat yang tepat, di depan cekungan ada batu-batu besar yang sepertinya mampu untuk menahan tembakan artileri sekalipun, dan juga ideal untuk bersembunyi sekaligus membalas tembakan kepada lawan yang lebih komplet peralatan perangnya. Tetapi selama ini, gaya berperang ala gerilya relatif masih terbaik untuk melawan pasukan lawan yang lebih banyak jumlahnya.


Kami masih menunggu. Hari mulai agak temaram karena sudah mulai mendekati sore, mungkin sekitar pukul 6 sore. Kulihat beberapa teman mengunyah makanan yang dibawanya sembari tetap tiarap.

 

Mendadak terdengar suara tembakan beruntun dan teriakan-teriakan dalam bahasa Inggris. Tak lama kemudian dari sisi kiri gunung, muncul benda aneh berbentuk jing dengan lingkaran sinar yang berkelap-kelip di beberapa area permukaannya melintasi kami.

 

TRAAAT

TRAAAAAAT

TAT

TRAAAT

 

Suara tembakan masih terdengar dari arah balik gunung sebelah kiri, disusul tembakan artileri dengan beberapa roket mengarah ke jing terbang tersebut.  Kami mulai akan menembak tapi Sung-ho memberikan tanda untuk tidak menembak jing terbang tersebut yang berukuran lumayan besar, mirip seperti ukuran tank, tapi sekitar 4 kali lipat besarnya dan mampu terbang seperti pesawat walaupun tanpa terlihat ada sayap di sana.

 

Kami bengong dan terpesona melihat jing tersebut yang kemudian menjauh dengan cepat tanpa terkena sedikit pun dan tidak terlihat lagi dari pandangan kami. Kami saling memandang dan tidak percaya dengan apa yang telah kami lihat.

 

Kemudian Sung-ho bergerak berlari, aku dan teman-teman lainnya mengikutinya ke arah suara teriakan-teriakan dalam bahasa Inggris. Kami melihat pasukan Amerika Serikat yang diperbantukan kepada kami tengah berguling-guling seperti ingin memadamkan api yang tidak tampak di tubuhnya, bahkan banyak yang menceburkan diri ke sungai yang belum tentu lebih aman.

 

Aaaaaargh!” seseorang berteriak ketika tubuhnya dicabik oleh seekor buaya.  Kemudian orang-orang yang berada di sungai segera keluar dari sungai, karena terlihat segerombolan buaya mulai bergegas mendekat, mencabik-cabik orang yang terlambat untuk melarikan diri.

 

“Siapa kepala pasukan!” teriakku.

 

“Di sini!” jawab seseorang.

 

“Aku Sung-ho pemimpin pasukan gerilya dari Korea Selatan,” Teriak Sung-ho sembari menghampirinya.

 

“Francis P. Wall,” jawabnya sembari mengguyurkan air ke tubuhnya, sepertinya dia merasa kepanasan.

 

“Apa yang terjadi?” tanyaku.


“Entahlah, aku pikir tadi pesawat atau alat tempur Korea Utara, melayang dan ke arah kami dari balik gunung” jawab Wall.

 

“Kami tidak mampu menjatuhkannya, semua senjata kami tidak berguna,”  lanjut Wall.

 

“Lalu semacam sinar biru kehijauan dan seperti dengungan suara yang berdenyut-denyut mengenai kami, tubuh kami merasa panas dan kesemutan di sekujur tubuh, kemudian kami berpencar untuk menghindarinya,” Wall. Tampak berusaha tenang walaupun napasnya tersengal-sengal karena shock.

 

 

*

 

 

“Sudah tiga hari kau di sini, bagaimana keadaanmu?” tanya Sung-ho.

 

“Disentriku mulai membaik kata dokter,” jawab Wall.

 

“Ya lebih baik, tetapi darah putihmu masih tinggi, kau belum boleh pulang,” kata perawat perempuan yang sedang membenahi ranjangnya sekaligus mengecek beberapa hal untuk menangani kesehatan Wall.

 

Aku tersenyum. “Baiklah aku tinggal dulu ya, beritahu aku kalau kau perlu bantuan lebih lanjut,” ucap Sung-ho.

 

Wall melambaikan tangannya dan kemudian mengangkat salah satu bantal dan menutupi area mata dengan bantal tersebut, sepertinya dia perlu beristirahat. Aku dan Sung-ho membalasnya dan kemudian bergerak ke luar ruangan tersebut.

“Sebenarnya apa yang telah kita lihat Sung-ho?” tanyaku.

 

“Entahlah, kalau Korea Utara memiliki teknologi tersebut, kita mungkin sudah kalah sejak awal.” Sung-ho menatapku.

 

“Lebih baik kita makan dulu, bagaimana kalau gogigui?” ajakku.

 

“Ha, ide yang bagus,” jawabnya.

 

 

*

 

Kusuapkan gogigui dengan cara ssam dan menikmati campuran daun yang terasa asam, daging yang empuk berair, bawang putih bakar, serta bumbu, perpaduan sempurna yang meresap di lidahku.

 

“Kau sepertinya tidak pernah bosan menyantap gogigui dengan cara membungkusnya dengan daun,” Sung-ho tertawa melihat ulahku.

 

“Tidak pernah bosan,” jawabku.

 

“Aku sebentar lagi dipindahkan ke kelompok pasukan lainnya,” jelasnya.

 

“Aku tidak heran, kau sangat disiplin, mungkin teman-teman lainnya bosan karenamu,” cetusku.

 

“Ha ha ha kau suka berterus terang, tapi itu yang kusuka darimu,” Sung-ho tersenyum.

 

“Aku memang sangat disiplin, mungkin cenderung menyebalkan, tetapi sejauh ini, anggota yang di bawahku masih tetap selamat dalam peperangan,” lanjutnya sembari menatapku serius.

 

“Ya, bisa dibilang begitu, dan kau melihatku sebagai anak buah yang sering membangkang bukan?”

 

“Kau terlalu berani cenderung gegabah, sehingga potensinya, kau akan tewas duluan dalam setiap misi,” jelasnya.

 

“Terima kasih telah menjadi remnya,” jawabku sembari menyuapkan gogigui dengan gaya ssam lainnya.

 

 

*

 

Setelah makan di hari itu. Aku sudah tidak bertemu lagi dengan Sung-ho atau mendengar lagi kabar darinya. Komunikasi kami terputus. Apalagi Sung-ho telah naik pangkat dan ditugaskan di tempat lainnya, aku tetap sebagai prajurit biasa. Sudah 15 tahun berlalu.

 

Aku. Ya aku kini pengangguran. Tidak memiliki kemampuan apa pun selain berperang dan makan. Berperang kini sudah tidak dilakukan lagi sejak perjanjian damai dilakukan.

 

Makan, ya hobi makan ini yang akhirnya membuatku membuka eumsig nojeom khusus gogigui ala ssam. Sayangnya aku belum beruntung, karena aku harus menutup warungkusetelah berjalan enam bulan, bangkrut, karena aku salah sasaran, harusnya aku menyasar pasar menengah ke atas, tapi karena warungku di area pinggiran dan kecil, harga tersebut terlalu mahal bagi menengah ke bawah, akhirnya aku gulung tikar.

 

Kemudian aku melamar pekerjaan sebagai wartawan. Di usiaku yang kini 45 tahunan, sulit sekali mendapatkan pekerjaan, tetapi wirausaha, aku juga sudah kehabisan modal. Yang penting aku masih bisa bertahan hidup dan mampu mengisi perutku yang selalu kelaparan di saat-saat tertentu.

 

 

*

 

 

Gaji kecil sebagai wartawan aku jalani selama dua tahun lebih. Sampai suatu hari.

 

“Hai!” seseorang menyapaku dari dalam satu mobil mewah saat aku sedang membersihkan kaca lensa kameraku di tepi jalan.

 

“Ya,” jawabku.

 

“Apakah kau Ji-hoon?” tanyanya.

 

“Ya, Anda siapa ya?”

 

“Hyun-woo, anak dari Sung-ho,” jawab perempuan muda yang cantik dan memang mirip Sung-ho tersebut.

 

“Sung-ho? Sudah lama tidak mendengar kabar darinya? Di mana dia kini?” aku terperangah sekaligus terpesona.

 

“Dia sakit keras, aku mendapatkan kontakmu dari penerbit artikel liputanmu, dan memberitahukanku kalau Anda sering ke mari,” jawabnya.

 

“Hm kau menunggu moment seperti ini selama ini,” senyumku.

 

“Begitulah,” Hyun-woo tersenyum,”ini alamat ayahku, kau ditunggu.” Pintu mobil tertutup dan bergerak meninggalkanku.

 

“Sial!” kupikir aku akan dipersilakan naik mobil dan pergi bersama ke sana.

 

 

*

 

Rumah mewah di pinggir kota. Masuk ke sana dari gerbang utama saja memerlukan waktu 30 menitan naik motor.

 

Sesampainya di depan rumah mewah tersebut. Aku memarkirkan motor di tempat yang tersedia, motor bututku berjajar berdampingan dengan motor besar merk Harley Davidson yang harganya puluhan kali lipat dari motor bututku ini.

 

Aku berjalan perlahan ke arah pintu masuk rumah yang besar dengan tatanan desain ala simplicity minimalis modern dengan sentuhan desain tradisional Korea di sana sini. Di depan pintu masuk dijaga oleh dua orang berpakaian serba abu-abu.

 

Sesampainya di depan pintu, salah satu penjaga pintu depan tersebut tersenyum,”Selamat siang Pak Ji-hoon Anda telah ditunggu.” Tangannya mempersilakan aku masuk. Kemudian mengantarkanku ke ruangan tamu yang terlihat seperti ruangan gedung besar yang megah.

 

“Silakan duduk dan menunggu di sini Pak,” penjaga tersebut menunjukkan tempat duduk mewah dan nyaman, kemudian pergi meninggalkanku yang masih kagum dengan indahnya ruangan ini.

 

TOK

TOK

TOK

 

Suara sepatu seorang perempuan memasuki ruangan,”Maafkan telah menunggu,” kata perempuan tersebut.

 

Aku menoleh ke arah suara tersebut berasal. Suara Hyun-woo. Anak Sung-ho yang cantik,”Maaf aku baru bisa memiliki uang dan waktu setelah dua minggu berlalu sejak pertemuan kita terakhir,” jawabku.

 

“Tidak masalah Pak Ji-hoon,” balasnya dengan senyum mengembang yang menawan.

 

“Bagaimana keadaan Ayahmu?” aku langsung ke inti masalah, ingin tahu kenapa Sung-ho mencariku, keadaannya sangat berkecukupan, tidak mungkin mau berutang padaku yang sangat kesulitan hidup ini, atau aku akan diberinya pekerjaan yang mampu mencukupiku untuk membeli rumah indah dan mobil mewah?

 

“Baik, mari ikut saya,” jawab Hyun-woo sembari menggerakkan tangannya mengajak berjalan dan bergerak ke suatu arah. Aku mengikutinya dan menyejajarkan diri pas di samping kanannya. 


Kami berjalan cukup lama tanpa kata-kata ke suatu arah, berjalan kurang lebih 20 menit ke suatu ruangan. Aku pikir ruangan ini adalah tujuannya, ternyata masih masuk ruangan lainnya, dan memasuki lift kemudian turun sekitar 20 menitan lagi menggunakan lift, perjalanan jauh dari atas, entah berapa meter dari atas permukaan tanah dalamnya.

 

Pintu lift terbuka. Hyun-woo dan aku mengikutinya memasuki ruangan seperti lab besar di bawah tanah.

 

Banyak orang berpakaian ala peneliti atau apa, entahlah. Kemudian kami memasuki ruangan yang tampak bersih tapi asri.

 

“Ayah, Ji-hoon di sini” Hyun-woo menyapa seseorang yang duduk di kursi roda menghadap ke arah taman kecil yang indah dengan air mancur yang gemericik suaranya damai menenteramkan pikiran.

 

Kami berdua tepat di belakangnya, perlahan Sung-ho membalikkan kursi rodanya yang canggih.

 

Aku terpana, Sung-ho masih terlihat sangat muda, tidak jauh beda dengan saat terakhir kali bertemu puluhan tahun lalu.

 

“Apa kabar sobat,” sapa Sung-ho dengan senyum yang terlihat dipaksakan.

 

“Baik, kulihat kau awet muda, sama seperti terakhir kali kita bertemu,” jawabku.

 

“hidupmu juga terlihat bergelimang harta dibandingkan denganku yang makan sehari saja kesulitan,” jawabku.

 

“Masih sinis, terus terang, dan pemberani seperti dulu,” kali ini senyumnya tampak tulus.

 

“Entahlah, mungkin tidak akan berubah, rambutku sudah hampir semuanya memutih,” jawabku, “apa yang membuatmu mengundangku untuk menemuimu setelah sekian puluh tahun?” tanyaku.

 

“Kau tahu, aku perlu mengumpulkan uang dan waktu untuk ke sini, mengapa tidak kau antar anak buahmu untuk menjemputku?” lanjutku.

 

“Ah masih seperti dulu, terlalu terburu-buru, dan akhirnya tidak mendapatkan apa pun, atau bahkan cenderung mencelakai diri sendiri dan orang lain,” cetusnya sekaligus mencemooh.

 

“Kau masih ingat jing yang melayang di atas gunung?” tanyanya sembari mengambil remote control yang diberikan oleh Hyun-woo.

 

“Kukira kau memberitahuku untuk melupakan dan tidak membahasnya lagi?” jawabku.

 

“Kau tahu mengapa pangkatku naik dengan cepat setelah itu?” Sung-ho menghela napas, kemudian menekan tombol remote. Tayangan sesuatu muncul di layar proyektor.

 

“Karena aku memberi tahu pemerintah tentang hal ini dan mereka menunjukku untuk menyelidikinya dengan beberapa orang pilihan yang aku perlukan,” tambah Sung-ho.

 

“Jadi kau membuat kami semua bungkam dan kau menekankan pada kami semua bawahanmu bahwa kalau kami bercerita tentang hal ini kami akan dianggap gila dan karier kami hancur? Tenyata kau mendapatkan keuntungan dari hal tersebut? Teganya!” kataku sinis.

 

“Maafkan aku sobat, tetapi aku benar bukan, kau lihat banyak yang mengalami hal serupa di seluruh dunia, dan mereka jadi bahan lelucon di lingkungannya,” jawabnya.

 

“Kau relatif benar, tapi mengapa kau malah sukses?” tanyaku tetap sinis dan iri.

 

“Karena aku mendekatinya dengan cara sains, ilmu pengetahuan,” jawabnya.

 

“Ilmu pengetahuan? Ilmu pengetahuan apa yang kau maksud?” tanyaku sedikit melunak.

 

“Kau pernah mendengar reverse engineering?” tanyanya.

 

“Aku bekas prajurit dan tukang masak, aku tidak tahu apa itu? Sejenis gogigui?” jawabku sekenanya,

 

“Kau masih pemarah seperti dulu,” katanya tidak menjawab, malah mencemooh.

 

“Aku pikir itu sifatku yang sulit aku ubah,” jawabku agak ketus.

 

“Ada baiknya kau ubah, berubah menjadi lebih baik, versimu yang lebih baik, kau akan terkejut dengan perubahan hidupmu yang lebih baik saat kau sendiri menjadi lebih baik,” ucapnya.

 

“Tidak terima kasih,” jawabku menghindar.


“Untuk menjadi sukses, pikiran seseorang perlu diubah cara berpikirnya menjadi sukses, demikian juga untuk kaya, diubah dulu cara berpikirnya cara orang kaya,” Sung-ho mengoceh, membuatku semakin sebal.

 

“Ada baiknya segera kau katakan apa maksudmu memanggilku yang gembel ini, ternyata kau masih memerlukan orang gembel sepertiku,” kataku menekankan agar segera memberi tahu maksudnya mengundangku.

 

“Aku tahu sifatmu, pemalas, inginnya semua serba tersedia, kesuksesan instan, tidak ada yang seperti itu, semua perlu perjuangan dari titik nol, jadi sengaja kau kuundang ke sini atas usahamu sendiri, dan tidak aku jemput, dalam tahap ini kau ada perbaikan,” senyumnya.

 

KLIK

 

“Baiklah sobat lamaku, perhatikan ini.”  Sung-ho menggerakkan kepalanya ke arah layar yang masih kosong.

 

KLIK

 

Remote control ditekannya sekali lagi. Suara proyektor mulai mendengung dan satu tayangan muncul.

 

Aku menyaksikan semua hasil penelitiannya dan bukti-bukti yang dipresentasikan di tayangan tersebut. Aku terdiam. Seperti cerita dan penelitian fiksi. Jing adalah pesawat milik makhluk dari planet lain atau semesta lain? Tidak masuk akal.

 

“Bagaimana?” tanyanya.

 

“Cerita fiksi,” jawabku.

 

“Fiksikah jing yang kau lihat di atas gunung itu?” tanyanya menekankan.

 

“Aku sudah berusaha melupakan seperti yang kau katakan, jingnya aku lihat dengan mataku sendiri, tetapi alien? Makhluk cerdas dari planet atau semesta lainnya? Ah yang benar saja” jawabku serius sekaligus menyangsikan.

 

“Lagi pula apa hubungannya dengan kau mengundangku ke sini, memangnya apa yang bisa aku lakukan?” tanyaku.

 

“Kau tahu, semua prajurit yang menjadi saksiwaktu itu di bawahku rata-rata telah meninggal, karena sakit, karena kanker, karena pnemonia, karena kecelakaan, dan ternyata tinggal kau dan aku saja yang masih hidup,” belum menjawab pertanyaanku.

 

“Kau lihat, aku duduk di atas kursi roda,”  tambahnya.

 

“Sejak kapan?” tanyaku.

 

“Enam bulan lalu, tergelincir, dan telapak kaki kirinya retak, sekarang masih belum pulih,” jawab Hyun-woo.

 

Aku melirik ke arah Hyun-woo,”Kau memiliki anak yang cantik, di mana ibunya?” memuji sekaligus bertanya.

 

“Dia meninggalkannya saat masih TK, terpikat lelaki lainnya, aku terlalu sibuk meneliti,” jawabku.

 

“Oh maafkan aku,” aku menyesal menanyakannya.

 

“Tidak perlu, bagaimana dengan keluargamu?” tanyanya.

 

 

“Aku tidak punya uang, melarat, menghidupi diriku sendiri saja tidak bisa, istriku meninggalkanku demi orang yang lebih mampu menghidupinya daripada aku, anakku terkecil ikut dengannya, satunya sudah dewasa, lebih mampu menghidupi dirinya sendiri. Lebih pintar mencari uang daripada aku,” jawabku.

 

“Kau tahu, bila pria yang selingkuh, potensi keluarganya tetap utuh, tetapi bila si perempuan meninggalkan rumah tangga, rumah tangga pasti hancur,” komentarnya.

 

“Aku mengerti benar maksudmu,” jawabku.

 

“Kau lihat, kehidupan tidak seindah yang selalu kita mimpikan, lebih banyak kesedihan daripada kegembiraan, walaupun kata orang gembira itu dapat dipilih, tidak perlu uang, tetapi zaman telah berubah, tidak lagi zaman agraria, di mana makan dari hasil kebun saja sudah cukup,” komentarnya.

 

“Ah kau memberiku ide untuk hidup secara berkebun, aku pikir aku bisa kembali membuat zaman agraria ke versi hidupku nanti, aku masih memiliki rumah jelek untuk dijual dan kalau laku, aku belikan rumah di tepi hutan, pasti lebih terjangkau harganya, kemudian berkebun dan beternak yang dapat berkembang biak dengan relatif cepat, tanpa uang bisa hidup” aku bercita-cita.

 

“Ya kau dapat melakukannya nanti, kini aku memerlukanmu untuk ke beberapa tempat, masalah keuanganmu, kau akan mendapatkan 10 persen bayaranmu via rekening bank,” jelas Sung-ho menatapku sekaligus memberi perintah, mata dengan wibawa yang sama seperti puluhan tahun lalu saat aku menjadi prajurit bawahannya.

 

“SIAP!” jawabku spontan.

 

“Biasa saja, sudah bukan di militer lagi, kuperkenalkan Mbaki,” tangan Sung-ho bergerak ke suatu arah dengan tangan terbuka.

 

Dari arah tersebut, muncul dari ruangan lainnya. Sesosok anak-anak usia 6 atau 7 tahunan. Bukan bukan anak-anak tapi alien dengan kulit warna abu-abu dengan mata bulat hitam kelam dan besar seperti dolphin, berpakaian resmi dengan stelan jas yang formal.

 

Aku terdiam. Tidak percaya dengan mataku sendiri. Kutatap Mbaki yang mendekatiku, kulitnya abu-abu gelap.

 

“Mbaki dari Afrika Selatan,” jelas Sung-ho.

 

“Hai, aku Ji-hoon,” kataku memperkenalkan diri.

 

“Selamat siang Ji-hoon,” mendadak ada suara di dalam kepalaku, aku celingukan mencari suara tersebut.

 

“Ini aku Mbaki,” suara itu terdengar sangat jelas dan mataku kemudian menatap mata Mbaki yang terlihat sangat kelam seakan mampu menarik diriku ke dalam kegelapan matanya.

 

“Kau bisa melakukan telepati kepadaku?” tanyaku tidak percaya, tunggu bahkan aku tidak menggunakan mulutku, aku menjawabnya juga melalui pikiran.

“Bahasa lisan tidak diperlukan, kita menggunakan bahasa universal dengan transfer pemikiran, tidak akan ada kebohongan karena langsung membaca pikiran dan mengerti maksudnya tanpa kata-kata,” jawab Mbaki.

 

“Oh!” kataku,”Tunggu, hentikan, aku masih banyak rahasia yang tidak perlu kau ketahui, hentikan komunikasi via telepati ini,” pintaku sembari aku bergerak mundur dan melengoskan wajah menghindari komunikasi telepati.

 

“Baiklah Ji-hoon, tapi melengoskan wajah tidak akan menghentikan komunikasi ini, tinggalberkata tidak mau, maka sudah berhenti,” jawab Mbaki  secara langsung muncul dari mulutnya yang kecil.

 

“Karena kalian sudah berkenalan, kenalkan anggota tim lainnya, Francis P. Wall,” kata Sung-ho.

 

“Ah kita bertemu lagi,” sapaku kepada Francis P. Wall.

 

“Senang bertemu lagi denganmu Pak,” kata Francis P. Wall.

 

“... dan pimpinan kalian, Hyun-woo,” ucap Sung-ho.

 

“Sudah kuduga,” komentarku sembari tersenyum.

 

“Baik, kini briefing langsung ke masalah utama, silakan Hyun-woo.”

 

Makasih Ayah, begini rencananya …”

 

 

 

*

 

 

London. UK. Inggris, salah satu kota kuno. Tujuan mengambil salah satu komponen yang dimiliki oleh Diva Shrasvati.

 

“Hm … fish n chips terbaik yang pernah aku rasakan,” ucap Francis P. Wall.

 

“London terkenal dengan makanan itu, tapi perlu kau rasakan steak dengan gravy-nya yang luar biasa,” ucap Mbaki.

 

“Kenapa kau bisa seperti manusia tampilannya saat di tempat umum?” tanyaku.

 

“Kau lihat, semua hanya manipulasi pikiran, pikiran manusia itu seperti mesin yang dapat dikendalikan dan dapat ditanamkan di pikiran mereka melalui telepati bahwa aku juga manusia di mata mereka,” jelas Mbaki.

 

“Aku tidak mengerti?” jawabku perlu penjelasan lebih lanjut.

 

“Tidak perlu kau mengerti, yang penting kau melihatku seperti manusia,” jawabnya.

 

“Bagaimana kau suka dengan makanan bumi?” tanyaku dengan wajah penasaran.

 

“Aku suka makanan yang dibuat oleh manusia, unik dan berbeda, sesederhana itu, bukankah kau juga begitu?” Mbaki balik bertanya.

 

“Eh ya,” jawabku singkat.

 

“Kau tahu, Mbaki bercerita bahwa mereka di sini sudah ribuan tahun, mereka kadang membuka tampilan aslinya tanpa memanipulasi pikiran manusia, di situlah muncul mitos Gnomes, Dwarves, Goblin, Elf, Tiyanak, Kwee kia, Cohen kroh, Toyol, dan Tuyul,” jelas  Francis P. Wall.

 

“Mereka spesies gray sepertimu…, tapi mereka cenderung jahatkah?” tanyaku.

 

“Apa kau bilang?” Mbaki terlihat marah.

 

“Ah sorry, tidak semuanya, buktinya kau baik …” ucapku merevisi.

 

“Baik dan jahat bukan karena spesies atau rasnya, karena mereka baik ya baik, karena mereka jahat ya jahat, per individu bukan menyamaratakan,” jelas Mbaki.

 

“Saatnya bergerak,” Hyun-woo menyelamatkanku dengan perkataannya dan momen yang pas.

 

Kami bergegas menuruni tangga, ke suatu arah. Mengarah ke subway,  the Tube, London underground.

 

Kami mengikuti orang yang berpakaian long coat warna abu-abu gelap bintik-bintik putih dan abu-abu muda dengan topi wool felt bowler yang tinggi dengan warna yang sama dengan long coat-nya.  

 

Pada satu titik, orang tersebut berhenti, tahu bahwa kami mengikutinya. Orang tersebut terdiam lalu, lalu perlahan menghadap ke arah kami.

 

“Hyun-woo,” suaranya terdengar kecil tapi jelas.

“Ya,” jawab Hyun-woo. Hyun-woo tetap menjaga jarak.

 

“Diva Shrasvati menyampaikan salam, dan memberikan starter ini melaluiku,” tangan orang tersebut masuk ke saku dalam long coat-nya dan melayangkannya menuju ke arah Hyun-woo.

 

“Selamat berjuang,” kata orang tersebut, kemudian berbalik arah lagi dan berjalan kemudian perlahan orang tersebut menghilang.

 

Aku bengong melihat hal tersebut,”Tunggu, apa benar yang kulihat, dia menghilang?” tanyaku melihat ke arah Hyun-woo, Francis P. Wall, dan Mbaki.

 

“Bukan menghilang, tapi teleport, menghilang masih dapat disiram dengan air atau cairan berwarna untuk dapat nampak lagi, teleport berpindah ruang dan waktu yang sama atau berbeda,” jelas Mbaki.

 

Teleport? Kenapa kalian tidak melakukannya?” tanyaku.

 

“Karena kita tidak memiliki teknologinya,” jawab Hyun-woo.

 

“Baiklah, berikutnya kita ke ….”

 

 

*

 

 

Lapland. Finlandia. Tempat yang dingin, dipenuhi oleh es. Dekat Kutub Utara. Perjalanan panjang yang melelahkan.

 

Kami mencapai area yang dituju. Tempat yang lumayan hangat dan besar di area terpencil bersalju.

 

Beberapa grays bermunculan mendekati kami tanpa rasa takut. Karena mereka melihat Mbaki dengan wujud aslinya.

 

“Selamat datang saya Shiny, kami para elf siap melayani Anda,” salah satu gray menyapa.

 

“Ah elf, bukannya Gray,” kataku sinis.

 

“Ji-hoon, please,” Hyun-woo mengingatkan.

 

“Maaf, OK elf, mana Santa?’ tanyaku.

 

“Ho ho ho, kau datang di saat yang tidak tepat Hyun-woo,” seseorang muncul berpakaian tebal warna merah, gray yang tinggi kurus, tidak seperti lainnya, sangat tinngi, bahkan melebihi kami, sekitar 3 meteran lebih, pantas dia mampu masuk melalui cerobong asap di beberapa rumah yang memilikinya.

 

“Baiklah Santi, aku terburu-buru, hadiah booster untukku?” pinta Hyun-woo.

 

“Santi? Bukan Santa?” tanyaku.

 

“Santi, santi, santi,” jawabnya.

 

“Artinya damai,” bisik Mbaki.

 

What the …” kata-kataku terpotong saat Francis P. Wall menutup mulutku dengan jarinya.

 

“Ah ini hadiah bagi anak yang baik, Hyun-woo,” kata Santi. Santi memberikan booster yang dimaksud.

 

“OK apakah ada untukku?” tanyaku basa-basi.

 

“Ah tentu saja ada, ini untukmu Ji-hoon,” katanya.

 

“Hei kok bisa tahu namaku dari mana?” tanyaku.

 

“Bukankah kau tadi menyatakan di pikiranmu bahwa namamu Ji-hoon?” Santi balik bertanya.

 

“Ah iya,” jawabku.

 

“Ini untukmu, dan ini untukmu,” Santi memberikan hadiah juga kepada Mbaki dan Wall.

 

“Baiklah, saatnya berpisah,” kata Santi, dan mendadak gedung megah yang hangat di tengah area dingin tadi menghilang bersama semua penghuninya.

 

Mwo? Teleport lagi?” ucapku.

 

“Bukan, pindah frekuensi,” jawab Mbaki.

 

“Apa bedanya pindah frekuensi dengan teleport?” tanyaku.

 

Teleport berpindah ruang dan waktu yang sama atau berbeda, bila frekuensi, pindah ke frekuensi lainnya, tempat dan posisinya sama, hanya berbeda frekuensi saja,” jawabku.

 

“Aku ga ngerti!” teriakku. Sembari melihat ke arah Wall dan … Hyun-woo, Hyun-woo di mana dia, ah itu dia, dia telah berjalan jauh meninggalkan kami.

 

“Apa kau mengerti apa itu frekuensi Wall?” tanyaku melirik ke arah Wall yang juga mulai berjalan lebih cepat untuk memperpendek jarak dengan Hyun-woo sepertiku.

 

“Bayangkan kau punya kamar, di kamar yang sama, kau memiliki kamar lainnya di posisi dan waktu yang sama, tetapi jumlahnya tidak terbatas tapi di frekuensi lainnya, bayangkan seperti frekuensi TV, kau punya banyak stasiun pemancar di satu alat TV …”

 

“ …, TV ibaratnya adalah kamarmu, dan dengan frekuensi atau channel yang berbeda, kau mampu menerima pancaran frekuensi stasiun lainnya, gitu,” jelasnya. “Oh, aku tetap belum paham,” keluhku.

 

“Beri waktu untuk dirimu sendiri memahami, tidak perlu dipaksakan,” Wall memberi semangat.

“Gaja sonyeon, we have to go to the next destination soon ….” ucap Hyun-woo mengingatkan.

 

*

 

Berlin. Jerman. Kota yang indah. Aku masih mengantuk saat Mbaki menyodorkanku kopi panas di wadah plastik dengan sedotan tipis warna coklat tua.

 

“Bagaimana rasanya?” tanya Mbaki.

 

“Pahit!”

 

“Ada yang suka pahit, ada yang suka manis, kini aku tahu kau suka kopi manis,” jelasnya. Tangannya menyodorkan satu kopi yang dimilikinya.

 

“Mengapa tidak kau baca saja di otakku?” sembari kutukar kopi yang disodorkannya kepadaku dengan kopi di tanganku.

 

“Tidak seperti itu caranya, bukan seperti mengakses file di komputer, tetapi membaca pikiran yang aktif,” jelasnya lebih jauh.

 

“Oh.”

 

“Kita di sini,” Wall mengingatkan bahwa sudah sampai di tempat tujuan.

 

Germania. Tulisan besar terpampang di depan gerbang pintu masuk, dengan beberapa tulisan yang sudah terkoyak, lapuk, lumut di sana sini dan juga 3 hurufnya ada yang hampir terlepas, huruf A paling akhir sudah menggantung tetapi masih tertahan oleh pijakan di bawahnya. Germania merupakan salah satu sudut bagian kota Berlin yang sudah tua dan sepertinya sudah ditinggalkan penduduknya.

 

Mobil kami berhenti di depan gedung yang suram, percikan air masih mengalir di beberapa patung yang tampak lembap berlumut tebal tidak terawat.

 

Langkah kaki kami terdengar saat menuruni tangga ke area bawah gedung. Mendadak kami terjengkang ke belakang seakan terbentur dan dihantam oleh sesuatu yang tak tampak.

 

“Pendorong otomatis yang tidak terlihat!” ucap Mbaki.

 

Aku berdiri terlebih dulu, bersiaga, sedangkan yang lainnya masih memerlukan waktu untuk melakukannya.

 

“Ah kulihat kau masih fit,” puji Wall sembari berdiri. Disusul oleh Mbaki.

 

“Aku selalu berlatih agar diperlukan pada saat-saat genting,” jawabku sembari melawan ke area di mana kami terdorong oleh sesuatu yang tidak terlihat.

 

“Tunjukkan dirimu!” teriak Hyun-woo yang perlahan mulai berdiri paling akhir.

 

“Kau tak layak untuk ke sini!” kemudian secara perlahan muncul 3 sosok alien grey yang kurang lebih seukuran Mbaki.

 

“Aku mengklaim hakku!” jawab Hyun-woo.

 

“Hak-hak apa?” salah satu grey membentak sekaligus bertanya.

 

“Yang terbuang tak layak untuk kembali!” teriak satunya.

 

“Hei jaga mulutmu!” Mbaki kini mendadak berani.

 

ZZZZTT

 

Suara senjata terdengar mendesis ditekan.

 

“Kalian para Kobold berani mengancam!” teriak Hyun-woo.

 

“Kobold?” gumamku.

 

“Grey di sini lebih suka dipanggil dengan nama itu,” bisik Wall.

 

“Oh,” aku mengerti.

 

Toh kalian sudah berada di sini, sesuai perjanjian, berikan stabilisernya!” Hyun-woo menegaskan.

 

“Entahlah, setelah kami pikir, sepertinya ada yang salah!” jawab Kobold yang selama ini diam saja, dia tadi yang meng-on-kan senjata, senjata sinar yang tampak seperti pistol sinar mainan anak-anak, tidak meyakinkan bentuknya.


Hyun-woo bergerak mendekati mereka, aku mengikutinya. “Bukankah emas dan berlian yang kami berikan sudah cukup!” lanjut Hyun-woo.

 

“Entahlah, itu dulu, emas dan berlian tidak menarik lagi bagi kami, kalian yang suka dengan hal-hal seperti itu, bukan kami, tapi  karena di masa lalu dijadikan pengganti sebagai alat tukar menukar, bolehlah, kini kami lebih suka uang, terlebih dalam akun di bank!” jawab salah satu Kobold yang memiliki tompel kecil di pipinya.

 

“Kau bisa menukarnya dengan uang,” jawab Hyun-woo.

 

“Kau tahu, kini sulit berteman dengan manusia. Menukarkan emas dan berlian dari sumber yang tidak jelas akan menjadi masalah bagi kami, uang, kami perlu uang di akun kami!” teriak Kobold yang memegang senjata.

 

“Berarti kalian sudah berhasil membuat akun di bank? Biar manusia yang membantumu membuat akun di bank yang melakukannya,” Hyun-woo menjelaskan.

 

“Ah tidak, dia sudah mati 5 tahun lalu,” keluh Kobold yang paling tinggi.

 

“Mengapa mereka masih perlu manusia, sedangkan mereka bisa mengubah ujud menjadi manusia?” bisikku ke Mbaki.

 

“Ilusi, ingat, tampilan kami hanya ilusi, saat di depan kamera, potensi kuatnya kami tetap berwajah grey, karena itu kami perlu manusia sebagai sahabat untuk mengurus hal-hal seperti ini,” jawab Mbaki sembari berbisik.

 

Oh” mulutku membentuk huruf O besar.

 

Hei, bukan urusanku!” teriak Hyun-woo.

“Oh tentu bagi kami, ini urusanmu!” teriak yang memegang pistol maju dan mengancam.

 

ZBUG

 

Pistol sinar Kobold kekar yang memegangnya terjatuh, setelah kutendang tangannya yang sejangkauan kakiku.

 

Mbaki langsung berebutan pistol dengan pemiliknya yang berusaha mendapatkannya lagi.

 

Saat yang tepat bagiku untuk memukul kedua Kobold sisanya dengan pukulan telak dan sekuat mungkin secara bergiliran karena perhatian mereka tertuju pada aksi perebutan pistol antara Mbaki dan temannya.

Kedua Kobold yang aku pukul langsung pingsan. Lebih mudah karena kepala mereka kurang lebih sejajar dengan kedua kepalan tanganku.

 

“Pukulan yang kuat dan mantap!” puji Wall.

 

ZRAAAAAATH!

 

“Cukup!” teriak suara Kobold lainnya.

 

Tembok gedung mendadak berlubang besar dan kepulan asap tersapu angin secara cepat karena tarikan udara ke ruangan lainnya yang lebih besar.

 

Aku kemudian melihat ke arah perebutan senjata antara Mbaki dengan Kobold satunya. Kulihat Mbaki mengangkat tangannya, dan di depannya terlihat Kobold tersebut memegang senjata sinar yang terlihat seperti mainan.

 

“Senjata ini mampu membuat partikel tubuh kalian menguap dengan cepat. Semua merapat ke depan sana di mana aku bisa melihat kalian semua!” Kobold tersebut mengancam sekaligus menyuruh kami dengan petunjuk gerak moncong senjata sinar yang dipegangnya.

 

Kami semua bergegas mengumpul ke area yang dimaksud. “Dengar!” Mbaki berusaha mendinginkan suasana.

 

ZRAAAAAAAAATH!

 

“AAAAAAAAAAAAAAAARGH!”

 

Tubuh Mbaki mendadak hancur sampai ke partikel terkecil dan tembok yang di belakangnya terlihat lubang besar terkena sinar maut dari senjata yang digenggam oleh Kobold tersebut.

 

Aku ternganga. Tercekat.

 

Tidak kusangka misi ini sangat berbahaya. Kobold tersebut tidak segan membunuh grey lainnya, apalagi aku, yang beda spesies.

 

DAMN!” gumam Wall.

 

“DIAAAAM!” Teriak Kobold tersebut.

 

Kobold tersebut berjalan mendekati kedua temannya yang masih pingsan. Lalu dengan memberikan sejenis aroma tertentu berasal dari tabung kecil yang diambil dari sakunya.

 

Perlahan kedua Kobold tersebut siuman, Salah satunya berdiri, kemudian bergerak ke arahku.


BUUUGH!

 

Aku terkejut dan tidak siap. Selangkanganku ditendangnya dengan sangat keras. Aku jatuh terguling-guling sembari menahan rasa sakit yang tak terperi, kena kedua bijinya dengan telak.

 

Para Kobold terbahak-bahak melihat ulahku yang bergelimpangan menahan sakit ke sana ke mari.

 

ZRAAAATH!

 

Seberkas sinar hampir mengenaiku. Lantai di bawahku berlubang besar. Aku berhenti bergerak walaupun rasa sakit masih belum selesai.

 

Aku berdiri tertatih berusaha kembali ke tempat semula aku berada. Berjalan perlahan ke samping kiri Wall.

 

ZDUGH!

 

Aku terjatuh, bergulingan lagi. Karena lantai yang kupijak sangat licin penuh lumut.

 

Ketiga Kobold dan lainnya jadi tertawa. Kesempatan ini kugunakan untuk berguling dan mengenai ketiga Kobold, ketiganya terjauh, Pistol di genggaman salah satu Kobold segera kurebut dengan teknik Aikido.

 

Segera aku berdiri dengan senjata yang kuarahkan ke para Kobold.  Hyun-woo mendekatiku dan mengambil alih senjata yang kupegang.

 

“Berikan Stabilisernya!” ancam Hyun-woo kepada ketiga Kobold yang masih berusaha berdiri, ada salah satunya yang terjatuh lagi karena lantai licin.

 

“Di sana” jawab Kobold yang bertompel.

 

Hyun-woo menggerakkan kepala kepada Wall. Wall segera menuju ke arah yang ditunjuk oleh Kobold bertompel.

 

Ditekannya salah satu tombol kotak lemari yang ada di dinding sana, kemudian muncul bungkusan kecil transparan di dalamnya ada sesuatu.

 

“Dapat!” kata Wall.

 

“OK senang berbisnis dengan kalian!” lanjut Hyun-woo. Hyun-woo bergerak mundur beberapa langkah menjauh.

ZRAAAAAATH!

 

Sinar pistol menembak beberapa pilar penahan gedung. Segera kami berlari ke luar gedung, sedangkan para Kobold tersebut masih di sana.

 

Kami terus berlari masuk ke mobil dan Wall dengan membuat mobil bergerak cepat meninggalkan area tersebut.

 

 

*

 

 

Kami terdiam di perjalanan. Mata Hyun-woo terlihat menitikkan air mata.

 

“Kita akan segera sampai di Bandara dalam waktu 2 jam lagi,” Wall memecahkan kesunyian.

 

Hyun-woo yang masih memegang pistol. Menekan satu tombol di pistol tersebut, kemudian mendadak pistol tersebut mengecil ukurannya. Hyun-woo membuka sebentuk kotak kecil seukuran pemantik rokok dan meletakkan pistol yang sudah seukuran super mini di dalamnya.

 

Kini aku mulai sadar, mengapa aku diperlukan di dalam tim. Sebagai proteksi yang diperlukan untuk Hyun-woo, alasan yang sama juga untuk Wall, dia juga pernah menjadi seorang prajurit  dengan latar belakang yang sama denganku, pernah melakukan kontak dengan UFO.

 

 

*

 

Hokkaido. Ainu Moshiri. Ezochi. Pulau Ainu. Jepang.

 

“Yang kita perlukan kali ini adalah compacter” jelas Hyun-woo.

 

“Baik,” jawabku walaupun aku tidak tahu gunanya untuk apa dan bentuknya bagaimana.

 

Pulau Ainu, penduduknya ramah, wajah mereka mirip dengan orang-orang polinesia yang ada di Hawaii dan Bali.

 

Slurp

 

Wall menyusupkan Ohaw ke mulutnya, dia terlihat puas menikmati sup tradisional Ainu. Aku masih tercenung memandang lautan yang terhampar di tepi pantai tempat kami menikmati makan siang kami.


Angin pantai yang sejuk memberikan buaian yang mengundang mata untuk mengantuk. Segera kualihkan pandanganku ke Hyun-woo lagi yang masih terlihat sedih. Sepertinya juga enggan untuk menikmati makanannya sepertiku.

 

Kuseruput es kelapa sedikit untuk mengurangi rasa kantuk karena embusan angin sepoi-sepoi ini.

 

Bartender mendekat membawakan tanoto di gelas tradisional. Tidak umum seorang bartender sendiri yang menyerahkan minuman yang dipesan. “Kalian ditunggu di chise yang ada di atas bukit, area ini,” bartender meletakkan minuman sembari menyelipkan secarik kertas.

 

“Baik,” jawab Hyun-woo segera mengambil secarik kertas tersebut.

 

Wall segera menutup makannya dan menggunakan kacamata hitamnya dan berdiri mengikuti Hyun-woo. Aku juga demikian berjalan mengikuti di belakang Wall.

 

Hyun-woo memberikan secarik kertas tersebut kepada Wall, kemudian Wall mengambil peta dan mencocokkan area yang dimaksud, kemudian dia tersenyum, dan menggerakkan kepalanya, tanda bagi kami untuk masuk ke dalam mobil sewaan.

 

Mobil bergerak ke arah tujuan. Sampai di satu titik, mobil tidak dapat digunakan lagi, Kami berjalan mendaki area yang dimaksud, benar-benar di atas bukit. Perjalanan melelahkan.

 

“Kalau aku tahu begini, aku akan makan banyak sepertimu,” keluhku sembari melihat ke Wall yang masih terlihat bersemangat. Kemudian kulirik Hyun-woo yang juga tersengal-sengal bernapas.

 

“Kita istirahat di sini,” usul Hyun-woo.

 

“Baiklah,” kata Wall sembari membuka tas ransel dan mengambil roti sandwich isi keju, bacon, dan sayuran yang dibungkus plastik. Setelah membuka bungkus plastiknya, Wall siap melahapnya.

TAP

 

Wall terkejut, dan mencari tahu siapa yang melakukannya, matanya tertuju pada Hyun-woo yang tengah melahapnya.

 

Kini Wall mengambil lagi roti sandwich lainnya, ternyata dia memiliki lebih dari satu, kali ini aku dengan sigap menyambarnya.

 

“What the…” ucapnya.

 

Aku menyeringai sambil tersenyum saat Wall melihatku lahap menikmati roti tersebut.  Wall kemudian memasukkan tangannya ke ransel lagi, tidak dapat dipercaya, dia masih memiliki roti lainnya.

 

Diambilnya roti tersebut, dan dibuka bungkus plastiknya, kemudian dia mengambil sebotol minuman rasa jeruk, yang juga disambar oleh Hyun-woo. Seperti kehausan Hyun-woo meminum air jeruk dalam botol tersebut.

 

Wall tersenyum kecut, kemudian mulai akan melahap roti sandwich miliknya.

 

TAP

 

Mendadak roti sandwichnya berpindah tangan, dia melihat ke Hyun-woo. Hyun-woo tidak mengambilnya, Wall segera melihat kepadaku, aku juga tidak mengambilnya, karena aku masih menikmati roti sandwich sebelumnya.

 

Mata Wall mencari-cari sekeliling, tetapi tidak ditemukan siapa yang mengambilnya. Aku mulai melihat ke atas pohon di mana Wall tengah duduk. Wall juga mulai melihat ke atas.

 

Wall mundur, di sana bergelantungan satu grey yang sedang menikmati roti sandwich miliknya. Kemudian grey tersebut melompat turun dan berlari ke arah atas bukit. Kami mengejarnya dengan segera.

 

Cepat sekali grey tersebut bergerak, sangat lincah dan sepertinya mengenal benar area ini. Tetapi ada tiga percabangan jalan, kami kehilangan buruan.

 

Terdengar suara ketawa seorang anak yang tengah digendong oleh ibunya sedang berjalan dari sisi kanan percabangan jalan tersebut.

 

Seorang Ainu, perempuan berusia sekitar tengah baya, berjalan perlahan sembari menggendong dan bercanda dengan anak laki-lakinya.  

 

Hyun-woo sepertinya menunggu sampai orang tersebut mendekat.

 

Do you know where exactly this place is?” tanyanya.


Orang tersebut menggeleng, entah karena tidak tahu, ataukah karena tidak dapat berbahasa Inggris. Kemudian Wall menunjukkan secarik peta yang didapat sebelumnya.

 

“Koropokkuru,” jawabnya sembari menunjuk ke arah tengah percabangan tersebut. Kemudian perempuan itu berjalan lurus ke arah percabangan yang ada di kiri kami.

 

“Thank you,” ucap Wall. Orang tersebut tidak peduli, karena masih asyik bercanda dengan anaknya.

 

Kami bergerak ke jalan lurus yang ditunjuk perempuan itu.

 

“Koropokkuru,” ucapku.

 

“Pasti grey dalam bahasa lokal,” jelas Wall dengan yakin.

 

Di kejauhan mulai tampak rumah kecil yang rapi berdiri di atas bukit. Seseorang tengah berdiri di depan pintu gerbang yang terbuat dari tanaman yang melilit, di atasnya tertulis “コロポックル“.

 

“Selamat datang,” kata perempuan yang wajahnya sama dengan perempuan yang bertemu kami di percabangan jalan tadi, namun kali ini dalam bahasa Inggris.

 

“Terima kasih, apa benar ini Koropokkuru?” tanya Hyun-woo.

 

“Ya benar,” jawabnya, sembari tangannya mempersilakan kami masuk sembari tubuhnya membungkuk tanda menghormati tamu.

Kami berjalan mengikuti perempuan tersebut ke rumah kecil pas di atas bukit.

 

Rumah kecil, tapi rapi, menyenangkan untuk ditinggali, suasana sejuk. Kami melintasi taman kecil yang ada di depan rumah tersebut, indah dengan dominasi bunga warna ungu dengan ragam jenis bunga.

 

Di atas sini terlihat indah, dapat melihat area bagian bawah lebih jelas dan di kejauhan tampak air terjun yang menambah keindahan berdiri di atas bukit ini.

“Apakah kau yang bertemu kami di percabangan jalan di bawah” tanya Wall.

 

“Oh tidak, kau bertemu dengan saudaraku, kami kembar,” jawabnya.

 

Wall memonyongkan mulutnya membentuk huruf O, ”Got it” jawabnya.

 

Kami dipersilakan masuk ruangan tamu yang sederhana tapi indah. Kami duduk di ruang tamu.

Kemudian muncul dari pintu arah dalam ruangan seseorang yang wajahnya sama dengan perempuan yang bertemu dengan kami di percabangan jalan setapak yang tengah menggendong anak sambil bercanda dan juga mirip sama dengan perempuan yang menyambut kami.

 

“Oh apakah kau perempuan yang kami temui di percabangan jalan ini?” tanya Wall.

 

“Maksudmu saudara kembarku?” jawabnya.

 

“Oh, kalian kembar?” Wall menunjuk kepada kedua perempuan tersebut bergiliran.

 

“Iya” jawab mereka hampir bersamaan.

 

“Baiklah, kami ke sini untuk mengambil Compacter” ujar Hyun-woo.

 

Compacturo” ujar perempuan yang menyambut kami di gerbang.

 

Hyun-woo mengangguk. Mendadak dinding ruangan tamu berlubang terkena senjata sinar. Sinar mengenai meja dan menembus dinding lainnya. Membelah area tengah antara tim Hyun-woo dengan para perempuan pemilik rumah.

 

“Ha kalian  pikir bisa melarikan diri dari kami?!” tiga Kobold muncul dari samping rumah masuk melalui dinding yang berlubang besar.

 

DAMN!” Wall menggerutu.

 

Kami bertiga serentak mengangkat tangan tanda menyerah.

 

CTANG!

ZBUGH!

BLUGH!

 

Ketiga Kobold langsung tersungkur. Di belakang mereka ada 3 perempuan kembar yang berwajah sama dengan satu perempuan yang ketemu dipercabangan, dan 2 yang ada di dalam ruangan.

 

Mereka menggunakan linggis, palu besar, dan kapak besar yang dihantamkan bagian tumpulnya ke kepala para Kobold yang membuat tersungkur ketiganya.


Kemudian kelima perempuan tersebut bergegas mengikat ketiga Kobold tersebut dengan tali tampar yang ada di sekitarnya.

 

“Ah sudah selesai,” kata salah satu perempuan kembar tersebut kemudian mereka melihat ke kami.

 

Compacturo” salah satunya menjulurkan tangan sembari memberikan sesuatu kepada Hyun-woo.

 

What! More a piece of paper?” tanya Hyun-woo.

 

Go, run!” perempuan tersebut berteriak menyarankan.

 

Hyun-woo segera berlari ke luar rumah, kami menyusulnya. Percabangan telah kami lewati, kemudian kami berhenti lagi di bawah pohon tempat kami beristirahat sebelumnya, kali ini kami beristirahat lagi dengan napas terengah-engah.

 

Hyun-woo melihat ke secarik kertas yang diberikan. Melihatnya dengan teliti, kemudian dia menggali di area bawah pohon tersebut.

 

Aku dan Wall segera membantunya, tidak berapa lama kami melihat bungkusan dikubur di sana. Wall yang berada di tengah segera mengangkat dan membukanya. Kemudian Wall berdiri, Hyun-woo masih duduk dan aku masih berjongkok.

 

Compacter!” Hyun-woo berteriak gembira.

 

ZRAAATH!

 

Pohon besar di tempat kami berlindung mendadak tinggal hampir setengah bagian bawahnya. Wall yang berdiri kini tinggal kedua paha ke bawah saja yang berdiri di atas tanah, bagian atasnya hilang hancur menjadi partikel kecil seperti bagian atas pohon tersebut  terkena senjata sinar. Aku terkesiap! Pemandangan horror seperti saat perang di masa lalu terjadi lagi.

 

Aku menyapu pandangan ke arah datang sinar. Ternyata ketiga Kobold berhasil melepaskan diri.

Mereka menyeringai sembari mendekati kami secara perlahan.

 

“Bagaimana kalian bisa lepas?” tanya Hyun-woo.

“Spesies manusia, selalu lupa kalau kami membawa banyak senjata yang dapat dikecilkan dan besarkan dengan perintah suara,” jelas salah satu Kobold yang memegang pistol sinar.

 

“Pistol sinar, ukuran normal!” teriak Kobold yang bertompel, dari telapak tangannya yang ada pistol kecil miniatur mendadak menjadi besar dan kemudian digenggamnya.

 

“Kau lihat!” ucapnya.

 

“Kini kau tinggal berdua, kami tetap bertiga.” Kobold tompel tersenyum sinis.

 

“Berikan semua yang kalian dapatkan!” perintah Kobold satunya yang terlihat paling kekar dan tidak membawa senjata.

 

Hyun-woo merogoh sesuatu ke dalam tas kecil yang diselempangkan ke bagian badannya. Dua Kobold yang memegang senjata waspada.

 

“Pelan ….! Berikan kepadaku” perintah Kobold tompel.

 

Kemudian Hyun-woo bergerak ke arah Kobold tompel membawa bungkusan kecil.

 

Sesuatu ukuran mini terjatuh ke tanah. Mataku yang terlatih melihat jarak jauh tahu apa yang terjatuh. Senjata sinar miniatur yang didapat sebelumnya.

 

Aku melihat ke arah para Kobold, perhatian mereka tertuju pada Hyun-woo.

 

Awww…. awwww!” aku berjingkrakan, semut merah menggigit area selangkanganku.

 

Para semua merambati kakiku karena dipikir seperti kaki milik Wall yang masih berdiri, kemudian salah satunya terjatuh terkena angin dan juga tidak seimbang karena para semut mulai mendatangi termasuk ke kakiku.

 

Aku berjingkrakkan kemudian terjatuh. Para Kobold tertawa kegirangan, mereka suka melihat orang lain celaka.

 

““Pistol sinar, ukuran normal!” kataku. Kemudian dengan cepat aku menembakkannya.

ZRAAAATH!

 

Kobold tompel langsung hancur dari atas sampai tumit. Hanya tersisa sepatunya saja yang masih mengepul.

 

Hyun-woo segera melompat ke belakang batu di area yang agak rendah dari area lainnya. Batu tersebut di tembak oleh Kobold tersebut, batu terkena berlubang. Aku terkesiap.

 

“Hyun-woooooo!” teriakku.


“Aku OK!” jawabnya.

 

Kobold tersebut akan menembak ke arah batuan di mana Hyun-woo berada, aku segera mendahului menembaknya agar perhatiannya terpecah ke arahku.

 

Berhasil. Kami saling menembak, di mana benda yang terkena tembakan hancur menjadi partikel dan ada juga yang tersisa sebagian saja.

 

Kobold yang kekar sepertinya tampak mengeluarkan sesuatu dari jauh.

 

“BLAAAR!”

 

Tembakan sangat besar mengarah kepadaku dari Kobold kekar, seperti bazoka sinar. Aku melompat, berhasil menghindarinya. Area tanah yang terkena tembakan mendadak seperti menjadi sungai yang besar, rapi, dan instan seperti dibuat secara ajaib, setelah itu tak berapa lama air mulai merembes di area tersebut.

 

“Kau pasti mati!” teriak Kobold kekar ke arahku.

 

“Kau benar, aku menyerah!” jawabku sembari mengangkat tanganku, dan melemparkan senjata ke atas tanah.

 

“Ha! Mengapa tidak dari sebelumnya,” ucapnya sinis.

 

“MATI!” ucapnya sembari menekan tombol bazoka sinar tersebut.

 

Aku menutup mataku.

 

BLAAAAST!

 

Apakah aku sudah mati? Hening yang terdengar hanya suara angin dan serangga maemi saja.

Serangga maemi? Tunggu, berarti ….

 

Perlahan kubuka mataku. Kulihat sembilan perempuan kembar tengah mengikat seorang Kobold yang tidak bersenjata, ke mana Kobold yang membawa bazoka sinar?

 

“Kobold yang kekar ditembak hancur bersama bazoka sinarnya oleh perempuan kembar itu,” jelas Hyun-woo sembari menunjuk pada perempuan kembar yang membawa senjata sinar laras panjang.

 

Arigato gozaimasu!” kataku sambil membungkuk kepada mereka. Mereka semua membalas dengan membungkuk.

 

“Jadi kalian kembar sembilan” tanya Hyun-woo.

 

“Tidak, kami kembar sepuluh, satu telah tewas karena para Kobold ini,” salah satu kembar menjawab dan menendang Kobold yang terikat.

 

“Ada baiknya kalian cek lagi, mereka membawa senjata yang dapat dikecilkan dan besarkan ke ukuran normal,” saranku.

 

“Kali ini sudah” jawab salah satu kembar tersebut.

 

“Bagaimana dengan Kobold ini?” tanya Hyun-woo.

 

“Biar kami yang menanganinya,” suara muncul di balik bukit, kami melihat ke arah sana.

 

Tiga Grey muncul di sana dengan pakaian tradisional Jepang. Para kembar sembilan serentak membungkuk dan hampir bersamaan berkata “Koropokkuru!”.

 

Aku dan Hyun-woo melambaikan tangan ke arah mereka, tanda perpisahan.

 

*

 

“Kita perlu menambah anggota tim,” saranku sambil menatap ke wajah Hyun-woo.

 

“Tidak perlu,” jawab Hyun-woo.

 

“Apa?!” kataku tidak percaya.

 

“Kau tahu, dua orang pengawalmu telah tewas, kini tinggal aku seorang diri, kalau aku tewas juga, siapa yang akan melindungimu?” jelasku.

 

“Kini aku semakin merasa uang sudah tidak berguna lagi bagiku, nyawa taruhannya!” teriakku.

 

“Apa kau pikir aku juga tidak akan tewas?”  Hyun-woo bertanya balik.

 

“Ya tentu saja kau juga bisa tewas! Oleh karena itu kita perlu tambahan orang dalam tim!” teriakku lagi, kali ini lebih kencang dari sebelumnya.

Orang-orang di sekitar kami mendadak semua melihat ke arah kami. Melihat hal ini, aku segera terdiam agar tidak menjadi pusat perhatian lagi.

“Kau pandai membuat suasana menjadi lebih tidak menyenangkan!” kata Hyun-woo.

 

“Ya katakan hal itu kepada Bapakmu! Aku memang begitu, dia juga tahu itu, makanya dia bilang aku menyebalkan, perusak suasana!” jelasku lebih pelan dari sebelumnya tapi tegas.

 

“Tapi kau lihat, dia tetap menyewaku untuk jadi pengawalmu” tambahku semakin ketus.

 

“Bapakku bilang, kau terlalu kritis, cenderung negative thinking pada segala sesuatu,” Hyun-woo menambahkan.

 

“Ya, dan dia tahu itu, karena itu aku tetap hidup sampai sekarang,” jawabku.

 

“Tapi kau juga ceroboh, makanya Bapakku selalu mengawasimu agar tidak membuat kesalahan!” lanjutnya.

 

“Aku pikir Bapakmu benar, oleh karena itulah kini agar tidak ceroboh lagi, kita perlu tambahan orang dalam tim, aku tidak mau ceroboh lagi,” ujarku mulai melunak.

 

Hyun-woo terdiam. “Tidak banyak waktu lagi, tinggal mendapatkan transmitter saja,” gumamnya.

 

“Baiklah, kita akan ke tempat tujuan akhir, mendapatkan transmitter dan menyewa pengawal tambahan di sana,” Hyun-woo menambahkan.

 

*

 

Indonesia. Candidasa, Karangasem, Bali.

“Apa kau yakin berani Ketut?” tanyaku kepada orang tersebut.

 

“Berani Pak, saya penangkap hantu, apalagi cuma tuyul!” ucapnya. “Akan saya tangkap dengan jampi-jampi dan mantra-mantra, pasti ketangkap,” jawabnya serius.

 

“Kalau kau berani, siapa namamu lagi?” tanya Hyun-woo.

 

“Made Bu!” jawabnya.

“Apa yang kau lakukan bila bertemu Tuyul?” tanyaku.

 

“Akan saya sabet pake celurit ini, kalau belum cukup, pake keris ini” jawab Made mantap sembari mengeluarkan senjata miliknya.

“Baiklah, kalian berdua kami terima, kita akan menjaga Hyun-woo dari bahaya apa pun!” tegasku kepada mereka berdua.

“Tuyul di sini suka mencuri uang Pak, Bu,” jelas Ketut.

 

So grey is tuyul here,” senyum Hyun-woo kepadaku.

 

Yes, looks like it?” jawabku.

 

“Ada orang yang suka memelihara tuyul, kemudian menjadi kaya tanpa bekerja, si tuyul mencuri uang para tetangganya atau mencuri uang pemilik rumah korbannya,” tambahnya dengan mulut monyong.

 

Ketut berpakaian rapi tradisional ala pakaian tradisional Bali pada umumnya, menggunakan udeng dan kamen untuk pria.

 

Sedangkan Made menggunakan celana jeans, t-shirt putih, dan udeng saja, tetapi di pinggangnya terselip keris sekaligus celurit.

 

Kami bergerak ke Bukit Guungan, naik motor, kemudian berhenti di dekat pura dan berjalan kaki menaiki puncak bukit. Hari tengah malam, debur air laut di pantai terlihat jelas dari atas bukit dengan bantuan bulan purnama yang terang.

 

Purname,” Ketut melihat ke arah bulan yang bulat penuh dengan sinarnya yang indah, bagai lampu di malam hari yang super besar menggantung di langit.

 

“Kita tunggu di sini,” ucap Hyun-woo. Berhenti tepat di puncak bukit.

 

“Tidak kulihat satu bangunan apa pun di sini,” kataku sembari melihat ke arah Hyun-woo.

“Entahlah, informasi yang kudapat, kita akan mendapatkan transmitter di area sini,” jelas Hyun-woo meyakinkanku.

 

“Jadi di mana anak dan istrimu?” tanyanya.

 

“Entahlah, aku merasa tidak layak lagi menjadi seorang ayah, benar-benar keuanganku hancur, entah apakah setelah ini aku masih dapat mengirimkan uang kepadaku anak-anakku yang kudapat dari Bapakmu, atau aku mungkin akan mati di sini terlebih dulu,” jawabku.

 

“Kau tidak berniat menikah lagi?” tanya Hyun-woo.


“Entahlah apakah masih ada yang mau denganku setua ini? Lagian buat apa diikat dengan pernikahan bila cepat atau lambat akhirnya berpisah pula.”

 

“Bapakku selalu berkata kita tidak akan tahu apa yang berharga sampai kita kehilangan sesuatu yang dianggap tidak berharga sebelumnya,” ucap Hyun-woo dengan nada sedih.

 

“Apakah maksudmu itu, ibumu?” aku melirik Hyun-woo. Hyun-woo meneteskan airmata.

 

“Bukan, tapi Bapakku,” jawabnya.

 

“Bapakmu? Aku tidak mengerti.” Aku keheranan.

 

“Yang kau lihat bukanlah Bapakku, dia tewas dalam penelitian, yang kau lihat dan berbincang denganmu adalah android,” jawab Hyun-woo.

 

“Apa?” Aku tercekat.

 

“Kini kau sudah tahu kebenarannya,” gumam Hyun-woo.

 

“Android? Dia begitu sempurna, sifat dan gerakannya sama persis, tapi memang ada yang aneh, dia tampak tetap awet muda,” jawabku,”maafkan aku.”

“Tidak perlu minta maaf, cepat atau lambat, aku harus memberitahumu,” tambahnya.

 

“Bapakku orangnya sangat baik, melindungiku, bahkan melindungiku dari ibuku yang ingin menggunakanku sebagai percobaan?” lanjutnya.

 

“Percobaan, aku  tidak mengerti?”  

 

Mendadak di depan kami berdiri udara membuat riakan seperti air, kemudian muncul secara perlahan dari riakan air tersebut dua sosok grey.

Ketut mulai menceracau dengan mantra-mantra yang dipercayainya. Sedangkan Made sudah siap dengan senjata celuritnya di tangan menunggu aba-aba dariku bila terjadi sesuatu.

 

“Hyun-woo” salah satu grey tersebut menyapa.

 

“Ya?” Hyun-woo bergerak maju.

“Ini transmitter yang kau butuhkan,” tuyul yang di sebelah kiri memberikannya kepada Hyun-woo.

 

Kemudian keduanya mulai masuk lagi ke gelembung dan udara beriak lagi seperti air, kemudian keduanya menghilang tanpa bekas.

 

Ketut berhenti menceracau. Made mulai rileks lagi. “That was quick,” ucapku.


“Tuyulnya tidak jahat?” Made berkata, melihat ke arahku.

 

“Semua tuyul pasti jahat, untung mantra-mantraku berhasil, mereka cepat pergi,” ucap Ketut.

 

Kami menuruni Bukit Guungan dengan perlahan. Hyun-woo memberikan uang kepada Ketut dan Made sesuai perjanjian menjaganya saat di sana.

Kami mengucapkan selamat tinggal kepada keduanya.

 

 

*

 

“Makasih, misi yang menegangkan, aku telah mentransfer semua uangku ke anak-anakku secara merata, aku pikir mereka dapat hidup tanpa bekerja paling tidak 25 tahun,” kataku gembira.

 

“Kau layak mendapatkannya, kau telah berhasil dalam misi ini!” Puji Sung-ho.

 

“Terima kasih telah menghiburku Sung-ho, tapi aku tahu kau android,” ucapku ke arahnya.

 

“Ah kau sudah tahu? Baiklah, dan kau pandai merusak suasana seperti sebelum-sebelumnya,” ucap Android Sung-ho.

 

“Ha ha ha,” aku tertawa kemudian Android Sung-ho dan Hyun-woo tertawa.

 

“Kau …, kau benar-benar mirip,” pujiku, “baiklah, langkah apa yang akan kita lakukan kemudian?”  

 

“Kita akan memasang alat portable teleport lintas ruang dan waktu,” jawab Android Sung-ho.

 

“Maksudmu,” tanyaku.

 

“Kembali ke masa lalu, di mana  aku akan menyelamatkan Bapakku dari kecelakaan,” jawab Hyun-woo.

 

Lalu Hyun-woo merangkai semua komponen yang didapatnya. Kemudian meng-on-kannya.

Portable Teleport receptor sudah tersambung dengan alat tersebut” ucap Android Sung-ho.

 

“Sudah, ada di jam tanganku,” jawab Hyun-woo.

 

“Bagus, siap?” tanya Android Sung-ho.

 

“Siap” jawab Hyun-woo.

 

“Ayo!” ajak Hyun-woo ke arahku.

“Aku?” tanyaku.

 

Hyun-woo mengangguk.

 

BZZZZT

 

Alat teleport lintas ruang dan waktu mendengung.

 

ZAAAAP!

 

Kami berdua masuk dan menghilang memasuki gelembung teleport lintas ruang dan waktu.

 

BLAAAAAR!

 

Android Sung-ho hancur. Ruangan tersebut hancur.

 

“Sial! Mereka kabur, portable teleport lintas ruang dan waktu!” ucap Kobold yang tersisa masih mengejar. Rupanya dia berhasil lolos lagi dari para perempuan kembar dan Koropokkuru.

 

Detector senjata, lokasikan di mana senjata mini tersebut dibawa?” ucap Kobold tersebut.

 

Sebentuk hologram muncul di depan Kobold tersebut dan berkata,”Lokasi ditemukan, area yang sama di tempat ini, tetapi di masa lalu,”

 

“Perkirakan tahun berapa di masa lalu?” tanya Kobold tersebut.

 

“Sekitar tahun ….”


*

M.S. Gumelar

087786666745

michael.sega.gumelar@gmail.com 


Cerita mini (cermin) ini terpublikasi di An1magine Volume 5 Nomor 10 Oktober 2020

 

An1magine Volume 5 Nomor 10 Oktober 2020

An1magine Volume 5 Nomor 10 Oktober 2020

Jurnal majalah bulanan populer seni, desain, animasi, komik, novel, cerita mini, dan sains ringan yang dikemas dalam format education dan entertainment (edutainment). An1magine mewadahi karya cerita mini, cerita bersambung dalam ragam genre, tutorial, dan komik dalam ragam gaya gambar apa pun. Jurnal majalah An1magine ini dapat diakses (open access system). Silakan klik link di atas untuk mengunduhnya.

Dapat duit dengan berkarya di rumah aja. Kirim karya komik (manga) dan cerita mini (cerita pendek) buatanmu. Info lanjut di Bubble up Yourself

An1magine edisi ini dapat diunduh juga di An1mage JournalDcreateiteksPlay Store, dan Google Book. Silakan klik link aktif yang ada untuk mengunduhnya. Gak mau ketinggalan berita saat An1magine terbit? Gabung yok di An1mareaders WA GroupFacebookInstagramTwitter


Komentar

Postingan Populer