BINOKULAR

 

https://keyassets.timeincuk.net/inspirewp/live/wp-content/uploads/sites/22/2020/10/



BINOKULAR

 

Archana Universa




"Kau aneh."

 "Kadang-kadang atau selalu?" tanyaku sambil menatap ke atas menggunakan binokular.

 

"Tergantung kau bertanya pada siapa," balasnya.

 

Aku menurunkan binokularku. Cemberut. "Tentu aku sedang bertanya padamu!" seruku, kesal.

 

"Kalau begitu jawabannya kadang-kadang," kekehnya, senang sudah membuatku kesal.

Aku bergumam, menggerutu.

"Lebih dari keanehan hobi binokularmu untuk mengamati benda langit, kau sangat aneh ketika menggerutu dengan bahasa aneh seperti barusan," komentarnya sambil tiduran di rumput sebelah aku berdiri.

 

Aku ingin menginjaknya karena sebal, tapi tidak kulakukan. Sebaiknya kami tidak terlalu banyak mengadakan kontak fisik. Dia bisa mati. Bukan karena tenagaku yang kuat, tapi karena bakteri yang hidup di tubuhku. Bakteri baik buatku, tapi tidak buat manusia Bumi.

 

"Apa kau merasa aku bukan manusia?" tanyaku sambil memicingkan mata.

 

"Oh! Bagaimana kau tahu?" katanya dengan keterkejutan yang dibuat-buat.

 

Aku menghela napas. Tahan, pikirku. Tidak perlu dibahas. Tidak, dia tidak akan percaya.

"Memandangi benda langit menggunakan binokular itu normal, tidak aneh. Lagi pula jauh lebih praktis daripada harus menggotong teleskop ke mana-mana," tegasku.

 

"Lebih banyak yang menggunakan binokular untuk mengamati alam. Misalnya melihat burung dari kejauhan," timpalnya.

"Bisa juga buat mengamati luar angkasa bahkan di luar tata surya dan galaxy ini!" seruku, benar-benar kesal.

 

"Hei! Seriusan luar angkasa?" Cripto sampai bangun dari posisi tidur-tidurannya. "Kupikir ketika kau berkata benda langit itu masih dalam konteks Bumi. Kupikir kau memandangi awan atau memetakan rasi bintang! Tapi kau berkata soal luar angkasa! Mencapai luar galaxy! Sebenarnya apa yang selama ini kau amati?" tuntutnya.

 

Aku menggigit bibirku. Dasar mulut besar! Aku mengutuki diriku sendiri.

 

 

***

 

Harusnya aku sudah pulang. Rencananya meleset. Terjebak, masih berada di Bumi.

Liburan berubah jadi petaka. Kalau ini masalah mindset, lebih positif jika aku menikmatinya.

 

Tapi aku kangen rumah. Kangen keluargaku. Kuharap liburan panjang ini segera berakhir. Segala pengalaman di Bumi akan jadi kenangan.

 

Mirip mimpi yang lalu. Memori, sebatas itu.

"Sebenarnya apa yang kau pikirkan sampai-sampai melewatkan waktunya?" tegur ibuku, marah besar, saat aku memberitahunya kalau aku melewatkan waktu kepulanganku.

 

Aku ingat benar hari itu. 200 tahun sejak aku datang ke Bumi. Aku sudah berada di area penjemputan. Tapi aku tidak berada di titik portal yang telah di tentukan.

 

Planetku memiliki jangkauan edar antar galaxy. Melewati banyak tata surya. Banyak yang mengiranya sebagai komet, padahal planet.

 

Planet tidak harus selalu bundar. Planetku lebih pantas disebut berguling daripada berotasi karena bentuknya. Karena jarak tempuhnya yang jauh, jadi waktu yang diperlukan buat mendekati Bumi juga cukup lama.

 

Jarak tempuh aman: 200 tahun sekali, selama tiga menit saja. Melewati itu teknologi kami belum mampu. Kuharap para scientist sudah bisa membuat alat yang lebih canggih, jadi jarak teleportasinya bisa semakin diatasi. Di mana pun planetku sedang berpetualang, aku bisa pulang.

 

Namun ternyata meski 400 tahun waktu manusia telah berlalu, mereka baru membuat gebrakan kecil. Waktu teleportasi sudah lebih panjang, jadi sepuluh menit.

 

Waktu itu arusnya aku tidak peduli, fokus pada diriku saja. Harusnya aku tidak meremehkan keadaan.

 

"Kupikir aku masih punya waktu," gumamku muram. "Jadi aku menarik gadis kecil itu dari area portal, mengembalikannya ke orang tuanya."

 

"Sebenarnya mengeluarkan dari portal saja cukup. Bagaimana kau bisa pergi selama 400 tahun?" kata ibuku, kesal.

 

"Aku ingin memastikan anak itu selamat...."

 

"Pilihan yang tepat sebenarnya. Kau pasti akan kepikiran jika tidak melihatnya pulang dengan selamat. Namun tetap saja aku keberatan berpisah selama itu denganmu!" sahut ibuku.

 

"Buah kesukaanmu yang muncul 2500 tahun sekali saja sudah dipanen. Kau melewatkan musimnya! Jangan sampai melewatkan momen berikutnya. Aku merindukanmu!"

 

"Love you, Mom," balasku dalam bahasa Bumi. Karena peradaban kami sudah canggih, ibuku dapat memahami ucapanku meski baru mendengar kalimat tersebut buat pertama kalinya.

 

Ya. Keputusan yang tepat. Membiarkan anak tersebut lenyap dari Bumi karena terseret ke planetku bukanlah hal yang bagus.


Dia tidak akan bertahan hingga 200 tahun supaya bisa kembali ke Bumi. Tidak mungkin bisa bertemu dengan keluarganya lagi. Masa hidupnya tidak sepanjang aku.

 

Sekarang, 200 tahun sejak kejadian itu, anak itu sudah lama mati. Namun kenanganku soalnya yang masih balita masih terekam jelas.

 

Aku masih ingat rambutnya yang masih jarang-jarang. Pipinya yang masih menyembul karena lemak bayi. Pakaiannya warna biru muda dengan gambar kartun kelinci. Sepatunya merah muda.

 

Anak itu sudah ratusan tahun bersatu dengan tanah. Sementara aku tetap sama. Seolah tidak menua selama berada di Bumi. Tentu itu tidak benar, aku menua, mortal, hanya saja mengikuti perhitungan asalku.

 

 

***

"Jadi benar kau bukan manusia?" desak Cripto.

 

"Menurutmu aku bukan manusia?" Menjawab pertanyaan dengan pertanyaan. Genius.

 

"Kau tidak menua.... Apa kau vampir yang suka dengan astronomi?"

 

"Kenapa bukan alien? Lebih nyambung," gerutuku tanpa memandang matanya.

 

"Mungkin vampir juga alien," elak Cripto.

 

"Jadi menurutmu vampir tidak menua?"

 

"Jadi kau sedang mengalihkan pembicaraan?" selidiknya.

 

"Memangnya kau percaya ada makhluk luar angkasa?"

 

"Hoax." Cripto memonyongkan bibir tebalnya. Makin kelihatan monyong.

"Maksudku lebih banyak hoax yang beredar soal alien. Tapi aku tidak menutup kemungkinan mereka ada."

 

"Menurutku makhluk luar angkasa memang ada. Sayang sekali ada banyak planet di semesta sementara hanya Bumi yang dihuni."

 

Cripto mengangguk-angguk. "Sayangnya banyak manusia yang terlalu arogan, meyakini hanya Bumi yang memiliki kehidupan."

 

"Dan bahwa manusia adalah makhluk paling sempurna," imbuhku.

 

"Manusia memang tidak sempurna, namun aku adalah manusia yang sempurna...." 

 

Ah! Cripto dengan permainan katanya itu! “Jadi dari mana kau mendapatkan binokular canggih itu?” Dia menjulurkan tangan, ingin mengamatinya dari dekat.

 

Aku memberikannya. Tidak akan ada hal spesial yang bisa dia lihat selain bayangan kabur. Mata manusia memang sejelek itu. Rabun parah, tapi bagi mereka normal.

“Aku tidak melihat apa pun. Kau membual ya?” gerutunya sebal, mengembalikan benda itu padaku.

 

Aku nyengir saja. Persis seperti dugaanku.

Wah luar biasa kau mengerjaiku!” serunya kesal. Dia bangun dan menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Bibirnya merengut, persis anak kecil yang keinginan dibelikan balon ditolak orang tuanya. “Aku pulang!”

 

Aku bahkan tidak mengucapkan selamat tinggal, tidak berpamitan. Aku akan pergi dalam diam, tidak menceritakan apa pun, tidak menjelaskan apa pun. Pergi, begitu saja.

 

Cripto tidak akan menemukanku di tempat ini mulai besok. Tidak ada, bahkan jika dia mencari di seluruh penjuru Bumi pun, dia tidak akan menemukanku. Hilang, seolah tidak pernah ada.

Aku turut bangun. Portalnya sudah di dekatku. Tinggal melangkah sebentar ke sana jika planetku sudah mulai memasuki jarak teleportasi aman dari dan ke Bumi. Jarak yang dicapai tiap 200 tahun sekali.

 

Alat komunikasiku bergetar. Ibu mengirimiku pesan supaya menyudahi petualanganku di Bumi. Kurasa dia akan ngomel panjang lebar jika aku melewatkan kepulanganku lagi. Tapi aku tidak ada rencana untuk itu. Aku memang sudah ingin pulang. Sudah sejak lama.

 

Samar-samar aku mulai bisa mendengar dengungan itu. Dengungan dari planet asalku. Waktunya tiba. Aku melangkah dan melakukan teleport.

 

Tidak sampai tiga detik, aku sudah tiba. Ibuku sudah menunggu di tempat kedatangan. Aku bisa melihatnya tersenyum lebar, tapi masih perlu sedikit lagi waktu untuk mengurus statusku dari bepergian menjadi pulang.

 

Sebenarnya jika aku pulang tepat waktu, aku bisa melakukannya dengan mesin otomatis.

Keterlambatanku menyebabkan aku harus menjalani scanning tubuh tambahan.

 

Memastikan aku tidak membawa serangga aneh atau hal asing yang mungkin berbahaya buat planetku. Lebih dari itu, apa aku mengalami mutasi, meski kemungkinannya kecil.

 

“Kau tahu apa yang akan kulakukan jika dalam semenit tidak melihatmu? Aku akan ke Bumi, menyeretmu, dan kembali ke sini dalam waktu kurang dari sepuluh menit!” omelnya sambil memelukku setelah pemeriksaanku selesai.

 

“Sudah kukatakan aku akan pulang,” jawabku.

 

“Tetap saja…. Oh! Apa itu?” Ibu menunjuk area portal.

 

Aku menengok, mendapati tubuh Cripto yang terbelah karena teleportasi yang tidak sempurna.

Binokularku terlepas dari tangan, membentur lantai.







An1magine Volume 5 Nomor 10 Oktober 2020

Jurnal majalah bulanan populer seni, desain, animasi, komik, novel, cerita mini, dan sains ringan yang dikemas dalam format education dan entertainment (edutainment). An1magine mewadahi karya cerita mini, cerita bersambung dalam ragam genre, tutorial, dan komik dalam ragam gaya gambar apa pun. Jurnal majalah An1magine ini dapat diakses (open access system). Silakan klik link di atas untuk mengunduhnya.

Dapat duit dengan berkarya di rumah aja. Kirim karya komik (manga) dan cerita mini (cerita pendek) buatanmu. Info lanjut di Bubble up Yourself

An1magine edisi ini dapat diunduh juga di An1mage JournalDcreateiteksPlay Store, dan Google Book. Silakan klik link aktif yang ada untuk mengunduhnya. Gak mau ketinggalan berita saat An1magine terbit? Gabung yok di An1mareaders WA GroupFacebookInstagramTwitter

Komentar

Postingan Populer