FREKUENSI

Sumber: https://go.aws/3gtGrN5


FREKUENSI

Archana universa


Ma, tadi aku melihat ada perkampungan di bawah sana!” seruku sambil berlari-lari memasuki pekarangan rumah, Ibuku yang sedang menjemur pakaian tidak menghentikan kegiatannya.

 

“Omong kosong,” timpalnya singkat.

“Sungguh, Ma!” desakku, ingin agar ibuku yakin.

“Bukan hanya aku yang melihatnya. Tadi Rafo yang bersamaku juga melihat perkampungan aneh itu!”

“Tidak ada perkampungan di bawah sana, Nak. Minggu lalu kita ke lembah. Tidak ada pemukiman. Kau pikir membangun perkampungan hanya butuh waktu seminggu? Bahkan rumah dari bata sekalipun belum tentu berdiri tegak dalam waktu seminggu,” tolak ibuku, dia tidak mau percaya.

“Kalau begitu ayo kita ke sana, akan kutunjukkan padamu, Ma,” pintaku.

“Kau tidak lihat aku sedang menjemur pakaian?” tanya ibu dengan nada kesal. Aku mematung sesaat tiap kali beliau membentakku. Tapi itu hanya sebentar. Aku segera membantunya menjemur pakaian.

“Setelah selesai ayo pergi ke tempat yang kumaksud. Ini memang aneh, perkataanku juga pasti terdengar aneh. Tapi aku tidak berbohong, aku ingin Mama memercayaiku, maka dari itu kita selesaikan menjemur pakaian bersama dan pergi.”

Ibuku cemberut sepanjang perjalanan. Jelas ia tidak ingin pergi.Tidak peduli dia tidak suka, aku tetap membawanya. Tangan kecilku ini selalu berhasil menuntunnya. Ia juga sering menuntunku. Kami berpegangan satu sama lain. Hanya kami berdua.

“Aku hanya ingin Mama percaya. Ingin Mama melihat apa yang kulihat. Kita selalu berbagi pengalaman dan pengetahuan bersama. Aku ingin mama melihat hal menakjubkan yang kulihat!” terangku, bersemangat.

“Aku percaya padamu, Nak. Tidak perlu pergi ke sana,” keluhnya.

“Hanya melihat dari jauh, aku tidak meminta kita turun ke lembah seperti minggu lalu ketika mencari buah-buahan. Aku hanya ingin Mama percaya bahwa di bawah sana ada perkampungan.”

“Baiklah. Hanya melihat dari jauh. Tidak pergi ke perkampungan yang kau maksud.” Ibuku akhirnya setuju.

“Terima kasih, Ma!” seruku, girang karena tidak perlu menarik-narik tangan ibuku lagi.

Kami menyusuri jalanan setapak yang sudah kami hafal. Ibuku selalu membawaku menyusuri jalanan kecil ini sekitar sekali setiap bulan.

Terutama ketika cuaca cerah. Dulu beliau banyak menggendongku. Sekarang aku sudah sepuluh tahun. Sudah punya energi yang cukup untuk berjalan bolak balik ke lembah buah-buahan.

Tidak banyak orang dari kampungku yang datang ke sini karena turun ke lembahnya saja capek, belum lagi kembali ke perkampungan tempat kami tinggal. Mendakinya lebih capek lagi. Jadi setiap kami pergi biasanya aku dan ibu akan beristirahat di beberapa titik.

Aku tidak pernah menanyakan alasan ibuku selalu membawaku pergi ke lembah. Tidak mungkin hanya untuk memetik buah. Di perkampungan tempat kami tinggal banyak pohon buah, semestinya tidak perlu berpergian jauh-jauh jika hanya untuk mendapatkan buah.

Aku hanya menganggap lembah buah adalah tempat rekreasi istimewa antara ibu denganku. Rahasia hanya buat kami berdua.

“Sebentar lagi sampai, kan?” Suara ibuku mendadak memecah keheningan.

“Benar, Ma,” anggukku bersemangat.

Lembahnya berada jauh di bawah sana. Kami hanya sekitar sepertiga perjalanan. Tidak terlalu jauh dari tempat tinggal kami.

“Kita akan bisa melihatnya dengan cukup jelas dari dekat pohon besar di sana,” ungkapku sembari menunjuk pohon yang kumaksud.

Aku berjalan duluan, ibuku menyusul di belakang.

Kemudian aku melihatnya kembali. Untuk kedua kalinya dalam sehari. Perkampungan asing yang tidak pernah kupikir ada di sana, tapi nyatanya ada.

“Aku berpikir untuk mengecek tempat itu kalau Mama mengizinkan….”

“Tidak,” potong ibuku tegas.

“Kemarin aku dan Rafo juga main di sekitar sini. Aku berani bersumpah tidak ada apa-apa di sana. Aku ingin mengetahui apa sebenarnya perkampungan di bawah sana.”

“Tidak ada kemarin tapi mendadak muncul hari ini. Kau ingin memeriksanya alih-alih menghindari tempat itu?” gerutu ibuku, sebal.

“Aku ingin kita pergi bersama ke sana sama seperti kita biasa pergi bersama ke lembah untuk memetik buah-buahan,” kataku.

“Kau bilang hanya ingin melihat dari jauh, … sekarang kita sudah sama-sama melihatnya. Aku percaya padamu, Nak. Sekarang mari kembali ke rumah,” ujar ibuku sembari mulai berbalik.

Aku menahan tangannya. “Aku penasaran, Ma. Aku khawatir perkampungan itu akan hilang esok. Tidak meninggalkan jejak apa pun, sama seperti kemarin atau hari-hari sebelumnya. Aku tidak tahu kapan perkampungan itu akan ada lagi, Ma. Hari ini, atau aku akan terus penasaran selama sisa hidupku. Mungkin aku akan menghabiskan hari-hariku ke depan hanya untuk memikirkan perkampungan aneh itu, bertanya-tanya kapan bisa menemukannya kembali.”

“Tidak,” ucap ibuku mengulangi keputusannya.

Aku tidak melepaskan tangannya. “Ma, aku akan pergi ke sana. Kuharap Mama ikut bersamaku.”

“Apa yang sebenarnya kau cari?” tuntut ibu.

“Aku hanya ingin tahu sebenarnya perkampungan apa itu….”

“Lalu?”

“Lalu aku akan memutuskan tidakan selanjutnya setelah aku tahu apa yang ada di sana….”

“Serafina?”

Aku dan ibuku sama-sama mematung ketika ada orang yang menyebut nama ibuku. Kusangka hanya ada kami berdua di tempat ini. Otomatis perdebatan kami terhenti.

Aku melihatnya. Pria dengan rambut putih di kepalanya, tidak lebih tinggi dari ibuku. Ia melihat ibuku, kemudian melihatku.

“Sedang apa kau di sini?” Ibuku mengatakan kalimat tersebut dengan nada tidak suka.

“Aku sedang riset. Ada rumor soal perkampungan yang terlihat setiap sepuluh tahun sekali….” Orang itu menghentikan ucapannya lalu mendekatiku.

“Fortuna? Sekarang umurmu sudah dua belas?”

“Umurku sepuluh!” protesku. Seenaknya menambah umurku.

 "Lagian kok om ini tahu namaku, sih?"

“Tahun berapa sekarang?” Ibuku menanyai orang asing itu.

Orang itu menjawab, “2030.”

“Kurasa cara waktu berjalan antara di sini dan di sana berbeda. Aku tinggal di sini selama delapan tahun.” Ibuku memberitahu.

“Aku mencarimu dan Fortuna ke mana-mana! Ternyata kalian terjebak di tempat ini.

Perkampungan yang muncul setiap sepuluh tahun sekali. Kupikir kau sengaja pergi membawa Fortuna dan tidak ingin dia bertemu denganku!”

Orang itu meraihku untuk memeluk, tapi aku menghindar. Aku memeluk ibuku dengan erat.

Ma, orang ini aneh!” seruku dari belakang punggung ibuku.

“Oh! Aku memang membawa Fortuna pergi karena kesal denganmu, tapi terjebak di sini bukanlah rencanaku. Kita berada di bumi yang sama, area yang sama, tapi tidak bisa bertemu selama ini. Mungkin ini keberuntungan.”

“OK. Aku mau peluk Fortuna,” pinta orang asing itu.

Maaaaa!” Aku semakin mengeratkan pelukanku ke ibu.

“Fortuna tidak mau, dia tidak mengenalmu," tegas ibuku.

Orang paruh baya itu cemberut.

"Ini Dada, Nak," katanya.

"Dada? Dada ayam? Paha ayam?" gerutuku sebal.

"Dia Ayahmu Nak. Ayah yang selalu mengatakan dirinya warrior, padahal aslinya cemen. Mengakui kau sebagai anaknya saja tidak berani," sindir ibuku.

"Oh? Kupikir aku tidak punya Ayah," gumamku. Tidak jelas kalimat tersebut kutujukan pada siapa.

"Mana aku tahu dia masih hidup atau tidak sementara dia ada di frekuensi lain. Mana aku tahu juga kita bertiga bisa bertemu lagi," kata ibu sambil mengangkat bahu.

"Jadi sebenarnya kita berasal dari perkampungan aneh itu? Yang muncul setiap delapan tahun sekali? Maka dari itu Mama sering mengajakku ke lembah karena ingin pulang?" Aku membombardir ibuku dengan banyak pertanyaan.

"Di sana tempat asalku. Jadi aku merindukannya. Melihatnya dari jauh seperti ini sudah cukup mengobati kerinduanku. Tapi sekarang kita tinggal di sini. Sudah bertahun-tahun. Jadi kita akan melanjutkan hidup dengan tetap tinggal di sini," jelasnya.

Ibuku kemudian menghadap ke orang asing itu.

"Kau kemari bukan dengan tujuan mencariku atau Fortuna, kan? Mitos perkampungan yang muncul tiap sepuluh tahun sekali juga sudah kau temukan jawabannya. Bagimu sepuluh tahun, tapi bagi yang tinggal di sini hanya delapan tahun. Sekarang kembali saja ke asalmu sebelum kau terjebak di frekuensi ini."

"Ya sudah kalau itu maumu," ucap orang itu sambil matanya terus mengawasiku. "Aku senang berkesempatan melihatmu, juga Fortuna. Dada pergi ya, Nak."

Orang itu mulai berbalik ketika awan menutupi matahari.

"Eh? Kok perkampungannya gak kelihatan lagi?" ujarku, kaget.

Kami bertiga melihat ke arah lembah dan hanya melihat pemandangan pepohonan seperti hari biasanya.

"Mungkin karena mendung. Mudah-mudahan nanti kalau cerah terlihat lagi," ujar ibuku, tidak yakin. "Kurasa waktunya 24 jam. Jadi masih ada kesempatan buat orang menyebalkan ini pulang ke tempat asalnya."

"Kalau aku terjebak di sini, kita tinggal bersama ya? Dada kangen banget sama Fortuna," usul orang asing itu.

"Hadeeeh," timpal ibuku tidak setuju.


*

Archana Universa




artikel ini terpublikasi juga di An1magine Volume 5 Nomor 5 Mei 2020



An1magine Volume 5 Nomor 5 Mei 2020

Jurnal majalah bulanan populer seni, desain, animasi, komik, novel, cerita mini, dan sains ringan yang dikemas dalam format education dan entertainment (edutainment). An1magine mewadahi karya cerita mini, cerita bersambung dalam ragam genre, tutorial, dan komik dalam ragam gaya gambar apa pun. Jurnal majalah An1magine ini dapat diakses secara gratis (open access system). Silakan klik link di atas untuk mengunduhnya.

An1magine edisi ini dapat diunduh juga di An1mage JournalPlay Store, dan Google Book. Silakan klik link aktif yang ada untuk mengunduhnya. Gak mau ketinggalan berita saat An1magine terbit? Gabung yok di An1mareaders WA GroupFacebookInstagramTwitter

 

 

inovel
Gabung di An1mage WA Grup untuk workshop, tutorial, pelatihan, dan membahas puisi, cerita mini, cerita pendek, novel, dan scenario untuk diterbitkan dan atau difilmkan, jangan ngabisin waktu nungguin chat, mari berkarya nyata, terlibat dalam produksi secara langsung, gabung dengan mengirimkan pesan WA ke Aditya PIC: 0818966667 dapat mengirimkan email ke: inovel.group@gmail.com subject: gabung inovel dengan isi: nomor kontak WA kamu atau dapat juga gabung di inovel facebook group.


ikomik Gabung di An1mage WA Grup untuk workshop, pelatihan, tutorial, dan membahas komik untuk diterbitkan, dianimasikan dan atau difilmkan, jangan ngabisin waktu nungguin chat, mari berkarya nyata, terlibat dalam produksi secara langsung, gabung dengan mengirimkan pesan WA ke PIC Aditya: 0818966667 dapat mengirimkan email ke: ikomik.group@gmail.com subject: gabung ikomik dengan isi: nomor kontak WA kamu atau dapat juga gabung di ikomik facebook group.

 

iluckis Gabung yuk di grup WA iluckis, tempat para pelukis berkarya, berpameran, dan berpublikasi, karya lukisanmu dapat dipublikasikan secara gratis di majalah An1magine yang terbit bulanan dan beredar sejangkauan jari di Play Store yang berdampak pada promosi karya dan namamu agar lebih dikenal , gabung dengan mengirimkan pesan WA ke Aditya PIC: 0818966667 atau dapat mengirimkan email ke: iluckis.group@gmail.com subject: gabung iluckis dengan isi: nomor kontak WA kamu atau dapat bergabung di iluckis facebook group.  

 

icosplayer Para cosplayer yang keren-keren, gabung yuk di icosplayer WA grup, foto kalian yang menggunakan kostum bisa masuk ke majalah digital An1magine yang terbit bulanan, gabung dengan mengirimkan pesan WA ke WA ke Aditya PIC: 0818966667 atau dapat pula bergabung di icosplayer facebook group.      


 

Komentar

Postingan Populer