NABY by Archana Universa





Aku tidak ingat kapan tepatnya Naby memiliki banyak penggemar. Dia bukan musisi, bukan pemain drama panggung. Tapi banyak yang memujanya. Tapi aku ingat, dulu aku dan Naby sama-sama mengambil kelas retorika yang sama. Hanya saja kami bukan sahabat dekat. Kami jarang bertegur sapa.

"Biar kutebak. Kau iri padaku Kahlua," ejek Naby ketika aku muncul di hadapannya.

"Di sekolah kau selalu nomor dua. Aku pemenangnya. Sekarang posisiku jauh melebihimu. Kau selalu kalah telak dariku. Kau merasa sebal padaku!"

Aku mengangkat bahu.

"Aku bahkan jarang memikirkanmu." Aku berhenti sejenak.

"Agak mengejutkan mengetahui bahwa seorang Naby kerap memikirkanku."

"Omong kosong!" ucapnya sembari menahan marah kemudian pergi meninggalkanku.
Kenyataannya memang begitu. Aku memang nyaris melupakan memiliki teman paling pintar di kelas bernama Naby.

Tidak, bukan hanya nomor satu di kelas, Naby juga nomor satu di sekolah. Aku lebih sering mengingat sahabatku saat sekolah. Dan Naby bukanlah sahabatku.

Hanya saja semenjak Naby mendapat wahyu, perbiNcangan mengenai dirinya seperti tsunami yang sulit ditahan. Wahyu yang ia dapatkan dari langit. Dari dewa. Naby diyakini sebagai manusia pilihan oleh manusia di zamanku. Hanya saja aku tidak sependapat.

***

Benda itu menyala. Bersinar dalam gelap. Bulat. Menerangi malam. Bukan bulan. Bulan milik semua manusia. Tapi benda yang dimiliki Naby dipercayai merupakan hadiah dari dewa untuk menerangi manusia.

"Menerangi dari kegelapan. Bukan hanya memerangi kegelapan malam, tapi juga kegelapan hatimu!" seru Naby seraya mengangkat benda keramatnya tinggi-tinggi.

Aku mendengus. Naby bukan orang baik. Maksudku semua manusia punya sisi baik dan jahat. Tinggal mana yang lebih dominan. Sisi dominan ini juga bergantung orang tersebut sedang berhadapan dengan siapa. Perlakuan seseorang pada satu orang dengan yang lainnya sudah pasti berbeda.

Yang jelas kegelapan hati Naby padaku sangat jelas. Berbanding terbalik dengan ucapannya yang sok bijak itu. Menyebalkan. Aku bahkan malas mendengarkan ocehannya.

"Ada baiknya kau berbaikan dengan Naby. Semua orang ingin dekat dengannya. Bagaimana denganmu? Kalian pernah sekolah bersama bahkan sekelas, tapi kalian tidak dekat, sungguh disayangkan," keluh ibuku saat mengetahui aku tidak tertarik mendengar ocehan Naby yang dianggap sebagai khotbah oleh orang-orang, sementara aku menganggapnya sebagai omong kosong.

"Aku punya sahabat dan Naby bukan  termasuk dalam lingkaran pertemananku," ungkapku pada ibu.

"Kalau begitu kau harus memperbaiki hubunganmu dengan Naby!" kata ibuku, mendesak.

"Jangan mengatur dengan siapa aku harus berteman, Bu!" Giliran aku yang mengeluh.

Sebenarnya bukan hanya ibu. Ayah, kakek, nenek, paman, bibi, bahkan tetangga kanan kiri rumah juga kerap menanyakannya.

"Kahlua! Dulu kau kan sekelas dengan Naby, pasti kalian dekat ya. Senang sekali memiliki teman hebat seperti Naby. Bagaimana jika kau menyampaikan salamku padanya. Ngomong-ngomong aku memiliki permintaan, bisa kau sampaikan padanya supaya Naby menyampaikannya pada Dewa supaya mengabulkannya?"

Hal itu menyadarkanku bahwa banyak manusia ingin mencapai keinginannya tanpa bersusah payah. Mengabulkan permohonan melalui orang lain lewat ucapan minta tolong.

Mungkin aku termasuk di dalamnya, tapi untuk urusan Naby aku belum pernah berniat minta tolong padanya.

Pasti karena dari awal hubunganku dengan Naby kurang harmonis. Jika saja aku teman baik Naby seperti Natu, pasti aku juga sudah ikut-ikutan meminta dia berkomunikasi dengan dewa supaya keinginanku terkabul.

"Panen melimpah, hujan yang cukup. Juga ... jodoh!" ungkap Natu padaku tanpa malu-malu.

Lucu. Natu padahal punya banyak gebetan. Menurutku banyak cewek-cewek yang mendekatinya. Padahal hobinya tebar pesona. PDKT kanan kiri.

"Aku tidak punya maksud buat menggoda mereka, aku hanya bersikap baik, bukan salahku jika para cewek menyukaiku," elaknya saat dituduh sebagai playboy.

Mestinya Natu tidak perlu berdoa pada dewa buat minta jodoh. Mestinya dia minta dewa mengubah karakternya supaya tidak takut pada komitmen.

Tapi doa Natu bukan satu-satunya yang aneh. Adik ibuku lebih gila lagi. Rajin berdoa. Tidak lain karena berharap judinya menang dan kaya mendadak.

"Keberuntungan itu harus diusahakan dan didoakan. Aku berdoa kan juga bagian dari usaha, kau setuju kan?" tawanya saat ibuku menyindir sikap buruk adiknya.

"Kahlua kau kan dulu sekelas dengan Naby. Kurasa tidak sulit untuk berteman dan mendesaknya supaya menyegerakan doaku pada dewa. Kau mau membantu bibimu ini kan?"


***

Seandainya aku punya kekuatan super mungkin aku akan memilih untuk menjadi tidak terlihat. Transparan? Tembus pandang? Asal bukan benar-benar menghilang saja.

Pokoknya aku muak mendengarkan orang-orang yang memintaku bicara pada Naby supaya mengabulkan doa mereka. Kalau mereka memang ingin, langsung saja bicara pada Naby. Aku kan bukan kurir pembawa pesan.

Hanya saja aku tidak memiliki kekuatan super biarpun menginginkannya. Seperti yang kusampaikan sebelumnya, aku ingin jadi tidak terlihat tiap orang-orang di sekelilingku membicarakan Naby atau memintaku menyampaikan permohonan mereka pada Naby yang agung.

Oh! Tambahan aku juga tidak ingin berdoa pada dewa. Atau juga tidak akan meminta Naby menyampaikannya pada dewa supaya aku punya kekuatan super. Sudah cukup jelas kan? Tidak perlu diragukan lagi.

"Mau ke mana?" tegur ibu saat memergokiku hendak menyelinap ke luar halaman rumah.

Hari ini keluarga besarku tengah berkumpul karena ayah berulang tahun. Dan aku sudah hampir mencapai batas kesabaran. Tidak ingin mendengar ocehan soal Naby. Juga tidak mau meladeni orang-orang yang mendesakku buat bicara pada Naby supaya keinginannya terkabul.

"Mencari hadiah buat Ayah," jawabku sekenanya. Kemudian buru-buru meninggalkan rumah supaya tidak ditahan oleh ibu.

Hadiah? Luar biasa memang otakku ini. Mendapatkan alasan mengada-ada dengan cepat. Hadiah buat ayah sudah kusiapkan dan tersimpan rapi di kamar. Menungguku dengan tenang untuk menyerahkannya pada ayah.

Persetan dengan dosa karena telah berbohong. Aku bahkan sedang tidak ingin percaya bahwa dosa ada. Aku tidak ingin percaya ada surga dan neraka. Aku membenci orang-orang yang mengatakan dirinya baik karena rajin berdoa padahal sebenarnya jahat karena mengharapkan orang lain disiksa di neraka.


Tapi bukan karena alasan itu aku tidak menyukai Naby. Aku tidak senang karena sikapnya padaku. Ini masalah personal di antara kami berdua.


***

"Mohon maaf. Sekali lagi kau tidak bisa menjadi juara umum Kahlua. Kuharap kau bisa mendapatkan posisiku di lain kesempatan meski aku tahu itu berat," ejeknya tanpa diminta.

"Selamat," balasku, singkat.

"Kuharap kau tidak membenciku. Karena aku, kau selalu berada di posisi kedua," lanjutnya.

"Tidak kok," ungkapku, jujur.

"Tidak apa-apa. Aku tahu kau kesal. Pastinya berat memiliki rival yang tidak bisa kau tandingi," kata Naby tanpa merasa perlu menghentikan sikap menyebalkannya.

"Terima kasih atas perhatiannya," tutupku sambil buru-buru meninggalkannya. Muak ultimate. Kalau ada lomba mencemooh orang, aku juga yakin Naby keluar sebagai pemenangnya.

Aku selalu berpikir Naby aneh. Dia selalu menang, tapi mengapa selalu ingin merendahkanku. Aku berusaha untuk tidak merasa terganggu atas sikapnya. Tentu saja hal tersebut tidak selalu berhasil. Apalagi kami tinggal di area yang sama.
"Seandainya bisa, apa yang hendak kau lakukan pada Naby?" tanya adikku ketika aku menjelaskan tidak suka pada Naby.

"Entahlah. Aku bahkan tidak sempat dan tidak ingin memikirkannya. Aku hanya ingin kami hidup berjauhan. Mungkin aku harus pergi ke suatu tempat yang jauh nanti?" gumamku.

"Jangan, kalau begitu," ujar adikku.
"Aku tidak setuju kau meninggalkan keluargamu hanya karena orang lain."

"Lihat! Lihat! Siapa yang bersikap bijak disini?" kekehku sambil mencubit pipitnya, gemas.

"Sakiiiiit!" keluhnya.

Sedikit banyak aku setuju dengan adikku. Memang benar tidak perlu meninggalkan keluargaku demi orang lain.

Hanya saja kadang keluarga bisa jadi memuakkan. Mereka perhatian dan aku terdengar seperti anak durhaka sekarang karena tidak suka dengan cara mereka memperlakukanku.


***

Aku berjalan tanpa tujuan. Oke, maksudku tujuanku adalah menghindari keluarga besar yang sedang berkumpul di rumah. Selebihnya aku belum punya rencana.

Tapi, tanpa rencana sekali pun aku tidak diam. Aku bergerak. Dan di sinilah aku sekarang. Di lapangan, sendirian di antara lautan manusia. Aku tahu mengapa mereka berkumpul di sini sekarang. Naby.

Kupandangi manusia yang tidak akur denganku. Naby tengah bicara, orang-orang duduk mengelilinginya, mendengarkan. Aku di sini bukan berarti hendak mendengarkannya. Jarak di antara kami terlalu jauh. Suaranya tidak sampai tertangkap oleh telingaku.
Kurebahkan tubuhku di atas rumput. Dan memejamkan mata. Tidak tidur. Aku hanya ingin merasa damai.

"Semua orang menyukai Naby, tapi kau malah tidak bisa memanfaatkan koneksimu dengannya! Percuma saja kalian pernah satu sekolah bahkan satu kelas!"

"Kau yang aneh. Kalau semua orang menyukai Naby, sementara kau tidak, berarti ada yang salah dengan dirimu. Coba instropeksi diri!"

"Permintaanku tidak kunjung terkabul, pasti gara-gara kau belum menyampaikannya pada Naby. Sesulit itukah aku meminta bantuan padamu, Kahlua?"

"Semua orang setuju kalau Naby adalah manusia perpanjangan dewa. Kalau mau hidupmu di dunia dan di akhirat selamat, kau harus mulai lebih peduli pada ucapan Naby, bukan malah menghindarinya!"


Aku membuka mata dan merasakan kebisingan yang tidak biasanya. Suara berisik yang sama sekali tidak berhubungan dengan cemoohan yang selalu muncul dalam mimpi burukku barusan.

"Naby sudah tidak menjadi utusan dewa!"

"Benda bersinarnya tidak lagi menyala! Dewa sudah meninggalkannya!"

Aku menangkap beberapa kalimat dari orang-orang yang melewatiku. Mereka pergi menjauhi batu tempat biasanya Naby berkoar-koar.

"Keistimewaannya dari dewa telah dicabut. Dia sudah tidak bisa membantu kita berkomunikasi pada dewa lagi."

"Kurasa dia sudah menjadi jahat dan tamak sehingga dewa tidak lagi menyukainya."



"Sejujurnya dia memang terdengar kian arogan dari hari ke hari, tapi aku berusaha untuk selalu mendengarkan ceramahnya. Untung saja sekarang dia sudah tidak dipercaya oleh dewa lagi."

"Dewa tentunya bisa membedakan manusia yang baik dan mana yang pada akhirnya besar kepala karena dipercaya dewa. Naby sudah ditinggalkan karena banyak omong besar, ucapan yang keluar dari mulutnya bukan lagi ajaran dewa  

“... sebatas karangannya saja." "Sejujurnya akhir-akhir ini aku memang mulai malas mendengarkannya."

"Itu karena dewa sudah meninggalkan Naby. Ucapannya makin lama terdengar seperti sampah saja. Melantur! Aku senang dewa sudah mencabut cahaya dari benda yang dimiliki Naby."

"Benda itu sudah tidak lagi bersinar. Naby sudah kehilangan kemampuannya untuk menerangi hati manusia."

"Naby sudah tamat!"

Aku berjalan melawan arus orang-orang. Berhenti beberapa belas meter dari Naby yang masih terduduk lesu di batu kebesarannya.

Memandangi benda bersinarnya yang kini padam.
Kemudian tatapannya menangkapku. Tidak ada ucapan yang muncul dari mulutnya. Sama seperti mulutku yang diam.

Hening.


story by: Archana Universa


Cerita mini ini terpublikasi di An1magine teen cyber magazine



Jurnal majalah bulanan populer seni, desain, animasi, komik, novel, cerita mini, dan sains ringan yang dikemas dalam format education dan entertainment (edutainment). Jurnal majalah An1magine ini dapat diakses secara gratis (open access system). An1magine edisi ini dapat diunduh di An1mage JournalPlay Store, dan Google Book. Silakan klik link aktif yang ada untuk mengunduhnya.


Gak mau ketinggalan berita saat An1magine terbit? Gabung yok di An1mareaders WA GroupFacebookInstagramTwitter

icosplayer
Para cosplayer yang keren-keren, gabung yuk di icosplayer WA grup, foto kalian yang menggunakan kostum bisa masuk ke majalah digital An1magine yang terbit bulanan, gabung dengan mengirimkan pesan WA ke WA ke Aditya PIC: 0818966667

inovel
Gabung di An1mage WA Grup untuk workshop, tutorial, pelatihan, dan membahas puisi, cerita mini, cerita pendek, novel, dan scenario untuk diterbitkan dan atau difilmkan, jangan ngabisin waktu nungguin chat, mari berkarya nyata, terlibat dalam produksi secara langsung, gabung dengan mengirimkan pesan WA ke Aditya PIC: 0818966667

ikomik
Gabung di An1mage WA Grup untuk workshop, pelatihan, tutorial, dan membahas komik untuk diterbitkan, dianimasikan dan atau difilmkan, jangan ngabisin waktu nungguin chat, mari berkarya nyata, terlibat dalam produksi secara langsung, gabung dengan mengirimkan pesan WA ke PIC Aditya: 0818966667

iluckis
Gabung yuk di grup WA iluckis, tempat para pelukis berkarya, berpameran, dan berpublikasi, karya lukisanmu dapat dipublikasikan secara gratis di majalah An1magine yang terbit bulanan dan beredar sejangkauan jari di Play Store yang berdampak pada promosi karya dan namamu agar lebih dikenal , gabung dengan mengirimkan pesan WA ke Aditya PIC: 0818966667


Lowongan menjadi agen iklan An1magine dengan sistem komisi sampai 50% net, kirim lamaran via email ke: an1mage@an1mage.org atau isi online form agen iklan freelance berikut ini




Komentar

Postingan Populer