SINEMATOGRAFI: Realitas Sinema Kekinian I Nyoman Anom Fajaraditya S.



SINEMATOGRAFI: 

Realitas Sinema Kekinian

I Nyoman Anom Fajaraditya S.




Sinema kini telah menjadi bagian dari budaya populer, tidak hanya sekedar hiburan tetapi justru menjadi wujud visualisasi keliaran ide dan pemikiran manusiaSebagai salah satu subsektor industri kreatif, film atau movie sering disebut sebagai sinema saat ini memiliki dukungan penuh dari berbagai pihak termasuk pemerintah.

Hal ini disampaikan secara jelas pada ajang Internasional The World Conference on Creative Economy 2018 di Bali, dan hal ini sangat membanggakan karena WCCE berikutnya akan diadakan di Dubai. Berdasarkan data statistik dalam Opus Badan Ekonomi Kreatif 2017-2018, subsektor film, animasi dan video, merupakan 4 besar dengan pertumbuhan terpesat, yaitu pada angka 10,09%, industri Desain Komunikasi Visual dengan pertumbuhan 8,98%, TV & radio sebesar 10,33%, dan seni pertunjukan sebesar 9,54%.


Sinema adalah suatu karya seni dengan proses penciptaan yang kompleks. Tidak hanya itu, manajemen proyek, segmentasi pasar, durasi, etika perancangan, aturan yang berlaku pada ruang publik, dan sebagainya, menjadi pertimbangan penting. Hal ini memang merupakan fenomena klasik dalam dualistis idealisme pemikiran kreatif dalam berkarya. Sinema cenderung dianggap hanyalah suatu hiburan akhir pekan.

Namun pada sinema kekinian, sebagai media yang memproduksi makna, juga sarat akan sisipan beragam ideologi yang dapat memengaruhi perspektif kehidupan sosial penikmatnya. Ulasan singkat topik ini semoga dapat sedikit pemahaman ruang paradoks sinema dan menjadi penikmat media yang cerdas.Sebelum dahsyatnya serangan Tanos pada sinema populer, sudut pandang berbagai hal pada sinema kini sangat dipengaruhi sejarah evolusi perkembangan sinema itu sendiri.

Segudang tokoh visioner yang berperan penting pada perkembangan sinema, telah berdampak pada kita untuk tertegun menikmati tayangan spektakuler pada layar lebar saat ini. Sedari abad awal masehi, studi tentang cahaya dan astronomi menjadi akar penyebab semua ini terjadi. Tak menjadi ilmu yang bersifat ortodok, studi tersebut justru melahirkan beragam rumpun ilmu baru, penemuan alat bantu dan perspektif dalam memanfaatkan kekuatan cahaya pada abad-abad berikutnya. 





Sejak 1800-an akhir, sinematografi mulai merasuk ke ranah industri setelah popularitas penemuan fotografi. Bahkan seorang ilusionis-pun menjadi pelopor perubahan sudut pandang dunia sinema. Muncullah seorang ilusionis sekaligus sineas dalam sejarah yaitu George Melies, yang tanpa ia sadari telah menciptakan proses spesial efek sinema seperti multiple exposure, substitution splices, jump cut, fade in, fade out, time lapse, hand painted colour, stop motion, storyboard dan overlapping dissolves. Bahkan ia seperti seorang ahli nujum, menciptakan karya tentang pendaratan manusia di bulan jauh sebelum hal itu terjadi. 




Pada generasi berikutnya muncullah Fritz Lang yang mengubah sudut pandang tentang sinema terutama pada inspirasi genre fiksi ilmiah. Pola teknik pengambilan gambar, aspek durasi sinema, psikologis alur cerita dan ide tampilan tentang kehidupan dunia masa depan, merupakan sajian yang kini sangat umum kita lihat dalam karya sinema. Sinema kini telah menjadi bagian dari budaya populer, tidak hanya sekedar hiburan tetapi justru menjadi wujud visualisasi keliaran ide dan pemikiran manusia.



Katakanlah sekuel Avengers dari Marvel Cinematic, walaupun merupakan saduran dari cerita komik, pada sisi lain seolah mengingatkan manusia bahwa kita tidak sendiri di alam semesta yang luas ini, perkembangan teknologi yang tidak terbendung memungkinkan terjadi hubungan antar galaksi di masa depan serta ancaman yang ada di baliknya. Sinema ini, merupakan suatu strategi marketing crossover dengan menyatukan fanbase masing-masing superhero. 





Kejadian yang mirip terjadi pada sekuel The Transformers, bahasan interaksi kehidupan ekstraterestrial, ulasan solusi selalu pada negara maju, bahkan sajiannya sangat jelas menampilkan parade intimidasi iklan, keangkuhan dan ketidakberdayaan manusia, efek berlebihan yang tidak masuk akal, propaganda kekuatan negara adidaya, dan sensualitas sebagai bahan dagangan sinema yang menjanjikan.




Namun secara umum sinema barat cenderung membangkitkan karakteristik tokoh untuk mengarahkan alur cerita yang disajikan. Bahkan ada pula yang merancang, mempersiapkan dan mempopulerkan terlebih dahulu produk massal yang bersifat komersial untuk mendukung sinema tersebut sebelum dirilis.

Berbeda pada sinema populer di belahan bumi timur, cenderung penguatan alur cerita berdasarkan aspek kultural dan fenomena supranatural. Sebutkanlah sajian animasi atau yang sering disebut film kartun, jika kita beranggapan bahwa itu hanyalah untuk anak-anak, Anda telah melakukan kesalahan besar! Sebagai contoh animasi garapan Ghibli yang sarat pesan moral dan alur cerita yang kuat dengan nuansa kulturnya.  Spirited Away” menyajikan interaksi dimensi alam manusia dan dunia roh, di mana dunia nyata saling memengaruhi dunia dimensi yang lain.




Namun dalam ceritanya, sisipan makna yang ada justru lebih rumit dari sekedar pemahaman interaksi antar dimensi kehidupan dan jelas secara visualisasi makna bukan ditujukan hanya untuk anak-anak. Pada “My Neighbor Totoro”, satu cerita dari sudut pandang sederhana tentang kemurnian jiwa anak-anak. Cerita ini mengingatkan manusia untuk selalu hidup berdampingan dengan lingkungan dan jiwa dari alam itu sendiri. 

Sebagai animasi buatan tangan, berkesan halus dan artistik, mengingat apatisme Ghibli terhadap teknologi CGI. Pada “Princess Mononoke”, memiliki alur cerita yang cenderung untuk sajian orang dewasa, kritik sosial yang disisipkan tentang sifat manusia sebagai akar segala permasalahan, ambisi, tamak, pragmatis, kerusakan lingkungan dan sebagainya, menjadi struktur skenario dalam sajian.

Secara umum, animasi sinema timur cenderung tentang jati diri, sudut pandang manusia modern yang mulai bergeser dan penghancuran karakter atau identitas yang dimulai dari faktor internal. Sedangkan di tanah air, sinema dijelaskan mengalami pertumbuhan, namun belum menjadi tuan rumah di negeri sendiri.

Walau demikian, pertumbuhan ini didukung pula adanya berbagai penghargaan skala internasional yang diraih sinema indonesia. Ironisnya, sekian banyak kejayaan diraih di luar negeri, justru mengalami kemerosotan popularitasnya di dalam negeri, halnya Pasir Berbisik, Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak, Battle of Surabaya, Sekala Niskala, dan sederet sinema Indonesia lainnya.




Ironi ini bertambah tatkala kekayaan budaya yang dimiliki justru diistimewakan oleh orang luar seperti halnya film dokumenter Long Sa’an yang diinisiasi orang asing dan beberapa pelaku kreatif dari Indonesia. Movie dokumenter yang mengangkat kisah kehidupan tradisional masyarakat adat Suku Dayak Kenyah dari desa Long Sa’an yang perlahan tergerus modernitas. Fenomena bergesernya kehidupan tradisional, dapat memicu memudarnya keberagaman serta destruksi lingkungan yang lebih masif.




Namun pada sisi lain, para sineas independen berusaha keras untuk mengakomodasi kekayaan potensi-potensi ini sebelum terlambat. Seperti halnya eksplorasi budaya komunal salah satunya dalam film Janggan Harvesting The Wind yang sempat hadir di layar lebar. Gagasan sederhana, mendokumentasikan perihal historis “melayangan”, yang berdampak untuk mengingatkan kita semua tentang kekayaan budaya tradisional yang dimiliki. Sangat menggelikan bila mengetahui dan mengambil satu benang merah bahwasanya kita telah berada pada satu simulakra media.

Sajian realitas semu begitu gencar menyerang di depan mata, mengubah gaya hidup, menggeser nilai-nilai filosofis, etika dan karakteristik artifisial atau kehidupan sosial yang tidak  semestinya. Sajian plot cerita ambigu, buaian penyeragaman kehidupan glamor dan visualisasi konflik-konflik tidak penting, justru tumbuh subur menebalkan kacamata kuda pirsawannya dari beragam latar belakang generasi. 

Siratan makna-makna paradoks dan fenomena kritik dalam sinema, semestinya dapat disikapi lebih bijak tanpa harus merusak tatanan, pesan-pesan moral mesti disadari bersama untuk memperbaiki keadaan. Bukan saatnya untuk merasa malu tapi justru untuk menjadi cerdas dan peduli, tanpa memandang hirarki status, gelar, atau jabatan serta belajar menghargai kerja keras karya yang ada. Ibaratkan seperti akar rhizoma yang merambat saling menguatkan satu tunas dengan tunas yang lainnya. Penguatan karakter bangsa mesti dilakukan dari dalam ke berbagai lini. 

Salam sinema.



 I Nyoman Anom Fajaraditya S.


*Tautan reverensi:
1. Artikel ini telah disampaikan secara lisan dalam sebuah orasi ilmiah pada Rapat Senat Terbuka STMIK STIKOM Indonesia Wisuda XIII tanggal 28 Maret 2019.

2. Artikel ini diunggah secara lengkap dalam bentuk video pada tautan https://www.youtube.com/watch?v=AFu9Ry9CMAU&t=76s







Jurnal majalah bulanan populer seni, desain, animasi, komik, novel, cerita mini, dan sains ringan yang dikemas dalam format education dan entertainment (edutainment). Jurnal majalah An1magine ini dapat diakses secara gratis (open access system). Silakan klik link di atas untuk mengunduhnya.





Jurnal majalah bulanan populer seni, desain, animasi, komik, novel, cerita mini, dan sains ringan yang dikemas dalam format education dan entertainment (edutainment). Jurnal majalah An1magine ini dapat diakses secara gratis (open access system). An1magine edisi ini dapat diunduh di An1mage JournalPlay Store, dan Google Book. Silakan klik link aktif yang ada untuk mengunduhnya.

Gak mau ketinggalan berita saat An1magine terbit? Gabung yok di An1mareaders WA GroupFacebookInstagramTwitter

icosplayer
Para cosplayer yang keren-keren, gabung yuk di icosplayer WA grup, foto kalian yang menggunakan kostum bisa masuk ke majalah digital An1magine yang terbit bulanan, gabung dengan mengirimkan pesan WA ke WA ke Aditya PIC: 0818966667

inovel
Gabung di An1mage WA Grup untuk workshop, tutorial, pelatihan, dan membahas puisi, cerita mini, cerita pendek, novel, dan scenario untuk diterbitkan dan atau difilmkan, jangan ngabisin waktu nungguin chat, mari berkarya nyata, terlibat dalam produksi secara langsung, gabung dengan mengirimkan pesan WA ke Aditya PIC: 0818966667

ikomik
Gabung di An1mage WA Grup untuk workshop, pelatihan, tutorial, dan membahas komik untuk diterbitkan, dianimasikan dan atau difilmkan, jangan ngabisin waktu nungguin chat, mari berkarya nyata, terlibat dalam produksi secara langsung, gabung dengan mengirimkan pesan WA ke PIC Aditya: 0818966667

iluckis
Gabung yuk di grup WA iluckis, tempat para pelukis berkarya, berpameran, dan berpublikasi, karya lukisanmu dapat dipublikasikan secara gratis di majalah An1magine yang terbit bulanan dan beredar sejangkauan jari di Play Store yang berdampak pada promosi karya dan namamu agar lebih dikenal , gabung dengan mengirimkan pesan WA ke Aditya PIC: 0818966667


agen iklan
Lowongan menjadi agen iklan An1magine dengan sistem komisi sampai 50% net, kirim lamaran via email ke: an1mage@an1mage.org atau isi online form agen iklan freelance berikut ini

Komentar

Page Views

counter free

Visitor

Flag Counter

Postingan populer dari blog ini

STANLEY MILLER: Eksperimen Awal Mula Kehidupan Organik di Bumi

CERPEN: POHON KERAMAT

PAMERAN KOMIK SUPERHERO & SILAT INDONESIA PLUS KE 2 - 23 JUNI 2019