CINTA DI PERSINGGAHAN by Bagas




CINTA DI PERSINGGAHAN




Embun mulai menebal, dinginnya pun terasa menusuk hingga menembus tulang. lni pukul 00.30 malam waktu Bogor bagian selatan, awal musim penghujan sepertinya mengubah kondisi udara di Kota Bogor menjadi lebih dingin dari biasanya.




Dimas sedikit melambatkan laju motornya, embusan angin dingin malam ini mulai mengganggu perjalanan pulangnya menuju Kota Bekasi. Sebagai seorang penulis ia memang kerap mengunjungi kota-kota seputaran Jawa Barat untuk bertemu dengan beberapa narasumber di wilayah tersebut, suatu rutinitas yang menguras waktu, tenaga dan pikiran. Bahkan hingga urusan jodohnya pun Dimas yang sudah menginjak usia kepala tiga belum mendapatkannya, jangankan tunangan, pacar saja sudah tujuh tahun belum dia miliki.

Tapi Dimas menjalaninya dengan ikhlas tanpa ada rasa terbebani, karena menjadi seorang penulis sudah merupakan keinginan dan cita-citanya sejak masih duduk di bangku SMP. Sebuah cita-cita yang tidak mudah untuk diraih, butuh perjuangan, pengorbanan serta kesabaran. Baru saja Dimas melintasi suatu persimpangan jalan di Kota Bogor, dering dari aplikasi ojek online yang tersimpan di dalam smartphone-nya berdering. Dia memang terdaftar sebagai driver di salah satu perusahaan besar ojek online di lndonesia, dan bagi Dimas itu sangat membantu keuangannya guna mencukupi kebutuhan hari-harinya.

aklum, dia masih berstatus penulis di level amatir, jadi honor yang terima belum mencukupi seluruh kebutuhan hidupnya, dari mulai bayar kos, cicilan motor, dan lain sebagainya. Langkah yang paling jitu dalam menyiasatinya adalah dengan mencari tambahan dari sumber lain, dan Dimas memutuskan untuk memilih mendaftarkan diri sebagai driver ojek onlineDimas lalu membuka aplikasi tersebut, setelah terlebih dahulu memarkirkan motor gede (moge) kesayangannya yang berstatus kredit itu ke pinggir jalan dekat sepetak warung kopi. 

Tertera di aplikasi ojek online tersebut sebaris nama "Maya" sebagai customer-nya, dan tujuan pergi dari customer wanita yang bernama Maya itu adalah wilayah Cibitung Kabupaten Bekasi Jawa Barat. Lumayan juga pikir Dimas, nominal tarifnya bisa untuk membeli bensin dan menutupi kebutuhan esok hari. Tapi sejenak dia terheran heran, ini sudah pukul 01.00 malam, dan apa mungkin seorang wanita tidak merasa khawatir bepergian sendirian menggunakan jasa transportasi ojek online dengan jarak yang tergolong lumayan jauh, dari Bogor menuju Bekasi.

Aaah,mungkin wanita ini sudah terbiasa atau memang sedang ada keperluan mendadak yang harus malam ini dia datangi pikir Dimas. Tanpa ragu lagi Dimas lalu tancap gas menuju lokasi penjemputan di mana customer yang bernama Maya tersebut sudah menunggu kedatangannya.

Tiba di titik penjemputan, terlihat sebentuk rumah dengan bangunan yang sudah begitu tua tetapi masih kokoh dan sangat terawat, letak rumah itu memang agak berjauhan dari rumah sekelilingnya.

Taman yang dihiasi bunga-bunga serta kolam dengan air terjun buatan sungguh sejuk serta indah bagi mata yang memandangnya, ditambah dengan lampu-lampu taman menghiasi setiap sudut halaman, kian lengkaplah keasrian rumah tersebut.

Pasti pemiliknya memiliki selera seni arsitektur yang sangat tinggi, terbukti dengan dipertahankannya keaslian bangunan rumah itu yang kalau diterka mungkin sudah berumur sekitar 50 tahun lebih usianya.

Bagas menghubungi pemesan lewat telepon seluler, karena sudah 15 menit ia menunggu, si pemesan yang bernama Maya itu belum juga keluar dari rumahnya

"Halo, selamat malam Bu Maya, saya sudah sampai di depan gerbang halaman rumah ibu."

"Malam mas, saya sudah ada di belakang mas kok."

Terdengar suara seorang wanita persis di belakang Dimas berdiri. Dia terkejut dan merasa aneh, kenapa dirinya tidak melihat kehadiran wanita itu.?

"Mas jangan kaget begitu dong, kayak sedang melihat hantu aja, tadi saya keluar lewat pintu samping, Mas tidak tahu kedatangan saya karena sedari tadi mata Mas fokus memandangi halaman depan rumah saya."

Dimas tersenyum, diliriknya wanita yang bernama Maya itu, aaaah ..., Dimas terpesona dengan kecantikannya. Usianya mungkin sudah sekitar 27 tahun, tapi dengan celana jeans ketat serta sweater warna putih yang melekat di tubuhnya, wanita ini jadi terlihat seperti lebih muda dari usianya.

Ditambah rambutnya yang panjang hitam lurus menjurai, membuat dia semakin cantik dan sexy, Dimas jadi terkagum-kagum dibuatnya.

"Masa sih ada hantu yang secantik Mbak."

Dimas berkelakar untuk mencairkan suasana, merasa disanjung, wanita itu pun tersenyum tersipu malu. Motor moge kesayangan Dimas itu melaju membelah dinginnya udara malam Kota Bogor, kedua insan berlainan jenis itu seperti enggan memulai percakapan terlebih dahulu, mereka berdua hanya saling diam membisu. Entah karena saling menjaga perasaan atau mungkin takut kalau kalau justru akan mengusik kenyamanan keduanya. Tapi perjalanan ini sangatlah panjang, tidak enak dan kurang nyaman rasanya kalau terus saling berdiam diri, apalagi jalan yang ditempuh terlihat sepi dan cuaca malam pun.

semakin dingin terasa. Sebagai seorang lelaki, Dimas akhirnya memberanikan diri untuk membuka percakapan terlebih dahulu.

"Maaf Mbak, boleh saya bertanya?"

Dimas tidak menyadari, kalau sebenarnya wanita itu memang sedang menanti dia untuk memulai pembicaraan, itu terlihat dari suara jawaban yang yang keluar dari mulutnya, sangat merespons dan begitu antusias dibarengi senyum yang merekah dari bibir manisnya.

"Booooleh kok maaas."

Jawab si wanita itu. Sekarang justru Dimas yang sulit membuka mulut, entah kenapa suara merdu wanita itu seperti membius dan melumpuhkan saraf-saraf di kepala, mulut dan lidahnya.

"Kok diam Mas, katanya mau bertanya?"

Bagas tergagap, berusaha terlihat wajar untuk memulai percakapan, terbatuk-batuk sebentar lalu menarik nafasnya dalam-dalam.

"Maaf kalau boleh saya tahu, sepertinya ada keperluan yang begitu mendesak ya, sampai Mbak harus bepergian tengah malam begini ke Bekasi menempuh jarak yang lumayan jauh seorang diri, apa tidak bisa ditunda sampai besok pagi?"

Wanita itu seperti menghela nafas panjang, seketika parasnya berubah murung, pertanyaan Dimas mungkin membuat dia mengingat sesuatu yang kurang nyaman untuk dibicarakan.

"Iya Mas, malam ini juga saya harus ke Bekasi, karena malam ini adalah malam terakhir untuk saya."

Dimas sedikit bingung, dia urung untuk bertanya lebih lanjut, cuma manggut- manggut seolah puas dengan jawaban wanita itu, jawaban yang justru semakin menambah banyak pertanyaan di benak Dimas.

Saat perjalanan baru menempuh separuh waktu, hujan seketika turun dengan derasnya, Dimas segera menepikan motornya untuk mencari tempat berteduh.

"Kita berteduh di sini dulu ya Mbak, hujannya lumayan lebat, meski memakai jas hujan, kita pasti tetap akan basah kuyup."

Wanita itu mengangguk dibarengi senyumannya yang terlihat begitu menawan di mata Dimas.

Aaah...senyumnya, belum pernah aku melihat senyum semanis itu. Dimas memuji dalam hati. Sesaat mereka berdua saling pandang lalu kemudian terdiam, terhanyut ke dalam alam pikirannya masing masing.

Dimas menoleh ke kiri dan kanan memandangi sekeliling tempat di mana mereka berdua bereduh. Dan,  astaga! dia baru menyadari, ternyata tempat ini sepetak bangunan ruko kosong yang sudah rusak di beberapa bagian.

Jendela serta pintunya sudah tidak ada, atapnya pun tinggal separuh menutupi ruko itu, dan hanya penerangan lampu jalan yang membuat ruko itu jadi terlihat tidak terlalu menyeramkan. Di kiri kanan bangunannya cuma terlihat tanah kosong kumuh tak terawat, ilalang tumbuh liar merambat hampir di sekelilingnya.

Hujan semakin deras, Dimas melirik ke arah wanita itu, badannya tampak sedikit menggigil, sepertinya dia kedinginan, reflek tangan bagas membuka jaket yang melekat di tubuhnya, lalu dengan segera diberikan kepada wanita itu.

"Pakai jaket saya Mbak, biar sedikit mengurangi rasa dinginnya, saya masih ada jaket satu lagi kok di dalam bagasi jok motor."

"Terima kasih Mas."

Wanita itu lalu mengenakan jaket yang diberikan Dimas. lampu jalan sempat menerangi wajah dan lekuk tubuh wanita itu, sungguh elok parasnya, sempurna bentuk tubuhnya, beruntunglah lelaki yang sudah memilikinya.

"Mas, tempat ini pernah saya singgahi tujuh hari yang lalu."

Dimas menatap wajah wanita itu, terkejut dengan ucapannya tadi.

"Di sini Mbak? Di tempat ini?"

"Iya Mas, kenapa? kaget ya, seminggu yang lalu saya pernah berteduh di sini, tapi saya sendirian berkendara dengan motor dari Bekasi menuju Bogor, hanya waktunya saja yang berbeda."

Dimas mencoba menerka-nerka arah pembicaraan wanita itu, mungkin dia sudah hafal dan paham daerah sekitar sini. Karena menurut pengakuannya, dia sudah terbiasa bolak balik dari Bogor ke Bekasi.

"Apa Mbak pada saat itu tidak merasa takut dengan orang-orang jahat yang mungkin akan mencelakai diri Mbak?"

Wanita itu cuma tersenyum, tapi senyum yang ini terlihat berbeda, ada kegetiran dan kesedian tergambar di situ.

"Semua peristiwa adalah takdir dan kehendak tuhan ya mas, saya berpasrah saja kalau saat itu terjadi hal-hal yang buruk terhadap diri saya."

"Betul Mbak, dan buktinya tidak terjadi apa apa dengan diri Mbak kan, tidak mungkin Mbak bisa bersama saya sekarang ini kalau waktu itu terjadi sesuatu yang buruk terhadap diri Mbak, betul kan Mbak?"

Kembali wanita itu tersenyum, dia memandang ke arah langit, seperti berusaha menutupi kepedihan di raut wajahnya.

"la, Mas lelaki baik, jarang ada lelaki sesopan dan sebaik Mas Dimas."

Dimas tersipu malu, wajahnya terlihat jadi salah tingkah, dan hatinya sedikit berbunga karena namanya kini mulai disebut wanita itu.

"Terima kasih Mbak, saya yakin selain cantik, Mbak Maya juga wanita baik dan terhormat."

"Selain ngojek, mas Dimas seorang penulis juga ya?"

Dimas terheran-heran mendengar penuturan Maya, kenapa wanita ini bisa tahu dia juga seorang penulis?

"Saya sering membaca karya-karya puisi dan cerpen Mas Dimas lho, di media sosial dan juga di majalah An1magine, bagus- bagus karyanya, sangat menyentuh serta menginspirasi."

Dimas tersipu dipuji sedemikian rupa. Tapi ada yang mengusik pikiran Dimas, kenapa wanita ini bisa tahu? Sedangkan mereka berdua baru saja saling mengenal, sedangkan di media sosial, nama dan wajah Maya tidak dia kenali.

"Terima kasih atas pujiannya, tapi saya belum tergolong penulis hebat kok Mbak Maya, saya masih penulis amatir yang harus terus banyak belajar."

"Tapi puisi dan cerpen Mas Dimas banyak pengagumnya lho, terutama dari kaum hawa, saya lihat di medsos yang like mencapai ribuan."

Dimas hanya tersenyum, ada rasa bangga dikagumi wanita secantik Maya. Lalu keduanya pun mulai akrab membicarakan tentang karya karya tulisan Dimas, hingga tanpa terasa hujan terlihat mulai reda.

Dimas kemudian mengajak Maya untuk melanjutkan perjalanan yang tertunda hampir satu jam lamanya, sementara tujuan yang harus mereka tempuh masih sekitar satu jam perjalanan.

Motor kembali melaju menembus dinginnya embun, membelah gulitanya malam. dingin semakin menusuk sendi-sendi tulang, Dimas merasa seperti ada yang menempel di pinggangnya, kedua tangan Maya sekejap sudah melingkar di seputar pinggang serta Dimas, tubuhnya merapat ke punggung Dimas.

Ada yang mengalir hangat terasa di sekujur tubuh keduanya, senyum pun tersungging di bibir mereka. Bintang mulai terlihat bertaburan di langit, menyebarkan cahaya indahnya, gemerlapnya menghiasi malam kedua insan itu, serasa seperti tidak ingin melewati malam ini dalam sekejap waktu.

Rumah itu berukuran sedang, terletak di perkampungan daerah perbatasan antara Cibitung dengan Cikarang. Daerahnya masih sangat asri alami, terlihat beberapa pohon mangga dan rambutan yang berjejer mengelilingi rumah tersebut.

Suasananya pun sepi, hanya suara serangga malam yang terdengar saling bersahutan. Dimas mematikan mesin motornya, terlihat dari kaca spion, Maya sedang membuka helm dan jaket yang dikenakannya.

"Terima kasih Mas, juga terima kasih atas kenyamanan yang Mas Dimas berikan dalam perjalanan malam ini."

Ucap Maya sambil menyodorkan helm dan jaket kepada Dimas.

"Maaf Mas, boleh saya minta tolong sesuatu?"

Harap Maya kepada Dimas, dan Dimas pun segera mengangguk tanda ia bersedia dimintai pertolongan.

"Tolong berikan cincin ini kepada Bapak dan Ibu yang berada di rumah sewaktu Mas Dimas menjemput saya tadi."

"Yang di Bogor itu maksud Mbak Maya?"

"lya Mas, ini ongkosnya saya kasih 3x lipat ya, tapi saya minta besok sudah harus Mas antarkan cincin ini."

Dimas meraih cincin itu, dipandanginya sebentar lalu dimasukkannya ke dalam tas.

"Baik Mbak Maya, saya pastikan cincin itu sudah saya antarkan besok."

"Terima kasih Mas Dimas, Mas lelaki yang baik, beruntung wanita yang bisa memiliki Mas Dimas, dan jangan panggil saya Mbak, panggil Maya aja ya Mas."

Dimas tersenyum, Maya pun tersenyum, senyum yang menggambarkan sebuah harapan dan perasaan yang hanya mereka berdua yang tahu.

Siang tepat pukul 13.00 Dimas sudah berada di depan halaman rumah tempat dia semalam menjemput Maya, keadaan rumah itu terlihat sepi, seperti tak ada kehidupan di dalamnya. Dimas memberanikan diri mengetuk pintu depan rumah tersebut setelah terlebih dahulu melewati halamannya yang lumayan sangat luas.

Terdengar ada suara sahutan dari dalam, diiringi suara tapak-tapak kaki mendekat ke arah pintu di mana Dimas berdiri. Pintu terbuka, di hadapan Dimas berdiri seorang ibu, usianya sekitar 60an, wajahnya menyiratkan sebuah tanda tanya tentang jati diri orang yang saat ini berada di hadapannya.

"Assalamualaikum Bu, perkenalkan nama saya Dimas."

Dimas membuka percakapan dengan mengucap salam.

"Walaikumsalam, maaf Nak Dimas ini berkunjung ke tempat saya ada keperluan apa dan mau ketemu dengan siapa ya? Perkenalkan saya Ibu Wati pemilik dari rumah ini."

Si ibu bertanya kepada Dimas karena memang dia tidak mengenal siapa Dimas dan apa keperluannya berkunjung kerumah ibu Wati.

"Begini Bu Wati, saya seorang pengemudi ojek online, semalam saya menjemput seorang wanita bernama Maya dari rumah ini untuk minta diantarkan ke daerah Bekasi."

Sekejap raut wajah si ibu berubah drastis mendengar penjelasan Dimas,seperti ada rasa ketidakpercayaan, sekaligus juga ada rasa penasaran tergambar di raut wajah tua ibu tersebut itu.

"Silakan masuk Nak Dimas,sebaiknya kita bicarakan ini di dalam bersama dengan suami saya."

Dimas pun mengikuti langkah Ibu Wati menuju ke ruang tamu rumah tersebut, tak lama berselang, seorang bapak tua dengan tubuh tinggi besar keluar dari kamar diiringi Ibu Wati dibelakangnya.

Kedua pasangan suami istri itu duduk menghadap ke arah Dimas, dan mereka sempat terlebih dahulu saling pandang beberapa saat. lalu kemudian si bapak itu mulai berbicara.

"Perkenalkan, kami ini kakek dan nenek dari Maya, dia sudah tinggal bersama kami sejak masih duduk di bangku sekolah dasar."

Sejenak bapak itu menghentikan ceritanya, dia menarik nafas pelan, seperti sedang mencoba menahan kegundahannya.

"Anak kami, ibu dari Maya di pernikahan pertamanya dahulu memiliki anak perempuan kembar bernama Maya dan Rosa, waktu itu keduanya ikut dengan kami, sejak ibunya Maya bercerai dari suaminya ayah dari Maya dan Rosa  

“... tapi saat anak kami menikah kembali dan pindah ke Bekasi bersama suami barunya, Rosa dibawa oleh ayah kandungnya, waktu itu ia masih berumur tujuh tahun, dan sampai saat ini kami sekeluarga tidak tau di mana keberadaan Rosa. sedangkan Maya ikut tinggal bersama kami."

Dimas semakin tidak mengerti arti dari cerita kakek Maya itu.

"Begini Pak, Bu, kedatangan saya kemari untuk   menyampaikan titipan dari Maya yang semalam diamanahkan kepada saya."

Dimas lalu menyodorkan selingkar cincin emas bermata berlian kepada kedua orang tua tersebut, mereka terkejut, mata keduanya terbelalak tanda terkesima. Diambilnya cincin itu dari tangan Dimas, lalu terlihat mata keduanya mulai berkaca kaca, mata si ibu mulai meneteskan air mata menahan haru yang luar biasa.

"lni cincin milik Maya cucu kami, cucu yang sangat kami cintai."

Jawab si ibu sambil terisak-isak, sedangkan Dimas terus dihinggapi kebingungan, ada apa gerangan yang sebenarnya terjadi, peristiwa apa yang membuat kedua orang tua itu sangat terpukul dan begitu sedih.

"Nak Dimas, cucu kami Maya itu sudah menghilang sejak seminggu yang lalu, dan ibunya Maya di Bekasi pun tidak tahu keberadaan Maya sejak dia berpamitan untuk pulang kembali ke Bogor seminggu yang lalu."

Dimas kaget bukan main, darahnya seperti berhenti mendadak, wajahnya pucat, mulutnya terkatup rapat tak mampu berkata-kata.

Tapi anehnya Dimas tidak melihat keganjilan sedikit pun dari perjalanannya semalam bersama Maya.

"Polisi sampai saat ini masih melacak di mana keberadaan Maya, tapi hingga sekarang belum juga menemukan hasil, Maya seperti hilang ditelan Bumi."

"Lalu siapa wanita yang saya jemput dan saya antar semalam Pak? Bu?"

Kedua orang tua itu saling bertatapan, tidak tahu harus menjawab apa. Dimas berpikir keras, sebagai seorang penulis, intelegensinya lumayan baik.

Dia mulai mengingat-ingat ucapan ucapan Maya, Dimas yakin, ada maksud dan tujuan Maya dibalik pertemuannya semalam. Dan Dimas teringat salah satu dari kalimat Maya yang dia yakini adalah sebuah petunjuk dari Maya tentang di mana keberadaannya.

"Pak, Bu, sebaiknya kita segera ke kantor polisi sekarang, saya merasa Maya sudah memberikan petunjuk kepada saya tentang di mana kita harus mencari keberadaannya."


*

Bangunan ruko itu mulai dipasangi garis polisi, anjing pelacak sudah mengendus sesuatu yang mencurigakan. Tepat di belakang ruko tersebut, ada sebongkah gundukan tanah yang terlihat seperti belum lama ditimbun dengan sengaja.

Polisi segera bertindak melakukan penggalian, dan hasilnya ada jasad seorang wanita terkubur secara paksa di dalam lubang tersebut.

Wanita yang terkubur dengan kondisi mengenaskan itu tak lain adalah Maya, wanita yang semalam bersama Dimas di dalam perjalanan dari Bogor menuju Bekasi. Meski tubuhnya hampir hancur karena membusuk, Dimas masih bisa mengenali jasad itu dari celana jeans dan sweater putih milik Maya.

Di hadapan pusara Maya Dimas terpaku, air mata menetes di kedua pipinya, sungguh dia tidak mengerti sama sekali apa sebenarnya makna dari pertemuannya dengan Maya semalam. Benih cintanya yang baru saja tertanam, harus gugur jauh sebelum tumbuh dan berkembang.

Tapi Dimas percaya dan yakin, tuhan pasti telah merencanakan sesuatu yang terbaik untuk dirinya atas semua peristiwa ini.

Selamat jalan Maya, damailah di surga, beristirahatlah dengan tenang, meski hanya semalam kita mengecap indahnya bersama, tapi kamu akan selalu ada dalam hatiku sebagai yang teristimewa.
*

Ini sudah pukul 01.00 malam,tapi mata Dimas belum juga bisa terpejam, entah kenapa peristiwa kemarin membuat ia sulit tidur.

Meski pelaku pembunuhan dan pemerkosa Maya sudah tertangkap yang ternyata adalah kedua orang centeng penjaga tanah kosong tempat di mana jasad Maya ditemukan, tapi rasa penasaran Dimas masih mengusik pikirannnya.

Mengapa Maya memilih dia untuk mengungkap tragedi kematiannya? Dimas memijit-mijit keningnya tanda kepalanya semakin pening.

Kopi di depan TV diraihnya, diteguknya, sebatang rokok mulai dia nyalakan, lalu diisapnya dalam-dalam mencoba menghapus semua memory tentang Maya.

Alarm dari smartphone terus berbunyi, mengusik Dimas dari lelap tidurnya. Dengan perasaan malas ia bangun dari atas pembaringannya, jam sudah menunjukan pukul 09.00 pagi, semalam matanya baru bisa terpejam pukul 03.00 malam.

lni hari minggu, jadi Dimas ingin menikmati hari liburnya beristirahat total di kosnya.

Dan saat ia ingin mematikan bunyi alarm, terlihat oleh mata Dimas ada sepuluh panggilan tak terjawab terpapar di layar depan smartphone miliknya, nomer yang tertera di situ tidak ia kenali sama sekali

Dimas mencoba menebak-nebak siapa gerangan orang yang sepagi ini sudah berusaha berulang kali menghubunginya. Sejenak ia terdiam, lalu kemudian dihubunginya balik nomor telpon itu.

"Halo, selamat pagi."

"Ya selamat pagi, ini dengan Mas Dimas ya."

Ada suara seorang wanita terdengar dari kejauhan, dan …

"Astaga! suara itu!"

Suara yang masih jelas terngiang di telinga Dimas, suara yang begitu melekat di ingatannya, suara yang semalam mengusik mimpinya. Dengan sedikit gugup Dimas mencoba memulai percakapan.

"Maaf, saya bicara dengan siapa ya, tadi pagi Anda sekitar jam 07.00 sudah berusaha menghubungi saya sebanyak 10 kali."

Suara itu terdiam sejenak, kemudian terdengar seperti ada suara tawa kecil.
"Perkenalkan saya Rosa, saya saudara kembar dari Maya."

Napas Dimas seperti plong, degup jantungnya mulai teratur kembali mendengar jawaban dari wanita itu, pada awalnya dia mengira wanita itu adalah Maya, kalau saja dia tidak teringat cerita kakek Maya tentang siapa Rosa, mungkin Dimas akan mengira kalau Maya hidup kembali, karena suara dari kedua wanita itu nyaris tak ada bedanya.

"Maaf ya mas, kalau saya sudah mengagetkan Mas Dimas, saya sangat berterima kasih atas bantuan Mas yang sudah menemukan Kakak saya, meski dalam kondisi sudah meninggal dunia."

Dimas tanpa sadar mengangguk, iya cuma fokus mendengar pemilik suara itu, suara yang kembali menggelitik rasa rindunya.

"Mas Dimas, Mbak Maya itu penggemar berat karya karya tulisan Mas lho, dia selalu update menunggu karya-karya terbaru mas Dimas baik di medsos maupun di majalah online."

Dimas tertegun mendengar pengakuan Rosa adik kembar Maya itu, jelaslah sudah sekarang, terjawablah rasa penasaran Dimas.

Ternyata Maya memilih Dimas untuk mengungkap kasus kematian dirinya karena wanita itu sudah mengenal Dimas melalui karya-karyanya jauh sebelum tragedi kematiannya terjadi.

"Mas Dimas, Mbak Maya berpesan di dalam mimpi saya, kalau saya harus menemui Mas, bisa nggak hari ini kita ketemuan Mas?"

suara wanita dari smartphone Dimas itu seperti begitu berharap.

"Aku tunggu nanti malam jam 19.00 di Cafe Senja, Kelapa Gading, sekali lagi terima kasih atas semua kebaikan yang telah Mas Dimas lakukan buat kakak saya."

Dimas membuka kontak Whatsapp milik Rosa, dilihatnya profile foto milik wanita itu. Wajahnya, senyumannya, oooh, sungguh seakan Maya hadir kembali dalam hidupnya. Dimas pun tersenyum bahagia.

Ternyata tuhan memang selalu memiliki rencana yang luar biasa atas semua peristiwa yang terjadi pada umatNya, dan yang pasti, rencanaNya adalah yang terbaik bagi hamba-hambaNya yang selalu bersabar dan tawakal. Mungkin ini rencana terbaik tuhan untuk jodohnya Dimas

"Terima kasih Tuhan, terima kasih Maya."





bagas, 20.08.19
082111033355
yonssupriyono@gmail.com









Jurnal majalah bulanan populer seni, desain, animasi, komik, novel, cerita mini, dan sains ringan yang dikemas dalam format education dan entertainment (edutainment). Jurnal majalah An1magine ini dapat diakses secara gratis (open access system). An1magine edisi ini dapat diunduh di An1mage JournalPlay Store, dan Google Book. Silakan klik link aktif yang ada untuk mengunduhnya.

Gak mau ketinggalan berita saat An1magine terbit? Gabung yok di An1mareaders WA GroupFacebookInstagramTwitter

icosplayer
Para cosplayer yang keren-keren, gabung yuk di icosplayer WA grup, foto kalian yang menggunakan kostum bisa masuk ke majalah digital An1magine yang terbit bulanan, gabung dengan mengirimkan pesan WA ke WA ke Aditya PIC: 0818966667

inovel
Gabung di An1mage WA Grup untuk workshop, tutorial, pelatihan, dan membahas puisi, cerita mini, cerita pendek, novel, dan scenario untuk diterbitkan dan atau difilmkan, jangan ngabisin waktu nungguin chat, mari berkarya nyata, terlibat dalam produksi secara langsung, gabung dengan mengirimkan pesan WA ke Aditya PIC: 0818966667

ikomik


Gabung di An1mage WA Grup untuk workshop, pelatihan, tutorial, dan membahas komik untuk diterbitkan, dianimasikan dan atau difilmkan, jangan ngabisin waktu nungguin chat, mari berkarya nyata, terlibat dalam produksi secara langsung, gabung dengan mengirimkan pesan WA ke PIC Aditya: 0818966667

iluckis
Gabung yuk di grup WA iluckis, tempat para pelukis berkarya, berpameran, dan berpublikasi, karya lukisanmu dapat dipublikasikan secara gratis di majalah An1magine yang terbit bulanan dan beredar sejangkauan jari di Play Store yang berdampak pada promosi karya dan namamu agar lebih dikenal , gabung dengan mengirimkan pesan WA ke Aditya PIC: 0818966667


Lowongan menjadi agen iklan An1magine dengan sistem komisi sampai 50% net, kirim lamaran via email ke: an1mage@an1mage.org atau isi online form agen iklan freelance berikut ini



Komentar

Postingan Populer