Kita Berdua Tersenyum



http://www.sahabatinspirasi.com/13-fakta-tentang-senyum/


Kita Berdua Tersenyum

Niken Penta Dewi

The little things you do to me, are taking me over.
I wanna show, this crazy beating”



Ombak laut sedang pasang menderu, berlomba dengan kencangnya angin, menerpa wajah dan memainkan rambutku yang tergerai tak beraturan. Hari ini, matahari bersinar cerah, pesona pulau Dewata sungguh tiada habisnya. Berdua, aku dan dia, berjalan menyusuri objek wisata tepian laut Tanah Lot, lalu rehat sejenak melakukan ritual minum kopi luwak expresso di satu kafe sekitarnya, sungguh nikmat dan membahagiakan sekali. Pulau Bali, adalah tujuan kami untuk menuntaskan tugas akhir perkuliahan dalam memenuhi SKS, di mana aku mendalami ilmu arsitek interior di satu kampus negeri di Jawa Barat.


Sebagai mahasiswi tentu lembaga pendidikan tinggi atau biasa disebut kampus adalah suatu wadah yang tepat untuk mencari ilmu dan mempraktikkannya serta mengembangkan diri sebagai manusia seutuhnya sebelum terjun langsung dan berbaur dengan masyarakat secara mandiri. Sepulang dari liburan di Bali, ada perhatian lebih yang diperlihatkan secara kasat mata dan tampak jelas dari gestur tubuh serta tatapan hangatnya yang meneduhkan.


Menurutku terjadi perubahan besar di dirinya, terasa dia lebih dewasa dan bijaksana dalam kata dan perbuatan, menjadikan pribadi yang lebih tenang berwibawa. Ataukah ini hanya halusinasi pikiranku saat dilanda asmara? Apa pun itu, yang terpenting adalah aku sangat bahagia kala diperhatikan olehnya. Seperti saat ini, di kala jelang temaram senja yang mulai membayang menuju malam, dia datang menjemputku pulang kuliah dengan menunggangi sepeda motor trail kesayangannya.

“Kamu terlihat cantik,” katanya terpesona melihat penampilanku.

“Kamu juga terlihat keren,” pandangan mataku menyelidik riang, dan kita berdua tersenyum bahagia.

"Aha…, pipimu memerah. Aku suka menggodamu karena ini nih,” sambil dicubit dengan rasa gemas ke dua pipiku.

Aku selalu ada untukmu, siap jadi asisten pribadi” dengan gaya melucu dan lagi seringai senyum jantan mengembang tipis. Duh , tatapanmu serasa bisa membunuhku, batinku .

“Kamu selalu ada untukku,kuanggukkan kepala dengan memberi tanda ke dua jempol teracung di depannya, tanda menyetujui pendapatnya.

“Sahabat yang selalu dekat denganmu, tapi kini, aku, orang yang berbeda. Entah mulai kapan, dirimu masuk di hatiku” godanya membuatku tak bisa bernafas lega.

Kucubit lengan kirinya menutupi rasa malu, lalu naik ke boncengannya. Sepeda motor warna putih melaju dengan santai menuju satu warung yang mungil dan asri, tempat favorit kami.

“Aku pesan cokelat panas untuk menghangatkan badan, sedikit kurang sehat,” kataku.
Saat ini aku butuh makanan yang menenangkan pikiran dan hati, bahan baku cokelat jadi pilihan.

“Cokelat? Biasanya seorang gadis menghindari makan makanan yang berbahan baku cokelat,” refleks telapak tangannya memegang dahiku untuk memastikan kesehatanku.

“Itu makanan yang paling kusuka semenjak kecil,balasku cepat.

“Aku pesan soto ayam plus nasi, teh tawar panas” ujarnya dengan menoleh ke arahku

“Kamu nggak makan nasi?” tanyanya penuh perhatian, kujawab dengan gelengan kepala.
Setelah itu kami terdiam membisu seribu kata hingga hidangan yang terhidang tinggal alat-alat makan yang makanannya telah habis disantap. Satu kecenderunganku di kala stress atau kikuk saat bersama orang lain, maka yang kulakukan adalah makan, dengan menyantap makanan apa saja membuat diriku nyaman. Tak lama kemudian, dia mengajakku pulang. Dan kembali kami berdua membisu sepanjang jalan, berperang dengan pikiran masing-masing.

“Jangan lupa makan, tak baik untuk tubuhmu. Jaga diri baik-baik, sebentar lagi ujian semester,” katanya mengkhawatirkan kesehatanku sebelum tancap gas berlalu dari hadapanku. Momen yang indah ini, ingin kukenang selamanya.

Setelah kami terpisah raga karena kesibukan dan menjalani rutinitas hidup sebagai mahasiswa juga manusia biasa maka waktu, ruang serta jarak tetap dekat karena saat ini teknologi komunikasi sudah canggih dan murah biayanya. Bukankah kualitas komunikasi yang baik akan terus mempererat suatu hubungan antar manusia? Di sore ini, udara basah sehabis diguyur hujan deras tanpa angin kencang. Terasa menyejukkan mata dan pikiran sehabis menyelesaikan ujian mata kuliah di hari terakhir. Dia mengajakku bertemu di kantin dekat perpustakaan kampus.

“Apa rencanamu libur semester ini?” tanyaku membuka topik pembicaraan, tanpa menanyakan tentang bagaimana dia mengerjakan ujian akhir semester ini. Bagiku, yang telah lalu tak perlu diungkit lagi cukup dikenang dan dijadikan pembelajaran buat melangkah ke depan. 

Seperti kata ulama di salah satu stasiun televisi, yang sedang bertausyiah secara live Mengapa Allah menciptakan mata manusia memandang ke arah depan dan memorinya terletak di bagian belakang kepala dekat dengan leher belakang?”

“karena Allah menginginkan mahluk terindahnya untuk terus melangkah dan menatap masa depan, setiap hari ujian-ujian yang diberikan Allah silih berganti, day by day tak ada yang sama. Maka hari kemarin tentu ceritanya berbeda dengan hari ini ataupun esok lusa.
Peristiwa yang kemarin cukup disimpan dan dikunci rapat dalam otak memori kita yang terdalam, tak perlu dibuka lagi, karena mungkin di situ ada aib dan dosa kecil ataupun dosa besar yang telah kita lakukan, maka hanya Allah yang tahu segala sepak terjang kita dalam menyelesaikan hidup dan kehidupan ini.

Lama aku tercenung sendiri saat menanti pesanan minuman hangat, dia pun hanya diam membisu seperti tenggelam dalam pikirannya sendiri.

“Aku hanya ingin bersamamu,tiba-tiba dia berkata lirih.

“Maksudnya?” tanyaku lagi sambil menyesap kopi susu panas yang telah dihidangkan pelayan kantin. Aku suka dengan harga minuman kopi di kantin ini, dan kusebut kopi jujur karena harganya yang wajar tak dimanipulasi atau dimainkan sesuka hati pedagangnya.

Mari kita lupakan semua tentang perkuliahan dan kita bersenang-senang, maukah kamu ke gunung Bromo melihat fenomena kristalisasi embun dan liburan ke Batu, Malang? berhenti sejenak beberapa hari lalu, Kenzie mengusulkan hal itu, dan nampaknya banyak kawan yang setuju, kamu bisa ikut ‘kan?” harapnya cemas.

“Berapa lama?” desakku ingin kepastian, karena di bulan itu ada tanggal yang istimewa yaitu hari ulang tahunku. Dan di setiap hari ulang tahun yang tidak pernah dirayakan oleh keluargaku, namun mereka selalu memberi kejutan kecil yang menyenangkan.

“Mungkin seminggu dengan perjalanan pulang dan pergi, naik kereta ekonomi dari Jakarta,” tegasnya.

“Aku akan pikirkan dulu dan minta ijin ke ibu,” jelasku menutupi rasa kecewa terhadap dirinya bahwa di saat itu terselip satu hari yang sangat berarti dalam hidupku yaitu hari ulang tahun.


*

Jelang fajar menyongsong mentari yang akan memamerkan keindahan sinarnya pada dunia, ibu dan keluarga sudah memberikan kejutan tanda hari ini adalah hari ulang tahunku. Mereka meletuskan balon tepat di telingaku dan membawa kue dengan lilin angka 19 tahun, angka menandakan masa pendewasaan diri menuju umur berkepala 2. Sederhana, simpel namun aku bahagia, dan kali ini bercampur sedikit rasa kecewa, karena dia yang kuinginkan pergi berlibur ke Malang.   Dia bernama Herry, teman kuliah dan seorang lelaki yang telah mencuri perhatianku selama satu tahun ini.

Dan ketika kaki-kaki senja berlari manja menutupi langit menuju malam terang, memamerkan atraksi tarian bintang dengan tokoh utama rembulan purnama. Aku sedang asyik sendiri dengan hobi semenjak kecil, membaca buku novel terbaru, hadiah dari adik.
Aku biasa sendirian, tapi tak pernah kesepian seperti ini semenjak dia pergi liburan semester ke gunung Bromo dan Malang bersama kawan seangkatan.

“Kak Dewi, ada temannya” adikku memberitahu dengan mimik wajah penuh rahasia.

“Siapa? Laki atau perempuan?” tanyaku enggan.

“Lihat saja sendiri,” kilah adikku sambil berlalu dari pintu kamar.

Segera kurapikan rambut dan baju santai yang biasa kukenakan saat di rumah.
Betapa terkejutnya saat aku melihat Herry sedang duduk di kursi tamu, secepatnya membalikkan badan dan berlari menuju ke kamar untuk berganti pakaian yang layak sebagaimana menerima seorang tamu.  

“Hai ..., Herry” sapaku pelan setelah di hadapannya, dia sedikit terkejut mendengar suaraku, sedang melamun atau tertidur? Entahlah.

“Hai , Dewi. Selamat ulang tahun,” dengan menyodorkan bungkusan mungil yang indah, berpita merah jambu model bunga mawar kecil.

“Herry, terima kasih. Ternyata kamu ingat tanggal lahirku,” senyumku takjub. Aku tersipu malu menerima kado dan menjabat tangannya yang tiba-tiba dia mengecup punggung tanganku.

“Mengapa?” tanyaku sambil melepas tangan yang dikecupnya.

“Karena aku kekasihmu,” jawab Herry lugas namun kuanggap angin lalu, bercanda saja.

“Bagaimana bisa segera tiba di sini?, bukankah seharusnya masih liburan ke Gunung Bromo dan Batu?” tanyaku heran sambil mencoba menjauh darinya dengan berjalan menuju ke arah dapur memberikan hidangan untuknya ternyata adik sudah berada di ruang tamu  membawa kue dan minuman.

“Dewi , Dewi , jangankan tanggal lahir, makanan kesukaanmu pun aku tahu” jawabnya sedikit memamerkan kebolehannya dalam mengenal diriku.

“Apa makanan kesukaanku?” balasku memecah keheningan sambil mengajak duduk di teras rumah yang penuh bebungaan hasil koleksi ibu, membuat betah dan asri serta menyejukkan mata.

“Cokelat,” katanya mantap setelah kami duduk nyaman.

“Tepat dan benar”. “Kamu selalu tahu apa yang ingin kudengar,” membenarkan pendapatnya. 

“Kapan kamu tiba di Jakarta? Bukannya masih dua hari lagi acara ke gunung Bromo dan Malang baru usai?” kuulang pertanyaan yang belum dijawabnya.

“Iya,” jawabnya pendek.

“Jadi kamu langsung menuju ke rumahku?” tanyaku keheranan setelah melihat tas ranselnya tergeletak di dekat tangga rumah.

“Iya, karena aku ingin segera mengukir momen terindah bersamamu di malam ini”. “Entah mengapa, hatiku tak tenang selama liburan, selalu memikirkan dirimu, sedang apa sekarang. Tergambar di mataku bayangan dirimu saat tersenyum manis memperlihatkan dekik pipi, segala celoteh riang dan tingkah laku yang sedikit ceroboh,kami tertawa kecil bersama.

“Dewi, aku teringat tanggal ulang tahunmu jatuh di hari ini, dua hari lalu, saat kami tepat di puncak gunung Bromo, melihat sinar mentari yang akan terbit,” hening yang tenang. “Aku bergembira bersama kawan-kawan namun masih terasa ada yang kurang lengkap,” curahan hatinya. Kami berpandangan, tatapan matanya menghangat syahdu dan kita berdua tersenyum.

“Mengapa?” tanyaku tak berani menatap ke kedalaman matanya. “Setiap orang punya keajaiban tersendiri,batinku berbisik melihat pesona dirinya.

“Karena dirimu tak ada di dekatku, entah mengapa aku merasa hampa saat itu,” jawabnya. Aku terdiam, hatiku terlonjak girang tak bisa dikendalikan lagi. Bahagia menjadikanku salah tingkah, bahkan melihat wajahnya pun serasa tak sanggup lagi.

“Dewi, aku tak tahu harus mulai darimana menjelaskannya, tetapi kamulah, orang yang sangat ingin kutemui bia rpun ada wanita lain namun aku abaikan saja,” tegas. Aku diam menanti kata selanjutnya.

“Aku memang belum tahu apa keinginan dan kebutuhanmu, namun ijinkan untuk melindungi dirimu mulai sekarang. Memikirkan dan memecahkan masalah bersama, bersepeda berdua dan melakukan segalanya denganmu,” kata-katanya membuat wajahku panas memerah serasa terbakar bara arang dan seperti melayang perlahan bagai balon ulang tahun.

“Kamu datang ke sini, merobek seurat nadiku hingga kehilangan darah,” ujarku lirih.

“Kubuat pikiranmu berkelana,” Herry berteka-teki.

“Aku merasa otak ini lelah mencari jawabnya,” menyerah.

“Aku sangat mencintaimu,” terdengar nuansa kelembutan dalam intonasi suaranya.


“Apakah ini hanya ilusi?” tapi aku melihat dia tersenyum.

Merona lagi,” ujarnya spontan sambil menatapku dengan pandangan mata yang teduh. 

Tebaklah apa isi kadoku”, godanya memecah kecanggungan suasana, bukalah” nada perintah yang halus.

“Sekotak cokelat!” ujarku riang sesaat setelah membuka bungkus kado darinya. Refleks aku mengambil satu buah permen cokelat, memakannya dengan antusias. Lalu kusodorkan kepadanya, dia pun mengambil satu tapi disuapkannya kepadaku. Aku tertawa senang.

“Aku pamit pulang, hari sudah malam dan tinggalkan kamu untuk berpikir tentang pernyataan tadi,” harapnya cemas.

Dia berpamitan dengan ibu dan menghilang di jalan perumahanku dalam kegelapan malam, meninggalkan cerita indah saat mengatakan isi hatinya kepadaku. Aku senang sendiri dan segera beranjak ke peraduan merajut mimpi terindah di akhir hari ulang tahunku.


*

Hari ini, kami bersepeda berdua dengannya di antara pepohonan taman kota di bawah atap langit biru cerah yang tentu saja menawan hati, kegiatan yang menyehatkan sekaligus menyenangkan. Membuang asam laktat yang tertimbun dalam tubuh sekaligus memadu kisah kasih saat hari libur kuliah.

“Herry, aku sangat bersyukur atas bantuanmu menyelesaikan tugas yang diberikan ibu Ayu,” sambil duduk berselonjor di rerumputan menguning yang kekurangan air karena kemarau ini.

“Aku akan selalu berusaha membantumu, tapi semua tak akan terwujud tanpamu juga,” dia membantah bahwa hasil tugasku bukan dari perjuangannya sendiri.

 “Iya …,  iya , aku turut andil,” tawaku lepas.

“Entah mengapa aku senang mendengar suara tawamu, lepas bebas tanpa beban,” pujinya.

Sejenak suasana kasih tiada keresahan menyelimuti lingkungan sekitar. Hembusan angin semilir menerbangkan rambut yang tersembul di balik topiku, dia memperbaiki posisi duduknya.

“Ini paduan sempurna, cinta dan tugas,” tiba-tiba dia berkata indah memukau.

“Oh …, aku tak bisa bernafas,rintihku sambil memegang dada dengan ke dua tanganku.

“Mengapa?” memandangku penuh ketakutan.

“Tak bisakah kamu merasakan detak jantungku berirama tak beraturan?” kutiru  suara desah tarikan nafas pendek dan cepat dengan meringis kesakitan yang kubuat-buat.

“Apa yang terjadi?” tanyanya panik mengguncang tubuhku.

“Herry …, aku hanya berpura-pura” kataku sambil berdiri dan berlari menjauhinya. Aku tertawa gembira penuh kemenangan bisa membuatnya kebingungan. Setelah mengerti bahwa aku hanya main-main, dia terbahak ria lalu sontak aku berlari menjauhinya dan dia pun mengejarku. Bahagianya.

Waktu berlalu dengan cepat, kami bergegas pulang sebelum sinar matahari di tengah hari menyengat kulit. Setiap hari terasa baru bagiku saat bersamamu dan torehan cerita malam tentang romansa cokelat termanis pemberiannya di hari ulang tahunku beberapa minggu lalu mempererat hubungan kami yang kemudian melengkapi cerita kisah kasih terindah.

“Siapa pun bisa menangkap perhatianmu tapi butuh seseorang yang istimewa untuk menangkap hatimu.




Niken Penta Dewi 
Sering menggunakan nama pena Kirey Dewi Aju.
Menetap di Pekanbaru, Riau, Indonesia.
Selain sebagai penulis, aktif juga di bidang pertanian khusus tanaman hias/lansekap dan properti.

Sudah menerbitkan buku kumpulan puisi berjudul “Lipstik Bicara”, novel berjudul “Diva: Cinta yang Tak Dirindukan” dan “Pelangi Jingga” juga banyak buku antologi puisi dan cerita pendek nonfiksi dalam event yang diadakan oleh penerbit-penerbit melalui media massa.


Facebook:
Kirey Dewi Aju (Edelweiss) & Niken Penta Dewi 










Jurnal majalah bulanan populer seni, desain, animasi, komik, novel, cerita mini, dan sains ringan yang dikemas dalam format education dan entertainment (edutainment). Jurnal majalah An1magine ini dapat diakses secara gratis (open access system). An1magine edisi ini dapat diunduh di An1mage JournalPlay Store, dan Google Book. Silakan klik link aktif yang ada untuk mengunduhnya.

Gak mau ketinggalan berita saat An1magine terbit? Gabung yok di An1mareaders WA GroupFacebookInstagramTwitter

icosplayer
Para cosplayer yang keren-keren, gabung yuk di icosplayer WA grup, foto kalian yang menggunakan kostum bisa masuk ke majalah digital An1magine yang terbit bulanan, gabung dengan mengirimkan pesan WA ke WA ke Aditya PIC: 0818966667

inovel
Gabung di An1mage WA Grup untuk workshop, tutorial, pelatihan, dan membahas puisi, cerita mini, cerita pendek, novel, dan scenario untuk diterbitkan dan atau difilmkan, jangan ngabisin waktu nungguin chat, mari berkarya nyata, terlibat dalam produksi secara langsung, gabung dengan mengirimkan pesan WA ke Aditya PIC: 0818966667

ikomik
Gabung di An1mage WA Grup untuk workshop, pelatihan, tutorial, dan membahas komik untuk diterbitkan, dianimasikan dan atau difilmkan, jangan ngabisin waktu nungguin chat, mari berkarya nyata, terlibat dalam produksi secara langsung, gabung dengan mengirimkan pesan WA ke PIC Aditya: 087888666679

iluckis
Gabung yuk di grup WA iluckis, tempat para pelukis berkarya, berpameran, dan berpublikasi, karya lukisanmu dapat dipublikasikan secara gratis di majalah An1magine yang terbit bulanan dan beredar sejangkauan jari di Play Store yang berdampak pada promosi karya dan namamu agar lebih dikenal , gabung dengan mengirimkan pesan WA ke Aditya PIC: 0818966667


agen iklan
Lowongan menjadi agen iklan An1magine dengan sistem komisi sampai 50% net, kirim lamaran via email ke: an1mage@an1mage.org atau isi online form agen iklan freelance berikut ini

Komentar

Page Views

counter free

Visitor

Flag Counter

Postingan populer dari blog ini

STANLEY MILLER: Eksperimen Awal Mula Kehidupan Organik di Bumi

CERPEN: POHON KERAMAT

"Pameran Citra Perempuan dalam Konteks Kenusantaraan"