PILIHAN: Pemilu


PILIHAN: Pemilu



Moidina






Pagi dihari pemilu dilaksanakan, petugas sedang rapat dan meloading isi kotak bersama, beberapa orang sudah datang, tertib diam melihat para petugas bekerja. Selesai persiapan, ketua membuka pemilihan.


  
Ada dua bapak sigap maju kemeja pendaftaran. Yang pertama adalah Udin, petugas kebersihan sampah setempat. Udin menitip kertas suaranya dan janji "Dateng siangan abis keliling" Pak ketua mempersilahkannya lansung maju.

Tetapi dasar Udin ingin mempergunakan tinta ungunya sebagai tiket discount, ia berkeras menolak prioritas yang diberi ketua, dan bergegas pergi untuk tarik sampah. Bapak kedua, seorang professor, dosen di universitas negeri wilayah sini. Dia membawa dua surat C6.

Satu ia titipkan dipendaftaran, adalah kertas suara putrinya yang masih diperjalanan dari AussieHarapnya adalah sang putri langsung ke tempat pemilihan suara as soon as she reached home.

Pak dosen adalah pencoblos pertama hari itu, ia harus segera berangkat tugas di sekitaran Menteng. Hanya memakan waktu sedikit kami membantunya memberikan hak suara. Lalu antrian mengular hingga siang menjelang.

Aku sudah mengira, wanita lusuh dengan ransel dipundak baru datang dari tempat jauh. Ia berusaha cari tahu bagaimana ia bisa memberikan hak suaranya hanya bermodalkan KTP. Ia pun menuju meja pendaftaran.

Di meja itu ia tercengang, karena begitu mudah ternyata pemilu itu. Ia adalah anak sang dosen tadi. Ketika ia memberikan ktpnya, namanya sudah tertera di kertas pendaftaran, karena ia telah didaftarkan pagi hari oleh sang ayah.

Cus!

Langsung nyoblos! Aku melihat wajah sumringah dan senyum mengembang di wajahnya. Dengan langkah ringan ia berjalan kaki  pulang ke rumahnya setelah mencoblos.

Sekitar 10 menit kami menunggu Udin yang ketika ditelpon berteriak "SIAP" Ia sudah selesai tarik sampah dan segera ke "TKP"

Udin tiba di TPS tidak lama setelah menelpon. Ternyata Udin mandi dulu. Hehehe, ketika ia menampakkan diri di TPS, ia sudah berdandan menggunakan pakaian terbaiknya, rambut rapi ga lupa deodoran. Ia adalah pencoblos terakhir di TPS 51. Selesai mencoblos Udin segera pergi ke mall.

Aku suka cara pak professor membantu anaknya. Ia mendidik anak bagaimana menjadi warga negara yang baik. Aku juga suka cara sang anak yang bertanggung jawab. Pastilah ayah dan anak pada konteks ini sudah saling berkomunikasi. Aku melihat kemandirian sang anak yang juga mencoba mandiri dengan menggunakan KTPnya.

Aku suka gaya Udin yang mementingkan tinta ungu sebagai alat discountPesta demokrasi sudah selesai. Entah profesor pilih siapa menjadi dewan legislatif, entah Udin pilih siapa sebagai presiden.


Moidina
+62 812-9765-693



inovel
Gabung di An1mage WA Grup untuk workshop, tutorial, pelatihan, dan membahas puisi, cerita mini, cerita pendek, novel, dan scenario untuk diterbitkan dan atau difilmkan, jangan ngabisin waktu nungguin chat, mari berkarya nyata, terlibat dalam produksi secara langsung: https://chat.whatsapp.com/EHoKxhRUJftKRzkBoGbk7F 


An1magine versi online ini secara lengkap ada di An1magine emagazine volume 4 Nomor 4 April  2019  yang dapat diunduh gratis di Journal An1magePlay Store, dan Google Book









Mau menerbitkan karya digital untuk buku, komik, novel, buku teks atau buku ajar, 
riset atau penelitian jurnal untuk terindeks di Google Scholar dan berada di Play Store 
untuk pemasaran global? An1mage adalah jawabannya

AN1MAGINE BY AN1MAGE: Enlightening Open Mind Generations


AN1MAGE: Inspiring Creation Mind Enlightening 

Komentar

Page Views

counter free

Visitor

Flag Counter

Postingan populer dari blog ini

STANLEY MILLER: Eksperimen Awal Mula Kehidupan Organik di Bumi

CERPEN: POHON KERAMAT

"Pameran Citra Perempuan dalam Konteks Kenusantaraan"