SEPENGGAL CINTA

https://japanesestation.com/beginilah-ciri-ciri-gadis-primadona-sekolah-di-jepang/



Bagas





Kota gudeg malam ini hujan, rintiknya berubah deras, lorong-lorong gang mulai digenangi oleh air. Satria sedikit menggeser kursi ke sisi sebelah kiri, menghindari tetesan air yang jatuh, atap yang menaungi kos-kosan berukuran 2x3 ini memang selalu bocor.


Entah karna bangunannya yang memang sudah tua tergerus waktu, atau pemiliknya yang memang malas merenovasinya, yang jelas sudah sangat tidak layak untuk dihuni. Maklumlah, ini kos-kosan kelas ekonomi bawah untuk para pelajar seperti dirinya.


Satria membuka halaman buku lembar demi lembar, sulit menyerap pelajaran yang diberikan Pak Amir guru fisika itu, pikirannya terus membayangi peristiwa yang terjadi di sekolah pagi tadi. Saat seraut wajah cantik berkulit kuning langsat memasuki ruang kelas, menebarkan senyum dari ranumnya bibir merah delima serta pipi yang merona jingga.

Sungguh membuat Satria melayang di hamparan pesona, suatu rasa di hati yang terpendam sekian lama, tanpa sekalipun terjajah oleh pikatan pesona para wanita. Satria cowok yang tergolong tampan di kelasnya, mungkin kekurangannya hanya dari caranya berpenampilan. Sedikit kumel, tidak trendi apalagi bergaya modis.

Sikap cueknya dengan rambut tidak pernah tersisir rapi. Tapi anehnya banyak gadis-gadis yang menyukai dan terpikat dengan gaya Satria, dari murid murid wanita, sampai guru guru yang terbilang masih tersisa gelitik genit kemayunya. Bahkan sampai ada yang rela saling bersaing untuk berlomba merebut hati dan cinta Satria.

Kelebihan Satria ...? Waaah… selain tampan, dia selalu mendapat ranking tiga besar di kelasnya, Satria juga pemain basket andalan di tim sekolah. kulitnya yang putih dan tubuh yang tinggi atletis, menjadi salah satu daya tarik hingga banyaklah gadis yang mabuk kepayang dibuatnya.

Namun di balik itu, Satria adalah pemuda pendiam dan sederhana, dari keluarga yang sangat sederhana, serta besar dari lingkungan serba sederhana. Sebagian sumber biaya sekolahnya bahkan dia dapat dari hasil keringatnya sendiri sebagai penulis freelance di beberapa tabloid, orang tua yang hidup sebagai petani, membuat Satria membuang jauh kehidupan indah masa masa remajanya.

Duduk di pojok sudut kelas paling kanan adalah tempat paling disukai Satria, pagi itu seperti biasa jam kelasnya Pak Amir mengajar fisika, semua murid hening tanpa bersuara, predikat sebagai guru killer sudah begitu melekat di guru fisika itu, siapa yang melanggar aturannya ketika dia mengajar, pasti bakal dibuat terkencing-kencing dengan hukuman ala militernya.

ToK… tok … tok …

Tiba tiba pintu kelas diketuk, suasana hening sedikit menjadi gaduh, Bu Mirna guru BP masuk bersama seorang gadis, pesona kecantikan gadis itu seketika menebarkan aroma asmara kepada setiap pria di dalam kelas 3A.

Tapi justru sebaliknya menabuh genderang kecemburuan bagi para gadis-gadisnya, dan banyaklah pasti lelaki yang akan berburu cintanya, berlomba untuk meraih perhatiannya.

"Namaku Anna, aku pindahan dari Jakarta."

Itu kalimat pertama yang diucapkan oleh gadis murid baru itu, alunan suara dari paras ayu berkulit kuning langsat seperti syair lagu

romansa yang terdengar merdu di telinga para pria, sungguh indah menggema.

Kelas pun berubah menjadi gaduh oleh banyak macam pertanyaan dari para murid, terutama dari kaum pria. Pak Amir berdiri bangkit dari kursinya, matanya melotot menyoroti kesetiap sudut kelas, tanda dia sedang marah, kelas pun hening kembali, si cantik jelita itu pun kembali meneruskan suara merdunya.

"Nama panjangku Annatasya Ningrum, orang tuaku asli dari Bandung, tapi aku lahir dan besar di Jakarta." Dan seterusnya suara indah itu pun mengalir syahdu dari bibir mungil merah Anna, semua terdiam, semua membisu terbius kecantikan parasnya.

Bel panjang berbunyi, tanda sekolah telah usai. Di dalam kelas 3A hanya tinggal Satria seorang diri, hampir setiap hari dia selalu keluar kelas setelah semua sepi. sudut matanya melirik kursi deretan tengah ke dua dari depan, di bangku itulah Anna duduk.

Saat pelajaran diberikan guru, Satria tidak bisa fokus, matanya acap kali terus nakal mencuri lirik ke arah gadis cantik itu. Seolah ada binar- binar bahagia terbias di mata Satria, bahagia oleh rasa yang bergejolak di dalam dada.

Tapi segera dia tepiskan, mencoba kembali membunuh rasa di dada, memghempaskan gejolak yang membara, meredam asmara yang mulai tumbuh, karena dia tak ingin kelak nanti akan terluka pada akhirnya.

Sudut matanya kembali menjelajah ke arah kursi singasana Anna, kali ini pandangannya tertuju pada seunit handphone yang tergeletak di dalam laci meja. Satria terkejut, lalu memicingkan matanya untuk memastikan itu benar benar sebuah handphone. Dan benar, itu smartphone milik Anna.

Satria tersentak dari lamunan, dia teringat handphone milik Anna, diraihnya tas yang tergantung di balik pintu kamar. Ada 12 panggilan tak terjawab tertulis di layar handphone, anehnya semua nomor tidak memiliki nama.

Belum sempat Satria berpikir banyak, tiba-tiba handphone Anna berdering lagi, kembali identitas sang penelpon tidak tertera. Satria memberanikan diri untuk menerima panggilan itu, tapi secepat itu juga orang yang menelpon mematikannya setelah mendengar suara Satria. Sungguh aneh, Satria bingung, di kepalanya berkecamuk sejuta tanya.

Pagi ini matahari nampak cerah, sinarnya memantulkan energi bagi setiap insan, seolah memberi semangat dan motivasi kepada seluruh umat di bumi. Satria memarkir motor klasiknya di belakang kantin, motor keluar tahun 90an itu terlihat nyentrik dengan polesan indah dari sang pemiliknya.

Saat hendak memasuki lorong kelas, dia berpapasan dengan Anna, gadis cantik ini memang luar biasa, hampir nyaris tanpa cela.

Kedua mata mereka saling bertatapan, ada getar yg menyusup ke dalam hati mereka,
entah kenapa tatapan keduanya seperti enggan untuk dipalingkan, di antara kedua bola mata mereka, seperti terukir syair syair asmara.

Teng … teng … teng … teng ….

Suara tanda masuk kelas berbunyi, keduanya tersadar dari keterpakuan, lalu berjalan beriringan menuju kelas 3A, tanpa kata kata, diam seribu bahasa. barulah setelah mereka berdua hampir mendekati pintu kelas, Satria berbisik lirih.

"Sepulang sekolah nanti, aku tunggu di kantin." cuma itu kalimat yang diucapkan Satria, dan Anna mengangguk tanpa kata, tanpa kuasa menolaknya. karena hati Anna, telah terpikat pesona Satria.

Kantin mulai sepi ditinggalkan murid murid yang telah kembali ke rumahnya masing masing, hanya Satria yang masih belum beranjak dari kantin yang terletak di sudut sekolah itu. Matanya masih berkeliaran ke setiap arah, menunggu kehadiran orang yang sedang diharapkan untuk menemuinya, Anna.

Namun yang ditunggu rupanya belum juga terlihat. Dikejauhan, tepatnya dari arah gerbang parkiran sekolah, terlihat seorang wanita berjalan menuju tempat di mana Satria duduk. Tubuh indah semampai, kulit kuning langsat, dengan bentuk wajah indo ke bule-bulean, itu pasti Anna gumam Satria. Ada getar aneh di dada Satria, semakin dekat Anna menuju ke arahnya, getaran itu semakin tak beraturan.


Satria salah tingkah, keringat mulai menetes di keningnya.

"Apa ini yang namanya jatuh cinta?" Satria bertanya sendiri pada hatinya, bertanya dalam kegundahan rasa yang ingin selalu berdekatan dengan Anna.

"Hai …," Anna sudah berada di hadapannya, sapaan Anna seperti tak terdengar oleh telinga Satria, hilang tersapu kecantikan wajah Anna.

Satria masih fokus memandangi wajah cantik itu, dia tak sadar kalau yang dipandanginya sudah salah tingkah hingga merah merona pipinya.

Satria kembali ke alam sadarnya, kaget bercampur senang melihat gadis impiannya ada di depannya dengan wajah tersipu malu.

"Hai ..., duduk ..., aku Satria," dengan gugup Satria menyalami Anna.

"Mau minum apa?" kembali kegugupan terlihat di ucapan Satria.

"Orange juice." Anna menjawab dengan suara lembut mendayu. kemudian selanjutnya mereka berdua pun terlibat pembicaraan yang seru.

Tertawa berdua, beradu pandang, saling canda, saling mengisyaratkan rasa di hati mereka masing masing, sepertinya dua remaja ini telah jatuh cinta. hingga tanpa terasa waktu sore pun sudah tiba.

"lni handphone kamu, aku temukan di laci meja, maaf, ada satu panggilan yang aku jawab, bukan aku tidak sopan, hanya ingin memastikan kalau itu keluarga kamu atau bukan. karena
ada 12 panggilan tak terjawab tanpa nama."

Anna tiba tiba menunduk, tersandar di kursi kantin. Air matanya mulai menetes, pipinya memerah, bibirnya bergetar, seperti ingin mengucapkan sesuatu, namun mulutnya sulit terbuka.

"Kenapa menangis?" tanya Satria bingung. Air mata Anna semakin deras mengalir, kini dibarengi dengan suara segukan yang terdengar dari mulutnya.

Satria mengeluarkan sapu tangan dari dalam saku, di usapnya air mata yang mengalir di pipi Anna. Seketika Anna bangkit dari duduknya, membalikkan badan, kemudian pergi meninggalkan Satria yang terpaku dalam kebingungan.

Satria cepat berdiri dan berlari mengejar Anna, tapi sia-sia. Anna menghilang bersama mobil honda jazz yang di kendarainya.

Hari ini sudah genap seminggu Anna tidak hadir di sekolah, tidak ada satu pun murid dan guru yang tahu penyebabnya. Bahkan pemilik tempat kos-kosan Anna di kawasan elite itu pun tidak tahu di mana keberadaannya, Anna seperti hilang ditelan bumi.

Seminggu ini Satria terus berupaya mencarinya, tapi selalu menemui jalan buntu, semua informasi tentang Anna, selalu patah di tengah jalan, hingga di saat keputusasaan mulai mengikis semangat Satria untuk mencari Anna sampailah pada salah sebuah koran yang tertangkap matanya terjaja di emperan kaki lima.

Di halaman depan tertulis, seorang foto model yang masih berstatus pelajar tertangkap basah dengan tuduhan melakukan prostitusi online.

Saat tertangkap wanita itu sedang bersama tamu kencannya dalam sebuah hotel berbintang.Di halaman depan koran itu tertulis dengan huruf besar.

“SEORANG FOTO MODEL BERINISIAL AN YANG MASIH BERSTATUS PELAJAR ITU TERTANGKAP BASAH DALAM KASUS PROSTITUSI ONLINE”.

Disertai fotonya yang terpampang jelas di halaman depan. Sekujur tubuh Satria lemas, tatapannya kosong, foto yang dilihatnya adalah wajah Anna, wajah yang selama ini dikaguminya, diimpikannya. dirindukan untuk mengisi kisah-kisah cintanya.




bagas, 20 01.19
+62 82 1111 0 333 55


An1magine versi online ini secara lengkap ada di An1magine emagazine volume 4 Nomor 1 Januari 2019  yang dapat diunduh gratis di Play StoreGoogle Book, dan di An1mage Journal







“Menerbitkan karya digital untuk buku, komik, novel, buku teks atau buku ajar, riset atau penelitian jurnal
untuk terindeks di Google Scholar dan berada di Play Store untuk pemasaran global? An1mage jawabnya”

AN1MAGINE BY AN1MAGE: Enlightening Open Mind Generations
AN1MAGE: Inspiring Creation Mind Enlightening 

www.an1mage.org


Komentar

Page Views

counter free

Visitor

Flag Counter

Postingan populer dari blog ini

STANLEY MILLER: Eksperimen Awal Mula Kehidupan Organik di Bumi

CERPEN: POHON KERAMAT

"Pameran Citra Perempuan dalam Konteks Kenusantaraan"