SENYUM TERINDAH

https://cdn.hellosehat.com/wp-content/uploads/2018/04/7-Kunci-Penting-Agar-Memperoleh-Senyum-Indah-dan-Meningkatkan-Rasa-Percaya-Diri.jpg?x54339




Niken Penta Dewi





Musim padi berbunga di pertengahan tahun ini, menjadi tonggak kenangan manis yang tak pernah kulupakan. Ketika itu senyum terindahmu hadir di hadapanku dalam pertemuan tak sengaja di bangku taman kampus, bertepatan kuliah perdana setelah libur semester.





Teduh dan asri halaman kampusku ini, di dekat bangku taman ada sebidang kolam mungil berisi ikan mas meliuk-liukkan badannya, segar menyejukkan mata. Aneka warna bunga mawar memamerkan keindahannya dipadu kemilau dedaunan keemasan tertimpa sinar mentari pagi.

Sinta, nama panggilanku sehari-hari. Kini, aku gadis remaja tanggung yang sebentar lagi memasuki usia 20 tahun, angka yang sangat bermakna bagi semua gadis.

“Dapat surat cinta pertama darinya?” kata Wenny, sahabat karib dari arah belakang dengan memeluk bahuku erat, saat berjalan di selasar kampus.

“Iya,” ujarku riang dengan senyum cemerlang.

“Hari gini masih menulis surat cinta, keren” seloroh Wenny sambil duduk di kursi, dan kuikuti duduk di dalam ruang kuliah.

“Hmm , “ aku hanya tersenyum bahagia.

“Sinta, jangan terlalu terlihat bahwa menyukai seorang pria. Dia akan lari jika kamu terlalu mengejarnya.

“Ketahuilah, bahwa saat seorang wanita jika sedang bertekad memenangkan hati seorang lelaki dia akan mendapatkannya dengan cepat atau lambat” Wenny mengingatkan agar tetap bersikap anggun sebagaimana mestinya sambil pergi berlalu.
Tanganku masih memegang kertas merah jambu bertinta biru tua, menunggu dia, kekasih baruku, Ghafie, menjemput sepulang kuliah.

Di saat hatiku lara sendiri, seakan tiada gairah dan keindahannya lagi, Ghafie hadir memberikan sentuhan lembut menyembuhkan perasaanku dengan perlahan-lahan.

Anganku melayang kembali lebih dari dua tahun lalu, tatkala Yogi pergi keharibaannya karena tenggelam di pantai Pangandaran ketika pergi bertamasya dengan teman-teman kuliah di suatu institut ternama di Bandung.
Sejatinya aku belum bisa melupakan betapa tulus kasih yang selalu membuatku berbunga-bunga. Cinta, my first love, kujatuh cinta pada pandangan pertama.

Hatiku perih terasa teriris sembilu jika mengenang Yogi pergi tanpa sepatah kata pamit yang terucap darinya. Selamat jalan Yogi, cinta pertama terindahku.

Namun kini, hatiku benyanyi riang lagi tentang indahnya dunia asmara. Entah mengapa aku jadi terpesona senyum terindah milik Ghafie yang sering hadir mewarnai hari-hari sepiku.

Dia selalu bercanda dan terus menemani, karena tahu bahwa aku masih rapuh, tak sanggup sendiri menanggung beban hati yang teramat berat ini.

Senja menguning terlapis warna merah oranye yang sungguh mempesona, tanda Allah menunjukkan kekuasaan di seluruh jagat raya ini. Kami duduk berdua di sebidang taman hiburan tepi laut kawasan Jakarta Utara, melepas sore hari yang cerah menuju malam purnama raya dengan dibuai angin laut yang semilir riang.

“Bukalah matamu, Sinta …, lihatlah sekelilingmu dan dunia ini, betapa indahnya,” Ghafie membesarkan hatiku.

“Sejujurnya, aku masih terasa pedih jika mengenang Yogi yang telah pergi menghadap Ilahi” kataku sendu.

“Tentunya perlu waktu untuk melupakan tentang kejadian itu …, katanya, “lambat laun hal itu akan berlalu seiring bergantinya waktu” bijak Ghafie menenangkanku.

Dia telah mengetahui sejarah masa lalu diriku, bukankah bila kita mencintai pujaan hati maka kita semestinya menghargai sejarah hidupnya juga?.

“Terima kasih, Ghafie.

“Dirimu selalu menjadi pendukungku dalam melangkah merasakan indahnya bercinta. Terutama, saat pertama kali kumelihat senyum terindahmu. Keteduhan senyumanmu laksana mercusuar yang mengarahkan arah kapal laut terombang-ambing terhempas badai dan gelombang laut ganas” kataku lirih.

“Maafkan, jika kamu merasa lelah dalam menuntunku menuju kegembiraan cinta kita ini. Namun, aku bersyukur telah menemukan dirimu meskipun bukan yang pertama mencuri hati, tapi percayalah, aku akan mencoba mengerti tentangmu juga karena bersamamu telah kutemukan arti hidup” kataku menguraikan betapa menghargai dan meyayangi dirinya.

“Sinta, denganmu, aku merasa telah pulang ke rumah setelah seharian berkutat dengan hidup dan kehidupan bersama lingkungan baik di kampus, di rumah orang tua dan komunitas musik yang kugeluti.  

Langkahku terhenti seperti dirimu tempat kuberteduh dari segala mara bahaya besar dan kecil” Ghafie meretorika.

“Dulu, aku selalu ada waktu bagi kekasihku yang telah pergi. Dan kini pun, aku akan terus memberikan terbaik untukmu,” desahku panjang.

“Kenapa mendesah?”tanya Ghafie penuh perhatian.
“Aku secara pribadi sangat menyukaimu, untuk itulah aku merasa senang,” kataku malu.

“Sinta, kamulah harta yang paling indah. Akan selalu kujaga, kekasih,” Ghafie memeluk bahuku dan dengan rileks kusandarkan kepalaku pada bahunya yang kokoh, nyaman.

“Jangan punya harapan terlalu tinggi, jika terjadi kegagalan maka hanya kekecewaan yang akan kamu rasakan,” ujarku menirukan nasihat ibu. Ghafie tersenyum cemerlang sambil mencubit pipi dekikku dengan gemas.

“Ayo, kuantar pulang, katanya, “bulan purnama kali ini menandai tentang pernyataan cintaku padamu yang pertama dan terakhir kunyatakan dengan jujur dan terus terang.
“Sekarang, aku telah memiliki kekasih hati” senyumnya mengembang dengan indahnya, “kini, aku tak sendiri lagi” ujar Ghafie riang dan bahagia.

Bagaikan tetesan hujan di gurun kering, dirinya hadir memberikan senyum terindah menjadikan pengobat luka hatiku. Serasa tak ada yang bisa menggantikan tempatnya di hatiku, selalu damai kala bersamanya. Ketulusan cintanya membuatku merasa hebat, dan duka lara berganti asmara bahagia.

“Bulan sangat terang hari ini, Kamu jangan menyalahkanku akan kukubur dirimu di tempat cerah, kekasih. Namun kini, aku hanya butuh satu orang untuk mempedulikan”

Bumi Melayu, 20 Januari 2017




Niken Penta Dewi
Nama Pena: Kirey Dewi Aju
Facebook: Kirey Dewi Aju & Niken Penta Dewi.
email: kireykembangaju@gmail.com & nikenpenta@yahoo.com

Menerbitkan buku: Puisi “Lipstik Bicara”, Novel “Diva: Cinta Yang Tak Dirindukan”dan “Pelangi Jingga”, Juara I Cerpen “Rumah Biru” oleh Panrita IP, 30 buku antologi puisi dan cerpen.



An1magine versi online ini secara lengkap ada di An1magine emagazine volume 3 Nomor 12 Desember 2018  yang dapat diunduh gratis di Play StoreGoogle Book, dan di An1mage Journal







“Menerbitkan karya digital untuk buku, komik, novel, buku teks atau buku ajar, riset atau penelitian jurnal
untuk terindeks di Google Scholar dan berada di Play Store untuk pemasaran global? An1mage jawabnya”

AN1MAGINE BY AN1MAGE: Enlightening Open Mind Generations
AN1MAGE: Inspiring Creation Mind Enlightening 

www.an1mage.org


Komentar

Page Views

counter free

Visitor

Flag Counter

Postingan populer dari blog ini

STANLEY MILLER: Eksperimen Awal Mula Kehidupan Organik di Bumi

CERPEN: POHON KERAMAT

"Pameran Citra Perempuan dalam Konteks Kenusantaraan"