PESAN



oleh Maria Ulfa




Suara azan dilantunkan bersamaan tanah yang semakin menimbun tubuh Kardi. Perlahan tanah menutupi setiap sekat tubuh yang kini kaku terbungkus kain putih.

  
Di makamnya, warga desa bergantian mengalunkan doa. Mencoba memudahkan Kardi menemui sang Pencipta. Di sana hanya ada warga biasa. Tidak ada sanak keluarga ataupun teman yang menangangisi kepergiannya. Memang, ketika seseorang meninggalkan urusan dunia, keluarga yang ditinggalkan seharusnya merelakan agar jalan menuju nirwana dilancarkan.

Seperti jalan mulus tanpa halangan atau layaknya sebilah pedang yang senantiasa diasah belasan kali. Namun, ini terbilang aneh. Keluarganya terdekat tak sempat hadir. Sejenak untuk mendoakan. Di masa hidupnya, Kardi terlihat baik. Suka bersosialisasi dengan warga. Bahkan sering menggantikan muazin yang telat mengumandangkan azan. Entah apa alasan mereka enggan hadir.

Tidak ada tanda apa pun akan datang kematiannya. Ia bersikap seperti biasanya. Tegur sapa dengan penduduk lainnya. Semuanya normal. Namun, inilah takdir. Tidak ada yang bisa menebak kapan akan bertemu maut.
Bisa besok atau bahkan detik ini. Tuhan telah merencanakannya. Dan sebagai seorang hamba, hanya bisa pasrah dan berdoa diberi umur panjang. Lihat si Kardi. Umurnya belum genap tiga puluh tahun.

Nanti September ia merayakan ulang tahunnya ke- 28. Tapi, ia menghadap sang pencipta lebih cepat

Baru kemarin si Kardi berkunjung ke rumah. Sekedar membahas masalah pembangunan sekolahan dekat desa. Usulan itu memang sudah lama tercatat kepala desa. Kardi sendiri yang menyampaikannya saat ada rapat di balai desa.

Ia bersikukuh meminta kepala desa segera merampungkan rencana itu. Kepala desa hanya mengangguk berusaha mengerti situasi desanya. Memang, di Desa Sumber Jaya jarang ditemukan sekolah formal berdiri.
Penduduk yang mau menempuh sekolah formal harus rela pergi ke kota dengan jarak yang jauh pula. Akhirnya rapat hari itu mendapatkan titik terang.

Perencanaan pembangunan sekolah harus disampaikan ke pemerintah guna mendapat bantuan dana. Namun, proses itu membutuhkan waktu yang lama. Tidak ada tindak lanjut akan hal ini. Kardi yang geram, berulang kali mendatangi kepala desa bertanya proses pembangunan yang tak kunjung ada kepastian. Kepala desa berusaha menjelaskan. Namun, entah mengapa Kardi Tidak mau menerima alasan apa pun. Ekspresi wajahnya terlihat marah. Seakan menunjukkan rasa kekecewaan yang begitu besar.

Setelah beberapa waktu, Kardi tidak terlihat di sekitar desa. Mungkin, ia menemui sanak keluarganya di Surabaya. Berembus kabar bahwa saudaranya sakit. Entah itu kabar benar atau hanya gosip belaka. Tidak ada yang tahu kebenarannya.

Kardi seakan menghilang begitu saja. Bahkan, tetangga sebelahnya tidak tahu kapan Kardi pergi.

Seminggu setelahnya, Kardi kembali ke desa dengan membawa tas berisi uang. Ia mendatangiku dengan nada yang tegas sembari menuturkan kata-kata yang membuatku kaget. Tekadnya sudah kuat. Hal ini dapat terlihat dari tatapannya. Tidak ada sedikit keraguan terpancar dari matanya. Ia bersungguh-sungguh akan melakukan ini.

“Min, uang ini untuk membangun sekolah. Aku butuh bantuanmu untuk menyelesaikan tugas ini.

“Tapi Kardi, kita sudah membicarakan ini saat rapat di balai desa. Tinggal menunggu pemerintah mengabulkan permintaan kita. Tidak perlu begini.

“Menunggu sampai kapan, Min. Pemerintah tidak akan mengabulkan permintaan itu. Aku jamin. Kalau mereka memang berniat membangun bangsa ini, kenapa usulan kita tidak dikabulkan? Toh, kalau anak bangsa ini memiliki pengetahuan tinggi, bangsa ini juga akan bangga.

Baru kali ini, aku tersentuh akan ucapan seseorang. Dan itu, berkat Kardi. Entah sejak kapan ia memiliki pemikiran seperti ini.

Yang aku tahu, meskipun Kardi orangnya suka bersosialisasi, tetapi untuk masalah meminjamkan uang dengan jumlah besar, ia juga akan memikirkan matang-matang.

Tidak gegabah langsung memberikannya. Bisa berakibat fatal nantinya. Syukur kalau nantinya akan dikembalikan, bila tidak, ia akan merugi. Dan untuk masalah ini, Kardi seakan tidak memerhatikan kemungkinan terburuknya.

Bagaimana kalau pemerintah enggan memberikan suntikan dana dan rencana pembangunan ini akan terbengkalaiItu juga harus dipertimbangkan. Namun, untuk kali ini, aku tidak bisa melihat pandangan itu di mata Kardi. Apa yang membuatnya berubah begitu cepat. Entahlah. Seketika, pikiranku dirundung kebuntuan.

Rencananya sekolah itu akan dibangun pada bulan berikutnya mengingat jumlah dana yang tersedia sudah mumpuni.

Bahkan, para warga bersedia mengulurkan tangan untuk membantu. Tinggal menunggu bahan-bahan yang diperlukan. Pekerjaan itu akan diurus si Kardi. Sebab, ia pernah bekerja sebagai mandor dalam proses pembangunan yang serupa. Jadi, ia dapat memilah bahan-bahan yang berkualitas dengan harga miring.

Sebagai mantan mandor, ia memiliki kenalan penjual yang begitu banyak. Salah satunya, Pak Ridwan. Beliau salah satu penjual batu bata yang cukup terkenal di kota. Tak jarang, langganannya  berasal dari luar kota. Bahan yang dijual cukup bagus dengan harga yang terjangkau.

Aku bertemu dengannya di rumah Kardi. Mereka sarapan bersama dengan lauk sederhana. Kopi dan gorengan. Pak Ridwan sempat menawarkan sarapan kepadaku. Karena, aku terburu-buru mengantar anak ke sekolah.

Terpaksa, ajakan itu harus tertunda. Mungkin dilain kesempatan. Di sisi lain, Kardi tertunduk menatap gorengan di tanggannya. Tak ada kata terlontar darinya. Ia sibuk memikirkan hal lain. Sesuatu yang rumit.

Percakapan antara kami berjalan lancar. Dan mendapatkan kesepakatan untuk memulai pekerjaannya besok. Menyiapkan bahan dan rancangan. Di akhir kata ia menyematkatkan kata yang aneh. Bukan perpisahan melainkan permulaan hidup yang baru. 

“Min, aku ingin hidup yang baru. Seperti kertas putih yang bersih. Dan ini awal dari perjalanan baruku.

“Iya Kardi. Aku juga berpikir begitu. Pendidikan ini akan membawa perubahan bagi anak desa sini. Dan kamulah yang memulainya.
Sekilas Kardi menyematkan senyuman dan berbalik membelakangiku. Ia menatap langit penuh bintang.

Hari ini langit begitu cerah memancarkan aura yang berbeda. Satu harapan akan terukir dalam desa ini. Dan itu tidak akan lama lagi. Setelah semuanya rampung, sekolah itu akan dibuka. Impian anak-anak desa ini akan terwujud.

Sesaat kemudian, Kardi menghadapku kembali. Ia ingin mengutarakan sesuatu. Matanya menunjukkan kebahagiaan yang selama ini ia cari.

Ia  menatapku lamat-lamat sembari menyentuh pundak.

“Min, aku punya satu pesan untukmu. Mungkin ini tidak berharga bagimu, tapi ini berarti bagiku. Senyuman anak-anak desa ini adalah kekayaan yang berharga. Tidak ada yang bisa merenggutnya bahkan sang waktu. Kau harus menjaga harta itu’’

Bandung, 22/12/2018


Maria Ulfa
Ulfa34398@gmail.com
+62 816-1513-5926




An1magine versi online ini secara lengkap ada di An1magine emagazine volume 3 Nomor 12 Desember 2018  yang dapat diunduh gratis di Play StoreGoogle Book, dan di An1mage Journal







“Menerbitkan karya digital untuk buku, komik, novel, buku teks atau buku ajar, riset atau penelitian jurnal
untuk terindeks di Google Scholar dan berada di Play Store untuk pemasaran global? An1mage jawabnya”

AN1MAGINE BY AN1MAGE: Enlightening Open Mind Generations
AN1MAGE: Inspiring Creation Mind Enlightening 


Komentar

Page Views

counter free

Visitor

Flag Counter

Postingan populer dari blog ini

STANLEY MILLER: Eksperimen Awal Mula Kehidupan Organik di Bumi

CERPEN: POHON KERAMAT

"Pameran Citra Perempuan dalam Konteks Kenusantaraan"