KREMA oleh Archana Universa

cermin: cerita mini Krema oleh Archana Universa https://id.pinterest.com/pin/231442868333151031/?lp=true


KREMA

Archana Universa






Jika dapat memilih, bagaimana kau ingin mati? Di desaku, banyak orang memilih mati kesepian.






Entah, sesungguhnya apa yang terjadi, aku tidak yakin. Apakah itu pilihan mereka atau orang lain yang memilihkan buat mereka.

Alasannya tidak sebatas karena tua atau kehilangan cinta saja. Masih banyak alasan lain. Kehilangan harta, sakit, menyerah pada kejamnya kehidupan dan sejuta alasan lainnya yang mungkin hanya dipahami pemilihnya.

Merah. Aku melihat seluruh keluargaku menggunakan pakaian serba merah. Termasuk juga aku.

"Selamat jalan Kakek," aku mengucapkan kalimat itu dengan nada bertanya-tanya.

Ya. Aku penasaran dengan alasannya untuk pergi ke Krema. Penduduk di daerahku boleh saja mati di desa dan dihanyutkan ke danau Messa. Namun pergi ke Krema berarti kematian yang direncanakan.

Kakek menatapku sekilas. Aku rasa dia sedih. Tapi kakek tidak akan mengatakan apa pun. Walaupun seandainya ia ingin.

Setiap orang yang bersiap ke Krema akan diikat tangan, kaki, dan mulutnya. Tidak ada yang akan memberitahu alasan mengapa seseorang memilih pergi ke Krema.

Termasuk keluarga, karena hal itu dianggap tidak sopan. Pergi ke Krema tidak dianggap sebagai aib. Orang-orang di desaku menilainya sebagai hal yang wajar.

"Sebelum maut menjemput mereka, merekalah yang menjemput maut. Bukankah itu sudah jelas?" jawab ayahku ketika menanyakannya setelah upacara selesai dan orang-orang membubarkan diri.

"Tapi terlihat seperti pengecut," bantahku.

Ayah menatapku tajam. "Logikamu terbalik. Kakekmu, Ayahku, adalah kesatria yang tidak takut pada maut, maka dari itu Kakekmu menantang maut dengan pergi ke Krema!"
"Tapi Kakek terlihat sedih. Kurasa pergi ke Krema bukanlah keputusannya …" ujarku lambat-lambat.

"Lalu menurutmu, siapa yang memaksa Kakek pergi ke Krema?" dengus ayah.

Aku mengatupkan bibir rapat-rapat.

"Kuharap kau lebih bijak atas ucapanmu di masa depan," tegur ayah kemudian pergi meninggalkanku di tepi sungai Krema untuk berangkat naik kapal mengantarkan kakek ke tempat kematiannya.

Seperti apa Krema? Pertanyaan ini selalu menjadi topik yang tidak pernah habis dibahas di desaku.

"Empat puluh delapan kilometer jauhnya dari tepi sungai Krema tempat upacara berlangsung. Krema adalah daratan di seberang sungai Krema. Ada yang menyebutnya pulau, ada yang mengatakannya sebagai daratan dunia lain," kata ibuku di suatu sore.

Saat itu kami sedang memandangi matahari senja bersiap ditelan malam. Teh hijau dan beberapa roti kering tersaji di meja menemani aku dan ibu dalam diam.

"Hidup baru. Melewati Krema berarti manusia menjalani hidup baru. Kehidupan setelah mati," tambah ibu.

"Surga ataukah neraka?" tanyaku.

"Tidak tahu. Manusia yang hidup tidak pernah menginjak tanah Krema jika tidak ingin mendapat sial sepanjang sisa hidupnya," jawab ibu.

Aku mengernyitkan kening, tidak mengerti.

"Lalu bagaimana orang-orang tiba hingga Krema?"

"Bantuan ombak. Para pengantar akan mendekati daratan Krema kemudian menaruh orang yang bersiap mati di atas rakit dan ada petugas yang ditunjuk dewa dengan tugas memastikan rakit tersebut tiba hingga daratan Krema."

"Apa Ibu pernah melihat seperti apa Krema?"
Ibu mengangguk.

"Aku melihatnya saat mengantar Nenekmu, Ibuku, ke sana. Krema mirip dengan dunia tempat kita tinggal. Hanya saja pohon-pohonnya lebih banyak dan besar-besar. Tempat yang sangat hening. Membuat kita merasa berbaur dengan alam semesta."

Dari cerita ibu juga orang-orang yang pernah mengantarkan kerabatnya ke Krema, kesannya tempat itu tidak menakutkan.

Aku malah membayangkan Krema sebagai tempat dengan taman alam yang indah. Tempat yang sempurna jika ingin menyendiri.

Sayangnya Krema memiliki tujuan lain: tempat manusia mengakhiri hidupnya. Atau sesuai versi ayahku, tempat para pemberani menjemput maut.

Meski begitu, bukan berarti setiap saat aku memikirkan Krema. Kadang saja. Meski begitu akhir-akhir ini pikiranku dipenuhi dengan Krema.



* 


Terlebih hari ini karena aku akan pergi ke Krema. Seratus persen itu bukan pilihanku.

"Bersiaplah," ucap ibuku saat membangunkanku di hari kematianku.

Tidak ada air mata. Aku bahkan tidur tanpa mimpi semalam.

"Aku tidak mau mati, tidak hari ini," tegasku.

"Bukan keputusanmu, juga bukan keputusanku. Ini akibat kesalahanmu dan ayahmu sudah mengakui putrinya mati."

"Selamatkan aku, Bu," pintaku.

"Kau tidak mampu menyelamatkan dirimu sendiri, aku juga tidak mampu menyelamatkanmu. Aku belum ingin pergi ke Krema untuk mati. Kau tidak ingin menyeretku untuk ikut mati bersamamukan?" kata ibuku, dingin.

Aku terdiam. Sudah sejak awal aku salah. Semakin salah lagi untuk meminta bantuannya.
Ayahku kejam, ibuku tidak ada bedanya. Tubuh tak berotak yang hanya menuruti tuannya.
Tidak berani mengambil keputusan, tidak berani membantah pada ayah.

"Benar. Diam begitu lebih baik," geram ibu.

"Ibu, aku tidak akan mati hari ini," ulangku. Kali ini bukan bermaksud meminta bantuan. Hanya memberitahu apa yang kupikirkan.

Dengan cepat ibu menyumpal mulutku dengan kain supaya aku tidak bicara lagi. Biarpun begitu, aku masih bisa menatapnya penuh kebencian.

"Kau tidak punya harapan lagi Nak, terima saja nasib burukmu. Hari ini kau akan tiba di Krema. Tidak ada yang akan menyelamatkanmu. Dan tentunya itu bukan karena kesalahanku, ataupun kesalahan ayahmu." Ibu mengambil napas panjang kemudian melanjutkan dengan tempo yang lebih cepat.

"Salahkan pria yang kaucintai, salahkan janin di dalam rahimmu!"

Semuanya berjalan dengan cepat. Aku bahkan lebih banyak memejamkan mata sepanjang acara pengantaran ke tepi sungai Krema.

Aku tidak ingin melihat tangis palsu orang tuaku. Juga tidak peduli apakah ayah dari anakku akan datang atau malah bersembunyi ketakutan.

Aku hanya berharap rencanaku berhasil. Aku berharap bisa selamat dan tetap hidup.

"Kita sudah sampai," kata orang yang mengantarkanku.

Aku terbangun dari tidur, mambuka mata dan mandapati langit biru di hadapanku. Sudah mulai sore ternyata sekitar pukul empat. Karena dehidrasi parah aku bahkan belum kencing sejak meninggalkan rumah.

Mereka memindahkanku dari perahu ke rakit bambu. Orang tua dan keluargaku yang lain tinggal di perahu.

Kini hanya ada aku dengan si orang yang melajukan rakit, yang dipercaya mengemban tugas dari dewa untuk mengantarkan manusia ke Krema.

Kami menyusuri anak sungai yang lebih kecil. Pepohonan disini lebih rapat.

Jadi ini yang disebut dengan Krema, pikirku.
Pria tua itu menghentikan rakitnya sekitar setelah sepuluh menit perjalanan kemudian membuka ikat mulutku.

"Apa kau sunguh ingin mati?" tanyanya.
"Tidak," jawabku parau. "Aku ingin hidup."
Pria tua itu menyodorkan air berwadahkan batok kelapa supaya aku minum. Ia juga memberiku sebutir kentang.

"Kau tau, sekitar 90% orang yang dikirim ke Krema kebanyakan menyatakan belum ingin mati," katanya dengan mimik serius.
"Aku ingin hidup!" seruku masih parau, namun mantap seperti tekadku. "Bahkan aku sudah berencana meloloskan diri dan berusaha hidup di hutan meskipun harus berhadapan dengan binatang buas sendirian."

"Jangan khawatir. Kau akan mendapatkan kehidupan baru di Krema. Apakah kau masih punya tenaga? Perjalanan kita tidak terlalu jauh, tidak bisa juga disebut dekat karena kondisimu."

"Aku bisa!" kataku dengan sisa-sisa semangat yang masih bertahan.

Maka orang itu segera merapatkan rakit dan membantuku menuju daratan.

"Ke mana ...." Aku terbatuk-batuk sebelum bisa melanjutkan kalimatku.

"Desa Krema, tempat para manusia yang dipaksa mati berjuang untuk tetap melanjutkan hidup."

Lucu juga dalam kondisi seperti ini aku masih berusaha membuat lelucon.

"Kau percaya hantu?"

Aku nyengir. "Tidak. Aku hanya berusaha membuat lelucon bodoh barusan."

Perjalanannya cukup melelahkan bagiku. Sesekali aku meminta berhenti untuk beristirahat.

"Hamil masuk bulan keempat," tuturku.

"Beruntung tidak muntah karena mual. Lagipula tidak banyak yang bisa kumuntahkan."

"Kau mungkin bisa mendapat beberapa kentang rebus tambahan nanti. Pilihan makanannya tidak banyak, tapi itu lebih baik daripada kelaparan," ujarnya.

Kami berjalan lagi. Aku berusaha tetap kuat supaya tidak makan waktu terlalu lama. Pria tua ini harus segera kembali ke perahu di mana keluargaku menunggu, kemudian mereka akan kembali ke tempat asal sebelum gelap.
Aku menatap pria tua itu. "Mengapa kau melakukan ini? Membantu orang-orang yang bahkan sudah dibuang oleh keluarga mereka?"

"Karena aku melihat orang-orang dibunuh. Mulanya aku tidak menyadari seperti orang kebanyakan. Tapi kemudian aku bertanya-tanya. Benarkah orang-orang yang kuantar memang memilih mati?"

Kami diselimuti keheningan sejenak sebelum ia melanjutkan.

"Seandainya benar, haruskah aku membantu orang-orang ini mati? Kebanyakan dari mereka bahkan tidak terjangkit penyakit menular! Lantas mengapa aku harus membantu mereka mati? Mengapa aku tidak menolong mereka untuk tetap bersemangat buat hidup?"

"Mungkin karena tidak semua orang berminat buat menolong," gumamku.

"Tidak semua orang mau tahu, ikut campur, ataupun mencoba membantu orang lain. Mereka , Mereka mementingkan dan menyelamatkan diri sendiri."

"Itukah yang terjadi padamu?" tanyanya.

Aku mengangguk. "Orang tuaku tidak mau menanggung malu karena putrinya hamil di luar nikah."

"Bodoh. Kau tahu, di dunia ini banyak orang yang menginginkan dan berusaha mendapat keturunan namun tidak kunjung berhasil? Kurasa orang-orang harus mulai belajar mengontrol mulut mereka, tidak perlu mengomentari hidup orang lain, dan berhenti menjadi manusia suci tanpa melakukan salah,"
sesal si pria tua.

"Memangnya ayah dari calon bayimu tidak mau bertanggung jawab?"

"Dia tidak pada level ekonomi yang setara dengan keluargaku. Orang tuaku tidak akan pernah menerimanya sebagai anggota keluarga …”

“... jadi kuputuskan untuk memberitahu kehamilan ini pada orang tuaku tanpa memberitahukan siapa ayahnya, berharap mereka memperbolehkanku pergi 

“... hanya saja kenyataan tidak sesuai harapan. Orang tuaku segera memutuskan buat mengirimkanku ke Krema," ujarku mengakui apa yang sesungguhnya terjadi.

"Kupikir dengan memiliki anak lebih dulu, orang tuaku akan menyerah dan membiarkan aku pergi dengan orang yang kucintai. Hanya saja ternyata mereka lebih suka jika aku mati."

"Harusnya kau kabur saja sejak awal. Kawin lari," timpalnya.

Aku menggeleng. "Tidak semudah itu. Orang tuaku bisa menuduh ayah dari anakku menjampi-jampiku. Membuatnya dipenjara atau bahkan membayar orang untuk membunuh ayah dari janin ini. Jadi kemungkinan kami bertiga mati malah semakin besar."

"Jadi apakah kau bahagia dengan keputusanmu?" desaknya.

"Ya. Setidaknya kami bertiga punya peluang tetap hidup meski tidak bersama. Ini lebih baik."

Aku mengatakannya sembari mengangguk. Kalimat itu tidak hanya diperuntukkan bagi pria yang menyelamatkanku dari kematian, kalimat itu juga untuk diriku sendiri.

Mendadak pertanyaan ini terlintas dibenakku.

"Jika orang yang kau bawa sungguh ingin mati, ke mana kau akan membawanya?"

"Tepi sungai satunya," jawab pria tua itu, singkat.

Ikuti deretan pohon kapas. Hingga tiba di desa Krema.

Pria tua yang bahkan lupa kutanyakan namanya itu pamit kembali ke rakit. Kehamilan ini membuat gerakku melambat. Jadi aku harus melanjutkan perjalanan seorang diri.

Beruntung sekarang sedang musim kapas. Jadi aku tidak terlalu bingung membedakannya dengan pohon lain. Aku tidak terlalu pintar soal tanaman.

Ketika aku hampir menyerah melanjutkan perjalanan, aku sempat ingin tidur di bawah salah satu pohon kapas, aku melihat secercah cahaya dari kejauhan. Bukan sisa matahari, itu obor.

"Dru! Kita kedatangan keluarga baru!" Aku mendengar suara seorang wanita dari kejauhan.

Samar aku bisa melihatnya menunjuk ke arahku.
Keluarga. Aneh sekali ada orang asing yang menyebutku sebagai keluarga.

Wanita itu datang menyogsongku. Aku kini bisa melihatnya dengan lebih jelas. Kutaksir usianya sekitar usia ibuku.

"Kau dikirim ke Krema oleh keluargamu?" tanyanya sambil memegangi lenganku.

Aku mengangguk lemah.

"Tidak apa-apa. Kami akan merawatmu. Sekarang kami akan merawatmu." Wanita itu berteriak lagi.

"Dru! Cepat kemari kami butuh bantuanmu!"

Kemudian aku melihatnya. Seorang pria tua dengan rambut seluruhnya uban. Orang yang dipanggil dengan sebutan Dru.

Kakekku.


inovel
Gabung di An1mage WA Grup untuk workshop, tutorial, pelatihan, dan membahas puisi, cerita mini, cerita pendek, novel, dan scenario untuk diterbitkan dan atau difilmkan, jangan ngabisin waktu nungguin chat, mari berkarya nyata, terlibat dalam produksi secara langsung:
https://chat.whatsapp.com/EHoKxhRUJftKRzkBoGbk7F 

An1mareaders
Gak mau ketinggalan berita saat An1magine terbit? Gabung yok di An1mareaders WA Group:


An1magine versi online ini secara lengkap ada di An1magine emagazine volume 4 Nomor 3 Maret  2019  yang dapat diunduh gratis di Journal An1magePlay Store, dan Google Book








Mau menerbitkan karya digital untuk buku, komik, novel, buku teks atau buku ajar, 
riset atau penelitian jurnal untuk terindeks di Google Scholar dan berada di Play Store 
untuk pemasaran global? An1mage adalah jawabannya

AN1MAGINE BY AN1MAGE: Enlightening Open Mind Generations


AN1MAGE: Inspiring Creation Mind Enlightening 


Komentar

Page Views

counter free

Visitor

Flag Counter

Postingan populer dari blog ini

STANLEY MILLER: Eksperimen Awal Mula Kehidupan Organik di Bumi

CERPEN: POHON KERAMAT

"Pameran Citra Perempuan dalam Konteks Kenusantaraan"