I WILL oleh Sherly

https://i.ytimg.com/vi/GLatu2cWVVU/maxresdefault.jpg



Sebentar lagi kuliah dimulai. Terik matahari membakar semangatku, karena mata kuliah hari ini bebas dari angka. Woa! Aku berjalan menuju ruang kelas, aku melewati lapangan basket. Tiba-tiba, 'duuug'


"Aduh!" rintihku setelah keningku terkena bola basket.

Aku menoleh ke arah cowok kekar mengenakan kaos basket yang datang menghampiriku. Lewat ke arahku mengambil bola basket yang menggelinding tidak jauh dari tempatku berdiri.
"Kalau jalan pakai mata," ucapnya kasar, sontak aku terkejut.

"Memangnya yang salah siapa? Udah jelas aku yang sakit kena bola basket yang kamu mainkan," geramku.

"Inikan area lapangan."

"Tapi ini juga jalan menuju kelasku," ucapku dengan nada tinggi. Kami saling menatap tajam.

"Hai ... Bagas ini kapten tim basket lho, jangan sembarangan," tahan salah satu anggota tim

"Kalau dia kapten tim, seharusnya dia sopan dan tahu diri atas kesalahannya. Kapten itu pemimpin, memberi contoh, bukan dengan cara seperti ini. Apa kamu pantas disebut sebagai kapten?" omelku.
"Oke," jawabnya.
"Cewek selalu benar!" lanjutnya menatap tajam ke arahku dan berlalu pergi.
"Gak dewasa banget sih!" gerutuku.


*


Sore ini melelahkan sekali, sehingga kulajukan mobil dengan kecepatan rendah. Untung saja, sebentar lagi sampai rumah. Dari kejauhan, Pak Bowo sedang membuka pintu gerbang mempersilakan aku menyetir mobilku masuk. 

Aku parkir mobil, kemudian keluar dengan membiarkan gitar hebat ini di mobil, tidak kubawa ke rumah. Aku menghindari omelan mama tiriku yang bisa membuat pening kepala.

Aku tersenyum ke Pak Bowo, aku tahu beliau mengerti maksudku.

Aku membuka pintu, kulihat mama dan papa sedang mengobrol. Mereka berdua pekerja kantor, tapi lebih betah sedikit-sedikit pulang ke rumah. Memang enak jadi bos.

"Rai?" sapa Mama menahan langkah kakiku, memerhatikan detail apa yang aku bawa. Padahal hanya tas punggung.

"Iya?"

"Dari mana kamu?" tanya mama seraya berjalan menghampiriku.

"Kerja. Les privat," jawabku tak nyaman.

"Mana kunci mobil kamu?"
"Untuk apa?" tanyaku kian kesal

"Memastikan kalau kamu gak nge- band tanpa sepengetahuan mama dan papa."
Aku menoleh ke arah papa yang sibuk membaca koran. 

"Sudah, serahkan saja kunci mobilmu."

Papa sama saja tidak membelaku. Aku serahkan kunci mobil ke mama, dengan cepat mama keluar rumah. Aku pun segera ke pintu belakang, kulihat Pak Bowo menungguku.

"Ini Mas Rai, gitarnya," ucap Pak Bowo mengulurkan gitar itu.

Aku menerimanya. Kujawab, "Terima kasih, Pak Bowo selalu membantuku."

"Tidak usah sungkan begitu Mas Rai. Saat muda dulu, bapak suka lihat pertunjukan musik," kata Pak Bowo dengan logat Sunda.

"Oh, ya?"

"Iya, karena itulah Bapak suka lihat Mas Rai gitaran," ucap Pak Bowo. Aku tertawa melihatnya menirukan aku saat bermain gitar.

"Tiket audisi besok masih ada gak Mas Rai?" lanjutnya.

Aku merogoh tas, kuambil selembar tiket audisi laluku berikan padanya.

"Dukung saya terus, Pak."

"Siap Mas. Ya sudah, amankan gitar itu dari Nyonya. Bapak permisi dulu."

Pak Bowo berlalu pergi. Aku lihat lagi beberapa tiket yang tersisa, aku ingat saat tiket itu kuberikan Nina. Aku tersenyum simpul.

*
Pagi ini aku harus berangkat ke kampus, padahal aku libur kuliah. Hanya untuk menemani Rani yang bersemangat mengajak menonton pertandingan basket. Dia bilang, naksir kapten basket sombong itu. 

Di tepi lapangan, Rani teriak histeris melihat dia. Kutahu namanya, Hans. Banyak yang menggilainya kecuali aku.

"Nin, Hans ganteng banget! Jago main basket juga," kata Rani dengan pandangan masih ke arah Hans.

"Apa? Dia gak jago main basket. Kemarin aja bolanya ngenain kepalaku," gerutuku.

"Terus kamu suka sama dia?" tanya Rani menoleh, matanya melotot dan mulut menganga.

"Gak usah berlebihan deh, dasar korban sinetron," jawabku menertawai Rani yang sedikit cemberut.

"Kalau gitu kamu suka sama Kak Rai?" goda Rani mengedipkan matanya.

"I don't know, just let see later ," jawabku tersenyum.

*

Aku sudah siap menuju rumah Nina, kebetulan aku diminta mengajar pagi. Aku sibuk mengikat tali sepatu di halaman rumah.

Kring ... Kring ...

Suara bel sepeda itu mengalihakan pandanganku. Gadis berambut pirang pendek sebahu, kaos pendek dan celana panjang menutup tubuh indah yang layaknya model.
Usianya tidak jauh berbeda denganku. Aku memerhatikan dia mengayuh sepeda masuk ke halaman rumahnya yang berada di samping rumahku.

"Rai!" sapa mama membuyarkan pandanganku.

"Kamu pasti terpesona sama dia. Cantik kan? Dia anak teman Mama, namanya Agatha."

"Iya, dia cantik," jawabku.

"Ajak dia kenalan, terus kencan."

"Kenapa harus seperti itu?" 

"Dia masih sendiri," bisik mama. "Mama yakin, dia sudah memikirkan pernikahan," lanjutnya berniat menyuruhku segera menikah.

Memang usiaku cukup matang dalam membina rumah tangga. Tapi, menikah bukan hal yang mudah.

*
Aku sudah sampai di depan pintu rumah, dengan gerakan pelan mendorong ganggang pintu.
Mataku mengawasi sekeliling halaman rumah, aku pastikan tidak ada seorang pun yang tahu kalau aku sudah pulang kuliah.

Aku masuk rumah, lalu menutup pintu sangat pela, menghela napas dengan masih mengarah ke pintu, kemudian ada yang menepuk pundak. Sontak aku terkejut lalu menoleh.

"Bibi ...!" 

"Non Nina kenapa?" tanya bibi yang memerhatikan detail ke arahku

"Papa dan Mama sudah pulang?" tanyaku cemas

"Sudah," jawab Bi Marni. "Ada di ruang tengah." 

Segera aku berjalan lagi, menaiki anak tangga menghindar bertemu mama dan papa.

"Nina, kamu sudah pulang?"

Aku terkejut. Mama ternyata dari kamar, padahal ruang tengah ada di lantai satu.

"Mana Mama lihat nilai kuliah kamu," lanjut mama.

"Emm... Gak sekarang, Ma," kujawab.

"Nilainya ditunda seminggu lagi," aku berbohong.

"Bohong kan kamu? Pasti nilainya kamu sembunyiin di tas," ucap Mama seraya merebut tas punggungku, aku menahannya.

"Mama, Nina takut ketahuan Papa kalau nilaiku jelek," rengekku

"Tuh kan, nilainya dah keluar, pakai bohong segala," omel mama.

Aku menunduk. Terdengar langkah kaki di anak tangga. Papa datang. Aku semakin takut, aku peluk erat tasku.

"Ada apa sih kok ribut,?" tanya papa, mama melirik ke arahku. "Mana, Papa lihat nilai kamu," lanjut papa.

Aku membuka tas lalu mengeluarkan lembaran kertas berisi nilai mata kuliah yang mengerikan. Aku menyerahkannya ke papa. Kemudian, papa melihat nilaiku sembari tersenyum. Aku bingung.

"Kalau nilai kamu begini terus, bisa-bisa kamu jadi mahasiswa abadi," kata mama yang sudah hapal dengan nilaiku tanpa melihatnya.

"Besok kamu mulai les, ya. Sama Rai, mahasiswa lulusan terbaik di Jakarta," ucap Papa, aku pun hanya diam menahan kesal.

*

Aku membuka bagasi mobil, lalu menurunkan beberapa koper dan tas. Hari ini aku pindah ke rumah mama tiriku, papa memutuskan untuk tinggal di sini.
Aku tidak bisa menolaknya, walaupun hidup bersama mama tiriku akan membuatku tidak bebas bermain gitar kesayanganku.

Tapi, tetap aku bawa meski nanti aku diam-diam memainkannya. Pak Bowo, satpam rumah membantuku membawakan koper dan tas.

"Makasih, Pak," ucapku seraya tersenyum.

"Iya, Mas Rai," jawabnya. "Setelah ini Mas ke ruang makan, sudah ditunggu Ibu dan Bapak."

Aku mengangguk, lalu kami masuk rumah. Sebelum ke kamar, aku harus melewati ruang makan. Sudah ada mama dan papa yang duduk menungguku.

Mata mama memerhatikan ke arahku, mungkin mama sudah mulai emosi melihatku menggendong gitar di punggungku.

"Rai," sapaan mama menghentikan langkahku.

"Iya?"

"Habis ini kamu makan, beres-beresnya nanti. Perjalanan jauh membuat kamu lapar, kan?" tanya mama dengan nada cerewet, memang mama tiriku cerewet, aku tidak suka dia.

Aku hanya mengangguk lalu berjalan lagi menaiki anak tangga menyusul Pak Bowo yang sudah sampai kamarku.

Sampai di kamar, aku membuka koperku. Aku mengeluarkan foto mama, begitu cantik aku pandang, aku merindukan beliau, wanita terhebat di dunia. Aku mencium foto mama, hangat dekapannya masih aku rasakan. Aku selalu mendoakannya, semoga ia tenang di alam sana.

"Mas Rai, Bapak permisi dulu, ya. Kalau butuh apa-apa panggil saja," ucap Pak Bowo.

Aku mengganguk, lalu aku letakkan foto mama di meja sebelah lampu tidur. Aku arahkan foto mama menghadap ke arahku agar saat tidur nanti aku bisa terus memandangnya.

Kring ...kring ...

Ponselku berdering.

"Panggilan les?" ucapku setelah membaca pesan dari Pak Dika. "Baiklah."


*

Aku duduk di ayunan taman, sembari membaca novel. Semilir angin malam ini menerpa halus rambutku yang terurai panjang. Aku menutup novelku lalu menghirup angin malam, aku melihat bintang, rasanya nyaman.

"Hi hi hi hi hi ...!" suara itu terdengar jelas di telinga kiriku, aku sontak terkejut lalu membalikkan badan, memejamkan mata sembari menepuk sosok itu dengan buku novelku.

"Pergi kau setan ...!" ucapku berteriak.

"Heiiiii, yang ada kamu itu kaya kunti," jawabnya, aku membuka mata

"Rani? Kamu ngapain nakut-nakutin aku!" kesalku

"Rambutmu panjang pakai baju putih lagi, serem tahu dilihat dari belakang. Ha ha...!" kata Rani sambil tertawa, aku geram.

"Ya udah, sini duduk."
"Besok kamu datang gak ke pernikahan dosen?"

"Kamu sama yang lain aja, ya," jawabku.

"Besok aku mulai les."  

"Les?" tanyanya. "Kamu sih, udah tahu gak bisa ngitung malah ngambil jurusan ekonomi. Mending ganti jurusan deh," Rani tertawa

"Aku mau ganti jurusan.Tapi, dah terlanjur."

"Guru les kamu cowok atau cewek?"

"Cowok."

"Namanya?"

"Rainal Bastian."

"Waw, Rai? Lulusan terbaik di Jakarta? Beruntung banget kamu, Nin. Dia pintar, ganteng juga," girang Rani, kemudian mengambil ponselnya lalu menunjukkan foto Rai.

"Kok kamu bisa kenal dia," heranku.

"Dulu, kakakku satu kampus sama Rai. Katanya, Rai itu ganteng, pintar, jago main gitar, pokoknya idola cewek-cewek."

"Teman Kakak kamu? Jadi Rai udah menikah?"
"Bisa jadi, umurnya saja udah banyak."

"Astaga!" teriakku merengek

"Masa aku les sama dia, makin jelek nilaiku. Ran, besok kamu ajak aku pergi, ya" ucapku menarik tangan Rani yang tertawa terbahak-bahak.

"Oh no. Aku gak berani sama Papa kamu," jawab Rani, aku semakin kesal.

*

Aku melajukan mobilku, hari ini aku latihan ngeband. Aku bersemangat mengantarkan karirku bersama rekan sesama bandku, sebentar lagi audisi penentuan untuk lolos atau tidak. 

Beberapa menit kemudian, aku memarkirkan mobilku, ambil gitar lalu keluar dari mobil. Dalam studio, mereka menyambutku.

"Hai, Rai, kerja bagus! Lagu yang kamu ciptakan sangat baik," kata Bima menunjukkan lirik laguku.

"Makasih, ya," jawabku seraya tersenyum.

Mereka semua bersiap. Aku memerhatikan mereka, Bima sibuk memetik gitar, Arman sedang mempersiapkan mikrofon dan Dani mengelap stik drum.

Tiba-tiba perasaanku mengganjal, tentang orang tuaku yang tidak menyetujui aku bermain musik. Apalagi kalau sampai bandku terkenal, mungkin akan menjadi hambatanku nantinya.

"Rai, kok kamu diam aja? Ada masalah?" tanya Dani yang sudah siap di posisi drum.
"Enggak kok. Ayo kita latihan," ucapku menyembunyikan keraguanku.

*

Kuliah dipercepat hari ini, tiba saatnya aku pulang ke rumah. Sebentar lagi aku harus les, sungguh menyita waktu untuk jalan-jalan bersama teman-temanku. Aku sibuk dandan, menyisir rambut panjangku, lalu menata buku, setelah itu duduk di ruang tamu menunggu Rai datang ke rumah.

Ting... Tong...
Bel rumah terdengar, aku menahan langkah bibi yang akan membukakan pintu.

"Biar Nina saja, Bi."

Aku membuka pintu, aku melihatnya! Rai, tampan sekali dia. Rambut pendek dengan tatanan rapi, kemeja warna hitam melekat di tubuh gagahnya, apalagi sambutan senyumnya, membuatku kagum.
"Selamat sore," sapanya.

"Selamat sore juga," kataku. "Kak Rai, ya?" dia mengangguk.

"Kamu pasti Nina," tebaknya.

Aku tersenyum lalu mempersilakan Rai masuk. Kemudian kami duduk, beberapa buku sudah tertata di meja. Lalu Bibi Marni datang membawakan dua gelas minuman dingin dan satu piring berisi lima potong nuget yang masih terasa panas sehabis digoreng.
"Silakan minumnya," ucap bibi seraya menata gelas dan piring. "Dicicipi mas nugetnya, ini kesukaan Non Nina, bikinan Bibi resepnya dari kampung."

"Oh, ya? Kelihatannya ini enak," jawab Rai.

Rai mengambil sepotong nuget, lalu dimakannya. Aku sibuk memerhatikannya, entah mengapa. Aku tak bisa menahan derasnya senyumku. Bibi permisi untuk ke dapur, aku menunggu Rai selesai meneguk minuman. Sadar aku memerhatikannya, Rai agak gugup menoleh ke arahku.

"Em ... Kita mulai saja belajarnya," katanya membuyarkan pandanganku.

"Tentu."

Kami mulai bergelut dengan rumus-rumus matematika. Rasanya senang diajari oleh Rai, gaya bahasanya yang lembut dan mudah dimengerti membuatku selangkah lebih paham memecahkan rumus cinta. Upss! Rumus matematika maksudnya, hehe.

Setelah selesai les. Aku mengantarkan Rai menuju mobil.

"Kak Rai, aku dengar kamu main musik?," tanyaku.

"Oh, iya. Beberapa hari lagi bandku ikut audisi," jawabnya lalu mengambil selembaran tiket menonton. "Kalau berkenan, datanglah."

Aku menerima selembaran itu. Kujawab, "Aku akan di barisan depan nanti."

Rai tersenyum, menyihirku ikut tersenyum. Timbul rasa penasaran di benakku, apakah dia sudah beristri? 

 

Sherly
+62858 6979 5098





An1magine versi online ini secara lengkap ada di An1magine emagazine volume 4 Nomor 2 Februari  2019  yang dapat diunduh gratis di Play StoreGoogle Book, dan di An1mage Journal







“Menerbitkan karya digital untuk buku, komik, novel, buku teks atau buku ajar, riset atau penelitian jurnal
untuk terindeks di Google Scholar dan berada di Play Store untuk pemasaran global? An1mage jawabnya”

AN1MAGINE BY AN1MAGE: Enlightening Open Mind Generations


AN1MAGE: Inspiring Creation Mind Enlightening 

Komentar

Page Views

counter free

Visitor

Flag Counter

Postingan populer dari blog ini

STANLEY MILLER: Eksperimen Awal Mula Kehidupan Organik di Bumi

CERPEN: POHON KERAMAT

"Pameran Citra Perempuan dalam Konteks Kenusantaraan"