CERPEN: Monster dari Grouche

https://www.pond5.com/stock-footage/87670802/hand-serial-killer-stabbing-victim-multiple-times-knife-crim.html


Monster dari Grouche
Archana Universa


Pemandangan di Grouche memang indah. Rumah-rumah dengan cat pucat dengan banyak jendela kayu. Tidak banyak pohon besar di sini, tapi orang-orang gemar menaruh pot-pot bunga di dekat area jendela rumahnya.

Suasananya mirip Eropa. Oh tidak, ini masih di Asia. Aku belum pernah mengunjungi Eropa, tapi kuharap suatu saat aku bisa mengunjunginya.

Hari itu sudah mulai sore. Cahaya matahari jatuh menyinari genteng-genteng dari tanah liat.
Jalanan mulai sepi. Tidak banyak orang yang keluar ketika matahari mulai menghilang dari peredaran.

Siang yang berganti malam. Begitu pula denganku. Aku sudah kembali ke penginapan untuk menghabiskan malam terakhirku di Grouche. Aku menyukai kota ini dan kalau bukan karena tugas kantor, mungkin aku tidak akan pernah memasukkan Grouche sebagai kota destinasi.

Grouche tidak terkenal, tidak tenar seperti Tokyo, Seoul, New York atau Denpasar, Bali. Rasanya jarang ada turis asing yang mengunjungi kota yang sunyi ini.

Dari kejauhan aku mendengar dentang lonceng yang menandakan sudah hampir pukul enam sore. Saat-saat di mana matahari bisa hilang kapan saja tanpa permisi.

Pintu kamarku diketuk. Thomas, pemilik penginapan ini membawakanku secangkir teh dan beberapa biskuit. Dia tahu aku tidak akan makan malam sebelum jam delapan. Jadi dia memberiku makanan ringan.

Aku ingat pada hari pertama kedatanganku ke penginapan ini Thomas memberitahu soal orang-orang Grouche yang tidak keluar rumah setelah petang.

“Orang-orang yang keluar rumah setelah petang akan ditangkap oleh monster. Si monster akan menjadikan korbannya menjadi monster juga. Jadi pastikan kau kembali saat sore hari,” katanya sembari tersenyum.

Senyum sedih, tepatnya.

“Anakku, Rosalin, menjadi korban si monster,” ucapnya, parau.

“Monster itu mengambil Rosalin, aku kehilangan putriku satu-satunya.”

“Hari itu, Rosalin mengatakan dia pergi ke penjahit, gaun yang dipesannya untuk pesta kelulusan sudah jadi katanya. Tapi kurasa ada bagian dari pesanannya yang kurang sesuai, anak itu sangat detail kalau soal baju. Maka dari itu ia menunggu si penjahit hingga pesanannya sesuai dengan keinginannya dan itu berarti ia pulang saat matahari sudah hilang,” cerita Thomas.

“Mestinya dia pulang saja dan pergi lagi keesokan harinya.”

Thomas menangis selama sejam di kamarku. Ia menunjukkan foto putrinya yang telah tiada.
Rosalin adalah gadis remaja yang cantik. Rambutnya ikal, mirip bayanganku akan gadis bangsawan di masa lampau. Nampaknya gadis ini suka mengenakan dress lebar dan bertumpuk-tumpuk karena tidak ada satu pun dari foto tersebut yang memperlihatkan Rosalin menggunakan celana panjang.

Padahal jeans sudah lumrah di sini. Tidak hanya digunakan laki-laki, perempuan bercelana banyak kulihat berlalu-lalang di Grouche.

Meski aku tidak yakin si monster akan menjadikanku sasaran karena aku ini seorang pria, aku tetap memenuhi nasehat Thomas untuk pulang sebelum petang.

“Thomas, aku akan pulang besok pagi,” kataku sembari menuangkan teh dari teko ke cangkir. Dia tentu sudah tahu itu, tapi aku hanya ingin mengatakan itu barangkali orang tua ini lupa.
Mata Thomas menerawang untuk sesaat.

“Benarkah? Besok?”

Aku meneguk isi cangkirku, baru mengangguk.

“Sudah tiga minggu aku tinggal di sini. Aku merasa harus mengucapkan terima kasih padamu karena sudah menerimaku di sini dan merawatku dengan baik.”

“Waktu sungguh berlalu dengan cepat,” balasnya, mengangguk.

“Kuharap aku bisa bertemu denganmu lagi. Apa kantormu sering mengirim orang untuk datang kemari?”

“Kurasa tidak, Thomas. Mereka akan segera mencari orang-orang lokal untuk mengerjakan tugas di kota ini,” sesalku.

“Kau masih bisa datang untuk berlibur. Kau akan merindukan Grouche,” ujarnya sembari mengangkat nampan.

“Aku juga akan merindukanmu,” kataku, tulus.
Thomas keluar dari kamarku.

Aku meletakkan cangkir teh dan mengambil sekeping biskuit. Dari jendela kamarku yang masih kubiarkan terbuka, aku memandangi sisa-sisa berkas cahaya matahari yang masih memantul di atas air.

Penginapanku ini ada di tepi kanal sungai. Sungai yang membelah kota. Tidak jauh dari tempatku, terdapat jembatan batu. Melengkung menghubungkan dua sisi sungai.

Bangunan di seberang kamarku kelihatannya juga penginapan. Semua jendela bangunan yang dapat kulihat dari jendela sudah ditutup.

Grouche sama sekali bukan kota gemerlap yang bermandikan cahaya lampu. Lampu jalanan di sini semuanya berwarna oranye temaram. Hemat daya memang, hanya saja terkesan kelam.

Aku sedang menimbang-nimbang, apakah bila lampu-lampu di kota ini diganti dengan warna putih terang, mampukan cahaya tersebut membuat kota ini lebih ramah saat malam hari?

Entahlah. Lagipula memangnya aku siapa? Aku bukan warga kota ini. Aku juga tidak memiliki kuasa untuk mengganti lampu-lampu di Grouche menjadi lebih terang. Lebih lanjut lagi, aku tidak bekerja di perusahaan lampu.

Kulangkahkan kaki menuju jendela, berniat menutupnya, sama seperti orang-orang lain yang juga menutup jendelanya.

Langit tinggal menyisakan semburat kemerahan di ufuk barat dan lampu-lampu kota baru saja dinyalakan ketika aku tanganku meraih jendela kayu.

Kelebatan bayangan yang muncul dari jembatan batu membuat tanganku membeku sesaat. Matahari yang sudah hampir habis tentunya tidak membuat bayangan orang menjadi lebih panjang. Tapi aku melihat kelebatan itu.

Sekilas, tapi aku yakin. Seorang wanita. Kecuali itu pria dengan gaun. Orang itu dalam bahaya. Apakah aku termakan cerita Thomas akan putrinya? Atau memang wanita itu sedang berpacu dengan waktu untuk menyelamatkan dirinya?

Aku tidak tahu yang mana, yang jelas aku segera mengunci jendela dan bergegas turun ke bawah. Lebih baik kupastikan, seandainya memang terjadi sesuatu yang buruk, aku akan berusaha mengubah nasib wanita itu.

Seandainya memang tidak ada hal buruk, setidaknya aku dapat tidur dengan tenang malam ini  karena memang tidak ada yang perlu dipikirkan atau disesali.

Aku harus mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Apa pun itu. Baik atau buruk.


Thomas hendak mengunci pintu depan penginapannya ketika aku tiba di lantai bawah.

“Tidak, jangan ditutup dulu,” pintuku sembari setengah berlari menyusuri lobby
penginapannya yang sekaligus dijadikan area makan.

“Kau tidak boleh keluar, matahari sudah terbenam,” tolak Thomas sembari mengernyitkan dahi.

“Sebentar... sebentar saja,” ujarku dengan nada memohon dan napas tersenggal-senggal.

“Tidak. Sudah kubilang Grouche berbahaya saat malam. Monsternya ...”

“Monster itu ... monsternya sedang berburu,” jelasku, panik. Sebaiknya Thomas tidak banyak bertanya padaku, waktunya sangat sempit.

“Seseorang tengah dalam bahaya ... Kumohon.”

Nyatanya aku tidak perlu menyelesaikan ucapanku untuk membuat Thomas menyingkir dari pintu.
Tangannya yang memegang kunci mendadak bergetar ketika aku mengucapkan kata bahaya.

Tidak lagi membuang waktu, aku segera membuka pintu, sedikit untuk mengintip situasi di luar. Kuharap perempuan itu tidak dalam bahaya seperti pemikiranku. Tapi aku tetap siaga.

Aku bisa mendengar derap langkah wanita itu. Ia sedang mencari tempat persembunyian. Aku tahu dengan hanya merasakannya. Begitu saja.

Detik berikutnya berlangsung dengan cepat. Dia tengah bersembunyi di balik tembok. Berharap si monster melewatinya sehingga wanita tersebut dapat kabur ke arah lain.

Tapi itu tidak akan berhasil. Dia akan dibunuh kecuali aku menyelamatkannya. Maka aku menyelamatkannya.

Kutarik tangannya. Wanita itu nyaris menjerit, mengira aku penjahat lainnya. Jadi kubekap mulutnya dengan tangan lain sembari menariknya masuk ke dalam penginapan.

Tanpa perlu komando, Thomas segera menutup pintu dan menguncinya dari dalam. Tangannya masih bergetar hebat hingga kuncinya terjatuh, tapi aku lebih sigap. Sebelum kunci itu menyentuh lantai batu yang keras, aku berhasil menangkapnya dan memasangnya ke lubang kunci dan memutarnya.

Wanita itu merosot lemas ke lantai. Keringat dingin membasahi dahinya dan membuat beberapa helai rambutnya menempel di sana.

Kami masih terdiam, berusaha mendengar suara pergerakan sekecil apa pun dari depan.
Kami mendengarnya. Suara si monster. Suara sepatu pantovelnya yang menyentuh jalanan di depan.

Ia sempat mondar-mandir di sekitaran penginapan sebelum benar-benar pergi.

“Kau tidak apa-apa?” tanyaku sembari membantu wanita itu untuk berdiri.
Thomas menarik satu kursi untuk wanita yang wajahnya masih sangat pucat itu.

“Aku akan mengambilkan teh,” ujarnya. Namun Thomas masih memandangi wanita itu selama beberapa saat sebelum benar-benar beranjak ke dapur.

“Aku pi-pikir ... aku akan mati,” ucap wanita itu dalam bisikan. Bibirnya bergetar hebat, jelas ia masih ketakutan.

“Tenanglah. Kau sudah aman sekarang,” ujarku. Tentu gampang saja aku berkata begitu karena bukan aku yang baru saja dikejar si monster Grouche.

Thomas kembali dengan teh seteko penuh dan tiga cangkir. Ia memenuhi ketiga cangkir yang dibawanya dengan teh, tapi tidak berkata apa-apa lagi. Pasti Thomas sedang memikirkan putrinya yang sudah mati.

Ia berharap saat Rosalin dikejar si monster, ada orang baik juga yang berhasil menyelamatkan putrinya. Seandainya memang ada yang menyelamatkan putrinya ... tapi tidak ada.

Kebanyakan warga Grouche menutup seluruh pintu dan jendela mereka saat matahari  terbenam. Tidak ada yang menyelamatkan putrinya.

“Aku melihat pisau itu, kupikir aku akan mati,” ujar wanita itu lagi. Ia menangis dalam diam, seolah takut si monster dapat menemukannya setelah mendengar suara tangisannya.

“Mengapa kau masih di jalanan padahal matahari sudah terbenam?” tanyaku.

“Aku sedang perjalanan pulang. Agak telat memang karena roti yang kubuat gosong, jadi bos memarahiku. Ia baru berhenti saat hari sudah gelap. Aku berusaha sampai ke rumah segera mungkin, sungguh,” sahutnya sembari meletakkan kedua telapak tangannya ke cangkir.

Wanita itu berhenti sejenak untuk menyeka air matanya dengan punggung tangan.

“Aku baru sadar kalau sedang diikuti sesaat setelah melewati jembatan batu. Mulanya aku berusaha tenang, pura-pura tidak sadar kalau sedang diikuti. Tapi kemudian jarak kami semakin dekat, inci ke inhi. Kemudian aku tidak bisa pura-pura tenang lagi.”

Wanita itu kembali diam. Baik aku maupun Thomas memilih tidak memotong ceritanya. Aku bisa melihat Thomas sedang berusaha menahan tangisnya. Sementara aku tidak tahu harus bicara apa.

“Terima kasih karena kalian menyelamatkaku. Aku tidak menyangka akan ada orang yang mau membukakan pintu. Kalian sungguh baik,” ujarnya sembari mengangguk.

Thomas membuka mulutnya. “Kau harus berterima kasih padanya,” ujarnya sembari menunjuk ke arahku.

Aku menyeruput tehku sembari mendengarkan kisah putri Thomas yang dibunuh oleh monster Grouche. Wanita itu tampak bersimpati pada Thomas. Dua orang yang tersakiti oleh modus yang sama hanya saja peran mereka dalam kisah itu berbeda. Yang satu adalah seorang ayah yang kehilangan putrinya. Yang lain adalah korban yang hampir terbunuh.

“Kalau memang kasus seperti ini sudah terjadi beberapa kali, mengapa polisi tidak menangkapnya?” tanyaku, tidak mengerti.

Sumber: https://pxhere.com/en/photo/1341259

“Polisi sudah mencoba mencari jejak, tapi tidak menemukan apa pun. Memangnya kita sebagai warga sipil bisa berbuat apa jika polisi saja sudah menyerah?” cibir Thomas dengan nada tak suka.

“Ada rumor yang mengatakan monster itu sebenarnya seseorang yang memiliki kuasa di Grouche sehingga biar polisi menemukan bukti, mereka tidak berani memburu si monster,” tutur wanita itu sembari mengernyitkan dahi seolah sedang mencium bau yang tidak sedap.

“Kurasa memang begitu. Kalau bukan karena kuasa dan uang, bagaimana mungkin si monster masih tetap dapat berkeliaran setelah membunuh enam wanita?” gerutu Thomas. Kini mimik wajahnya berubah, dari sedih jadi marah.

“Aku nyaris menjadi yang ke tujuh,” gumam wanita itu, muram.

“Apa tidak ada yang dapat dilakukan warga untuk mengatasi hal ini?” sahutku.

Thomas mendengus. “Tidak ada! Kami, warga Grouche hanya dapat menikmati teror ini.

Satu-satunya cara agar selamat adalah berada di rumah sebelum matahari hilang dari langit. Tidak keluar untuk alasan apa pun, tunggu pagi jika harus ke luar.”

Thomas kini bicara pada gadis itu.

“Bermalamlah di sini. Kemudian besok kau bisa mengundurkan diri dari toko roti sialan itu. Kau bisa bekerja di sini, aku sedang mencari bantuan untuk mengurus penginapan ini setelah monster itu merebut putriku.”

Wanita itu langsung setuju pada tawaran yang diberikan Thomas. Ia tahu Thomas akan menjaganya dengan baik.

Selain itu ia tetap dapat menghasilkan uang dengan bekerja di penginapan ini. Malam itu aku tidak makan malam. Kejadian petang hari itu sungguh menguras emosiku sehingga yang kuinginkan hanyalah tidur.

Pada malam terakhir di Grouche aku menyadari bahwa kota ini menganut sistem hukum yang salah. Di sini terdapat monster, dan para korbanlah yang harus mengurung dirinya dalam rumah.

Semestinya monster itu yang dikurung, bukan korbannya. Sayang sekali, Grouche memiliki kisah kelam yang tidak secantik kotanya.


Cermin ini ada di majalah AN1MAGINE Volume 3 Nomor 11 November 2018 eMagazine Art and Science yang dapat di-download gratis di Play Store, share yaa


“Menerbitkan buku, komik, novel, buku teks atau 
buku ajar, riset atau penelitian di jurnal? An1mage jawabnya”

AN1MAGINE BY AN1MAGE: Enlightening Open Mind Generations
AN1MAGE: Inspiring Creation Mind Enlightening 
website an1mage.net www.an1mage.org

Komentar

Page Views

counter free

Visitor

Flag Counter

Postingan populer dari blog ini

STANLEY MILLER: Eksperimen Awal Mula Kehidupan Organik di Bumi

CERPEN: POHON KERAMAT

Menerbitkan buku di An1mage