[CERMIN] BONSAI


BONSAI
Archana Universa


Skala. Ctrl + T

Aku menutup laptop-ku. Tengah malam sudah lewat dua jam lalu tapi aku masih terjaga.

"Deadline," gumamku seraya mengerucutkan bibir. "Ya ampun ...."

Aku membuka pintu dan kembali ke kamarku tepat pada saat Korona masuk ke kamarku.

"Membuat candi dalam semalam, bisakah?" tanyanya sembari tertawa.

"Kau tahu itu mungkin, mengapa masih menanyakannya?" keluhku sembari memijit-mijit pelipis.

"Buatkan satu untukku," lanjutnya masih terkekeh.

"Ini bukan cerita Roro Jonggrang dan Bandung Bondowoso kan?" timpalku seraya merebahkan diri ke atas kasur.

"Tidak, hanya membuktikan kau mampu." Korona menghampiriku dan rebahan di sampingku.

Aku mengecup puncak kepalanya dengan sayang. Korona lebih tinggi dari aku. Tapi kalau rebahan begini aku bisa mencium kepalanya tanpa perlu jinjit.

"Kau tahu aku mampu," bisikku sembari memeluknya.

"Aku tahu. Tapi aku ingin kau melakukannya buatku. Ya? Ya? Ya?" rengeknya dengan nada yang sudah kuhapal.

"Tidak malam ini, besok ...."

"Besok kapan?" potongnya tak sabar. "Besok versimu itu tak jelas! Artinya bisa seminggu lagi, sebulan lagi, setahun lagi, seabad lagi ...."

Aku menutup bibirnya dengan jari-jariku.

"Pada saatnya," jawabku.

Korona menepis tanganku supaya tidak mengatupkan mulutnya lagi.

"Sometimes later becomes never!" protesnya. "Berikan aku timeline jelasnya, kapan?" Korona mendesak.

"Setelah deadline."

"Setelah deadline ada dealine lainnya. Dan kau tidak memasukkan keinginanku dalam prioritasmu. Menyebalkan!" serunya sembari keluar kamar.

Dia akan menginap di kamar putri kami, Nebula. Kurasa malam ini aku akan tidur sendirian lagi gara-gara Korona ngambek.

Atau aku ikutan pindah tidur di kamar Nebula saja ya? Tidur bertiga, sama seperti ketika Nebula masih bayi.

***

"Kronos da-da." Nebula membangunkanku sembari menjambak-jambak rambutku yang sudah gondrong.

Korona sudah ngomel sejak seminggu lalu, memintaku potong rambut. Katanya biar aku ganteng kembali. Padahal aku selalu tampan.

Aku melihat Korona masih tertidur pulas dengan baju berantakan, bekas Nebula menyusu.
Kuangkat nebula menuju dapur. Haus.

"Mimik cucu!" seru Nebula sembari berusaha menggapai gelas yang kupegang.

"Air putih ini, Bul," kataku sembari membantunya minum dari gelas. Tepat pada saat itu Korona muncul dari pintu kamar.

"Berangkat pagi?" kuapnya sembari mengucek-ngucek mata.

"Ayo! Siap-siap," kataku, memberikan Nebula agar digendong Korona.

Jadwal hari itu sudah jelas. Korona ada kerjaan di area pinggiran kota, malah sebenarnya area desa, hanya saja tempatnya tidak terlalu jauh. Sekitar dua puluh kilo. Kurang lebih satu jam perjalanan dengan kecepatan sedang karena kadang Nebula menangis jika motor dipacu terlalu kencang.

Areanya tidak terlalu ramai, tapi hidup. Kami sering berpapasan dengan kendaraan lain meski tidak seramai di kota.

"Udaranya segar, tidak seperti di kota." Korona menyampaikan komentar andalannya tiap kali ke sini. Bukan sekadar basa-basi, ia mengatakan kenyataan.

Pemilik tempat pembibitan tanaman, Pak Remi menyalami kami. Berhubung kami sudah berulang kali kemari, bahkan sejak Nebula masih dalam perut ibunya, aku sudah hapal areanya.

Pak Remi meninggalkan kami setelah menjelaskan tanaman mana saja yang perlu diurus Korona. Memang lebih baik begitu, bekerja tanpa diawasi, yang penting hasilnya sesuai permintaan.

Bonsai-bonsai itu berjajar rapi dalam pot. Menunggu dalam diam.

Sementara Korona bekerja, aku mengawasi Nebula bermain-main di area pembibitan. Mencegahnya memetik bunga atau mematahkan dahan pohon. Biarpun baru dua tahun, kekuatan Nebula sudah mirip orang dewasa.

"Aku sudah mencobanya sendiri, sayang tanaman yang kurawat cenderung membesar. Tidak bisa disebut bonsai. Jadi aku selalu merepotkanmu," kata Pak Remi sembari memegangi cangkir kopinya.

"Selalu siap membantu, pak!" kata Korona sembari menyambar ubi goreng.

"Silakan dicicipi gorengannya." Pak Remi menawari makanan. "Nebula suka pisang goreng?"

"Mimik cucu!" seru Nebula riang.

Berhubung ada pembeli yang datang, Pak Remi pamit. Ia sudah memberikan amplop gaji Korona.
Sepeninggal Pak Remi, Korona menyusui Nebula. Aku menunggu di sampingnya sembari melahap bakwan dan cireng.

Pelan-pelan, langit memuntahkan air dari atas. Kami duduk di bawah kanopi diiringi alunan hujan.

"Aku capek," keluh Korona sembari menaruh kepalanya di bahuku. Nebula sudah tidur di pangkuannya. "Aduh pendek, pegal."

Aku memanipulasi tinggiku supaya kepala Korona lebih nyaman saat bersandar.

"Kronos, kadang aku membayangkan bagaimana ekspresi Pak Remi seandainya ia tahu apa yang sebenarnya kulakukan pada tanamannya," gumamnya sembari terkekeh pelan.

"Mungkin dia akan menyangkamu tengah memberi jampi-jampi pada tanamannya supaya jadi kerdil," gumamku.

"Bisa jadi. Command. Jampi-jampi. Perdukunan. Padahal hanya perintah saja. Aku kan bukan 'orang pintar', aku hanya ...."

"Mutant," singkatku.

"Yaaa...." Jawabnya lambat-lambat. Kalau kau bisa memanipulasi dengan cara memperbesar objek, maka aku kebalikannya. Aku memperkecil objek."

Korona menambahkan. "Hanya saja aku tidak memperkecil pohon yang terlanjur besar. Pak Remi bisa bingung atau malah ketakutan karena aku bisa mengecilkan batang pohon. Aku hanya menjaga tanaman yang kecil supaya tetap kecil. Tetap menjadi bonsai. Tapi meski hanya mencegah tanaman menjadi besar, kurasa Pak Remi sudah cukup senang dengan hasil kerjaku."

"Kerja bagus, aku penasaran apa kau dapat kenaikan gaji kali ini karena amplopnya terlihat lebih tebal," ujarku.

"Naik dua belas persen," tuturnya. Korona kemudian mengangkat kepalanya dari bahuku. Tubuhku kembali ke ukuran semula.

"Jadi kapan kau akan membuatkan candi untukku?" desaknya.

"Seribu candi? Itu melelahkan, sayang," tolakku.

"Hei! Aku tidak pernah menyebut seribu. Aku hanya minta candi dalam semalam! Aku minta satu candi. Satu!" protesnya.

"Buat apa memangnya?" tanyaku, tak paham.

"Buat selfie. Biar kayak aku lagi jalan-jalan di manaaa gitu...." Korona memberi tahu.

"Kamu ada candinya?" Aku kembali bertanya.

Ia mengangguk. Dikeluarkannya beberapa miniatur dari dompet kecil dalam tasnya, Berdesakan dengan keperluan Nebula lainnya. Sebenarnya Korona bisa mengatur ukurannya supaya menjadi kecil semua. Hanya saja bila bendanya diperlukan dalam kondisi terburu-buru dan tidak ada tempat privat untuk mengembalikan ke ukuran asli, hal itu akan membuatnya mirip tukang sulap atau malah dukun.

"Aku punya banyak, beli lewat online. Ada miniatur candi, Eiffel, Louvre, Colosseum, gedung bertingkat, jembatan, pesawat, helikopter, Ferrari ...."

"Banyak," komentarku sembari mengaduk-aduk isi tas miniaturnya.

"Jadi kapan kau mau membuatkan candi?" Korona kembali menyebutkan permintaannya.

"Weekend minggu depan setelah deadlineku selesai," cetusku.

"Baiklah!" serunya riang.

Di luar hujan berhenti. Langit sore kian gelap, kami menembus jalanan sepi. Nampaknya lebih banyak yang sepakat untuk tidak keluar rumah di akhir pekan yang basah ini.

Korona mendekap Nebula yang masih tertidur. Udara sejuk sehabis hujan makin mengisapnya ke dalam dunia mimpi.

"Ada apa?" tanya Korona ketika aku melambatkan motor dan menghentikannya. "Bensinnya habis?"

"Bukan. Jembatannya...." Aku tidak menyelesaikan ucapanku.

Korona menjulurkan lehernya, melewati bahuku. Ia melihat jurang di hadapan kami. Jembatannya putus.

"Oh! Bukan masalah. Aku punya miniatur jembatan, ingat?"

Ia turun dari motor. Aku mengikutinya.

"Pegangi Nebula sebentar," pintanya.

Setelah Nebula ada dalam pelukanku, Korona mulai memasukkan tangannya ke tas penuh miniaturnya. Dibantu cahaya lampu depan motor, Korona menemukan benda yang dicarinya.
Aku menjulurkan tangan untuk menerima miniatur tersebut. Hanya saja Korona mematung. Tidak menaruh objek itu di tanganku.

"Ada apa?" tanyaku.

"Kurasa...." Korona tidak menyelesaikan kalimatnya. Ia menantang jurang kemudian melemparkan miniatur itu menjadi jembatan sungguhan.

"Wow!" Aku mengucapkannya bahkan tanpa sempat berpikir hal lain.

Korona membalikkan badan, tersenyum ke arahku. "Aku bisa membuat objek menjadi besar, sepertimu!" Ia bersorak.

"Bagaimana?" tanyaku.

Korona mengangkat kedua bahunya. "Aku merasakannya. Sensing. Datang begitu saja."

"Keren!" pujiku sembari memberinya jempol menggunakan tangan yang bebas, tidak menahan badan Nebula.

Kami melanjutkan perjalanan. Setelah melewati jembatan, berada di sisi satunya, kami kembali berhenti.

Korona mengarahkan tangannya ke jembatan. Jembatan di hadapannya lenyap, jembatan miniatur sudah ada di tangannya kembali.

"Mereka harus membangunnya kembali. Aku tidak mungkin memberikan miniatur ini sebagai hadiah. Orang-orang akan kebingungan jika aku mengganti jembatan mereka, bahkan dalam waktu yang singkat. Aku tidak mau orang-orang terbuai dengan cerita mistik," cerocosnya.

"Pilihan yang tepat," ujarku.

"Kau tidak iri kan aku sekarang bisa memperkecil dan memperbesar objek? Sementara kau hanya bisa memperbesar objek saja?" tanya Korona sembari memasukkan miniatur ke tas penyimpanannya.
"Tidak, aku malah senang kau bisa memperbesar objek sekarang."

"Benarkah? Bagus kalau kau senang," katanya sembari meminta Nebula kembali supaya aku bisa mengemudi motor.

"Ngomong-ngomong, aku tidak perlu membuatkanmu candi karena kau sudah bisa melakukannya sendiri, membuat miniaturmu menjadi besar lalu selfie dengan candimu," kataku seraya mulai menjalankan motor, Korona dan Nebula sudah membonceng di belakang.

"Oh tidak bisaaaaa!"



Cermin ini ada di majalah AN1MAGINE Volume 3 Nomor 10 Oktober 2018 eMagazine Art and Science yang dapat di-download gratis di Play Store, share yaa


“Menerbitkan buku, komik, novel, buku teks atau 
buku ajar, riset atau penelitian di jurnal? An1mage jawabnya”

AN1MAGINE BY AN1MAGE: Enlightening Open Mind Generations
AN1MAGE: Inspiring Creation Mind Enlightening 
website an1mage.net www.an1mage.org

Komentar

Page Views

counter free

Visitor

Flag Counter

Postingan populer dari blog ini

STANLEY MILLER: Eksperimen Awal Mula Kehidupan Organik di Bumi

CERPEN: POHON KERAMAT

Menerbitkan buku di An1mage