[CERMIN] MUSUH: Sahabat


MUSUH: Sahabat
Rama TA: +6281901502167


"Sial, kalau aku tidak bisa menemukan rumah, aku akan mati kedinginan." ucap Natalia. Sang perwira Republik of Rassiya, ia terus berjalan menuju arah yang tidak tahu benar, karena ia sedang terpisah dengan pasukannya.

Selagi ia terus berjalan, badai salju mulai turun. Pandangan Natalia menjadi sedikit berkurang.

"Sial... Sial!" Mata Natalia terus melirik ke berbagai arah, demi mencari rumah untuk berlindung dari badai salju. Sambil memegang erat senjatanya, ia terus berjalan.

Nasib Natalia sangat beruntung. Tak lama kemudian, ia menemukan sebidang rumah kayu yang tak dihuni.

"Oh tuhan …, Terimakasih." Dengan sigap, Natalia berlari menuju rumah tersebut. Setelah sampai, ia melihat dalam rumah melalui jendela untuk memastikan rumahnya benar-benar kosong.
Setelah semua aman, ia memasuki rumah itu. Di dalamnya sangat gelap dan tak ada suara apa pun selain suara badai salju.

Ia menyalakan lilin yang ia temui di atas meja, lalu mencari kayu untuk membuat api unggun. Setelah mendapatkannya, ia segera menyalakan api unggun tersebut.

Beberapa menit berlalu, akhirnya semua selesai. Di dalam rumah tersebut sudah merasa hangat, dan sedikit terang. Natalia meletakkan senjatanya di atas meja, dan mendekati tungku api unggun untuk menghangatkan badannya.

Waktu terus berlalu, badai masih belum juga berhenti, Natalia juga sudah mulai mengantuk. Namun, suara hentakan kaki dari luar terdengar. Mungkin orang lain tidak mendengarnya, namun Natalia bisa mendengar suara dengan jelas sekali.

Ia berdiri dan mengambil senjata yang ada di atas meja, lalu mengarahkannya ke arah pintu. {Ka-chak} suara slider senjata yang ditarik, dan Natalia siap untuk menembak.

Pintu pun terbuka, seorang pria yang masuk ke dalam rumah dengan terburu-buru. Setelah pintu ditutup, pria tersebut kaget melihat Natalia. Tak sempat menodong dengan sniper-nya, ia mengeluarkan pistol yang ada di belakang pinggangnya.

"Jatuhkan senjatamu …," ucap pria tersebut dengan terengah-engah, jarinya sudah berada di pelatuk pistol.

"Tidak perlu saling tembak di sini, badai sedang mengamuk di luar sana ... Bagaimana kalau genjatan senjata?" ujar Natalia dengan tenang.

"Kau pikir aku percaya denganmu?" Pria tersebut tetap mengarahkan pistolnya ke Natalia.

"Kalau aku tidak percaya denganmu, sudah pasti kutembak kamu dari tadi..." respon Natalia.

"...," Pria tersebut tak bisa mengucapkan apa-apa. Ia tak tega untuk melawan Natalia, karena melihat badannya yang seperti anak-anak.

Akhirnya, pria itu menaruh senjatanya di atas meja. Tak lupa dengan sniper dan helm miliknya.

"Bagus, sekarang mendekatlah," ucap Natalia, ia menurunkan senjatanya.

Pria itu mendekati Natalia dengan sedikit ragu dan waspada.

"Jangan takut, mendekatlah."

Dan pada akhirnya, pria tersebut mendekati Natalia, "Ada apa?"

"Duduklah," ucap Natalia. Ia menyuruh pria itu untuk duduk di kursi kayu yang ada di sampingnya.

Setelah pria itu duduk, Natalia memegang tangan kiri pria tersebut. Luka gores yang sedikit lebar membuat darahnya menetes dari awal dia masuk.

"Kamu kena apa? Sampai bisa seperti ini?" tanya Natalia.

"Hanya kayu lancip, aku tergelincir dan mengenainya," jawab sang pria.
Natalia mengeluarkan jarum, benang, morphine dan perban di tasnya. Setelah semuanya dikeluarkan, tanpa peringatan ia langsung menuangkan morphine ke luka itu.

"Arrgh! Sakit tau," rintih sang pria. Ia kaget dengan aksi Natalia yang tiba-tiba.

"Seorang tentara harus bisa tahan walaupun dengan luka seperti ini," ucap Natalia.

Sang pria terdiam, ia sedang mencoba untuk menahan rasa sakit yang luar biasa. Sementara Natalia mulai menjahit luka pria itu.

Setelah luka pria tersebut dijahit, Natalia membalutnya dengan perban, dan luka tersebut berhasil ditutup.

"Sudah selesai," ucap Natalia dengan lega.

"T-terimakasih …," ujar pria itu.

"Sekarang, hangatkanlah dirimu di depan api unggun yang sudah kusiapkan." Natalia memberikan senyumannya kepada pria itu.

"B-baik …," sang pria berjalan mendekati api unggun.

Pria itu menghangatkan badannya yang dingin, sambil menenangkan dirinya.

Natalia mendekati pria itu sambil membawa selimut yang ia temukan, "Hey, ini untukmu."

"T-terimakasih …," respon sang pria.

"Sekarang hanya menunggu sampai badai saljunya berhenti," ucap Natalia sambil tersenyum.

"... N-namaku Hans, senang bertemu denganmu," ujar Hans.

Natalia sedikit terkejut, "Walaupun kita ini musuh, kamu masih berani memberi namamu ya..."

"K-karena kau telah mengobatiku..." jawab Hans.

Natalia tersenyum, "Namaku Natalia, senang bertemu denganmu juga," ia menyodorkan tangannya.


Cermin ini ada di majalah AN1MAGINE Volume 3 Nomor 10 Oktober 2018 eMagazine Art and Science yang dapat di-download gratis di Play Store, share yaa


“Menerbitkan buku, komik, novel, buku teks atau 
buku ajar, riset atau penelitian di jurnal? An1mage jawabnya”

AN1MAGINE BY AN1MAGE: Enlightening Open Mind Generations
AN1MAGE: Inspiring Creation Mind Enlightening
website an1mage.net www.an1mage.org 

Komentar

Page Views

counter free

Visitor

Flag Counter

Postingan populer dari blog ini

STANLEY MILLER: Eksperimen Awal Mula Kehidupan Organik di Bumi

CERPEN: POHON KERAMAT

Menerbitkan buku di An1mage