[CERMIN] ASA: di Ujung Dosa


ASA: di Ujung Dosa
Bagas: +6282111033355


Petir yang diiringi suara gemuruh saling bersahutan di langit, serta gerimis sudah mulai membasahi Bumi, dan sepertinya hujan akan turun deras malam ini. Perlahan laju motor sedikit ku perlambat kecepatannya untuk mencari-cari tempat berteduh, dan mataku tertuju pada sepetak warung di pinggir jalan Desa Patrol wilayah jalur pantura Jawa Barat.

Hari ini aku memang berniat untuk berkunjung ke salah satu desa di daerah Indramayu dalam rangka menemui seorang narasumber guna memenuhi kebutuhan bahan-bahan untuk karya tulisku kali ini.
Terlihat beberapa pengendara motor lain sudah terlebih dahulu memarkirkan kendaraan roda duanya untuk berteduh. Suasana di jalur pantura Jawa Barat saat itu memang sedikit sepi, kendaraan besar yang lalu lalang pun tidak terlalu ramai terlihat, padahal ini baru pukul 21 malam, mungkin karena ini bukan hari libur, atau cuaca yang kurang bersahabat membuat orang enggan untuk keluar rumah.

Motor aku parkir lebih menjorok di sudut samping warung tersebut, untunglah di situ ada sebidang balai-balai dari bambu yang bisa aku gunakan untuk sekedar beristirahat sejenak sambil menunggu hujan reda, dan hujan pun ternyata turun semakin deras disertai tiupan angin yang membuat malam ini semakin dingin menusuk ke dalam tulang.

"Pak,minta kopi hitam satu," ucapku pada pemilik warung kopi itu yang sedang asik mendengarkan lagu-lagu dangdut tarling yang keluar dari smart phone-nya, dan pesananku pun diikuti oleh beberapa orang yang juga berada di warung itu untuk sejenak berteduh dari derasnya hujan, segelas kopi sepertinya akan sangat membantu melawan rasa dingin dan membuat mata tetap terjaga serta beberapa potong ubi rebus bisa sedikit mengganjal perut yang sudah mulai keroncongan. Maklum, perjalananku masih sangat panjang, mungkin sekitar 2 jam lagi aku baru sampai di tempat tujuan.

"Mau ke mana mas?" sapa ku pada seorang pemuda yang juga sama-sama duduk di balai-balai samping warung, dan sepertinya dia bersama seorang wanita yang seusia dirinya.

"Mau ke Cirebon Om," jawab pemuda itu sambil membalikan badannya ke arahku.

"Klo Om tujuannya ke mana?"

"Saya mau ke Indramayu, tepatnya di desa Cangkingan," jawabku sambil meneguk kopi yang baru saja di sajikan oleh pemilik warung, perbincangan ringan antara aku dan pemuda itu pun semakin tambah menarik, apalagi wanita di sampingnya yang ternyata kekasihnya itu ikut nimbrung dalam pembicaraan kami, saking asyiknya ngobrol, tanpa terasa hujan pun sudah mulai sedikit reda.

Aku baru saja mau siap-siap untuk kembali melanjutkan perjalanan ketika seunit mobil minibus berhenti di sebelah warung tempat aku berteduh, aku baru mengetahui ternyata di samping warung ini yang jaraknya hanya beberapa meter terdapat satu cafe yang terlihat seperti tempat hiburan malam kelas menengah. Aku tidak mengetahui karena memang sedari tadi tidak terlihat aktivitas apapun di cafe itu, dan lampu kelap kelip serta musik dangdut baru saja di aktifkan oleh pemiliknya.

Hadirnya wanita-wanita yang keluar dari dalam mobil mini bus itu menambah keyakinanku bahwa itu suatu tempat hiburan malam. Dengan dandanan yang begitu sexy, berpakaian seronok, dan juga usia mereka yang rata-rata masih sangat belia menambah ramai suasana malam ini, mungkin umur mereka sekitar 18 sampai 20 tahunan, tawa wanita-wanita itu sangat lepas tanpa ada sedikit rasa canggung dan malu, dari pembicaraan mereka yang aku dengar serta kalimat-kalimatnya hanya seputar tentang pelanggan-pelanggan lelaki hidung belang yang silih berganti menyambangi cafe itu.

Mereka berbicara tanpa memedulikan orang-orang di sekitarnya yang risih dengan kata-kata menggelitik dan menggoda kaum lelaki yang keluar dari mulut mereka, mungkin seperti sudah menjadi keseharian di dalam celotehan mereka. Hujan pun kembali turun dengan derasnya, akhirnya aku putuskan untuk kembali berteduh dan duduk di balai balai warung di mana tadi aku berteduh, sedangkan orang-orang yang bersamaku tadi sudah pergi melanjutkan perjalanannya lagi.

"Pak, minta kopi hitamnya satu gelas lagi"

"lya mas," dengan sigap bapak pemilik warung kopi itu segera membuatkan kembali kopi untukku.

"Untung mas tidak langsung melanjutkan perjalan tadi, coba kalo mas jalan, pasti bakal kehujanan di jalan. Karena di depan, sepanjang lima km sudah tidak ada lagi warung atau bangunan lain untuk tempat berteduh, di kiri kanan jalan yang ada hanya sawah dan makam".

Aku sedikit kaget bercampur lega mendengar penjelasan bapak pemilik warung kopi tentang kondisi jalan di depan yang akan aku lewati.

"Waah …, Alhamdullilah ya Pak, untung saya belum jalan, hehehe". Dalam hati aku bersyukur, coba kalo aku tadi langsung jalan tanpa memerhatikan wanita-wanita di cafe itu terlebih dulu, mungkin aku sudah basah kuyup, karena tidak mungkin aku berhenti untuk berteduh.

"lya hehehe, si mas keasyikan liatin wadon ayu". Sedikit ada rasa malu dengan sindiran dari bapak pemilik warung itu, dalam hati aku tersenyum sendiri, memang betul apa yang diucapkan bapak pemilik warung kopi itu.

"Wanita-wanita itu berasal dari daerah mana Pak?" tanyaku pada bapak pemilik warung kopi.


"Rata-rata mereka dari desa di pelosok-pelosok wilayah indramayu, kebanyakan mereka dari keluarga yang tidak mampu, sementara mereka harus menanggung beban berat ekonomi keluarganya".

"Usia mereka saya lihat masih sangat muda Pak, apa mereka tidak sekolah?"

Sambil menghisap rokok kreteknya dalam-dalam, bapak pemilik warung kopi itu lalu menjawab pertanyaanku lagi.

"Bagi masyarakat di kampung-kampung yang jauh dari kota, pekerjaan menjadi pelayan cafe (sebutan untuk wanita penjaja cinta) untuk anak-anak gadis mereka merupakan pekerjaan yang menjanjikan kemewahan, uang banyak sudah pasti akan di dapatkan dengan cara instan. Orang tua mereka seperti tutup mata tutup telinga, seolah terkesan mengizinkan pekerjaan mereka, asalkan mampu memenuhi kebutuhan keluarganya, dan mengangkat derajat orang tua, mereka justru bangga dengan pekerjaan yang dilakukan anak-anaknya ".

Menarik apa yang diceritakan oleh bapak pemilik warung ini, sepertinya bisa dijadikan bahan tambahan dalam tulisanku, karena kebetulan tujuanku ke salah satu desa di Indramayu itu juga ingin menuliskan kisah yang hampir serupa dengan yang diceritakan oleh bapak pemilik warung.
Narasumber yang  ingin aku temui, seorang wanita yang profesinya sama persis dengan wanita-wanita di cafe itu.

Wanita itu bernama Asih, aku mengenalnya dari media sosial, dia menginginkan kisah hidupnya di tuangkan ke dalam suatu cerita agar menjadi pembelajaran bagi wanita-wanita di daerahnya untuk meninggalkan pekerjaan seperti dirinya menjadi pelayan warung cafe remang remang, karena yang di dapatkan hanyalah kebahagiaan yang semu, merusak masa depan, dan yang terpenting, agama melaknat dan melarangnya.

"Menurut saya Pak, orang tua tidak bisa disalahkan sepenuhnya atas apa yang di lakukan anaknya. Pergaulan yang salah, pendidikan yang minim, serta keimanan dalam menjalankan perintah agama itu yang menjadi penyebap kurangnya pemahaman betapa hina dan buruknya pekerjaan itu di mata manusia juga agama. Hingga pada akhirnya, cuma harta yang dianggap mampu menyelesaikan kesulitan-kesulitan di dalam kehidupannya maupun keluarganya, sungguh pemahaman yang sangat keliru".

"Mas betul, kebodohan tentang ahlak, dan norma norma agama memang sudah menggerogoti orang tua mereka, dan celakanya, itu ditularkan kepada anak-anak gadis nya hingga mereka menganggap pekerjaan anaknya adalah sebuah pekerjaan yang bisa dibanggakan, karena mampu mengangkat derajat orang tua dengan harta yang berlimpah, sungguh sangat tragis ….”

“... bahkan konon cap Indramayu sebagai penyuplai wanita-wanita penghibur di beberapa kota besar di lndonesia sudah bukan rahasia lagi, saya sebagai orang asli dan putra daerah sini, sangat miris dan risih mendapat julukan seperti itu".

"Kita cuma bisa berdoa dan berharap Pak, semoga pemerintah dan pejabat-pejabat setempat segera memerangi kebodohan dan kemiskinan yang sudah merusak akhlak generasi bangsa ini khususnya di desa-desa terpencil di Indramayu. Dan prostitusi bukan lagi jalan satu-satunya yang harus di tempuh untuk mengubah ekonomi masyarakat di pelosok- pelosok Indramayu menjadi lebih baik".

"Amiiin," jawab bapak pemilik warung itu yang kalau aku lihat dari kerut kerut di wajahnya, mungkin sudah berusia sekitar setengah abad. Ada genangan air di kelopak ke dua mata bapak yang sudah berusia separuh abad ini, seperti memendam kepedihan di masa lalunya, kepedihan seorang bapak terhadap anaknya.

Belum habis rokok yang kuhisap dan kopi yang ku teguk, tiba-tiba terdengar teriakan dari cafe itu. Aku tersentak kaget dan menoleh kearah sumber suara tadi, suara gaduh dan jerit minta tolong dari wanita-wanita di cafe itu memaksa aku serta bapak pemilik warung kopi segera bergegas menghampiri mereka.

Di dalam ruangan cafe tersebut ada empat wanita muda dan satu wanita separuh baya, pandangan mereka semua tertuju pada salah satu dari enam kamar yang ada di dalam cafe. Pintunya separuh terbuka, terlihat ada wanita yang terkapar bersimbah darah di dalam kamar itu, ususnya terburai keluar pertanda senjata tajam baru saja merobek perutnya, dan tidak ada sehelai pun pakaian yang menutupi tubuh wanita itu.

"Pak, cepat hubungi polisi,"ucapku pada bapak pemilik warung kopi,

"Tolong semua yang ada di tempat ini untuk tidak pergi terlebih dahulu, karena nanti akan sangat membantu pihak kepolisian untuk mengungkap peristiwa yang terjadi".

Di tengah kepanikan wanita-wanita yang ada di ruangan itu, mataku tertuju pada sewadah dompet yang isinya tercecer di sudut bawah meja rias kamar wanita yang terbunuh di dalam kamar itu. Sudut mataku menangkap satu kartu tanda penduduk yang tercecer terpisah dari dalam dompetnya, rasa penasaran membuat tanganku refleks mengambil kartu tanda penduduk itu.

Tanganku tiba tiba bergetar, nafasku tersesak, mataku sedikit terbelalak melihat identitas orang yang ada di dalam karu tanda penduduk itu, aku seperti tidak percaya.

Tertulis nama wanita yang terkapar bersimbah darah "Asih " beralamat di desa cangkingan kab lndramayu, data dan identitasnya sama persis seperti yang aku terima dari narasumberku. saat polisi membalikan tubuh wanita itu, terlihat wajah yang tidak asing bagiku …, ya, wajah cantik yang selama ini sering menelpon dengan suara indahnya, wajah yang fotonya masih kusimpan di album smartphone-ku ...

bagas, 27 - 09 - 2018


Cermin ini ada di majalah AN1MAGINE Volume 3 Nomor 10 Oktober 2018 eMagazine Art and Science yang dapat di-download gratis di Play Store, share yaa


“Menerbitkan buku, komik, novel, buku teks atau 
buku ajar, riset atau penelitian di jurnal? An1mage jawabnya”

AN1MAGINE BY AN1MAGE: Enlightening Open Mind Generations
AN1MAGE: Inspiring Creation Mind Enlightening 
website an1mage.net www.an1mage.org

Komentar

Page Views

counter free

Visitor

Flag Counter

Postingan populer dari blog ini

STANLEY MILLER: Eksperimen Awal Mula Kehidupan Organik di Bumi

CERPEN: POHON KERAMAT

Menerbitkan buku di An1mage