GENETIX: Manusia Pertama di Bumi


GENETIX: Manusia Pertama di Bumi
M.S. Gumelar


“Terima kasih teman-teman, proses rekayasa genetik telah selesai,” kata Respati.

“Sama-sama Pak Respati,” beberapa anggota timnya menjawab, ada yang mulai meninggalkan area tersebut.

Respati mengamati hasilnya,”Sejauh ini tampak sesuai.”

“Benar Pak, sepertinya tinggal menunggu tubuh pasien memulihkan diri, perlu sekitar minimal semingguan,” kata petugas yang mengoperasikan alat deteksi hasil operasi rekayasa genetik.

“Bagus, saatnya aku istirahat, operasi rekayasa genetik berikutnya tiga hari lagi,“ kuserahkan pasien padamu. 

Pegawainya mengangguk. Respati berjalan ke suatu arah. Masuk ke salah satu ruangan, di sana terlihat foto hologram, terlihat seorang wanita bersama tiga bayi yang berada di kasur, dan tampak bahagia. Tangan respati menjangkau foto hologram wanita tersebut.

*

TOK TOK TOK

Bintang mengetok kendi yang ada di depannya.

“Kau bisa keluar dari kendi sekarang,” kata Bintang berbicara kepada kendi yang ada di depannya.

“Kau gila, ya?” Genruo mencibir.

“Gila? Kau pikir ide siapa untuk masuk ke dalam kendi?” balas Bintang.

“Bukan itu, kau lihat, tutup kendinya belum kau buka, bagaimana dia akan keluar?” jelas Genruo.

“Bukankah ada potensi dia bisa teleport seperti spesies genruo pada umumnya?’ jawab Bintang.

“Tidak semua spesies pengubah bentuk adalah spesies genruo, ada yang lainnya, dan belum tentu spesies yang lainnya memiliki kemampuan teleport,” jawab Genruo sembari membuka tutup kendi.

PLOP

Tutup kendi dibuka,”Kini keluarlah,” perintah Genruo.

Mendadak dari dalam kendi seseorang melompat dan mendadak menjadi besar, berwajah pangeran.

“Ah hentikan penyamarannya, tunjukan wajah aslimu,” perintah Genruo.

SRUUUTH

Dari wajah pangeran berubah menjadi wanita cantik.

“DNA spesies terekam, dan teridentifikasi, kelpien,” komputer di tangan Bintang memberikan info.

“Ah kelpien, baik, siapa namamu?” tanya Genruo.

“Eg;has,” jawabnya.

“OK Eg;has, aku spesies genruo, namaku Genruo,” jelas Genruo.

“Membingungkan, bagaimana nama spesies menjadi namamu juga, sama seperti kau memperkenalkan dirimu sebagai spesies manusia dan namamu Manusia, bodoh!” ejek Eg;has.

THUK

Kepala Eg;has dipukul oleh Genruo menggunakan kayu pengaduk teh.

“Dengar, mengapa kau berperan sebagai pangeran?” tanya Bintang.

“Aku ingin kembali ke House of Alpin, di Scotland, perlu biaya besar,” jawab Eg;has.

“Ya ya ya dan tampilanmu kini wanita, wujud aslimu gimana?” perintah Genruo.

SRUUUTH

Eg;has berubah menjadi mahluk mirip silikon, tanpa wajah, tubuhnya mirip agar-agar berwarna kebiruan, seperti warna air sungai yang jernih.

“Oh, kupikir kau seperti aku, berbulu dan gagah, sebaiknya kau menjadi wanita lagi seperti tadi,” perintah Genruo.

SRUUTH

Eg;has kembali ke bentuk wanita.

“Kau penyuka pria dan juga wanita, kebanyakan para pengubah bentuk seperti itu,” jelas Genruo.

“Oh berarti kau juga penyuka pria dan wanitakah?” tanya Bintang.

“Kecuali aku, aku suka wanita saja,” jelas Genruo sembari memukulkan kayu pengaduk minuman teh ke pundak Bintang.

“Oh ya, hal itu menjelaskan mengapa kau menggunakan tampilan wanita?” ejek Eg;has.

“Hei, aku gunakan bentuk tampilan wanita ini untuk memudahkan urusanku!” Genruo beragumen.

“Ya dan hampir membuatmu kehilangan kepala oleh Si Algojo,” cibir Bintang.

“OK, OK, tidak selalu berhasil memang, bisakah kita tidak membicarakanku, ha?” Genruo menatap ke Bintang dengan sebal.

“Baik Bu Boss!” jawab Bintang sembari sedikit mencibir.

“OK, aku ada misi mencari suatu alat, portable teleporter di kerajaan ini, dan sepertinya ada di ruangan pangeran, pangeran robot, android,” jelas Genruo.
“Portable Teleporter? Robot, Android?” Eg;has tidak mengerti.

“Dia tidak akan pahaaaam,” ejek Bintang.

“STTTT …,” Genruo meletakkan jarinya ke area mulut, sembari menoleh ke Bintang.

“Baiklah, aku perlu alat yang ada di kamar pangeran palsu satunya,” kata Genruo, wajahnya menghadap Eg;has lagi.

“Bukankah bisa kau ambil sendiri, kau juga pengubah bentuk,” Eg;has keheranan.

“Benar,” Bintang ikut menyela.

“Aku bisa berubah bentuk, tapi tidak dapat memanipulasi ukuran, kau bisa mengubah bentuk dan juga dapat memanipulasi ukuran, kau memiliki kemampuan quantum technology, bila di zamanku, menyebutnya” jelas Genruo.

“Quantum Technology, aku tidak paham?” Eg;has kebingungan.

“Gini, giniii …, intinya kau bisa mengecil dan membesar, tentu juga pasti mampu membuat benda lainnya juga begitu, aku tidak bisa,” jelas Genruo.

“Ya, aku mengerti, tapi mengecilku ada batasnya, paling kecil hanya seukuran nyamuk” jawab Eg;has.

“Bagus, sudah cukup bagiku, kini, kau ambil alat yang aku mau, gambarnya seperti yang di tangan Bintang,” kata Genruo.

Bintang mengerti, lalu menampilkan alat yang dimaksud secara hologram kepada Eg;has.

“Ah …, temanmu penyihir, mampu membuat hal seperti itu,” Eg;has berkomentar.

“Bukan temanku, kau lihat gambar alat itu yang ada di depannya?” tegas Genruo.

“Ya aku lihat,” jawab Eg;has.

“Nah, ambilkan alat itu di kamar pangeran palsu satunya,” perintah Genruo.
“Apa untungnya aku mengambilkan alat itu buatmu? Tidak membuatku bisa pulang ke negeriku?” jawab Eg;has.

“Bagaimana kalau kau kubawa pulang, dengan kemampuanku ini?” jelas Genruo sembari teleport di dalam ruangan.

ZAP

Genruo ada di pojok ruangan.

ZAP

Genruo ada di depan Eg;has lagi.

“Hm …, aku pikir pertukaran yang adil,” Eg;has tersenyum.

“Baguuus!” Genruo nyengir.

 *

Selo Adimulyo 3000, ruangan tahanan sementara dek 37.

“Gnash, kau ditahan karena kejahatanmu di planetku” Kapten Zhuluk mengeluarkan sejenis alat di kantongnya.

Kemudian alat tersebut menyinari Gnash dan membuat tubuhnya ter-teleport ke penjara kecil portable di tangannya.

“Baiklah, Kapten Agatha, terima kasih telah membantu selama ini, kapal kukembalikan padamu,” kata Kapten Zhuluk.

“Sama-sama, senang membantu Anda,” jawab Kapten Agatha.

“Kapten Zhuluk ke CJry, port me up!” perintah Kapten Zhuluk.

“Baik Kapten, bersiap,” jawab CJry.

ZAP

Kapten Zhuluk ter-teleport ke pesawatnya.

“Baiklah, tour kita lanjutkan!” kata Kapten Agatha.

“Kapten pesawat berbentuk robot super besar tengah menuju ke arah kita,” Sela 3000 memberikan info.

“Pesawat robot dikejar oleh sejenis gurita raksasa ruang angkasa di belakangnya, Space Kraken,” jelas Sela 3000.

“Space Kraken? Bukankah mahluk itu sudah punah triliunan tahun yang lalu?” Kapten Agatha keheranan.

“Memperbarui data,” Sela 3000 merekam informasi yang didapatnya tentang kemunculan Space Kraken.

“Di sini Glk9iok, Kapten Ladshdiow,  kami minta bantuan, Space Kraken memakan energi pesawat kami, pesawat kami lumpuh, pesawat kami tidak cukup energi untuk melakukan jump teleport guna menghindarinya,” tampilan di layar kendali pesawat Selo Adimulyo 3000.

“Diketahui Glk9iok, kami akan memberi bantuan kepada Anda, Kapten Ladshdiow, di sini Selo Adimulyo 3000, Kapten Agatha.”

 *

“Tepatnya berapa lama kita terlempar ke masa lalu?” Kapten Adamusha mendengus.

“5 biliun tahun dari sebelumnya,” jelas Lux Deciphered.

“Bulan, Planet Tigi tidak memiliki bulan?”

“SIAAAAL!” Adamusha geram.

“Baiklah, lakukan kontak dengan pesawat alien peneliti yang ada.”

“Baik Kapten.”

“Z-ion kepada pesawat peneliti, kami terjebak di antara ruang dan waktu, apakah reptilian di planet di depan kami, Planet Tigi telah boleh melakukan kontak dengan alien secara terbuka?” tanya Lux.

“Selamat datang Z-ion, di sini Kasdgh, saya Kapten  DVsjb, dari Enlil.”

“Terima kasih, di sini Z-ion, saya Kapten Adamusha, apakah kontak boleh dilakukan kepada reptilian di Planet Tigi?”

“Negatif Kapten,Planet Tigi? Maksudmu Planet Akdh, iya, menunggu waktu sekitar 500 tahunan lagi baru ada potensi kontak dapat dilakukan,” jawab DVsjb.

“Di manakah teknologi tercanggih saat ini, di galaksi ini?” tanya Kapten Adamusha.

“Sekitar  1500 tahun cahaya dari sini,” jawab DVsjb.

“Pesawat kami rusak berat, mesin ion pembuat makanan rusak, bagaimana kami dapat mengatasi hal ini? Ada potensi kami akan mati bila menunggu 200 tahunan lagi,” jelas Kapten Adamusha.

“Kontak tidak boleh terjadi, tetapi ada area di sisi planet yang belum terjangkau oleh mereka, silakan turun di sana, kami akan membantu proses teleport kru pesawat, Kapten DVsjb siap membantu.”

“Terima kasih Kapten, kami sangat berterima kasih,” jawab Kapten Adamusha.

*

Lapisan es tebal, cincin Planet Saturnus.

“Pemandangan yang indah bukan?” tanya Mr. G.

“Untuk apa kau memerlukanku?” tanya Shrika.

“Tentu saja mengambil keberuntunganmu,” jawab Mr. G.

“Ambil saja dan biarkan aku mati dengan tenang,” jawab Shrika.

Mr. G mendekati Shrika, disentuhnya kepala Shrika dengan jarinya.

Mata Shrika terpejam, tubuhnya gemetar.

“Kau takut?” tanya Mr. G.

“Tentu saja.”

“Tidak kukira memory dan kecerdasan buatanmu sudah seperti manusia sesungguhnya, bahkan lebih manusia daripada manusia.”

“Lalu mengapa kau tidak memiliki sifat seperti manusia?” tanya Shrika.

“Aku memiliki sifat manusia, tapi aku bukan manusia.”

“Lalu kau itu apa?”

“Aku mahluk Bumi, tapi aku bukan manusia, entah apa aku ini, sudah ada sejak awal terbentuknya Bumi,” jawab Mr. G.

“Aku diibaratkan lahir dari tanah, dari debu, dari batu, dari Bumi, pada awalnya mereka menyebutku  Wong Goed, lalu Sing Adammu,  Tsang Gou Hwu, lalu berubah menjadi Son Go Ku di Jepang dan Sun Wu Kong di China, dan di India menjadi Hah No Man.”

“Dalam pencarian siapa aku, aku bertemu banyak mahluk genius selain aku, selain manusia, mereka dari planet lain, aku belajar semua teknologi dan pengetahuan mereka, karena aku belum mengerti pesawat, tentu saja ada beberapa yang secara tidak sengaja aku ledakkan …,”

“..., aku memiliki kekuatan menyerap kekuatan apa pun dari mahluk lainnya, dan menjadikannya milikku.”

“Setelah kekuatan mereka menjadi milikmu, apakah mereka mati?” tanya Shrika.

“Tentu saja sebagian besar telah mati, hanya sebagian saja yang masih hidup, dapat dihitung sekitar puluhan saja, dan mereka tahu siapa diriku …,”
“..., sebagai saksi dari legenda yang menjadi mitos akan keberadaan diriku,” jelas Mr. G.

“Mengapa kau mengambil kekuatan mahluk-mahluk lainnya?”

“Karena aku memerlukannya.”

“Mengapa kau memerlukannya?”

“Untuk mencari tahu siapa diriku ini? Aku belum menemui satu pun mahluk yang seperti aku,” dengus Mr. G.

“Selesai,” kata Mr. G.

“Apanya?” tanya Shrika.

“Meniru kekuatanmu, keberuntunganmu.”

Shrika tertegun, tidak mengerti,”Bukankah tidak banyak mahluk yang masih hidup setelah kau serap kekuatannya?”

“Menyerap, itu yang dulu aku lakukan, kini kekuatanku telah terevolusi lagi, menirunya, dan mahluk yang kutiru kekuatannya tetap utuh tubuh dan memory-nya.”

“Oh, aku beruntung.”

“Bukankah kau selalu begitu?” Mr. G tersenyum.

“Kau lihat, di Bumi manusia saling membunuh untuk mendapatkan berlian, di Planet Saturnus ini, hujannya berupa berlian, uang menjadi tidak berguna, kekayaan menjadi tidak berguna …,”

“..., kau tahu, aku dapat mengambilkan banyak berlian untukmu, untuk membiayai kehidupanmu di Bumi, bersama anak-anakmu.”

Shrika tertegun,”Kau tidak seperti yang dikatakan oleh orang-orang, dan sikapmu tidak seperti dulu saat kita pertama kali bertemu.”

“Jangan salah sangka, aku seperti yang dikatakan orang-orang, tidak berubah, kau hanya beruntung, dan keberuntunganmu juga sekarang menjadi milikku.” Mr. G tersenyum kemudian melesat terbang membawa Shrika ke arah Planet Saturnus, mendekati area hujan berlian. Shrika melirik kepada Mr. G.

Tangan kiri Mr. G mendadak berubah menjadi seperti kantong besar, dan menadahi berlian yang jatuh sanpai penuh, tangan kanannnya memeluk pinggang Shrika, sembari dibeberapa bagian tubuhnya dilingkupi oleh plasma shield agar tidak melukai Shrika.

Setelah dirasa cukup.

ZAAAP

Mr. G dan Shrika ter-teleport ke suatu tempat.

*

“Di mana Timun Mas kini?” tanya salah seorang staff.

“Sudah aku kembalikkan ke planetnya,” jawab Butho Ijo.

“HAH!” ejek seorang staff lainnya.

“Bukankah dia selamat karena melarikan diri darimu yang akan memakannnya?” tanya staff  lainnya lagi.

“Memakannya? Buat apa aku memakannya?”

“Kau pemakan manusia bukan?” tanya staff lainnya lagi.

“Aku? Pemakan manusia? Kalau aku pemakan manusia, kalian udah habis dari tadi,” Butho Ijo mendengus.

“Eh … benaaar,” kata staff tersebut. Beberapa staff lainnya mengangguk.

“Jadi kenapa kau ke sini, tanpa planetary passport? Tanpa identitias pula,” tanya staff yang berdiri di kanan Butho Ijo.

“Teknologi kalian masih belum canggih, planetary passport, identitasku ada di DNA-ku, dalam sel, cek menggunakan teknologi dari Genetix scan, nama dan identitasku dapat terbaca,” jelas Butho Ijo.

“Kenapa kau ke sini?” tanya Staff yang berdiri di sebelah kanan Butho Ijo.

“Aku mencari Timun Mas.”

“Lah katanya sudah kembali ke planetnya, kok dicari lagi?” tanya orang tersebut.

“Dia melarikan diri lagi dari orang tua angkatnya,” jawab Butho Ijo.

“Tunggu bukankah itu cerita ribuan tahun lalu, jadi sebenarnya dia melarikan diri dari orang tuanya, bukan melarikan diri darimu karena akan kau makan?” tanya orang itu lagi menegaskan.

“Iya,” jawab Butho Ijo.

“Apa kau punya fotonya?” tanya orang itu lagi.

 “Nih …,” Butho Ijo mengeluarkan sinar proyektor dari matanya dan terpampang secara hologram.

“Wuoooooh, dia kan model terkenal seluruh Bumi dan sampai ke Planet Mars, namanya Shrika,” jelas staff lainnya.

“Iya, dia sepertinya Shrika, baiklah, aku bantu, namaku Fnij, aku juga alien, tapi aku bekerja resmi di sini.”

“Tapi kau harus tinggal di kepolisian ini terlebih dulu, sampai kami mendapatkan alat Scan ID dari Genetix, kami sudah memesannya di kantor pusat.” ucap Fnij.

“Terima kasih Fnij,” Butho Ijo tersenyum.

*

“Lompatan waktu kita terlalu jauh mundur ke belakang,” ucap Angel Michael.

“Tapi ada baiknya kita mengecek di zaman ini, siapa tahu ada beberapa perbedaan yang lolos dari pengamatan kita,” saran Angel Gabriel.

“Setuju,” kata Angel Michael.

“Kalian siapa? Tertinggal dari pesawatkah?” tanya beberapa reptilian.

“Iya,” jawab Angel Michael.

“Kalau begitu, ada baiknya kalian bertemu dengan Duta Besar Khanunashiess, mari saya antar,” seorang reptilian menawarkan bantuannya.

Angel Michael dan Angel Gabriel berjalan mengikuti reptilian tersebut ke salah satu pintu teleport.

Mereka masuk dan keluar di area lainnya. Tertulis dalam bahasa reptilian “Kedutaan Besar Antarplanet Ti Gi”.

“Itu dia kantornya, dia akan selalu siap untuk menerima siapa pun,” kata reptilian tersebut sembari menunjuk satu arah.

“Terima kasih,” jawab Angel Michael.

Kemudian Angel Michael dan Angel Gabriel menuju arah tersebut.

“Ssssshar apa yang dapat kami bantu?” kata reptilian penerima tamu.

“Ssssshar kami ingin bertemu Duta Besar Khanunashiess,” jawab Angel Michael, yang sepertinya mengerti arti Ssssshar artinya halo.

“Baik, akan kami hubungkan,” jawab reptilian tersebut.

“Silakan menunggu di lounge sebelah sana, dan nikmati makanan kami, tinggal meminta langsung dari mesin ion pembuat makanan,” jelas reptilian tersebut.

“Baik, terima kasih,” jawab Angel Gabriel.

Angel Michael dan Angel Gabriel berjalan ke lounge yang ditunjuk dan duduk di sana.

Tidak berapa lama seorang reptilian berjalan mendekatinya.

“Saya Khanunashiess, ada yang bisa kami bantu tuan-tuan?”.

“Kami ketinggalan pesawat kami,” jawab Angel Gabriel.

“Sssah kalian kru dari Kapten Adamusha,” jawab Khanunashiess.

“Ya,” Angel Gabriel mengangguk.

“Baik, jangan khawatir, ikuti saya,” ajak Khanunashiess.

Sampai di suatu ruangan Khanunashiess berhenti, ”Ini adalah kantor saya, saya memiliki tujuh klon diri saya, sangat melelahkan bila saya sendiri, tetapi kami terhubung satu sama lainnya, menggunakan wireless memory yang saling tersambung, dengan demikian, satu sama lainnya akan selalu update memory dan pengalaman paling akhir terkini, walaupun dua atau tiga dari kami tertidur, dan atau sedang bertemu dengan tamu lainnya.”

“Saya belum bercerita banyak kepada Kapten Adamusha, sepertinya dia terburu-buru,” jelas Khanunashiess.

“Tidak mengapa Pak Duta Besar, nanti akan kami sampaikan bila bertemu lagi dengannya,” jelas Angel Gabriel.

“Bagus, eh …, saya juga pernah berbincang kepada Kapten Adamusha tentang manusia yang telah datang ke Planet Ti Gi atau Tigi, sekitar 1000 tahunan yang lalu, sebenarnya maksudku, kami menemukan fosil manusia 1000 tahunan yang lalu …,”

“..., kami memiliki fosil manusia yang berada di gua dengan tulisan-tulisan di dinding, seperti relief, dari situ kami dapat mempelajari bahasa kalian, ada potensi, mereka alien yang datang ke Ti Gi ribuan bahkan jutaan tahun yang lalu, di masa lalu, manusia sudah mampu mencapai planet ini” jelas Khanunashiess.

“Bahasanya kami lengkapi setelah kami mengamati kalian berbincang dengan kami dan bertukar data bahasa saat pesawat kalian berada di sini,” Khanunashiess tersenyum.

“Apa yang kalian lakukan nantinya dengan fosil-fosil manusia itu?” tanya Angel Michael.

“Kalian berasal dari galaksi terjauh dan tertua menurut versi kami, kalian dari gugusan Ursa Major, merupakan kebanggaan bagi planet kami telah didatangi oleh manusia,” jelas Khanunashiess.

“Untuk membuat mereka selalu berada di sini, kami memutuskan  untuk mengkloning fosil itu menjadi manusia, manusia versi buatan dari Ti Gi,” Khanunashiess tampak bangga.

“Oh …,” Angel Michael dan Gabriel bersamaan.

“Apakah keputusanmu didukung oleh dewan-dewan penasehat dan politik seluruh planet ini?” tanya Michael.

“Mereka banyak yang menolak ideku, tapi aku yakin, bila hal ini dilakukan, akan membawa kebanggaan tersendiri bagi planet ini,” jelas Khanunashiess.

*

“Timeline telah berubah, dan kau penyebabnya,” kata suara yang mendadak muncul.

“Hm …, sudah kuduga,” jawab Selo Adimulyo.

“Presiden Indonesia saat ini ada empat potensi variasi timeline yang seharusnya terjadi, yaitu Joko Widodo, Ahok, Prabowo Subianto, atau Susi Pudjiastuti,” jelas suara tersebut.

“Tetapi versi prime timeline adalah Joko Widodo, bukan dirimu,” jelas suara tersebut.

“Lalu apa yang harus aku lakukan?” tanya Selo Adimulyo.

“Tidak ada, selesaikan saja versi yang ini dengan segala masalahnya, setelah selesai, timeline ini akan menyatu lagi dengan timeline yang utama, prime timeline utama itu seperti aliran sungai yang besar, lalu setiap percabangannya adalah sungai-sungai kecil yang mengalir dan bertemu dengan sungai yang besar,” jelas suara tersebut.

“Apakah kau android yang sama yang pernah mengingatkanku?” tanya Selo.

“Bukan, aku android utama, namaku Met4tr0n, aku mewakili Ang3l Mich43l.”

“Kenapa kau tidak memunculkan wujudmu?” tanya Maung Bodas, sembari melihat Selo Adimulyo.

“Karena aku tidak melintasi waktu, aku hanya mengirimkan gelombang suara agar kita dapat berbincang.”   

“Baiklah apakah kami berhasil mengatasi masalah ini, masalah organisme renik ini?” tanya Selo Adimulyo.

“.…”

Hening, tidak ada jawaban,

Selo Adimulyo melihat ke Maung Bodas. Maung Bodas menyapukan pandangan matanya mengililingi ruangan sembari badannya ikut memutar.

“Heh …,” keluh Selo Adimulyo,

“Seperti yang kau lihat, aku seharusnya tidak menjadi presiden di negeri ini, variasi timeline yang ini menyimpang terlalu jauh,” jelas Selo.

“Tidak perlu menyesali apa yang telah terjadi, kenyataannya di timeline ini, semua peraturan dan kepres yang kau lakukan mudah-mudahan merupakan versi terbaik dari timeline mana pun.

“Presiden Joko Widodo, Ahok, Prabowo Subianto, atau Susi Pudjiastuti, nama yang asing bagiku, coba cari apakah mereka benar-benar ada di timeline yang ini?” pinta Selo Adimulyo.

“Baik Selo,” jawab Maung Bodas, dan segera berjalan ke luar ruangan kantor presiden.

*

Antonio Guterres berjalan ke ruangannya. Di sana telah duduk seseorang di ruangan sofa pribadinya.

“Apakah kau menanyakkan orang yang sama?” tanya Antonio Guterres.

“Ya, apakah ada tanda Mr. G muncul?” tanya Diva Shrasvati.

“Kau telah menanyakan hal yang sama setiap sekjen PBB sebelum aku, dan jawabanku sama, belum muncul.”

“Sayang sekali, padahal teknologi yang aku berikan sudah banyak membantu mempercepat kemajuan teknologimu,” suara Diva Shrasvati parau.

“Bukankah kau selalu bilang, dia akan muncul tahun 2020?”

“Ya, aku hanya berjaga-jaga, siapa tahu timeline berubah, dan dia datang lebih cepat dari yang seharusnya,” jawab Diva Shrasvati.

“Dan kau merasa bahwa timeline ini potensi perubahannya ada?”

“Entahlah, aku ke sini menggunakan pesawat yang mampu melintasi ruang dan waktu, tetapi aku tidak mau gegabah, sebab kalau salah orang, misiku pasti gagal,” jawab Diva Shrasvati.

“Oh …,” Antonio Guterres simpati,”Apa tidak sebaiknya kau gabung dengan beberapa alien grey lainnya untuk membantumu?”

“Saran yang bagus, tetapi spesies grey versi kami berbeda dengan grey lainnya, sama seperti spesies kalian manusia Bumi berbeda dengan spesies manusia dari Ursa Major, planet lain dan atau galaksi lainnya,” jelas Diva Shrasvati.

“Kau tidak menjawabku,” sela Antonio Guterres.

“Aku tidak mau bantuan mereka, hanya Mr. G yang mampu melakukannya,” Diva Shrasvati menoleh ke Antonio Guterres, tatapan bola mata besar berwarna hitam itu demikian dalam membuat Antonio Guterres seolah tidak mampu untuk berkata-kata.

*

ZAAAP

“Bumi yang indah bukan,” jelas Mr. G.
“Terima kasih  telah mengembalikanku ke Bumi,” jawab Shrika.

“Entah bagaimana kau akan membawa berlian-berlian itu,” tanya Mr. G.

“Aku sebenarnya mau bilang, berlian juga sudah tidak berguna di zaman ini,” jelas Shrika.

“Aku tahu, oleh karena itu, kau perlu pergi ke masa lalu, dan menjualnya di masa berlian masih dapat dijadikan alat tukar untuk jual beli, dalam satu rekening abadi, nilai jual berlian itu di masa ini akan berguna,” jelas Mr. G.

“Bagaimana aku bisa kembali ke masa lalu,” tanya Shrika.

“Bersamaku …,” jawab seseorang muncul dari satu arah berjalan mendekati mereka.

“Kau tepat waktu,” Mr. G tampak gembira.

Setelah orang itu mendekat tampak wajahnya dengan jelas, Khrisna, orang yang meminta rekayasa genetik kepada Respati untuk mendapatkan kekuatan teleport lintas ruang dan waktu.

Jari Mr. G segera menempel ke dahi Khrisna.

*

CLEKH
CLEKH

Borgol yang sangat kuat menahan tangan dan mendadak merambat menyatu ke bagian pinggang dan dada, teknologi nano metal untuk Gerhana dan Awewe.

”Set tujuan ke Bumi, asal kita,” perintah Gororagu kepada komputer teleport lintas ruang dan waktu miliknya.

ZLAAAAP!

Gororagu, Sriera, Gerhana, dan Awewe berpindah tempat.

Bumi di titik awal pembentukan, lava, beragam gas, ragam kimia, ledakan energi petir, air, sinar matahari.

ZLAAAAP!

Gororagu, Sriera, Gerhana, dan Awewe tiba di awal-awal pembentukan Bumi. Gerhana dan Awewe masih terlindung kostum mereka yang canggih.

AAARGH!

Awewe, Gerhana, dan terutama Sriera mendadak kesakitan, Beberapa bagian tubuh Sriera terkelupas, sementara segera saja Gororagu mengeluarkan sinar bola energi pelindung, melindungi mereka semua.

“Komputer, salah waktu, koordinat telah tepat,” set waktu ke zamanku, sekarang!” perintah Gororagu.

ZLAAAPH!

Kelupasan, serpihan tubuh Sriera menggeliat-geliat, mendadak seperti beradaptasi, menjadi sejenis mahluk hidup bergerak, berkelana di awal-awal pembentukan Planet Bumi.

*

Kantor Pusat Genetix, Megacity, Koloni Bumi, tahun 3118.

ZLAAAAPH!

“Selamat datang di Kantor Pusat Genetix,” kata komputer yang ada di sana.

“Sial, kau benar-benar mempermalukanku!” kata Gerhana.

“Selamat datang Gerhana, Saudaraku,” kata Matahari menyambut.

“Ya ya ya, kau berhasil,” Gerhana tampak ketus.

“Aku tidak melanggar aturan Genetix, aku tidak menggunakan kekuatanku untuk kejahatan di Bumi,” Gerhana membela diri.

“Kejahatanmu bukan itu, tetapi hacking dan mencuri uang masyarakat,” kata Magnet.

“Bawa dia ke sel sementara, sembari menunggu pihak kepolisian,” kata Matahari.

“Aku tidak tahu, bagaimana kau melakukannya Gororagu, tapi terima kasih,” ucap Gerhana.

“Jangan hanya terima kasih, kirim sisa pembayarannya dalam waktu satu jam,” Gororagu berkata, kemudian terbang terbalik, kepala di bawah dan kaki di atas.

“Ayo Sriera, ikut aku,” ajak Gororagu.

Sriera terbang mengikuti Gororagu.

*

“Aku tidak menduga Gororagu dapat melakukannya?” Cosmica keheranan.

“Jangan meremehkan keturunan Rangga, Si Komodo,” jelas Timox.

“Yah kau benar juga, aku jadi berpikir, bisakah karena kemampuanmu, kau saat ini ada di mana-mana Timox, kau pandai memanipulasi waktu dan ruang, kau keluar dari sini, misalnya ke toilet …,”

“..., tapi ternyata kau ke tempat lainnya, menghabiskan waktu puluhan tahun, ratusan tahun di tempat lainnya, lalu kau kembali ke saat sebelum kau pergi, seolah kau tidak pernah pergi ke mana pun?” tanya Cosmica sembari menyipitkan matanya, menatap Timox dengan curiga.

“Kau mulai seperti Matahari, bukankah aku akan tua saat kembali ke sini bila ke area lainnya selama puluhan dan ratusan tahun lamanya,” jawab Timox.

Bersambung....


Cerbung ini ada di majalah AN1MAGINE Volume 3 Nomor 9 September 2018 eMagazine Art and Science yang dapat di-download gratis di Play Store, share yaa


“Menerbitkan buku, komik, novel, buku teks atau 
buku ajar, riset atau penelitian di jurnal? An1mage jawabnya”

AN1MAGINE BY AN1MAGE: Enlightening Open Mind Generations
AN1MAGE: Inspiring Creation Mind Enlightening 
website an1mage.net www.an1mage.org

Komentar

Page Views

counter free

Visitor

Flag Counter

Postingan populer dari blog ini

STANLEY MILLER: Eksperimen Awal Mula Kehidupan Organik di Bumi

CERPEN: POHON KERAMAT

Menerbitkan buku di An1mage