CERMIN: SAMA-SAMA KADAL

https://www.wowkeren.com/berita/tampil/00199416.html

SAMA-SAMA KADAL
Dee Dee: helwyna@yahoo.com

Malam ini, Dimas mengajak aku dan sepasang sahabat kami kencan. Tumben dia menyarankan kencan ramai-ramai, apalagi sudah sekitar dua bulan lamanya aku tidak bertemu dengannya.

“Ayolah, aku kangen kamu. Tapi aku juga kangen dengan Mira dan Tyo. Kapan lagi kita bisa barengan menghabiskan waktu? Kamu dan Tyo sibuk setengah mampus!” alasan Dimas kala itu.

Aku pun mengiyakan, bagaimana pun Dimas ada benarnya. Aku yang berprofesi sebagai peneliti kanker payudara lebih sering menghabiskan waktu di laboratorium daripada di tempat lain. Dapat dikatakan bahwa laboratorium adalah rumah pertamaku dan rumah orang tuaku justru berada di posisi kedua.

Dimas dan aku sudah berhubungan selama tiga tahun. Bagaimana aku mengenal Dimas jika aku selalu sibuk? Mungkin itu adalah pertanyaan pertama yang terlintas saat mengetahui kadar sibuk yang sehari-hari kujalani.

Jawabannya sungguh mudah: melalui Tyo, rekan sesama peneliti namun berbeda bidang. Sementara aku berkutat di penelitian sel kanker payudara, Tyo meneliti sel kanker otak. Laboratorium kami bersebelahan dan tidak jarang kami saling bertukar informasi mengenai penelitian kami.

Tyo dan Dimas adalah sahabat semenjak mereka duduk di Sekolah Dasar. Tyo berkarakter tekun dan teliti, sementara Dimas berkarakter bebas dan ceria.

Dimaslah yang senantiasa mengecek kondisi Tyo semisal Tyo tidak pulang ke rumah berminggu-minggu sebab kelewat antusias menemukan hal baru di sel yang dia teliti.

Tyo sendiri sudah ditunangkan dengan gadis manis bernama Mira, dia berprofesi sebagai seorang dosen di salah satu universitas unggulan di Bandung. Ah ya, aku lupa memberitahu apa profesi Dimas.

Seperti karakternya yang bebas dan ceria, Dimas bekerja di salah satu agensi periklanan terkemuka di Jakarta. Dia seorang Art Director, salah satu yang termuda dan paling berbakat.

Malam ini, Dimas mengajak kami berekreasi di Pasar Apung Lembang, mencoba menu-menu baru dan setelahnya ke Centrum Music Park. Sesekali boleh juga berjalan-jalan ke taman, apalagi Dimas mempersiapkan tikar untuk kami duduk bersama.

Dimas juga mengatakan bahwa dia hendak memberitahuku sesuatu. Mungkin ini sudah waktunya, aku pun menyiapkan mentalku.

Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam saat Dimas beranjak dari posisi berbaring dan duduk menghadapku. Dia memintaku untuk turut duduk bersamanya, suasana Centrum Music Park riuh rendah namun damai.

“Erika, aku mau meminta maaf kepadamu”, Dimas menggenggam tanganku erat, matanya penuh dengan penyesalan. Aku menghela nafas dan menyiapkan telingaku baik-baik. Tyo dan Mira mengamati kami, keduanya tidak beranjak sebab Dimas memohon mereka untuk tinggal.

“Erika, kamu tahu betapa aku mencintaimu, tapi kamu kelewat sibuk …, kamu dan jadwalmu, kamu dan antusiasmemu kepada dunia penelitian. Aku tidak bisa begini terus menerus, Rika ….”

Aku tahu kau tidak sanggup dengan minimnya waktu bersamaku.

“Tiga tahun lamanya kita bersama, namun aku tidak lagi sanggup meneruskan jika harus terpisah terus denganmu. Aku seakan-akan tidak memiliki kekasih, Erika. Mungkin ini hanya aku, bukan salahmu ….”
Ya, aku paham. Sudahlah ucapkan saja.

“Maafkan aku, Rika. Ini tidak etis namun aku selama ini dekat dengan Mira, sementara kau dan Tyo sibuk dengan pekerjaan kalian. Dan aku meminta kepada keluarga Mira untuk memutuskan pertunangan dengan Tyo. Aku akan menikahi Mira akhir tahun ini!”

Suasana hening seketika, Mira kini beranjak duduk disebelah Dimas. Aku dan Tyo hanya saling memandang dan mengangkat bahu. Perlahan aku membuka tas dan menarik secarik kartu dari dalam tas. Lantas kuserahkan kepada Dimas.

“Sejujurnya, aku sudah tahu itu semua. Ibundamu sudah memberitahuku beberapa bulan lalu, aku hanya menunggu kau berbicara ….”

“..., Yah, aku dan Tyo sebetulnya. Datang ya. Awal tahun depan kami akan pindah ke Inggris untuk melanjutkan penelitian kami. Sudah ya, sukses untukmu dan Mira”, ucapku sembari berdiri dan menggamit tangan Tyo.

Sementara Dimas dan Mira masih terpaku memandang kartu yang kuserahkan, selembar kartu bertuliskan namaku dan Tyo, beserta tanggal pernikahan kami bulan depan.

Dee Dee terinspirasi dari karya @Yon's 


Cermin ini ada di majalah AN1MAGINE Volume 3 Nomor 9 September 2018 eMagazine Art and Science yang dapat di-download gratis di Play Store, share yaa


“Menerbitkan buku, komik, novel, buku teks atau 
buku ajar, riset atau penelitian di jurnal? An1mage jawabnya”

AN1MAGINE BY AN1MAGE: Enlightening Open Mind Generations
AN1MAGE: Inspiring Creation Mind Enlightening 
website an1mage.net www.an1mage.org

Komentar

Page Views

counter free

Visitor

Flag Counter

Postingan populer dari blog ini

STANLEY MILLER: Eksperimen Awal Mula Kehidupan Organik di Bumi

CERPEN: POHON KERAMAT

Menerbitkan buku di An1mage