CERPEN: KERASUKAN

https://3.bp.blogspot.com/-dQ_VS_BbtSY/Uj58DW00IBI/AAAAAAAAB0g/jXK71UxRFRo/s1600/6+kerasukan.png

KERASUKAN
Tubagus R.



“Dirga!”

“DIRGAAA!”

PLAAAAKH

“Aduh!”

“Sakit tahu!”. Dirga marah dan melihat kepada si penampar. Tangan Dirga bergerak  membalas.

WUT

“Eh ga kenaaa, ga kenaaa!” teriaknya.

“Nya nya nya nya nya!” dengan nada mengejek.

“Lo tadi napa?” tanyanya.

“Mendadak lo kayak kebingungan, ga tahu apa yang gw tanyakan, lalu nyerocos gw di mana gw di mana gw?” wajahnya tampak keheranan.

“Lalu lo nampol gw gitu?”. Dirga kesal.

“Ya iyalah, masak ya iya dong, lo tau, lo hampir gw panggilin pengusir setan lo, gw rasa lo sering bengong, lo pasti kerasukan!” ucapnya serius.

“Kerasukan?” tanya Dirga.

“Iyaaa, uda gw liat, sering banget lo seperti itu sekitar tiga mingguan!” jawabnya serius.

“Yang bener Di, gw rasa baru kali ini?” jawab Dirga.

“Ya elah, lo pikir gw ngibul apa?” matanya melotot. Kulihat ada wajah kejujuran di sana.

“Tiga minggu? Uda brapa kali emangnya gw begitu?” tanya Dirga.

“Kayaknya sepengetahuan gw, ini yang ketujuh kali!” jawabnya.

“Kalo lo sendirian ama orang lain lagi, mana gw tauuu?!”

“Apa menurut lo gw ke Romo ya?” tanya Dirga.

“Lo kayaknya ke Constantine aja Masbrooo!” ejeknya.

“Sial, serius ni, masak disuruh ke karakter komik sih!”

“Lah dia kan pengusir setan, cocoklah buat lo ha ha ha!” gelaknya.

*
“Gimana Romo?” tanya Abdi.

“Sudah kulakukan sebaik mungkin, saya rasa perasuk tubuh Dirga sudah hilang,” wajahnya nampak berwibawa dan keyakinan penuh.

“Terima kasih Romo,” jawabku.

Aku pun berjalan ke luar ruangan gereja, bergerak menuju pelataran parkir.

“Nah kayaknya, lo bakalan lebih tenang ni,” kata Abdi sembari menoleh kepada Dirga.

“Dirga!” sapanya.

“Gw di mana ya?” tanyaku, dan melihat ke seseorang yang menatapku seperti tidak percaya dan berteriak-berteriak Dirga, apa dan siapa Dirga? Wajah orang yang sama yang aku lihat di beberapa kejadian sebelumnya.

*

“Ah! Syukurlah kau kembali!” Abdi tampak gembira melihat Dirga.

“Emangnya gw napa Di?” tanya Dirga keheranan.

“Constantine ga mempan Masbroo,” jawabnya serius.

“Kita perlu pengusir kerasukan dari agama lainnya Dir,” sarannya.

“Tapi kepercayaan gw beda Bro, apa mempan?” Dirga meragu.

“Eh sapa tau neh, sapa tau, lo dirasukin ama setan yang beda kepercayaan gimana?” wajahnya serius.

“Emang setan bisa beda kepercayaan kayak manusia Di?” tanya Dirga heran.

“Mana gw tau, kan brusaha Bro?”. Abdi nyengir.

*

Pendeta itu tersenyum, lalu berkata,”Kau kini sudah terbebas anakku,” tampak wajah damainya terukir di wajahnya.

“Terima kasih Pak Pendeta,” jawab Dirga.

Kemudian Abdi dan Dirga berjalan ke luar rumah pendeta tersebut.

“Gw lapar ni, makan yuk?” ajak Abdi.

“Yaellah, baru aja jam segini uda lapar?” ejek Dirga sembari menunjukkan smartphone-nya ke wajah Abdi.

“Lapar Masbroo, kita berangkat pagian tadiii, wajar kalo uda lapaaar!” tepuk Abdi, dan berjalan ke arah Gum Pizza yang ada di dekat area tersebut.

“Ayo Dirga,” dia, orang itu lagi, mengajakku ke mana?

“Dirgaaa! Oh tidaaaak ” teriak orang itu seperti kecewa. Aku tidak mengerti.

*

“Gagal?” tanya Dirga.

“He-eh!” jawabnya sembari mengangguk.

“Solusi?” tanya Dirga.

http://1.bp.blogspot.com/-HrrKxPK3VKI/Vb5LVi74tlI/AAAAAAAAAQU/QFy-k8hgUoA/s1600/main-exorcism.jpg

“Kayaknya, agamanya terlalu mirip, gimana kalo pengusirnya dari agama yang jauh beda, misalnya Hindu, Buddha, atau mungkin Islam?” sarannya.

“Saran yang bagus!” jawab Dirga.

“Tapiiii ….”
“Apa?” Abdi penasaran.

“Ada baiknya saat aku kerasukan, bisakah kau tanya dia dari mana?” pinta Dirga.

“Namanya siapa? Tahukah dia tentang aku? Tahukah dia tentang dirimu?” pinta Dirga.

“Hmm … belum pernah kupikir hal itu,” Abdi berkernyit, memicingkan matanya.

“Smartphone, gunakan smartphone-mu, dan rekam jawabannya!” saran Dirga.

“Aaaah … ide yang bagus!” Abdi gembira.

“Apakah ada kerasukan yang tidak dapat diusir dari orangnya selama ini?” tanya Dirga.

“Gw uda nyari ni di internet, kebanyakan kasus kerasukan bisa diusir oleh orang lain yang memiliki kepercayaan yang sama, terutama oleh orang lain yang dituakan atau yang dianggap suci oleh orang lain di agama tersebut,” jelas Abdi.

“Apakah selalu berhasil?” tanya Dirga.

“Ada yang njawab, tidak selalu berhasil kalo si orang pengusir setan itu ternyata tidak bersih atau tidak suci, penuh iri dengki, kejahatan yang tersembunyi tetapi berlagak sok suci, ada potensi besar gagal,” jawab Abdi.

“Apakah menurut lo yang uda mengusir setan dalam diri gw yang nyebabin aku kerasukan belum suci?” tanya Dirga.

“Ada potensi itu,” jawab Abdi.

“Tapi ada juga yang unik, gw temukan bukan di bacaan agama, tapi di bacaan cerita fiksi ilmiah,” jelas Abdi.

“Cerita fiksi ilmiah, gimana sih?” tanya Dirga tidak percaya.

“Dengerin dulu Masbroooo!” ucapnya serius.

“OK …,” jawab Dirga. Wajah Dirga tampak cemberut dan kecewa.

“Hallaaaaah, gw ogah crita ni!” teriaknya.

“Ya ya ya, crita gih,” Dirga memasang wajah diceria-ceriakan.

“Nah gitu dooong!” Abdi tampak gembira.

“Gini, ada cerita fiksi dengan judul mindporter, di cerita itu, seseorang dirasuki oleh mahluk lainnya, bukan karena mistik, karena evolusi pikiran!” Abdi tampak serius.

“Evolusi pikiran?” tanya Dirga.

“Ho-oh, evolusi pikiran, sableng ga? Ternyata ga tubuh aja yang terevolusi seperti yang kita percayai selama ini,” Abdi tampak terfokus. 

“Nah pikiran yang udah terevolusi ini, mampu melakukan perjalanan lintas tubuh pada saat si pemilik tubuh sedang tidur, berpindahnya pikiran ini kepada mahluk lainnya ada yang random, ada yang mungkin sudah dapat dikendalikan,” tampak wajahnya terlihat konyol saat Abdi serius menjelaskan.

“Random, dan ada yang dikendalikan?” tanya Dirga.

“Yaaa gila kan?” jawab Abdi.

“Mahluk lainnya? Gimana kalo yang masuk ke tubuhku itu cacing?” tanya Dirga.

“Nah itu dia, seorang mindporter memang dapat masuk ke mana pun, termasuk ke cacing atau jadi cacing, lalu setelah jadi cacing lalu ke mana lagi, dan hinggap di tubuhmu misalnya,” jelas Abdi.

“Tunggu, berarti dia merasuki mahluk lainnya saat si Mindporter masih hidup bukan mati?” tanya Dirga.

“Iya, dari situ juga menjelaskan bahwa semua memory mahluk hidup tidak pernah mati, saat tubuhnya mati, memory atau pikirannya pindah ke mahluk lainnya, bisa ke mahluk yang masih bayi, atau ke mahluk yang sudah dewasa, mirip seperti yang kau alami …,”

“... bila diasumsikan kau tidak kerasukan setan, tetapi karena dihinggapi oleh pengelana dari tempat lain, pengelana dari masa ini atau bisa dari masa depan, atau masa lalu, dan bahkan mungkin dari planet lain, dari tata surya lain, dari galaksi lain, frekuensi atau semesta lainnya,” jelas Abdi.

“Dari versi itu, berarti doa-doa tidak akan mempan, karena yang memasuki tubuhku bukan setan, tetapi bagian dari evolusi, evolusi pikiran?” aku bertanya pada Abdi.

“Kalau menurut cerita fiksi mindporter memang begitu,” jawab Abdi.

“Lalu bagaimana seorang mindporter mengerti bahasa apa bila ternyata dia masuk ke tubuh dan tempat yang berbeda bahasa?” tanya Dirga.

“Dalam cerita fiksi itu, si Mindporter otomatis mengerti bahasa apa pun yang tubuhnya dihinggapi, ah …  gw jadi inget seseorang bermimpi hanya beberapa saat aja, lalu merasa berpuluh-puluh tahun di suatu daerah masih di Bumi, dan mendadak bisa fasih bahasa di suatu area itu dengan lancar, aku rasa, dia masuk ke kategori seorang mindporter deh,” jelas Abdi.

“Apakah mindporter itu mirip reinkarnasi di Hindu atau Buddha?” tanya Dirga.

“Beda Masbro, mindporter tidak mengenal karma, baik karma baik atau buruk, dan dipastikan semua mahluk bisa mindporter, hanya ada yang lebih duluan bisa karena terevolusi lebih dulu dari lainnya, tetapi pada akhirnya semua mahluk akan bisa, entah secara random dan atau dapat dikendalikan nantinya” jelas Abdi.

“Jadi saat tubuh seseorang tidak dapat dihinggapi atau mati, memory atau pikiran itu melompat ke tubuh lainnya, bisa ke mahluk yang cerdas, mahluk yang di titik awal evolusi, atau di orang kaya, di orang miskin …, “

“... secara random atau dikendalikan oleh dirinya dan bila memasuki tubuh mahluk yang evolusinya belum optimal, seorang midnporter menyebut tantangan dan menambah kekayaan memory,” jelas Abdi.

“Oh dalam versi itu, memory adalah kekayaan yang sesungguhnya, berarti semakin mengalami banyak hal, semakin kaya dia ya?” tanya Dirga.

“Nah begitulah, jadi tidak ada salah dan benar, sebab salah dan benar menurut beberapa orang hanya masalah jumlah, pada saat kamu benar tetapi jumlah orang yang banyak mengatakan tidak, maka kamu pasti salah bukan?” jelas Abdi.

“Di … di mana aku?” tanyaku.

“Siaaal!” orang yang sama lagi berada di depanku.

Orang itu sibuk memencet sesuatu dan memperlihatkan suatu alat di depanku.

“Namamu siapa?”

“Abdi,” jawabku.

Orang itu tercengang.


Cermin ini ada di majalah AN1MAGINE Volume 3 Nomor 9 September 2018 eMagazine Art and Science yang dapat di-download gratis di Play Store, share yaa


“Menerbitkan buku, komik, novel, buku teks atau 
buku ajar, riset atau penelitian di jurnal? An1mage jawabnya”

AN1MAGINE BY AN1MAGE: Enlightening Open Mind Generations
AN1MAGE: Inspiring Creation Mind Enlightening 
website an1mage.net www.an1mage.org

Komentar

Page Views

counter free

Visitor

Flag Counter

Postingan populer dari blog ini

STANLEY MILLER: Eksperimen Awal Mula Kehidupan Organik di Bumi

CERPEN: POHON KERAMAT

Menerbitkan buku di An1mage