CERMIN: BUNGA SEBERANG JALAN

https://www.suara.com/lifestyle/2017/04/14/102621/kenali-bridezilla-perubahan-emosi-menjelang-hari-h-pernikahan

BUNGA SEBERANG JALAN
Dee Dee: helwyna@yahoo.com

Dia tetap saja cantik, namun lebih cantik daripada terakhir aku bertemu dengannya sebulan lalu. Bergaun abu-abu muda sepanjang lutut, model cheongsam dan backless, rambutnya yang panjang ditata dengan gaya kepang, dan bermahkota bunga putih. Namanya Erika Dharmasany, dia mantan kekasihku setidaknya hingga sebulan lalu.

Mengamati Erika saat ini membuatku benar-benar ragu apakah aku pernah mengenal dia. Aku baru sadar kalau separuh rambutnya, dari garis belakang telinga hingga ke bawah berwarna hijau muda kebiruan, persis seperti rambut putri duyung.

Matanya yang senantiasa serius dan kaku, kini seakan memancarkan kehangatan dan cinta. Belum lagi senyumnya, tidak lagi kudapati senyum dingin di wajah Erika, senyumnya hari ini mampu membuat siapa pun di sekitarnya turut tersenyum.

Aku tersengal-sengal berdiri di pintu kebun belakang rumah Erika, di mana resepsi Erika dan Tyo dilaksanakan.

Tanganku menggenggam tangan seorang gadis, Mira, yang akan kunikahi akhir tahun ini. Mira mengetahui sorot mataku yang terpesona memandang Erika, namun tak sedikit pun kudapati kecemburuan di mata Mira.

“Ayolah, sudah terlambat di akad nikah, masa kau mau tercenung saja di sini …, buang waktu saja kau!” dengan satu tarikan lembut, Mira berhasil mengajakku masuk ke kebun belakang tersebut.

Aku berjalan mendekati Erika dan Tyo yang tengah berbahagia, tak bisa kuhindari kenanganku tentang Erika merasuk otomatis kembali ke kepalaku.

Aku bertemu Erika sekitar empat tahun lalu, dia rekan satu laboratorium dengan Tyo. Mereka sering menghabiskan waktu sebab bekerja di bidang yang serupa. Menurutku serupa, menurut mereka tidak dan keduanya senantiasa mengoreksiku jika kuungkapkan itu.

Dan Tyo, dia adalah sahabatku sejak Sekolah Dasar. Lelaki diam, kalem dan pandai, namun jangan sesekali memancing emosinya, bisa saja kau ditendangnya hingga terpental beberapa meter. Di balik ketenangannya, Tyo memegang sabuk hitam dan lima dibela diri karate.

Erika, pertama kali aku bertemu dia, aku langsung penasaran. Sikapnya yang senantiasa tenang, berpikir logika, kata-kata tertata, dan langkah kaki tegap ke mana pun dia melangkah.

Sorot mata yang senantiasa mengamati reaksi sekitar sebelum dia mengeluarkan pendapat.

Ahh sungguh istimewa, aku pun bertekad mendapatkan dia. Berkali-kali aku mengaku cinta, dia hanya menelengkan kepala ke satu sisi dan bertanya, “mengapa? Apa alasanmu sevalid-validnya?”

Beratus jawaban hingga akhirnya dia pun menerima pengakuan cintaku, aku bahagia bukan kepalang.  Si ratu keren jadi kekasihku!
Aku pun senantiasa bersemangat mengatur jadwal untuk menemui dia di sela-sela kesibukanku.

Tak peduli sesibuk apa, aku selalu meluangkan waktu untuk bertemu dia. Paling tidak seminggu sekali aku akan mengendarai mobil menuju Bandung, untuk bertemu dia.

Namun, Erika makin sibuk setelah dia menemukan hal baru terkait sel yang selama ini dia teliti.

Begitu antusiasnya Erika hingga dia seringkali membatalkan pertemuan denganku, tidak hanya sekali, berkali-kali hingga aku pun sempat menyerah dan tidak mengunjungi dia selama tiga bulan.

Tepat di akhir bulan ketiga, Erika muncul begitu saja di lobi kantorku, menenteng sekantung pretzel dan menatapku.

“Hai, mau makan malam bersama? Aku kembali ke Bandung besok pagi”, Erika bertanya kepadaku sembari mengunyah pretzel.

Ibarat sapi dicucuk hidungnya, aku pun mengikuti Erika malam itu. Aku bahagia sebab Erika mengingatku.

Tak berlangsung lama kebahagiaanku, Erika kembali sibuk dan makin sibuk. Dia bukan satu-satunya yang sibuk, Tyo pun serupa. Saat itulah aku bertemu dengan tunangan Tyo, seorang gadis manis bernama Mira.

Aku sebetulnya sudah mengenal Mira semenjak Tyo bertunangan dengannya enam tahun lalu, namun aku tidak pernah mengobrol dengannya.

Kesepian yang kualami juga dirasakan oleh Mira. Hingga beberapa kali Tyo ataupun Erika membatalkan janji, aku dan Mira memutuskan untuk menikmati waktu bersama.

Sial adalah saat kusadari Erika tidak lagi ada di dalam kepalaku. Mira adalah satu-satunya yang muncul setiap kali aku teringat tentang seorang kekasih.

Mira, perempuan muda yang sudah berprofesi sebagai dosen perguruan tinggi, memiliki rasa humor tinggi dan cerdas, keibuan, dan hangat.

Dia terkadang melakukan kebodohan-kebodohan kecil yang menggemaskan, seperti tersandung kakinya sendiri ataupun tanpa sengaja menumpahkan air yang diminumnya. Membuatku senantiasa ingin melindunginya.

Setelah enam bulan, aku memutuskan akan merebut Mira dari Tyo. Tidak ada gunanya Tyo memiliki dia, sementara dijenguk ataupun meluangkan waktu untuk Mira pun tidak. Kuberanikan diri datang ke keluarga Mira dan mengutarakan keinginanku.

Mujur, Mira pun bersikukuh tidak ingin melanjutkan pertunangannya dengan Tyo. Kami juga sepakat memberitahukan Erika dan Tyo di kesempatan lain saat kami bertemu.

Tidak ingin kehilangan momentum, kami pun segera merencanakan pernikahan di akhir tahun.

Di kesempatan yang akhirnya tiba, justru aku dan Mira yang terkejut. Rupanya Tyo dan Erika sudah diberitahu oleh kedua orang tua mereka, dan mereka justru akan menikah mendahului kami.

Sepucuk kartu undangan mengonfirmasi hal ini, selembar kartu bertuliskan nama keduanya dan tanggal pernikahan.

Kenanganku memudar saat kusadari tengah dirangkul oleh Tyo. Rupanya aku telah sampai di hadapan mereka, Mira telah mengucapkan selamat untuk keduanya.

Aku hanya tersenyum getir, setidaknya aku tetap ingin melihat Erika sedih sebab aku bersama MIra kini, namun tidak ada setitik kesedihan di wajah Erika.

Sebaris melodi mengalun merdu, pertanda bagian dansa resepsi akan dimulai. Tanpa ragu, Erika menarik tanganku dan kami pun berdansa, sepasang mantan kekasih.

Tidak ada rasa canggung sama sekali di pergerakan Erika, aku mengikuti kemana Erika mengalun.

Sementara Mira berada di pelukan Tyo, dia tersenyum walaupun kudapati setitik air mata menggantung.
Tyo mengelus lembut sudut mata Mira dan mulai berdansa menuju ke arahku.

Musik berhenti dan kami berdiri berhadapan, aku dengan Erika, Mira dengan Tyo.

Sebelum tangan Erika berpisah dengan tanganku, dia menarikku perlahan dan mengecup pipiku lembut, “Baik-baik ya. Terima kasih sudah hadir.”

Tyo melakukan hal yang serupa, kali ini dia mengecup kening Mira dan menyerahkan tangannya kepadaku.

Lagi-lagi sebelum Mira sepenuhnya mengalihkan tangannya, Erika menarik wajah Mira dan mengecup pipi Mira, melepaskan mahkota bunganya serta meletakkannya di kepala Mira.

“Berikutnya adalah giliranmu, bahagia ya. Jika Dimas macam-macam, kau tampar saja dia,” ucap Erika cukup keras hingga akupun mendengarnya.

Mira kembali ke pelukanku dengan wajah berurai air mata, bukan kesedihan, hanya penuh haru.

Dee Dee terinspirasi dari karya @No Name


Cermin ini ada di majalah AN1MAGINE Volume 3 Nomor 9 September 2018 eMagazine Art and Science yang dapat di-download gratis di Play Store, share yaa


“Menerbitkan buku, komik, novel, buku teks atau 
buku ajar, riset atau penelitian di jurnal? An1mage jawabnya”

AN1MAGINE BY AN1MAGE: Enlightening Open Mind Generations
AN1MAGE: Inspiring Creation Mind Enlightening 
website an1mage.net www.an1mage.org

Komentar

Page Views

counter free

Visitor

Flag Counter

Postingan populer dari blog ini

STANLEY MILLER: Eksperimen Awal Mula Kehidupan Organik di Bumi

CERPEN: POHON KERAMAT

Menerbitkan buku di An1mage