GENETIX: Manusia Rekayasa Genetik



GENETIX:
Manusia Rekayasa Genetik
M.S. Gumelar


“Baiklah, aku sudah siap,” kata orang berwajah 19 tahunan.

“Baiklah Pak Khrisna, Anda sudah dalam keadaan fit sesuai scan kami, kini proses pengubahan genetik sesuai kemampuan yang Anda pilih, kekuatan teleport lintas ruang dan waktu, prosedur akan kami mulai,” kata petugas Genetix Reengineering.

“Siapkan anestesi menyeluruh, agar pengubahan DNA yang terjadi berjalan tanpa dirasakan,” pinta Respati.

“Anestesi telah dilakukan,” kata seorang asistennya.

“Baik, mari proses dijalankan,” kata Respati, kemudian menekan beberapa tombol, melakukan scan tubuh menggunakan komputer yang sangat canggih, dan memulai proses rekayasa genetika.

*

Masyarakat berkerumun di depan alun-alun istana. Mereka akan menyaksikan siapa di antara dua pangeran yang ada adalah satu yang asli.

Sementara itu Bintang dan Genruo bila gagal, akan jadi tontonan masyarakat, kepala mereka akan dipenggal.

“Hiii, mengerikan, untung aku tidak ikut sayembara itu, kalau gagal, kepala melayang, raja kita ini tabiatnya juga buruk ternyata, sama seperti anaknya,” bisik seseorang, rakyat ke  pada rakyat lainnya.

“Iya, anaknya kelakukannya buruk, raja juga kelakukannya buruk, ada baiknya kita pindah ke kerajaan lainnya dan jadi warganya di kerajaan yang rajanya baik hati dan makmur,” cetus seorang lagi.

“Iya, pindah ke kerajaan lain saja, di sini, pajaknya juga terlalu tinggi, yuk ada yang mau ikut aku ke kerajaan lainnya?” tanya seseorang setuju dan tergerak untuk pindah.

“Tunggu dulu, aku penasaran dengan akhir dari perisitiwa ini, apa kalian tidak penasaran?” tanyanya dengan wajah serius.

“Iya sih penasaran …,” jawab beberapa orang secara bebarengan.

“Iya, apalagi kita telah membayar ongkos masuk untuk melihat acara ini, dasar raja pelit!” umpatnya.

Di atas panggung, dua orang pangeran duduk, satu pangeran di sebelah kiri panggung tampak gelisah, dengan kaki terus-terusan digerakkan ke lantai, dan satu pangeran tampak tenang, mereka berdua berpakaian sama.

Sementara itu di depan mereka duduk menyimpuh dua orang, seorang pria dan seorang wanita, yaitu Bintang dan Genruo yang sedang menyamar.

“Baiklah, acara penentuan siapa pangeran yang asli akan dimulai, dan bila dua peserta dalam satu tim ini gagal, maka kepala mereka akan dipenggal,” jelas seorang penggawa di acara tersebut.

“Sejauh ini, peserta telah berhasil menangkap satu pangeran palsu, dan sudah berada di dalam kendi yang tertutup ini, tetapi itu belum cukup, karena masih ada satu lagi pangeran palsu yang menjadi tanggungan peserta sebagai konsekuensi penyelesaian kasus ini,” lanjutnya lagi.

“Waaah …,” masyarakat terheran-heran secara bersamaan.

“Ternyata ada yang sudah ditangkap, pantas pangerannya kini ada dua, yang telah ditangkap masuk kendi lagi, wah aneh bin ajaib,” kata salah seorang penonton, yang lainnya tampak setuju dan keadaan ramai dengan bisik-bisik yang ada.

“Baiklah, acara kita mulai, Paduka silakan memberikan tanda,” kata penggawa tersebut.

Tangan paduka raja memberikan isyarat, dan acara pun dimulai dengan bunyi gong dan tarian-tarian pembuka.

“Idemu mengadakan acara ini menjadi bisnis tontonan kepada masyarakat, merupakan ide bagus, keuanganku juga sudah mulai berkurang karena kejadian ini,” bisik raja kepada salah satu menterinya.

“Selalu siap membantu Paduka, sebab saya tahu, peristiwa ini telah menguras biaya, tenaga,  dan waktu, oleh karena itu, dengan menarik biaya atas tontonan ini kepada pengunjung dan penjual makanan, akan ada pemasukan sementara,” jelas menteri tersebut.

Setelah tari-tarian berhenti. “Baiklah, kini ke acara utama, siapa di antara dua pangeran ini yang palsu, pertanyaan kepada Lintang Genderewo. Waktu menjawab saya hitung sampai sepuluh.

“Hamba,” jawab Genruo.

“Satu …,” penggawa tersebut mulai menghitung.

“Eh …, emm …,” Genruo tampak kebingungan.

“Dua ….”

“Em …, eh …,” Genruo masih kebingungan.

“Tiga ….”

“Bintang …, yang mana?” tanya Genruo, matanya melirik ke arah Bintang.

“Aku juga belum tahu …,” jawab Bintang yang tampak kalem, seperti sengaja Genruo agar  ketakutan.

“Empat …”

“Sial,Bintang, bantu aku,” bisik Genruo.

“Lima …”

“Aku juga belum tahu,” jawab Bintang.

“Enam …”

“Sial, kupikir kau temanku,” Genruo tampak sebal.

“Tujuh ….”
“Kan nanti ada juga giliranku,” jawab Bintang.

“Delapan ….”

“Kau jawab sekenanya aja,” saran Bintang.

“Sembilan ….”

“Pangeran yang di sebelah kanan panggung …,” jawab Genruo.

“Sepuluh ….”

“..., yang palsu!” teriak Genruo sembari menunjuk.

“Apa buktinya?” tanya Pangeran yang ditunjuk oleh Genruo.

“Eh …., bukti ya?” Genruo meragu.

“Seret dan penggal dia,” kata Pangeran yang ditunjuk.

Beberapa penggawa segera bergerak dan menyeret Genruo ke area pemenggalan.

“Tunggu, bukankah Genruo eh …, Lintang Genderewo telah memberikan jawaban! Kenapa akan dipenggal?” tanya Bintang.

“Karena tidak hanya asal menjawab, diperlukan bukti, seperti sebelumnya,” jawab menteri yang ada di sana.

“Tunggu, baik, alasan yang masuk akal, tetapi dia satu tim dengan hamba, apakah tidak sebaiknya menunggu jawaban dan bukti dari hamba?” tanya Bintang.

“Tidak menarik, pemenggalan berjalan satu-satu, menjadi hiburan bagi rakyat,” kata menteri itu lagi.

“Oh sial,” kata Bintang.

Kemudian penggawa-penggawa melanjutkan menyeret Genruo ke area pemenggalan.

“Bintaaaaaang,” teriak Genruo.

Tubuh genruo dipegang erat oleh dua orang penggawa yang bertubuh kekar, tangan Genruo telah diikat ke belakang, oleh penggawa lainnya. Kemudian salah satu penggawa menendang kaki Genruo agar bersimpuh.

Kepala Genruo diletakkan di atas kayu besar, seperti batang pohon tua yang telah dipotong halus, dan terdapat sisa-sisa darah kering yang belum sempat dibersihkan, sisa pemenggalan di acara-acara lainnya.
 
Di sebelah Genruo berdiri algojo dengan menggengam kapak yang besar, berat, dan tajam, memastikan sekali ayunan, kepala pasti terpisah.

“Bintaaaang!” teriak Genruo.

Masyarakat bersorak, semakin meriah soraknya saat si algojo mulai mengangkat kapak mautnya tinggi-tinggi, selain menggunakan kekuatan tangan dan tubuhnya, si algojo juga memanfaatkan gaya tarik massa ion Bumi atau gravitasi agar memudahkan dalam memenggal kepala seseorang, menunjukkan algojo tersebut sudah ahli dalam hal ini.

Tangan algojo yang memegang kapak mulai diayunkan ke arah batang leher Genruo, ayunan begitu kuat dibarengi kekuatan gravitasi, tidak dapat dihentikan lagi.

“Bintaaaaaaaang!” teriak Genruo sembari memejamkan mata, tanda tidak siap mati.

“Genruo, menghindar segera!” teriak Bintang.

Mendadak kapak yang dipegang oleh si algojo  terlepas seperti terkena kekuatan energi panas yang keluar dari tangan Bintang. Si algojo tercengang, genggaman kuatnya pada kapak tersebut dapat terlepas. Si Algojo juga melihat Genruo bergulingan ke arah lainnya, dan terlihat berusaha melepaskan ikatan tangannya.

Masyarakat gempar, berlarian menjauhi arena, namun ada juga yang malah menonton dan semakin mendekat.

“Kalian perlu bukti pangeran mana yang palsu, nih!” kata Bintang, sembari menggunakan kekuatannya, energi sangat panas yang terfokus seperti sinar matahari yang dikumpulkan menggunakan lensa cembung keluar dari tangan Bintang, menerpa wajah pangeran yang duduk di sebelah kanan  panggung.

Si pangeran tidak nampak kesakitan, tetapi kulit di wajahnya meleleh, tampak wajah robot, android metal di balik lelehan kulit sintetisnya.

“Whuoooow!” masyarakat yang bertahan menonton terkejut dan sekaligus merasa terhibur.

Setelah ketahuan, dengan cepat si android metal melompat dan menyerang Bintang dengan pukulan mematikan bagi orang biasa.

BLAAAANG!

Pukulan tersebut mental, di saat bersamaan Bintang membuat perisai plasma.

BLANG!
BLANG!
BLANG!
BLANG!
BLANG!
BLANG!

Beberapa kali android metal tersebut melancarkan serangannya dan gagal karena perisai tersebut.

Genruo yang ikatan tangannya berhasil lepas, segera melompat dan mencengkeram kepala android tersebut,  kemudian dengan cepat menarik kepala tersebut dan memisahkannya dari tubuhnya.

CLAAAAKH!
ZRRRRRRRRT!

Genruo berhasil melakukannya.

“Whuooow!” suara masyarakat yang menonton terkagum dan terhibur.

Kemudian Genruo memegang kepala android tersebut, sedangkan tubuh android seolah tetap hidup dan berjalan, bergerak merangkak.
Sinar panas keluar dari tangan bintang, kemudian melelehkan tubuh android tersebut.

Tepuk tangan meriah dari masyarakat yang menyaksikan kejadian tersebut, masyarakat yang sebelumnya berlarian menjauh, kini berlari mendekat, mulai berkerumun lagi.

“Apa tujuanmu ke waktu ini dan menyamar menjadi pangeran?” tanya Genruo.

“Ke waktu ini? Aku berasal dari waktu ini, aku menyamar karena ingin menguasai kerajaan ini,” jawab potongan kepala android tersebut.

“Oh, baiklah,” jawab Genruo.

“Paduka, kepala ini akan saya bawa, dan juga kendi berisi si pangeran palsu tersebut,” kata Genruo sembari menunjuk kendi yang dimaksud.

Sang raja masih terlihat bengong, dengan tergagap menjawab,“Baik-baik, lakukan apa maumu.”

Melihat hal ini, segera sang menteri dengan sigap mengumumkan,“Lintang Genderuwo dan Unggul Kartiko menjadi pemenang sayembara ini, seperti janji kami, Lintang Genderuwo akan menjadi istri pangeran dan Unggul Kartiko akan menjadi saudara pangeran, sayembara dinyatakan ditutup.”

Tepuk tangan meriah masyarakat yang berkunjung terdengar membahana, bahkan ada yang berteriak,”Pertunjukkan hebaaaat!”

*

 “Calon istri,” canda Bintang.

“Sial, memangnya aku, pecinta sesama?” tinju Genruo kepada Bintang.

“Pilihanmu dengan tampilan wanita yanc cantik dan seksi, tentu ada konsekuensinya bukan,” jawab bintang sembari menepuk pantat Genruo.

“Hentikan!” teriak Genruo.

“OK, yang aku heran, kenapa ada android canggih di masa ini, bukankah ini masa kerajaan?” tanya Bintang ke Genruo.

“Ada baiknya kau tanyakan langsung pada android yang tinggal kepalanya itu, sepertinya energinya juga dari sinar matahari, dan sekilas aku lihat juga dari energi air, aku lihat tank air di tubuhnya yang kau lelehkan itu,” jelas Genruo.

“Siapa namamu android?” tanya Bintang.

“Xbnn45,” jawab android tersebut.

“Kau dibuat oleh siapa dan tahun berapa?” tanya Genruo.

“G, 1157,” jawabnya.

“Dibuat tahun 1157,” jelas Genruo,”Tapi huruf G, masih misteri, ada banyak arti.”

“G bisa Genruo, G bisa Gautama, G bisa Mr. G,” Bintang menerka.

“Ada potensi besar Mr. G,” kata Genruo.

“Atau karena kau ketakutan, tidak selalu semua masalah Mr. G yang membuatnya bukan?” jelas Bintang.

“Kau benar, bisa saja inisial yang lainnya, sebab tidak hanya satu yang memiliki inisial G.”

“G singkatan dari apa?” tanya Bintang.

“Info rahasia,” jawab android tersebut.

“Rahasia, sial,” gerutu Genruo,

“Gunakan komputer tangan milikmu, hack informasi yang dikepalanya, aku yakin kau tahu dia pangeran palsu dari scan karena komputer di tanganmu bukan?” saran Genruo.

“Kau benar, sepertinya kita terlalu lama di zaman ini, sehingga lupa cara berpikir zaman asal kita,” Bintang menepuk pantat Genruo lagi.

“Ah kau mulai ketagihan ya dengan keseksianku, sepertinya mental yang perlu dipertanyakan adalah dirimu!” Genruo cemberut.

“He he he kalau cemberut tambah cantik!” cubit Bintang ke dagu Genruo.

“OK, mari kita lihat, apakah teknologi kita bisa tersambung dengan teknologinya, ah …, dia juga sudah memiliki teknologi wireless,” kata Bintang.

“Akses dilakukan …,” kata komputer yang ada di lengan Bintang.

“Shutting down, and erasing all data,” kepala android berkata demikian.

“Sial, sepertinya kita ketahuan, sehingga data pembuatnya dihapus, dan systemnya off,” keluh Bintang, kemudian memukul kepala android yang tampak sudah tidak berfungsi lagi.

“Eh …, tidak berhasil ya,” Genruo tampak kecewa.

“Lupakan, kita cari solusi lainnya,” Bintang menghibur dirinya.

“Satu yang pasti, system-nya menggunakan bahasa Inggris,” Genruo memberikan petunjuk.

“Ya, dan bahasa Inggris menjadi bahasa pengetahuan sejak abad 20-an, di mana sebelumnya adalah bahasa Jerman,” jelas Bintang.

“Tetapi dia bilang, dia dibuat di tahun 1157, adakah potensi memang benar dia dibuat di tahun ini, lalu si pembuat berasal dari masa depan, seperti kita?” Genruo menambahkan.

“Teorimu ada potensi benarnya,” Bintang tampak setuju.

“Kukira tidak banyak penjelajah waktu, tapi luar biasa, kita menemui salah satu jejaknya di sini,” gerutu Genruo.

“Ada potensi mesin pelacak pelaku penjelajah waktu tidak ada di semua zaman, hal ini yang menjadi kendala, di zaman kita ada, tetapi di zaman lainnya?” bintang menambahkan.

“Apakah polisi waktu sudah dibuat?” tanya Genruo.

“Setahuku, di zaman kita, polisi waktunya kita percayakan pada Timox, tetapi pendeteksi waktu di masa kita juga baru awal-awalnya saja, ada potensi generasi berikutnya pendeteksi penjelajah waktu akan lebih canggih,” jelas Bintang.

“Ada kekosongan juga, balik ke awal lagi, siapa yang mengawasi para penjelajah waktu di zaman-zaman sebelumnya? Bukankah lebih baik bila semua zaman diawasi oleh penjelajah waktu?” Genruo menatap ke Bintang.

“Genius, hal ini perlu didiskusikan kepada para pengawas waktu, atau mungkin sudah ada saat ini dan mengawasi kita?” Bintang meragu.

“Kalau mengawasi, kenapa kita lolos-lolos saja ke zaman ini dan ada android ini di masa ini?” Genruo menambahkan keraguan lain.

“Kau benar,” jawab Bintang.

*

ZAP

Sriera melihat ke Gororagu yang terlebih dulu berada di sana.

“Detektor DNA menunjukkan mereka di sana,” semoga kali ini waktunya tepat.

Koordinat X: 2.674.948  Koordinat Y: 12.675.658  Koordinat Z: 89.655.987 ala koordinat mesin teleport jelajah lintas ruang, waktu, dan frekuensi di masa depan.

Dua mahluk cerdas sejenis serangga sedang berkomunikasi.

“CTTTKK TTTK WRRR ” kata mahluk serangga berwarna hijau gelap itu.

“CTK CTRK KKR WRKRK ” kata mahluk serangga lainnya yang berwarna agak coklat .

“Tapi sayangnya aku tidak pernah melihat mahluk ghaib itu, namun memang tempat ini membuatku merinding!” kata Serangga warna hijau gelap (terjemahan).

SWOOOOOOOOOSSSSH!

“Whaaaaaaaa!” kedua serangga itu bersamaan saat melihat seberkas cahaya mendadak muncul di depannya.

Dan Kemudian Gerhana dan Awewe muncul di sana seolah dari tidak ada menjadi ada, ghaib!.

WWWRRRRRR

Melihat hal itu. serangga berwarna hijau gelap melompat cepat dengan sayap yang bergerak cepat, menjauh dari tempat tersebut. Tubuhnya sempat membentur pohon besar, lalu jatuh dan segera melompat lagi dengan cepat meninggalkan tempat tersebut.

Serangga coklat tua gemetaran, tidak kuasa untuk bergerak, serasa lumpuh karena ketakutannya sendiri.

“Ha ha ha lucuuu!” Gerhana tertawa terpingkal-pingkal memegang perutnya.

Awewe tersenyum kemudian terbang dengan menggunakan sayap kelelawarnya mendekati serangga coklat tua yang sepertinya karena takut sampai buang air di tempatnya.

“Berkatalah!” kata Awewe kepada serangga coklat besar tersebut.

“Sepertinya dia tidak akan bisa mengerti bahasa kita, entah apa bahasa serangga apa yang dia gunakan” kata Gerhana sembari melayang mendekati Awewe.

“Kalau ingin menguasai mereka, kita harus belajar bahasa mereka” kata Awewe.

“Benar sekali sayang, kita harus menyamar dalam bentuk tubuh mereka terlebih dahulu” kata Gerhana.

“Untung teknologi pengubah frekuensi mata dan pikiran mahluk yang evolusinya sederhana ini mudah dimanipulasi, ubah pikirannya saat melihat tubuh kita tampilannya seperti spesies mereka Gerhana” kata Awewe.

“Selesai, sharing penampilan” kata Gerhana sembari memencet salah satu alat yang ada di tangannya.

“Sip, sudah ter-copy juga di komputer bioku” kata Awewe.

“Sayangnya dengan scan DNA ini, kalian tidak dapat menipuku,” kata Gororagu.

“Gororagu, generasi penerus Rangga, Komodo, detektif swasta, kau menjijikkan, seolah mencari makan tidak dapat dengan usaha lain, masa telah berubah!” cibir Awewe.

“Ha, kau pikir punya hak untuk mengaturku? Mengatur pilihan hidupku?” tanya Gororagu sembari terbang dengan kepala di bawah dan kaki di atas.

“Aku hanya bertahan hidup, menjadi detektif swasta seperti leluhurku, Rangga,” jelas Gororagu kepalanya mendekat ke wajah Awewe, yang kemudian meng-off-kan penyamarannya dari wajah dan tubuh serangga merah kembali ke tubuh dan wajah aslinya.

“Eh jangan coba-coba berbuat mesum dengan perempuanku!” Gerhana dalam bentuk serangga mengeluarkan energi dari tangannya warna keunguan.

“Gerhana, lama tidak jumpa, saudaramu memerlukanmu untuk hadir di penjara Bumi,” mata Gororagu mengarah ke Gerhana.

“Coba kalau bisa,” tantang Gerhana.

“Sudahlah, kalian hanya manusia rekayasa genetik, tidak sepadan dengan aku, manusia evolusi murni, generasi langsung dari Rangga, Komodo, kekuatanku seperti kekuatan mistik bagi kalian, padahal itulah kekuatan evolusi, sulit untuk dicerna,” kata Gororagu.

“Kau memandang rendah manusia rekayasa genetik,” Gerhana geram.

“Oh tidak, cuma rekayasa genetik itu, seperti mesin, aku tahu tombol on dan off-nya, karena buatan” jawab Gororagu tersenyum.

Mendadak kekuatan pancaran energi di tangan Gerhana menjadi padam. Gerhana kebingungan, diusahakannya berkali-kali untuk mengeluarkannya lagi, tidak berhasil.

“Ah Gerhana, ada apa? Mendadak tidak punya kekuatan? Terdiam tak mampu bicara?” ejek Gororagu.

“Sial,” kata Awewe, yang juga tidak mampu menggerakkan sayapnya.

“Baiklah, pekerjaan ini sangat mudah, hanya berliku saja, mengejar kalian lintas waktu dan ruang,” Gororagu tersenyum, lalu menyiapkan alat-alat untuk menahan Gerhana dan Awewe.

Melihat gelagat tersebut, Gerhana dan Awewe mendadak berlari. Tetapi Langkah mereka terhenti, karena tubuh mereka dilibat oleh Sriera.

“Terima kasih Sriera,” Gororagu berjalan sembari membawa borgol untuk Gerhana dan Awewe.

*

Selo Adimulyo 3000, ruangan tahanan sementara dek 37.

“Siapa di antara kalian yang bernama Gnash?” tanya Kapten Zhuluk.

“Kau menanyakan ibuku?” tanya seorang pria di dalam tahan tersebut.

“Ibu?” tanya Kapten Zhuluk.

“Iya ibu kami, telah meninggal 20 tahun lalu, dan kini memory-nya ada di Android yang berada di rumah kami, sekarang dia menjadi android,” jelas pria tersebut.

“Bukankah dia seorang pria?” tanya Kapten Aghata kepada Kapten Zhuluk.

“Iya dia seorang pria, ada potensi dia mengubah kelaminnya dengan rekayasa genetik,” jawab Kapten Zhuluk.

“Ah kini kuserahkan padamu, kau akan menahan seorang android karena kejahatannya? Sedangkan dia sudah punya anak dan cucu,” jelas Kapten Aghata.

“Apakah manusia yang memory-nya ditransfer ke android juga masih menjalani penahanan?” tanya Kapten Aghata.

“Kejahatan adalah kejahatan, selama memory-nya ada di sana, dialah pelakunya,” jawab Kapten Zhuluk tegas.

“OK, Sela 3000, teleport-kan android yang dimaksud dari lokasi sebelumnya di keluarga tersebut ke tahanan sini,” perintah Kapten Aghata.

“Laksanakan!” Sela 3000 menjawab.

ZAP

Seorang Android bertubuh wanita muncul di sana.

“Zhuluk!” teriak android tersebut.

“Kau mengenaliku Gnash,” Kapten Zhuluk tersenyum.
 
 *

“Z-ion di mana kita? Sepertinya tidak ada perubahan koordinat,” Kapten Adamusha bertanya ke pesawat tersebut.

“Benar kapten, koordinat tetap, tetapi waktu berubah, kita terlempar ke masa lalu lebih jauh lagi,” jelas Z-ion.

“Kabar buruk Kapten, mesin kita benar-benar rusak total, kita tidak akan bisa ke mana-mana lagi, kita terjebak di ruang dan waktu ini,” jelas Lux Dechipered.

“Sial!” teriak Kapten Adamusha.

“Scan teknologi dan mahluk cerdasnya,” Pinta Kapten Adamusha.

“Reptilian, teknologi tingkat menengah, masih menggunakan peluru dan teknologi tingkat api, belum terdeteksi tingkatan ion,” jelas Lux Dechipered.

“Benar-benar terjebak, scan alien teknologi canggih di masa ini!” pinta Kapten Adamusha.

“Terdeteksi, dua pesawat alien kelas peneliti, tingkatan teknologi sudah ion, tetapi tidak akan dapat mengganti suku cadang pesawat canggih kita, perlu ribuan tahun lagi agar menyamai teknologi kita,” jelas Lux Dechipered.

“Lebih sial lagi,” Kapten Adamusha menggerutu.

“Ya Kapten, keadaan yang tidak menguntungkan, kadang datang bertumpuk,” jelas Lux Dechipered.

“DIAAAM!” teriak Kapten Adamusha.

*

“Keberuntunganku hanya untukku, bukan untuk yang lainnya!” teriak Shrika.

“HUGH …, UFFF!” Togar mulai sangat kesulitan bernapas.

“Itulah yang menjadi masalah bukan, keberuntunganmu hanya untukmu, tidak untuk yang lainnya, jadi kalau anakmu ini mati di tanganku, maka dia akan mati, karena keberuntunganmu untukmu saja, bukan untuk dia,” Mr. G tersenyum bengis.

“Baik, lepaskan dia! Aku ikuti kemauanmu!” teriak Shrika tampak memohon.

“Kau bersungguh-sungguh?” tanya Mr. G semakin menekan leher Togar, terlihat Togar mulai berkelojotan tidak dapat bernapas.

“Iya!” teriak Shrika sembari berlutut.

BRUGH

Togar jatuh ke lantai, dan segera mengambil napas dalam-dalam untuk mengisi kekosongan oksigen di paru-parunya dan wajahnya perlahan mulai terisi darah dan oksigen lagi.

Shrika menubruk Togar dan mengelus-elus wajahnya, sembari sesenggukan.

“Ayo ikut aku!” perintah Mr. G.

Shrika perlahan berdiri, kemudian mengelus wajah  anaknya lagi.

“Mama, jangan turuti dia, dia jahat!” pinta Togar.

“Mama harus melakukannya, agar kalian selamat, mama akan terus beruntung, jangan khawatir, rawat adik-adikmu, sama seperti mama merawatmu,” pinta Shrika sembari berjalan mendekati Mr. G.

Setelah Shrika mendekati Mr. G, sejenis energi membuat area di mana Mr. G dan Shrika seperti dilingkupi udara yang bergerak seperti air.

ZAP

Mereka menghilang entah ke mana.

*

Buto Ijo berlari, suara sirine terdengar seperti mengejar ke arahnya.  Buto Ijo berhenti sesaat untuk menyakinkan dirinya. Tapi terlambat, beberapa motor terbang teknologi ion sudah di areanya.

“Kau alien berkulit hijau, tidak terdaftar dalam penduduk sini, silakan menyerahkan diri atau kami tangkap dengan paksa,” perintah salah seorang pengendara motor terbang teknologi ion.

Buto Ijo segera meletakkan tangannya di atas kepala tanda menyerah.

“Langkah yang bijak, tangkap dan bawa dia ke markas untuk dipulangkan ke planet asalnya,” perintah orang tersebut lagi.

*

“Dia berbahasa Jawa Kuno, dia alien yang berbahasa Jawa Kuno, dia mengaku namanya Buto Ijo,” jelas staf kepolisian antar planet bagian exoimmigration.

“Tanya apa dia tahu Timun Mas? Ha ha ha!” ejek staff lainnya.

“Nuwun inggih kawula tepang[ Iya saya kenal]!” jawab Buto Ijo.

“Ha ha ha ha ha!” yang lain tertawa.

“Sungguh?” tanya salah satu staf yang ada di sana keheranan dan tampak percaya.  Terlihat translasi bahasa ada di retina matanya.

*

16 Agustus 1945 pukul 14.00 WIB, tahun 1945. Djakarta. Perkumpulan Menteng 31.

“Soekarno dan Hatta sudah di dalam mobil,”  teriak seseorang, “Ayo tancap gas!”

Mobil melaju kencang ke arah Rengasdengklok Karawang.

“Aku tidak percaya kalian melakukan ini!” teriak seseorang di dalam mobil.

“Kalian menculik Ketua PPKI dan wakilnya!” teriaknya lagi.

“Kami tahu siapa yang kami culik!” jawab seorang penculik di dalam mobil penculik.

“Diam!” teriak penculik lainnya.

“Sial, beberapa temannya mengejar mobil kita!” pengemudi mobil penculik berteriak.

“Kuharap mereka siap!” jawab pemuda di samping pengemudi tersebut.

“Sepertinya di area ini, sudah saatnya!” teriak pemuda di sampingnya.

Mendadak pohon tumbang di belakang mobil penculik, menghalangi mobil pengejar. Tampak dikejauhan beberapa orang yang menumbangkan pohon berlarian menjauhi area jalanan tersebut.

“Sudah kubilang, rencana ini akan berhasil!” kata pemuda di samping pengemudi.

“Sejauh ini iya, tinggal langkah berikutnya,” kata pengemudi tersebut yang mulai tampak lebih santai karena tidak ada pengejaran lagi.

Sekelebat bayangan mengikuti pergerakan mobil tersebut.  Bayangan tersebut tampak berlari sangat cepat, kemudian berhenti di depan mobil yang penculik yang melaju kencang, untuk menghindari menabrak orang tersebut pengemudi membanting setir ke kanan, ke area luang.

“Orang itu mau mati!” teriaknya.

“Untung tidak kena, ayo jelan terus,” kata pemuda di sampingnya.

Karena usahanya gagal, orang yang mampu bergerak cepat akan berlari lagi, mendadak tubuhnya dipegang oleh seseorang dan dilemparkan menabrak sebatang pohon.

BRUGH!

Orang yang mampu berlari cepat matanya melihat ke satu arah. “Siapa kau?”

“Sejarah jangan diubah,” kemudian orang tersebut bergerak ke area yang lebih terang.

“Sejarah? Aku tidak mengubah sejarah, aku berusaha agar rencana terbentuknya negara baru Republik Indonesia tidak terganggu karena para penculik-penculik itu,” jelasnya.

“Karena ulahmu, nanti sejarah akan berubah,” jelas orang tersebut.

“Aku tidak mengerti,” jawab orang tersebut.

“Kau akan mengerti nantinya, Selo,’ kata orang tersebut.

“Kau tahu namaku?” tanyanya lagi.

“Aku tahu semua tentang dirimu,” jawab orang bertopeng tersebut.

“Oh ya, tahukah kau tentang ini!”

ZRAAAAT
ZDAAAAAAR!

Energi petir berupa lompatan listrik yang sangat kuat menerjang tubuh orang bertopeng tersebut.

“Energi penuh, kapasitas tersimpan sejuta kali lipat,” suara muncul dari mulut orang bertopeng tersebut.

“Terima kasih, Aku Ang3l Mich43l, polisi lintas ruang dan waktu, penjaga sejarah,” jawab orang tersebut.

“Oh, penjelajah waktu, kukira hanya mitos,” jawab Selo.”Baiklah kalau begitu, akan aku laksanakan.”

“Terima kasih telah mengikuti saran kami, untuk menjaga sejarah.”

ZRRRT

ZAP

Ang3l Mich43l meninggalkan area tersebut, dan Selo masih berdiam diri di sana tampak takjub

*

2018.Masa kini, Selo termenung di istana kepresidenan.

“Apakah karena aku sejarah berubah?” galaunya kepada Maung Bodas.

“Entahlah, yang kulihat kau membawa banyak perbaikan untuk membenahi sistem pemerintahan kita yang bobrok selama ini,” kata Maung Bodas.

“Aku pernah bertemu dengan polisi waktu di masa lalu, untuk tidak melakukan perubahan, tetapi kini, mereka tidak muncul untuk mengingatkanku agar tidak mengubah sejarah, seperti yang pernah aku lakukan dulu,” jelas Selo Adimulyo.

Bersambung....


Cerbung ini ada di majalah AN1MAGINE Volume 3 Nomor 8 Agustus 2018 eMagazine Art and Science yang dapat di-download gratis di Play Store, share yaa


“Menerbitkan buku, komik, novel, buku teks atau 
buku ajar, riset atau penelitian di jurnal? An1mage jawabnya”

AN1MAGINE BY AN1MAGE: Enlightening Open Mind Generations
AN1MAGE: Inspiring Creation Mind Enlightening 
website an1mage.net www.an1mage.org

Komentar

Page Views

counter free

Visitor

Flag Counter

Postingan populer dari blog ini

STANLEY MILLER: Eksperimen Awal Mula Kehidupan Organik di Bumi

Menerbitkan buku di An1mage

CALL FOR CHARACTERS - ICF3 - exhibit your original characters globally for free