CATATAN DARI LEE HONG: Pengambilalihan

https://suratno1.files.wordpress.com/2010/10/ca04.jpg?w=1024


CATATAN DARI LEE HONG:
Pengambilalihan
Archana Universa


Empat puluh tujuh lantai. Pusat kota. Terletak di kawasan segitiga emas. Jantung bisnis ibu kota Aera.

"Designnya bagus. Bagaimana pendapatmu?" Lee Jung menoleh ke arahku, nyengir lebar.

"Kurasa pendapatku tidak penting di sini, sejak kapan kau peduli dengan pendapatku?" gerutuku.
Lee Jung terkekeh. Jelas tidak merasa keberatan telah kusindir.

Keras kepala, egois, seenaknya. Kadang aku tidak antusias dengan kenyataan bahwa Lee Jung adalah kakak laki-lakiku. Tapi mungkin sedikit banyak kami mirip. Bukan secara fisik. Aku sedang membicarakan sifat kami berdua.

Seorang berseragam security mendekati kami berdua dari arah taman samping.

"Tuan Lee?" tanyanya, tidak terlihat senang. Wajahnya tegang.

"Benar!" seru Lee Jung penuh semangat. Senyumnya maksimal. Terlalu sumringah.

"Tuan Kim sudah menunggu Anda di kantornya, silakan ikuti saya," pinta si petugas keamanan.
Dia melambaikan ID card di sensor, membuka pintu gedung.

Kami masuk ke dalam. Gedungnya sepi. Gelap, tidak banyak lampu yang menyala. Eskalatornya mati. Tapi liftnya dapat berfungsi.

"Saya tidak menyangka masih ada orang yang mau membeli gedung ini. Anda mau menggunakannya buat apa? Wisata gedung berhantu?" cerocos si petugas yang menekan angka lima dengan telunjuk kanannya.

"Hantu? Saya rasa tidak ada hantu, Pak," balas Lee Jung sembari melirik ke arahku, nyengir lebar.

"Anda harus percaya, banyak yang mengalami hal-hal mengerikan di tempat ini," gerutunya. "Bahkan rekaman CCTV-nya sudah beredar luas di internet."

"Apa ada yang mati di tempat ini?" tanya Lee Jung pura-pura bodoh, tapi aku tahu ia sedang berusaha untuk tidak terkekeh geli.

"Mungkin, atau mungkin tanah ini bekas pemakaman. Jadi banyak hantunya," geram si petugas keamanan. "Investasi yang buruk kalau saya boleh berkomentar."

"Terima kasih atas informasinya, Pak. Hanya saja saya sulit menemukan gedung lain di tempat strategis macam ini dengan harga miring," celetuk Lee Jung.

"Bukan hanya miring, tapi jatuh tersungkur! Meski rugi banyak, percaya atau tidak pemiliknya bersyukur ada yang mau membeli gedung ini," kata si petugas keamanan.

"Saya juga bersyukur ada gedung dengan harga sebagus ini," senyum Lee Jung.

Petugas keamanan menggerutu tidak jelas. Tampaknya tidak ingin lagi meyakinkan Lee Jung bahwa pilihannya membeli gedung ini merupakan suatu kesalahan.

Aku melirik Lee Jung yang memberikan kedipan mata padaku.

Lift berhenti dan berbunyi. Pintunya terbuka.

"Kantor Pak Kim ada di ujung lorong ini. Ruangan dengan lampu yang menyala," jelas si petugas yang tidak keluar bersama kami.

"Terima kasih, Pak!" seru Lee Jung senang.

Begitu lift bergerak turun Lee Jung langsung memasang ekspresi kesal. "Menyebalkan sekali Si Petugasnya, Hong!"

"Kupikir kau menyukainya," ledekku.

"Yang benar saja!" keluhnya. "Terlalu banyak omong, terlalu banyak gosip."

"Kau harusnya berterima kasih dengan orang-orang yang gemar menyebarkan berita negatif seperti itu. Tanpa mereka, kau tidak akan bisa membeli gedung ini dengan cepat," ujarku.

"Benar juga. Tapi tetap saja aku tidak ingin punya karyawan macam dia," tutur Lee Jung.

Kami mengikuti petunjuk si petugas. Tidak sulit menemukan ruangan yang dimaksud karena sebagian besar ruangan tidak ada yang mengisi.

Orang yang bermarga Kim nampak sumringah melihat kami datang. Keringat sebesar jagung terdapat di dahinya. Ruangannya panas, ACnya tidak menyala. Untung saja liftnya dalam keadaan ON.

"Senang bertemu dengan Anda lagi Tuan Lee. Seperti yang sudah saya janjikan, berkas notarisnya sudah siap. Sertifikatnya memang belum atas nama Anda, tapi sudah masuk proses untuk pengalihan nama. Mulai besok Anda bisa menggunakan gedung ini," jelas Tuan Kim dalam satu tarikan napas.

"Terima kasih atas kerjasamanya, Tuan Kim," jawab Lee Jung seraya menerima dokumennya. Mereka berdua kemudian berjabat tangan.

Lee Jung kemudian pamit dengan alasan ada meeting di tempat lain. Padahal kami hanya akan mencari tempat untuk makan siang.

Siang itu kondisi Kota Aera begitu terik. Cerah, mirip suasana hati Lee Jung.

"Kau harus mentraktirku makan enak, hyung," tuntutku. Permintaan yang mudah.

"Apa yang kau inginkan?" balas Lee Jung.

"Apa pun asal bukan spagetti bolognese," kataku dengan nada mengeluh.

Lee Jung terkekeh mendengar ucapanku. "Kejadiannya sudah tiga bulan yang lalu tapi kau masih menghindari makanan tersebut. Sayang sekali, padahal spagetti bolognese sudah masuk dalam daftar makanan favoritku!"

*

Tiga bulan yang lalu....

Malam belum terlalu larut. Tiga jam sebelum tengah malam. Namun kebanyakan penghuni gedung tersebut sudah pulang. Hanya ada beberapa karyawan yang masih bertahan demi sesuap nasi.

Shift malam ada kekurangan dan kelebihannya. Kekurangannya tentu mengganggu waktu istirahat normal. Kelebihannya? Lebih santai. Tapi tetap saja kantuk tidak mudah diusir.

Aku ingat, ada dua karyawan laki-laki dan tiga perempuan. Berlima, menghadap layar komputer. Jari-jari mereka sesekali menari di keyboard buat menjawab pertanyaan dari para user.

Customer service yang harus terkesan ramah selama dua puluh empat jam. Tujuh hari dalam seminggu. Entah sungguhan ramah atau seolah-olah ramah agar pekerjaan mereka bisa dilanjutkan.

Awalnya tentu sangat mudah. Pintu terbuka tanpa terlihat ada yang membukanya. Mata bisa menipu, tentu saja. Siapa suruh mengandalkan indra penglihatanmu?

Sontak, kelima karyawan yang tadinya asyik dengan komputernya sembari sesekali mengobrol langsung mematung.

Ketika pintu terbuka, saat itulah aku dan Lee Jung masuk. Berbeda denganku yang bersiap di dekat saklar pintu, Lee Jung malah berkeliling area yang sudah dikenalnya. Ini bukan pertama kali kami hadir di sini.

Lee Jung sudah menyusuri tiap jengkal gedung ini. Ia sudah melakukannya selama sebulan belakangan, tapi benar-benar hanya untuk eksplorasi, tidak seperti niat kami malam ini.
Sementara aku baru tiga malam terakhir kemari.

"Tutup pintunya gih, Rey?" sahut salah seorang karyawan yang memakai baju warna peach.

"Ogah! Kamu aja!" tolak si karyawan gendut yang dipanggil Rey.

"Jangan berantem. Biarin aja pintunya," usul cewek yang memakai kacamata.

Mereka berlima kemudian terdiam lagi. Jika sebelumnya antar karyawan itu saling bercanda, kini tidak ada yang bicara. Raut wajah tegang. Sesekali mereka melirik ke arah pintu ruangan.

Lee Jung tentu tidak mau menunggu lama. Ia segera memberi isyarat supaya atraksi malam ini segera dimulai.

Jika jari-jari karyawan ada di tuts tuts keyboard, jariku memainkan saklar lampu. Aku mematikan lampunya. Klise memang, tapi cara ini efektif untuk menakut-nakuti.

"Gelap. Makin serem gak sih?" cicit si pegawai perempuan yang memakai sandal dengan nama salah satu hotel. Ia meremas-remas boneka kelincinya.

"Rey, nyalain dong lampunya. Sekalian tutup pintunya," pinta si karyawan berbaju peach.
"Guh, temenin," desah Rey pada karyawan cowok di sebelahnya.

Kedua karyawan itu mendekatiku. Rey memilih menutup pintu sementara temannya menekan saklar supaya lampu kembali menyala.

Aku bergeser sedikit supaya tidak bertabrakan dengan temannya si Rey. Stealth mode, tapi frekuensi kami masih sama. Jadi kami bisa bertubrukan.

Pintu sudah ditutup, lampu telah kembali menyala. Kedua karyawan cowok kembali ke meja mereka. Sementara tiga karyawan perempuan masih terlihat pucat.

Aku hendak mematikan lampu lagi saat Lee Jung mencegahku.

"Aku punya ide yang lebih baik," seringainya.

Jadi aku menarik salah satu bangku dan duduk di atasnya, lupa kalau hal tersebut dilihat sebagai "peristiwa kursi yang bergerak sendiri" oleh orang-orang di ruangan ini.

Lee Jung mulai membuat keributan. Melempar keluar box berisi file dari lemari. Tidak perlu menunggu hingga hitungan kesepuluh, lima karyawan kabur kocar-kacir meninggalkan ruangan.

Lee Jung tertawa keras. Tapi aku segera memperingatkannya, bahwa ada CCTV diruangan ini. Siapa tahu suara kami bisa ditangkap juga. Jadi ada baiknya Lee Jung menutup mulutnya sebelum mengatakan hal-hal yang tidak penting.

Beruntung Lee Jung segera menangkap isyaratku. Ia menggerakkan mulutnya tanpa suara, "Aku lapar!"

Jadi dia mulai mengarah ke pantry dan mendapati lima kotak spagetti bolognese di dalam lemari pendingin. Tebakanku, makanan itu milik kelima karyawan yang sudah kabur tadi.

Kurasa rasa laparnya menghilang dengan cepat. Bukannya memanaskan spagettinya menggunakan oven, ia malah membawa lima kotak makanan itu ke area kerja dan melemparkannya sembarangan.

Tidak berhenti disitu, Lee Jung membuang kertas ke lantai. Menjatuhkan dispenser dengan galon di atasnya. Mengobrak-abrik meja karyawan seperti orang gila.

Lee Jung membuat keonaran tidak hanya di lantai tersebut, kami juga menyatroni lantai lain.

Kadang aku hanya menonton tingkah gilanya, kadang ikut-ikutan  merusak properti di gedung ini. Misalnya menjatuhkan pot pajangan. Ada juga karyawan yang memelihara ikan di kantor. Aku menuangkan wadah ikan tersebut, membiarkan airnya membasahi karpet dan menikmati tiap detik kala ikan tersebut meronta, memohon untuk mati.

Lee Jung kehabisan energi pukul dua pagi. Kami turun, berniat meninggalkan gedung yang diincarnya ini. Tapi sebelum keluar, kami berpapasan dengan dua orang petugas keamanan.

Dengan sengaja, Lee Jung menjulurkan kakinya yang panjang sehingga salah satu petugas tersandung kemudian jatuh menghantam ubin marmer yang keras.

Itu adalah malam pertama kami beroperasi untuk mengambil alih gedung ini. Masih ada beberapa malam mencekam lainnya yang kami timbulkan.

Meski begitu, ketakutan sudah menyebar. Menggelinding bagai bola salju yang kian besar terutama setelah rekaman CCTVnya beredar luas di internet.

Tentu saja pengunggahnya adalah Lee Jung yang masuk ke ruang keamanan dan mengambil rekaman atraksinya.

*

Kembali ke masa kini.

"Kau bisa pesan pizza sementara aku pesan spagetti bolognese," ujar Lee Jung sembari menunjuk salah satu restoran yang ada di dekat gedung yang kini telah menjadi miliknya.

"Kau hanya mentraktir pizza setelah aku banyak menghabiskan malam bersamamu di dalam gedung itu?" protesku.

"Yup! Benar! Aku akan mentraktirmu pizza seumur hidup, Lee Hong!" serunya, riang.


Cermin ini ada di majalah AN1MAGINE Volume 3 Nomor 8 Agustus 2018 eMagazine Art and Science yang dapat di-download gratis di Play Store, share yaa


“Menerbitkan buku, komik, novel, buku teks atau 
buku ajar, riset atau penelitian di jurnal? An1mage jawabnya”

AN1MAGINE BY AN1MAGE: Enlightening Open Mind Generations
AN1MAGE: Inspiring Creation Mind Enlightening 
website an1mage.net www.an1mage.org

Komentar

Page Views

counter free

Visitor

Flag Counter

Postingan populer dari blog ini

STANLEY MILLER: Eksperimen Awal Mula Kehidupan Organik di Bumi

Menerbitkan buku di An1mage

CALL FOR CHARACTERS - ICF3 - exhibit your original characters globally for free