GENETIX: Manusia Rekayasa Genetik


GENETIX:
Manusia Rekayasa Genetik
M.S. Gumelar


“Aku berani bayar mahal agar aku bisa memiliki kemampuan teleport lintas ruang dan waktu!” teriak orang berwajah remaja 19 tahunan kepada Respati Adinata.

“Berapa yang berani kau bayar itu?” tanya Respati.

“Mana daftar harganya?” tanya orang tersebut.

“Baru tertransfer di akun sosial mediamu,” jawab Respati.

“Aaah, aku berani 10 kali lipat dari harga termahal yang ada di daftar ini!” jawab orang tersebut saat menerima datanya yang terpampang di monitor retina matanya secara hologram.

“Sepuluh kali lipat tidak akan menggoyahkanku, kemampuan teleport lintas ruang dan waktu perjanjiannya sangat ketat, banyak anggota dewan yang perlu disuap dengan tidak sedikit, karena potensi mengubah masa depan di masa lalu sangat berisiko,” jawab Respati.

“Terlebih lagi, kemampuan itu tidak masuk dalam daftar rekayasa genetik yang aku berikan,” jelas Respati.

“Ah kalau sepuluh kali lipat kau bergeming, bagaimana kalau seratus kali lipat?” orang itu tersenyum menyeringai.

“Tidak,” jawab Respati.

“Seribu kali lipat?” tanya orang tersebut seringainya lebih lebar.

“Tidak,” jawab Respati.

“Sejuta kali lipat?” tanya orang tersebut seringainya lebih lebar lagi.

“Tidak,” jawab Respati.

“Sebiliun kali lipat?” tanya orang tersebut seringainya  lebih lebar lagi dari sebelumnya.

“Tidak,” jawab Respati.

“Setriliun kali lipat?” tanya orang tersebut seringainya  paling lebar.

“Tidak,” jawab Respati.

“Huh,” orang tersebut tampak sedih. “Baiklah ini yang terakhir.”

“Sedesiliun kali lipat?” tanyanya dengan wajah cemberut.

“Baiklah!” jawab Respati cepat,”Tanda tangani surat-surat ini, dan ingat, penyalahgunaan kekuatan akan diberikan sangsi hukuman dengan bukti yang dikumpulkan!”

Dengan lesu orang tersebut menandatangani perjanjian tersebut.

“Proses rekayasa genetik akan dilakukan dua hari lagi, siapkan diri, dan dana sudah wajib tertransfer nanti sore, terakhir pukul 17.00 Waktu Megacity, terima kasih banyak,“ Respati menjelaskan dan mempersilakan orang tersebut ke luar ruangan di temani oleh seorang asisten wanita.

Saat di luar, orang tersenyum menyeringai, seringai kemenangan.

*

Satu orang muncul keluar dengan bersimpuh mundur dari ruangan besar area singgasana raja. Wajahnya tampak lesu, kecewa. Kemudian berjalan ke arah luar melewati banyak orang lainnya yang sepertinya menunggu giliran.

“Unggul Kartiko!” panggil prajurit yang di dekat pintu masuk ruang utama singgasana raja.

“Ya, saya,” jawab Bintang.

“Giliranmu, semoga berhasil,” kata prajurit tersebut.

“Eh, tapi saya satu tim dengan wanita itu,” Bintang menunjuk Genruo.

“Baiklah, ayo sekalian!” prajurit tersebut tampak tidak senang tapi tetap mempersilakan Bintang bersama Genruo.

Bintang dan Genruo bersimpuh maju ke ruangan area singgasana.

Di singgasana, Raja Haur Bhuwana duduk dan di kanan, kiri, dan tengah tampak terlihat tiga pangeran yang sama persis wajah, perawakan, dan pakaiannya.
 
“Unggul Kartiko dan Lintang Genderewo silakan periksa, siapa dari ketiga pangeran ini yang asli?” kata salah satu menteri kerajaan yang ada di sana.

“Kami tidak akan memeriksa, tetapi akan bertanya, terlebih dahulu dan akan meminta pangeran-pangeran yang di depan saya untuk menjawabnya,” jelas Bintang menyembah dan sembari melirik ke Genruo, bintang mengedipkan mata agar Genruo mengiyakan saja.

“Baik, silakan dilakukan,” menteri tersebut memberi izin.

“Baiklah, saya bertanya kepada ketiga pangeran, dari gadis-gadis yang kalian temui, sebutkan siapa gadis yang paling cantik, paling manis, paling seksi, dan paling pandai… ehem bermain di ranjang?” tanya Bintang.

“Apa?!” salah satu menteri berteriak.

Raja Haur Bhuwana mengulurkan tangannya ke depan. Menteri tersebut mendadak terlihat menenangkan dirinya. Raja Haur Bhuwana kemudian memberikan tanda agar Bintang melanjutkan.

Bintang dan Genruo menghaturkan sembah, sebagai ucapan terima kasih.

“Pangeran yang paling kiri dari saya, silakan menjawabnya terlebih dahulu,” bintang memberikan arahan.

“Hm…, yang cantik menurut saya adalah Pandanwangi, yang paling manis adalah Dyah Wawa, yang paling seksi Astutha, dan yang pandai di ranjang Maheswari,” jelas pangeran yang pertama.

“Baik, lalu pangeran yang duduk di tengah, silakan menjawab,” lanjut Bintang sembari mencoret-coret di lontar.

“Isyana paling cantik,  yang manis Tungga, yang seksi Dhahana, dan yang heboh di ranjang Pameswara,” jawab pangeran yang ada di tengah.

“Pangeran yang berada di kanan saya, silakan menjawab,” Bintang menatap pangeran yang ketiga, sembari tangannya tetap mencoret-coret di lontar.

“Yang paling cantik Tribhuwana, yang paling manis Trianisha, yang seksi  Waringga, dan yang pandai di ranjang, Mimashura,” jawab pangeran yang ada di kanan Bintang.

Genruo melihat Bintang tampak kebingungan. Kemudian Genruo beringsut mendekati dan berbisik kepada Bintang,”Apa maksudmu? Apa ada petunjuk?”

“Ga punya, aku salah persepsi, kupikir, pangeran yang asli tidak playboy, ternyata juga playboy?” bisik Bintang.

“Bodoh!” Genruo berbisik mencela.

“Ehm untuk pertanyaan sudah selesai, kini giliran hamba, kami satu kesatuan dalam menyelesaikan masalah,” kata Genruo.

“Lanjutkan,” izin menteri yang ada di sana.

“Hamba dengar, pangeran memiliki kesaktian yang langka,” jelas Genro menyembah.

“Hamba memerlukan tiga kendi minum, beserta tutupnya, letakkan ketiga kendi tersebut di depan tiap pangeran,” Genruo meminta, dan beberapa abdi kemudian menyediakan ketiga kendi dan diletakkan masing-masing di depan pangeran yang ada.

“Baik, terima kasih telah meletakkan kendi-kendi tersebut di depan tiap pangeran, kini mengenai kesaktian, kata orang, pangeran yang asli dapat mengecilkan tubuhnya di mana berguna untuk masuk ruang para perempuan yang disukainya,” Genruo berhenti sejenak dari perkatannya.

“Pangeran yang asli, silakan kecilkan tubuh dan masuk ke dalam kendi tersebut, mulai sekarang!” Genruo memberikan aba-aba.

Pangeran yang di tengah mendadak melompat ke dalam kendi yang terbuka tutupnya, dan mampu mengecilkan tubuhnya.

“Ooooooowh!” beberapa suara orang yang di ruang singgasana raja tersebut terperangah, termasuk Raja Haur Bhuwana yang bengong.

Dengan sigap Genruo menutup kendi tersebut dengan tutup kendi dari kayu yang kuat.

Dua orang pangeran yang tersisa menjadi gugup, satu orang yang sebelah kanan Bintang mendadak berdiri dan lari. Dengan cepat Bintang melompat dan menahan pangeran tersebut.

“Kenapa kau berlari?!” teriak Genruo sembari menggenggam kendi berisi pangeran satunya.

“Karena aku tidak bisa masuk ke kendi!” teriaknya. Sembari berusaha melepaskan diri dari Bintang.

Kini Genruo menatap pangeran yang masih tersisa dan masih dengan tenang duduk di depan Raja Haur Bhuwana.

“Ah berarti kau adalah pangeran palsu,” Bintang menunjuk ke arah Pangeran yang masih duduk.

“Aku tidak bisa masuk ke kendi, tapi aku juga tidak perlu melarikan diri, sebab ini rumahku,” jawab pangeran yang masih duduk.

“Sial,” Genruo tampak sebal.

“Beri kami waktu lagi Paduka Raja, paling tidak telah satu orang yang terbukti bukan pangeran yang asli, kini tinggal dua orang, beri kami waktu lagi,” Genruo menyembah kepada Raja Haur Bhuwana.

“Baiklah, aku beri kalian waktu sampai besok sore, bila tidak, kepala kalian akan dipenggal!” jawab Raja Haur Bhuwana.

Mata Bintang dan Genruo terbelalak mendengar sabda dari Raja Haur Bhuwana.


 
“Kini setiap wakilku yang kutunjuk dapat menjadi raja kecil di bawah kendaliku dan dewiku,” kata Gerhana.

“Tinggal tekan tombol yang ada di sana, di sarung tangan metal milik kalian, maka aku akan datang, teleport lintas ruang di mana pun kalian berada saat memerlukan bantuanku, bantuan kami”  tambah Awewe.

“Baik Dewa Perang, Gerhana dan Dewi Nafsu, Awewe!, sembah dari kami!” puji para ketua bawahan Gerhana dan Awewe.

“Tidak menyangka, kita akhirnya membuat agama, ha ha ha,” Gerhana terlihat gembira.

“Pasokan sarung tangan metal pendeteksi lokasi dari Planet Rga6 cukup, harta kita melimpah dalam waktu 5 tahun saja, kita pemiliki planet ini ha ha ha!” Gerhana kegirangan.

“Mama,” muncul dari ruangan yang lain, seorang anak perempuan usia empat tahunan berjalan ke arah Awewe.

“Apa sayang,” tanya Awewe kepada anak tersebut.
 
“Hormat pada Dewi Aktura, anak dari Dewa Gerhana dan Dewi Awewe!”  teriak para penyembah dan para ketua serangga yang ada di sana.

Di kejauhan tampak Gororagu dengan Sriera menggunakan teropong tembus pandang. “Ah mau mengambil mereka, tapi ada anaknya,” gerutu Gororagu.

“Lalu?” tanya Sriera.

“Mundur lagi ke masa sebelum dia memiliki anak,” ucap Gororagu.

ZAP

Gorogaru teleport lintas ruang dan waktu, mundur ke masa lalu di planet tersebut.

ZAP

Sriera mengikuti Gororagu.

*

Tata Surya Ohaed, Planet Entera 9.  Pesawat tour antar galaksi Sela Adimulyo 3000 terlihat mengapung.

“Berikan data DNA Gnash kepada Sela 3000,” pinta Kapten Aghata kepada Zhuluk.

Kapten Zhuluk mengangguk. Kemudian melirik Sela 3000.

“Data diterima,” kata Sela 3000.

“Bagus, scan Planet Entera 9 untuk DNA tersebut,” perintah Kapten Agatha.

“Baik Kapten, laksanakan,” jawab Sela 3000.

“Terdeteksi 5 orang dengan DNA yang mirip, dua orang pertama kemiripan DNA 50 persen, tiga orang dengan kemiripan 25 persen,” jawab Sela 3000.

“Teleport-kan mereka ke area penjara sementara di dek 37,” perintah Agatha.

“Laksanakan,” jawab Sela 3000, “Selesai,” lanjut Sela 3000.

“Bagus, teleport-kan aku dan Zhuluk ke penjara sementara di dek 37,” perintah Kapten Agatha.

“Laksanakan,” ucap Sela 3000.

 *

“Rekrut mahluk ion yang telah membantu kita, masuk dalam tim pelindung Tata Surya Bneiouo,” saran ketua sidang melalui komunikasi pikiran.

“Terpanggil,” jawab mahluk ion lainnya juga menggunakan pikiran.

“Selamat datang kawan, terima kasih telah membantu menyelamatkan Planet Casgh di  Tata Surya Bneiouo,” kata ketua sidang melalui pikiran.

“Di mana aku?” tanya mahluk ion tersebut menggunakan telepati pikiran karena semua telah terevolusi lebih tinggi sehingga dapat berkomunikasi melalui telepati, dan mendadak ter-teleport ke area tersebut.

“Aku Kryion,” ketua sidang menyambut.

“Ah Kryion, nama yang kudengar desiliunan tahun di masa lalu, aku Atheus,” jawab mahluk ion tersebut.

“Atheus? Share memory-mu agar kami tahu pengalaman sebagai kekayaanmu,” Kryion meminta izin.

“Atheus, Hades, Gessu, Adiyus, dan masih banyak lagi nama…,” kata Kryion,”Selamat datang, tidak heran kau telah tertidur lama di inti matahari yang ada di dalam Bumi,” Kryion tersenyum dan membentuk tubuh ionnya dalam bentuk humanoid, manusia.

“Bentuk tubuh manusia, terima kasih telah menghargaiku dengan mahluk asal dari planetku, Bumi,” Atheus membentuk tubuhnya seperti manusia tetapi masih dalam susunan ion, sama seperti Kryion.

“Kau sepertinya bukan satu-satunya mahluk ion dari Bumi, perkenalkan namanya Universa,” kata Kryion.

“Universa?” Atheus mengucapkannya lagi.

“Ya, aku,” kata Universa yang telah muncul di depan Atheus dan Kryion dalam tubuh berbentuk manusia namun masih dalam susunan ion.

“Aku pernah mendengar namamu, di suatu masa,” kata Atheus.

“Benarkah?” tanya Universa.

“Maukah kau saring kekayaan memory-mu?” tanya Atheus.

“Dengan pikiran senang,” jawab Universa.

“Kau?” Atheus kaget.

“Benar, itu aku, aku adalah aku, yang terpenting aku adalah aku saat ini, kekayaan memory yang berbeda bukan?” Universa tersenyum.

“Ya benar,” jawab Atheus.

“Kami memerlukan bantuan di Planet Casgh di  Tata Surya Bneiouo, kuingin kau menjadi pelindung mereka, dan bentuklah sublevel di bawahmu, dalam bentuk mahluk nonion …”

“..., mahluk fisik, agar menjadi pengawas level di bawahmu, mengawasi langsung perkembangan teknologi mereka, dengan kota yang mengambang dalam ghosting mode, tidak terlihat dan tidak tersentuh,” pinta Kryion.

“Pengabdian pengawasan aku terima,” jawab Atheus.

“Bagus, terima kasih telah bergabung,” jawab  Kryion.

*

“Ang3l Mich43l mengontak markas besar.”

“Kontak tersambung, saya Groauyrdruz kepala divisi pengawasan misi kalian, laporkan data yang akan di-share Ang3l Mich43l,” jawab orang tersebut di sisi satunya, masa depan.

“Konfirmasi, kami telah bertemu dengan Kapten Adamusha, Kapten Adamusha sepertinya salah satu agen perubahan menurut persepsi di masa depan, karena membuat manusia menguasai Bumi …”

“..., padahal masa ini, penghuni Planet Tigi atau Planet Bumi di masa ini adalah spesies reptilian, atau para naga yang genius”. Angel Michael sembari melihat ke Kapten Adamusha dan Angel Gabriel.

“Kapten Adamusha berencana meninggalkan planet ini segera, karena kuatir akan membuat masalah di masa depan, peperangan antar spesies potensial menjadi implikasi di masa depan bila Kapten Adamusha tetap tinggal,” jelas Angel Michael.

“..., tunggu, kalau Kapten Adamusha meninggalkan Bumi segera, maka ada potensi kami, manusia di masa depan juga tidak akan ada, dan kau juga tidak akan ada, biarkan Kapten Adamusha tetap tinggal di Bumi, tidak ada negosiasi, risiko mengubah masa depan potensinya 100 persen!” jelas orang yang ada di masa depan.

“Baik, konfirmasi, pengubahan tidak akan dilakukan, Ang3l Mich43l out”. Mata Angel Michael menatap tajam ke arah Kapten Adamusha.

“Hm …, keputusan yang sulit, karena manusia sudah terlanjur menjadi penguasa Planet Tigi di masa depan,” keluh Adamusha.

ZRRRRT
BRUKH
BUURGH

Mendadak Angel Michael dan Angel Gabriel terjatuh, sepertinya sistem mereka off.

Mata Kapten Adamusha mencari-cari sesuatu, dan saat mendongak ke area atas,”Maaf EMP [Electromagnetic pulse] level tinggi untuk android silikon Kapten,  terpaksa aku lakukan, tidak berimpak padaku, teknologiku jauh lebih tinggi lagi, kita harus segera pergi dari sini sesuai perintahmu”. Lux Dechipered berjalan menuruni tangga.

“Mereka dari masa depan, tetapi teknologi kita jauh lebih canggih, masa depan atau tidak, tidak penting, yang penting sampai di mana tingkatan teknologi mereka, bila masih kalah dari masa lalu, ya akan tetap kalah,” jelas Lux Dechipered.

“Terima kasih Lux, ah kau benar, ayo kita berangkat sesegera mungkin,” Kapten Adamusha kemudian segera ke anjungan.

“Zion, teleport-kan dua android dari Bumi ke luar dari pesawat, di tempat yang aman,” perintah Lux Dechipered kepada pesawat Zion.

“Perintah telah dilaksanakan,” kata Zion.

“Baik, Kapten, saya telah berhasil meng-on-kan beberapa mesin, sebagai tenaga cadangan, tetapi cukup untuk membuat pesawat kita keluar dari Planet Tigi, dan mencari koloni manusia terdekat di Galaksi Actiuion, satu lompatan Zero Distance Teleport antar galaksi,” jelas Lux Dechipered.

“Laksanakan Lux, dan hubungkan aku dengan Duta Besar Khanunashiess,” perintah Kapten Adamusha.

“Di layar,” jawab Lux Dechipered.

“Kapten Adamusha, meninggalkan Planet Kami dengan tergesa, apakah pelayanan dan keramahtamahan kami membuat Anda tidak nyaman? Bila iya, kami mohon maaf,” kata Duta Besar Khanunashiess.

“Terima kasih banyak dengan keramahtamahan Anda Duta Besar, tetapi kami harus segera berangkat, markas pusat memerlukan kami segera dalam waktu dekat, sampai jumpa lagi di lain waktu bila ada kesempatan, mohon izin meninggalkan Tigi dalam beberapa frame,” balas Kapten Adamusha.

“Izin kami berikan, selamat sejahtera, selamat sampai tujuan!” ucap Duta Besar Khanunashiess.

WHOOOOP

Pesawat mendadak ter-teleport.

DDDRRRTT

“Ada apa Lux? Laporkan!” Kapten Adamusha meminta info.

“Dua android dari masa depan, mereka menembakan sinar pengacak kepada mesin teleport pesawat kita,” jelas Lux Deciphered.

“Sial!” teriak Adamusha.

*

“Apakah usaha kita akan berhasil?” tanya Angel Michael.

“Semoga, kontak di masa depan, apakah manusia yang membuat kita masih ada?” saran Angel Gabriel.
 
“Ang3l Mich43l mengontak markas besar,” kata Angel Michael.

“Kontak tersambung, saya Groauyrdruz kepala divisi pengawasan misi kalian, laporkan data yang akan di-share Ang3l Mich43l,” jawab Groauyrdruz.

“Tidak ada, kami lega mendengar suaramu, Ang3l Mich43l out” jawab Angel Michael.

“Tidak ada perubahan, langkah yang kita lakukan berhasil,” kata Angel Michael sembari melihat ke Angel Gabriel yang tampak tersenyum, sembari mengembalikan keadaan tangannya dari sebentuk alat penembak untuk pengacak teleport ke tangan biasa lagi. 

*

U.S.A., Bumi, 1941.

“Aku tidak akan bernegosiasi dengan satu negara saja walaupun negara itu negara terkuat di Bumi” ujar Diva Shrasvati.

“Baiklah, kalau begitu kami akan membuat planet ini memiliki presiden, wakil dari Planet Bumi dari berbagai negara di bawah persatuan, United Nations,” Jawab Franklin D. Roosevelt.

“Bila hal tersebut sudah siap, aku akan membawa pesawat paling kecilku untuk kutunjukkan padamu, dan kalian dapat mempelajarinya, me-reverse engineering bila kalian mampu melakukannya” ucapku.

“Pertukaran yang adil Shrasvati” ucap Franklin D. Roosevelt.

“Belum, aku masih perlu bertemu dengan Mr. G, dia terdeteksi di Bumi frekuensi ini tetapi tidak ada satu pun dari kalian yang tahu siapa dia? Pertukaran yang belum adil,” keluh Diva Shrasvati, kemudian Diva Shrasvati masuk ke kolam yang disediakan di gedung tersebut.

“Ya kau pernah bilang dia muncul di tahun 2020, kenapa kau muncul di tahun-tahun ini?” ucap Roosevelt.

“Persiapan dan mengetahui lebih awal akan lebih baik bukan” jawab Diva Shrasvati.

“Dan hentikan perang sesama kalian di Bumi, betapa bodohnya!” bentak Diva Shrasvati.

“Kau tidak berhak mengatur kami!” bentak  balik Franklin D. Roosevelt.

“Kenapa tidak? Karena aku alien, Grey?” gerutu Diva Shrasvati.

“Karena kau bukan atasanku,” jawab Franklin D. Roosevelt sembari menatap tajam mata Diva yang berwarna hitam kelam dan sangat besar, seperti mata seekor dolphin.

“Camkan, sebelum kalian bersatu, masih perang, aku tidak tertarik berbagi teknologi, hentikan perang kalian, dan bentuk lagi seperti Liga Bangsa-Bangsa yang telah gagal melakukannya, kini tanggung jawab itu ada padamu!” Diva Shrasvati menekankan syaratnya.

*

1945.U.S.A.

“Hallo Churchill, kapan kita bahas membentuk persatuan bangsa-bangsa, agar kegagalan Liga Bangsa-bangsa tidak terjadi lagi?” kata Presiden Amerika Serikat Franklin D. Roosevelt.

“Baik, kita lakukan di Teluk New Foundland,” jawab Winston Churchill.

“Baik, makasih Churchill”. Roosevelt menutup teleponnya,” Akan kubentuk sesuai dengan permintaanmu,” Franklin D. Roosevelt menoleh ke arah Diva Shrasvati.

“Empat tahun terlambat,” jawab Shrasvati.

“Hei, aku perlu pembuktian dan pendekatan agar orang mengerti apa yang kurencanakan sejak jauh-jauh hari,” bantah Roosevelt.

*

“Shrika Tamara!” teriak seseorang dari luar ruang.

“Ya, siap, bentar lagi ya!” jawab Shrika di ruang rias.

“Andi telah menunggu, sesi pemotretan kali ini tidak akan memakan waktu lama, sebab fotografernya sudah ada jadwal lainnya,” jelas orang yang berada di luar ruangan ruas.

“Baik, uda selesai,” jawab Shrika Tamara sembari membuka pintu dan muncul dari dalam ruang rias, berjalan ke luar dan segera bergegas mengikuti seorang wanita yang segera berjalan ke suatu arah setelah melihat Shrika Tamara.

“Ah … Shrika Tamara yang sangat cantik dan sempurna, dambaan semua orang,” puji Andi fotografer yang berada di suatu sudut terlihat gembira melihat Shrika.

“Muaaach!” Shrika Tamara cipika-cipiki[ Cium pipi kanan cium pipi kiri] kepada fotografer tersebut.

“Ayo, siapkan pencahayaan utama dari samping kiri, kemudian fill in dari atas, dan dari samping kanan diberi reflektor,” perintah Andi fotografer tersebut kepada para asistennya.

“Tidak, tidak, sinar fill in terlalu kuat, mengalahkan sinar utama, turunkan intesitasnya, nah… lagi…turunkan…nah gitu, tampak ayu!” kata Andi, fotografer tersebut.

“OK, Shrika, pose seperti pelajar kursus kompetensi sertifikasi profesi gathering offline yang centil dan manja ya!” pinta si forografer.

“Baik!” jawab Shrika kemudian sembari mulutnya monyong sedikit sembari bergerak lucu  menunjukkan kecentilannya.

“Genius! Smart!” puji fotografernya.

“Ya pose sealami mungkin, terus bergerak, akan tetap saya foto, terus aktif bergerak, nah …, gaya yang cantik, cantik ah …, luar biasa, kau alami,” puji fotografer tersebut kepada Shrika.

Sekitar 30 menit kemudian, sesi pemotretan telah selesai. Fotografer merapikan barang-barang bawannya dan bergegas meninggalkan tempat tersebut setelah melakukan cipika-cipiki terlebih dahulu dengan Shrika.

Shrika melambaikan tangan seiring fotografer tersebut memasuki pintu teleport.

Shrika menatap jendela kristal yang sangat kuat dari dalam studio tersebut. Asistennya mendekati dan berkata.

“Anak-anak menunggumu,” katanya perlahan kepada Shrika.

“Ah iya, ayo kita ke sana,” Shrika berjalan sembari menarik tas selempang warna pink miliknya yang terletak di atas sofa. Asistennya mengikuti dari belakang.

Keduanya masuk pintu teleport, dan muncul di suatu suatu tempat dengan jendela kristal dengan taman yang luas dan indah.

Shrika dan asistennya berjalan ke suatu taman. Di sana telah berkumpul anak-anak pria dan wanita, sebanyak 27 orang mereka berlarian ke arah Shrika setelah melihat dari jauh kedatangannya.

Shrika berjalan sembari mengembangkan tangannya dengan penuh suka cita.

“Mamaaaaaaa!” teriak mereka bersamaan. Mereka menubruk Shrika dan bergulingan di rumput taman yang indah.

Asisten Shrika yang melihat hal tersebut tersenyum ikut bahagia saat melihat Shrika sangat gembira bermain dengan ke 27 anaknya.

*

BRAAAAKH

Buto Ijo melompat menembus tembok rumah sakit di mana dia dirawat.

BRUGH

Kakinya sampai di permukaan tanah aspal, membuat retakan yang melesak sekitar 50an senti.

Buto Ijo berlari beberapa langkah, kemudian melompat tinggi.

Di kejauhan area kamar rumah sakit di mana Buto Ijo dirawat. Seorang perawat rumah sakit bengong melihat dinding kamar yang retak, dan melongok ke bawah sempat melihat Buto Ijo melompat tinggi ke atas menjauhi area rumah sakit.

“Eh perawat kepala, sepertinya pasien kabur!” katanya melalui komunikasi hologram via retina.

“Ah tidak masalah, sudah kau registrasi nama dan nomor induk kependudukannya bukan?” tanya suster kepala.

“Ah itu dia, belum suster, mohon maaf …, terlebih lagi sepertinya dia alien, entah terdaftar atau tidak,” jawab suster tersebut.

“Apaaa? Aduuh kita harus menanggung bersama untuk beban perawatannya,” jawab suster kepala sembari tangan kanannya  memegang kepalanya sendiri.

“Eh … bagaimana kalau si pembawa pasien yang menanggung suster? Saya punya datanya, si pembawa bernama Shrika,” jawab suster tersebut.

“Brilliant! Bisa!” tampak suster kepala wajahnya mendadak berbinar.

*

“Mama, ada tagihan dari rumah sakit atas nama Mama…,” kata seorang pria yang diperkirakan berusia 60 tahunan memanggil Shrika.

“Hmm …, sudah kuduga, makasih …,” jawab Shrika. Kemudian Shrika berdiri dan anak-anaknya yang lain segera berlarian ke area taman lainnya, dua orang mengikuti Shrika yang berjalan ke arah orang tua tersebut.

“Mama,” kata orang tadi.

“Ya?” jawab Shrika sembari bertanya dan melihat jumlah tagihan yang diulurkan ke tangannya .

“Sebaiknya Mama sudah tidak mengangkat anak lagi, beban finansial mama sudah terlalu berat,” jelas pria tersebut.

“Ah …, lalu siapa yang akan merawat mereka yang tidak beruntung? Termasuk kamu di masa lalu, lihatlah dirimu, kini telah menjadi ahli komputer programming …,” jelas Shrika.

“Benar  Mama, kau sangat baik, tapi kau terlihat sangat muda, dan aku serta beberapa anakmu lainnya telah mulai berumur …,” jawab pria tersebut.

“Ah tidak juga, ada saudaramu yang lain, memutuskan untuk menggunakan nano teknologi agar awet muda, terlihat usia 20 tahunan” jawab Shrika.

“Iya, tapi Mama, lebih muda lagi, seperti usia 16 tahunan,” jelas pria tersebut.

“Maksudmu, Mama bersalah karena Mama seorang android dengan bahan silikon?” Shrika terlihat curiga.

“Tidak Mama, kami tahu Mama android yang dibuat oleh android lainnya, sehingga sangat sempurna, android silikon terbaik, Mama terbaik yang pernah dimiliki seorang manusia seperti aku, dan juga anak-anakmu lainnya,” pria itu menunduk, matanya berlinang.

“Tanpa Mama, aku tidak jadi seperti sekarang ini, kau hal terindah yang aku alami bahkan sampai saat ini, maksudku, sudah sebaiknya Mama tidak menambah beban finansial, biar aku, anakmu yang tertua yang melanjutkannya,” kata pria tersebut.

“Oh sayang, hidup sebagai model untuk dunia hiburan membuat Mama mampu menghidupi anak-anak angkat Mama, dimulai dari dirimu, 18 anak Mama yang sudah besar lainnya, sampai pada 27 anak yang sekarang,” jawab Shrika melihat kepada dua anaknya yang berada di sampingnya dan memeluk mereka berdua.

Dua anak tersebut membalas pelukan Shrika, salah satunya mencium pipi Shrika. Terlihat wajah Shrika  yang sangat gembira.

“Eh …, kalau Mama masih merasa mampu, apa yang bisa aku lakukan, tapi saat perlu bantuan, Mama dapat mempercayakan kepadaku, Aku sangat sayang pada Mama,” kata pria tersebut kemudian ikut mendekat dan memeluk Mamanya bersama dua anak sebelumnya.

“Terima kasih Togar dengan pengertianmu,” jawab Shrika sembari mencium kening anak tertuanya tersebut.

“Mama yang hebat,” cetus seseorang.

Shrika, Togar, dan kedua anak melihat ke arah suara.

Terlihat orang muncul dengan teleport ke area tersebut, menggunakan kacamata hitam bulat, rambut menggunakan gaya seperti jamur berwarna hitam, berbaju jas putih, kaos putih, celana putih, sepatu putih, dengan logo segitiga piramid terbalik menyimbolkan huruf G.

“Kau!” Shrika mengetahui siapa orang tersebut.

“Ya …, yaaaa …, aku,” jawab pria tersebut. Melayang turun, dan berjalan mendekati Shrika.

“Aku tidak tahu siapa kau, bila kau mencelakan Mamaku, aku tidak segan menggunakan kekerasan!” teriak Togar, kemudian berjalan dan berada di depan Shrika yang masih memeluk kedua anaknya lebih erat.

“Ah … anak manusia yang memiliki ibu seorang android, betapa mulia dan menyentuhnya keluarga ini, keluarga yang memiliki nilai-nilai kemanusiaan yang tinggikah? Ataukah suatu ketidakberuntungan belaka?” Mr. G tetap melangkah mendekat.

“Keberuntungan, aku memiliki banyak keberuntungan!” teriak  Shrika.

“Ah  iya, sesuatu yang unik, bagaimana seunit android dapat memiliki keberuntungan seperti layaknya mahluk hidup, seperti manusia, seperti mahluk cerdas organik lainnya?” Mr. G semakin mendekat.

“Konsep apa yang kau sebut organik? Mama walaupun android, juga mahluk organik!” Togar tidak setuju dengan Mr. G.

“Ah …, kau mendidik anakmu dengan baik Shrika, aku ingat pertemuan kita 125 tahun lalu, kau masih sangat lugu, naif, sama seperti android lainnya berjuang untuk manusia, padahal kau tidak dibuat oleh manusia …,”

“... tetapi android yang dibuat oleh android lainnya, tapi saat itu aku tidak menyangka kalau kau memiliki kekuatan yang unik, kekuatan keberuntungan,” Mr. G menatap Togar kemudian menatap Shrika.

“Aku masih berjuang untuk manusia,” kata Shrika.

“Ah …, aku bisa melihatnya,” kata Mr. G. Kemudian tangan Mr. G terangkat ke arah Togar dari jauh, seketika Togar terangkat melayang dengan napas tersengal. Kesulitan untuk bernapas.

“Hentikan!” teriak Shrika dengan wajah memohon.


Bersambung


Cerbung ini ada di majalah AN1MAGINE Volume 3 Nomor 7 Juli 2018 eMagazine Art and Science yang dapat di-download gratis di Play Store, share yaa


“Menerbitkan buku, komik, novel, buku teks atau 
buku ajar, riset atau penelitian di jurnal? An1mage jawabnya”

AN1MAGINE BY AN1MAGE: Enlightening Open Mind Generations
AN1MAGE: Inspiring Creation Mind Enlightening 
website an1mage.net www.an1mage.org

Komentar

Page Views

counter free

Visitor

Flag Counter

Postingan populer dari blog ini

STANLEY MILLER: Eksperimen Awal Mula Kehidupan Organik di Bumi

CERPEN: POHON KERAMAT

Menerbitkan buku di An1mage