MINDPORTER 2: Archilum oleh M.S. Gumelar di An1magine Volume 3 Nomor 4 April 2018


MINDPORTER 2:
Archilum
M.S. Gumelar


Aswin mengangguk-angguk. “Senang sekali bisa mengunjungi famili yang jauh. Aku menyesal kenapa pamanku yang tinggal terjauh adalah di desamu.”

“Bukankah itu bagus? Karena ada keluargamu yang satu desa denganku, kita jadi bisa berteman. Bayangkan kalau kau tidak pernah ke tempat itu dan hanya mondar-mandir di desa pesisiran.”

“Memang sih, tapi kadang aku memiliki keinginan untuk pergi ke tempat yang lebih jauh. Hanya saja aku tidak yakin bisa meninggalkan keluargaku untuk jangka waktu yang lama. Selama ini aku tinggal bersama mereka, pastinya aku akan merasa ketakutan jika harus tinggal jauh.”

“Ketakutan itu pasti ada. Tapi kurasa pasti kita juga mendapatkan sesuatu yang besar ketika berhasil mengalahkan ketakutan itu.”

“Ibaratnya kehilangan banyak, mendapatkan banyak. Mestinya bakal ada sesuatu yang setimpal.”

Aswin memicingkan matanya padaku, tapi itu hanya sebentar karena detik berikutnya dia kembali bersin.

“Kuharap kau bisa segera mengatasi alergimu saat kita sudah sampai tempat tujuan,” ujarku, prihatin.
“Apakah masih lama?”

Aku menunjuk danau yang membuat kami harus memasuki hutan dan melewati gua. Danau yang tenang dengan sinar matahari memantul di permukaannya sehingga terlihat seperti permata bening.

“Indahnya!” seru Aswin senang.

“Benarkan? Kau tidak akan kecewa dengan panorama di sini. Ikan-ikannya juga banyak. Bila beruntung, kita bisa mendapatkan ikan yang unik, yang tidak pernah kita lihat di sungai.”

Aswin menaiki sebongkah batu besar dan tersenyum sangat lebar.

“Seperti apa ikan unik yang pernah kau dapatkan?”

“Ikan dengan gigi kucing!”

“Ah! Kau bercanda saja,” gerutu Aswin sembari melompat ke batu lainnya.

Ia sudah tidak bersin lagi. Sepertinya alerginya mudah datang dan mudah pergi. Datang saat ia berada di tempat lembab dan berlumut, pergi saat sinar matahari berada di sekelilingnya.

“Aku serius! Tidak bohong!”

“Yang benar saja!” cibir Aswin. “Jadi kita memancing dari sudut mana?”

Aku menunjuk area yang tidak terlalu banyak batunya. “Di dekat sana aku pernah membakar ikan, mestinya batu-batunya masih tersusun di sana mengingat tidak banyak orang yang datang kemari. Kita memancing di tempat pembakaran saja.”

“Siap jenderal!” balas Aswin sembari memberi posisi hormat.

Kami menyiapkan alat memancing, kail dan umpan. Seperti biasanya, umpan yang dibawa Aswin selalu lebih banyak daripadaku. Bocah ini benar-benar memiliki semangat mancing yang luar biasa.

Meski dia yang lebih semangat, sebenarnya aku yang lebih sering memancing dari dia. Sepulang kerja kadang-kadang aku akan ke sungai buat memancing sembari menunggu matahari terbenam.

Sementara Aswin akan bergegas pulang ke rumahnya untuk membantu menyiapkan makan malam bagi keluarga besarnya.

Berbeda dariku yang terkesan menghindari rumah, Aswin merupakan anak yang patuh pada orang tuanya.

Meski begitu bukan berarti aku tidak patuh. Aku hanya lebih liar dan kurang bisa di kendalikan. Setidaknya itulah sebutan yang Chatura berikan padaku.

Aku tidak benar-benar meninggalkan keluargaku. Jarak rumah dengan tempat kerjaku tidak terlalu jauh.

Namun benarkah aku tidak pernah berpikiran untuk meninggalkan mereka? Aku pasti sudah mulai memikirkannya ketika mendengar soal Archilum dari Rawi.

“Apa kau bertemu Rawi lagi saat aku pergi?”

Aswin menoleh, pancingnya sudah siap. Ia melemparkan pancingnya lebih dulu ke tengah danau sebelum menjawab pertanyaanku.

“Tidak dalam artian kami tidak mengobrol, tapi secara tidak sengaja aku melihatnya tengah memanjat pohon Ebura. Aku tidak mengerti apa yang hendak dilakukannya dengan buah-buah yang dipetiknya,” ujar Aswin, acuh.

“Mungkin dia memiliki rencana....”

“Rencana baik atau jahat?” tukas Aswin.

“Lupakan, aku tidak benar-benar memahami ucapanku barusan. Tidak baik buat berburuk sangka apalagi tidak memiliki bukti.”

“Kau benar, lagi pula aku tidak merasa Rawi adalah orang jahat.”

Iya, kurasa Rawi memang bukan orang jahat. Ia memang tidak normal karena keberaniannya mendobrak ha-hal yang tidak sesuai dengan pemikirannya. Rawi adalah orang pertama yang kuketahui berani kabur dari upacara.

Tapi entah mengapa aku terus menerus memikirkan orang itu, terutama ucapan-ucapannya mengenai Archilum. Ceritanya seolah memiliki zat adiktif dan aku sudah kecanduan sekarang.

Meski begitu, aku juga memiliki kewaspadaan padanya. Apalagi alasannya kalau bukan karena kata-kata Outi ketika kami membahas Archilum di rumahnya.

Hati-hati. Sepertinya kata-kata itu sering kali tidak kulakukan. Aku lebih mengarah ke ceroboh daripada hati-hati.

Dia bilang aku harus hati-hati. Rawi memang agak aneh. Ia melakukan hal-hal yang orang lain tidak berani lakukan seperti kabur dari upacara.
Tapi justru itulah yang membuatku sedikit menyukainya.

Rawi memiliki keberanian di mana tidak semua orang memilikinya. Menurutku dia hebat. Mendobrak aturan-aturan dan melakukan apa yang diinginkannya.

Yang menggembirakan, dia bahkan mau membagikan rahasianya padaku, pada Aswin. Ia sebenarnya bukan orang yang pelit informasi. Bukan sosok seperti Chatura yang membangun dan tinggal dalam dunianya sendiri.

“Kenapa kau menanyakan Rawi? Apakah Archilum sudah merasuk dalam pikiranmu?” tanya Aswin sembari mengawasi kailnya.

Kulemparkan kailku, agak berjauhan dari milih Aswin. Meski ikan di sini banyak, tapi aku tidak ingin kami berebut di tempat yang sempit.

“Kurasa aku akan mengikutinya,” kataku membuat sebuah pengakuan

“Kita bahkan tidak tahu apakah Archilum benar-benar nyata atau tidak.”

“Dia memang ada Aswin.”

Aswin menatapku dengan tidak percaya. “Memangnya kau tahu dari mana?”

“Aku bertanya seseorang dan ia menyatakan bahwa Archilum memang sebuah perayaan agung.” Aku menggigit bibir setelah mengatakan hal itu.

Apa aku perlu mengatakan bahwa bibiku sebenarnya adalah juru kuil? Dan kenyataan bahwa orang yang semestinya menyandang gelar itu adalah ibuku?

Tidak. Kurasa tidak. Aswin lebih baik mendengar hal itu dari orang lain.

Ia bisa saja menilai aku sedang membual. Lagi pula juru kuil bukanlah seperti seorang pendeta yang di kenal banyak orang.

Belum lagi menurut Outi, yang memimpin Archilum adalah seorang pendeta, dan pria. Budaya kami masih kuat menganggap bahwa laki-lakilah yang harus memimpin upacara.

Juru kuil hanya bertugas untuk merasakan gejala kedatangan Archilum. Tapi yang mengurus jalannya upacara agung itu adalah para pendeta. Juru kuil tidak akan muncul sebagai orang yang dihormati, mereka akan berada di tengah-tengah umat seolah tidak memiliki peran penting.

Terasa tidak adil memang mengingat para pendeta itu tidak mampu meramalkan dengan tepat kapan terjadinya Archilum. Juru kuil yang memiliki kemampuan itu malah disembunyikan, tidak boleh jadi pusat perhatian.

Tapi aturan tetap aturan. Jika tidak memiliki kekuatan untuk melawan, sebaiknya memang jangan melakukannya. Karena orang yang memiliki kekuatan dan kehebatan sekalipun bisa dijatuhkan dengan hasutan, kenyataan pahit hidup.

"Benarkah? Apa kau sudah memberitahu keluargamu soal ini?"

"Kau adalah orang pertama yang kuberitahu," kataku bersungguh-sungguh.

"Karena kau merasa tidak enak dengan keluargamu, pastinya."

"Dengarkan dirimu, kau berkata seperti cenayang," cibirku.

"Aku hanya menebak saja sesuai pengalaman bersamamu selama bertahun-tahun," kekeh Aswin.
Aku mendengus kesal tapi tidak memberinya jawaban.

“Chatura pasti akan marah besar dan aku belum punya keberanian untuk memberitahu ibu,” ujarku muram.

"Sebenarnya aku juga tidak ingin kau pergi Candhra."

Aku mengerutkan dahi dan memandangi Aswin dengan tajam.

"Tidak, aku tidak akan mengajakmu beradu argumen dan berkelahi seperti yamg dilakukan Chatura," tambahnya buru-buru, sedikit gugup. "Aku hanya berpikir soal konsep kehilangan teman, dan tentunya itu tidaklah menyenangkan."

"Aku minta maaf...."

"Tidak," sela Aswin. Ia menghela napas dalam-dalam. "Bukan permintaan maaf yang ingin kudengar. Aku hanya ingin kau tahu kalau aku menyayangimu Candhra, seperti saudaraku sendiri. Sungguh."
Aku hanya bisa tersenyum mendengar pengakuannya.

Ya. Aku pasti juga akan merindukan orang ini. Namun aku percaya Aswin akan mendukungku meski tahu kami akan berpisah, meski dia lebih senang jika aku tidak pergi.

"Kau tahu perpisahan terdengar sangat menyakitkan, namun aku selalu berharap yang terbaik untukmu. Aku senang kau berada di dalam golongan orang-orang pemberani," sambungnya sembari memerhatikan rumput di kakinya.

Benar-benar tingkahnya mirip cowok yang tengah mengutarakan perasaannya pada gadis yang ditaksir. Tapi aku suka kejujuran Aswin. Dia sahabatku, kami bahkan saling bertukar rahasia, canda, dan duka.

Aku juga akan merasa berat tanpa kehadirannya. Kami selalu bersama, sehari-hari melakukan pekerjaan bersama, menangkap serangga air kesukaan kami juga menyatapnya bersama.

Bertahun-tahun kami melakukannya. Aku tahu benar Aswin sudah menjadi bagian dari kehidupanku. Ia bahkan lebih dekat denganku daripada kakakku sendiri.

"Terima kasih karena dukunganmu, teman." Aku mau tidak mau kembali memaksakan senyum.Keputusanku sudah bulat. Aku akan pergi meninggalkann hidupku yang damai dan datar ke tempat yang anonim.

Tempat di mana tidak ada yang mengenalku, tempat yang tidak kuketahui medannya. Segalanya penuh misteri hingga tiap kali aku memikirkannya jantungku akan berdetak lebih kencang.
Rasa ingin tahuku mendobrak-dobrak ingin keluar.

Aku menunggu hari keramat itu segera tiba. Namun tidak dapat dipungkiri, aku juga menginginkan waktu di sini dapat terasa lebih lambat dan menyenangkan.

Maka dari itu aku ingin melakukan lebih banyak hal buat ibuku. Satu-satunya orang tuaku, melahirkan dan membesarkan.

Masalah Chatura aku tidak akan terlalu ambil pusing. Kami memang lebih banyak berseberangan dalam banyak hal. Jadi tidak mengagetkan kalau aku harus berdebat dengannya. Tidak masalah.

Untuk Aswin, aku yakin ia akan dapat menjalani hidupnya meski tanpa aku. Teman datang dan pergi. Ia pasti akan mendapatkan sahabat baru, cepat atau lambat.

Persahabatan yang tulus, di mana orang-orang yang berada di dalamnya selalu siap sedia saling mendukung dan membantu. Persahabatan yang kumiliki, biar aku pergi, aku masih akan mengenangnya.

Rasanya aneh memang menjalani kehidupan di bawah sinar matahari tanpa Aswin, maka dari itu kadang-kadang aku berpikir apakah aku bisa mengajaknya pergi ke tempat yang lebih tinggi. Tempat yang mereka sebut-sebut sebagai nirwana.

"Kau tahu, kadang aku berpikir..." aku berhenti sebentar untuk menimbang-nimbang kata yang tepat. "apakah mungkin jika kau pergi bersamaku ke dunia atas."

"Aku? Mengunjungi dunia atas?" Aswin terlihat tidak yakin. "Aku tidak tahu apakah aku ini orang yang terpilih untuk ikut melakukannya."

"Itu pilihanmu sungguh. Aku secara pribadi juga tidak yakin apakah itu tugas dari dewa," ujarku meyakinkan.

"Dari keyakinan yang kau miliki tentu kau ini orang terpilih, pilihan dewa-dewa. Dewa-dewa memilih, dan rasanya aku tidak masuk dalam pilihan mereka," sahut Aswin sembari menunduk.

"Dengar, aku sendiri tidak yakin apakah aku ini dipilih dewa atau tidak karena aku tidak mendapat tanda-tanda apa pun," tegasku.

"Mimpi sekalipun tidak?"

"Tidak," jawabku mantap. "Sebut saja aku mantap karena aku tahu apa yang kuinginkan. Aku ingin menyusuri dunia atas, dunia yang berbeda. Maka dari itu aku merasa mantap."

"Tapi mestinya ada semacam tanda-tanda."

"Entahlah, tapi itu bukan semacam syarat yang harus dipenuhi. Aku juga sempat menunggu hal semacam itu, sampai akhirnya aku memutuskan untuk ikut mesti tanpa petunjuk dari dewa."

Aswin mengerutkan dahinya, tapi tidak berkomentar.

"Aku hanya mengutarakan usulanku soal kemungkinan kau ikut serta, tapi kumohon jangan jadikan itu sebagai beban. Jika memang kau merasa dunia ini adalah dunia terbaik untukmu, lakukanlah."

Ya. Aku memang tidak memaksa Aswin. Dengan atau tanpa dia aku akan tetap berangkat dan menjadi anak langit. Aku akan mencobanya meski itu berarti aku harus mempertaruhkan nyawaku. Aku siap!

"Terima kasih sobat karena kau mengajakku. Namun aku masih belum merasa harus pergi dari sini. Kuharap kau bisa melihat hal-hal luar biasa di atas sana."

Aswin berhenti sebentar.

"Tapi ada yang mengganjal pikiranku. Dari mana Rawi bisa tahu duluan kalau Archilum akan dilaksanakan? Padahal juru kuil saja belum mengumumkan apa pun hingga sekarang?"

Aswin melontarkan pertanyaan yang sudah lama ada di kepalaku. Bedanya ia berani menyuarakannya, sementara aku hanya memendamnya di kepala. Berharap itu akan terkubur sedikit-demi-sedikit dan tidak mengganggu hari-hariku.

"Apa menurutmu dia juga memiliki kekuatan seperti juru kuil? Dia mampu merasakannya, memprediksi dengan benar kalau memang lemparan besar akan terjadi?" Aswin menebak-nebak lagi.

"Aku tidak yakin dia memilikinya. Kupikir itu di dapatkan secara turun-temurun. Karena kakekmu bisa, maka kau juga akan bisa. Maksudku, kalau keluarganya memang memiliki sejarah untuk meramal, maka kemungkinannya memang ada," ungkapku, enggan.

"Masalahnya jika memang keluarganya bisa melakukan hal itu, lantas mengapa mereka tidak ditunjuk sebagai juru kuil?"

"Karena sudah ada juru kuil. Menurutku juru kuil hanyalah jabatan belaka.

Beberapa orang mungkin juga bisa merasakannya, tanpa memerlukan jabatan itu. Itu karena orang-orang ini istimewa."

"Orang-orang pilihan dewa," desah Aswin.

"Aku yakin bukan seperti itu."

"Lantas seperti apa?"

Aku mengangkat bahu. "Orang-orang dengan kepekaan lebih dari pada masyarakat kebanyakan."

"Itu terdengar seperti manusia dengan kekuatan dewa."

"Tidak ada manusia dengan kekuatan dewa. Satu orang manusia yang mampu menyelesaikan segala masalah," tukasku, cepat.

"Mungkin saja bukan manusia."

Lagi-lagi aku mengangkat bahu. Bagaimanapun kami tidak memiliki bukti apa-apa. Ada atau tidak ada. Sebagian memercayainya, sebagian menyangkal.

Jadi percuma saja debat kusir kalau keduanya berandai-andai.

Kepercayaan mengenai makhluk superpower yang memiliki kekuatan maha dahsyat tentunya bukan sesuatu yang asing bagi kami. Apalagi orang-orang di sini percaya pada dewa.

Dewa dianggap sebagai manusia yang mencapai titik pencerahan, sehingga dirinya bukan lagi manusia melainkan dewa. Dewa mungkin awalnya adalah manusia, kemudian berhasil melewati tahapan yang lebih tinggi.

"Apa kau percaya bahwa manusia mampu menjadi dewa, Aswin?"

Aswin mengangguk. "Percaya. Bukankah hal itu banyak disebutkan dalam kitab?"

"Apakah kau percaya dirimu mampu menjadi dewa?"

"Oh itu... Aku tidak yakin."
"Sungguh kontradiktif. Maka dari itu aku tidak yakin kalau sebenarnya ajaran di kitab-kitab itu sudah benar. Atau mungkin tulisan kuno itu benar, hanya para ahli menafsirkannya dengan salah."

"Apa yang sebenarnya ingin hendak kau katakan, Candhra?" tanya Aswin sembari memandangku lekat-lekat.

"Bahwa untuk menjadi dewa akan membutuhkan usaha keras. Berhenti meminta pada dewa. Karena seorang dewa tidak akan meminta bantuan pada dewa lainnya. Mereka akan mengusahakannya sendiri."
Aku berhenti sejenak untuk mengamati ekspresi temanku.

"Contohnya, Dewa Drad tidak akan meminta Kwork buat memunculkan petir di langit. Kwork juga tidak akan meminta bantuan Drad untuk membuat seseorang mencintainya."

"Tapi dewa tidak meminta bantuan karena mereka sudah mampu melakukannya."

"Tetap saja, mereka berusaha untuk itu. Kemampuan kita sebagai manusia pastinya belum bisa ditandingkan dengan para dewa. Tapi bukan berarti kita tidak bisa melakukan sesuatu tanpa bantuan dewa."

"Aku sudah tahu sejak lama kalau kau tidak benar-benar percaya pada dewa."

"Aku percaya keberadaan dewa. Bahwa mereka pernah ada, bahwa mereka bisa jadi dulunya adalah manusia. Tapi aku sudah tidak mau berdoa dan meminta apa pun pada mereka."

"Candhra, aku tahu kau ini seorang pekerja keras dan pantang menyerah," kata Aswin.

Aku mendesah pelan. Percuma saja, ia tidak menangkap maksudku. Tidak masalah, memang kami tidak memiliki jalan pikiran yang sama. Tidak perlu diperpanjang lagi atau kami akan bertengkar.

Aswin adalah seseorang yang taat. Dan meski ibuku sangat patuh pada kuil, aku tidak menuruni ketaatan yang dimiliki ibu.

Aku sadar kalau diriku sangatlah berbeda. Tidak sama dengan ibu, Chatura, bahkan orang-orang di sekitarku. Tapi bukan berarti itu membuatku merasa tidak nyaman.

Pemikiran-pemikiran yang dinilai menyimpang dari orang-orang tidak membuatku tidak nyaman. Aku justru merasa tidak nyaman bila harus berpura-pura bisa menerima pemikiran yang dianggap oleh orang kebanyakan.

Seperti itu saja.

“Aswin bagaimana kalau pekan ini kita ke perpustakaan?”

Aswin mengerjap-ngerjapkan matanya, seolah tidak percaya dengan apa yang barusan didengarnya.

“Kau ingin mempertemukanku dengan Vedika, sobat? Sungguh?”

“Jangan biarkan pikiranmu menjadi liar seperti itu,” cibirku, “Aku hanya ingin mencari tahu lebih banyak mengenai Archilum.”


Chapter 9

Terpilih dan dipilih. Apakah dewa memilih? Apakah alam memilih? Ataukah kehidupan yang acak itu?

Bagaimana kau tahu bahwa kau adalah sang terpilih, bagaimana kau tahu kau tidak terpilih?

Sebenarnya siapa yang menentukan? Apakah ada yang mesti menyetujuinya? Dewakah itu? Atau setetes embun malam yang pergi sebelum pagi?

Kepalaku serasa ingin pecah memikirkannya.

Mestinya ada petunjuk yang konkret. Tapi sayangnya hingga sekarang aku belum mendapatkan tanda-tanda apa pun.

Biar begitu, bukan berarti semangatku untuk mencari tahu lebih dalam soal Archilum menjadi surut. Sesuai kata-kataku pada Aswin, kami akan pergi ke perpustakaan layaknya seorang intelijen.

Hari ini Aswin tampil beda. Aku yakin pakaian yang dikenakannya hari ini adalah baru.

Ia bahkan merapikan rambutnya sehingga tidak terlalu awut-awutan seperti biasanya. Rambut Aswin memang agak ikal dan biasanya ia tidak memedulikan biar angin memporak-porandakan rambunya.
Namun tentunya hari ini berbeda.

Perpustakaan adalah tempat dia dan pujaan hatinya bertemu. Semacam tempat khusus, kuil pemujaan cinta khusus Aswin.

Ia selalu membicarakan kepergian kami sepanjang minggu, terlihat sangat tidak sabar untuk segera berakhir pekan. Harapannya ia bisa bertemu dengan Vedika.

“Kerinduan ini akan segera terjawab. Bagaikan perkamen yang menunggu giliran untuk menjadi wadah penyampaian perasaan cinta, seperti itulah takdir mempersatukan kita. Muncul dalam mula kata-kata dalam kepala, kemudian dituangkan menggunakan tinta.”

“Aswin?”

“Ya, Candhra?”

“Menurutmu gadis itu akan ada di sana?”

“Pasti. Vedika sangat suka membaca buku. Perpustakaan adalah tempat kesukaannya,” jawab Aswin mantap.

“Jadi kau akan menyapanya dan mengajak gadis itu ngobrol?”

“Uh.... yang itu aku tidak yakin.”

Kalau begini terus Aswin hanya bisa mengharap gadis itu dari kejauhan. Dia bahkan tidak berani memajukan diri dan berkenalan lebih dekat, tapi selalu membahas gadis itu di hadapan. Entah apa yang dipikirkannya.

“Kalau kau terus begini, bagaimana mungkin hubunganmu dengan gadis itu akan mengalami kemajuan?” desisku, malas.

“Aku juga tidak tahu,” jawab Aswin yang kepercayaan dirinya sudah hilang.

Kami berjalan beriringan menuju area pusat area pesisir. Di sana akan banyak bangunan dan orang-orang. Rasanya sudah lama aku tidak berada dalam kerumunan.

“Mereka bilang tinggal di kota itu mirip seperti melakukan upacara tiap hari. Orang banyak berkumpul di tempat yang sama,” bisik Aswin padaku. Ia merapikan rambutnya dengan jari.

“Tempat ini memang ramai, maka dari itu disebut kota,” ujarku sembari mengangguk-angguk.

“Area perbelanjaan di sini jauh lebih bagus dari pada yang kita miliki di desa. Barang-barangnya juga lebih beragam.”

“Jadi kau tidak ingin ke perpustakaan?” tuntutku.

“Bukan seperti itu sobat. Aku hanya memberitahumu, memberi ide siapa tahu kau bosan dan Vedika tidak berada di sana jadi kita tidak punya alasan untuk berlama-lama di perpustakaan,” tuturnya sembari nyengir.

“Sepertinya tujuanmu dan tujuanku mengunjungi kota hari ini lumayan berbeda,” kataku mencibir.

Aswin kembali memamerkan cengirannya.

Angin kembali berhembus ke arah kami. Aku tidak mengerti mengapa hari-hari belakangan ini jauh lebih berangin dari pada biasanya dan Aswin kembali merapikan rambut dengan jari-jarinya yang kasar.

“Berhentilah melakukan itu!”

“Memangnya apa salahku?” rengek Aswin.

“Rapikan rambutmu saat hendak memasuki perpustakaan, tidak perlu kau rapikan sepanjang perjalanan,” kataku memberi usulan.

Pipi Aswin bersemu merah.

“Kau tahu aku sangat gugup, sampai-sampai aku tidak bisa berpuisi.”

“Aku yakin kau akan berpuisi setelah hari ini. Jika bertemu dengan Vedika, kau akan membuat puisi cinta, jika tidak bertemu kau akan membuat puisi kesedihan.”

“Kondisi apa pun yang kita terima hari ini akan membuatmu lebih produktif.”
“Ah! Kau memahamiku dengan baik sobat,” kekehnya.

“Jadi di mana perpustakaannya?” tanyaku ketika kami sudah tiba di alun-alun kota dengan kolam teratai besar di tengahnya.

Banyak orang-orang yang duduk di sekitar kolam. Tua-muda, sendiri, berkelompok.

Aswin menunjuk arah jarum jam dua dan mengatakan jika kami terus mengikuti arah itu, kami akan mendapati gedung perpustakaan di sebelah kiri.

Angin kemballi berhembus ke arah kami. Aswin sudah hampir mengangkat tangannya kemudian ia mendapatiku sedang memelototinya. Jadi ia menurunkan tangannya lagi.

Ini pertama kalinya aku mengunjungi perpustakaan kota. Aku hanya pernah merasakan perpustakaan yang sempit di sekolah, di sana tidak tersedia banyak buku. Lagi pula aku juga tidak terlalu lama di sekolah.

Masyarakat di sini bersekolah hanya untuk belajar membaca dan berhitung. Setelah menguasainya kami sudah dianggap lulus dan bisa langsung bekerja. Jadi masa belajar di sini sangat tergantung kecepatan seseorang belajar.

Jika orang itu pandai, ia akan dapat menyelesaikan keterampilan membaca dan menghitung dalam waktu beberapa bulan saja. Buat yang otaknya lambat memroses, bisa sampai satu atau dua tahun.

Uniknya mereka tidak akan dibiarkan berhenti di tengah jalan. Sudah menjadi semacam adat di sini semua orang harus bisa membaca juga menghitung. Jadi orang yang tidak kunjung menguasai keterampilan dasar akan belajar terus hingga bisa.

Saharsa dan Sahasra merupakan pekerja perpustakaan. Mereka nampaknya sudah bekerja cukup lama di sini dan tidak pernah memikirkan pekerjaan lain. Bukan karena mereka menyukai pekerjaannya, tapi menyukai banyaknya waktu luang yang didapatkan.

Coba saja bayangkan pekerjaan di tambak seperti yang kulakukan bersama Aswin. Pekerjaan perairan membuat kami harus terpapar sinar matahari setiap hari, kehujanan saat hujan.

Bekerja di perpustakaan berarti bekerja di dalam gedung. Tidak akan disengat matahari, juga bila hujan malah tambah sepi.

Pengunjung perpustakaan tidak pernah banyak. Hanya wajah-wajah tertentu yang sering mereka jumpai. Maka dari itu tidak heran jika si kembar mengamati wajahku untuk pertama kalinya.

“Umm... ini si kembar Saharsa dan Sahasra, mereka adalah petugas di sini,” ujar Aswin lambat-lambat.

Kedua orang itu memandangiku dari ujung kaki hingga ujung rambut. Seolah aku ini monster jenis baru. Spesies yang mereka belum pernah jumpai.

“Namaku Candhra,” ujarku mendadak jadi gugup karena seperti tengah ditelanjangi seperti itu. “Aku... aku akan meminjam buku.” Kutambahkan kalimat tersebut di akhir, tapi tidak terdengar ada kepercayaan diri di sana.

Saharsa dan Sahasra terbahak melihat kelakuanku yang aneh.

“Kau menakutinya, bro!” seru Saharsa yang entah mengapa terdengar senang.
“Bukan aku, tapi kau!” sergah Sahasra terkekeh sembari meninju bahu saudaranya.

Aku mengerut-ngerutkan kening, mencoba mengucapkan sesuatu, tapi aku tidak mendapat ide untuk membuka pembicaraan.

“Jangan godai dia,” sahut Aswin berdehem.

“Tidak, tentu tidak,” jawab Saharsa cepat.

“Kami senang kau membawa orang baru kemari. Nampaknya beberapa hari ini ada pengunjung baru, tentu kami senang,” tambah Sahasra.

“Ada pengunjung baru?” tanya Aswin sembari menaikkan alisnya.

Si kembar mengangguk secara bersamaan.

“Tentu, itu gadis yang kau suka. Siapa itu namanya?”

“Vedika,” sela Aswin cepat. Aku bisa melihat rona merah memenuhi pipinya. Malu.

“Si Vedika kemarin membawa anak baru. Nebula. Si Nebula ini cukup cantik,” kata Sahasra mendeskripsikan teman dari Vedika.

“Tapi kalau kau bertanya-tanya apakan mereka ada di sini hari ini, maka jawabannya adalah tidak. Mereka sudah kemari kemarin, dan empat hari yang lalu. Jadi kurasa mereka tidak akan muncul lagi hari ini,” papar Saharsa.

“Kurasa juga begitu. Kecuali hari ini ada keajaiban, kurasa kalian butuh keberuntungan yang kuat untuk bertemu dengan mereka hari ini juga,” imbuh Sahasra.

Aswin terlihat kecewa selama sedetik, tapi kemudian ia menguasai dirinya kembali.

“Kami kemari bukan untuk melihat cewek.”

“Jadi kalian ini menemui kami?” sahut Saharsa, terkejut.

“Kalian ingin mengenal petugas perpustakaan terkeren di Bumi ini?” lanjut Sahasra menggebu-gebu.

“Kami akan meminjam buku,” cibir Aswin, menyanggah terkaan kedua orang di hadapannya sebelum imajinasi mereka makin liar.

“Tentu saja kau tidak akan menguliti Brachuura di sini,” sindir Sahasra. “Sana pergilah ke rak-rak dan terbangkan debu-debunya untuk kami.”

Aswin menahan diri untuk tidak memutar bola matanya. Ia memilih untuk berlalu sembari mendorongku.

“Aku tidak menyangka ada sepasang manusia kocak seperti itu di perpustakaan,” kataku setelah jarak kami dengan meja petugas cukup jauh.

Memastikan kedua orang kembar itu tidak bisa mendengar ucapanku.

“Kadang aku juga berpikir seperti itu. Mengenai bagaimana seseorang bisa berada di tempat yang kurang pas dengan kepribadian mereka.”

“Jadi menurutmu, pekerjaan apa yang harusnya mereka lakukan?”

“Badut sirkus,” jawab Aswin dengan nada mencibir.
Aku terkekeh mendengar kata-kata Aswin.

Kami sudah berada di antara rak-rak tinggi. Aku tidak mengerti mengapa mereka membangun raknya hingga ke langit-langit. Efisiensi tempat mungkin?

Tapi bukankah itu menyulitkan pengunjung untuk meneliti buku-buku yang sulit di jangkau?

“Ada tangga, beberapa koridor dari sini. Siapa tahu kau ingin memeriksa bagian atas yang menyulitkan itu,” tunjuk Aswin seolah bisa mendengar pikiranku.

Aku tersenyum samar. “Kurasa kita periksa bagian yang bisa dijangkau terlebih dulu.”

“Kau terdengar sangat bijak dan tua.”

“Sialan kau, Aswin!” seruku sembari terkekeh.

Aswin memberikan isyarat supaya aku tidak membuat keributan. Aku hampir saja lupa kalau kami sedang berada di perpustakaan. Di sini memang terdapat banyak buku, tapi atmosfernya tidak sesuram yang kubayangkan.

“Memangnya ada pengunjung lain?” tanyaku, tidak yakin.

“Ada beberapa yang sudah menjadi langganan harian tempat ini. Kebanyakan dari mereka usianya sudah lebih dari setengah abad. Aku heran mengapa orang-orang ini masih memiliki kemampuan penglihatan yang baik.”

“Aku juga heran mengapa anak muda sepertimu suka bersemedi di tempat ini.”

“Karena aku bisa membaca puisi-puisi dari para pujangga di bumi ini. Kau mungkin tidak percaya, tapi aku pernah menemukan buku puisi yang sepertinya menggunakan bahasa lain.”
“Memangnya ada bahasa lain?” ujarku, mengerutkan kening.

Aswin mengangguk mantap. “Aku benar-benar tidak bisa memahaminya.”

“Mungkin karena pemilihan katanya yang kurang lazim dan rangkaian katanya yang rumit?”

“Tidak, hurufnya memang sama, masih bisa dibaca, tapi artinya aku benar-benar tidak memiliki pencerahan untuk itu.”

“Menarik.”

“Menarik kau bilang? Aku lebih suka mengatakannya sebagai memusingkan,” gerutu Aswin.

“Baiklah kita akan mencari di mana? Seluruh rak-rak ini terlihat sama dan aku tidak benar-benar mengetahui bedanya”

“Aku sendiri heran mengapa si kembar hanya menyuruh mereka masuk, tapi tidak menanyakan buku apa yang kita perlukan.”

Aswin terkikik. “Sebenarnya mereka sendiri tidak terlalu memahami buku-buku di sini. Kudengar mulanya buku-buku di sini ditata sesuai topiknya...”

“… tapi kau tahulah, banyak pengujung yang berbuat seenaknya. Mereka asal saja menaruh buku yang sudah di baca ke rak terdekat. Bukan mengembalikan buku tersebut ke tempat semula.”

“Apa si kembar tidak mencoba menyusunnya kembali.”

“Mereka pernah melakukannya, tapi belum sampai seperempat perpustakaan mereka sudah menyerah. Kau tahu tulisan-tulisan di tempat ini sangat banyak dan memusingkan...’

“… meski begitu, terkadang ada pengunjung yang berbaik hati. Mereka menaruh buku yang tidak pada tempatnya ke meja pengumpulan untuk dikembalikan ke rak yang benar.”

Aku mengangguk-angguk mendengar penjelasan Aswin. Apalagi buku-buku di sini sudah ada dari beberapa generasi silam. Jumlahnya sangat banyak.

Beruntung gedung ini cukup besar sehingga masih bisa menampung seluruh isinya.

“Kurasa mereka membutuhkan ruangan tambahan jika ingin merapikan buku-buku di sini. Tapi mengingat petugasnya hanya dua orang, kurasa merapikan buku tetap menjadi tugas yang berat.”

“Memangnya tidak ada yang ingin menjadi petugas perpustakaan lagi?”

“Kurasa siapa pun yang ingin bekerja di sini sudah ketakutan di awal. Membayangkan harus membersikan debu dan merapikan ribuan buku yang nampak tidak ada habisnya. Tidak hanya buku sebenarnya. Gulungan perkamen, juga halaman-halaman yang lepas menambah tingkat kesulitannya.”

“Apa kau tidak berpikir untuk bekerja di sini?”

“Aku memang suka membaca. Tapi aku lebih suka menjadi pujangga dari pada petugas perpustakaan.”

“Kupikir si kembar itu cukup menyenangkan.”

Aswin tersenyum. “Mereka memang ramah dan agak ramai. Senang berdebat, sangat bersemangat.”

“Kau benar,” ujarku setuju. Aku melirik ke rak di sebelahku dan membaca beberapa judul. “Nah karena kita sudah berada di area ilmu pengetahuan dan alam, bagaimana kalau kita mulai mencarinya di sini?”

“Menurutmu kita harus mencarinya di sini, bukan di area religiositas?”

Aku memiringkan kepala. Ucapan Aswin ada benarnya, tapi entah mengapa aku merasa perlu mencari di area ini juga. Seolah ada sesuatu, sebut ini sebagai insting. Tidak berdasar logika memang.

“Kau benar. Sebaiknya kita mencari di bagian religiositas dulu saja. Kemudian mungkin kita bisa mencari bukti-bukti pendukung di area sini.”

“Ide yang bagus kawan.”

Maka kami mulai mencari, mengaduk-aduk perkamen. Mencari-cari hal yang dirasa ada hubungannya dengan Archilum. Mengumpulkan kepingan-kepingan misteri hingga terbentuk susunan  informasi yang utuh dan lengkap.

Aku dan Aswin membagi tugas. Masing-masing mencari di dua baris rak lebih dulu baru beralih ke baris lainnya. Mengingat satu rak saja sudah berisi sangat banyak buku. Kurasa kami perlu seharian untuk mengamatinya.

“Jadi sudah berapa banyak buku yang kau baca Aswin?”

“Ratusan,” ujarnya sembari mengangkat bahu. “Tapi kebanyakan soal sastra, sedikit soal beternak hewan, lebih sedikit lagi soal kebudayaan dan kepercayaan.”

“Kurasa kau adalah salah satu manusia paling cerdas yang kukenal.”

“Kenapa kau butuh waktu yang sangat lama sekali untuk menyadari hal itu?” protes Aswin sembari terkekeh.

“Kurasa suatu saat aku harus melihat namamu di salah satu deretan rak sastra.”

“Akan kulakukan sobat. Kau harus selalu mendukungku  karenanya.”

“Tidak masalah. Siapa yang menolak memiliki teman yang hebat?” ujarku sembari membolak-balik buku yang ada di tanganku. Kami sudah memutuskan untuk tidak hanya meneliti judulnya saja. Tapi juga memeriksa dengan cepat isinya.

“Kau juga hebat sobat.”

“Apanya?” sahutku sembari mendongakkan wajahku dari buku.

“Kau ini orang yang keras kepala, sangat memegang teguh apa yang kaupercaya dan mengusahakan apa yang kauinginkan.”

“Memangnya itu suatu prestasi?”

“Itu adalah modal kuat untuk berprestasi.”

“Apa maksudnya?”

“Rasa ingin tahumu kuat dan pantang menyerah. Kurasa kau akan menjadi orang hebat. Aku bisa merasakannya,” imbuh Aswin sembari menggebu-gebu.

Aku mengangguk-angguk meski tidak sepenuhnya yakin dengan apa yang sedang Aswin bicarakan.

“Aku senang kalau kita berdua sama-sama akan menjadi orang hebat.”

“Pasti!” sahut Aswin senang.

Seperti dugaan Aswin, ketika kami selesai menyisiri seluruh buku di rak pertama yang kami tentunya, hari sudah hampir gelap dan perpustakan sudah akan tutup.

Si kembar terdengar tengah berkeliling untuk mengingatkan pengunjung segera beranjak karena petang sudah datang.
“Mereka tidak mau menyalakan lilin dan membuka perpustakaan di malam hari.

Takut kebakaran,” ujar Aswin menjelaskan alasannya.

“Aku cukup setuju akan hal itu. Kertas dan api adalah perpaduan yang mengerikan. Tidak hanya kebakaran, tapi banyak pengetahuan yang bisa hilang karena terbakar.”

“Kuharap di masa  depan akan ada alat yang bisa menerangi malam hari kita. Sesuatu yang bisa menerangi seluruh isi gedung dan tidak mudah terbakar.”

“Akan sangat menyenangkan bila kita bisa membaca di malam hari.”

“Kebanyakan orang-orang bekerja di siang hari, dan pada saat libur, memilih buat beristirahat di rumah dari pada membaca buku di perpustakaan.”

“Pengetahuan. Aku seolah sudah lupa mengenai pentingnya hal itu. Merasa apa yang kuketahui tentap dunia sudah cukup hanya karena aku terus hidup berdampingan dengan Brachuura.”

“Merawat dan membudidayakan Brachuura tentunya membutuhkan keterampilan tersendiri,” senyum Aswin.

“Kurasa sebaiknya kita segera keluar dari sini atau si kembar akan menyeret kita keluar.”

“Sejujurnya kami tidak akan sekejam itu. Menyeret? Tidak, kami hanya akan membuatmu bermalam di sini tanpa penerangan dan makanan,” cengir Saharsa sembari muncul dari salah satu rak.

“Kelihatannya kurang mengasikkan,” timpalku, mau tidak mau ikut menyengir.

“Mampirlah lagi Candhra. Kami selalu senang ada pengunjung baru sepertimu.”

“Oh ya, apakah di sini ada buku yang menyebut-nyebut soal Archilum?”

“Archilum?” Sahasra memandangi kembarannya.

“Kurasa kami belum pernah mendengar hal semacam itu,” sahut Saharsa, ringan.
Aku mengangguk.

Angin di luar lumayan kencang, ternyata di dalam benar-benar tenang. Bahkan tadi sempat hujan rintik-rintik bila ditilik dari jalanan yang basah. Kami terlalu terhanyut dalam pencarian hingga tidak menyadari apa yang terjadi di luar.

Aswin merenggangkan sendi-sendinya seolah sudah dua tahun tidak bergerak. Ia menghirup udara sore dalam-dalam sembari memejamkan mata.

“Kurasa aku akan merindukan tempat ini setelah pergi nanti,” katanya, kalem. “Apa kau sudah memberitahu ibumu soal Archilum?”

Aku menggeleng.

“Tidak ada gunanya mengulur-ulur waktu seperti itu. Ibumu juga harus menata perasaannya untuk kepergianmu. Lebih cepat memberitahunya, lebih baik.”

“Aku akan melakukannya,” tepisku.

“Segera.”

“Kapan itu segera?” sindir Aswin.

“Malam ini,” ujarku bersungguh-sungguh.


Chapter 10

Mengapa aku tidak bertanya pada ibu meski Outi sudah memberitahuku bahwa sebenarnya ibukulah juru kuil Archilum?

Aku sendiri tidak memiliki jawaban pasti. Seolah rasa ketertarikanku pada Archilum merupakan sesuatu yang salah. Jika aku memperlihatkannya dengan jelas, ibu akan segera tahu kalau aku ingin pergi.

Masalahnya kepergian kali ini akan berbeda. Kami mungkin tidak akan bertemu kembali jika aku berhasil dalam upacara tersebut. Akan lebih melegakan buat dia kalau aku gagal, tapi aku tidak berencana buat gagal.

Jadi kuputuskan untuk mengunjungi perpustakaan. Siapa tahu aku bisa mendapatkan beberapa hal menarik dan memberikan pertimbangan yang lebih matang bagiku untuk menyikapi upacara ini.

Meski begitu ternyata mencari tahu soal Archilum tidaklah semudah yang kubayangkan. Seharian penuh dan tidak mendapatkan apa-apa. Itu artinya aku dan  Aswin harus kembali ke perpustakaan dan mencari lagi hingga mendapatkan informasi yang mungkin akan membantu kami melewati Archilum dengan sukses.

“Aku kemarin ke perpustakaan lagi sendiri dan mendapatkan selembar perkamen yang sepertinya cukup berharga. Perkamen yang membahas mengenai Archilum.”

Aku mendongak, Aswin berdiri searah sinar datangnya matahari. Silau.

“Bukankah petugas perpustakaan mengatakan tidak ada hal semacam itu di sana?” kataku menimpali.

“Jangan terlalu mendengarkan dia. Dia itu tidak terlalu gemar membaca. Alasan Saharsa bekerja di bagian perpustakaan adalah karena pekerjaannya yang ringan.

Kalau perpustakaan sepi ia bahkan tidur siang di kantornya,” kekeh Aswin, seolah hal itu adalah sesuatu yang lucu.

Bermalas-malasan di tempat kerja.

“Jadi apa yang kau dapatkan?” kataku sembari bergeser supaya Aswin dapat ikut duduk di atas batang pohon yang rubuh.

“Penjelasan mengenai surga di perkamen itu jelas berbeda dengan surga yang ada di kitab-kitab.”

“Lanjutkan,” pintaku.

“Mereka menyebut-nyebut makhluk yang lebih tinggi dan sepertinya membahas soal teknologi yang lebih tinggi. Aku membaca semua itu tapi tidak memahaminya,” sahut Aswin kesal.

“Aku tidak tahu apa yang dimaksudkan penulis dengan transfer data secara wireless atau rekayasa genetika. Aku membacanya berulang-ulang dan tetap tidak bisa mengerti.”

Menarik. Bahkan seorang Aswin yang kecerdasannya di atas rata-rata sekalipun tidak mampu memahami hal-hal semacam itu.

“Aku hanya melihat beberapa gambar benda aneh. Yang terbaca adalah komputer, tapi tidak ada penjelasannya apa itu komputer. Juga internet. Tulisan di perkamen itu membuat kepalaku berdenyut-denyut.”

“Komputer? Sepertinya ini pertama kali aku mendengar kata tersebut.”

“Sama. Aku juga belum pernah mendengarnya. Tidakkah itu aneh. Seperti dongeng saja, tidak nyata.”

“Bagaimana dengan makhluk yang lebih tinggi?” tanyaku mencoba mencari-cari titik cerah.

“Aku tidak mengerti juga, karena gambarnya orang dengan kepala anjing tapi tubuhnya mirip dengan manusia. Juga ada yang wajahnya mirip buaya bahkan kucing. Tidakkah itu aneh, Candhra? Kuharap aku tidak menjadi gila karena membaca buku aneh seperti itu.”

“Tapi apa hubungannya perkamen itu dengan Archilum?” Aku makin tidak mengerti arah pembicaraan ini. Seolah sejak awal sudah melenceng.

“Itu surga yang ada di dunia atas. Penjabarannya kurang lebih seperti itu. Tapi sungguh kurang membantu buat memahaminya. Penulisnya seolah-olah ingin mengatakan sesuatu lewat imajinasinya.

“Jujur saja aku tidak yakin hal-hal yang disebutkan dalam perkamen adalah sesuatu yang benar dan nyata,” dengus Aswin. “Aku merasa seperti orang tolol sekarang.”

“Merasa tolol karena tidak mengerti apa yang disebut dengan komputer?”

“Merasa tolol karena aku tidak mampu memahami tulisan itu. Hal itu menyadarkanku bahwa sebenarnya banyak hal yang tidak kita ketahui.

Mungkin kita memang mahir soal Brachuura, tapi di luar itu sebenarnya kita tidak ada apa-apanya.”

Aku memikirkan kata-kata Aswin. Dia benar. Sebenarnya pengetahuan yang kami miliki sangatlah sempit. Dunia atas pastilah menyimpan banyak pengetahuan.

Hal-hal yang tidak terpikirkan oleh manusia bawah bisa diwujudkan di atas sana.

“Kuharap aku bisa menemukan tulisan lain yang bisa membantuku memahami perkamen yang telah kubaca sebelumnya. Isi dari perkamen itu benar-benar di luar jangkauan. Aku merasa agak pening ketika membacanya.”

“Pelan-pelan saja. Kita akan mengumpulkan fakta-fakta. Sedikit demi sedikit,” kataku menyemangati.

“Aku jadi merasa seperti polisi sekarang. Mengumpulkan bukti-bukti, fakta dan informasi.”

“Mungkin kau berencana mengganti pekerjaan setelah ini,” godaku.

“Tidak, seandainya tidak menjadi pekerja tambak lagi, aku akan mencoba menjadi sastrawan.”

“Sembari mengjar di sekolah?”

“Iya,” katanya mantap. “Jadi apakah sebaiknya hari ini kita kembali mengunjungi si kembar?”

“Lebih cepat lebih baik,” sahutku bersemangat.

Aku ke perpustakaan untuk kedua kalinya. Kali ini Aswin tidak perlu menunjukkan jalannya, aku ingat benar rute mana saja yang kulewati untuk mencapai kota. Sama seperti aku mengingat rute ke Jathilan.

Biarpun hujan menghapus jalan setapak, aku masih bisa mengenali pohon-pohon di hutan yang kulewati sehingga tidak akan tersesat. Intinya sekali saja lewat sudah cukup bagiku, aku bisa melakukannya lain kali dengan tepat.

“Jadi apa kau bertemu dengan Vedika lagi?”

“Saat aku ke perpustakaan sendirian? Tidak aku tidak melihatnya. Tapi uniknya aku tidak memikirkan gadis itu lagi ketika menemukan perkamen yang sudah kuceritakan padamu.”

“Jadi kau sudah mulai bisa melupakannya?”

Aswin menepuk bahuku dan tertawa-tawa. “Siapa bilang. Perhatianku memang teralih sementara tapi bukan berarti aku benar-benar melupakannya!”

“Kupikir kau sudah jatuh cinta pada hal lain. Komputer,” godaku.

“Tidak secepat itu, sobat!” kekeh Aswin.

Kami memasuki gedung perpustakaan yang sepi seperti biasanya. Si kembar Saharsa dan Sahasra tengah berdebat mengenai buku sastra terbaik di perpustakaan mereka.

“Kupikir Sekapur Sirih adalah yang terbaik. Penyairnya benar-benar bisa merefleksikan kehidupan ini dengan kata-kata yang lembut namun lugas,” kata Saharsa.

“Bertunas Nanas lebih baik. Puisi-puisinya bagaikan untaian mantra, menyihir pembacanya untuk terus menikmati dari halaman ke halaman,” bantah Sahasra.

Mereka kemudian menoleh saat aku dan Aswin masuk dan tampak berminat untuk menyeret kami dalam perdebatan mereka.

“Aswin, katakan padanya bahwa Sekapur Sirih lebih baik dari pada Bertunas Nanas!” seru Saharsa sembari melipat tangan di depan dada.

“Jelas-jelas Bertunas Nanas merupakan satu maha karya! Katakan kalau kau sependapat denganku, Aswin.” Kali ini Sahasra yang berkata dengan nada mendesak.

“Eh, aku tidak tahu kalau sebenarnya kedua buku itu perlu ditandingkan mengingat penulisnya adalah orang yang sama,” sahut Aswin sembari berlalu.

“Benarkah?” celetuk Saharsa, terkejut.
“Aku kok tidak tahu kalau penulisnya sama?” gumam Sahasra, binggung.

“Mereka benar-benar lucu ya? Kadang aku merasa iri dan ingin memiliki saudara kembar yang bisa kuajak berdebat seperti mereka. Sekarang aku memang memiliki banyak saudara, tapi karena aku tidak seumur, rasanya tidak akan seseru anak kembar.”

“Wah! Aku sih menolak untuk memiliki dua orang teman Aswin.”

Aswin menghentikan langkahnya dan berkacak pinggang. “Kenapa begitu?”

“Karena satu saja sudah bisa membuat banyak puisi. Aku tidak bisa membayangkan ada dua Aswin yang saling beradu puisi. Itu akan cukup merepotkan.”

Aswin tertawa erpingkal-pingkal mendengarkan jawabanku. Seolah aku sedang membuat lelucon saja.

“Hentikan tawamu, kita sedang berada di perpustakaan,” cibirku.

“Santai saja. Kau lihat penjaganya saja berdebat begitu, kenapa pengunjungnya harus tenang?”

“Tunjukkan di mana kau menemukan buku itu.”

Aswin membuat gerakan supaya aku mengikutinya. Kami melewati rak-rak tinggi yang penuh dengan buku. Aku yakin siapa pun yang tertimpa rak di sini akan mati karena buku-bukunya sangat tebal.

Letaknya agak ke sudut tapi tidak gelap karena ada jendela besar di sana. Sinar matahari menembus masuk perpustakaan. Aku bahkan bisa merasakan betapa lembut semilir angin yang masuk dari celah tersebut.

Mendadak Aswin menghentikan langkahnya dan aku mengikuti arah matanya. Ada dua gadis di dekat rak-rak yang akan kami tuju.

Keduanya sedang duduk dan membaca.
Tentu saja mereka membaca karena ini perpustakaan. Kalau mereka menyanyi dan menari maka mereka akan memilih alun-alun kota dari pada tempat yang berdebu ini.

“Vedika,” bisik Aswin pelan.

“Kenapa tidak kita sapa saja mereka?” usulku sembari tersenyum jahil.

“Jangan!” Mendadak suara Aswin menjadi serak, tercekat.

Ah! Aswin masih belum bisa mengumpulkan keberaniannya hingga sekarang. Bukankah itu sangat disayangkan?

Ia tidak akan membuat kemajuan apa pun jika terus memandangi gadis itu tanpa melakukan hal lain yang mampu mendekatkan mereka.

Dari cerita-cerita yang selalu keluar dari mulut Aswin, aku tahu kalau yang namanya Vedika adalah cewek yang duduk lebih dekat ke jendela. Rambut hitam sepinggang, mata yang lebar dan hidungnya yang lumayan bangir. Pasti itu dia.

Tapi siapa gadis yang ada di sebelahnya? Kurasa aku pernah melihatnya sebelum ini. Gadis itu dengan rambut pendek sebahu dan bunga kamboja terselip di telinga kanannya, terasa sangat familiar.

Gadis itu mengingatkanku pada saat-saat di mana lumut menjadi kering dan .... Aku ingat! Dia adalah gadis yang pernah kulihat bersama Chatura. Apakah gadis itu adalah calon kakak iparku?

“Lihat dirimu melihat Vedikaku sampai melongo begitu. Sudah kubilang kalau dia benar-benar cantik, tapi kau tidak boleh merebutnya dariku!”

Ucapan Aswin mengaburkan kenangan yang baru saja melintas di kepalaku. Aku yakin benar gadis itu adalah gadis yang sama. Gadis yang pernah kulihat bersama Chatura.

Aku menoleh ke arah Aswin dan tersenyum padanya. Ia tidak tahu kalau sebenarnya bukan Vedika miliknya yang tengah kuperhatikan, tapi gadis di sebelahnya.

“Di mana letak buku yang kau maksud?”

“Didekat gadis-gadis itu. Kumohon untuk tidak menatap Vedikaku terlalu lama, kau bisa saja berakhir menyukainya, sama sepertiku,” ujar Aswin mewanti-wanti.
Aku hanya bisa tertawa geli mendengar ocehan Aswin.

Kami berdiri di rak tepat samping meja kedua gadis itu berada. Aswin mulai mencari-cari buku yang ia maksud, sementara aku mencoba memusatkan perhatianku pada buku-buku di sana.

Kebanyakan buku lama dan sudah mulai usang.

Kurasa si kembar tidak terlalu mengerjakan pekerjaan mereka dengan baik. Mereka hanya menata buku-buku di sini supaya terlihat tetap rapi, tapi tidak membetulkan buku-buku yang sudah tua.

Contohnya buku yang sedang kupegang sekarang, judulnya Manusia dan Waktu. Beberapa halamannya bahkan sudah terlepas.

Perlu dijahit lagi untuk menyatukan bagian-bagiannya.

Jika dilihat betapa si kembar sibuk berargumen satu sama lain, aku yakin mereka tidak akan punya cukup waktu untuk melakukan perawatan buku-buku tua di sini.

“Kenapa tidak ada,” gumam Aswin setelah mencari selama beberapa saat.

“Tidak ada?” ulangku sembari mengerutkan dahi.

“Aku ingat benar letaknya. Buku itu sudah tidak ada di tempatnya.”

“Mungkin si kembar memindahkannya,” terkaku, asal.

“Tidak. Mereka tidak akan memindahkan barang-barang di sini. Kau tahu mereka sibuk berdebat sepanjang waktu,” keluh Aswin. “Kurasa jika kita bertanya pada mereka, si kembar juga tidak akan bisa memberikan jawaban.”

Aswin benar. Bahkan mereka tidak tahu kalau perpustakaan ini memiliki koleksi buku mengenai Archilum. Benar-benar penjaga perpustakaan yang menyedihkan. Mereka bahkan tidak memiliki daftar buku-buku apa saja yang dimiliki.

Mungkin jika ada yang berniat mencuri buku-buku di sini, si kembar juga tidak akan sadar kalau ada buku yang hilang. Selama mereka masih melihat tumpukan buku di ruangan yang besar ini, mereka tidak akan mencurigai bila ada satu atau dua buku yang dicuri.

“Kalian sedang mencari buku apa?”
Salah satu dari dua gadis itu menanyai kami, hanya saja aku tidak tahu yang mana karena kami memunggungi mereka. Juga aku tidak tahu perbedaan suara mereka.

“Archilum,” jawabku, spontan.

Aswin hanya membuka dan menutup mulutnya tanpa kejelasan untuk berbicara. Mirip ikan yang keluar dari air.

“Apakah buku ini?”

Ternyata Vedika yang berbicara. Ia menunjuk buku yang sedang dibacanya.
Aku menoleh ke arah Aswin yang masih belum menunjukkan tanda-tanda kemajuan dari rasa terkejutnya. Ia masih menggunakan wajah melongo dari tadi.

Anak ini benar-benar tidak ada harapan....

“Sebenarnya aku belum pernah melihatnya. Aswin yang pernah membacanya. Isinya ada yang menyebut-nyebut tentang komputer dan hal-hal aneh lainnya,” sahutku mencoba menjelaskan.

“Iya, buku ini menyebut sesuatu yang disebut sebagai komputer juga wireless,” ujar Vedika mengafirmasi. “Apa kalian mau memeriksanya? Aku sudah membaca beberapa halaman tapi tidak kunjung memahami apa yang tertuang di sana.”

Kali ini aku menyikut Aswin agar orang itu segera melakukan sesuatu. Maksudku aku tidak tahu apakah itu benar buku yang ia maksud atau bukan.

Aswin mencoba menguasai dirinya dan meraih perkamen yang disodorkan oleh pujaan hatinya.

Aku bisa merasakan tubuhnya masih sedikit bergetar dan aku tidak tahu sebelumnya kalau cinta bisa membuat gemetaran.

“Benar ini bukunya,” cicit Aswin.

“Buku yang menakjubkan bukan, Aswin? Aku tidak menyangka kalau kau membaca soal Archilum juga,” ujar Vedika menimpali.

“Aswin memang tertarik pada hal-hal yang unik dan misterius. Ia sudah banyak membaca buku sebelum ini, tidak diragukan pengetahuannya cukup luas,” kataku mempromosikan temanku.

“Benar, aku sering melihatnya mengunjungi perpustakaan.” Vedika menoleh ke arahku. “Ngomong-ngomong apa kau temannya Aswin?”

“Candhra,” ujarku sembari mengulurkkan tangan.

“Vedika,” katanya sembari menyambut tanganku, kami berjabat. “Ini temanku, Nebula.”

Detik berikutnya aku menyalami gadis itu, Aswin mengikuti setelahnya.

Entah mengapa aku merasa pernah melihat gadis ini sebelumnya. Tapi aku tidak ingat di mana. Yang jelas bukan di dalam mimpiku.

“Kurasa orang-orang akan segera berbondong-bondong mencari tahu lebih jelas mengenai Archilum. Mengingat pagi ini kuil sudah mengumumkan bahwa Archilum akan segera tiba.”

“Pagi ini?” tanyaku dan Aswin bersamaan.
Nebula mengangguk. “Duduklah, kurasa kita bisa membahas masalah ini bersama-sama. Kurasa kita berempat memiliki ketertarikan yang sama pada Archilum.”

Maka kami berempat duduk dengan saling berhadapan. Aswin di depan Vedika, sementara aku mengambil tempat di seberang Nebula.

Keadaan seperti ini sudah membuat kami sekilas tengah melakukan double date.

“Kapan Archilum akan dilaksanakan?” tanyaku, kini ikut-ikutan merasa gugup. Seolah kegugupan yang dirasakan Aswin bisa menular

“Siang hari pada pertengahan minggu ketiga bulan depan,” jawab Nebula.

“Kurasa aku akan mendaftarkan diriku segera ke kuil. Tidak ada alasan buatku untuk tidak mencobanya,” sela Vedika.

“Perlu mendaftar?” kali ini Aswin sudah menemukan suaranya dan berani bergabung dalam pembicaraan ini.

Vedika mengangguk. “Wajib melakukan pendaftaran. Mereka perlu mendata siapa saja yang ikut sehingga bisa menghitung berapa banyak yang berhasil nantinya.”

“Kurasa kalian juga ingin mencapai dunia atas,” sambung Nebula.

Tebakannya benar, aku memang ingin mencoba peruntunganku untuk bisa sampai ke dunia atas. Tapi aku sangsi Aswin ingin pergi juga.

Kupandangi Aswin yang terus-terusan menunduk. Aku tahu dia sedang berpura-pura membaca.

Ia pasti berusaha fokus tapi perhatiannya tidak tertuju ke buku dengan adanya Vedika di hadapannya.

Lucu sekali memandangi Aswin yang sedang salah tingkah seperti ini. Biasanya ia mengoceh panjang lebar, menceritakan apa pun yang terlintas di kepalanya. Tapi sekarang ia hanya diam.

“Sebenarnya kami belum memutuskannya. Apakah akan ikut atau tidak. Tapi kami jelas tertarik dengan Archilum. Masalahnya ada beberapa hal yang ingin kami ketahui lebih dulu sebagai bahan pertimbangan.”

“Seperti apa misalnya.”

“Kudengar mereka yang bisa mengikuti Archilum hanyalah orang-orang terpilih saja, di mana orang-orang ini sebelumnya sudah mendapat tanda-tanda dari dewa. Tentunya kami sama sekali tidak memiliki gambaran tanda yang dimaksud.”

“Kemudian alasan lainnya?”

Aku berpikir sejenak sebelum menjawab. “Karena kami belum ada gambaran seperti apa Archilum sebenarnya. Kami tentu sudah mendengar bahwa itu adalah upacara teragung di Bumi yang bisa membawa manusia ke dunia atas. Tapi aku sama sekali tidak tahu apa yang akan dilakukan selama upacara.”

“Kalian beruntung karena bisa bertemu dengan Nebula. Dia bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan itu dengan mudah,” sahut Vedika sembari memandangi buku yang masih di pandangi Aswin.

Aswin masih belum bisa berbuat banyak. Ia bahkan terus memandangi halaman yang sama. Berani taruhan sebenarnya ia tidak sedang membaca buku itu.

“Ceritakan pada kami,” ujar Aswin, tiba-tiba.

Aku lebih senang melihatnya semangat bertanya seperti itu dari pada pura-pura sibuk dengan buku di hadapannya.

“Eh, sebenarnya pamanku sudah pernah menyaksikan Archilum sebelumnya dan ia menceritakan beberapa hal kepadaku,” ujar Nebula ragu-ragu.

“Apakah sesuatu yang hebat? Apakah Archilum benar-benar agung?”

“Kurasa memang agung karena bisa membawa kita ke dunia atas. Apa kalian sadar kita sebenarnya tinggal di cekungan?”

“Cekungan?” tanya Aswin lambat-lambat.

Nebula mengangguk. “Cekungan,” ulangnya.

“Maka dari itu ada daerah yang lebih cepat gelap, ada yang lebih lambat gelap. Itu karena semenanjung yang mencuat di atas kita.” Ujar Nebula.

“Apakah tidak kalian perhatikan, bila kalian mencapai pegunungan tertinggi, kenapa di atas sana ada air laut yang luas, kalian melihat ada pantai digunung?” lanjut Nebula.

“Tetapi kita tidak dapat mendekatinya karena gaya tariknya lebih kuat dicekungan ini, sehingga kita kesulitan untuk menggapai pantai di atas gunung tersebut karena selalu tertarik ke cekungan ini”.

“Semenanjung yang ada di luar sana?” tanyaku ragu-ragu.

“Benar. Itulah semenanjung yang menjadi jembatan antara dunia bawah dengan dunia atas,” ujar Nebula membenarkan.

“Perhatikan di semenanjung yang di atas kita, di bawahnya diliputi oleh air laut, tetapi mengapa airnya tidak jatuh ke cekungan kita, semenanjung  di sana seperti memiliki gaya tarik massa tersendiri,  gravitasi sendiri” jelas Nebula antusias.

“Eh… sepertinya, kurasa selama ini itu bagian wujud dari kekuatan dewa” balas Aswin.
Nebula tersenyum dan tidak membalas kata-kata Aswin dan melanjutkan, “Tentunya kita semua merasa seperti hidup di bagian atas bumi dengan pegunungan mengitari daratan kita…”

“… kemudian kita juga bisa melihat lautan di tepi-tepi dunia kita. Kira-kira seperti itulah yang buku ini ceritakan,” ujar Vedika sembari menunjuk perkamen yang dimaksud.

“Tiap kali Archilum datang. Bumi akan mengeluarkan semburan air dalam jumlah besar sehingga manusia dapat menumpang air ke dunia atas. Konon di atas sana sudah ada kuil pendaratan yang dibangun manusia yang berhasil mencapai dunia atas.”

Nebula mengangguk. “Itu artinya siapa pun yang mengikuti Archilum harus dengan tepat mengarah ke kuil yang di atas. Atau...”

“Atau apa?” desak Aswin.

“Mereka yang tidak tepat menuju kuil sama artinya tidak di terima dewa di dunia atas. Maka dari itu orang tersebut akan mati,” desah Nebula seolah ia tengah ketakutan.

“Mati,” ulangku, perlahan.

“Maka dari itu petunjuk dari dewa sangatlah penting. Setidaknya itu menyakinkanmu juga keluargamu, menenangkan mereka bahwa peserta akan di terima dewa, bukannya mati sia-sia,” lanjut Vedika menekankan setiap bagian dari kalimatnya.

“Pasti mati?” Kali ini aku yang bertanya dengan nada mendesak.

“Menurut kepercayaan begitu. Tapi pamanku memiliki pandangan lain,” sela Nebula, cepat.

“Apa yang dikatakannya?”

“Bahwa orang yang terpilih sekalipun dapat gagal. Sementara orang yang tidak mendapat tanda-tanda dari dewa bisa juga berhasil.”

“Kedengarannya makin rumit,” kataku.

“Bagaimana kalau kita bertemu dengan pamanmu?” usul Vedika.

“Kebetulan dia akan mengunjungi keluargaku beberapa hari lagi. Kalian bisa mampir ke rumahku dan mendengar cerita langsung darinya. Dari orang yang pernah menyaksikan Archilum ketika masih hidup,” angguk Nebula.

“Tunggu. Kudengar Archilum semestinya terjadi beberapa ratus tahun sekali.

Namun kali ini berbeda. Archilum yang terakhir adalah dua puluh tahun yang lalu. Bukankah itu artinya banyak orang yang masih hidup yang bisa kita tanyai soal Archilum?”

“Kebanyakan dari mereka melihat dari jauh. Sementara pamanku menyaksikannya dari kuil. Ia bisa menceritakan hal tersebut secara lebih mendetail,” ujar Nebula meyakinkan.

“Ide yang brilian!” sahut Aswin setuju.

“Kurasa kita akan bertemu lagi dalam waktu dekat,” gumam Vedika sembari memandangi langit yang mendadak mendung di luar sana.

Vedika nampak ramah pada kami hingga akhir pertemuan hari itu. Ia bahkan masih ingat pada Aswin dan tidak terlihat untuk menjaga jarak.


Bersambung....


Cerbung ini ada di majalah AN1MAGINE Volume 3 Nomor 4 April 2018 eMagazine Art and Science yang dapat di-download gratis di Play Store, share yaa


“Menerbitkan buku, komik, novel, buku teks atau 
buku ajar, riset atau penelitian di jurnal? An1mage jawabnya”

AN1MAGINE BY AN1MAGE: Enlightening Open Mind Generations
AN1MAGE: Inspiring Creation Mind Enlightening 
website an1mage.net www.an1mage.org

Komentar

Page Views

counter free

Visitor

Flag Counter

Postingan populer dari blog ini

STANLEY MILLER: Eksperimen Awal Mula Kehidupan Organik di Bumi

Menerbitkan buku di An1mage

CALL FOR CHARACTERS - ICF3 - exhibit your original characters globally for free