CERPEN: BLOOMING HEART

http://zodesignart.com/wp-content/uploads/2017/05/flower-garden-at-home-and-great-beautiful-house-trends-.jpg

[Catatan dari Kloris]
BLOOMING HEART
Archana Universa


Kebanyakan menyebutnya bunga Bleeding Heart. Namun aku menyebutnya dengan Blooming Heart. Itu karena Mulord. Gara-gara dia.

Hari itu, Minggu. Aku punya kebiasaan merawat tanaman pada hari itu. Bisa dari pagi hingga petang karena banyaknya tanaman yang kurawat.

Yang kuingat, hari itu aku sedang mencabuti gulma. Menyebalkan sekali tanaman yang tidak diharapkan itu selalu muncul. Lagi dan lagi.

Mendadak, tanpa mendung, butiran-butiran air muncul berjatuhan membasahi tanamanku. Bukan hanya tanaman. Bajuku juga basah.

"Mulord!" seruku menyebut nama pelakunya. Aku tidak melihatnya, bayangannya pun tidak. Tapi, siapa lagi yang suka membuat "hujan" lokal begini?

Mulord keluar dari balik persembunyiannya. Bekas bonsaiku. Sekarang bukan bonsai lagi karena aku sudah membuatnya tumbuh besar dan tinggi.

"Sibuk sekali," katanya, sembari nyengir tidak bersalah.

"Tidak seperti kau yang kurang kerjaan sampai-sampai mengganggu orang!" kataku sembari mengerucutkan bibir, tapi kemudian aku tersenyum lebar padanya.

"Mau bantu?" tanyaku.

"Aku hanya bisa menyirami tanamanmu, Kloris," sahut Mulord seraya menarikan jarinya, membuat hujan kecil di atas pot yang tengah kupegangi.

"Kalau begitu, gunakan tanganmu untuk mencabuti gulma," pintaku sembari memasang wajah memelas.

Senja ini Mulord datang lagi ke pekaranganku dan aku masih tetap terjebak dalam rutinitas mencabuti gulma.

"Dewi gulma!" panggilnya seraya membawa dua buah apel.

Aku menangkap salah satu apel yang dilemparkan Mulord sementara dia menggigit apel lainnya.
"Suap untuk apa ini?" tanyaku, kemudian membuka mulut untuk menggigit apel di tangan, tapi tidak jadi. "Tunggu, kau tidak meracuni apelnya kan?"

"Hohoho! Aku Mulord si Ibu Tiri Snow White!" tawanya dengan suara cempreng ala banci. Mulord berkacak pinggang, suaranya kembali normal. "Kayak kau bisa diracuni pakai buah saja! Tanaman kan sekutumu. Aku akan mencari cara lain untuk membunuhmu, Snow White!"

"Tenggelamkan aku, kalau begitu," cibirku, cuek, kemudian mulai mengigit apel pemberiannya.
Mulord mengernyit seolah mencium bau tidak enak.

"Aku tidak akan mencelakaimu, sayangku. Lagipula kau tahu kalau aku jarang bisa menciptakan air dalam jumlah besar. Satu kali saat sangat senang, umur tujuh saat ayahku membawaku tamasya ke Terralonikki, nyaris membuat banjir bandang….”

“… Satu kali saat sangat sedih, saat ayah meninggal. Selebihnya aku hanya bisa membuat gerimis. Jangan salahkan aku soal cuaca pokoknya! Kekuatanku belum sedahsyat itu."

Dua kejadian itu sudah pernah kudengar sebelumnya.

"Kau bisa menyuapku dengan membantuku mencabuti gulma," usulku.

"Aku tidak mau tanganku kotor, wahai dewi gulma! Lagipula gulma-gulma itu subur juga karena kekuatanmu," tolaknya.

"Aku hanya ingin tanaman hiasku subur. Tapi, ternyata kekuatanku juga berpengaruh pada gulma-gulma ini," keluhku. "Ngomong-ngomong kau ingin menyuapku untuk apa?"

Senyum Mulord mengembang.

"Akhirnya kau menanyakan hal itu, Kloris!" soraknya bahagia. "Besok kelasmu selesai pukul setengah empat kan? Kau bisa ke taman jam empat?"

"Lalu?" gumamku.

"Bantu aku, he he he," kekehnya, agak canggung.

"Dengan cara?"

"Membuat bunga di taman mekar," jawabnya.

"Bunga akan mekar pada saatnya, Mulord," keluhku.

"Tapi besok akan menjadi hari yang spesial! Aku mohon bantuanmu, OK?" pintanya.

Aku memicingkan mata. "Kau mau nembak cewek, kan?" terkaku.

Mulord terlihat salah tingkah. Kurasa tebakanku jitu.

"Pokoknya begitulah...."

*

Pertanyaannya : Siapa?

Permintaan Mulord membuatku sulit tertidur malam itu. Aku memikirkannya, gadis yang disukai Mulord, gadis yang akan dimintanya menjadi pacarnya.

Dan itu bukan aku.

Klise memang. Menyukai sahabat sendiri. Namun bagaimana pun kebersamaan bersama Mulord mau tak mau memang membuatku tertarik padanya. Aku menyukai sikapnya yang kadang kekanak-kanakan.

Menunggunya untuk menggangguku saat sedang berkebun. Aku suka melihatnya tertawa.

Kemudian aku membenci diriku sendiri yang tidak menyatakan perasaan sukaku padanya. Pengecut. Atas nama persahabatan? Sekarang aku merasakan akibatnya. 

https://images.pexels.com/photos/17666/pexels-photo.jpg?w=940&h=650&auto=compress&cs=tinysrgb

Tentunya bakalan aneh kalau aku menyatakan perasaanku sekarang. Saat Mulord memintaku membantu menembak cewek yang disukainya. Aku sudah banyak menyia-nyiakan kesempatanku dan kini aku merasa sudah tidak memiliki kesempatan lagi.

Jadi aku tidak bisa mengontrol emosiku dengan baik. Sepanjang hari aku uring-uringan. Tidak menyimak pelajaran dengan baik. Banyak melamun.

Aku bahkan nyaris membuat ranting flamboyan yang ada di dekat jendelaku mendadak berbunga.
Suasana hatiku memang sedang buruk. Tapi tetap saja aku lebih suka menyuburkan tanaman daripada menyakiti mereka. Tanaman adalah temanku.

Selesai jam istirahat siang, guru pengajar hukum penggunaan super power tidak hadir karena sakit. Jadilah kelas kosong. Seandainya tidak janji pada Mulord pasti aku sudah ngeloyor buat pulang. Tapi aku sudah bilang akan membantunya, jadi aku akan tetap di sini, menunggu pukul empat sore dengan pikiran kusut.

"Aku senang kau belum balik, Kloris!"

Aku mengangkat wajahku yang dari tadi menghadap mangkuk berisi kentang tumbuk, mengaduknya dengan sendok, tapi belum makan sesuap pun.

Di hadapanku, Axos. Dia duduk di kursi seberangku tanpa perlu dipersilakan.

"Ya?" gumamku, agak linglung karena mendadak menyadari kondisi sekelilingku. Jam pelajaran sudah dimulai sekitar setengah jam yang lalu. Jadi tidak heran kafetaria sudah sepi.

"Akan ada lomba dekorasi bulan depan dalam rangka hari Bumi. Kurasa ini saatnya menunjukkan kemampuanmu!" jelasnya langsung ke pokok persoalan.

"Kau ingin aku melakukan apa?" celetukku.

"Memperindah sekolah ini dengan kemampuanmu agar kita menang. Minimal tingkat benua, keinginan para guru tidak muluk kok," kata Axos.

Tentu saja tidak terlalu muluk karena satu benua hanya ada belasan ARCschool, sekolah bagi para mutan.

Axos yang menjabat sebagai presiden siswa tentunya mengemban tugas dari para guru untuk mencari pendekor sekolah. Kuulangi, pendekor, bukan pendekar.

Dia seniorku dari tingkat tujuh, aku di tingkat dua. Total ada sembilan tingkat.

"Kenapa bukan siswa senior saja yang kekuatannya lebih matang?" balasku.

"Timnya harus gabungan dari semua tingkat sehingga siswa tingkat awal pun punya pengalaman mengikuti lomba. Regenerasi itu penting. Pengalaman adalah guru terbaik," ujarnya bersemangat. "Kau bersedia ikut kan?"

Aku mengangguk meski di satu sisi tidak antusias untuk bergabung dalam panitia lomba dekorasi.
Axos terus mengoceh, aku berada di hadapannya tanpa benar-benar mendengarkan.

"Kurasa kita perlu mengadakan rapat dalam waktu dekat. Brainstorming dan segalanya. Kuharap kali ini kita menang!" ujar Axos masih menggunakan semangat menggebu-gebu yang sama seperti pertama kali menyapaku. Padahal cerocosannya sudah hampir sejam.

"Tentu, kabari saja waktunya," jawabku.

Selesai makan siang tanpa makan (akhirnya aku hanya menyedot sekotak susu dengan jelly) aku beralih ke perpustakaan.

Tingkat kebahagiaanku masih rendah. Aku bahkan tidak bersemangat melakukan apa pun.
Jam tiga. Sejam lagi. Hari ini waktu benar-benar lambat.

Buku soal menyingkirkan gulma dengan kekuatan super ternyata mampu mengalihkan perhatianku selama satu jam terakhir.

Buru-buru aku save buku tersebut supaya ketika mengaksesnya lagi aku langsung sampai ke halaman terakhir yang kubaca. Kemudian log out dari komputer perpustakaan.

Aku berlari ke taman untuk melihat hal yang tidak kuharapkan.

Mulord dan gadis itu berciuman.

Tidak banyak yang kuketahui soal gadis itu. Namanya Ploitu. Tingkat empat atau lima. Aku tidak tahu kekuatannya.

Kemudian aku mengingat permintaan Mulord. Sekejap seluruh bunga di sekitar mereka mekar.
Termasuk bunga yang ada di dekatku. Bunga yang dengan mudah kukenali. Si bleeding heart.

Kurasa Mulord sangat bahagia sekarang. Tapi kondisiku kebalikannya. Tanpa kusadari aku menangis.
"Kloris?"

Aku berbalik. Itu suara Axos. Detik berikutnya aku sudah tidak berada di taman. Aku berada di ruangan asing.

Tentu saja. Kekuatan Axos adalah teleport, pikirku mengingat-ingat.

"Aku tidak tahu apa sebaiknya kau tetap di sana. Mulord mungkin kaget jika sampai menemukan temannya menangis saat dia jadian dengan cewek pujaannya, jika tebakanku benar," ujar Axos dengan dahi berkerut.

Aku ingin menjawab. Tapi tangisan ini belum mau berhenti.

"Duduklah. Aku akan memberimu sesuatu yang hangat," perintahnya.

Aku merasakan bokongku menyentuh sofa empuk ketika Axos mendorongku pelan. Kurasa aku tahu di mana aku sekarang: tempat tinggal Axos.

Cowok itu kemudian menuju dapur. Aku bisa melihatnya dari tempatku duduk.

Ia mengambil cangkir dari salah satu lemari. Menuangkan bubuk coklat, gula,  kemudian air panas. Tidak butuh waktu lama hingga dia kembali kepadaku, membawakan secangkir coklat hangat.

"Tidak banyak pilihan, kecuali kau mau aku pergi ke minimarket dulu," katanya.

"Te-terima kasih dan tidak perlu pergi ke minimarket," ujarku yang pada akhirnya bisa kembali berkata-kata.

"Aku bisa melakukannya dengan cepat!" tawanya sembari mengedipkan mata.

https://www.walldevil.com/wallpapers/a76/wallpapers-wallpaper-pictures-background-imagepages-images-widescreen.jpg

Tanpa kusadari, aku nyengir. "Tentu saja, tapi itu tidak perlu."

"Nah begitu lebih baik...." gumamnya.

"Apa?" tanyaku tak mengerti.

"Kau. Tersenyum. Aku suka melihatmu tersenyum. Atau lebih tepatnya aku mencintaimu. Titik."
Aku nyaris tersedak minumanku. Tapi untung tidak jadi.

Aku ingin bilang "Jangan bercanda!" Tapi kulihat mimik wajah seriusnya.

"Bolehkan?" desak Axos.

Di luar, aku melihat titik-titik air mengaburkan jarak pandangan dari jendela. Jika ini Mulord mungkin karena dia dalam kondisi sangat bahagia.

Hanya saja aku tidak yakin apakah hujan ini karenanya atau bukan.

Aku mengalihkan pandanganku, dari jendela ke matanya. Mata orang yang mencintaiku.

*

Mulord menungguku di depan kelas keesokan paginya. Wajahnya terlihat kusut seperti orang kurang tidur. Mungkin dia terlalu bahagia hingga sulit tidur.

"Pagi!" sapaku, berusaha terlihat biasa-biasa saja.

"Aku mencarimu!" protesnya.

"Aku ada di depanmu," balasku seraya masuk ke dalam kelas.

Masih terlalu pagi. Belum banyak teman sekelasku yang datang.

Pagi ini aku dan Mulord memiliki jadwal yang sama. Kelas analisa kekuatan dan kelemahan dari kekuatan super.

"Kau tidak pulang semalam!" serunya, gusar.

"Benar," anggukku.

"Di mana.... Tunggu, aku punya hal lebih penting untuk dibahas lebih dulu. Kau ke taman kan kemarin?" tanya Mulord.

"Aku memenuhi janjiku," anggukku.

"Kau terlambat?"

"Sedikit. Aku dari perpustakaan. Kuharap hal itu tidak mengacaukan rencanamu, apalagi aku sudah memekarkan bunga-bunga di sana, sesuai permintaanmu."

Mulord terlihat gelisah.

"Kau melihat Ploitu dan aku...." Dia tidak menyelesaikan kalimatnya.

Lagi-lagi aku mengangguk.

Mulord menghela napas panjang.

"Kurasa kau salah paham, Kloris. Aku tidak menunggu Ploitu. Aku menunggumu...."

Jantungku seolah akan meledak saat mendengarnya. Hanya saja aku mematung.

"Jadi aku ingin menjelaskan segalanya padamu, terutama saat menyadari bunga-bunga di taman mekar. Aku mencarimu kemana-mana, tapi tidak menemukanmu. Aku pergi ke rumahmu, tapi kosong. Dan kupikir kemarin sore aku menumpahkan hujan di kota ini karena pikiranku tidak tenang."

Mulord berhenti sejenak.

"Tapi seperti kata-katamu, kau sudah ada di hadapanku sekarang. Aku merasa lebih baik, terutama karena sudah mengatakan apa yang ingin kukatakan sejak kemarin sore. Atau lebih tepatnya sejak beberapa bulan atau tahun yang lalu. Aku tidak benar-benar tahu sejak kapan aku menyukaimu."
Aku tetap mematung, tidak meresponnya.

"Aku tahu hal ini bisa memberi dampak pada persahabatan kita. Entah dampak baik atau buruk aku tidak tahu, tapi aku merasa harus memberitahumu. Jadi apa tanggapanmu?" tanya Mulord dengan volume suara yang nyaris tak terdengar.

Aku memberanikan diri melihat mata Mulord. Sama seperti Axos kemarin, aku tahu Mulord sama bersungguh-sungguhnya seperti Axos.

Hanya saja segalanya sudah berbeda.

"Aku pacaran dengan Axos."

Mulord kaget. Aku yakin sebagian dari dirinya ingin protes kenapa aku tidak pernah menceritakan hubunganku dengan Axos.

Ia sempat membuka mulut, tapi tidak berkata-kata. Kemudian dia mengangguk.

Butuh beberapa saat hingga Mulord bisa kembali berkata-kata buat mengakhiri pembicaraan kami.
"Kuharap kita masih berteman," desahnya.

"Jangan khawatir," balasku.

Begitu Mulord keluar dari kelas, Axos muncul di hadapanku dari udara kosong.

"Kau menguping," kataku, datar. Tidak ada nada menyalahkan.

"Tidak sengaja," aku Axos.

"Bukan masalah," timpalku.

Axos menarik bangku lalu duduk di sebelahku.

"Aku menghargai perasaanmu ke Mulord, juga bagaimana kau bersikap padanya. Bagaimanapun kalian berteman. Hanya saja tadi aku sempat bertanya-tanya apa kau akan meninggalkanku setelah mengetahui Mulord juga menyukaimu," katanya.

Aku menaruh kedua telapak tanganku di pipi pacarku.

"Tidak, Axos. Menurutku universe memang telah berkonspirasi agar kita bersatu. Aku tidak akan mengubah keputusanku, setidaknya untuk saat ini. Semoga kita bisa bersama untuk waktu yang lama," tutupku.

Sederet bunga blooming heart dalam pot yang ada di mejaku mendadak mekar.

Kebanyakan menyebutnya bunga Bleeding Heart. Namun aku menyebutnya dengan Blooming Heart.
Tapi kini bukan karena Mulord. Bukan gara-gara dia.


Cerpen fantasy / sci-fi ini ada di majalah AN1MAGINE Volume 3 Nomor 3 Maret 2018 eMagazine Art and Science yang dapat di-download gratis di Play Store, share yaa


“Menerbitkan buku, komik, novel, buku teks atau 
buku ajar, riset atau penelitian di jurnal? An1mage jawabnya”

AN1MAGINE BY AN1MAGE: Enlightening Open Mind Generations
AN1MAGE: Inspiring Creation Mind Enlightening 
website an1mage.net www.an1mage.org

Komentar

Page Views

counter free

Visitor

Flag Counter

Postingan populer dari blog ini

STANLEY MILLER: Eksperimen Awal Mula Kehidupan Organik di Bumi

CERPEN: POHON KERAMAT

Menerbitkan buku di An1mage