CERPEN: SUATU MALAM DI STASIUN TELEVISI

www.askwallpapers.com/pic/201503/2560x1440/askwallpapers.com-43607.jpg

Suatu Malam di Stasiun Televisi
Archana Universa


Rissa menghafal naskah yang akan dibawakannya selama semenit. Terutama menghafal data angka agar tidak salah sebut saat siaran.

Aku tertawa dalam kepala. Mau-maunya dia bekerja seperti itu. Maksudku, semua pekerjaan yang memerlukan hafalan itu. Kalau aku sih tidak akan sanggup. Mungkin sanggup, tapi aku tidak menyukainya.

Bahkan sejak di bangku sekolah aku sudah menuliskan jawabanku sendiri. Peduli amat dengan pendapat Aristoteles si bumi datar. Atau masa bodoh dengan teori gravitasinya si Newton.

OK, mereka memang hebat, nama mereka dikenal. Sementara aku tidak terkenal, belum. Mungkin suatu saat aku akan terkenal, aku sedang mengusahakannya.

Biarpun bukan lulusan broadcasting, aku tidak bisa dikategorikan sebagai karyawan bodoh. Hidupku juga tidak suram, kok. Berkat ayahku yang kaya raya.

Salah kalau kau mengira dia adalah pemilik dari stasiun televisi tempatku bekerja, ayahku adalah pemegang saham terbesar. Biarpun masuk dengan koneksi, bukan berarti aku tidak memiliki kemampuan yang bagus di bidang ini.

Aku menyukai video editing meski sering harus melek hingga pagi. Aku tidak membencinya karena aku memang suka tidur subuh. Jadi pekerjaan ini sudah cukup sempurna.

Para orang dengan jabatan tinggi dariku bahkan tidak berani memarahiku biar aku hanya staff editing rendahan. Diperlakukan seperti bos, sungguh menyenangkan.

Sering kali ada yang membicarakanku di belakang. Tapi aku tidak peduli. Memang di situlah posisi mereka, di belakangku.

“Kau tidak ke ruang editing?” tanya Heru sembari membenahi letak kacamatanya. Heru adalah cameraman yang bertugas untuk siaran berita malam.

“Sudah selesai, kok,” jawabku, nyengir. “Nanti bakal ada lagi, materinya belum datang,” tambahku buru-buru ketika Heru memasang wajah masam.

“Kau harus minta posisi lain lewat ayahmu supaya tidak menginap terus di stasiun televisi terkutuk ini,” timpalnya, masih dengan wajah masam.

“Aku justru sangat senang tidak perlu sering-sering balik ke rumah dan menemui ibuku,” sahutku, masih dengan cengiran yang sama.

“Bisakah kalian tenang sedikit?” bentak Rissa sembari memukulkan naskahnya ke kepala Heru.

Cewek itu tidak akan berani melakukan hal yang sama padaku. Aku ini berkuasa, ingat?

“Menderita saja, itu memang sudah tugasmu. Memangnya berapa banyak sih yang harus kau hafal demi enam puluh detik?” ejekku.

Wajah Rissa memerah. Bukan karena tersipu malu, dia tersinggung pada kata-kataku.

“Lagipula aku sudah terbiasa mengecek cuaca di ponselku, bukannya menunggu penyiar cuaca muncul di layar televisi,” imbuhku, semakin menjadi-jadi.

“Lalu apa aku harus berhenti?” tanya Rissa sembari meremas naskahnya.

“Bagaimana jika aku membuat ramalan cuaca dihapuskan dari berita?” tantangku, mengejek.

Heru memberi isyarat agar aku tidak melanjutkan konfrontasi dengan Rissa.

“Lakukan sesukamu,” geramnya menahan amarah, kemudian pergi.

“Selalu,” jawabku dengan senyum mengejek.

 “Kalian tidak pernah akur ya?” gumam Heru begitu Rissa sudah tidak kelihatan di ruangan.

“Selalu,” ulangku.

“Kau tahu dia sudah sangat tertekan tiap kali ramalan cuacanya salah.”

“Mestinya Rissa sadar kalau dia memang melakukan ramalan cuaca. Ramalah bisa benar, bisa salah. bahkan dukun sekalipun sering salah,” ujarku, santai.

“Mestinya kau bilang hal itu langsung padanya,” balas Heru.

“Bersahabat, berteman, tidak ada di kamus kami. Dan berhentilah memihaknya. Kau bukan pacar Rissa, kau sudah dibuang, seperti sampah,” kekehku sembari berlalu.

Aku memandang keluar jendela. Memandangi langit cerah dengan bintang. Tidak perlu ramalan cuaca. Siapa pun bakal menebak malam ini akan cerah. Lalu bagaimana dengan cuaca esok hari?

Aku akan ada di ruangan shooting saat Rissa membawakan ramalannya, kemudian mengubah cuacanya. Lagi-lagi Rissa akan salah dalam menyampaikan berita dan hal itu membuatku bahagia.

Entah sejak kapan aku senang mengungguli Rissa. Mungkin sejak ibu guru membanggakannya di kelas sembari membandingkan Rissa denganku.

Si juara kelas, pemenang berbagai lomba. Biarpun bukan dia yang merendahkanku saat di kelas, aku sudah terlanjur menganggapnya sebagai musuh.

blog.oxforddictionaries.com/wp-content/uploads/weather-forecast.jpg

Meski begitu, Rissa tidak berhasil mendapat beasiswa penuh dan memilih untuk tidak meneruskan pendidikannya ke jenjang lebih tinggi. Terhenti di sekolah menengah atas.

Dia bukan anak orang kaya seperti aku. Hanya juara di dalam kelas, bukan di lapangan kerja. Siapa bilang pintar akademik otomatis akan memilki karir yang bagus?

Memandangi Rissa yang hanya tampil enam puluh detik selama lima kali dalam seminggu, aku tahu aku sudah menang. Kini, Rissa sudah kalah bertahun-tahun lamanya dariku. Tapi aku tetap ingin menginjaknya, lagi dan lagi.

Acara berita malam sudah akan di mulai. Semua kru sudah berkumpul. Cameraman siap menunggu perintah, pembawa berita telah ada di tempatnya.

Aku bisa menangkap Heru melirik ke arah Rissa. Cinta sepihak, tidak mudah diakhiri juga. Giliran Rissa masih lama, nyaris di akhir acara, tepat sebelum pembawa acara menutup beritanya.

Aku melangkahkan kaki keluar untuk menuju kantin, sekadar meminta minuman hangat. Bagaimana jika malam ini hujan saja? Aku tidak peduli apakah ramalan cuaca yang dibawakan Rissa bertolak belakang dengan keinginanku atau tidak. Aku hanya ingin hujan.

Tapi tetap saja, aku menunggu dengan sabar. Menunggu gadis sialan itu muncul di layar kaca. Jika dia mengatakan hujan, maka akan hujan. Jika dia mengatakan cerah, maka malam ini akan hujan.

Aku tahu dia berbicara berdasarkan informasi dari badan cuaca. Siaran yang dibawakannya bukan berdasar keinginannya. Rissa tidak dapat mengendalikan cuaca.

Tapi aku bisa.
Hujan atau tidak hujan.
Aku dapat mengaturnya.

img1.cgtrader.com/items/67876/0bd07d392d/office-canteen-space-3d-model-max.jpg

“Kau belum makan malam, tapi sudah menikmati kopi,” tegur Doni, koordinator yang biasa mengawasiku, sembari meletakan senampan makanan di hadapanku. “Makan,” perintahnya.

“Aku tidak tahu kau sudah menjadi staff kesehatan atau ahli nutrisi di stasiun ini,” cemoohku sembari menyambar sekeping biskuit dari nampan.

“Kerjaan di ruang editing sudah terlalu banyak. Aku tidak mau kehilangan salah satu staff-ku walaupun orang tersebut menyebalkan,” gerutu Doni, sebal.

“Aku tidak menyebalkan,” elakku.

“Aku tidak sedang membicarakanmu,” elaknya.

“Tentu saja. Karena aku lebih pantas diberi label kejam daripada menyebalkan,” ungkapku, serius.

“Kau harus punya jabatan yang lebih tinggi jika mau dicap kejam. Bukan staff editing yang bahkan tidak bisa mengutak-atik kebijakan,” balasnya.

“Kau mau aku mendepakmu bulan depan?” tantangku.

Doni melotot ke arahku. “Aku sudah sering mendengarnya sejak kau masuk kemari tiga tahun yang lalu.” Dia menyandarkan punggungnya ke kursi. “Kau tidak pernah mendepakku dari sini.”

“Karena aku lebih suka menyiksamu,” kataku sembari mengangkat bahu.

“Selama kau mengerjakan tugasmu dengan baik, kau tidak menyiksaku,” jelasnya.

Aku menghela napas. “Kurasa aku sudah terlalu baik padamu. Aku harus lebih kejam lagi.”

“Jangan macam-macam! Daripada kau membuka mulutmu untuk berkata-kata jahat, lebih baik kau kunyah semua ini. Setelah berita malam ini, kau harus segera ada di mejamu lagi, mengerti?” desaknya.

“Kau bahkan tidak akan tahu apa aku akan di mejaku atau tidak. Kudengar kau ada kencan buta? Mengenal lewat sosial media? Aplikasi kencan? Kuharap semuanya berjalan dengan lancar!” kekehku.

“Jangan megucapkannya! Entah mengapa aku merasa yang akan terjadi adalah sebaliknya.” Doni melihat jam melalui layar ponselnya. “Kuharap malam ini cerah.”

“Malam ini akan hujan,” ujarku, memberitahunya.

“Ramalan cuaca yang dibawakan Rissa barusan mengatakan sebaliknya. Lagipula kau bukan dewa hujan, kau tidak bisa mengaturnya,” dengus Doni sembari berlalu.

Sial. Gara-gara Doni aku jadi tidak memperhatikan layar. Doni benar. Berita malam sudah berakhir.
Aku menghela napas. Sebentar lagi harus kembali bekerja, dan selama bekerja aku tidak akan bisa makan. Jadi kusambar dua hotdog dan memakannya sembari berjalan.

Bukan ke arah ruangan editing. Aku malah menuju lobby depan menuju luar gedung sembari menelan makan malamku. Satu hotdog sudah masuk sepenuhnya ke perut. Tinggal sisa satu lagi.

Aku menggigit makanan itu tanpa selera. Memandangi langit, dan memerintahkan langit untuk segera menumpahkan air ke bumi.

Tidak sampai sepuluh detik. Tetesan-tetesan itu muncul. Membasahi bumi.

Kuhirup udara malam yang penuh asap kendaraan bercampur dengan bau hujan. Basah. Aku menyukainya.

Aku membuka mataku ketika mendengar dua orang karyawan tengah membicarakan Rissa. Menghujatnya karena ramalan cuacanya lagi-lagi salah. Aku tersenyum.

“Aku heran dia masih saja sok tenang. Kata-katanya terbantahkan segera setelah memberitakan siarannya ke seluruh negeri,” kata wanita pertama.

“Kudengar banyak yang menghujatnya di sosial media,” timpal temannya.

“Tidak heran. Kalau aku jadi dia, aku minta di pindahkan ke bagian lain saja,” sahut yang pertama.

“Bagian apa? Pendidikan saja tidak sederajat dengan kita. Kebanyakan fresh graduate sarjana, bahkan ada pegawai baru yang magister. Yang memungkinkan, dia keluar dari sini, kerja di tempat lain.”

Rissa yang malang, senandungku dalam pikiran. Bukan salahnya menjadi yang terbaik di kelas atau sekolah. Hanya saja dia sial harus dibandingkan denganku. Kesialan yang berlangsung bertahun-tahun setelahnya. Dendam. Aku bahagia ketika melihat dia kesusahan.

Aku baru saja menggigit hotdog keduaku ketika ada motor melaju dengan kencang di trotoar, menghindari kemacetan di jalan raya.

Jaraknya terlalu dekat. Aku tidak bisa menghindar.

Aku menjatuhkan hotdog-ku dan memejamkan mata, menunggu tabrakan itu datang.
Tidak ada yang terjadi.

Aku membuka mata, mendapati Rissa ada di hadapanku.

“Kurasa di neraka sekalipun aku akan bertemu denganmu,” cibirku padanya. Di satu sisi merasa lega karena ternyata kematian tidak semenyakitkan atau pun semenyeramkan yang selama ini kubayangkan.

“Mestinya kau mengucapkan terima kasih,” dengusnya sembari berbalik, pergi menjauhiku.
Aku mengangkat alis. Kemudian menyadari aku tidak ada di luar gedung stasiun televisi. Aku ada di atap.

Melamunkah aku? Atau aku sudah gila?

Bergegas aku mencari Rissa, tapi tidak menemukan gadis itu. Kuputuskan untuk kembali ke lobby depan untuk mencari tahu. Semestinya aku di bawah, di depan gedung, bukan di atap.

Dengan pikiran berkecamuk, aku tidak memikirkan ponselku yang terus-menerus bergetar. Mereka pasti sedang menungguku di ruang editing. Tapi aku tidak dapat menunggu lebih lama lagi. Aku ingin tahu kebenarannya.

Aku ingat dengan jelas. Tadi aku di bawah, nyaris tertabrak, lalu bagaimana bisa mendadak aku berada di atap?

Setelah keluar dari lift, aku berjalan dengan tergesa-gesa. Tidak peduli siapa saja yang sudah kutabrak ketika melintasi lobby.

Kemudian aku melihatnya. Hotdog-ku yang tergeletak di trotoar. Pengendara motor yang menabrak tanaman. Aku bisa melihat darah merembes dari kakinya, kurasa selain mengalami luka luar, dia mengalami patah tulang. Ia kemudian menudingku dengan raut wajah ketakutan seolah baru melihat makhluk gaib.

“Aku harusnya menabrakmu! Tapi kau menghilang! Dasar hantu pembawa sial!” ujar pengendara motor itu, memberikan sumpah serapah kepadaku.

Detik berikutnya semuanya menjadi jelas. Seolah ada lampu yang menyala di kepalaku.

Rissa menyelamatkanku, maka dari itu ia bilang mestinya aku mengucapkan terima kasih. Gadis itu juga memiliki kekuatan. Bukan kekuatan untuk mengendalikan cuaca, seperti milikku. Dia bisa melakukan teleport!

Bedanya Rissa melakukannya untuk menolong, sementara aku menggunakan kekuatanku untuk mengerjainya.

Lagi-lagi gadis itu membuatku merasa malu, hanya saja kali ini aku yang membandingkan diriku sendiri dengannya, bukan orang lain, bukan guru itu. Kini, aku merasa tidak pantas menyimpan dendam maupun melampiaskan kekesalanku padanya. Aku benar-benar merasa malu....


Cerpen ini ada di majalah AN1MAGINE Volume 3 Nomor 1 Januari 2018 eMagazine Art and Science yang dapat di-download gratis di Play Store, share yaa


“Menerbitkan buku, komik, novel, buku teks atau 
buku ajar, riset atau penelitian di jurnal? An1mage jawabnya”

AN1MAGINE BY AN1MAGE: Enlightening Open Mind Generations
AN1MAGE: Inspiring Creation Mind Enlightening 
website an1mage.net www.an1mage.org

Komentar

Page Views

counter free

Visitor

Flag Counter

Postingan populer dari blog ini

STANLEY MILLER: Eksperimen Awal Mula Kehidupan Organik di Bumi

CERPEN: POHON KERAMAT

Menerbitkan buku di An1mage