CERPEN: MR. PARK'S ORDER

cdn.home-designing.com/wp-content/uploads/2015/06/modern-home-in-the-woods.jpg

Mr. Park’s Order
Archana Universa


“Kau tahu kan kalau aku ini orangnya perfeksionis? Semuanya harus sesuai dengan keinginanku. Tanpa ada yang ditambah atau dikurangi. Harus sesuai rencana,” cerocos Mr. Park.

Aku mengangguk-angguk mendengarkan kalimat yang sama. Entah sudah aku dengar berapa kali kalimat itu keluar dari mulutnya.

Mr. Park punya banyak uang, sementara aku pihak yang memerlukan uangnya. Ia memberikanku uang dan aku memberiku jasa perancangan rumah sesuai dengan kemauannya. Kami saling memerlukan.

Hanya saja untuk beberapa waktu ini aku kadang terlalu jengkel untuk bersikap sabar padanya.

OK. Dia memang bosku. Banyak maunya. Minta ini, itu. Tolong ubah ini, itu. Bagaimana kalau disini, kemudian dipindahkan ke situ. Pekerjaan tanpa visi yang jelas membuatku kelelahan dan kewalahan. Menguras emosi, mengikis kesabaran.

Dia memintaku membuatkan rumah, tapi tanpa tahu rumah seperti apa yang diinginkannya. Ketika aku membawakan rancanganku, dia tidak setuju. Katanya, ia yang akan membuat rumah, jadi mestinya dia yang memiliki rancangan.

Nyatanya sampai sekarang Mr. Park masih belum benar-benar tahu apa yang akan dibuatnya.

Sebagian besar ruangan sudah sesuai dengan seleranya, tapi masih ada juga yang belum. Jadi sistem bongkar pasang ide ini masih akan terus berlanjut sampai dia akhirnya menemukan apa yang diinginkannya.

“Jadi ide segar apa lagi yang Anda miliki, Mr. Park?” tanyaku setelah setengah jam hanya mendengarkan ocehannya yang seolah tiada akhir itu.

“Aku akan menambahkan air terjun. Airnya dari lantai dua, turun ke bawah mengaliri kaca. Setelah kupikir, rumahku tidak akan lengkap tanpa bunyi gemericik air yang mengalir,” jelas Mr. Park.

Aku berusaha kelihatan antusias akan idenya. Seandainya uangnya tidak berjumlah besar, pasti aku sudah menyerah dari kemarin. Belum lagi Mr. Park juga memberikanku lima puluh persen pembayaran di awal.

Uangnya sudah kugunakan untuk membeli beberapa perabot rumah. Aku tidak mungkin menyerah pada project yang sudah diberikannya karena aku tidak bisa mengembalikan uang yang sudah diberikan Mr. Park padaku.

Kuharap ada kejadian yang akan membuat Mr. Park segera puas dengan rencana rumah idamannya sehingga aku tidak perlu berlama-lama lagi berurusan dengan orang ini.

Aku juga sudah bersumpah, kalau aku tidak akan mengambil project darinya lagi. Masih banyak klien lain yang lebih mudah kusenangkan, meski pun bayarannya lebih murah. Ketentraman hatiku juga penting.

Beberapa hari berikutnya keinginanku menjadi nyata. Setelah hampir tiga bulan bolak balik bongkar pasang rumah Mr. Park, akhirnya dia memutuskan sudah menentukan rumah idamannya.

Tiga lantai. Dengan rooftop yang dijadikan taman di atas. Air terjun kecil yang mengalir dari roof top ke kolam di bawah. Area penyimpanan mobil yang muat hingga dua puluh unit. Bangunan perpustakaan pribadi yang terpisah dari rumah dan masih banyak detail lainnya.

Rasanya aku ingin bersorak girang, tepat sebelum Mr. Park berkata aku harus mengawasi pembangunan rumahnya. Pekerjaanku tidak berhenti sampai pada pembuatan denah rumah atau model 3D-nya saja.

“Jangan khawatir, bayarannya tentu berbeda dengan bayaran pembuatan design-nya,” ujar Mr. Park sembari menepuk bahuku.

Ia tertawa senang. Sementara aku tersenyum kecut.

“Saya sudah ada klien lain Mr. Park. Saya rasa tidak akan mengambil pekerjaan pengawasan itu,” gumamku, berusaha menolak, tapi sambil membayangkan tumpukan uang yang akan kuterima.

“Jangan begitu Rudy! Kita kan membuat perencanaannya bersama-sama. Kau yang mengerti benar bagaimana rumah yang akan kubangun. Aku tidak ingin menyerahkannya pada arsitek lain!” pinta Mr. Park.

Masalahnya  Anda orangnya ribet! Pikirku.

“Kalau hanya mengawasi saja, Anda bisa menggunakan orang lain.” Kali ini aku mencoba lebih tegas. Aku tidak ingin mengerjakannya, aku hanya ingin uangnya saja. Apa itu mungkin?

Jawabannya tidak. Aku memang suka uang, tapi uang itu tidak dapat membeli kebahagiaanku. Setidaknya itulah yang kupikirkan sekarang.

“Rudy! Aku sudah senang bekerja denganmu. Kebanyakan aku tidak cocok dengan orang yang bekerja denganku. Tapi kau sudah membuktikannya! Design rumahnya sempurna! Aku sudah mempercayaimu untuk membangun rumahku,” desak Mr. Park.

insurhouse.com/wp-content/uploads/2014/06/japanese-minimalist-interior-design.jpg

Tentu saja banyak orang yang tidak tahan bekerja dengan Anda! Pikirku.

“Katakan saja kalau kau perlu lebih, aku akan mempertimbangkannya? OK?” sahut Mr. Park sembari berlalu. Ia pergi dengan penuh kepercayaan diri, bahwa aku akan bekerja lagi untuknya.

Tinggal aku saja yang menentukan. Apakah aku cukup percaya diri untuk menolak uang dalam jumlah besar?

Sebaiknya aku menghentikannya, urusan dengan Mr. Park membuat tingkat kebahagiaanku turun hingga enam puluh persen. Meskipun aku tidak sampai marah-marah, tapi aku sering sulit tidur karenanya, menantikan dia akan menerima design rumah yang sudah kami kerjakan berbulan-bulan.

Kemudian ketika design-nya sudah sempurna, ternyata godaan lain muncul. Bisakah aku bertahan?

Beberapa hari setelahnya hidupku tenang. Mr. Park belum menghubungiku lagi. Mungkin dia sudah mendapatkan orang yang bisa diajak bekerja sama untuk mengawasi pembangunan rumahnya.

Setidaknya itulah yang kupikirkan sampai sore itu Mr. Park muncul di kantorku lagi dengan wajah senang.

“Aku bisa membuatmu melakukannya dengan cepat. Menggunakan ini!” Mr. Park memperlihatkan sebatang balok yang biasa digunakan untuk mengasah pisau.

Aku mengangkat alis, tidak mengerti.

“Kita akan melakukannya dengan cepat, Rudy!” serunya riang.

Apa sih maksudnya? Mr. Park mau berbuat apa menggunakan asahan di tangannya.

“Kau tahu kan kalau aku ini orangnya perfeksionis? Semuanya harus dilakukan dengan cepat dan hasilnya bagus. Kualitas tidak boleh dikesampingkan hanya karena pengerjaan yang cepat.

“Tapi yang lebih penting, aku tidak ingin ada perubahan apa pun dalam pembangunan rumahku. Semuanya harus tepat, sesuai dengan rencana,” ujar Mr. Park.

Rentetan kalimatnya masih membuatku belum memahami apa maksudnya dia membawa-bawa asahan jelek itu. Kurasa Mr. Park tidak pernah mengasah pisau sepanjang hidupnya. Apa dia ingin aku mengasah pisau untuknya? Tapi aku kan arsitek!

Tunggu, dia tidak akan melemparku dengan benda itu kan? Hanya gara-gara aku menolak buat menjadi pengawas dalam pembangunan rumahnya?

“Intinya aku ingin mendapatkan rumah sesuai design ini, Rudy. Tidak kurang apa pun, tidak ada penambahan apa pun. Maka dari itu aku membawa ini!” ujar Mr. Park sembari menggoyangkan asahan di tangannya.

“Boleh saya bertanya untuk apa Anda membawa asahan?” Aku sudah tidak bisa membendung rasa penasaranku lagi.

Mr. Park tertawa. Seolah-olah aku menanyakan sesuatu yang lucu. “Rudy! Buat apa aku membawa asahan kemana-mana? Ini adalah alat canggih! Mesin waktu. Alat ini akan membuat pekerjaan kita menjadi lebih cepat. Langsung dapat melihat hasilnya!”

“Teleportasi antar ruang dan waktu?” ujarku, terkejut. “Dengan benda semacam itu?” Kuharap Mr. Park tidak sedang ditipu sales gila.

“Barang bagus yang tidak terlihat seperti bagus, bukan begitu? Dengan demikian tidak akan ada orang yang berniat mengambilnya. Aku beruntung memilikinya, Rudy!” Mr. Park berdehem sebentar. “Bagaimana kalau kita mencobanya bersama?”

Aku ingin menolak. Aku tidak pernah melakukan teleport meski alat itu sudah ditemukan beberapa tahun yang lalu. Alasannya karena aku tidak memiliki cukup uang untuk mencobanya. Tapi aku tahu teleportasi nyata.

Mungkin ini kesempatanku. Atau aku bisa saja tidak pernah melakukan teleportasi hingga mati.
“Tentu saja,” ujarku sembari berusaha menyembunyikan senyum sumringah.

“Baiklah kalau begitu. Kita akan langsung ke tahun depan. Melihat apakah rumahku dibangun sesuai rencana,” sahut Mr. Park, bersemangat.

Sensasinya begitu aneh. Aku merasa tersedot dan kehilangan keseimbangan untuk beberapa saat. Sangat cepat dan sebelum aku bisa memikirkan hal lain, kami sudah sampai. Sebentuk bangunan megah berdiri gagah di depan kami.

Itu adalah bangunan hasil design-ku bersama Mr. Park. Namun ada yang berbeda. Bangunan itu tidak terdiri dari tiga lantai, tapi tiga setengah lantai.

“Mengapa bisa begini? Mengapa berubah?” protes Mr. Park sembari mengecek denah yang ada di tangannya. “Tidak bisa begini! Bangunannya harus sama persis seperti gambarmu Rudy!”

Sebelum aku sempat berkomentar, Mr. Park membawaku bersamanya kembali ke masa kami yang sesungguhnya. Masa di mana rumah Mr. Park belum dibangun. Masih rencana, masih berupa gambar.

“Aku tidak mengerti, Rudy! Kita sudah merencanakan segalanya dengan matang. Lalu mengapa ada perubahan?” gumam Mr. Park, gelisah. “Mari kita kembali ke masa depan. Aku ingin memastikan rumahku sesuai dengan design ini.”

Lagi-lagi aku belum sempat berkata apa-apa ketika sekelilingku berubah dengan cepat. Bangunan itu lagi. Tapi tidak sama seperti yang sebelumnya. Rumah Mr. Park kali ini terdiri atas tiga lantai, tapi ada bagian yang ditambahkan.

roohome.com/wp-content/uploads/2016/10/Nicolas-JOUSLIN.jpg

“Ruangan di sayap kiri bangunan itu tidak ada di design,” sahutku, langsung menangkap perbedaan antara bangunan di hadapanku dengan design yang kubuat. Tentu saja aku hafal. Rumah ini sudah menjadi pekerjaanku selama beberapa bulan ke belakang.

“Perubahan!” geram Mr. Park tidak suka. “Sebenarnya kenapa pembangunan rumah ini tidak sesuai design? Untuk apa kita memeras otak membuat design, tapi bangunannya tidak sesuai dengan rencana? Aku ini orangnya perfeksionis! Ayo kembali lagi Rudy! Kita pastikan bangunannya sesuai rencana!”

Mr. Park membawaku kembali dan aku mulai merasa pusing dengan keadaan sekelilingku. Seolah aku sedang bermain game, perubahan yang terjadi terlalu cepat membuatku tidak nyaman. Aku mual.

Berbeda dengan Mr. Park yang kurasa sudah sering kali melintasi dimensi ruang dan waktu, dia nampak baik-baik saja. Sementara aku merasa tidak tahan dengan percepatan yang kualami. Aku ingin muntah.

Ternyata alat teleport memiliki kelebihan dan kekurangannya sendiri. Ruang dan waktu berada dalam kendali. Padahal biasanya manusia hanya mengikuti waktu. Tidak mempercepat atau memperlambatnya.

Setidaknya karena Mr. Park aku bisa memahami bahwa perpindahan ruang dan waktu menggunakan energi dari tubuhmu sendiri. Maka dari itu aku merasa sangat lelah, tenagaku terkuras habis.

“Rudy, kau sudah memahami bukan? Aku memerlukan bantuanmu agar antara design dan realisasinya sama! Aku perfeksionis! Bangunannya harus sama seperti rencana!” seru Mr. Park, frustasi.

“Mr. Park, mungkin saja Anda memang menginginkan perubahan seiring dengan pembangunan rumah Anda?” sahutku, berusaha tetap berpikir jernih sembari menahan mual. Kuharap makan siangku tidak keluar.

https://cdn.freshome.com/wp-content/uploads/2014/11/white-minimalist-interior-design.jpg

“Jika aku menginginkan perubahan, aku sudah melakukannya sekarang, Rudy!” jelas Mr. Park.

“Anda tidak tahu alasan mengapa perubahan itu terjadi karena kita hanya mempercepat waktu, mengetahui hasil tanpa memahami prosesnya. Karena tidak mengetahui prosesnya, kita juga tidak mengetahui alasan mengapa bangunannya berubah,” jelasku.

Mr. Park memandangiku seolah aku ini tunawisma yang berada di pinggir jalan.Rudy si manusia kasta rendah. Sementara dia tetap berada di posisinya, si orang kaya, orang dari kasta tinggi.

“Aku menginginkan bangunan itu, rumahku, sesuai dengan apa yang kurencanakan, Rudy. Jika kau tidak melakukannya, aku akan memastikannya sendiri kalau design yang telah kita buat akan menjadi acuan bagi rumahku, tanpa penambahan atau pengurangan apa pun,” geram Mr. Park sembari keluar dari kantorku.

Kupandangi Mr. Park yang menjauh dari tempatku berada. Tangan kanannya masih memegang batu asahan yang merupakan alat teleportasi. Aku yakin dia masih akan bolak-balik antara masa kini dan masa depan untuk menengok seperti apa rumahnya.

Aku jadi penasaran. Apakah jika sudah terbiasa melakukan perjalanan antar ruang dan waktu orang akan kebal akan efek sampingnya?

Entahlah. Aku tidak tahu karena mungkin aku tidak akan bisa mencoba mesin teleport lagi. Aku tidak yakin Mr. Park mau menghubungiku lagi setelah apa yang kuucapkan padanya.

Dengan lunglai, aku menahan diriku dengan berpegangan pada lengan kursi, tapi tidak lama. Aku merosot ke lantai. Menempelkan pipiku ke lantai semen yang dingin. Segalanya seolah berputar, aku merasa sekelilingku tidak stabil, vertigo sementara. Hanya saja sebenarnya bukan sekelilingku yang bergerak, tapi akulah yang masih terkena efek teleportasi.

Mual dan pening masih melanda diriku. Aku merasa tidak nyaman. Namun di sisi lain, aku merasa senang karena Mr. Park sudah menyerah untuk menjadikanku pengawas pembangunan rumahnya.

Uang yang akan diberikannya padaku memang sangat banyak seandainya aku setuju menjadi pengawas. Tapi aku sangat sadar bahwa tumpukan uang dari Mr. Park tidak memberiku kebahagiaan, terutama karena sikap Mr. Park yang sangat egois.

Orang lain boleh saja lebih kaya darimu, tapi itu bukan suatu pembenaran bahwa mereka bisa berbuat seenaknya padamu. Ini sudah menjadi prinsipku. Mulai hari ini, hingga seterusnya.


Cerpen ini ada di majalah AN1MAGINE Volume 3 Nomor 1 Januari 2018 eMagazine Art and Science yang dapat di-download gratis di Play Store, share yaa


“Menerbitkan buku, komik, novel, buku teks atau 
buku ajar, riset atau penelitian di jurnal? An1mage jawabnya”

AN1MAGINE BY AN1MAGE: Enlightening Open Mind Generations
AN1MAGE: Inspiring Creation Mind Enlightening 
website an1mage.net www.an1mage.org

Komentar

Page Views

counter free

Visitor

Flag Counter

Postingan populer dari blog ini

STANLEY MILLER: Eksperimen Awal Mula Kehidupan Organik di Bumi

CERPEN: POHON KERAMAT

Menerbitkan buku di An1mage