BONIFACIUS HENDAR PUTRANTO



BONIFACIUS HENDAR PUTRANTO: Secuplik Narasi tentang Diri dalam Lintasan Sejarah yang Multikultural


Saya dilahirkan pada bulan April 1979, di ‘tanah transmigrasi’ Lampung, sebagai seorang ‘putra Jawa kelahiran Sumatera’ (Pujakesuma). Asal-usul multikultural sepertinya sudah tersurat di jalur keluarga, baik dari pihak bapak maupun dari pihak ibu.

Kakek buyut saya--demikian bapak saya sering bercerita kepada kami ketika masih anak- anak--merupakan seorang opsir Belanda kelahiran Jerman yang menikah dengan seorang putri Sunda asli Ciamis pada masa pra-1900.

Salah seorang putranya, yaitu kakek saya, memiliki perawakan fisik yang menunjukkan jejak percampuran ‘Londo dan bumiputera’ tersebut, berambut putih dan bermata biru. Ketika teruna dan mulai angkat senjata membantu perjuangan merebut kemerdekaan  dari tangan penjajah Belanda.

Kakek saya tidak lepas dibayang-bayangi kecurigaan, baik dari pihak pejuang Indonesia maupun dari pihak penjajah Belanda sendiri, terutama karena ‘rambut putih dan mata biru’ tersebut.

Sebagai konsekuensi perjuangan model gerilya yang dilakukan, kakek saya harus sering berpindah-pindah tempat untuk menghindari sergapan musuh dan penangkapan. Salah satu efeknya adalah ketika sudah menikah dan mempunyai anak.

Terlahir di desa kecil Kulonprogo (Jawa Tengah) dalam situasi genting pascaagresi militer oleh Belanda II 19 Desember 1948 dan Serangan Oemoem 1 Maret 1949.

Bapak saya sudah harus ‘mengungsi’ ke wilayah Metro, Lampung dan akhirnya tumbuh besar, sekolah, memulai awal karir sebagai PNS dan menikah di Lampung pada 1977. Demikianlah kisah dan tegangan multikultural yang diwariskan kepada saya dari jalur bapak.

Dari jalur ibu, kakek buyut dari ibu yang bernama Samadi Kasandikromo merupakan seorang tokoh yang berpengaruh di Ngijorejo, Gunung Kidul, DIY. Bersama adiknya, Satijo Atmo Suparto, mereka berguru pada Kyai Kasan Iman, seorang guru spiritual yang disegani pada masa itu.

Setelah berdebat tentang makna kehidupan dengan seorang muridnya yang sudah  lebih dulu mengenal ajaran iman Katolik (Eustacius Puspo Utomo), mereka berdua menemukan ‘pencerahan’ dan akhirnya minta dibaptis menjadi seorang Katolik.

Permintaan tersebut dikabulkan oleh Pater FX Strater, SJ. Tidak lama sesudah malih dan dibaptis tersebut, keluarga besar kakek buyut dari pihak ibu hijrah ke Lampung dan memulai hidup yang baru, di lingkungan yang baru, dengan cara penghayatan agama yang baru .

Anak-anak dan cucu-cucu dari eyang buyut Kasandikromo ada yang tetap memeluk agama Katolik sampai sekarang---bahkan ada satu saudara yang pada 1976 ditahbiskan sebagai Uskup Tanjungkarang, yaitu Mgr. Andreas Henrisoesanta, SCJ (per 2016 lalu sudah beristirahat dengan tenang).

Ada juga saudara yang memeluk agama Islam. Kakek dan nenek saya dari jalur ibu adalah seorang haji dan hajjah sejak tahun 1989. Enam orang om dan tante saya merupakan penganut agama Islam yang taat, meskipun ada juga satu orang Tante yang pernah dibaptis Katolik namun kemudian pindah agama menjadi Islam setelah menikah.

Beberapa di antara mereka sudah naik haji; sementara, tiga orang lainnya, dengan ibu jadi empat, memeluk agama Katolik.

Cukup mengagetkan bagi saya karena beberapa orang om dan tante yang tadinya saya kenal mempraktekkan Islam secara sejuk dan toleran, beberapa tahun belakangan ini, tepatnya sejak 2009.

Terutama semenjak mengikuti aliran, paham dan organisasi radikal tertentu, mereka cenderung bersikap dan bertindak cukup ekstrem serta mulai intoleran terhadap saudara mereka sendiri yang berbeda pandangan dan keyakinan iman.

Yang saya maksud dengan “bersikap cukup ekstrem dan mulai intoleran” adalah mereka tidak lagi mengucapkan selamat Natal dan Paskah kepada saudara-saudaranya sendiri yang beragama Katolik yang merayakannya [padahal sebelum 2009 itu mereka rajin mengucapkan].

Tidak mau meminjam uang di bank pemerintah (apalagi swasta) dengan alasan haram karena adanya “riba,” [lalu satu dua mulai pinjam uang pada keluarga kami], juga tidak mau menggunakan alat kontrasepsi (!) karena dilarang oleh keyakinannya.

Sehingga sekarang ada satu keluarga ibu saya yang dilimpahi lima orang anak dengan jarak umur yang berdekatan satu dengan lainnya.

Selain itu, ada seorang tante saya yang selama beberapa waktu cukup rajin mengirimi saya sms ‘dakwah’ serta bertanya retoris di dalamnya, “sudahkah kamu menemukan pencerahan?’ Itulah sekelumit latar belakang dan pergulatan multikultural yang diwariskan dari jalur ibu.

Bapak dan ibu saya cukup sering mengingatkan saya untuk tidak mudah terpancing emosinya menanggapi potensi tegangan ‘karena perbedaan’ seperti di atas. Mereka menasihati saya untuk selalu mengingat dan melihat yang baik yang pernah ada dalam diri mereka, bukan yang buruk, karena memang manusia tidak ada yang sempurna.

Kami tetap diajari untuk menghormati perbedaan dan menyapa mereka sebagai saudara, juga tetap menyempatkan bersilaturahmi ke Lampung ketika jatuh perayaan Idul Fitri tahunan.


Pada level pribadi menyangkut keluarga inti, pada 2010 yang lalu saya menikah dengan seorang perempuan keturunan Tionghoa kelahiran Tulungagung (Jawa Timur), beragama Katolik, dan berbahasa ibu campuran antara Jawa, Indonesia dan Mandarin.

Namun isitri saya tidak bisa dan tidak suka berbahasa Mandarin---bertolak belakang dengan ibunya yang amat fasih berbahasa Mandarin (lisan dan tertulis) dan memiliki sikap fanatik chauvinistic tertentu sejauh menyangkut bahasa dan budaya Tionghoa serta ketidaksukaan yang laten terhadap Orang Jawa atau pribumi.

Pernikahan lintas budaya seperti ini membuat saya tertarik untuk mempelajari dan menghargai Budaya Tionghoa, dengan segala praktikalitas, kompleksitas dan kedalamannya.

Putri kami yang terlahir tujuh tahun lalu (2011), menjadi wujud nyata persinggungan asal-usul multikultural yang mewarnai perjalanan hidup saya dulu dan sekarang.

Semua latar belakang ini, ketika dilihat secara fenomenologis dan evaluatif, seolah-olah menyiapkan diri saya menjadi seorang pribadi multikultural yang memiliki sensitivitas tertentu dan perhatian lebih menyangkut isu-isu multikultural.

Pada level akademis, ketertarikan dan keseriusan untuk menekuni tema multikulturalisme sudah dimulai sejak tahun 2003, saat menyunting dan menulis buku Hermeneutika Pasca-Kolonial: Soal Identitas bersama Prof. Mudji Sutrisno, SJ, (diterbitkan oleh Penerbit Kanisius, September 2004).

Setelah itu dilanjutkan dengan proyek buku berikutnya, yaitu Teori-teori Kebudayaan (Yogyakarta: Kanisius, 2005) dan Cultural Studies: Tantangan bagi Teori-teori Besar Kebudayaan (Depok: Koekoesan, 2007).

Pada November 2006, saya mendapat tawaran dan kesempatan melakukan penelitian bersama Sri Endras Iswarini tentang isu Multikulturalisme, Gender, dan Feminisme dari LSM Kapal Perempuan (lih. www.kapalperempuan.org).

Penelitian tersebut lalu diterbitkan menjadi buku panduan “Seminar Nasional Pendidikan Alternatif Perempuan untuk Keadilan Global dan Perdamaian” yang diadakan LSM Kapal Perempuan pada akhir Desember  2006.


Selain itu, kesempatan mengajar paruh waktu MK Multikulturalisme di Universitas Atmajaya, Jakarta dilakukan selama periode Juli 2007 – Desember 2008.

Persis pada periode ini,  saya tidak hanya mengalami dan memahami multikulturalisme, baik secara praktis maupun teoretis, namun juga sudah mulai mengajarkannya secara resmi di mimbar akademis sebuah universitas.

Proses ini ternyata berlanjut di kemudian hari, ketika saya menjalankan profesi sebagai dosen tetap  di Universitas Multimedia Nusantara (Tangerang). Ketika dipercaya mengajar Mata Kuliah Pendidikan Kewarganegaraan (sejak 2012-2015) dan Pendidikan Pancasila (2014-2016).
Dari situlah saya tergerak untuk tidak hanya merayakan perbedaan dan keberagaman dalam bingkai Multikulturalisme, melainkan juga mengakui pentingnya solidaritas dan semangat kesatuan dalam Bingkai Ideologi Pancasila.

Poin terakhir ini akhirnya terwujud dalam bentuk prestasi mendapatkan hibah DIKTI selama dua tahun berturut-turut, yaitu hibah buku ajar (2015) dan hibah penelitian (2016, TA 2017) yang kesemuanya bernafaskan Multikulturalisme sekaligus Pancasila.

Yang membanggakan saya adalah, terhitung sampai hari ini (9 Januari 2018), belum ada satupun dosen tetap di kampus tempat saya mengabdi yang pernah mendapatkan hibah DIKTI untuk dua skema berbeda selama dua tahun berturut-turut.

Yang dapat saya refleksikan dari pengalaman di atas adalah bahwa untuk mulai menganalisis dan memahami isu-isu yang terkait dengan praktik dan paham perbedaan budaya, atau agama, atau suku bangsa, ringkasnya, praktik dan paham multikulturalisme, seseorang tidak bisa mulai dari ruang kosong dan nirwaktu.

Persinggungan, ketertanaman dan keterlibatan---dengan segala frekuensi, intensitas, dan kompleksitasnya---sudah selalu diandaikan oleh subjek yang menulis, peneliti yang meriset, maupun pembaca yang ingin mengetahui lebih jauh tentang multikulturalisme.

Ketika seseorang menulis tentang tema multikulturalisme, hal itu sudah selalu menjadi cakrawala pengalaman sekaligus pemahaman yang melatarbelakangi, melatar(s)damping, maupun menjadi proyeksi identitas diri serta minat pribadi si penulis.

Sejak lahir hingga sekarang, secara alamiah dan terberi maupun dengan kehendak bebas dan pergulatan, multikulturalisme sudah saya terima baik sebagai faktisitas yang diakui maupun normativitas yang dikontestasi.

Dengan demikian, eksplisitasi kisah keterlibatan pribadi dan akademis yang penulis sampaikan di sini, juga konteks sosio-politis dan sosio-budaya yang melingkupi penulis, dalam hal  ini budaya Jawa dan agama Katolik.

Dalam semangat nasionalisme Indonesia dan bingkai NKRI, merupakan titik berangkat bagi penulis untuk melanjutkan penziarahan multikultural dengan segala mosaik dan dinamikanya ini.

Di penghujung tulisan, saya berharap agar pengalaman maupun prestasi yang telah saya torehkan selama 10 tahun terakhir ini, dapat menginspirasi rekan-rekan penulis, peneliti, dosen dan guru serta siapapun yang mau berkiprah lebih jauh, lebih dalam terlibat dan lebih mencerahkan,  untuk khalayak umum, masyarakat Indonesia.

Secara terbatas, prestasi yang sudah saya torehkan tersebut di atas sedikit banyak membuat saya dikenal dan diakui, baik secara internal di UMN maupun di lingkaran dunia perguruan tinggi yang lebih luas, sebagai sosok dosen profesional yang masih muda.

Tidak hanya pandai “mengajar di depan kelas”, namun juga memiliki prestasi dalam meneliti dan publikasi, serta berdedikasi dalam “mengabdi kepada masyarakat,” yang kesemua ini sesuai dengan roh Tridarma Perguruan Tinggi.

Salam dan semangat prestasikan dirimu!



Artikel ini ada di majalah AN1MAGINE Volume 3 Nomor 1 Januari 2018 eMagazine Art and Science yang dapat di-download gratis di Play Store, share yaa


“Menerbitkan buku, komik, novel, buku teks atau 
buku ajar, riset atau penelitian di jurnal? An1mage jawabnya”

AN1MAGINE BY AN1MAGE: Enlightening Open Mind Generations
AN1MAGE: Inspiring Creation Mind Enlightening 
website an1mage.net www.an1mage.org

Komentar

Page Views

counter free

Visitor

Flag Counter

Postingan populer dari blog ini

STANLEY MILLER: Eksperimen Awal Mula Kehidupan Organik di Bumi

Menerbitkan buku di An1mage

CALL FOR CHARACTERS - ICF3 - exhibit your original characters globally for free