Roro Jonggrang di An1magine Volume 2 Nomor 12 Desember 2017



PRAMBANAN: Akhir Zaman
M.S. Gumelar


“Atau apa? Sebaiknya aku pergi saja dari rombongan ini, aku akan mencari Bondowoso,” ucap Garudeva lalu segera terbang.

“Apa yang kau pikirkan?” tanya Pikatan.

BUUUUUGH!

Bandung memukul perut Pikatan. Pikatan yang tidak menduga terduduk memegang perutnya yang kesakitan.

“Lain kali kalau kita ketemu, aku akan membunuhmu!” ucap Bandung.

“Bagaimana denganmu?” Bandung melihat ke Wanara.

“Seperti yang kukatakan, bila ada kesempatan, aku akan ikut,” ucap Wanara kalem.

“Baiklah, ayo ikut aku, kau naik salah satu prajurit metal dan aku satunya, kita harus segera sampai di alun-alun istana Baka,” perintah Bandung.

*

“Hup,” Seseorang melompat ke atas tepat di tengah arena. Pria ini bertopeng dan berpakaian sederhana, namun dari kain yang digunakannya, terlihat bukanlah dari kalangan menengah ke bawah, kainnya terlihat mewah.

“Aku Banyu Biru menantangmu,” tubuhnya lalu bersiaga dan mengarah ke Vharok.
“Hm…,” Vharok mendengus dan mulai berdiri dengan malas-malasan, lalu bergerak dengan sangat santai dan meremehkan orang tersebut yang telah siaga dengan serius.

Setelah berhadapan. Seseorang masuk dan menunjukkan satu sisi koin kepada Vharok bahwa itu adalah sisi koin miliknya, dan menunjukkan sisi koin lainnya kepada penantang tersebut.

Lalu koin dilemparkan, jatuh menggelinding dan berhenti. Kemudian orang tersebut berkata, ”Siapa yang keluar dari arena ini maka dia kalah. Banyu Biru silakan menyerang terlebih dulu!” lalu orang tersebut minggir dari arena.

Segera Banyu Biru melancarkan serangan dengan cepat. Tetapi herannya tidak satu pun serangannya yang berhasil mengenai Vharok.

Seolah Vharok mampu bergerak lebih cepat. Kemudian dalam satu kesempatan Vharok langsung  melayangkan pukulan telaknya ke arah dada lawannya.

BLEEEGH!

Pukulan itu sangat telak. Orang tersebut terpental keluar arena pertandingan dan menghantam tembok istana dan jatuh tak sadarkan diri.

UOOOOH!

Penonton berteriak kecewa.
Belum selesai penonton berhenti berkomentar. Mendadak seseorang muncul, rambutnya panjang, gimbal dan seperti tidak mandi berhari-hari.

Orang tersebut berjalan santai memasuki arena pertandingan. Orang tersebut tanpa menunggu undian untuk memulai siapa yang terlebih dulu segera menyerang Vharok.

Hal ini membuat orang yang mengundi tadi yang sudah melangkah masuk ke arena menjadi mundur dan minggir lagi.

Orang rambut panjang gimbal tadi berhasil mengenai Vharok. Tetapi Vharok dengan santai seperti tidak merasakan apa-apa.

Dengan cepat orang tersebut memukul lebih keras dan cepat. Vharok diam saja, dengan segera orang tersebut mengganti menyerang dengan kaki. Ditendangnya Vharok berkali-kali sampai kakinya kesakitan sendiri.

HA HA HA HA HA

Para penonton tertawa terbahak-bahak melihat hal tersebut.

Lalu orang tersebut lari mundur dan melompat dengan menendangkan kakinya ke arah wajah Vharok.

Dengan santai Vharok segera memegang kaki orang tersebut yang hampir mengenai wajahnya, lalu memutar-mutarkan orang tersebut dengan memegang kakinya dan melemparkan ke luar arena.
BRUUUGH SREEEEEKH

Orang tersebut mengenai tanah lapang dan pingsan.

“Baiklah ada yang mau menantangku lagi?” tanya Vharok.

“Sepertinya acara utama kita akan segera dimulai ha ha ha,” ujar Vharok percaya diri lalu melihat ke Gupala.

Semua terdiam, dan melihat ke arah Raja mereka Gupala yang tampak tenang, di sampingnya Loro Jonggrang tampak gelisah.

Dengan tenang Gupala berdiri. Loro Jonggrang memegang tangan Gupala. Gupala menoleh ke Loro Jonggrang, dan dengan perlahan melepaskan pegangan Loro sembari mengangguk sebagai tanda kuatkan dirimu.

Gupala lalu berjalan ke arah arena pertandingan dengan sangat tenang.

Gupala telah berdiri di depan Vharok. Lalu wasit pertandingan tadi segera berjalan ke tengah mereka. Menunjukkan salah satu sisi koin kepada Vharok sebagai miliknya dan satu sisi kepada Gupala sebagai miliknya.

“Peraturannya jelas, siapa yang keluar dari arena ini berarti kalah!” lalu dilemparkannya koin tersebut.

Dan koin jatuh ke lantai arena dan menggelinding dengan cepat lalu membelok dan perlahan-lahan terjatuh. Ternyata sisi Vharok yang muncul.

“Silakan Gusti Vharok menyerang terlebih dahulu,” ujar wasit tersebut lalu mundur ke area yang aman.

Vharok tampak tidak begitu serius karena merasa yakin pasti menang. Lalu berjalan mendekati Gupala pas di depannya sekitar lima puluh senti.

Mendadak Vharok melayangkan pukulan ke arah rahang Gupala. Pukulan yang luar biasa cepat bahkan mata orang awam tidak bakalan dapat melihatnya.

Akan tetapi, Vharok kaget, ternyata pukulannya tidak mengenai Gupala. Kali ini dengan cepat dilayangkannya pukulan kedua, ketiga, keempat, tendangan, pukulan dan satu set jurus telah berakhir.

Tak satu pun pukulan dan tendangannya mengenai Gupala. Dia bengong dan segera tersadar. Rakyat tertawa terbahak-bahak melihat hal tersebut.

HA HA HA HA HA HA HA

Suara rakyat terdengar gembira dengan tawanya.

“Siapa kau?” tanya Vharok.

Tanpa menjawab mendadak tubuh Vharok terdorong dengan keras oleh hentakan tekanan telapak tangan Gupala yang mengenai dadanya tanpa terlihat olehnya karena terlalu cepat gerakannya.
BUUUUUGH!

“HEKSH!” Vharok tersekat suaranya.

BRUAAAAAAGH!

Tubuh Vharok terlempar keluar arena dan menabrak dinding istana yang terbuat dari tumpukan batu yang tersusun rapi dengan keras.

BRUGH!

Lalu Vharok terjatuh ke tanah dan tidak sadarkan diri.

YEEEEEEEEEEEEE!

Sorak sorai rakyat riuh rendah dan ada yang berlompatan saking gembiranya melihat Raja Gupala yang mereka sayangi ternyata adalah raja yang sakti dan bijaksana.

Gupala melakukan Om Swastiastu kepada rakyatnya yang ada di alun-alun istana. Rakyatnya mendadak hening dan membalas Raja mereka dengan melakukan hal yang sama.

Wasit yang bengong mendadak segera tersadar, ”Tetap mempertahankan singgasananya raja kita yang bijaksana Gupalaaaaaaaa!”

PLOKH!
PLOKH!
PLOKH!
PLOKH!
SUIT SUIIIIIT!
Rakyat bertepuk tangan dan bergembira ada yang menari dan suara tetabuhan terdengar ditabuh dengan semangat.

Sementara itu, di kejauhan terlihat beberapa prajurit bagian medis menggotong tubuh Vharok yang pingsan dan dibawa ke dalam istana.

Setelah rakyat mulai mereda. Gupala segera berbalik dan berjalan ke arah tempat duduknya lagi.

“Tunggu! Aku menantangmu!” teriak seseorang.

Gupala menoleh ke arah suara tersebut dan telah berdiri Bandung dengan ketiga prajurit metalnya.

“Menantangku? Lalu mengapa ada empat yang di depanku?” tanya Gupala.

Bandung terdiam. Lalu tangannya bergerak dan menunjuk ke arah Gupala. Mendadak ketiga prajurit metal tersebut menyerang berbarengan.

BRUAAAAAAAKH!

KRAAAAAAAAAAKH!”

BLEEEGAAKH!”

Ketiga prajruit metal berkelojotan di lantai arena dengan salah satu kepala putus. Satunya badannya hancur tepat di dada, satunya terbelah dua.

HAAAAAAAAAAAA!
`YEEEEEEEEEEEEEEE!

Suara kaget muncul dan diganti dengan sorakan dan kegembiraan. Sementara Bandung bengong saja, lalu kemudian turun dengan perlahan.

“Kenapa bisa seperti ini?” tanya Wanara saat Bandung turun dari arena tersebut.

“Entahlah, beberapa rencanaku sepertinya berantakan, entah kenapa?” Bandung jalan tertunduk dan keluar dari area kerumunan orang-orang yang bergembira karena Gupala tetap menjadi raja dan terbukti sangat sakti mandraguna.

Setelah di dalam istana,”Apakah Vharok sudah siuman?” tanya Gupala.

“Sudah baginda raja,” ucap Aryakreyan.

“Bagus, bawa ke sini,” kata Gupala.

Kemudian Loro Jonggrang memeluk Gupala. Tetapi ditepiskan oleh Roro Jonggrang.

Loro Jonggrang berusaha memeluk Gupala lagi, lagi-lagi Roro Jonggrang menggagalkannya.

“Kenapa sih Roro!” kata Loro Jonggrang dengan kesal.

“Itu loh ayah kita, bukan dia,” ucap Roro Jonggrang menunjuk Gupala yang muncul dari ruangan lain dan masuk ke area tersebut.
“Terus yang ini siapa?” tunjuknya dan ternyata sudah berubah menjadi pria muda yang tampan.

“Loh ke mana dia?” Loro Jonggrang bingung.

Pemuda tampan itu mendekati Roro Jonggrang dan Roro Berkata, ”Ini Bondowoso kekasihku,” jawab Roro Jonggrang.

“Eh bukankah kekasihmu yang wajahnya kayak ikan atau kodok itu?” Loro tidak yakin.

“Iya, dia hanya berpura-pura saja jadi kodok, biar kau tidak merebutnya dari aku!” canda Roro.

“Ah mana mungkin aku merebut kekasihmu ha ha ha aku setuju deh kalo kamu sama yang ini, kalo dengan yang sebelumnya nanti anakmu kayak kodok ha ha ha,” ucap Loro Jonggrang membahas selorohan Roro.

“Ayah!” Loro dan Roro memeluk Gupala saat Gupala sudah dekat.

“Hamba Vharok mohon maaf gusti prabu,” saat Vharok dibawa menghadap ke depan Gupala.

“Yang sudah lewat biarkan saja, tetapi aku juga tidak bisa membuatmu menjadi patih lagi, ku tahu kau keturunan raksasa sekarang, oleh karena itulah, anggap saja pengampunanku adalah tanda persahabatan antara bangsamu para raksasa dengan bangsaku para manusia,” ucap Gupala.

 “Tetapi setelah kulihat bahwa kau adalah campuran antara raksasa dan manusia, kau juga kuangkat menjadi duta besar di negeri raksasa, mohon maaf pula sebesar-besarnya bila leluhurku pernah berbuat salah kepadamu Vharok,” sabda Gupala.

“Terima kasih gusti prabu, akan hamba terima tugas baru sebagai duta ini, dan akan segera hamba laksanakan, terima kasih dengan kebijaksanaan gusti prabu,” jawab Vharok dengan rendah hati.

“Baiklah, ke mari Bondowoso dan Roro anakku,” ucap Gupala.

Lalu Bondowoso dan Roro Jonggrang maju ke depan Gupala dengan beringsut ala kebiasaan istana.

“Bondowoso, aku berterima kasih kepadamu, tanpa bantuanmu semua hal ini tidak akan terjadi, dan kutitipkan Roro Jonggrang kepadamu, aku tahu kau manusia akhir zaman, jadi kuingin pernikahan kalian diadakan di sini, setelah itu silakan kau boyong putriku ke negerimu,” ucap Gupala.

Bondowoso dan Roro Jonggrang berpandangan mata kemudian kedua tangannya saling berpegangan. Semua yang ada di ruangan tersebut bersorak dan bergembira.

Pesta besar-besaran selama tujuh hari tujuh malam dilangsungkan di istana Baka. Bondowoso dan Roro Jonggrang menikah.

Hadir di sana Raja Pengging dan permaisurinya, Aryakreyan, Bandung, Bhorghat, Bulkhu, Garudeva, Jaran Sewu, Pikatan, Zhartan, Vhendaar, Vharok, Wanara lalu ayah dan ibunya Bondowoso, Mega Intary dan Gabriel Ishanty juga terlihat di samping kanan pelaminan.

Sementara Gupala beserta permaisuri berada di sisi kiri pelaminan mendampingi pengantin. Rakyat tampak bersuka cita.

Tampak Loro Jonggrang mencuri-curi pandang pada Pikatan. Pikatan tersenyum kepada Loro Jonggrang. Lalu mereka berpegangan tangan. Keduanya tersenyum bahagia.

“Sepertinya ini adalah saatnya kita berpisah, sering-sering datang ya,” kata Gupala.

“Jangan khawatir gusti prabu, akan kami lakukan, kami amit mundur,” Bondowoso menghibur ayah Roro.

Roro memeluk Gupala sebagai tanda berpamitan. Lalu Roro memeluk Loro Jonggrang.

Setelah itu, Roro bergabung dengan Bondowoso yang berada di satu titik area berkumpul dengan ayah dan ibunya.

Bondowoso, Roro, ayah dan Ibu Bondowoso, Mega Intary, dan Gabriel Ishanty melambaikan tangan dan mendadak sejenis gelembung air muncul secara samar dan menguat.

PYAAAAAAAAAASH!

Mereka menghilang ditelan air tersebut dan hentakan energi seperti gelombang riak yang lembut di area tersebut secara perlahan mulai normal kembali.

“Mukso!” gumam Pikatan.

Enam bulan kemudian.

“Baiklah, hari ini kunobatkan Pikatan sebagai raja baru Baka, dengan gelar Gusti Prabu Rakai Pikatan,” sabda Gupala. Gegap gempita rakyat menyambut raja baru mereka.

“Selamat ya kangmas,” bisik Loro Jonggrang.

“Terima kasih permaisuriku yang cantik,” ucap Pikatan.

“Baiklah, silakan Gusti Prabu Rakai Pikatan memberikan visi dan misinya untuk kerajaan Baka,” ucap Gupala.

“Terima kasih gusti,” ucap Rakai Pikatan.

“Pertama-tama, terima kasih untuk kepercayaan Ayahanda Gupala. Dan juga kepada teman-temanku yang lain yang telah membuat hal ini menjadi mungkin, terima kasih untuk kalian semua. Dan untuk rakyatku kuberikan jaminan keamanan, kesehatan, kesejahteraan, dan pendidikan kalian semua.” Rakai Pikatan bersabda dengan penuh semangat.

Rakyat bertepuk tangan dengan sangat gembira dan menyambut meriah.

“Akan aku pimpin kerajaan alam Baka dengan kebijaksanaan dan juga aku ingin semua orang akan mengingat kerajaan kita, oleh karena itu aku akan membuat seribu candi di area Prambanan agar kelak anak cucu kita di akhir zaman akan tetap melihat dan mengenang kerajaan Baka!” sabda rakai Pikatan.

HOREEEEEEE

HIDUP GUSTI PRABU RAKAI PIKATAN

Sorak sorai menyambut visi dan misi raja baru mereka begitu menggema dan membuat suasana menjadi sangat gembira penuh dengan semangat.

Beberapa hari kemudian di istana Baka.
“Aryakreyan dan Jaran Sewu, kalian tahu mengapa aku panggil ke sini?” tanya Rakai Pikatan.

“Mohon maaf gusti prabu, kami tidak tahu,” jawab Aryakreyan.

“Baiklah, hari ini kuangkat kau Bekel Aryakreyan menjadi Patih Amungkubumi Kerajaan Baka! Dan kau Jaran Sewu kuangkat kau menjadi Rakryan Tumenggung!” sabda Rakai Pikatan.
“Terima kasih gusti kami siap laksanakan!” jawab keduanya.

“Baiklah sepertinya persiapan telah selesai, sudah saatnya kita berpamitan,” ucap Zhartan.

“Kalian yakin tidak akan melanjutkan penelitian kalian di sini?” tanya Rakai Pikatan.

“Yakin gusti, sebab Vharok sudah mantap untuk ke planet asal eh… negeri kami, jadi memang mulai sekarang tugas sebagai duta di negeri raksasa benar-benar akan dilakukannya…”

“… sebab sekitar enam bulan yang lalu banyak peralatan dan kapal kami juga perlu diperbaiki, sehingga terhambat keberangkatannya, dan karena sepertinya semuanya sudah selesai diperbaiki sekarang, maka kini saatnya kami berangkat,” jawab Vhendaar.

“Ya, kami tidak perlu lagi berada di sini karena Vharok sebagai objek penelitian kami sudah tidak di sini juga, jadi yah inilah saatnya kami mengucapkan kata mungkin…. sampai bertemu lagi gusti, teman-teman!” tambah Zhartan.

“Baiklah hati-hati di jalan ya!” ujar Loro Jonggrang lalu memeluk Rakai Pikatan yang tersenyum sembari melambaikan tangannya kepada mereka.

Garudeva, Aryakreyan, Jaran Sewu, dan Eyang Rupit juga melambaikan tangan kepada mereka.
Bhorghat, Bulkhu, Vharok, Vhendaar, Zhartan dan raksasa lainnya melambaikan tangan dari pesawat mereka yang bulat dan besar.

Pesawat tersebut mendesing berputar di sisi-sisinya. Kemudian perlahan pesawat tersebut mengambang, mendadak petir menyambar pesawat tersebut, memberi tenaga menjadi penuh, lalu pesawat tersebut melesat dengan kecepatan yang sangat tinggi ke luar angkasa.

Setelah pesawat mereka sudah tidak tampak lagi. Garudeva berkata, ”Sepertinya aku juga sudah saatnya kembali seperti biasanya, melanjutkan tugasku skrieeech.”

“Ah jangan kau juga,” rengek Loro Jonggrang.

“Ha ha ha nanti kalo diperlukan hamba dapat membantu lagi skreieeech,” jelas Garudeva.

“Baiklah Garudeva terima kasih telah membantu kami selama ini, jangan sungkan-sungkan untuk datang,” ujar Rakai Pikatan.

“Pasti gusti skrieeeech,” lalu Garudeva mengepakkan sayapnya dan terbang ke langit.

*

“Berapa banyak candi yang telah selesai?” tanya rakai Pikatan kepada Bandung.
“Baru sekitar dua candi gusti selama enam bulan ini, pekerja perlu didatangkan dari Pengging lebih banyak lagi gusti, bolehkah?” tanya Bandung.

“Tidak masalah Bandung, saya yakin candi ini pasti jadi, dan bila perlu kau buatkan cerita yang seru agar candi Prambanan ini menjadi terkenal, aku serahkan kepadamu…”

“… selain sebagai senopati Pengging dengan adanya proyek ini akan mempererat persahabatan Baka dan Pengging, selain itu kau pintar juga dalam arsitektur dan membuat cerita, akan aku bayar tiga kali lipat pekerjaanmu bila sudah selesai,” sabda Rakai Pikatan.

“Wuaaaah terima kasih banyak gusti, hamba bisa membuat kerajaan kecil yang baru bila begini ha ha ha” jawab Bandung bersemangat.

Kemudian Rakai Pikatan meninggalkan area tersebut.

Bandung, ”Ah aku ada ide bagus, ceritanya adalah perjuangan Bandung, Bondowoso, Roro Jonggrang dan tugas membuat seribu candi dalam waktu semalam, bagaimana bagus tidak?” ucapnya kepada anak buahnya.

“Sepertinya bagus juga gusti,” jawab bawahannya Bandung.

Lalu Bandung berjalan ke pembangunan candi yang sedang ditugaskan kepadanya. Para bawahannya bekerja dengan baik dan rajin.

*

Ratusan tahun kemudian. Negara baru terbentuk dengan nama Republik Indonesia. “And that’s the folklore or myth about Bandung Bondowoso and Roro Jonggrang,” ucap seorang pemandu wisata wanita di salah satu area candi Prambanan di depan para turis dari dalam dan luar negeri.

“Whoaaaw what wonderful story,” ujar salah satu turis asing.

“Yeaaa and great temple too, amazing,” kata turis asing lainnya. Beberapa turis lainnya asyik memfoto-foto candi tersebut.

Mereka lalu berjalan mengikuti pemandu wisata wanita tersebut ke area lainnya.

Selesai. Sampai jumpa dicerita lainnya.


Cerbung iini ada di majalah AN1MAGINE Volume 2 Nomor 12 Desember 2017 eMagazine Art and Science yang dapat di-download gratis di Play Store, share yaa


“Menerbitkan buku, komik, novel, buku teks atau 
buku ajar, riset atau penelitian di jurnal? An1mage jawabnya”

AN1MAGINE: Enlightening Open Mind Generations
AN1MAGE: Inspiring Creation Mind Enlightening 
website an1mage.net www.an1mage.org

Komentar

Page Views

counter free

Visitor

Flag Counter

Postingan populer dari blog ini

STANLEY MILLER: Eksperimen Awal Mula Kehidupan Organik di Bumi

CERPEN: POHON KERAMAT

Menerbitkan buku di An1mage