MINDPORTER 2: Archilum oleh M.S. Gumelar di An1magine Volume 2 Nomor 12 Desember 2017


MINDPORTER 2:
Archilum
M.S. Gumelar


Aswin menghela napas panjang. Ia masih belum ceria. Aku yakin ini pasti karena kedatangan Rawi yang tiba-tiba. Ia tidak terlihat muram sebelumnya, ia masih terlihat lebih baik bahkan ketika menceritakan betapa kesalnya ia karena seluruh keluarga menyiapkan upacara Shinar.

“Sudah jangan kau pikirkan Rawi lagi,” sambungku.

“Tentu aku memikirkannya, Candhra. Benar-benar mengangguku, mendekati menakutiku. Aku tidak tahu apa yang mungkin terjadi jika ia membocorkan tingkah burukku pada orang-orang.”

“Yah, paling kau akan menjadi budak kuil selama beberapa waktu, kemudian kau akan kembali. Orang-orang akan mengingat kesalahanmu, tapi setidaknya kau bisa menjalani kehidupanmu lagi.”

“Terdengar sangat ringan.”

“Ringan atau berat yang jelas ketika kita sudah terperangkap hukuman, kita tidak memiliki pilihan lain. Tapi kuharap tidak ada hal buruk yang menimpamu. Kalau dilihat dari tingkah Rawi tadi, sepertinya ia tidak mau mengambil pusing soal penyelinapanmu.”

“Penyelinapan, membuatku terdengar seperti orang jahat, penyusup.”

“Jujur saja aku tidak setuju kalau mengintip kuil saja dikategorikan sebagai kejahatan. Maksudku itu tidak seperti mencuri atau membunuh. Tidak ada orang yang dirugikan atau dilukai. Jadi mestinya orang-orang itu mulai berpikiran terbuka.”

Aswin mendesah, ia mengambil Brachuura miliknya dan memberikan dua buah padaku. “Kurasa aku tidak akan bisa makan banyak. Kau ambil milikku.”

Aku mengambil Brachuura yang diberi olehnya dan mulai menyantap serangga itu lagi. Masih memakan yang punyaku karena milikku saja masih belum habis.

Tapi tambahan bukanlah masalah, aku yakin bisa menghabiskan seluruhnya.

Aswin juga ikut makan meski kelihatan kehilangan selera. Tapi mestinya ia tetap merasa lapar biarpun sedikit.

“Candhra, bagaimana kalau kau mulai menginap saja malam ini di rumahku? Aku yakin tidak akan bisa tidur malam ini dan akan lebih baik jika ada orang yang menemani.”

“Maafkan aku sobat, malam ini aku harus pulang, ibuku tidak akan senang jika aku tidak mengantar Chatura pergi ke kuil besok. Lagi pula sebelum petang keluargamu akan pulang sebelum pergi lagi besok. Percayalah segalanya akan baik-baik saja.”

“Uhh... baiklah. Apa kau akan menginap besok lusa? Kuharap ibumu tidak keberatan.”

Aku mengangguk. “Aku akan menemanimu besok malam. Saat pulang nanti aku akan memberitahu ibuku kalau akan tidur di rumahmu.”

“Pasti akan menyenangkan. Aku akan menyiapkan banyak makanan untuk kita santap, dan kita akan mengobrol hingga larut malam. Orang-orang tidak akan kembali besok malam. Mereka akan menginap di kuil dan berdoa.”

“Berdoa,” ulangku sembari mengerutkan dahi.

“Kenapa Candhra? Apakah kau tidak pernah berdoa?”

Aku menggeleng. “Aku tidak meminta keinginanku dikabulkan pada para dewa. Aku mengusahakan keinginanku menjadi nyata.”

“Kurasa kita diajarkan untuk mengimbangi usaha dengan doa,” sahut Aswin ikut-ikutan mengerutkan dahi.

“Kurasa para dewa sudah kewalahan memikirkan kesulitan-kesulitan semua orang, jadi anggap aku tidak mau mengusik mereka dengan masalah-masalahku. Aku akan berusaha menyelesaikannya sendiri,” timpaku ringan.

“Mestinya kau tetap berdoa pada mereka, doamu akan didengarkan dan dikabulkan pada saatnya. Aku juga akan berdoa setelah pulang ke rumah. Memohon pengampunan atas tindakan konyolku dan meminta agar hal itu tidak jadi masalah besar,” ungkapnya sembari menggigit serangganya.

Jadi sebenarnya anak ini lebih takut pada hukuman dari dewa atau sebenarnya takut pada sanksi yang akan di jatuhkan masyarakat? Kalau dewa maha tahu, berarti mereka sudah tahu dan akan murka. Tapi buktinya sampai sekarang Aswin tidak celaka.

Aku hanya memakan Brachuura dengan diam, tidak menimpalinya karena percuma saja. Masalah pandangan soal bagaimana menempatkan diri dengan para dewa-dewa aku masih sukar sependapat dengan Aswin, begitu pula sebaiknya.

Entah mengapa aku tidak terlalu menempatkan hal-hal yang berhubungan dengan dewa sebagai prioritas. Tapi bukan berarti aku menyingkirkan seluruhnya.

Biar jarang berdoa, aku tidak pernah kabur dari tiap upacara yang kami rayakan.
Aku selalu membantu keluargaku menyiapkan sesaji untuk dewa di akhir minggu ketiga tiap bulannya.

Kami memang tidak menyiapkan sesaji setiap hari, alih-alih seperti itu, akhir minggu ketiga adalah waktu sakral kami di mana orang-orang menyiapkan sesaji dan berdoa.

Sementara aku tetap menyiapkan sesaji dan pura-pura berdoa. Seperti yang kukatakan pada Aswin, aku tidak berdoa supaya keinginanku terwujud.

Aku berusaha agar keinginanku terwujud.

Sementara Aswin yang taat, sepertinya selalu berdoa setiap mendapat masalah.

Ia juga akan bersyukur tiap kali mendapatkan kebahagiaan dan memohon ampunan dari dewa-dewa atas setiap kesalahan yang disadarinya.

Tidak mengherankan sebenarnya. Ayah Aswin adalah salah satu tokoh agama di sini, sementara keluargaku memang sejak awal hanya anggota saja. Tidak memiliki sejarah ada anggota keluarga yang diangkat menjadi tokoh agama.

Singkat kata hanya pengikut, mungkin karena itulah ketaatan keluargaku tidak melebihi ketaatan keluarga Aswin.

Mungkin karena itu juga aku tidak terlalu mau dipusingkan dengan hal-hal yang berkaitan dengan kepercayaan.

Aswin menghabiskan Brachuura terakhirnya tidak lama saat aku sudah menghabiskan seluruh bagianku, termasuk pemberiannya. Namun wajahnya masih belum normal.

Dahinya masih berkerut, dan senyumannya tidak nampak.

Aku tidak senang dia harus sedih seperti itu. Pasti ada rasa waspada pada Rawi, kami tidak dapat memungkirinya. Tapi bagaimanapun Rawi tidak terlihat seperti orang yang ingin memunculkan perseteruan.

Setidaknya belum. Buktinya ia tidak terlalu mendesak Aswin untuk bicara lebih banyak soal rahasianya. Mengenai tindakan yang didorong oleh keingintahuan. Mestinya dewa bisa memaafkannya.

“Santai saja teman, tidak akan ada hal buruk yang menimpamu,” kataku menguatkannya.

“Kuharap juga begitu,” angguknya.

Kami membereskan tempat pembuatan api supaya tidak nampak seperti bekas digunakan untuk membakar. Biasanya ini adalah tempat tersembunyi bagi aku dan Aswin. Namun nampaknya hari ini agak sedikit berubah.

Rawi tidak sengaja menemukan tempat kami menghabiskan waktu.
Aku tidak tahu apakah informasi yang dimiliki Rawi akan menempatkan kami pada masalah.

Kuharap tidak.

Aswin tidak akan tenang malam ini, tapi sebenarnya aku juga tidak akan mudah terlelap petang ini. Rawi. Entah mengapa intuisiku mengatakan aku harus waspada padanya.

Mungkin aku berlebihan, mungkin kekhawatiran Aswin ikut merayapiku.

Aswin menyembunyikan tusukan untuk membakar Brachuura di antara batang pohon, tersembunyi di balik bayang-bayang pohon. Matahari sudah hampir hilang sekarang.

“Dan kepada angin yang menyembunyikan misteri dan rahasia, berikan kami sebuah jalan yang disinari rembulan. Jalan malam yang menuntun pada matahari.

Jalan bintang yang bermuara pada embun pagi.”

Ah! Aswin mulai berpuisi lagi.

*


Chapter 3

“Namaku Komodo,” jelasku.

“Komodo? Hm…nama species reptile…pilihan yang bagus,” Puji orang berambut seperti jamur dengan kacamata bulat hitam kecil tersebut.

“Biar aku hajar dia Mr. G,” ucap seseorang bertubuh tinggi besar sekitar 3 meter yang berada tepat di belakang orang yang disebut sebagai Mr. G tersebut.

Mr. G ditemani oleh 3 orang di belakangnya, satu orang bertubuh kecil sekitar 1.4 meter, dan satunya seorang perempuan bertubuh langsing dengan tinggi 1.7 meteran.

Mr. G menggerakkan tangan kirinya ke samping  kiri menghalangi. Lalu Mr. G melanjutkan kata-katanya “Kau sepertinya tidak mengenalku Komodo,”.

“Haruskah?” tanya Komodo.

“Hm… tidak harus,” jawab Mr. G tersenyum. “Di antara kita tidak ada perseteruan sebelumnya, jadi biarkan kami yang mengambil perempuan itu” telunjuk Mr. G mengarah ke seorang perempuan yang tergeletak di antara mereka yang saling berhadapan.

“Aku harus menyelamatkannya,” jawab Komodo.

“Kenalkah kau padanya?” Tanya Mr. G

“Tidak begitu, kami baru berkenalan, namanya Cosmica” jawab Komodo.

“Tepat sekali, namanya Cosmica, tahukah kau, dia dari mana?” Tanya Mr. G

“Entahlah, kupikir dia berbohong, tapi dia mengaku dari masa depan… “ jelas Komodo.

“Ah skeptis…” Mr. G bergumam

“Kau bersedia menolongnya tanpa tahu benar siapa dia?” Gumam tanya Mr. G

“Aku siap membantu siapapun yang memerlukan pertolongan” jawab Komodo.

“Ah… seseorang yang naif, kau tahu naif tidak sama dengan baik, kenaifanmu justru ada potensi mencelakakan orang lainnya bila kau salah persepsi, dunia ini tidak hitam dan putih”  Mr. G berkata dengan mata tajam menatap Komodo.

“Aku cenderung melihat apa yang perlu dilakukan dalam waktu cepat untuk saat ini, menolong yang perlu pertolongan” komodo mulai jengah dengan perbincangan ini.

“Aku yakin kau pernah melakukan kesalahan dengan alasan membantu orang lain karena kenaifanmu dan akhirnya merugikan orang lain” Mr. G menekankan kata-katanya sembari menatap tajam dengan kacamata bulat hitamnya ke arah Komodo.

“Aku…” Komodo menunduk, mengingat semua kesalahan yang pernah dilakukannya karena kenaifannya.

“Tidak hanya kau yang mengatakan hal itu…” Jawab Komodo dengan bibir bergetar.

“Nah… sebelum melakukan kesalahan yang sama, ada baiknya biarkan kami menangani Cosmica, dan lupakan kejadian kau pernah bertemu dengannya dan juga pernah bertemu kami” kata-kata Mr. G mengandung tekanan mental kepada Komodo.

“Ingat… bukan kami yang menyerang Cosmica, tetapi orang lain, kami adalah temannya” Jelas Mr. G.

Komodo berpikir keras dengan kenaifannya, dan akhirnya “Baiklah, aku serahkan dia kepada kalian, tetapi kalau ada apa-apa, aku akan mengejar kalian sampai di mana pun,” ucap Komodo mantap.

“Bagus, keputusan yang tepat” lalu Mr. G menggerakkan kepalanya sebagai penanda agar Cosmica dibawa oleh anak buahnya.

Orang yang tinggi besar sekitar tiga meteran segera bergerak mengambil tubuh Cosmica yang tergeletak. Kemudian membopongnya di pundak, dia bergerak mendekati Mr. G dan kedua temannya, kemudian mendadak kelimanya menghilang.

“Teleport” gumam Komodo.

Komodo kemudian memandang ke sekitar area tersebut, area gedung megah dekat sungai bersih dengan gemericik air mengalir deras.

*

"Haruskah sungai itu mengalir tenang ketika jantung ini berdebar kencang. Haruskah kupu-kupu terbang dengan elok ketika harapanku terhenti, tertambat padamu."

" Candhra…” panggil Aswin.

"Ya?" Aku menoleh ke arahnya dan aku memicingkan mata padanya, setelah aku tertidur sejenak, mimpi aneh dan terbangun karena panggilannya.

“Kurasa semakin terang ya sinar matahari membuatmu makin suka berpuisi.”cetusku.

“Tidak juga,” ujarnya sembari mengangkat bahu.

“Aku bisa berpuisi kapan saja. Siang atau malam. Kemarau atau penghujan.”

Siang ini terik, sama seperti hari di mana aku bertemu Aswin. Hari itu aku tengah memancing.

Mestinya belut karena bulan-bulan itu belut biasanya tengah banyak. Tapi entah mengapa siang itu aku berubah pikiran.

Alih-alih menuju area sawah, aku malah ke pinggiran sungai dengan pancing buatan sendiri.

Aliran sungai selalu tenang dengan ikan berenang-renang di sana. Air sungai masih jernih, sekarang pun masih bersih karena masyarakat di sini menjaga sungai, tapi seingatku dulu lebih jernih. Mungkin karena penduduknya belum sebanyak sekarang.

Warga yang ketahuan membuang sampah atau membuang hajat kotoran di sungai akan dikenai sanksi adat. Mereka biasanya akan diminta menyumbangkan sesuatu ke kuil, seperti hasil panen atau hewan untuk di kurbankan.
Oleh karenanya, warga di sini mematuhi peraturan buat menjaga alam.

Mereka sadar bahwa jika alam rusak, hal itu juga akan memberikan reaksi pada kehidupan mereka. Tidak hanya keretakan secara sosial, namun juga bisa mengganggu hasil pangan.

Nah mengenai perihal makanan, sebagian besar penduduk di tempatku sebenarnya berprofesi sebagai pekerja di perairan, entah memelihara ikan atau binatang air lainnya.

Maka dari itulah aku merasa agak berbeda ketika teman-temanku membicarakan ikan-ikan sementara yang aku tahu adalah bagaimana menumbuhkan dan merawat tanaman supaya berbuah.

Namun nampaknya dewa punya rencana lain terhadapku, ia membawa Aswin padaku siang itu. Seorang anak seumuranku dengan tinggi sedikit lebih pendek dariku.

“Apa sungai ini banyak ikannya?” tanyanya sembari tersenyum.

Aku membuka mulut namun tidak langsung menjawab. Rasanya aku baru kali ini melihatnya, pastinya anak itu tidak tinggal di sekitar sini. Akhirnya aku menjawab hanya dengan anggukan.

“Kuharap aku bisa menangkap beberapa ekor, sudah lama aku tidak menyantap ikan air tawar,” ujarnya sembari tersenyum dan mulai mempersiapkan alat memancingnya.

Sebelum aku sempat menimpalinya, kailku terasa tertarik lembut. Aku segera menyentakkannya dan agak terlalu kasar nampaknya. Ikannya lepas. Umpan terakhir dan hari ini aku cuma mendapat seekor. Terdengar cukup menyedihkan.

Aku merapikan gulungan senar dan tengah membuka ikatan untuk tempat menaruh ikan ketika anak itu bersuara kembali.

“Kau sudah selesai?” tanyanya sembari mengerutkan dahi.

“Umpanku sudah habis,” sahutku sembari memandangi ikan-ikan yang berenang di dasar sungai yang dangkal. Benar-benar kurang beruntung, bagaimana aku hanya bisa mendapatkan seekor saja padahal ikan di sini cukup banyak.

“Kebetulan aku menyiapkan cukup banyak umpan, kau bisa menggunakan milikku,” ujarnya menawariku.

Aku melihat bawaannya. Anak ini benar-benar mempersiapkan pemancingannya dengan baik.

“Kau yakin?” kataku sembari memandangi bawaan cacingnya yang banyak. Bahkan juga ada katak kecil.

“Ambilah dan kita bisa memancing bersama hingga sore,” jawabnya sembari tersenyum.

“Terima kasih banyak,” sahutku yang secara tidak sadar juga ikut tersenyum.

“Namaku Aswin,” katanya sembari mengulurkan tangan.

“Candhra,” balasku sembari meraih tangannya.

“Jadi kau tinggal di sekitar sini. Apakah menyenangkan tinggal di daerah pedalaman?”

“Lumayanlah, tapi sebenarnya aku tidak benar-benar tahu,” aku menghentikan ucapanku sebentar buat berpikir, “Karena pada kenyataannya aku belum pernah mencoba hidup di daerah pesisir.”

“Kalau begitu kapan-kapan kau harus main ke rumahku dan merasakan betapa pesisir sangatlah hidup. Suara deburan ombak yang tak pernah putus, pertemuan laut dengan langit biru”

“Kujamin segalanya indah.”
“Terdengar sangat menyenangkan.”

“Aku bertaruh kau akan suka dengan kehidupan di pesisir,” sahut Aswin bangga. “Kau juga akan menyukai Brachuura.”

“Kau sedang menceritakan hal-hal yang tidak aku ketahui,” tawaku. “Tapi aku jelas tertarik dengan kehidupan pesisir. Keluargaku semuanya adalah petani, tapi aku dari dulu penasaran dengan kehidupan tepi laut.”

“Benarkah? Sebenarnya kami tengah kekurangan orang sekarang. Produksi Brachuura tengah ditingkatkan secara gila-gilaan karena permintaan yang tinggi”

“Kau bisa mencoba menanyakan hal ini pada keluargamu dulu tentunya,” cerita Aswin sembari menimbang-nimbang kemungkinan aku bergabung dengannya di pesisir, meski sebenarnya dia tidak begitu yakin.

Mendadak aku merasakan jantungku berdegup dengan cepat. Bukan, bukan seperti ketika aku melihat cewek yang aku taksir. Ini jelas sesuatu yang lain. Rasanya bagai mimpi. Mimpi yang terasa begitu dekat.

Namun ia benar, aku harus mengonsultasikannya lebih dulu dengan keluargaku. Jujur saja aku sudah berpikir buat kabur seandainya orang tuaku tidak mengizinkan.

Aku benar-benar ingin tahu kehidupan pesisir. Sangat, sangat ingin tahu.
Mereka mungkin tidak mengizinkanku pergi, mereka ingin aku membantu mereka, tapi aku akan mencoba meyakinkan ibu.

Aku percaya ibu akan mendengarkanku dan mempertimbangkan apa yang kuinginkan.

“Tentu, tentu aku akan bertanya pada ibuku. Tapi bagaimana aku bisa memberitahumu soal keputusannya? Apa kau masih akan berada di sini?”
Aswin mengangguk.

“Aku akan kemari lagi esok setelah makan siang hingga senja hari. Aku harus banyak-banyak memancing.” Dia merendahkan suaranya.

“Aku tidak terlalu menyukai pamanku, dia sering kali mengadakan barter secara tidak adil. Membawakan beberapa potong jamur untuk sekeranjang Brachuura, terdengar cukup gila kan?”

“Kalau mengenai jamur, kau juga bisa melakukan barter dengan keluargaku,” kataku memberi tahu.

“Kau seorang petani jamur?” tanyanya, terkejut.

Aku menggeleng, “Petani padi dan jagung, meski kami juga menanam umbi-umbian. Aku tidak terlalu suka hidup tanpa terkena sinar matahari, kau tahu jamur suka tumbuh di tempat yang gelap dan lembab”

“Setidaknya aku mendapat limpahan cahaya yang cukup ketika berada di sawah.”

“Aku juga tidak terlalu suka hidup di tempat yang cenderung gelap. Kalau kau pergi ke pesisir, kau akan mengetahui betapa melimpahnya sinar matahari.

Kadang terlalu terik hingga aku banyak menghasilkan keringat,” kekehnya.

“Kailmu bergerak,” kataku mengingatkan.
Ia menyentakkan pelan kailnya, terlalu lemah agaknya hingga ikan pancingannya terlepas.

“Ah, kurasa ia belum ingin disantap hari ini,” ujarnya ringan.

“Kurasa kita harus lebih berkonsentrasi,” tawaku.

“Mari berkompetisi, siapa yang bisa mendapat ikan lebih banyak.”

“Apa hadiahnya?”

“Yang kalah akan membakarkan ikan untuk yang menang, kemudian kita akan menyantap ikan bersama-sama.”

“Terdengar menyenangkan,” sahutku menerima tantangannya.

“Hari ini tentu akan menyenangkan,” kata-kata Aswin kembali menarikku ke masa kini. Ia terlihat lebih tenang dibandingkan saat kami berpisah kemarin sore. Lebih tepatnya setelah bertemu dengan Rawi.

“Jadi kau sudah meminta izin pada ibumu?” tambahnya.

Aku mengangguk.

“Berita bagus kalau begitu. Kita bisa melakukan hal-hal yang menyenangkan sepanjang malam. Kuharap kita tidak akan cepat mengantuk,” cerocosnya.

Aku hanya tersenyum samar. Aswin memeriksa apakah ayamnya bertelur, ia memasukkan sebagian tubuhnya ke kandang yang kami buat bersama-sama dua tahun yang lalu.

Sementara itu aku duduk di anak tangga pintu masuk rumah Aswin. Siang ini benar-benar terik, aku bahkan berkeringat lebih deras dari pada biasanya.

Mulanya aku memandangi apa yang dikerjakan Aswin, kemudian kepalaku memutar kejadian setelah aku sampai rumah.

"Sudah pulang pejuang pemberontak kesayanganku?"
Aku baru saja mengendap-endap memutari sisi kiri rumahku untuk segera menuju ke sumur dan membersihkan diri sebelum masuk ke rumah lewat pintu belakang. Namun siapa sangka ibu sedang berada di sumur.

"Ah! Ibu. Sedang apa?" tanyaku sembari mendekatinya.

"Menyiapkan air hangat rempah untuk merendam kaki."

Aku segera memerhatikan kakinya. "Apa ibu baik-baik saja?"

"Kaki tua ada saja rewelnya, tapi tidak sakit kok aku hanya sedikit pegal karena berjalan jauh ke kuil Shinar." Ia berhenti untuk memijat-mijat kakinya.

Aku bernapas lega karena tidak terlihat ada luka atau memar di sana. Pikiranku sudah sempat berpikiran buruk.

Untungnya keadaan ibu baik-baik saja. Aku lega mengetahuinya.

Tahun ini adalah tahun pertama bagi Chatura ke kuil. Dan tidak lama lagi kita bertiga akan sama-sama ke kuil.

Bukankah itu terdengar menyenangkan? Aku benar-benar senang karena tahun ini tidak perlu ke kuil sendirian.

Itu benar. Biasanya ibu akan berangkat sendiri. Kadang bersama koleganya, tapi tentunya rasanya tidak akan sama seperti bila berangkat bersama keluarga.

"Aku senang Chatura menemanimu ke kuil. berangkat bersama-sama. Nampaknya sangat menyenangkan," kataku.

Dan aku akan lebih senang bila bisa berangkat bertiga.

"Aku tahu, meski begitu aku sedikit mengkhawatirkanmu. Kau harus sendirian tahun ini. Pasti itu tidak menyenangkan," ujarnya sembari mencari kebenaran di mataku.

Aku tersenyum. Ia terdengar benar-benar seperti seorang ibu bila khawatir seperti itu. Tapi aku senang beliau bukan tipe yang suka mengomel atau memaksakan sesuatu dengan caranya. Ia adalah orang tua terbaik. Aku menyayanginya.

"Jangan khawatir, aku banyak melakukan hal yang menyenangkan bersama Aswin."
Mendadak aku teringat sesuatu untuk kuutarakan pada ibuku.

"Apa kau tidak keberatan jika besok aku menginap di tempat Aswin? Kami sama-sama belum boleh ke kuil, maka dari itu kami berpikir untuk melakukan bakar-bakar makanan."

Ibuku membulatkan matanya. "Begitu? Tentu saja boleh. Bawalah beberapa jamur yang kudapatkan hari ini untuk dibakar besok bersama sahabatmu."

"Terima kasih ibu, kau benar-benar baik."
Aku membantunya mengambil air di sumur dan memasakkan air hangat untuknya.

"Kau juga belum mandi bukan? Buat juga air hangat untukmu," kata ibu sembari duduk di tanah sebelahku.

"Aku tahan kok mandi dengan air dingin. bukan masalah," sahutku enteng. "Nanti aku ke sungai saja."

"Petang begini? Kau akan digigit ular pejuang pemberontak," ujarnya menimbang-nimbang.

"Atau aku yang menggigit ularnya. Mereka pastinya bisa merasakan betapa berbahayanya aku," sahutku berkelakar.

"Pokoknya mandi di sumur saja. Jangan pergi jauh-jauh ketika petang. Tidak banyak orang yang keluar rumah sehingga bila kau membutuhkan pertolongan, tidak akan ada yang mampu mendengar permintaan tolongmu," bisiknya mewanti-wanti.

"Kau terdengar seperti sedang mengutukku,' balasku sembari pura-pura merinding. Baiklah aku akan mandi di sumur saja, baru mandi di sungai esok hari."

"Terdengar sangat bertanggung jawab," tawa ibuku.

Kami menunggu air menjadi panas sementara panas dari api juga digunakan untuk menghangatkan badan. Entah kapan terakhir kalinya aku dan ibu berada dalam situasi hening seperti ini.

"Apa yang sedang dilakukan Chatura?"

"Tidur," kekeh ibu. "Ia pasti kelelahan berjalan cukup jauh ke kuil. Maka dari itu kebanyakan orang-orang akan menginap ke kuil besok. Di samping karena acaranya hingga malam, kami juga harus banyak bersujud besok.”

"Kuharap kalian berdua selalu sehat."

"Ah! Pejuang pemberontakku, kau tidak perlu membebani pikiranmu. Cukup tentukan cita-citamu dan meraihnya."

Ia meraih tanganku dan mendekatkannya ke dadanya.

"Aku senang kau tahu keinginanmu menjadi seorang nelayan. Aku senang kau sudah menjalaninya karena ketika kau bahagia, aku juga akan merasakan hal yang sama karena kaulah buah hatiku."

"Terima kasih banyak ibu," sahutku sembari menempel padanya.

Berapa umurku sekarang? Hampir dua puluh? Tidak kusangka kelakuanku pada ibu hampir tidak berubah, mirip sama seperti anak berumur sepuluh. Aku tidak akan pernah merasa segan untuk berlaku manja padanya.
Ibu akan selalu bersikap seperti ibu meski anaknya perlahan beranjak dewasa. Ia akan selalu memandang anaknya sebagai anak kecil yang harus ia arahkan dan lindungi.

Seolah itu adalah panggilan seluruh wanita yang menjadi ibu. Ibu telah mengetahui panggilannya dalam menjalani kehidupan ini. Sementara aku belum memahami akan jadi apakah aku.

Rasanya seperti berhadapan dengan ketidakadilan. Bagaimana hidup dapat terasa sangat kosong dan gelap. Aku ingin menemukan apa yang ingin kugapai.

Bukan hanya sekadar hal yang berhubungan dengan pekerjaan.

Karena banyak orang yang memiliki pekerjaan yang sama denganku. Banyak juga yang melakukannya karena sebenarnya mereka tidak tertarik, tapi karena keluarga mereka melakukan hal yang sama.

Aku bukan orang yang seperti itu. Buktinya ketika aku ingin menjadi pekerja tambak namun keluargaku seluruhnya petani, aku akan mencapai keinginanku. Aku tahu apa yang aku inginkan, aku bukan tipe orang yang suka ikut-ikutan.

Memilih tujuanku sendiri dan berjuang di dalamnya. Mengeraskan tekad supaya tetap bertahan dan mengunci rahang supaya tidak menggerutu. Termasuk menulikan telinga dari kata-kata negatif yang berdengung.

“Lihatlah kau sedang melamun, Candhra,” cibir Aswin sembari memegang dua butir telur di kedua tangannya.

“Aku hanya sedang tertidur tanpa memejamkan mata,” sergahku, berseloroh.

“Katakan saja apa yang kau suka,” sindir Aswin lagi. “Nanti kita bisa makan ini untuk makan malam. Aku juga sudah menangkap beberapa ekor ikan untuk kita cemil nanti malam.”

Aku meraih tasku dan mengeluarkan beberapa jamur.

“Ibuku memberikan ini pada kita. Kurasa hari ini kita akan mengadakan pesta. Banyak makan dan bersenang-senang.”

“Sudah pasti,” ucap Aswin, riang. “Pesta privat, tidak sembarang orang boleh bergabung. Orang-orang boleh saja menyombongkan diri dengan ikut upacara Shinar, tapi bukan berarti kita yang tidak ikut adalah makhluk menyedihkan. Mari segera berpesta!”

Kulirik kandang ayam milik Aswin, pintunya masih terbuka.
“Kau tidak mau menutup itu?”

“Aku akan menutupnya menjelang petang. Ayam-ayam itu akan mematuk kulitku dengan ganas jika aku berusaha memasukkan mereka sekarang. Ayo masuk!”

Hal yang paling kusukai dari rumah Aswin adalah rumah itu terkesan hangat dan memiliki sirkulasi udara yang baik meski terdapat banyak sekali barang-barang di dalamnya.

Kursi-kursi dan lemari berisi perkakas dapur. Ibu Aswin sangat suka memasak dan punya banyak sekali peralatan untuk itu dalam berbagai ukuran, seolah beliau memang mengoleksi benda-benda itu.

Rumah itu besar, mengingat keluarga Aswin yang memang besar. Yang kudengar, setelah adik perempuannya menikah, justru rumah ini bertambah ramai karena suami adiknya ikut tinggal di sini.

Sementara rumahku terlalu sunyi. Sama nyamannya, tapi tentunya setiap rumah memiiki kesan yang berbeda. Biar rumah ini lebih besar dan lebih baik, aku tetap lebih menyukai rumahku.

Kuletakkan jamur yang kubawa di atas meja besar yang biasa digunakan untuk menyiapkan bahan-bahan makanan.

Aku sudah cukup lama berteman dengan Aswin dan berkali-kali menginap. Jadi aku sudah cukup paham mengenai budaya dari keluarganya.

“Kamarku sudah tidak dilantai ini lagi. Pindah ke lantai atas karena kamarku yang lama sekarang menjadi milik adikku dan suaminya.

Mereka butuh ruangan yang cukup luas untuk berdua,” ujar Aswin sembari membersihkan ikan. Membuang sisik juga insangnya kemudian memotong ikan tersebut menjadi lima bagian.

“Jadi kamarmu pindah ke mana?” sahutku sembari membuang bagian-bagian jamur yang terlihat kurang baik.

“Atas. Bekas kamar Akusara.”

“Hei! Bukankah itu kamar yang selalu kau inginkan?”

Aswin memamerkan senyuman sumringahnya padaku. “Akhirnya penantian ini membuahkan hasil. Bagaikan tanah yang disucikan oleh hujan setelah kemarau panjang, begitulah pula harapanku yang tergenapi.”

“Ah! Dasar pujangga,” kekehku sembari melemparnya dengan bagian jamur yang buruk.

“Tidak kena,” ejeknya sembari berkelit.
Aku tertawa melihatnya.

“Candhra, seandainya seorang pujangga bisa makan dengan membuat sajak-sajak indah, mungkin aku akan meninggalkan tambak dan tenggelam dalam kegemaran merangkai kata.”

“Kau bisa menjadi seorang sastrawan,” sahutku sembari mengambil pisau yang lain dari dapurnya dan mulai memotong-motong jamur dalam bagian yang lebih kecil.

“Sastrawan biasanya juga seorang pengajar juga. Kurasa ilmuku masih dangkal. Lagi pula kalau aku menyebut soal keinginanku menjadi pujangga, ayah akan langsung melotot padaku!” serunya sembari memasang ekspresi pura-pura ketakutan.

“Karena sastrawan dinilai sebagai pekerjaan yang kurang lazim. Kita tentu punya penyair-penyair hebat meski jumlahnya tidak banyak.”

“Kau benar, tidak banyak karena apa yang mereka hasilkan juga dipandang tidak mampu mencukupi kebutuhann hidup. Maksudku, siapa sih yang mau menyerahkan ayam demi mendapatkan sepenggal puisi?”

“Memang agak sulit sebenarnya. Kuharap di masa  depan seorang penyair bisa menjadi suatu pekerjaan yang menjanjikan,” gumamku.

“Kuharap aku bisa terlahir kembali di masa di mana penyair dipandang tinggi dan bisa menjadi kaya lewat karya-karyanya.”

Aku meletakkan pisauku dan menaruh potongan-potongan jamur pada tempat yang sudah di sediakan Aswin.

“Apa kau percaya reinkarnasi?” tanyaku sembari menerawang ke luar jendela.
Saat itu aku melihat kelebatan bayangan di luar. Mungkinkah ada seseorang di sana? Aku mendekati jendela dan memeriksa.

Tidak ada apa-apa. Mungkinkah aku agak paranoid? Karena kejadian kemarin? Karena Rawi? Ah, mungkin orang itu tidak ada di sekitar sini. Dia tidak akan masuk ke pekarangan orang kan?

“Apa kau percaya surga dan neraka?” Aswin mengembalikan pertanyaanku dengan pertanyaan pula. Kemudian ia terkekeh. “Kurasa kau tidak percaya semua itu, benarkan?”

“Hmm?”

“Kau sedang apa sih?” tuntutnya sembari ikut mendekatiku, mendekati jendela.

“Tidak ada,” sahutku sembari memandang Aswin kemudian memandang ke luar jendela lagi. Memang tidak ada apa-apa. Kurasa tadi aku salah lihat.

“Astaga! Kau aneh sekali sobat,” desisnya sembari mendekati tungku dan mulai menyalakan api.

“Wajahmu bahkan pucat.”

“Pucat?” tanyaku sembari mengerutkan dahi.

Aswin mengangguk. “Seperti baru saja melihat hantu.”


Chapter 4

Aku tidak percaya hantu dan menurut yang dipercayai orang-orang, hantu tidak keluar pada siang hari. Kurasa aku benar-benar salah lihat tadi. Katakan itu halusinasi.

Bayangan di kepala yang kemudian menakut-nakutiku sendiri padahal tidak ada apa pun di sana. Atau kemungkinan yang logis adalah tadi yang kulihat adalah bayangan burung besar.

Apa pun yang kulihat tadi sepertinya tidak terlalu penting karena aku sudah memeriksanya dan memang tidak ada apa-apa. Sebaiknya aku segera menguasai diri dan tidak mengatakan hal-hal aneh yang bisa membuat Aswin takut.

Kami melanjutkan kegiatan mengolah makanan. Aku berusaha menangkap setiap ocehan Aswin karena sebenarnya kepalaku masih dipenuhi bayangan tadi.


Bersambung....


Cerbung ini ada di majalah AN1MAGINE Volume 2 Nomor 12 Desember 2017 eMagazine Art and Science yang dapat di-download gratis di Play Store, share yaa


“Menerbitkan buku, komik, novel, buku teks atau 
buku ajar, riset atau penelitian di jurnal? An1mage jawabnya”

AN1MAGINE: Enlightening Open Mind Generations
AN1MAGE: Inspiring Creation Mind Enlightening 
website an1mage.net www.an1mage.org

Komentar

Page Views

counter free

Visitor

Flag Counter

Postingan populer dari blog ini

STANLEY MILLER: Eksperimen Awal Mula Kehidupan Organik di Bumi

Menerbitkan buku di An1mage

CALL FOR CHARACTERS - ICF3 - exhibit your original characters globally for free