CERPEN: TAMU DI DEKAT DANAU


TAMU DI DEKAT DANAU
Archana Universa


Akhir pekan ini aku dan ayah berencana pergi memancing ke danau.

Alasannya tidak lain dan tidak bukan karena ayah dan ibu bertengkar. Mereka melakukannya, berselisih, bahkan dimulai dari sebelum aku lahir. Herannya, mereka masih bersama hingga sekarang.

Apakah cinta atau malah pertengkaran yang menyatukan mereka, aku tidak tahu.

Yang jelas sejak aku lahir, ayah jadi lebih bahagia. Dia bisa mengajakku pergi ke danau, menemaninya menghabiskan malam di alam terbuka. Meski begitu alasan utamanya adalah untuk menghindari ibu.

Kami sudah selesai makan malam dan mendirikan tenda. Malam ini, seperti malam yang selalu kuhabiskan memancing dengan ayah, kami duduk di kursi lipat dan menunggu umpan dimakan ikan malang.

Tidak ada pembicaraan di antara kami. Meski begitu kami tidak diliputi kesunyian. Suara tonggeret dari hutan di sisi lain danau memecah keheningan malam.

“Kurasa cukup untuk malam ini,” ujar ayah sembari menggulung tali pancingnya. Malam ini ia hanya dapat tiga ekor ikan ukuran kecil yang dilepaskannya kembali.

Kami hanya mengumpulkan ikan besar. Memberi kesempatan ikan kecil untuk beranjak dewasa dan kami pancing kembali kalau ikan yang sama mengalami kesialan dua kali atau lebih.

“Menyerah?” ledekku sembari menggoyangkan wadah ikan hasil pancinganku. Hanya satu, tapi aku yakin beratnya sekitar tiga kilo.

“Malam ini kau menang, nak,” sahut ayahku sembari meletakan alat pancingnya kemudian menyambar botol termos yang kami bawa. Isinya teh hangat.

Ia menuangkan isi termos tersebut ke tutupnya kemudian menyesap minuman hangat itu perlahan.

Kurasa pikirannya sudah lumayan tenang, kepalanya tidak lagi dipenuhi pertengkarannya dengan ibu.
“Kau jangan tidur kemalaman, nak,” kata ayah sembari menutup termos.

“Tenang saja, aku tidak akan tidur larut malam. Aku akan tidur dini hari,” kekehku sembari menunjukkan jam di layar ponsel. “Sepuluh menit sebelum pergantian hari.”

Hampir tiap hari aku begadang. Biasanya di depan layar laptop. Mengerjakan tugas kadang-kadang, lebih sering menghabiskan waktu buat surfing di internet.

Tapi kalau menghabiskan waktu untuk memancing, mataku tidak sekuat saat menatap layar komputer. Mungkin tingkat kesenangannya berbeda.

Bukan berarti aku tidak suka memancing. Aku menyukainya, hanya kalau bisa memilih, aku lebih suka berada di depan komputer yang memiki sambungan internet dengan sinyal yang kuat.

http://www.4kphoto.net/4k/forest-mountains-lake-night-fog.jpg

Karena ayah dan ibu sangat sering bertengkar, aku jadi lebih sering memancing. Hampir setiap minggu. Bila teman-temanku menghabiskan akhir pekan di mall, aku akan pergi ke danau dengan ayah.

“Selamat malam, nak,” kata ayah sembari masuk ke tenda.

“Selamat malam, yah,” balasku sembari menatap langit.

Malam ini cerah. Beberapa akhir pekan terakhir cuacanya sering mendung, tidak jarang gerimis. Tapi malam ini berbeda. Mungkin karena itulah aku masih bertahan di tepi danau sembari memandangi pantulan bulan di air.

Aku menimbang-nimbang apakah akan menyusul ayah menyelinap ke dalam tenda. Karena terlalu sering berkemah, ketersediaan peralatan kami cukup membuat nyaman.

Ada tempat tidur pompa karena saat awal berkemah, aku sering mengeluh sakit karena harus tidur dengan beralaskan terpal saja. Artinya tidur dengan alas keras, sangat berbeda jauh dengan kasur di rumah.

Tendanya juga lebih bagus dari pada tenda awal. Lebih kedap angin. Kalau hujan sekalipun, airnya tidak merembes ke dalam.

Dari luar aku bisa melihat ayah membiarkan lampu tenaga surya menyala. Biasanya yang tidur belakangan yang mematikan lampunya.

Aku membayangkan tubuhku terbalut selimut. Hangat. Mungkin lebih baik aku segera menyusul ayah ke dalam tenda apalagi malam ini anginnya agak kencang.

Aku baru saja membereskan alat pancingku. Melepas ikan kecil yang baru saja terkena mata kail yang tajam kembali ke danau, juga membereskan umpan ikan ketika mendengar suara kecipak aneh dari danau.
Sedetik... dua detik....

Tidak ada apa pun yang muncul. Mungkinkah tadi hanyalah suara ikan yang sedang berakrobat? Kadang-kadang ikan melompat, keluar dari air, lalu berenang kembali.

Mungkin itu tadi yang kudengar.

Kursi lipat sudah kusandarkan ke tempat biasanya. Ikan yang kutangkap juga sudah diamankan. Dia tidak akan dibunuh sebelum aku dan ayah akan memakannya. Kemungkinan ajal ikan itu datang bersamaan dengan kedatangan matahari esok hari.

Baru saja jari-jariku menyentuh kepala resleting tenda ketika bunyi kecipak itu muncul kembali. Dedaunan bergemerisik terkena angin. Samar-samar aku melihat sinar menembus pepohonan.

Apakah ada orang lain di sekitar sini? Pikirku.

Bertahun-tahun aku memancing dengan ayah, kami selalu berdua. Tidak ada orang lain yang ke area sini. Alasannya karena tanah ini milik ayah, tidak sembarang orang dapat masuk. Tapi ternyata hal itu tidak berlaku hari ini.

Mungkinkah ada penyusup?

Aku berbalik. Lebih baik memastikannya atau aku tidak akan tidur dengan tenang.  Aku harus tahu apa yang terjadi di balik pepohonan. Aku akan mencari tahu.

Jadi aku membalikkan tubuhku. Menjauhi tenda dan mulai menyelinap ke antara pepohonan, mengikuti cahaya aneh yang masih berpendar lembut itu. Tidak menyilaukan.

Aku memastikan agar langkahku tidak terlalu berisik. Berusaha menghindari ranting kering yang mungkin akan membuatku ketahuan.

Hanya saja agak sulit karena tanah di bawah  kakiku tidak benar-benar kelihatan jelas.

Sedikit demi sedikit, aku menembus hutan, mendekati sumber cahaya asing yang menggugah rasa ingin tahuku.

Aku menghentikan langkah kakiku ketika melihat pergerakan di depan. Aku melihat mereka. Tiga makhluk setinggi satu meter dengan mata yang luar biasa besarnya, tidak wajar.

Salah satu dari mereka menatapku. Aku tertangkap basah.

Otakku memerintahkan untuk lari. Tapi kakiku diam di tempat, seolah gravitasinya lebih besar di sini. Tidak hanya kakiku, tapi seluruh tubuhku kaku.

“Halo, manusia!” katanya dalam bahasaku. Dia bahkan tidak membuka mulutnya ketika bicara.
“Siapa kalian?”tanyaku, tidak melalui mulut, tapi melalui pikiran.

“Kami makhluk Bumi, sama sepertimu. Lahir dan besar di sini. Hanya saja nenek moyang kami berasal dari planet yang jauh. Kami senang dapat bertemu denganmu,” jawab makhluk yang ada di tengah. Sepertinya dia adalah juru bicara dari kelompok kecil ini.

Sementara itu kedua makhluk di sisi kanan dan kirinya menatapku nyaris tanpa berkedip. Tatapan mata itu tidak mengandung rasa penasaraan yang berlebihan, juga tidak terkesan mengancam.

“Apa yang sedang kalian lakukan di sini?” tanyaku, lagi.

“Ada sedikit masalah dengan alat transportasi kami jadi kami berhenti sejenak untuk memeriksa dan membenahinya. Kuharap kau tidak keberatan kami berada di tanah milik ayahmu tanpa izin,” tutur makhluk itu, masih dengan gelombang pikiran.

Mereka bahkan tahu tanah ini milik ayah. Apalagi yang mereka ketahui? Apa mereka tahu namaku?

http://i.huffpost.com/gen/3185564/images/o-UFO-FOREST-facebook.jpg

“Tentu saja kami tahu namamu. Josh, aku Pinsk, sebelah kananku Ermo, satunya Magno,” kata si tengah.
Namaku sebenarnya Joshua, tapi mereka langsung memanggilku dengan nama panggilanku. Seolah-olah kami sudah mengenal satu sama lain.

“Bukan mengenal satu sama lain. Lebih tepatnya kami yang mengenalmu, Josh. Dan kau tidak perlu takut, sungguh. Kalau kami mau mencelakaimu, kami sudah melakukannya dari tadi. Terlepas dari jumlah kami yang lebih banyak, teknologi kami juga lebih advanced,” kata Pinsk membalas pikiranku.

“Benar. Aku setuju kalian tidak akan mencelakaiku,” balasku lega. “Lalu mengapa kalian tidak bersembunyi saat aku datang? Manusia tidak wajar dapat bertemu alien.”

“Memang tidak wajar. Tapi kami tahu kau tidak akan mencelakai kami, sebagaimana kami tidak mencelakaimu,” jawab Pinsk, tenang.

“Aku tidak mungkin mencelakai kalian....” timpalku ragu.

“Bukan secara fisik, tapi secara mental. Kau bisa saja menakuti-nakuti orang lain. Bahwa alien kejam, bla bla bla.”

“Jadi alien itu tidak kejam? Di film-film banyak yang menuduh alien ingin menginvansi Bumi.”

Pinsk terkekeh. “Invansi,” ulangnya. “Buat apa kami menginvansi?”

Aku mengangkat bahu. “Entahlah. Mengambil sumber daya Bumi? Menjadikan manusia budak?”

“Astaga! Itu hal tergila yang manusia pikirkan mengenai makhluk cerdas selain manusia!” seru Magno, yang nampaknya sudah tidak bisa menahan keinginan untuk ngobrol denganku.

“Kami punya alat pengubah materi. Emas atau berlian tidak berharga buat kami. Minyak? Kau pikir kami bepergian dengan minyak? Masih banyak sumber energi lain sementara manusia saling membunuh demi minyak. Tolonglah!” ujar Pinsk, prihatin.

“Kurasa pemikiran manusia masih dangkal,” gumamku.

“Oh, sangat!” gerutu Magno. “Kami sudah membagi pengetahuan mengenai sumber energi dari air, dari panas matahari, tapi kalian masih berebut minyak! Tolol sekali.”

Entah mengapa omelan Magno malah membuatku tertawa. Aku baru menyadari efek ikat tubuh yang mereka berikan padaku sudah hilang. Buktinya aku sudah bisa tertawa, bukan mematung seperti pada awalnya.
“Mengapa kalian membekukanku di awal?” tuntutku, tidak terima.

Pinsk mendesah. “Karena kami harus tahu lebih dulu orang macam apa kau ini. Sense Ermo biasanya jitu, tapi kami tetap berjaga-jaga....”

“Berjaga-jaga kalau aku melakukan hal gila pada kalian?” potongku, tidak senang.

“Berjaga-jaga agar kau tidak sampai mencelakai dirimu sendiri.” Ermo bersuara untuk pertama kalinya.
Aku berusaha menerima penjelasan mereka meski merasa agak jengkel karena sudah dibuat menjadi patung hidup untuk beberapa saat. Alasan mereka mungkin baik, tapi tetap saja dibuat tak berdaya itu sama sekali tidak menyenangkan.

“Kalian belum menjawab kemungkinan menjadikan manusia sebagai budak,” kataku melalui pikiran.

“Kaupikir apa gunanya penciptaan robot, Josh? Robot tidak diciptakan untuk pemuas nafsu seks belaka seperti yang terjadi pada zaman ini. Robot dapat digunakan untuk bertani, beternak, menjadi petugas kebersihan. Masih banyak lagi,” dengus Magno.

“Bagaimana kalau robotnya membangkang? Ada banyak tema soal robot jahat juga di film-film buatan manusia,” cicitku. Magno agaknya lebih temperamental dari pada kedua temannya yang lain.

“Mungkinkah ciptaan melawan sang pencipta? Apa pun bisa di non-aktifkan. Jika ada robot yang eror, tinggal di non-aktifkan. Sistem yang tidak sesuai bisa diperbaiki. Pencipta selalu pegang kendali,” jelas Pinsk.

“Itu hanya cerita, Josh. Manusia yang membuat robot pasti dapat mengendalikan ciptaannya dengan baik melalui program-program yang dibuat.”

“Harus kuberitahu, banyak cerita yang dibuat manusia sebenarnya menganut logika yang aneh,” lanjut Magno.

Aku sangat yakin kata aneh yang diucapkannya sebagai pengganti kata bodoh atau tolol.

“Jadi apa kalian masih perlu waktu lama untuk membenahi alat transportasinya?” tanyaku ragu.

“Oh! Ven baru saja menyelesaikannya!” celetuk Pinsk, riang. Seorang alien lagi muncul. Aku yakin dia yang bernama Ven.

“Senang bertemu denganmu, Josh! Tapi maaf, sungguh, waktu kami tidak banyak. Ada pertemuan sekitar sepuluh menit lagi. Kami harus bergegas,” sahut Ven, mengundang teman-temannya masuk ke alat transportasi berbentuk bulat itu.

“Tunggu! Kalian bilang tinggal di Bumi, di manakah tepatnya?” tanyaku, aku tidak boleh melewatkan pertanyaan penting ini, bukan?”

“Di bawah mu. Kami tinggal di dalam Bumi bersama alien-alien lainnya. Kuharap kita bisa bertemu lagi wahai makhluk permukaan Bumi!” seru Ven sembari memasuki alat transportasi alien-nya.

Mereka berempat menghilang sesaat setelah masuk ke dalam bulatan itu. Bulatannya juga menghilang begitu saja. Seolah-olah aku hanya berhalusinasi sejak tadi.

Tidak ada jejak kaki, tidak ada bekas alat angkut. Tidak ada sinar  yang berpendar lembut.

Suara tonggeret menemaniku berjalan kembali ke kemah. Aku tidak berjalan terlalu jauh ke dalam hutan, kalau terlalu masuk pasti aku bisa tersesat.

Kini lampu tenaga surya dari dalam tenda yang memberiku petunjuk, bagai mercusuar yang membantu kapal nelayan pulang.

Aku mengusap-usap jemariku. Seperti mimpi. Tapi aku belum tidur. Seperti tidak nyata. Tapi aku benar-benar mengalaminya.

Makhluk-makhluk yang tinggal dalam Bumi itu, mungkinkah aku dapat bertemu lagi dengan mereka di masa depan?

Aku memandangi pantulan bulan di permukaan air danau.

Dini hari ini aku menyadari bahwa pengetahuan manusia masih sangat minim. Misteri di Bumi saja belum sepenuhnya terpecahkan.

Apalagi misteri jagad raya yang maha luas?


Cerpen ini ada di majalah AN1MAGINE Volume 2 Nomor 10 Oktober 2017 eMagazine Art and Science yang dapat di-download gratis di Play Store, share yaa


“Menerbitkan buku, komik, novel, buku teks atau 
buku ajar, riset atau penelitian di jurnal? An1mage jawabnya”

AN1MAGINE: Enlightening Open Mind Generations
AN1MAGE: Inspiring Creation Mind Enlightening 
website an1mage.net www.an1mage.org

Komentar

Page Views

counter free

Visitor

Flag Counter

Postingan populer dari blog ini

STANLEY MILLER: Eksperimen Awal Mula Kehidupan Organik di Bumi

CERPEN: POHON KERAMAT

Menerbitkan buku di An1mage