Roro Jonggrang di An1magine Volume 2 Nomor 10 Oktober 2017


PRAMBANAN: Akhir Zaman
M.S. Gumelar



“Sembilan ratus sembilan puluh sembilan candi gusti prabu!” jawab prajurit metal yang ada di dekatnya.

“Baiklah kerjakan sisanya segera!” perintah Bandung.

“Perintah ditolak!” jawab para prajurit metal.

“Baiklah, hancurkan Bondowoso dan teman-temannya sekaraaaaaang!” teriak Bandung.

Para prajurit metal tersebut diam saja, ”Kenapa diam, LAKUKAN!” perintah Bandung.

“SIAL!” teriak Bandung. Lalu Bandung dengan segera menyerang Bondowoso.

BLETAAAAAKH!

Bondowoso yang tidak menduga Bandung akan bergerak secepat itu dengan telak terpukul pas di rahangnya.

Dan terpental jauh ke arah hutan dan menabrak pohon-pohon hingga pohon-pohon tersebut patah batangnya.

Bondowoso setelah terlempar menabrak pohon segera berdiri dan melompat menghindari pukulan Bandung yang berikutnya yang datang dari atas karena Bandung melompat tinggi ke arah Bondowoso. Pukulan yang meleset tadi mengenai tanah.

BHUUUUUUUUUUUUUUMBH!

Pukulan tersebut membuat tanah yang terkena melesak dan membuat lobang sekitar lima meteran diameternya. Pukulan yang sangat kuat.

Bondowoso melompat dan terbang menjauhkan diri dari area tersebut mencari area yang lapang, di udara “Ha kau pikir hanya kau yang bisa terbang, G-totKc, terbang!” lalu Bandung segera terbang ke arah Bondowoso.

 “Kulihat kau sudah mampu menguasai baju tempurmu,” puji Bondowoso saat Bandung sudah di dekatnya.

“Baju perang ini memang buatan raksasa, mereka sepertinya para dewa, hebat sekali, membuat manusia seperti aku menjadi dewa!” ucap Bandung.

“Tidak ada dewa, yang ada hanya manusia yang sangat cerdas yang mampu membuatnya!” jawab Bondowoso.

“Manusia tidak bisa membuatnya, raksasa yang membuatnya!” Bandung berargumen.

“Untuk saat ini iya, di akhir zaman mereka mampu membuatnya,” jelas Bondowoso.

ZAAAAAP!

Seberkas sinar keluar dari tangan Bandung, ternyata senjata sinar baju tempur tersebut sudah diketahui juga fungsinya. Dengan cepat Bondowoso menghindar.

Dengan segera Bandung menyusulnya menyerang Bondowoso dengan tangan kosong, kali ini gerakannya sangat cepat beberapa kali lipat dari sebelumnya.

BLETAK!
BLETAAAAAK!
BLUGH!

Bandung berhasil menyarangkan pukulan beberapa kali ke tubuh Bondowoso.
Pukulan terakhir dari Bandung mengenai punggung Bondowoso sehingga Bondowoso terjatuh ke bumi.

BLAAAAAR!

Hantaman Bondowoso jatuh membuat bumi melesak dan berlobang sekitar tujuh meteran.

Kemudian Roro Jonggrang segera berlari ke arah Bondowoso,”Kangmas!”

“SIAAAL!” ujar Bandung saat menyusul Bondowoso ke bawah dan melihat Garudeva, Bhorghat, Pikatan, Zhartan, dan Bulkhu sedang merusak candi-candi yang sudah berdiri.

Dengan segera Bandung ke arah mereka. Dan pukulannya sebentar lagi mengenai wajah Garudeva.

Garudeva terkejut dan mendadak wajahnya memucat. Tetapi di saat kritis tangan Bandung tersepak oleh seseorang dan membuat tubuhnya limbung dan jatuh tersungkur di tanah.

SRAAAAAKH!

Hal itu membuat Garudeva lega, ”Terima kasih skrieech!” ucapnya.

Bandung segera berdiri dan melihat siapa yang melakukannya.

Di sana melayang turun Bondowoso dengan tubuh yang gemerlapan seperti diselimuti oleh berlian.

“KAU!” teriak Bandung.

CLEKH

Bondowoso telah turun di tanah.

 “G-totKc, kekuatan penuh!” ucap Bandung.

“Kekuatan sekarang sudah penuh,” ucap baju tempur G-totKc.

Lalu dengan cepat Bandung menyerang Bondowoso, mereka berdua terlihat saling serang dengan cepat dan sepertinya tidak ada yang kalah atau menang. Kekuatan mereka seimbang.

Garudeva, ”Kenapa Bondowoso mengulur waktu?”

“Entahlah, sepertinya sengaja agar matahari benar-benar bersinar untuk memastikan Bandung kalah,” terka Bhorghat.

“Bisa juga,” tambah Zhartan.

BRUUUKH!

Bulkhu memukul satu candi. Bhorghat, Pikatan, Garudeva, dan Zhartan melihat Bulkhu. Bulkhu mengangkat pundaknya.

“Sepertinya kau benar Bulkhu, ayo kita hancurkan yang bisa kita hancurkan, tetapi candi buatan prajurit metal ini memang kuat, dari batu-batu yang terpilih,” ucap Zhartan lalu ikut memukul candi seperti Bulkhu.

Mendadak di kejauhan suara prajurit metal berlari ke arah mereka. Mereka sepertinya membawa seorang wanita.

Melihat hal tersebut mendadak Bandung menghentikan pertarungan dan dengan cepat turun ke bawah menyambut rombongan tersebut. Hal ini membuat Bondowoso bengong tidak mengerti.

CLEKH!

Bandung turun tepat di depan Loro Jonggrang yang dikawal oleh sebelas prajurit metal.

“Telah kami bawa Loro Jonggrang gusti prabu!” ucap salah satu prajurit metal yang mengawal Loro Jonggrang tersebut.

“Baiklah, katakan kepadaku, sudah berapa candi yang kau buat?!” tanya Loro Jonggrang dengan mata yang tajam, berwibawa dan elegan, kualitas seorang pemimpin sejati terlihat jelas. Hal ini membuat degup jantung Bandung semakin kencang.

“Seribu candi!”  ucap Bandung mantap.

“Bohong, dia baru menyelesaikan sembilan ratus sembilan puluh sembilan candi!” teriak Zhartan dari jauh.
“DIAAAAAM!” teriak Bandung sembari menembakkan senjatanya.

ZAAAAP!

Seberkas sinar keluar dari senjata milik Bondowoso yang diambil oleh Bandung dan mengenai tubuh Zhartan dengan cepat tubuh Zhartan langsung hancur menjadi partikel-partikel kecil.

Setelah itu, Bandung memutar tombolnya dari Disintegrate ke tulisan Stone.

Bondowoso tercekat, tidak sempat menyelamatkan Zhartan. Untuk mencegah agar tidak terulang lagi, segera Bondowoso mendekati teman-teman lainnya yang tersisa. Bhorghat, Bulkhu, Garudeva, dan Pikatan.

Bulkhu seperti terpaku di bekas tempat Zhartan hancur menjadi partikel. Kepalanya tertunduk sedih.

Tangannya mengepal. Lalu mendadak Bulkhu berlari ke arah Bandung. Bondowoso segera mencegah Bulkhu dengan menahan badannya yang besar tersebut.

Tubuh Bulkhu yang besar tadi berusaha berjalan tetapi ternyata tubuhnya tidak bergeming tertahan oleh Bondowoso.

“HRRRRRRRAAAAAGH!” Bulkhu melotot matanya ke arah Bondowoso.

“Jangan Bulkhu, kau bisa mati sia-sia, tahan dirimu!” bujuk Bondowoso.

“Bagus, jangan ganggu aku!” teriak Bandung memandang mereka semua.

“Ayam telah berkokok dan matahari telah terbit ternyata cuma sembilan ratus sembilan puluh sembilan candi yang telah jadi, kau kalah!” ucap Loro Jonggrang tegas.

“TIDAAAAAAK! AKU TIDAK KALAH! AKU DICURANGI!” bentak Bandung.
“Kau juga curang, kau menggunakan prajurit metal, aku memintamu untuk melakukannya sendiri!” Loro Jonggrang berkata dengan berwibawa.

“SIAAAAAAAL!” teriak Bandung.

ZAAAAPH!

Sinar maut mengenai Loro Jonggrang dan seketika Loro Jonggrang menjadi batu.

“Kaulah patung candi keseribu Loro Jonggrang!” teriak Bandung penuh dengan amarah.

“Loro!” teriak Roro Jongrang.

Semua terkejut, Bondowoso tidak menduga dengan apa yang dilakukan oleh Bandung. Dengan amarah yang membara Bondowoso segera menerjang Bandung dan melakukan pukulan telak membuat senjata yang dipegangnya terlepas.

Lalu dengan cepat Bondowoso mengambil senjata tersebut dan menghancurkannya dengan meremukannya menggunakan tangan.

Di saat itu mendadak Bulkhu berteriak dan suaranya mendadak lenyap. Disusul teriakan Roro Jonggrang.

Bondowoso menoleh ke arah tersebut, ternyata Bandung menggunakan kekuatan baju tempurnya untuk menembak Bulkhu dan Roro Jonggrang sehingga hancur menjadi debu.

Bhorghat dan Pikatan berlari sembunyi sedangkan Garudeva yang terbang ke atas ditembak oleh Bandung dengan senjata itu pula sehingga tubuhnya hancur menjadi debu yang berterbangan tertiup angin.

Semuanya serba cepat sehingga Bondowoso tidak dapat mencegahnya.

“HA HA HA HA HA!” Bandung tertawa dengan wajah puas dan bengis.

BLETAAAAAAAAAAGH!

Bandung terpental jauh hingga menabrak pepohonan dan gundukan batu besar dan gesekannya membuat bekas seperti parit dengan kedalaman tiga meter.

Bondowoso dengan kekuatan penuh dan tubuhnya gemerlapan terkena sinar matahari tampak marah besar.

Dengan segera ia menyerang Bandung lagi. Tapi kali ini Bandung telah siap, dan mereka terlibat dalam pertarungan seru. Namun, tidak ada yang kalah dan tidak ada yang menang.

Karena Bandung merasa bosan Bandung menghindar dari pertarungan dan segera turun ke bumi lalu berteriak,”Semua prajurit metal, hancurkan Bondowoso!”

 “Laksanakan!” jawab sembilan puluh prajurit metal bersamaan. Lalu mereka menyerang Bondowoso secara bersamaan. Bondowoso dikeroyok oleh sembilan puluh prajurit metal.

Tubuh Bondowoso tenggelam dalam keroyokan tersebut. Tetapi ada satu dan dua prajurit metal ada yang terpental keluar dari tempat tersebut karena hancur terkena pukulan Bondowoso.

BYAAAAAAAAAAAAAASH!
BLAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAR!

Sinar kuat muncul di sela-sela prajurit metal dan ledakan yang membuat lobang besar. Sementara para prajurit metal tubuhnya hancur berantakan ada yang meledak ada yang menjadi serpihan-serpihan kecil.

Bondowoso berdiri dengan serakan para prajurit metal yang telah hancur berantakan.

“Tahan emosi marahmu Bondowoso!” teriak Pikatan.

 “Kendalikan dirimu dan gunakan jurus yang kau pelajari dari Eyang Rupit!” teriak Bhorghat yang sembunyi di balik batu bersama Pikatan.

Bondowoso tercenung, kemudian melihat ke arah Bhorghat dan Pikatan.

“HA HA HA HA HA!” Bandung tertawa terkekeh-kekeh lalu lompat di dekat Pikatan dan Bhorghat.

ZAAAAAAAPH!

Bhorghat hancur menjadi debu terkena sinar yang keluar dari tangan Bandung. Pikatan langsung berlari menjauh.

“Terima kasih Bhorghat kau memberiku kesempatan menjadi seperti ini HA HA HA HA HA HA!” Bandung tertawa penuh kepuasan.

BLETAAAAAAAAAAGH!

Hantaman Bondowoso yang marah di saat Bandung lengah karena tertawa membuat Bandung terlempar jauh dan menerobos mengenai beberapa candi yang sudah jadi.

Dengan berang Bandung berdiri dan melihat candinya yang rusak sebagian, ”Kurang ajar, kau hancurkan hasil karyaku!” teriak Bandung lalu dengan beringas menyerang Bondowoso.

Kali ini Bondowoso menggunakan jurus yang diajarkan oleh Eyang Rupit. Pukulan Bandung dihadangnya, bukan untuk dipukul balik, namun dengan cepat memegang tangan kanan Bandung, dipegangnya lalu diarahkan aliran tenaganya dengan kuat dan melemparkannya ke sisi lain.

BRUAAAAAAAAAAAAAGH!

Bandung terlempar dan menabrak candi lainnya yang sudah jadi. Bandung segera berdiri dan kian marah.
Dengan cepat Bandung menyerang Bondowoso lagi, kepalan tangan kanannya penuh dengan kekuatan menyerang Bondowoso.

Bondowoso dengan cepat menghindar ke kanan lalu memegang tangan kanan Bandung dengan tangan kirinya, dan membalikkan lengannya ke belakang lalu Bondowoso memanfaatkan tenaga dan tubuh Bandung dengan menyorongnya ke tanah.

SRAAAAAAAAAAKH!

Bandung tersungkur dan mengenai tanah, tanah menjadi seperti parit sedalam tujuh meter dan di ujungnya Bandung tersungkur tak berdaya. Segera Bandung bangkit lagi, berdiri dan melakukan tendangan dengan cepat ke arah Bondowoso.

Kaki kanan Bandung segera dihadang oleh Bondowoso dengan tangannya, tetapi bukan untuk dipukul atau ditolak, namun dipegang oleh kedua tangannya lalu dibawa berputar-putar dengan cepat dan dilemparkan ke arah bukit.

BRAAAAAAAAAAAAAALGH!

Bandung menabrak bukit dan bukit tersebut mampat sehingga mirip  bentuk tubuh manusia sedalam 30 meter. Selang tidak begitu lama Bandung segera keluar lagi lewat atas dan menyerang Bondowoso lagi.

Dengan mudah Bondowoso mengalirkan dan memanfaatkan serta mengarahkan tenaga lawannya sehingga berbalik kepada dirinya sendiri. Begitu berkali-kali sampai Bandung kelelahan.

Setelah Bandung lelah, dengan cepat diangkatnya Bandung dan dengan segera tangan kanannya Bondowoso memukul wajah Bandung dengan telak secara berulang-ulang.

PRAKH!
PRAKH!
PRAKH!
PRAKH!
PRAKH!
PRAKH!
PRAKH!
PRAKH!
PRAKH!
PRAKH!

Lalu dilepaskannya Bandung yang jatuh terduduk di tanah. Dengan segera Bondowoso melucuti exo armor yang dikenakan Bandung.

Lalu menghancurkannya dengan remasan tangannya.

Bondowoso lalu bergerak ke arah Pikatan, ”Kenapa tidak kulakukan saja dari awal menggunakan teknik silat lembut ajaran Eyang Rupit…” ucapnya.

“Jangan bersedih Bondowoso, semua sudah terjadi,” ucap Pikatan menghibur.
Bondowoso terduduk sedih.

*

Terdengar suara kicauan burung di pagi hari seolah tidak peduli bahwa hari itu adalah hari penuh kesedihan.

“Maaf gusti permaisuri, bila seseorang telah menjadi batu. Maka tidak ada alat yang bisa untuk mengubahnya kembali, maafkan hamba,” jelas Bondowoso kepada Permaisuri Anjani.

Anjani menangis tersedu, suami dan kedua putrinya telah meninggal.

“Aku sangat bersedih, kerajaan Baka akan kuteruskan dan akan kumakmurkan rakyat, dan akan kucari adik suamiku yang mengembara, bila telah kutemukan akan aku berikan kerajaaan ini kepadanya,” ucap Permaisuri Anjani dengan berlinang air mata.

Bondowoso wajahnya tertunduk lesu dan sangat bersedih, ”Kini saatnya kita berpisah, hamba akan kembali ke masa hamba.”

Lalu Bondowoso masuk ke energi portal teleport yang berbentuk gumpalan seperti air yang telah berada di sana.

Bondowoso melambaikan tangan dengan tidak bersemangat kepada mereka semua.

PYAAAAAAAAAAASH!

Bondowoso menghilang.
“Dia Mukso,” gumam Pikatan.

*

Tiga bulan kemudian, dua orang berjalan di tengah kota Kerajaan Pengging dengan pakaian kumal dan tidak terurus, rambut gimbal tidak mandi selama berbulan-bulan.

Mereka tertawa-tawa sendiri, salah satunya menggerakkan tangannya seperti memegang sesuatu dan seakan ditembakkan ke orang-orang yang melintasinya.

“ZAP!” teriak orang tersebut mengarahkan tangannya ke orang yang lewat.

“Ah Bandung, kau mengagetiku, dasar gila” ujar pak tua yang seolah-olah ditembak oleh Bandung tadi.

Setelah itu diarahkannya senjata tersebut ke temannya yang juga gila.
“Ampun gusti prabu, hamba akan selalu setia membantu gusti!” teriak Wanara sembari sungkem menyembah orang gila satunya.

Orang gila satunya tertawa terbahak-bahak,”HA HA HA Tidak ada yang sesakti aku, aku raja duniaaaa ha ha ha!” teriaknya.

Pilihan 3
PYAAAAASH!


Bondowoso dan Roro Jonggrang kembali ke area di mana mereka ter-teleport sebelumnya.

Roro segera mencari kudanya, ”Ke mana kuda kita yang kita tambat di sini?”

“Loh bukankah kita ke sini sehari sebelumnya? Jadi kuda yang kita tambat baru besok adanya?” jelas Bondowoso.

“Uoh gitu ya? Apakah kita bisa melihat kita yang lainnya?” tanya Roro Jonggrang.

“Bisa,” jawab Bondowoso.

“Tidak akan terjadi apa-apa kalau kita menyentuh diri kita yang lainnya?” tanya Roro Jonggrang.

“Ya tidak akan terjadi apa-apa, aslinya kita yang sekarang berbeda dengan kita yang saat itu,” jawab Bondowoso.

“Kenapa berbeda? Bukankah aku ya tetap aku?” tanya Roro penasaran.

“Ya berbeda, baik dari segi sel tubuh dan memori akan berbeda, sebab dia belum mengalami apa yang kita alami, sebab yang kita alami adalah sekarang ini,” jelas  Bondowoso.

“Yang kita alami sekarang ini? Bukankah mereka, eh kita, yang lama juga yang dialaminya cuma sekarang ini,” tanya Roro.

“Benar sekali, bagi diri kita yang menjalani teleport lintas ruang dan waktu, yang ada hanya waktu yang bergerak linear yaitu bergerak maju, tapi bagi yang di luar kita, mereka melihatnya waktu tidak lagi linear,” jelas Bondowoso.

“Ah aku bingung,” Roro tidak paham.
“Tidak apa-apa bila tidak mengerti, tidak usah dipaksakan,” jelas Bondowoso.

“Baiklah, kini tujuan kita ke mana kangmasku wong cerdas?” tanya Roro.

“Ada baiknya kita ke tempat persembunyian teman-teman kita, bukankah kau ingin melihat dirimu yang lain?” ajak Bondowoso sembari memberikan pancingan hal yang ingin Roro ketahui.

“Oh iya, bakalan menarik, ayo!” Roro setuju.

“Bagus, dan kita harus cepat,” lalu Roro mendekatkan tubuhnya ke Bondowoso. Bondowoso memeluk pinggang Roro lalu melesat terbang ke atas menuju area markas sementara mereka. Roro sangat gembira dan memeluk Bondowoso dengan erat.

Lalu tidak berapa lama mereka telah sampai di area yang dimaksud. Bondowoso dengan perlahan turun dan meletakkan Roro ke tanah dengan hati-hati.

 “Nah kita bermarkas di sini, markas yang sama seperti saat kami menculikmu,” ucap Bandung kepada teman-temannya dan juga melihat ke arah Bhorghat.

“Itu kau di sana dan itu aku,” bisik Bondowoso kepada Roro.

“Eeeeew kau begitu jelek dan bau, kenapa aku mau ya?” bisik Roro tidak percaya dengan dirinya yang mau dengan Bondowoso yang buruk dan bau.

Bondowoso melotot ke arah Roro Jonggrang, ”Tapi aku sebenarnya kan cakep, eh kau jatuh cinta karena aku baik hati bukan he he he,” goda Bondowoso dengan berbisik.

“Ha ha ha ha ha iyaaa,” bisik Roro dengan tertawa lirih lalu memeluk Bondowoso.

“Baiklah, mungkin ini saatnya aku akan ke tempat penelitianku lagi,” kata Bhorghat.

“Begini saja, agar tidak menimbulkan kecurigaan, aku juga ingin melihat situasi istana, bagaimana kalau kau antar aku ke dalam istana, setelah itu kau boleh pergi,” kata Bandung lalu menghela napas.

“Apalagi aku belum percaya padamu seratus persen, siapa tahu kau memberitahukan rencana dan markas kami,” Bandung melanjutkan kata-katanya kepada Bhorghat sembari dengan penekanan seolah tidak percaya.

“Ide yang bagus, aku ikut,” ujar Bondowoso.

“Oh tidak… tidak, kau di sini, ini perintah, aku khawatir baumu akan tercium walaupun sedikit dan walaupun kau sudah luluran, lebih amannya Aku saja,” jawab Bandung.

“Ta… tapi…,” Bondowoso mencoba berargumen.

“Tidak ada tapi, ini perintah,” potong Bandung dengan tegas.

“Baiklah gusti,” jawab Bondowoso, walaupun masih merasa sangsi atas keselamatan Bandung.

“Aku bisa jaga diri, percayalah,” tambah Bandung sembari menatap ke arah Bondowoso dan juga teman-teman lainnya, Bandung melihat ke arah Bhorghat.

“Ayo kita berangkat,” ajak Bandung ke Bhorghat.

“Baiklah,” lalu Bhorghat beranjak ke luar dari markas sementara tersebut, diikuti oleh Bandung.

“Tunggu!” Bondowoso mendadak menahan kepergian Bandung dan Bhorghat.

“Kenapa?” tanya Bandung.

Bondowoso memberikan isyarat untuk diam, lalu perlahan mendekati area di mana Roro Jonggrang dan Bondowoso sembunyi.

Kemudian Bondowoso berbicara sendiri,”Scan smart life form range 500 meters from me now!”

“No smart life form detected,” hasilnya muncul di matanya.

“Hmm… baiklah, mungkin tikus atau sejenisnya,” ucap Bondowoso kepada dirinya sendiri.

“Ada apa?” tanya Bandung lagi.

“Entahlah, kurasa aku salah dengar,” ujar Bondowoso.

“Oh baiklah,” jawab Bandung.

“Ayo kita berangkat Bhorghat, hei apa rakyat umum tidak akan curiga dengan tinggimu, kulitmu dan bentuk wajahmu yang berbeda?” tanya Bandung kepada Bhorghat.

“Oh, tidak, mereka sepertinya sudah terbiasa, apalagi aku menggunakan blangkon yang dibuat sengaja menutupi telingaku yang lancip, dan wajah kami tidak jauh berbeda dengan kalian, cuma kulit kami lebih pucat, dan kami jarang memperlihatkan gigi taring kami,” jawab Bhorghat.

“Hmm… jadi dengan penampilan seperti ini kau mudah keluar masuk istana?” tanya Bandung lagi, mereka mulai berjalan.

Sementara itu, Bondowoso balik lagi masuk ke markas sementara.

“Sepertinya Smarth Cloack mode ini keren banget, diriku yang sebelumnya tidak bisa mendetek aku,”ujar Bondowoso.

“Ayo kita ikuti Bandung,” ajak Roro Jonggrang, segera saja Bondowoso mengikutinya.

Mereka mengikuti Bandung dan Bhorghat secara sembunyi-sembunyi bahkan saat mereka di istana dan Bandung keluar istana membawa bungkusan, lalu Bandung makan di kedai depan istana dan keluar berjalan ke suatu arah.

Kemudian di suatu tempat Bandung berhenti setelah agak jauh dari keramaian, dia mendekati pohon yang rindang dan besar.

Lalu duduk di area tersebut, mengambil salak yang dimasukkannya ke dalam bungkusan tadi.

Bandung mengambil satu buah salak, membuka kulitnya dan memakannya, setelah beberapa gigitan dan kunyahan.

Bandung tercenung melihat alat aneh yang ada di dalam bungkusan tersebut. Bandung meletakan salaknya, lalu segera mengambil alat aneh yang katanya milik Bondowoso tersebut.

Bandung melihat dengan detail dan teliti bentuk alat yang seperti ulekan tersebut. Alat aneh itu berwarna keperakan, bening seperti berlian di area ujungnya. Lalu ada beberapa tulisan yang Bandung tidak mengerti.

Ada tanda biru sedang menyala area tulisan “Freeze”. Lalu Bandung menggesernya putaran yang di dekat area lampu ke tulisan “Stun” warna biru tadi menyala pindah ke tulisan tersebut, Bandung tidak mengerti, tetapi dia tertarik dan keingintahuannya semakin besar.

Digesernya lagi ke tulisan lain “Heat”, lalu digeser lagi ke tulisan “Kill” lalu di geser lagi ke tulisan “Disintegrate” lalu digeser lagi ke tulisan “Stone” lalu diputarnya lagi balik ke freeze, diputarnya lagi ke stun.

Dia tidak tahu apa arti semua itu, lalu dia melihat adanya sesuatu tonjolan sedikit di area punggung dekat ulekan yang ujungnya lebih pendek.

Dia melihat-lihat dan mengepaskan ke jempolnya yang sepertinya tonjolan bulat tersebut pas dengan jempolnya.

Dipencetnya tombol tersebut, dan menghadapkannya ke area atas secara tidak sengaja dan mendadak jatuh seekor burung, kaku seperti tidak bergerak tapi dalam posisi terbang.

Dia melihat burung yang kaku tersebut. Diambilnya burung tersebut, didekatkan ke telinganya, “Tidak mati?” gumamnya.

Lalu melihat alat itu lagi, kali ini diarahkan ujung yang lebih panjang ke arah kucing yang kebetulan lewat di situ, lalu segera ditekan tombolnya. 

Seberkas cahaya biru keluar dari alat tersebut dan mengenai kucing itu. Kucing tersebut mendadak berhenti saat berjalan.
Bandung mendekatinya tidak percaya, lalu  disentuh-sentuhnya kucing tersebut,”Tidak bergerak,” lalu dipegangnya bagian leher kucing tersebut,”Tidak mati.”

Dengan cepat Bandung mengubah setting dari Stun ke atasnya lagi, kali ini ke tulisan Heat. Dan diarahkan ke pohon besar yang menjadi naungannya.

ZAAAP!

Sinar merah keluar dari alat tersebut, dan mengenai pohon tersebut. Pohon tersebut langsung terbakar dengan cepat.

WOOOOO!

Bandung terkesima, lalu tertawa.

HA HA HA HA HA!

Kini dia set ke tulisan Kill. Dan kali ini di arahkan ke batu besar tempat dia duduk tadi.
ZAAAAP!

Batu besar tadi terbelah dua dengan sempurna, seperti terkena pedang yang sangat tajam saat terkena sinar merah tadi.

HA HA HA HA HA HA!

Bandung seperti menemukan mainan baru, dengan semangat dia menggeser settingnya ke Disintegrate dan diarahkan ke burung yang sedang lewat.

ZAAAAP!

Burung tersebut mendadak hancur seperti molekul-molekul tubuhnya tercerai berai menjadi partikel kecil dan yang tersisa cuma asap dan abu yang terbang terbawa angin.

WUHUUUUUUUUUUU!

Teriak Bandung kegirangan. Lalu mengubah settingnya alat tersebut ke Stone dan ditembakkan ke kupu-kupu yang lewat. Mendadak kupu-kupu tersebut jatuh dan pecah, seperti telah menjadi batu yang tipis dan berantakan terjatuh.

Lalu Bandung mengambil serpihan kupu-kupu tersebut dan mendadak berteriak, “YAAAAAAAAA AKU RAJA DUNIA HA HA HA HA HA HA!.”

Lalu dia menyembunyikan alat tersebut, mengambil salaknya dan memakannya dengan lahap.

Mendadak Bandung tersungkur tak sadarkan diri terpukul oleh sesuatu di tengkuknya.

Bondowoso muncul dari smart cloack mode-nya bersama Roro lalu mengambil alat ulekan tersebut.

“Alat ini bisa berbahaya bila digunakan oleh orang yang belum siap menerima kekuatan yang begitu besar, dan kulihat Bandung belum siap,” ucap Bondowoso, lalu mereka menghilang lagi.

*

Tak berapa lama kemudian Bandung bangun lagi dan meraba tengkuknya yang memar dan mencari-cari bungkusan tadi.

“Sial, tidak ada. Siapa kau orang yang membokongku? Keluar kau pengecut!” teriak Bandung sembari matanya bergerak ke sana-ke mari lalu dengan cepat dirinya memutarkan tubuhnya.

Suasana hening, hanya bunyi serangga saja yang terdengar.

Setelah yakin tidak ada orang lain selain dirinya. Bandung kembali lagi ke arah istana Baka. Dia sepertinya menunggu seseorang. Setelah sekian lama dia bergegas mengejar orang yang dimaksud.

“Bhorghat!” teriak Bandung.

Orang yang dipanggil menoleh, ”Oh hai Bandung!”

“Kesialan terjadi, barang yang kau titipkan untuk Bondowoso telah dicuri seseorang!” dengan paniknya Bandung berkata.

“Dicuri seseorang? Aaaaaah! Itu adalah alat yang berbahaya! Kenapa sampai tercuri, alat itu sangat berguna untuk membantu perjuangan kalian, ada baiknya kau ikut aku!” ujar Bhorghat.

Lalu Bhorghat mengajak Bandung mengikutinya untuk masuk istana dan masuk lebih dalam lagi di area tertentu sehingga mereka sampai di area ruang penelitian yang dilakukan oleh para raksasa.

 Di suatu ruangan mereka bertemu Zhartan, ”Hei apa yang kau lakukan Bhorghat? Membawa manusia ke sini, apa yang kau pikirkan?”

“Eh dia adalah Bandung, dia akan membantu Roro Jonggrang untuk menggagalkan upaya Vharok untuk membunuh Gupala,” ucap Bhorghat.

“Dan sialnya, senjata milik Bondowoso yang aku titipkan kepadanya hilang, jadi aku akan bantu dia dengan beberapa kemungkinan lainnya,” ucap Bhorghat.

“Ah begitu ya, bantu sebisa dia ya, tapi ingat pastikan tidak membahayakan kita semua, aku akan menge-check pesawat kita dulu di luar, ayo Bulkhu!” ucap Zhartan diikuti oleh Bulkhu yang tinggi besar.

“Baiklah, ayo ikut aku,” Bhorghat berjalan ke ruangan lainnya dan Bandung mengikutinya.

“Ini adalah prajurit metal, prajurit ini kekuatannya sepuluh kali lipat dari kekuatan raksasa, akan banyak membantu melawan anak buah Vharok yang juga kebanyakan raksasa,” jelas Bhorghat.

“Banyak anak buah Vharok yang sudah melanggar batas, terlalu banyak membunuh manusia…”

“… oleh karena itulah mereka dikembalikan ke planet asalnya dan ingatannya dihapus tentang hal tersebut, sehingga mereka menjadi normal lagi,” ujar Bhorghat.

“Oh bisa ya hal tersebut dilakukan?

Walaupun aku tidak tahu apa yang kau maksud,” ucap Bandung.

“Ha ha ha ya sudah, tidak usah dipikirkan,” Bhorghat menimpali.


bersambung....


Cerbung ini ada di majalah AN1MAGINE Volume 2 Nomor 10 Oktober 2017 eMagazine Art and Science yang dapat di-download gratis di Play Store, share yaa


“Menerbitkan buku, komik, novel, buku teks atau 
buku ajar, riset atau penelitian di jurnal? An1mage jawabnya”

AN1MAGINE: Enlightening Open Mind Generations
AN1MAGE: Inspiring Creation Mind Enlightening 
website an1mage.net www.an1mage.org

Komentar

Page Views

counter free

Visitor

Flag Counter

Postingan populer dari blog ini

STANLEY MILLER: Eksperimen Awal Mula Kehidupan Organik di Bumi

CERPEN: POHON KERAMAT

Menerbitkan buku di An1mage