TOMY FAISAL ALIM: Seni Sebagai Gairah Hidup



Lahir di Jakarta September 1965, awal karir berkesenian sejak tahun 1983 dimulai dari pemain teater sekolah di SMA 33 Jakarta, hingga  lanjut bergabung bersama Teater Kail dan Teater Luka. 


Di antaranya naskah yang dimainkan: Tragedi Brutus, Hukuman Mati Untuk Danton, Perjalanan Kehilangan, Mega-Mega, Pesta Pencuri dan naskah lainnya yang syarat dengan nilai sosial.

Teater merupakan awal dari berorganisasi yang menjadi inspirasi besar dalam  memahami hidup dan cinta akan kebijaksanaan, walau sejak bangku SD sudah suka corat-coret tokoh pahlawan nasional di secarik kertas dan di pajang pada dinding kamar.

Hidup adalah segala kisah yang harus dibagi atas segala konflik dan kebaikannya.  Oleh karena itu bagaimana dapat terus memelihara gairah dalam membangun kasih.

Kala waktu ada saatnya kontemplasi melalui garis dan warna sisi lain  butuh kekuatan bersama. Maka dalam kebutuhan tertentu saya mencoba untuk  bergabung dengan beberapa komunitas agar dapat berekspresi secara bersama.

Di antaranya bergabung di sanggar seni rupa Bulungan dan Balai Budaya Jakarta.
Tahun 1988 hijrah ke Yogya untuk meneruskan kuliah seni dan masuk Akademi Seni Drama & Movie Indonesia (Asdrafi), Yogyakarta lalu tahun 1990 melanjutkan S-1 di Fakultas Seni Rupa Indonesia Instituit Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta.


Hari hari di  Yogya selain membuat  pagelaran seni, workshop dan selingan menulis sekaligus menyisipkan reportase dan foto jurnalis di pojok halaman koran Yogya Post.

Selain melukis dan berteater aktif terlibat di lembaga swadaya masyarakat bersama Lembaga Penelitian Pendidikan dan Pengembangan Penyandang Cacat (LP4C) Dria Manunggal yang kemudian menancapkan motto: Equal Rights Now.

Melalui sanggar Dria Manunggal berkesempatan mengikuti workshop seni untuk penyandang cacat bersama Tanpopo No Ye di Nara dan Osaka, Jepang.

Tahun 1997 kembali ke Jakarta dengan tekad menjadi seniman dengan sedikit menambah kocek dengan mengajar seni lukis di sanggar Bobo dan nyambi jadi wartawan budaya di majalah Harmonis hingga lanjut pada majalah Visual Art.

Pameran demi pameran terus dilakukan, di antaranya bersama Jakarta Art Movement membidani pameran seni visual “The Second God” suatu pameran kolaborasi bersama pekerja seni dari beragam disiplin ilmu.

Suatu ketika saat masih di majalah Visual Art, Tomy yang memiliki kecintaan pada dunia pendidikan bertemu seorang yang kerap dipanggil Mister Gum yang kemudian mengajaknya untuk lebih profesional dalam dunia pendidikan.

Usai pascasarjana di IKJ memiliki profesi mengajar dan tetap dalam kiprah sebagai visual artists hingga kini mendirikan Jakarta Art Forum.

Suatu organisasi seni yang diharapkan memberi warna dan apresiasi pada ragam kesenian dengan segala kolaborasi atau eksperimentasinya. Khususnya  seputar seni visual dengan konsentrasi pada nilai tradisi dalam format modern.

Oleh karena itu Tomy  lebih suka menyebut dirinya sebagai visual artists, karena ia beranggapan melakukan kerja seni rupa-rupa. Dari seni lukis, sculpting, graphic design, fotografi, make up fx, teater dan apa pun itu  yang disuka dan bisa. Tentunya harus keren dan inspiratif. Sayangnya hanya music yang payah…Haaa..ha.. tawanya lepas.

Seni sebagai Gairah Hidup
Seni senantiasa memberikan gairah untuk selalu berfantasi pada hal yang tidak mungkin untuk dijadikan suatu inspirasi dalam melakukan atau membuat apa pun.

Seni adalah ibu dari segala ilmu pengetahuan. Karya seni dapat dengan bebas berekspresi lewat imajinasi hingga kelak ilmu pengetahuan yang menjawab dari visual atau teka-teki fantasinya.

Motto
Hidup adalah anugerah kehidupan yang patut dijalani dan dibagi kebaikannya bersama. Oleh karena itu hidup harus diciptakan dengan keindahan rasa; asih, asah dan asuh.

Pesan
Lakukanlah segala sesuatu dengan cara indah dan terbaik, karena kebaikan dan keindahan milik semua mahluk yang harus selalu dipelihara dan dibagi kebaikannya.  Karena kehidupan adalah jiwa dan raga yang  dapat saling mewarnai dengan segala manfaatnya.

Never give up!





Artikel ini ada di An1magine majalah eMagazine Art and Science Volume 1 Nomor 10 Desember 2016
yang dapat di-download gratis di Play Store, share yaa

Komentar

Page Views

counter free

Visitor

Flag Counter

Postingan populer dari blog ini

STANLEY MILLER: Eksperimen Awal Mula Kehidupan Organik di Bumi

CERPEN: POHON KERAMAT

Menerbitkan buku di An1mage