TENUN IKAT: Kain Khas Suku Dayak Desa


Berikut laporan Hetty Kus Endang tentang Tenun Ikat Suku Dayak Desa di Sintang.

Kabupaten Sintang yang letaknya berjarak kurang lebih 8 jam perjalanan darat dan cuma tiga puluhan menit via udara dari Kota Pontianak adalah daerah yang kaya akan seni dan budaya.

Salah satu kerajinan unggulan daerah ini adalah Tenun Ikat Dayak yang diproduksi oleh perempuan-perempuan Dayak Sub Suku Dayak Desa. Suatu keterampilan yang diajarkan secara turun temurun kepada setiap Anak Perempuan Suku Dayak Desa. Kegiatan menenun biasanya dilakukan Para Perempuan Dayak setelah melakukan aktivitas menoreh karet, berladang dan membereskan pekerjaan rumah tangga.

Dalam budaya menenun di Suku Dayak Desa hanya dilakukan oleh kaum perempuan, peran kaum pria hanya menyiapkan peralatan untuk menenun saja. Untuk mendapatkan  motif, benang yang sudah disusun sedemikian rupa diikat sesuai dengan motif yang dibutuhkan, kemudian dicelupkan ke wadah yang sudah mengandung zat pewarnaan. Warna khas merah, putih, hitam, terkadang kuning.

Bahan-bahannya dari Akar Kayu Mengkudu, Daun Emarik, lemak berbagai binatang dan banyak lagi bahan alam. Proses untuk menghasilkan motif dengan cara diikat inilah yang membedakan dengan tenun daerah lain. Satu hal yang belum banyak orang tahu, bahwa kain tenun sendiri di dalam Bahasa Dayak Desa disebut Kain Pantang. Kegiatan menenun disebut mantang. Barangkali untuk memudahkan orang di luar Suku Desa untuk mengenali kain mereka maka disebut saja kain tenun agar lebih familiar. Kain tenun digunakan untuk keperluan sehari-hari seperti untuk menggendong bayi, selimut, dan sebagai rok kaum perempuan.

Proses menenun dalam Budaya Dayak Desa tidak boleh dilakukan sembarangan, mereka yang menenun harus melalui rangkaian syarat dan upacara adat. Terkhusus jika hendak menenun beberapa motif “keramat” seperti motif manusia, buaya, dan ular penenun wajib melakukan ritual. Motif keramat ini hanya boleh ditenun oleh ibu-ibu yang sudah janda atau ditinggal mati oleh suaminya.  Untuk  penenun pemula, setelah selesai menenun satu buah kain, ia harus memberikan sesaji kepada roh nenek moyang sebagai tanda penghormatan dan permohonan agar mereka tidak mengganggu manusia yang masih hidup.

Tidak kurang dari 76 jenis motif yang dikenal di Suku Dayak Desa, di antaranya Emperusung (ikan yang mulutnya besar), ular, Merinjan (raja tumbuhan), perahu,  Encerubung (pucuk rebung), Ruit (kait pada mata tombak). Motif tersebut biasanya tidak lepas dari pengalaman hidup dan Filosofi Masyarakat Dayak pada umumnya. Seorang ibu di Desa Umin bernama Veronica Kanjan dari Desa Umin adalah satu-satunya orang yang berani menenun motif sakral seperti buaya, hantu, rabing (raja ular) dan manusia.

Ia meninggal pada tahun 2013. Dari segi kesulitan pembuatan motif mistis ini sesungguhnya sama dengan motif-motif lain namun karena mistisnya ini, tidak sembarang orang boleh menenunnya karena dapat berakibat kemalangan bahkan kematian.(HKE)



Artikel ini ada di An1magine majalah eMagazine Art and Science Volume 1 Nomor 5 Juli 2016
yang dapat di-download gratis di Play Store, share yaa



Komentar

Page Views

counter free

Visitor

Flag Counter

Postingan populer dari blog ini

STANLEY MILLER: Eksperimen Awal Mula Kehidupan Organik di Bumi

CERPEN: POHON KERAMAT

Menerbitkan buku di An1mage