CERMIN: SANGUINOX


Aku sekarat.

Setidaknya aku masih dapat berpikir, itu artinya aku belum mati.

Aku memandangi jari-jari tanganku yang panjang dan kurus. Pucat. Tidak tahu sampai berapa lama lagi maut akan menjemputku.

Kusandarkan kepalaku ke dinding. Merasakan suhunya yang lebih rendah, merasakan sedikit kenyamanan.
Mungkin aku sudah di sini selama dua hari, mungkin juga tiga hari. Aku tidak benar-benar yakin.

Yang kupikirkan hanya rasa tidak berdaya ini. Aku lemah, sekarat, nyaris mati.

Mati lebih baik daripada jadi makhluk tidak beradab. Setidaknya aku masih menyetujui gagasan itu hingga sekarang.

Maka dari itu, dari pada berkeliaran seperti pencuri di antara bayang-bayang lampu kota, aku lebih memilih mengurung diri di tempat gelap dan kotor ini.

Kemudian aku akan mengakhiri semuanya dengan mulus. Seperti jatuh ke dalam tidur yang tak berujung. Aku tidak pernah takut akan kematian.

Yang kutakutkan adalah prosesnya. Aku takut kalau prosesnya menyakitkan. Jadi aku menginginkan kematian yang cepat.

Bukan, bukan ditikam dengan pisau karena aku memiliki kemampuan menyembuhkan diri dengan cepat.
Saat berumur tujuh, temanku tidak sengaja menyabet pergelangan tanganku dengan benda tajam sewaktu pelajaran kerajinan tangan.

Aku berdarah, tentu saja. Tapi tidak butuh lama untuk membuat darahnya berhenti dan lukanya menutup. Tidak benar-benar sembuh, masih ada bekasnya selama beberapa hari.

Kedua, aku tidak mau mati tenggelam. Aku tidak bisa berenang.

Bagiku berenang merupakan aktivitas yang mengerikan karena mendadak sekitarmu menjadi hening. Kemudian jarak pandangmu juga jadi terbatas.

Yang paling tidak menyenangkan adalah kau harus menahan napas ketika di dalam air. Sementara menahan napas merupakan hal yang tidak kukuasai.

“Kutebak kau sedang berpikir bagaimana kau akan mati,” ejekan itu milik seseorang yang kukenal.
Mettzier sudah bersamaku, bersembunyi dalam gelap.

Aku sama sekali tidak menyadari kehadirannya. Rasanya menjengkelkan tiap kali dia bisa menebakku dengan mudah. Seolah apa yang kupikirkan terpampang jelas di dahiku.

Kemudian aku menyadarinya, ada yang berubah dari diri Mettzier .

“Kau!” hardikku, tapi tidak mampu melanjutkan kata-kata.

“Ya,” katanya muram. Aku tahu ia tidak menatapku lagi.

Beberapa hari yang lalu keadaan Mettzier sama sepertiku. Kami berdua sekarat, menunggu ajal.
Tapi hari ini ia berbeda. Mettzier sudah tidak terlihat seperti pesakitan. Ia sudah sehat, bugar, normal. Keadaannya seratus persen berbalik dari keadaanku.

Aku berusaha berdiri, agak sempoyongan.

“Bagaimana bisa? Bagaimana?”

Biar aku melontarkan pertanyaan itu, aku tahu dengan jelas bagaimana Mettzier  melakukannya. Aku tahu dia melakukannya.

“Aku belum mau mati, Tecnyca! Begitu pula denganmu! Seharusnya kau makan, maka kau tidak akan mati!” ujar Mettzier dalam geraman.

“Kalau aku makan, akan ada yang mati!” bentakku, aku tidak tahu darimana aku mendapatkan kekuatan untuk marah.

“Hidup dan mati adalah hal yang wajar. Kau hanya perlu mencari korban yang dilupakan.” Mettzier menghentikan ucapannya sebentar sebelum menambahkan, “Aku akan membantumu.”

Aku merasa jijjik mendengar tawarannya. Mettzier menawarkan diri untuk membantuku membunuh seseorang!

“Tidak, terima kasih!” tolakku sembari mengulurkan tangan ke tembok supaya tidak jatuh.
Mettzier memberikan pandangan prihatin padaku.

“Tecnyca....”

Aku memberikan isyarat padanya untuk berhenti.

“Aku tidak ingin membunuh,” ujarku, pelan.

“Aku bisa membunuh untukmu. Kau harus tetap hidup!”

“Tidak. Tidak. Aku akan tetap menunggu sampai distribusi berjalan kembali.”

Ya. Seharusnya tidak memakan banyak waktu. Bagaimanapun sebagian dari keadaan ini adalah kesalahanku.

Alat penyedia makanan kami sudah lama rusak. Kami terbiasa memesan makanan yang dikirimkan dari tempat tinggal kami. Alasannya karena alat penyedia hanya menyediakan rasa original, sementara para produsen memiliki beberapa varian rasa.

Salah besar kalau kau mengira aku dan Mettzier terlahir dari planet lain. Kami seratus persen penduduk bumi hanya saja frekuensinya berbeda dari frekuensi bumi di mana manusia tinggal.

Kadang manusia melihat kami di frekuensi lain dan mengira kami iblis, setan, mahkluk halus.

Kami Bangsa Sanguinox. Secara fisik Sanguinox mirip manusia hanya saja mata kami merah seperti mata kelinci, tapi kami tidak makan wortel.

Makanan bangsa Sanguinox adalah darah. Zaman dulu kami menghisap darah manusia, hingga muncul legenda drakula juga vampir.

Tapi itu sudah sangat lama. Terakhir nenek moyang Sanguinox minum darah manusia adalah pada Zaman Socrates.

Kemudian rasa iba dan kemajuan teknologi membuat Sanguinox mampu menciptakan imitasi darah manusia dari campuran atom. Rasanya cukup mirip dan mengandung zat-zat yang Sanguinox butuhkan untuk tetap hidup.

Jika manusia melihatnya, mereka tak akan percaya ada alat yang mampu mengubah udara kosong menjadi darah.

Tapi, seperti yang kukatakan, alat kami rusak. Sudah satu dasawarsa lamanya kami mengandalkan pengiriman asupan darah dari penjual.

Jujur saja karena kami hidup ratusan tahun dan makan tiap beberapa hari sekali, jadi waktu sedasawarsa terasa baru sebentar.

Sayang, kerusuhan yang melanda Sanguinox membuat distribusi terhenti. Kami berdua juga sudah tidak memiliki kenalan yang mau membagikan persediaan darah mereka di masa tegang ini karena kami sudah terlalu lama menetap di bumi dan jarang balik.

“Kau akan keburu mati. Itu bukan pilihan yang bijak. Kita masih bisa hidup beberapa ratus tahun lagi! Aku tidak akan membiarkanmu sekarat dan mati. Tidak sekarang!” kata Mettzier.

Aku ingin menahannya pergi, tapi dia sudah lebih dulu menghilang. Sama seperti kedatangannya, nyaris tanpa suara.

Tidak. Aku tidak akan membiarkan Mettzier membunuh untukku.

Aku memang sekarat, tapi aku lebih kuat dari pada manusia. Jadi dengan sisa-sisa kekuatanku, aku mengejarnya. Aku harus menghentikan Mettzier.

Bau tubuhnya masih kuat, aku bisa mengikutinya meski tidak bisa mengejarnya.

Angin malam memenuhi paru-paruku. Bau darah di balik kulit manusia yang tipis.

Aku mengikuti jejak Mettzier, melewati sepetak rumah makan vegetarian.

Ngomong-ngomong kalau kau pernah mendengar soal makhluk peminum darah yang menjadi vegetarian, yang meminum darah hewan alih-alih manusia, aku berani bilang itu tidak berlaku untuk Sanguinox.

Katakan Sanguinox hanya dapat makan buncis, mereka akan keracunan lalu mati jika makan wortel meski keduanya adalah sayuran.

Jadi meminum darah binatang akan membuat Sanguinox mati, sama seperti manusia yang meminum cairan pembersih lantai.

Minum darah dari donor juga bukan jawaban karena rasanya seperti makanan basi. Kami malah akan sakit.
Aku kembali mencari Jejak Mettzier. Di tikungan depan dia berbelok ke kanan kemudian masuk ke gang kecil. Mau apa dia masuk ke sana?

Gang sempit ini penuh dengan aroma sampah. Aku tidak tahu apa yang dicari Mettzier di tempat kumuh seperti ini.

Kemudian aku mendengarnya, isakan pelan yang teredam. Manusia tidak akan bisa mendengar suara sepelan itu. Jelas bukan Mettzier karena itu suara wanita.

Mettzier mendadak sudah berada di sebelahku, seolah dia sudah dari tadi di sana.

Ia menatapku, bibirnya menyunggingkan senyuman. Seolah-olah dia berkata: aku tahu kau akan mengikutiku, Tecnyca!

Jelas dia berhasil menebakku dengan tepat, lagi.

Aku mengerutkan dahi. Kemudian mengikuti Arah Pandangan Mettzier.

Calon korban mengenakan pakaian serba panjang dan longgar juga penutup rambut. Namun siapa sangka dia masih jadi target pemerkosaan.

Mungkin karena dia cantik, mungkin karena dia berjalan sendirian. Bajunya yang sangat sopan itu tidak menyelamatkan tubuhnya, begitu pula mulutnya yang memanjatkan doa tidak membuatnya bisa kabur.

Tapi aku tahu, penyebab sebenarnya adalah si pemerkosa yang tidak bisa menyalurkan nafsunya dengan baik. Mungkin dia tidak memiliki pasangan, tapi yang pasti dia tidak bermoral.

Tanpa aba-aba aku dan Mettzier segera ikut campur. Menyerang si pemerkosa. Wanita berpakaian tertutup itu segera merapatkan diri ke dinding gang yang kumuh, bajunya bahkan menyentuh tong sampah yang kotor.

Aku tidak mempedulikan si wanita, semestinya ia berterima kasih karena sudah membebaskannya bukan?

Sebenarnya Mettzier tidak perlu membantuku, aku bisa mengatasi pria cabul ini sendirian, tapi dia sudah berjanji membantu.

Ia memberiku sebatang pipa besi pipih sebelum menahan badan pria itu dengan satu tangan, sementara tangan lainnya membekap mulut si pemerkosa.

Saat itu aku masih berpikir, daripada makhluk bermoral sepertiku mati, bukankah lebih baik makhluk kotor seperti si pemerkosa ini yang mati?

Aku juga menyelamatkan si korban. Wanita itu tidak jadi diperkosa juga tidak jadi dilukai atau dibunuh setelah dipaksa menjadi pemuas nafsu.

Wanita itu selamat, aku selamat, si penjahat mati. Bukankah itu lebih baik?

Tanpa menunggu, aku segera menusukkan pipa itu ke jantung si pemerkosa dan meminum darahnya.

Wanita yang telah kami selamatkan terlihat membuka mulut, seolah ia ingin berteriak, tapi tidak ada suara yang keluar. Hanya dari gerak mulutnya saja aku bisa mendengar dia sedang berkata “iblis!”.

Kami beradu pandang sekilas. Cukup cepat tapi aku yakin dia sadar kalau mataku berwarna merah.
Kemudian ia pergi terburu-buru dari gang kumuh tersebut, menjatuhkan beberapa tong sampah.

Tidak perlu mengisap seluruh darah manusia cabul ini untuk dapat kenyang. Aku cukup minum beberapa kali sedot saja. Jadi tidak akan ada mayat tanpa setetes darah pun seperti di novel-novel murahan.

Ketika aku selesai Mettzier masih memandangi tikungan gang tempat wanita tadi menghilang.

“Itu mengingatkanku kalau manusia memang tidak pandai berterima kasih,” desahnya.

“Ayo segera pergi dari sini,” ujarku yang mendengar sirine polisi dari kejauhan.

Perjalanan pulang berlangsung lebih cepat karena aku sudah tidak lagi sekarat. Aku dan Mettzier akan bugar untuk beberapa waktu ke depan. Aku tidak akan mati.

Kami tidak berkata apa-apa hingga sampai ke bangunan tua, kosong, yang kami jadikan sebagai tempat persembunyian.

“Jadi kau menyesal?” tanya Mettzier sembari membersihkan beberapa sarang laba-laba yang dilaluinya.

“Pembunuhan tetaplah pembunuhan meskipun dia seorang pemerkosa. Apa aku menyesal? Aku memejamkan mata, menyembunyikan mataku yang berwarna merah. “Ya. Aku menyesal, tapi aku bahagia bisa tetap hidup. Ironis bukan? Kuharap keadaan di dunia kita segera berangsur membaik. Kuharap itu pembunuhanku yang pertama dan terakhir.”

Kemudian aku melihat kertas-kertas itu. Pasti pos dari dunia Sanguinox datang saat kami pergi tadi.

Sangoinox sengaja tidak menggunakan internet untuk berhubungan antar dimensi karena ada beberapa kali terjadi kesalahan informasi dunia kami tercampur dengan berita manusia di internet.

Seperti koran ini datang dengan cara diteleportkan ke bumi milik manusia.

Koran dari dunia asalku. Berita utamanya menyatakan bahwa kerusuhan sudah berakhir. Kemudian aku mendapati selebaran yang diselipkan dari koran sore tersebut.

Perusahaan makanan sudah mulai menerima pesanan lagi malam ini dan makanan akan segera diteleportkan antar dimensi begitu pesanan diterima.



Cerpen ini ada di An1magine majalah eMagazine Art and Science Volume 1 Nomor 7 September 2016
yang dapat di-download gratis di Play Store, share yaa


Komentar

Page Views

counter free

Visitor

Flag Counter

Postingan populer dari blog ini

STANLEY MILLER: Eksperimen Awal Mula Kehidupan Organik di Bumi

CERPEN: POHON KERAMAT

Menerbitkan buku di An1mage