Roro Jonggrang


RAJA BAKA
M.S. Gumelar 


“Hmm…,” Bandung mendengarkan dengan saksama.

“Lapisan ketiga, di dalam area kerajaan tadi ada empat pos yang terdiri dari seratus orang prajurit, tetapi dengan kemampuan lebih hebat dari dua pos sebelumnya,” jelas Pikatan.

“Di lapisan keempat ada dua pos yang besar yang terdiri dari dua ratus orang prajurit dengan kemampuan dua kali lipat pos sebelumnya, kali ini prajurit di bagian ini paling andal dalam bela diri jarak dekat,” lanjut Pikatan sembari memandang Bandung dengan serius.

“Lapisan kelima juga dua pos, dengan jumlah prajurit seratus orang per pos, namun dengan kemampuan beladiri di atas rata-rata,” Wanara berhenti sejenak, melihat Bandung yang sedang menggambarkan lapisan-lapisan yang dimaksud dengan goresan kayu di atas tanah.

“Lapisan ke enam dua pos, yang terdiri dari lima puluh orang per pos, dengan kemampuan yang minimal dua kali kehebatan lapisan pos sebelumnya, dan lapisan ke tujuh, terdiri dari dua pos juga dengan jumlah dua puluh lima orang per pos, dengan kemampuan yang lebih hebat dari pos ke enam,” ujar Wanara.

“Lapisan ke-delapan sudah ada di dalam istana itu sendiri, dengan jumlah empat pos yang terdiri dari sepuluh orang tiap posnya, namun dengan keahlian beladiri yang tinggi, minimal dengan pangkat senopati ke atas,” jelas Pikatan dengan semangat lalu mengakhiri penjelasannya, diam dan menatap Bandung.

“Baiklah, di mana ruang raja yang ditawan?” tanya Bandung.

“Tidak di mana-mana, raja tidak ada, hamba belum mendapatkan informasinya sampai sekarang, seolah-olah mereka semua tidak tahu bila raja mereka menghilang,” jelas Pikatan.

“Hmmm… berarti pemerintahan berjalan normal? Siapa yang menggantikan raja di saat raja tidak ada?” tanya Bandung.

“Mereka mempunyai sistem pemerintahan yang berbeda gusti, sepertinya seseorang yang disebut dengan nama patih amungkubumi yang menjalankan kerajaan, sehingga di pemerintahan sistem ini, raja hanya simbol kerajaan, tanpa raja, pemerintahan masih berjalan lancar,” jelas Pikatan.

“Ooooh…,” Bandung merenung sejenak,”Baiklah berarti sasaran kita adalah mendapatkan informasi dari patih amungkubumi, itu nama ataukah gelar?”

“Itu gelar jabatan gusti, nama aslinya Vharok,” jelas Pikatan.

“Vharok? Baiklah, di manakah Vharok ini melakukan koordinasi sehari-hari dengan anggota kerajaaan lainnya?” tanya Bandung.

“Di ruangan dia, yang berada di pertengahan pos satu dan dua lapisan ke tujuh,” jelas Pikatan.

“Hmm…,” Bandung berpikir.

“Ayo kita makan dulu, sudah siap nih makanannya,” Jonggrang mengundang yang lainnya untuk bergabung dengannya yang sudah duduk, sementara hidangan yang dimasaknya sudah disiapkan olehnya.

“Baiklah, kita makan saja dulu,” ujar Bandung.

“Baik gusti,” jawab Wanara.

Bandung dan Wanara bergerak ke area makanan yang dihidangkan, demikian juga Pikatan dan Bondowoso yang juga berjalan ke arah tersebut.

Mereka duduk melingkari makanan yang dihidangkan. “Wuah penyetan sambal, saya suka sekali, ada tempe, tahu, dan terooooong!” kata Pikatan sembari menunjuk terong ungu yang telah dibakar.

“Ha ha ha ada juga telor ayam yang sudah di masak, tinggal dipenyet dengan sambel mangga ini wuah kereeen,” ujar Wanara.

“Siapa yang mau ikan gabus bakar boleh nih,” tunjuk Bondowoso ke ikan gabus yang sudah dibakar, ”Hamba tadi sempat memancing di sekitar sungai di sana, ikan gabusnya banyak,” jelas Bondowoso.

“Wuah pantas, kayu bakarnya kurang, biasanya kamu ikut ngumpulin kayu bakar, ternyata hamba ngumpulin sendirian” protes Pikatan sembari matanya memandang Bondowoso.

Bondowoso nyengir saat ditatap Pikatan sedemikian rupa, ”He he he,” lalu Bondowoso menggigit ikan gabus bakar tersebut dengan lahapnya.
Pikatan dengan segera mengambil ikan gabus bakar lainnya dan meletakannya di daun talas miliknya.

HA HA HA HA HA

Mereka tertawa melihat ulah Pikatan. Matahari mulai meredup, sore mulai terlihat jelas.

Api unggun sudah mulai menyala di depan gubuk tua tersebut. Pikatan sedang membakar kotoran kerbau kering yang ditemukannya sebagai pengusir nyamuk, lalu meletakkannya di sekitar area gubuk dan api unggun.

“Pengusir nyamuk yang alami, bila dibutuhkan, simpan beberapa untuk dibawa di pedati, agar persediaan untuk kita di area lainnya,” ujar Bandung.

“Ide bagus gusti, laksanakan!” ujar Pikatan.

“Baiklah, ayo kita berkumpul, akan aku jelaskan rencana kita,” ajak Bandung.

Bondowoso, Jonggrang, Pikatan dan Wanara segera duduk di sekitar Bandung duduk.

“Ada delapan lapisan begini…,” Bandung menjelaskan lagi apa yang dijelaskan oleh Wanara, sementara yang lainnya mendengarkan dengan saksama.

“Begitulah kondisi kerajaan yang dilaporkan oleh Wanara,” jelas Bandung, ”Nah kini, ini rencana yang akan kita lakukan…”

“Karena jumlah kita sedikit, dan dengan Bau Tubuh Bondowoso yang spesial, kita tidak akan masuk kerajaan pada siang hari,” jelas Bandung.

“Sasaran kita adalah patih amungkubumi yang bernama Vharok, jadi sebisa mungkin kita harus dapat masuk lapisan pos ke tujuh dengan tanpa menarik perhatian,” jelas Bandung.

“Selain ahli mencari info tentang keadaan lawan, saya juga ahli meramu herbal yang dapat membuat orang-orang mereka tertidur dengan menyebarkan asap wangi seperti kemenyan di sekitar area, secara bertahap dari lapisan satu sampai tujuh bila memungkinkan,” usul Wanara.

“Ide bagus, tapi bagaimana? Kau akan membuat ramuan itu banyak sekali dan menyebarkannya juga akan sangat susah dari ujung ke ujung?” tanya  Bandung.

“Tidak perlu membawanya ke dalam area istana gusti, cukup membakar di lereng bukitnya, dan hembusan angin perbukitan ke arah istana yang menghadap pantai walaupun jauh,” jelas Wanara.

”Angin perbukitan pasti berhembus ke arah pantai bila saat malam, akan memudahkan pekerjaan hamba, hamba jamin mereka akan tertidur pulas, aji sirep hamba ni,” Wanara dengan bangga menunjuk dadanya.

“Mantaaap,” puji Bondowoso.

“Baiklah,” ujar Bandung,”Setelah mereka tertidur saat itulah kita akan bergerak dengan cepat dari lapisan luar sampai ke lapisan tujuh.”

“Jonggrang, kau di sini saja,” perintah Bandung, ”Penyerangan akan kita lakukan besok malam, untuk malam ini, siapkan peralatan dan kebutuhan kalian untuk besok malam.”

“Baik gusti,” jawab mereka bersamaan.

“Gusti, saya  akan bergerak ke arah pasar di area luar desa sana, mencari bahan-bahan yang saya butuhkan, besok pagi-pagi sekali saya akan kembali dan siap meramunya,” ujar Wanara.

“Silakan dan berhati-hatilah,” Bandung mengizinkan.

“Terima kasih gusti,” jawab Wanara, dia segera menaiki kudanya dan bergegas ke arah yang dimaksud.

Malam semakin larut, bunyi-bunyi serangga bersahutan, ribuan bintang kelap-kelip dengan indahnya bagaikan kilauan ribuan berlian yang bertaburan.

*

Pagi harinya, Pikatan sudah terbangun dan segera menyiapkan api unggun yang sudah banyak menjadi arang dan abu.

Pikatan menambahkan beberapa kayu kering lagi lagi dan meniup-niup dengan tambahan daun-daun kering serta kapas. Setelah beberapa lama meniupnya, apinya mulai menyala lagi.

Bandung muncul dari hutan dengan membawa beberapa kelinci dan di belakangnya Bondowoso menggendong kijang di punggungnya, tampaknya hasil buruan mereka pagi hari ini.

“Wuah saya malu den, ternyata den gusti sudah berburu, saya pikir saya yang lebih dulu bangun,” kata Pikatan malu-malu.

“Ha ha ha tidak apa-apa, kamu kan bukan prajurit,” jelas Bandung.

Lalu menyusul Jonggrang dari arah lain, membawa buah-buahan dan juga beberapa daun-daunan untuk lalapan ataupun sayur.

“Wuah saya merasa ga berguna ni,” ujar Pikatan sembari berlari kecil menuju Jonggrang dan membantu membawa buah-buahan yang sepertinya banyak.

“Banyak buah mangga, manggis, jambu, sawo, dan rambutan di area sana aku hanya mengambil beberapa saja, bila kurang, nanti kita ambil lagi lebih banyak,” jelas Jonggrang.

“Eh ada jamurnya juga, wuah Iyem teliti banget!” ujar Pikatan memuji Jonggrang.

“Ha ha ha dasar, iya tadi sempat lihat di bawah pohon rambutan,” jelas Roro Jonggrang sembari agak sebel karena dipanggil dengan nama Iyem.

“Hai teman-teman!” dari jauh Wanara menyapa mereka sebelum sampai di depan gubuk tua tersebut.

Wanara turun dengan membawa empat karung besar berisi herbal untuk ajian sirepnya. Dan juga menambatkan empat kuda yang dibawanya.

“Wuah kuda darimana? Kami berusaha membelinya di pasar kemarin belum dapat-dapat juga?” tanya Bondowoso.

“Ha ha ha, aku mengambil kuda empat prajurit yang mencoba merampokku,” jelas Wanara.

“Prajurit, tetapi merampok? Wuah ternyata masih saja yang seperti itu terjadi?” ungkap Pikatan sembari mengelus salah satu kepala kuda yang ada.

“Jumlahnya pas, empat kuda,” kata Roro Jonggrang.

Bandung mendekat dan memerhatikan karung herbal untuk sirep, “Apakah akan cukup untuk membuat mereka tertidur, sepertinya sedikit?”

“Ha ha ha jangan khawatir gusti, ramuan sirep ini sangat hebat, dengan sekali hirup, mereka dijamin tertidur sampai pagi!” jelas Wanara.

“Semoga, kau sepertinya sudah sangat ahli, oleh karena itu aku yakin kau sudah memperhitungkannya,” tambah Bandung.

“Pasti gusti he he he!” Wanara dengan yakin menjawabnya. Bandung tersenyum melihat wajah Wanara yang penuh percaya diri.

“Ah daging kelinci ini nikmat sekali,” ujar Wanara.

“Daging kijangnya juga, bumbunya pas dan terasa luar biasa enaknya,” ujar Bondowoso.

“Ha ha ha iya, dicampur sambel penyet terasi buatan Iyem, ueeenak banget!,” ujar Pikatan.

“Iyem?” Wanara matanya melihat-lihat ke teman-temannya,”Kita hanya berlima, mana Iyem?”

HA HA HA HA

Kecuali Jonggrang yang tidak tertawa, yang lainnya tertawa tanpa henti.

Wanara ikut tertawa namun tertawa hambar dari orang yang tidak mengerti apa yang ditertawakan. Setelah mereka berhenti.

“Baiklah, di mana Iyem?” tanya Wanara lagi.

Semuanya diam berhenti, saling melihat dan kemudian…

HA HA HA HA

Kali ini Jonggrang pun ikut tertawa, semuanya tertawa, tetapi tetap hanya Wanara saja yang tertawa hambar dan tak mengerti.

“Siapa yang bikin sambel?” tanya Pikatan setelah tawa mereka mulai mereda.

“Roro Jonggrang!” jawab Wanara cepat.

“Nah itu, si Iyem tuh,” jelas Pikatan.

“Wuoh HA HA HA HA HA,” kali ini Pikatan tertawa sungguhan, tetapi yang lainnya diam, semuanya melihat ke Pikatan.

Hal ini membuat Pikatan segera berhenti tertawanya. Tetapi setelah diam, dia sepertinya tidak tahan untuk tertawa, maka dia tertawa lagi,”He he he.”

HA HA HA HA HA HA

Mereka kemudian tertawa lepas bersama-sama.

SKRIEEEEEEEECH
Mendadak kijang guling mereka yang baru dimakan sedikit ada yang menyambarnya, dan bayangan tersebut membawanya terbang dan tak nampak lagi karena terhalang pepohonan hutan yang tinggi.

“A…APA TUH,” teriak Wanara.

“Hm sepertinya burung besar,” Bandung menebak.

“Area sini memiliki burung sebesar itu?” tanya Bondowoso menambahkan.

“Saya pernah menderngar cerita memang ada elang besar, tetapi baru kali ini saya mengalaminya,” jelas Jonggrang.

“Elang besar ya? Wuah bisa merasakan daging elang bakar ni,” ujar Pikatan sepertinya malah gembira memikirkan kesempatan untuk dapat mencicipi daging burung elang besar.

“Ah kau makanan melulu,” sindir Wanara.

“Ha hidup untuk makan dan makan untuk hidup, bagiku itu ada saatnya yang harus seimbang he he he,” Pikatan membela diri.

“Baiklah teman-teman, paling tidak kita tadi sudah makan daging kijang tadi, nanti kalo kurang kita bisa berburu lagi,” ujar Bandung,”Mari bersiap, kita akan ke sisi perbukitan area sana, sekitar siang hari kita akan tiba.”

“Eh ada baiknya aku ikut, kalau di sini aku takut diburu oleh elang besar tadi” pinta Roro Jonggrang ke Bandung.

“Hm…” Bandung ragu-ragu.

“Ada baiknya Roro ikut, dia pintar memasak dengan rasa kerajaan, baru kali ini aku makan dengan rasa seperti itu, walaupun bahannya sama, tapi hasilnya berbeda bila dia yang memasak, kita di sana masih tetap perlu makan bukan?” jelas Pikatan menambahkan.

“Hm…. Baiklah, kau boleh ikut,” akhirnya Bandung mengiyakan.

“Terima kasih,” Jonggrang tampak gembira sekali.

Mereka pun segera bergegas naik ke kuda masing-masing setelah persiapan dilakukan.

Perjalanan ke sisi perbukitan yang dimaksud berjalan lancar, mereka segera membuat tenda dan melakukan persiapan untuk penyerangan rahasia nanti malam.

Yang paling sibuk adalah Wanara, dengan bantuan Bandung, Bondowoso, Pikatan dan Jonggrang. Wanara berharap ramuan sirepnya dapat selesai tepat waktu.

“Ah terima kasih teman-teman, sepertinya ramuan sirep ini telah selesai,” ujar Wanara.

“Kalo gitu, kita bisa istirahat dulu menunggu waktu penyerangan tiba,” ujar Pikatan.

“Baiklah, aku akan menyiapkan makan malam kita dulu,” ujar Jonggrang.

“Ide bagus Iyem,” seloroh Bandung.

“Aku akan mencari kayu bakar tambahan,” ujar Bondowoso.

“Hm… aku sepertinya mau duduk-duduk saja menikmati suasana sore,” ucap Pikatan.

Bandung segera beranjak, dan mempersiapkan alat-alat penyerangannya. Demikian juga Wanara.

Bondowoso sibuk mencari kayu bakar, lalu menyatukannya dengan pilinan tali dari kulit kayu.

Mendadak sesuatu turun dengan perlahan bertengger di depannya, sebesar manusia namun dengan rentangan sayap dan tetap mempunyai tangan-tangan seperti manusia namun kuku-kukunya tajam seperti cakar burung dan kakinya tampak lebih besar.

Bagian kepala seperti burung, tetapi dengan pancaran kecerdasan yang luar biasa.

“Kulihat kau tidak seperti yang lainnya, skrieeeeech” manusia burung itu berkata kepada Bondowoso.

“Kau sangat bau, seperti ikan, tetapi bukan, ada yang salah, tetapi apa? Aku tidak tahu. Tapi untungnya species-ku terbiasa dengan bau-bau seperti ini, ingin aku mematuknya” tambah manusia burung itu.

“Ah, manusia burung, kau yang mencuri kijang guling bakar milik kami,” jawab Bondowoso tenang seperti terbiasa melihat hal-hal seperti itu.

“Aku lapar, dan tidak bisa memasak, jadi ya itu caraku, tujuan hidup bertahan untuk hidup,” jawab manusia burung.

“Ha ha ha ada yang kau lupakan, perlu ditambahkan bila sudah menjadi mahluk cerdas, yaitu dengan tidak merugikan yang lainnya,” jelas Bondowoso.

“Kau benar, apa yang kau lakukan di sini?” tanya manusia burung tersebut.

“Hei tidak sopan menanyakan apa yang akan dilakukan oleh orang lain, namamu siapa?” tanya Bondowoso.

“Apa arti sebuah nama?” jawab manusia burung tersebut.

“Ada, paling tidak membuatku bisa memanggilmu, walaupun kau memberikan nama palsu aku tidak peduli” jelas Bondowoso.

“Ha ha ha skrieeeeeeech!” manusia burung itu tertawa.

“Namaku Garudeva,” jawab manusia burung itu.

“Bukankah kau makhluk mitos?” ujar Bondowoso.

“Ah sepertinya kau tidak perlu berbasa-basi, kau cukup tahu bahwa aku nyata ada, aku bisa membaca pikiranmu, kau bukan dari sini,” sindir Garudeva.

“Ha ha ha OK Garudeva, kau makhluk yang sudah terevolusi dengan kecerdasan dan kebijaksanaan yang lebih,” ujar Bondowoso menambahkan.

“Hmmmm skrieeeeeeeeech!” Garudeva tersenyum.

“Apa yang sebenarnya terjadi di Kerajaan Baka ini?” tanya Bondowoso.

“Hm bagaimana ya? Sebenarnya cukup gawat, ada beberapa species pemakan daging dari planet lain, mereka tampaknya menyukai daging manusia,” jawab Garudeva.

“Mereka pernah datang ke planetku beberapa milenia yang lalu, tetapi kami berhasil membuat perdamaian setelah menyakinkan kepada federasi galaksi bahwa kami bukan makhluk bodoh” jelas Garudeva.

“Kami sudah menjadi cerdas dan tidak layak lagi sebagai rantai makanan di bawah mereka, federasi galaksi setuju, namun tentu saja, kami harus melupakan pertumpahan darah yang telah terjadi,” jelas Garudeva.

“Lalu kami juga dikirim ke planet kalian untuk membimbing manusia, makhluk yang baru terevolusi agar segera mencapai teknologi tinggi dan kebijaksaan yang kuat, ah bukankah kau sebagai salah satu buktinya, bahwa bimbingan kami berhasil,” kata Garudeva menambahkan.

“Hm… sepertinya, dengan banyak korban yang tercatat dalam sejarah,” tambah Bondowoso.

“Ah, semua proses kehidupan dalam pencarian mencapai titik kebijaksanaan dan evolusi tubuh dan pikiran memang begitu, itu alami sekali, bukankah kau di sini karena ingin mengetahui apa yang sesungguhnya terjadi?” jelas Garudeva sembari bertanya.

“Baiklah species apa yang gemar memakan daging species kami ini? Lalu apakah federasi galaksi tidak bertindak?” tanya Bondowoso.

“Mereka masuk dalam klasifikasi virus, gerakan mereka cepat, karena berasal dari planet yang lebih kecil dari bumi, tetapi tubuh mereka lebih rapuh dari species kalian,” jelas Garudeva.

“Mereka dikenal dengan nama Species Dragnkhakulua, selain pemakan daging mereka juga gemar meminum darah korbannya, skrieeeeeech” jelas Garudeva.

“Dragn? Apakah mereka berbentuk reptile?” tanya Bondowoso.

“Skrieeeech, bukan, itu yang membuat bingung ya? Bentuk mereka persis seperti species-mu manusia, namun beda fisiologinya, mereka dari virus, itu nenek moyang mereka, kalau manusia dari bakteri, aku juga dari bakteri, skrieeeeech!” jelas Garudeva.

“Hm maksudmu drakula?” tanya Bondowoso.

“Ah istilah itu, kau menyebutnya begitu, skrieeeeech” Garudeva tersenyum.

“Apakah kau bertugas di sini ataukah cuma terjebak saja? Skrieeeech,” tanya Garudeva menambahkan.

“Dua-duanya benar, tetapi jangan disebarkan ke komunitasmu atau komunitas lainnya ya, ini rahasia,” jelas Bondowoso.

“Satu pertanyaan belum terjawab. Kenapa dewan federasi galaksi belum bertindak?” tanya Bondowoso.

“Hm sederhana, kalian belum masuk ke level ke kebijaksanaan, masih labil, hanya beberapa saja yang bisa mencapai titik itu, tetapi belum semuanya, bila level kebijaksanaan kalian sudah mencapai minimal 40% populasi planet, maka hal itu akan memungkinkan untuk dibantu,” kata Garudeva.

“Kalau diperkirakan, ya sekitar tahun 2020-an akan bisa terjadi, namun saat ini belum, tetapi bukankah aku di sini bersama species lain yang membimbing kalian, itu juga merupakan bantuan bukan? Skrieeeeeech” jelas Garudeva.

“Ah, bagaimana kalau manusia habis?” tanya Bondowoso.

“Kenyataannya tidak bukan? Kau buktinya, skrieeeeeech” Garudeva mengelak.

“Atau karena aku di sini, mungkin akulah kesempatan itu?” Bondowoso menanyakan pada dirinya sendiri.

“Skrieeeeeech ah mungkin juga, skrieeeeeech!” tambah Garudeva.

“Baiklah, kami akan melakukan penyerangan nanti malam, maukah kau membantu?” pinta Bondowoso.

“Pandanganku kurang jelas bila malam skrieeeeeech, dan aku dilarang untuk terlibat secara langsung, itu aturan federasi galaksi, skrieeeeeech” jelas Garudeva.

“Ah bukan untuk memerangi mereka, datanglah nanti malam di sisi bukit sebelah sana setelah mereka tertidur, dan hindari asap yang datang dari sisi bukit tersebut, itu adalah obat tidur, kau malah nanti tidak bisa membantuku, gimana?” pinta Bondowoso.

“Skrieeeeeech, baiklah, sebagai ganti hutangku pada kijang yang aku curi tadi siang skrieeeeeech, apakah kau punya lagi?” Garudeva setuju.

“Ha ha ha, nanti aku akan berburu dan memberikan kepadamu setelah tugasmu selesai, setuju? Aku akan memanggil namamu bila butuh bantuanmu” Bondowoso bernego.

“Skrieeeeeech, baiklah, aku akan datang skrieeeeeech!” lalu Garudeva terbang dengan kepakan sayap yang anggun bak malaikat yang terbang ke atas.

“Terima kasih!” ucap Bondowoso.

“Skrieeeeeech jangan terima kasih dulu, nanti setelah tugasku selesai skrieeeeeech!” Garudeva melayang dengan cepat ke arah puncak bukit.

Bondowoso segera mengangkat kayu-kayu dan dahan kering yang telah diikatnya lalu dengan mudah mengangkatnya dan meletakannya di punggungnya lalu berlari dengan cepat ke arah tenda teman-temannya yang lain.

“Ah itu dia Bondowoso, wuaaah banyak banget kayu bakarnya!” teriak Pikatan.

“Iya, kan dibutuhkan pula untuk membakar herbal sirep buatan Wanara,” jelas Bondowoso.

“Ah ha ha ha iya benar sekali, letakkan  di sana,” Wanara membenarkan argumen Bondowoso sembari menunjuk area yang dimaksud.

Bondowoso meletakkan kayu-kayu kering tersebut di tempat yang ditunjuk oleh Wanara.


bersambung....



Cerbung ini ada di An1magine majalah eMagazine Art and Science Volume 1 Nomor 7 September 2016
yang dapat di-download gratis di Play Store, share yaa


Komentar

Page Views

counter free

Visitor

Flag Counter

Postingan populer dari blog ini

STANLEY MILLER: Eksperimen Awal Mula Kehidupan Organik di Bumi

CERPEN: POHON KERAMAT

Menerbitkan buku di An1mage