Roro Jonggrang di An1magine Volume 2 Nomor 9 September 2017


AKHIR ZAMAN
M.S. Gumelar 


“Bagus Roro, tetapi aku belum tahu caranya?” ujar Loro Jonggrang.

“Aku juga belum tahu mbakyu,” jawab Roro Jonggrang.

Mendadak pintu diketuk. Lalu pintu kamar mereka terbuka perlahan.

Seorang wanita masuk, ”Nama hamba Ritnis baru bekerja sejak Prabu Bandung menjadi Raja, hamba diminta mengantar gusti putri berdua untuk menemani Prabu Bandung makan siang, bila tidak mau, prajurit metal akan menyakiti gusti putri.”

Loro dan Roro Jonggrang saling berpandangan. Lalu mereka mengikuti Ritnis yang ditemani oleh empat prajurit metal.

“Ah dua tuan putri sudah datang, aku merasa tersanjung, silakan-silakan!” Bandung berdiri dari tempat duduknya untuk menyambut serta berbasa-basi saat Loro dan Roro Jonggrang sampai di area makan istana.
Loro dan Roro tetap diam, lalu mereka duduk di area yang disiapkan oleh pelayan istana.

“Ha ha ha kalian pasti masih marah padaku, yaaah hal yang wajar,” Bandung mencoba mencari alasan.

“Aku tidak tahu mengapa kau berubah, dan menurutku sebaiknya hentikan!” ucap Roro Jonggrang ketus.

“Berubah? Ha ha ha kau lihat Roro, aku orang yang selalu patuh pada atasan untuk mengejar jabatan, dan saat jabatan itu kuraih melalui tugas-tugas kepadaku tanpa aku harus memintanya lagi, maka aku akan memanfaatkannya, aku tidak berubah sama sekali,” Bandung berargumen.

“Kupikir kau orang yang peduli pada penderitaan orang lain, ternyata tidak,” Roro dengan ketus menyindir.
“Aku orang yang peduli pada penderitaan berdasarkan perintah, dan perintah itu tidak kulakukan dengan tulus karena aku mengharapkan imbalan setelah tugas itu selesai,” jelas Bandung.

“Tetapi kini, aku sudah tidak perlu lagi mengejar pangkat dan kekayaan, sebab sudah kudapatkan semuanya, dengan menjadi diri sendiri, inilah aku yang sebenarnya Bandung! RAJA BANDUNG! HA HA HA,” Bandung dengan congkaknya tertawa terkekeh-kekeh.

“Apa maksudmu mengundang kami ke sini?” tanya Loro tak kurang ketusnya dari adiknya.

“Ah… langsung ke permasalahan,” Bandung berhenti dari ketawanya lalu duduk kembali di tempatnya semula.

“Tentu saja makan siang, silakan,” ujar Bandung lalu mengambil paha angsa bakar yang berukuran besar dan mengigitnya dengan lahap.

Loro dan Roro diam saja melihat ulah Bandung. Mereka merasa muak dengan sikap Bandung.

Bandung yang lahap makan mendadak berhenti dan melihat Loro dan Roro yang tidak mengambil makanan sama sekali, ”Ayo makan, apa yang kalian tunggu!” Bandung berteriak.

Loro dan Roro masih saja terdiam dan tidak bergerak wajah keduanya tegang penuh kebencian kepada Bandung.

Mendadak Bandung berdiri dan bergerak sangat cepat tahu-tahu sudah berada di dekat Roro yang duduk di sebelah paling kiri menghadap Bandung.

Bandung mengambil kue serabi yang ada di sana lalu menjejalkan ke mulut Roro dengan paksa sembari berteriak, ”Makan!”

Dengan sikap diamnya Loro dan Roro tampaknya membuat Bandung menjadi kalap.

“Makan atau kuhancurkan kepalamu!” teriak Bandung kepada Roro yang walaupun mulutnya telah terisi kue serabi tapi belum juga ditelannya. Ancaman itu membuat Roro akhirnya mengunyah makanan tersebut.

Lalu Bandung balik berjalan ke tempat duduknya semula, membetulkan letak bajunya yang dianggap tidak rapi.

“Loro. Makan,” ucapnya mulai melunak tetapi tegas dan matanya melihat ke Loro Jonggrang. Loro Jonggrang akhirnya juga mengambil satu klepon dan dicelupkannya ke gula kelapa yang berwarna cokelat tua cair lalu memakannya dengan perlahan.

“Nah begitu, makanan menjaga tubuh kalian tetap sehat,” jelas Bandung sembari tersenyum.

“Kini dengarkan aku, Pengging dan Baka sudah kusatukan, aku sebagai raja keduanya, dan aku bermimpi untuk menyatukan semua kerajaan-kerajaan lainnya di bawah kekuasaanku, dengan hal ini, maka kerajaanku akan menjadi yang terbesar dan terkuat,” jelas Bandung.

“Untuk itu, aku membutuhkan permaisuri yang kuat dengan penderitaan dan tekanan, kulihat kalian sudah mengalami hal itu, aku hanya meminta satu di antara kalian yang berani mengambil risiko menjadi pendampingku,” Bandung dengan lugas dan tegas mengatakannya.

“HUUKH EHEK!” Loro Jonggrang tersedak saat mendengar hal tersebut.

“Apa aku tidak salah dengar! Kau telah membunuh ayah kami lalu kau mengajukan pinangan? SAKIT!” teriak Roro Jonggrang.

“Hmm kau jelas menolaknya Roro, berarti harapanku ada pada Loro Jonggrang,” Bandung berkata dengan wajah dingin dan menatap Loro Jonggrang.

Loro Jonggrang terdiam seperti memutar otak.

“Baiklah tapi dengan syarat!” jawab Loro Jonggrang.

“Mbakyu?” Roro tidak setuju dan tidak percaya.

“Ha akhirnya, katakan!” ujar Bandung dengan wajah gembira.

“Mbakyu!” Kali ini Roro juga menendang kaki Loro Jonggrang di bawah meja. Tetapi Loro Jonggrang sepertinya sudah mantap.

“Buatkan aku seribu candi dan dikerjakan mulai matahari tenggelam sore nanti dan selesai saat ayam berkokok, bila kau berhasil, aku akan menjadi permaisurimu, bila kau gagal, serahkan kerajaan Baka kepada kami lagi!” Loro Jonggrang berkata dengan tegas.

“Ah kualitas seorang permaisuri. Pertaruhan dengan risiko! Aku suka, baik akan kulakukan mulai nanti sore!” Bandung sangat gembira.

“Prajurit, bawa kembali mereka ke ruangannya!” perintah Bandung.

Segera dua orang prajurit mendekati Loro dan Roro Jonggrang, lalu enam prajurit metal juga menyertai mereka. Dalam perjalanan balik ke ruangannya.

“Apa yang kau pikirkan mbakyu? Dia pasti bisa melakukannya” jelas Roro Jonggrang.

“Diam Dhiayu1, nanti aku beritahu alasannya,” jawab Loro Jonggrang.

“Baiklah mbakyu, aku sudah mengingatkan,” ujar Roro Jonggrang.

*

“Kabar terbaru!” Jaran Sewu berlarian mendekati Bondowoso.

“Ada apa Jaran Sewu?” tanya Aryakreyan yang ada di dekat Bondowoso.

“Kata penduduk Bondowoso telah menguasai Pengging dan menjadi rajanya hanya dalam waktu satu malam, dia bergerak sangat cepat dibantu oleh prajurit jin!” dengan terengah-engah Jaran Sewu mengatakannya.

“Para prajurit metal,” ucap Zhartan.

“Dan pakaian tempur G-totKc,” Bulkhu menambahkan.

“Iya benar,” Zhartan menyahut.

“Wuah bagaimana ini?” keluh Zhartan.

“Ada baiknya kita segera bergerak, aku akan ke tempat ditawannya Roro dan Loro Jonggrang serta membebaskan Pikatan, Bhorghat, dan Garudeva” ujar Bondowoso.

“Bila kau ke sana, belum akan mengubah keadaan, kekuatanmu setara dengan Bandung, ada baiknya kau tanya ke Eyang Rupit, apa yang harus dilakukan bila kemampuan kalian setara,” saran Zhartan.

“Baiklah. Jaran Sewu antarkan aku di mana Eyang Rupit berada,” pinta Bondowoso kepada Jaran Sewu.
“Mari ikut hamba,” ujar Jaran Sewu.

Bondowoso segera mengikuti Jaran Sewu. Mereka menuju ke luar gua dan sampai pada tepi bukit.
Di sana Eyang Rupit sedang termenung di bawah pohon flamboyant2 yang rindang.

“Hamba Jaran Sewu bersama Bondowoso meminta petunjuk,” dengan sopan Jaran Sewu berkata kepada Eyang Rupit.

“Apa yang dibutuhkan oleh dewa sepertimu Bondowoso? Kau sudah melebihi kami,” Eyang Rupit tetap menghadap pemandangan ke arah bawah bukit.

“Seperti kata Jaran Sewu eyang, hamba membutuhkan suatu petunjuk bagaimana mengalahkan orang yang memiliki kekuatan yang seimbang sama persis dengan diri kita sendiri?” Bondowoso menjelaskan.

“Jawabannya cuma satu, mengalah tetapi bukan untuk kalah, kekerasan akan kalah dengan kelembutan, aliran air sungai tidak akan berhenti bila ada batu di tengahnya, tetapi aliran air akan menyamping dan mengarahkan dirinya agar tetap mencapai tujuan,” jawab Eyang Rupit.

“Mengalirkan dan mengarahkan tenaga lawan adalah kuncinya, sepertinya kau harus meneliti gerakan silat lebih mirip menari daripada bersilat, silat tingkat tinggi adalah mengalirkan tenaga lawan dan mengarahkannya untuk menyerang mereka sendiri, ini disebut silat lembut,” jelas Eyang Rupit.

“Jaran Sewu serang aku dengan sekuat tenaga dan cepat, sekarang!” teriak Eyang Rupit mendadak memerintahkan Jaran Sewu.

“Baik eyang,” jawab Jaran Sewu lalu segera menyerang Eyang Rupit dengan mengerahkan seluruh tenaganya dan dengan kecepatan yang sedapat mungkin dia lakukan.

Pukulan maut tangan kanan Jaran Sewu menerjang wajah Eyang Rupit. Eyang Rupit menghindar ke sisi kanan Jaran Sewu.

Lalu dengan cepat memegang tangan kanan Jaran Sewu dengan lembut seperti menari menggunakan kedua tangannya dan diarahkan sesuai keperluan Eyang Rupit sehingga Jaran Sewu tidak bisa melawannya dan akhirnya terbanting dengan keras.

ZBUUUUUUUGH!
ADUH!

Jaran Sewu nyengir menahan sakitnya.

“Silat lembut!” ujar Eyang Rupit.

“Namun, dengan catatan kekuatan kita kurang lebih sama ya, kalau terlalu jauh perbedaaanya dan kalah kuat, sepertinya tidak begitu berhasil he he he,” ujar Eyang Rupit.

“Terima kasih eyang, sangat mencerahkan,” ujar Bondowoso sembari memberi gerak Om Swastiastu.

*

“Baiklah, katakan apa rencanamu mbakyu?” tanya Roro Jonggrang.

“Sebenarnya sudah jelas, aku harap dia gagal itu saja?” jawab Loro Jonggrang.

“APA?” jadi kau benar-benar hanya ingin bertaruh sedangkan kau sendiri tidak punya senjata rahasia? Sangat berisiko! Kau tetap saja ndak3 berubah mbakyu!” Roro Jonggrang sebal.

“Aku sudah melihat hal-hal ajaib bersama Bondowoso, kukira Bandung entah dari mana mendadak sepertinya punya kemampuan yang kurang lebih sama, hal ini membuka kemungkinan bahwa membuat seribu candi adalah hal yang mudah untuk dilakukannya,” tambah Roro Jonggrang.

“Tadinya kupikir dia tidak akan bisa melakukannya!” Loro berargumen.

“Menaklukkan kerajaan Pengging hanya dengan satu malam saja dia berhasil melakukannya! Apa yang telah mbakyu pikirkan? Aduh!” Roro menepuk dahinya sendiri.

“Entahlah, pada saat itu kupikir itu tidak mungkin,” Loro Jonggrang mendadak sedih.

Loro dan Roro Jonggrang mendadak melihat samar-samar bayangan Bondowoso muncul di ruangan tersebut, dari samar-samar lalu semakin jelas.

“Maaf Loro dan Roro Jonggrang, saya menggunakan ilmu menghilang untuk bisa menemui kalian,” ucap Bondowoso.

“Ah… sudah lama kutunggu,” ucap Roro Jonggrang sembari mendekati Bondowoso.

“Aku akan membawamu ke tempat yang aman,” ucap Bondowoso.

“Sudah saatnya memang kita keluar dari sini, ayo mbakyu,” ajak Roro Jonggrang.

Loro Jonggrang terdiam dan tidak mau bergerak, “Aku di sini saja dhiayu.”

“Ayo mbakyu, ada apa denganmu?” Roro Jonggrang menarik tangan Loro Jonggrang.

“Inilah rumahku, aku harus mempertahankannya sampai darah penghabisan,” jawab Loro Jonggrang dengan wajah serius.

“Kita akan mengalah dulu, nanti kita atur rencana dan kita akan merebut kerajaan kita ini nanti,” jelas Roro Jonggrang.

“Aku tidak mau, kau saja, aku sudah mantap di sini,” ucap Loro Jonggrang dengan wajah tetap serius.

“Baiklah mbakyu, kami akan kembali nanti, jaga dirimu,” ujar Roro Jonggrang.

Kemudian Bondowoso memegang pinggang Roro Jonggrang dan mendadak terbang melesat ke atas menembus atap ruangan tersebut.

BRUAAAAAAAAKH!

Setelah itu mendadak pintu ruangan dijebol oleh para prajurit metal. Mereka melihat ke atas di mana atap ruangan tersebut sudah rusak.

Tak berapa lama kemudian Bandung masuk ke ruangan tersebut dan melihat ke atap yang rusak.

“Bondowoso,” desisnya dan kemudian melihat ke Loro Jonggrang.

“Aku tidak tahu mengapa hanya Roro Jonggrang yang dibawanya, prajurit metal, bawa Loro Jonggrang ke ruangan lainnya, dan kalian sepuluh prajurit metal berjaga di dalam ruangan tersebut!” perintah Bandung.

“Sebentar lagi matahari tenggelam, aku akan membuat seribu candi sesuai permintaanmu calon permaisuriku ha ha ha,” lalu Bandung meninggalkan ruangan tersebut.

Kemudian para prajurit metal membawa Loro Jonggrang ke area lainnya dan mereka menjaga Loro Jonggrang di dalam ruangan tersebut, hal ini untuk menjaga Loro Jonggrang agar tidak didatangi lagi oleh Bondowoso atau siapa pun lagi.

Bondowoso berdiri di alun-alun. Di sana sudah berdiri delapan puluh prajurit metal.

“Baiklah prajurit metalku, kalian ikut aku, kita akan membuat seribu candi di area sana, Prambanan” ujar Bondowoso sembari menunjuk hutan yang landai terlihat dari alun-alun istana Baka.

“Ayo berangkat dan ikuti aku, laksanakan!” perintah Bandung lalu berlari dengan cepat ke area yang ditunjuknya tadi.

Dalam waktu singkat Bandung sudah berada di area tersebut. Prajurit metalnya juga sudah berbaris dengan rapi sebanyak sepuluh prajurit perbaris dan berbaris ke belakang sebanyak delapan barisan.

Bandung berkata, “Hal yang harus kita lakukan pertama kali adalah membuat sumur, kau sepuluh prajurit metal yang berbaris paling depan yang membuat sumur.”

“Lalu dua puluh prajurit metal berikutnya memotong pohon-pohon agar areanya nanti dapat ditempati untuk bakal seribu candi. Lalu lima puluh prajurit metal sisanya ini dan mengumpulkan batu-batu besar, buat bentuknya seperti batu bata tapi ukurannya lebih besar, ukuran tepatnya…”

“… kau prajurit metal yang di sana tentukan ukuran tepatnya, yang lain mengikuti ukuran tersebut” perintah Bondowoso yang sudah melihat matahari mulai tenggelam.

“Siap laksanakan!” jawab para prajurit metal. Lalu mereka segera bergerak dengan sangat cepat melakukan tugasnya masing-masing. Sekitar satu jam saja, semuanya sudah selesai.

“Perintah telah dilaksanakan dan menunggu perintah selanjutnya,” ujar para prajurit metal tersebut bersamaan.

“Aku akan menunjuk satu prajurit metal, dan dia akan menjadi pemimpin untuk membuat candi, sepuluh prajurit metal paling depan bertanggung jawab pada tiap seratus candi, dan prajurit metal di belakangnya, harus mengikuti perintah prajurit metal yang paling depan,” Bandung berkata sembari memandang barisan prajurit metal yang ada di depannya.

“Ini bentuk area candi dari tampak depan, samping, dan atas, kuambil dari gambar yang ada di istana Baka, entah siapa yang menggambarnya, tetapi kulihat sangat bagus, gunakan gambar ini sebagai acuan,” lalu memberikan gambar tersebut kepada salah satu prajurit metal yang ada di sana.

“Ingat bentuk gambarnya setelah selesai mengingatnya, segera berikan ke prajurit metal kepala yang aku tunjuk lainnya, lalu pembangunan candi dimulai dari area sana dan buat berjejer di belakangnya sampai jadi seratus candi…”

“… prajurit metal berikutnya mengerjakan area yang di samping kanannya lagi dan membangun seratus candi ke belakangnya, begitu seterusnya sampai prajurit yang paling depan yang terakhir,” Bandung menjelaskan.

“Dan waktu kita hanya sampai saat ayam berkokok, maka kalian harus berhenti tanpa perlu aku perintahkan lagi dan diam sampai matahari pagi benar-benar telah terbit di ufuk timur, laksanakan!” perintah Bandung sembari menunjuk area yang dimaksud.

“SIAP LAKSANAKAN GUSTI PRABU BANDUNG!” prajurit metal sebanyak delapan puluh tersebut menjawab secara bersamaan.

Lalu dengan cerdasnya para prajurit metal melakukan apa yang diperintahkan oleh Bandung sesuai persis dengan perintahnya tanpa kebingungan.

“Mantap!” ucap Bandung sendirian.

*

“Kau berhasil membawa Roro, mana Loro Jonggrang?” tanya Aryakreyan.

Bondowoso akan menjawabnya, namun telah didahului oleh Roro Jonggrang.

“Dia tidak mau ikut, aku sudah membujuknya, dia mempunyai semangat nasionalis yang kuat terhadap kerajaan,” jawab Roro Jonggrang.

Bondowoso melihat ke teman-teman lainnya sembari menunjuk ke arah Roro Jonggrang sebagai tanda memang begitulah kemauan Loro Jonggrang.

“Kami juga telah berhasil membawa Pikatan, Bhorghat, Garudeva, dan Vhendaaar; mereka sedang dalam ruang pemulihan,” ujar Zhartan.

“Bagus sekali Zhartan, kini kita akan melumpuhkan prajurit metal yang ada di Pengging,” puji Bondowoso sekaligus mengajak untuk membebaskan kerajaaan Pengging.

“Ide bagus, kupikir kau sendirian akan mampu melakukannya bukan?” cetus Zhartan.

“Ha ha ha baiklah, aku titip Roro di sini ya,” ucap Bondowoso.

“Jangan khawatir, dia akan aman bersama kami,” jawab Zhartan.

“Kembali dengan segera sayang!” Roro tampak khawatir.

“Iya sayang, jangan khawatir ya,” jawab Bondowoso.

Lalu Bondowoso berjalan ke luar area gua dan segera melayang terbang ke kerajaan Pengging.

*

Wanara duduk di singasana raja Pengging. Dia merasa bahwa dia adalah raja di situ, ”Ha ha ha ha dasar Bandung bodoh, ditunggangi begitu saja dia termakan, percuma saja kuat dan sakti tetapi dapat aku bodohi, aku menjadi wakil di sini berarti aku raja di sini he he he, tanpa susah payah kudapatkan kekuasaan,” gumam Wanara berkata dan tertawa sendiri.

BRAAAAAAAAKH!

Mendadak Bondowoso turun dari atas dan merusak atap istana Pengging tepat berada di depan Wanara.

“Persis seperti dugaanku, tidak ada teman di antara para penjahat!” ucap Bondowoso sembari turun perlahan ke lantai istana.

“Bondowoso!” Wanara tampak pucat.

“PRAJURIT METAL, HANCURKAN BONDOWOSO!” teriak Wanara kepada sepuluh prajurit metalnya.

Dengan serentak sepuluh prajurit metal menyerang Bondowoso. Bondowoso segera mempratikkan silat lembut dengan mengalirkan dan memanfaatkan tenaga lawan. Satu prajurit metal yang terdekat melakukan pukulan.

Dengan segera Bondowoso memutar posisinya sejajar dengan prajurit metal tersebut di sebelah kanannya lalu menangkap tangan kanan prajurit metal tersebut dengan tangan kiri Bondowoso, lalu tangan Bondowoso satunya juga menangkap tangan tersebut.

Bondowoso lalu menyalurkan aliran tenaga prajurit metal tersebut dengan mengangkat dan membenturkannya ke prajurit metal lainnya yang mulai mendekat.

BRAAAAAAAAAAKH!

Hantaman tubuh prajurit metal yang dipegang Bondowoso dengan prajurit lainnya terjadi. Mereka terjengkang ke belakang.

Bondowoso segera melempar prajurit metal yang ada di tangannya menyambut beberapa prajurit metal lainnya yang sudah mulai mendekat dari sisi lainnya.

BRUAAAAAAAAAAAKH!

Mereka semua terhantam tubuh prajurit metal yang dilemparkan Bondowoso. Mendadak dari arah belakang satu prajurit metal berhasil lompat dan memegang tubuh Bondowoso dari belakang.

Dengan segera Bondowoso memanfaatkan tenaga lawan lagi dengan membungkukkan badannya dengan cepat, seketika itu juga prajurit metal tersebut terjengkang ke depan dan menghantam lantai istana.

BRUGH!

Lantai rusak terkena kepala prajurit metal yang menghantam lantai tersebut. Dengan segera Bondowoso menendang prajurit metal tersebut.

BRAAAAAKH!
ZZZZT ZZZT

Badan prajurit metal tersebut terbagi menjadi dua dan aliran listrik muncul di sisa-sisa tubuhnya.

“HAAAAA!” Wanara terkesiap, dia tidak menyangka prajurit metalnya dapat dikalahkan oleh Bondowoso.
Prajurit metal lainnya menyerang Bondowoso dari depan. Tangan kanan prajurit metal melayang ke arah wajah Bondowoso.

Kali ini Bondowoso sepertinya sudah mengerti memanfaatkan tenaga lawan lalu segera menangkap tangan kanan tersebut dan menariknya ke bawah sekaligus membantingnya dengan tubuhnya sebagai tolokan.
BRAAAAAAKH!

Tubuh prajurit metal menghantam lantai dengan keras. Prajurit metal lainnya segera menyerang Bondowoso berbarengan.

Kali ini Bondowoso merasa sudah cukup berlatih.

Dengan segera tangannya memukul salah satu prajurit metal yang paling dekat.

BRAAAAKH!

Kepala prajurit metal itu hancur. Lalu dengan segera Bondowoso melakukan pukulan berputar ke prajurit metal lainnya dan tangannya menembus tubuh salah satu prajurit metal.

Dengan semangat Bondowoso melakukan serangan yang membuat beberapa prajurit metal tubuh mereka langsung rusak terkena pukulan mautnya.

“APA?!” Wanara kaget, satu-satu prajurit metal yang ada berjatuhan dengan tubuh hancur.

Kini yang tersisa cuma tinggal tiga prajurit metal saja. Bondowoso tampaknya tidak peduli, segera saja dengan cepat ia memukul dan menendang ketiga prajurit metal tersebut.

BRAKH! KRAK! ZZZZT ZZZZZT

Dua prajurit metal telah rusak terkena pukulan Bondowoso. Tinggal satu prajurit metal saja dan prajurit metal tersebut menyerang Bondowoso dengan pukulannya. Bondowoso menghadang pukulan tersebut.

BRAAAAAAAKH!

Tangan prajurit metal tersebut hancur lalu dengan segera Bondowoso melakukan tendangan kuat.

BREEEGH KRAKH!

Kaki Bondowoso mematahkan tubuh prajurit metal menjadi dua. Dengan wajah gemas Bondowoso mendekati Wanara yang masih bengong dan tidak berani beranjak.

“Di mana kau tawan raja dan kerabatnya?” tanya Bondowoso kepada Wanara. Dengan wajah ketakutan Wanara menunjuk ke suatu tempat.

*

“Aku mengkhawatirkan Mbakyu Loro,” ucap Roro Jonggrang.

“Ya kami juga, sepertinya Bandung akan berhasil membuat seribu candi besok pagi!” ucap Zhartan.

“Sudah hampir tengah malam, kenapa Bondowoso belum kembali?” tanya Jaran Sewu.

WHUUUUUSH!

“Nah tuh dia, dengan seorang wanita!” teriak Aryakreyan.

“Ibu!” Roro segera berlari menyambut Bondowoso yang ternyata bersama ibunya. Segera saja Roro memeluk ibunya.

“Tenang nduk, ibu baik-baik saja,” ujar Roro Anjani.

“Hai Pikatan wuah kau sudah pulih!” sapa Bondowoso saat melihat Pikatan.

“Siapa ya?” tanya Pikatan.

HA HA HA HA HA

Semuanya tertawa.

“Aku Bondowoso,” jelas Bondowoso.

“Wuah semakin cakep saja, kok bisa ya? dan tidak bau lagi? Aku tidak percaya kau Bondowoso?” Pikatan sangsi.

HA HA HA HA HA

Semuanya tertawa lagi hal itu membuat Pikatan kebingungan.

Lalu muncul Garudeva, Bhorghat dan Vhendaar.

“Hai Garudeva, hai Bhorghat!” sapa Bondowoso.

“Siapa ya?” tanya mereka.

“Dia Bondowoso,” jawab Pikatan.

“Ooooh kok bisa beda?” tanya Bhorghat.

“Baiklah, bagaimana Pengging? Bondowoso?” tanya Zhartan setelah melihat Bondowoso duduk.

“Sudah kembali seperti semula, Raja Damar Moyo kembali menjadi raja, dan aku tempatkan Wanara di penjara mereka, lalu aku bawa ibundanya Roro Jonggrang ke sini,” jawab Bondowoso.

“Berita yang bagus, kini kita fokus ke problem lainnya, menggagalkan pembuatan seribu candi agar kerajaan Baka tidak jatuh ke tangan Bandung,” Zhartan memulai pembicaraan untuk mengatasi hal tersebut.

“Coba katakan permasalahannya Roro,” Zhartan meminta Roro menjelaskan.

“Baiklah, begini Mbakyu Loro akan mau menjadi permaisuri Bandung bila Bandung berhasil membuat seribu candi dan dikerjakan mulai matahari tenggelam sore ini dan selesai saat ayam berkokok, bila Bandung berhasil, maka Loro bersedia menjadi permaisurinya, bila Bandung gagal, maka kerajaan Baka akan diberikan kepada Loro, kepada kami,” Roro Jonggrang menjelaskan.

“Sepertinya aku tahu jawaban dari permasalahan ini,” jawab Roro Anjani, ibu Roro Jonggrang.

“Benarkah?” tanya Roro Jonggrang.

“Ya, ini adalah teka-teki yang ayahmu tanyakan ke ibu, lalu ibu ceritakan lagi ke Loro, tapi belum pernah kepadamu Roro,” ucap Roro Anjani.

“Baiklah, kami menunggu jawabannya,” ucap Zhartan.

“Kuncinya adalah di kata selesai saat ayam berkokok,” ucap Roro Anjani.

“Bukankah ayam berkokok selalu menjelang pagi hari?” jelas Aryakreyan.

“Ya aku mengerti ha ha ha iya bisa!” Eyang Rupit tersenyum.

“Maksudnya?” tanya Jaran Sewu.

“Kita bisa membuat ayam berkokok sebelum pagi menjelang skrieeech!” ujar Garudeva.

“Caranya?” ujar Zhartan.

“Dengan menirukan suara yang berkokok!” jawab Roro Anjani.
“Cerdas,” Ucap Vhendaar.

HA HA HA HA HA

Semuanya tertawa bersama, sepertinya masalah tersebut sudah terpecahkan.

“Zhartan, apakah kau mempunyai alat perekam?” tanya Bondowoso.

“Sepertinya ada di dalam laboratorium kami, tetapi alat pemutarnya cuma ada lima saja,” jelas Zhartan.

“Kurasa sudah cukup, karena aku juga punya alat perekam dan pemutar dalam tubuhku dan dapat diputar ulang keluar dari mulut,” ucap Bondowoso.

“Wuoh aneh sekali? Ilmu apa itu Bondowoso?” ucap Pikatan.

“Baiklah, kita membutuhkan suara yang dapat menirukan ayam berkokok di pagi hari,” ucap Roro Anjani.

“Aku bisa melakukannya skrieeech,” kata Garudeva.

“Wuah bagus!” puji Pikatan.

“Baiklah, ayo kita lakukan,” kata Zhartan.


*

Bandung berdiri di salah satu candi yang telah jadi, ”Berapa yang sudah jadi prajurit?” tanya Bandung kepada salah satu prajurit metal yang ada di dekatnya.

“Sudah sembilan ratus sembilan puluh tujuh candi gusti,” jawab prajurit metal tadi.

“Bagus, berarti kurang tiga candi lagi, aku pasti menang ha ha ha,” Bandung bicara pada dirinya sendiri dan sangat percaya diri.

“Kau berhenti, segera jemput Loro Jonggrang di istana di kamarnya,” Bandung menunjuk satu orang prajurit metal untuk menjemput Loro Jonggrang.

“Baik gusti prabu,” ucap prajurit metal tersebut, lalu keluar dari barisan dan berlari ke arah istana Baka menjemput Loro Jonggrang.

KUKURUYUUUUUUUUK!

Mendadak telinganya mendengar suara ayam berkokok dari kejauhan. Bandung tidak percaya akan hal ini. Dengan cepat dirinya melesat ke arah datangnya suara ayam berkokok.

KUKURUYUUUUUUUUK!

Suara ayam terdengar lagi. Kali ini dia tahu persis posisinya.
Dicarinya asal suara tersebut, suara ayam berkokok terdengar lagi.

KUKURUYUUUUUUUUK!

Disibaknya rerumputan di mana suara kokok ayam berasal. Dia melihat sejenis alat kecil yang mengeluarkan bunyi ayam berkokok.

Diinjaknya alat tersebut hingga hancur. Lalu dengan cepat dia melesat ke arah pembangunan candi.

Dia melihat semua prajurit metalnya terdiam. Persis yang dia perintahkan, berhenti bekerja setelah ayam berkokok dan baru bisa bergerak lagi setelah matahari terbit.

KUKURUYUUUUUUUUK!

Suara ayam berbunyi lagi di arah lainnya. Kali ini dengan gerak lebih cepat lagi, Bandung mencari sumber suara ayam berkokok dan ditemukannya lagi alat seperti sebelumnya, dia pegang dan banting sehingga hancur.

KUKURUYUUUUUUUUK!

BRAKH!

Bandung sudah berada di area tersebut dan langsung menginjak alat tersebut.

KUKURUY!

KRAAAAAKH!

Bandung sudah berada di area tersebut dan langsung menginjak alat tersebut sebelum bunyi kokok selesai diputar.

KUK!

KREEEKH!

Bandung sudah berada di area tersebut dan langsung menginjak alat tersebut padahal bunyi kokok baru saja diputar.

KUKURUY!

“Bondowoso!” teriak Bandung saat Bondowoso mulutnya terlihat monyong mengeluarkan suara yang diputarnya mirip ayam jantan berkokok lalu berhenti saat Bandung melihatnya.

“Eh ya, aku Bondowoso,” ucap Bondowoso nyengir.

“Dari mulutmu? Kau menjijikkan seperti ayam! Pengecut!” teriak Bandung.

“Pengecut? Dengan menyandera orang lain kau anggap dirimu ksatria?” jawab Bondowoso.

“Kenapa tidak kau tantang saja aku, daripada menggunakan akal busuk menirukan suara ayam!” tantang Bandung.

“Ah… dan membiarkan prajurit metal tetap bekerja? Kami bukan orang yang bodoh!” jawab Bondowoso.

“Kami?” tanya Bandung.

“Ya kami,” lalu bermunculan Bhorghat, Pikatan, Garudeva, Zhartan, Bulkhu, dan Roro Jonggrang paling akhir muncul.

“Ha ha ha sial,” ucap Bandung tertawa kesal.

“Prajurit metal, berapa candi yang telah jadi?” tanya Bandung kepada prajurit metal yang di dekatnya.


1  Sebutan pengganti untuk adik wanita.
2   Nama latinnya Caesalpinia pulcherrima, sejenis tumbuhan daerah tropis, berdaun rindang, bunganya indah berwarna kekuningan, oranye, dan atau merah kadang disebut juga bunga surga (paradise flower).
3   Tidak.

bersambung....


Cerbung ini ada di majalah AN1MAGINE Volume 2 Nomor 9 September 2017 eMagazine Art and Science yang dapat di-download gratis di Play Store, share yaa


“Menerbitkan buku, komik, novel, buku teks atau 
buku ajar, riset atau penelitian di jurnal? An1mage jawabnya”

AN1MAGINE: Enlightening Open Mind Generations
AN1MAGE: Inspiring Creation Mind Enlightening 
website an1mage.net www.an1mage.org

Komentar

Page Views

counter free

Visitor

Flag Counter

Postingan populer dari blog ini

STANLEY MILLER: Eksperimen Awal Mula Kehidupan Organik di Bumi

CERPEN: POHON KERAMAT

Menerbitkan buku di An1mage