Roro Jonggrang di An1magine Volume 2 Nomor 4 April 2017


AKHIR ZAMAN
M.S. Gumelar 


“Pilihan pertama kalian kembali tepat pada saat kalian aku teleport ke zaman ini. Pilihan kedua. Kalian kembali ke saat hari pertandingan antara Raja Baka dan Vharok. Pilihan ketiga kalian kembali satu hari sebelum pertandingan antara Raja Baka dan Vharok, hal ini sesuai dengan info yang aku dapat dari kamu,” jelas  Michael.


“Terserah kepada kalian, kalian akan kembali ke zamannya Roro Jonggrang dengan pilihan waktu yang sudah aku set, tetapi sebelum itu, ada baiknya kau meng-upgrade nano computer ke gumo computer yang ada di tubuhmu, ini adalah versi yang terbaru,” kata Michael melihat kepada Roro Jonggrang dan Azrael.

“Baiklah, yang pertama dulu, upgrade nano computer dalam tubuhku dan beri aku beberapa feature tambahan agar mampu mengalahkan minimal seratus orang dengan kekuatan super,” pinta Azrael.

“Ha ha ha OK no problem, aku berikan kemampuan super mini computer yang sama seperti yang kami berikan kepada kakakmu Mega, dengan super mini computer yang versi terbaru tersebut kau bahkan mampu mengalahkan Odin atau Zeus bila mereka ada ha ha ha,” Jelas Michael.

“Xiorxanth setup the super diamond gumo (10-.1000.0000) computer ke tubuh Azrael segera!” perintah Michael kepada makhluk cerdas sejenis ikan yang mengambang tanpa air di udara tapi bisa hidup.

“Aaaaah ndas glundung!” teriak Roro Jonggrang.

“Ssstt, tidak sopan,” ujar Azrael segera menutup mulut Roro dengan telapak tangannya sembari membisikkan kata-kata tersebut.

“Baik ketua,” ujar Xiorxanth tanpa ada tangan dan kaki. Xiorxanth mengangkat benda-benda yang dia maksud dengan kemampuan telekinesis yang dimilikinya.

“Xiorxanth adalah species ikan cerdas yang mampu menggerakkan benda dengan kemampuan pikiran atau telekinetic yang paling hebat di jagad raya ini,” bisik Azrael ke Roro yang sedang bengong menyaksikan itu semua.
“Kau masuk ke sana dan rebahan, karena menggunakan teknologi transfer teleport jadi sangat cepat dan tidak terasa,” kata Michael sembari memerintah Azrael untuk rebahan di suatu tempat yang ditunjuk.

“Baiklah, Roro tunggu di sini ya,” Azrael berkata kepada Roro dan segera berbaring di tempat yang ditunjuk oleh Michael.

“Siap?” ujar Xiorxanth.

“Ya siap,” jawab Azrael.

“OK Selesai,” jelas Xiorxanth.

“Apa? Seperti tidak ada perubahan apa pun,” Azrael meragu.

“Coba kemampuan barumu, ada dalam feature menu, akses di display monitor retina matamu,” jelas Xiorxanth.

“Ah iya ada, salah satunya Smarth Stealth mode,” kata Azrael.

“Ya, mode menghilang tersebut benar-benar keluar dari frekuensi ini atau frekuensi yang dimaksud, sehingga perbedaan frekuensinya sangat tipis, hal ini berguna menghindarkanmu dari smart life form detector dari makhluk yang teknologinya di bawahmu,” jelas Xiorxanth.

“Dan juga Plasma Power yang ada di tubuhmu karena kemampuan evolusi memberi manusia kemampuan itu, akan berlipat 10 Yotta dari semula karena gumo technology dan body enhancer dalam ukuran Gumo teknologi temuan Mr. G di bumi ini,” kata Xiorxanth.

“Itu yang ada di dalam tubuhmu sekarang karena teknologi ini yang paling terbaru lebih kecil jutaan kali dari Yocto , sehingga kau mampu melawan superman yang ada dalam komik dengan mudahnya, bila superman ada tentunya ha ha ha,” tambah Xiorxanth.

“Ya bagus sekali, di sini juga ada menu teleport dan flight dalam tubuhku dalam versi yang terbaru, aku pasti bisa teleport dengan super cepat melebihi sebelumnya,” Azrael tampak gembira.

“Ha ha ha kata super sebenarnya bila ditemukan teknologi yang lebih baru menjadi tidak terbatas, tapi kau benar, lebih hebat dari sebelumnya,” jelas Xiorxanth.

“Check lagi, Gumo technology selain dapat memberimu kekuatan yang berlipat ribuan kali, juga dapat membuat proteksi tubuhmu, coba on-kan Exo Armor Gumo Technology-nya,” pinta Xiorxanth.

“OK, Exo Armor Mode On!” perintah Azrael, dan mendadak tubuh Azrael diliputi oleh lapisan armor seperti berlian di sekujur tubuhnya, membuat tubuhnya berkilauan seperti terbuat dari berlian.

Semua terpana dengan teknologi baru tersebut, apalagi Roro bengong tanpa berkedip.

“Hai kalian ke mana, aku mencari kalian,” ujar seseorang yang mirip Michael, namun versi lebih senior beberapa tahun tapi tampak lebih bijaksana. Sapaan itu membuyarkan semua species cerdas yang memperhatikan Azrael.

“Ah Michael Sega generasi pertama penemu mesin teleport lintas ruang dan waktu! Bagaimana kabarnya?” teriak Xiorxanth.

“Ha ha ha kabar baik Xiorxanth. Bagaimana kabar cicit-cicitku ini ha ha ha,” sapa Michael Sega generasi pertama penemu mesin teleport lintas ruang dan waktu kepada Michael dan Azrael.

“Ha ha ha baik kakek buyut, kami sedang membicarakan teknologi baru yang telah di-setup ke tubuh Azrael dan sebentar lagi Azrael akan eksplorasi ke masa lalu lagi, seperti yang kau selalu katakan, bermain dan belajar ha ha ha,” ujar Michael papanya Azrael.

“Kukira kakek buyutmu sudah meninggal? Ternyata belum, wah hebat sekali!” teriak Roro.

“Ah gadis eksotis ini sepertinya keingintahuannya besar, bagus sekali, siapa namamu sayang?” tanya Michael Sega kakek buyut Azrael.

“Roro,” kata Michael papanya Azrael dan Azrael bersamaan menjawab mewakili Roro.

“Ah Roro, begini sejak adanya teori teleport lintas ruang dan waktu  yaitu E = Dat.Fus At1.Bt2 maka semuanya mulai dirintis…,” lalu Michael Sega merangkul pundak Roro dan mulai mengajak berjalan ke suatu area dan sembari bercerita dengan lama.

“Oh begitu ceritanya… jadi sejak Anda menjadi penemu pertama mesin teleport lintas ruang dan waktu lalu mendadak generasi penerusmu di masa depan langsung datang dan memberikan aturan-aturan teleport lintas ruang dan waktu?”

“Wuah hebat! Dan buyut di sini diminta menjadi konsultan di sini, luar biasa!” puji Roro.

“Ah jangan panggil aku buyut, kau pun lebih tua dariku he he he,” seloroh Michael Sega.

“Aku masih muda,” Roro berargumen.

“Ha ha ha  baiklah, aku akan ada meeting, kutinggalkan kalian dulu ya, sampai ketemu lagi,” ujar Michael Sega buyutnya buyut Michael papanya Azrael. Sedangkan Azrael melambaikan tangan ke buyutnya tersebut.

“Bagaimana, sudah siap balik ke masa Roro Jonggrang?” tanya Michael ayahnya Azrael kepada Azrael dan Roro Jonggrang.

 “Siap,” jawab Azrael.

“OK silakan pilih waktunya,” kata Michael.

Azrael memegang pipi Roro dengan kedua tangannya dan berkata, “Roro kau pilih yang mana?”


*
Pilihan 1:

PYAAAAASH!

Bondowoso dan Roro Jonggrang kembali tepat di area yang mereka tinggalkan sebelumnya.

Hari dan waktu yang sama, keadaan yang mereka tinggalkan juga tetap sama. Kuda-kuda mereka tertambat dengan tenang seolah tidak pernah ditinggal sedetik pun.

“Wuoh seperti mimpi, mimpikah?” kata Roro Jonggrang lalu melihat segera ke Bondowoso. Dia merasa lega setelah melihat Bondowoso tidak berwajah buruk.

“Kenapa kau melihatku begitu?” tanya Bondowoso.

“Ah tidak khawatir saja ini cuma mimpi,” jelas Roro Jonggrang.

“Ha ha ha dasar, ayo segera mengganti baju kita dengan yang kita bawa di kuda kita,” ajak Bondowoso.

“Nah tampilan kita sudah sesuai dengan zaman ini lagi,” Kata Bondowoso setelah mereka berganti pakaian,”Ayo segera ke markas kita.”

“Tunggu, bagaimana kau akan menjelaskan wajahmu?” Roro Jonggrang menahan langkah Bondowoso saat mereka akan menaiki kuda masing-masing.

“Hm benar juga, ada baiknya kita ke tempat lain saja dulu dan besok kita hadir di acara pertarungan tersebut, aku akan menyelamatkan ayahmu segera,” ujar Bondowoso kepada Roro Jonggrang.

“Tetapi, sebenarnya aku bisa berkomunikasi melalui mind network karena teknologinya mereka hampir sama dengan teknologiku Garudeva mengenai perubahan tampilanku,” Bondowoso berargumen.

“Mind Network?” Roro Jonggrang bertanya.

“Eh… bisa juga, sepertinya dia yang paling siap, setelah dia, maka yang lain akan perlahan percaya padamu,” tambah Roro Jonggrang.

“Contact Garudeva,” ucap Bondowoso berbicara sendiri.

“Garudeva, hei sudah lama tidak bertemu,” ujar Bondowoso.

“Ha ha ha iya memang baru beberapa jam saja, tetapi aku dan Roro Jonggrang baru saja balik dari akhir zaman he he he,” Bondowoso seperti menjelaskan.

“Begini, saat di sana, Aku sudah memperbaiki wajah dan tampilanku ke bentuk aslinya,” kata Bondowoso.

“Ah dasar, bentuk asliku bukan begitu mirip ikan ha ha ha bukan, kau akan lihat nanti saat kita bertemu nanti ha ha ha,” kata Bondowoso sembari tertawa, ”Okh, Aku out dulu dari chat  kita ini ya, baiklah siiip,” Bondowoso mengakhiri kontaknya.

“Benar ha ha ha kau seperti orang gila bicara sendiri, apalagi wajahmu jelek waktu itu ha ha ha pasti orang mengira kau gila he he he,” Roro Jonggrang tertawa sampai air matanya keluar karena menurutnya sangat lucu.

Bondowoso diam saja menunggu sampai Roro selesai tertawa, ”Baiklah ayo kita balik,” Bondowoso segera menaiki kudanya dan diikuti oleh Roro Jonggrang.

HA HA HA HA HA

Suara tertawa Roro Jonggrang masih terdengar saat kuda mereka bergerak menuju ke markas sementara.

”Ha ha ha selamat datang kembali Bondowoso skrieeeeech,” sambut Garudeva sembari menepuk pundak Bondowoso dan mengajak teman-teman lainnya.

“Bondowoso?” Pikatan keheranan dan tidak percaya dan bergerak mengitarinya.

“Sungguh? Wah aku berharap bisa menemukan herbal yang bisa membuat wajahku menarik seperti kau, paling tidak aku tidak perlu membuatkanmu lulur penghilang bau lagi,” ucap Wanara dengan wajah serius.

“Aku masih sangsi, aku kenal Bondowoso dengan kekuatan yang luar biasa, apakah kau mampu mengangkat dua batu sebesar badan kerbau di sana?” pinta Pikatan sangsi.

“Baiklah Pikatan,” lalu Bondowoso mendekati dua batu besar seukuran kerbau dewasa yang ada di area tersebut.

Dengan mudahnya Bondowoso mengangkat satu batu tersebut lalu dilemparkan ke atas dan batu terlempar dengan sangat tinggi.

Kemudian, dengan santai mengambil satu batu besar lainnya,  sedangkan batu yang satunya yang telah dilempar tadi sudah turun dan dihadang oleh tangan Bondowoso sebelum jatuh ke tanah.

Lalu dengan bergantian Bondowoso memainkan dua batu besar tadi seperti bermain sirkus, dilempar saling bergantian ke kanan dan ke kiri  tangannya setelah puas lalu diletakkan lagi di tempat semula.

“Ha ha ha ha ha aku percaya, kau memang Bondowoso ha ha ha selamat datang kembali tak kukira kau seganteng ini ha ha ha!” Pikatan dengan gembira memeluk Bondowoso.

Roro, Wanara, dan Garudeva tertawa bersamaan.

“Terima kasih teman-teman, hei aku belum melihat Bandung?” mendadak Bondowoso teringat Bandung.

“Nah itulah dia, dia belum kembali sejak pergi ke istana Baka, aku khawatir dia tertangkap,” ucap Wanara dengan terlihat jelas khawatir dengan belum kembalinya Bandung.

“Kalau belum kembali, apakah rencana kita akan gagal?” tanya Pikatan.

“Hmm…secara garis besar sepertinya tidak akan, tetapi secara kebersamaan, sepertinya memang saya khawatir akan keselamatannya saja, apakah Bhorghat dapat dipercaya?” Wanara mengernyitkan dahinya.

“Walaupun saya tidak begitu mengenalnya, tetapi saya tahu benar Bhorghat dapat dipercaya,” jawab Bondowoso.

“Bagaimana bila salah seorang dari kita menyusul ke istana?” usul Wanara.
“Kami baru dari istana, tetapi kami tidak bertemu di perjalanan, atau mungkin tidak berpapasan,” jelas Roro Jonggrang.

“Hm… Baiklah, bila Bandung tidak hadir di sini, mungkin dia memutuskan untuk langsung saja ke acara besok, kita pasti akan melihatnya di arena pertandingan besok,” kata Garudeva.

Pagi yang cerah. Alam tidak memihak pada seseorang atau pada suatu kerajaan tentang akan apa yang terjadi. Alun-alun kerajaan sudah berjubel dengan rakyat yang ingin tahu apa yang akan terjadi di hari itu.

Para pedagang juga tidak peduli dengan apa yang akan terjadi di hari itu, yang pasti apa yang akan terjadi pada mereka adalah dagangannya akan banyak laku dengan adanya acara tersebut.

Anak-anak berlarian ke sana ke mari seperti tidak peduli dengan masa depan kerajaan mereka.

Mereka asyik bermain bersama, kesempatan yang sangat jarang bagi mereka bertemu dengan lebih banyak anak-anak.

Di alun-alun persiapan telah dilakukan, panggung pertarungan telah didirikan dengan rapi dan kokoh.

Hiasan-hiasan telah ditata rapi dengan warna-warna yang menyiratkan bukan kesedihan, warna-warni seperti warna pesta.

Tari-tarian mulai ditampilkan dengan iringan gendang dan alat musik lainnya. Rakyat bersorak sorai menyambut tari-tarian tersebut.

Prajurit istana berjaga-jaga penuh, di setiap sudut tempat ada pasukan dengan tanda khusus berpita merah. Sehingga tampak mustahil bagi rakyat biasa atau yang tidak berkepentingan untuk masuk ke istana.

Kemudian beberapa prajurit muncul di atas panggung. Musik berhenti. Semua mata tertuju pada apa yang terjadi di panggung. Secara pelahan muncul iring-iringan dari dalam istana. Yang pertama iring-iringan Vharok.

Vharok tampak gagah dan percaya diri berjalan dengan tegap. Prajurit berpita merah mendadak mengelu-elukan dengan yel-yel.
“Vharok-Vharok calon raja baru, gagah, perkasa, mampu melindungi rakyat,” sebanyak tiga kali prajurit-prajurit berpita merah meneriakkan yel-yelnya, suaranya memenuhi sekeliling istana.

Kemudian Vharok duduk di sebelah kiri panggung arah yang menghadap penonton.

Setelah itu muncul iring-iringan kedua, semua rakyat dan prajurit diam, tidak ada yang  berani mengelu-elukannya.

Semua merasa ketakutan untuk membela dan memberikan semangat kepada raja mereka. Gupala berjalan dengan tenang, di sampingnya mengikuti Loro Jonggrang yang terlihat gelisah. Gupala kemudian duduk di kursi sebelah kanan.

Melihat raut wajah raja mereka yang berkerut-kerut, tampak tak terelakkan Gupala akan kalah dalam pertarungan ini.

Setelah Gupala duduk, musik terdengar lagi. Kali ini beberapa penari yang cantik dan lemah gemulai menari tradisi yang menyiratkan peperangan.

Setelah musik dan tarian berhenti. Seseorang naik ke panggung, ”Hari ini kita akan menyaksikan sejarah yang berbeda dari biasanya, dengan secara terbuka dan tidak dengan cara pengecut tetapi dengan cara ksatria.”

“Perebutan secara resmi dengan cara bertanding, Raja Gupala raja yang masih memerintah Kerajaan Baka, menerima tantangan Vharok Patih Amungkubumi untuk mempertahankan kerajaan.”

“Bila Raja Gupala menang, maka kerajaan akan tetap di bawah kekuasaannya, bila kalah, maka Vharok akan menjadi raja baru Baka!” lanjut orang tersebut.

“Untuk itu Vharok Patih Amungkubumi memberi kesempatan kepada prajurit, orang umum dan ksatria yang ada di alam Baka untuk menantangnya, bila Patih Vharok kalah, maka silakan pemenang untuk menantang Raja Gupala,” tambah orang tersebut.

Mendadak terdengar suara rakyat dan mendadak mereka saling beropini masing-masing tentang kesempatan itu. Vharok tersenyum.

“Aku kalau sakti, aku akan ikut, biar jadi raja,” ujar salah satu rakyat  pria muda berewokan.

“Aku juga, berarti benar ya, boleh jadi raja kalau kita punya kemampuan mengalahkan seorang raja,” ujar seorang rakyat pria berbadan kurus dengan rambut digelung.

“Bukankah banyak raja berasal dari para pemberontak yang mengalahkan raja sebelumnya, sepertinya memang boleh kalau kita sakti,” tambah rakyat pria berkumis tebal.

Mendadak suara mereka berhenti saat melihat seseorang melompat ke tengah arena. Pria ini bertopeng dan berpakaian sederhana, namun dari kain yang digunakannya, terlihat bukanlah dari kalangan menengah ke bawah, kainnya terlihat mewah.

“Aku Banyu Biru menantangmu,” tubuhnya lalu bersiaga dan mengarah ke Vharok.

“Hm…,” Vharok mendengus dan mulai berdiri dengan malas-malasan, lalu bergerak dengan sangat santai dan meremehkan orang tersebut yang telah siaga dengan serius.

Setelah berhadapan. Seseorang masuk dan menunjukkan satu sisi koin kepada Vharok bahwa itu adalah sisi koin miliknya, dan menunjukkan sisi koin lainnya kepada penantang tersebut.

Lalu koin dilemparkan, jatuh menggelinding dan berhenti. Kemudian orang tersebut berkata, ”Siapa yang keluar dari arena ini, maka dia dianggap kalah. Banyu Biru silakan menyerang terlebih dulu!” lalu orang tersebut minggir dari arena.

Segera Banyu Biru melancarkan serangan dengan cepat. Tetapi herannya tidak satu pun serangannya yang berhasil mengenai Vharok, seolah Vharok mampu bergerak lebih cepat.

Kemudian dalam satu kesempatan Vharok langsung  melayangkan pukulan telaknya ke arah dada lawannya.

BLEEEGH!

Pukulan itu sangat telak. Orang tersebut terpental keluar arena pertandingan dan menghantam tembok istana dan jatuh tak sadarkan diri.

UOOOOH!

Penonton berteriak kecewa.

Belum selesai penonton berhenti berkomentar.

Mendadak seseorang muncul, rambutnya panjang, gimbal dan seperti tidak mandi berhari-hari. Orang tersebut berjalan santai memasuki arena pertandingan.

Orang tersebut tanpa menunggu undian untuk memulai siapa yang terlebih dulu segera menyerang Vharok. Hal ini membuat orang yang mengundi tadi yang sudah melangkah masuk ke arena menjadi mundur dan minggir lagi.

Orang rambut panjang gimbal tadi berhasil mengenai Vharok. Tetapi Vharok dengan santai seperti tidak merasakan apa-apa.

Dengan cepat orang tersebut memukul lebih keras dan cepat. Vharok diam saja, dengan segera orang tersebut mengganti menyerang dengan kaki. Ditendangnya Vharok berkali-kali sampai kakinya kesakitan sendiri.
HA HA HA HA  HA

Suara tawa penonton seperti mendapat hiburan lucu.

Lalu orang tersebut lari mundur dan melompat dengan menendangkan kakinya ke arah wajah Vharok.

Dengan santai Vharok segera memegang kaki orang tersebut yang hampir mengenai wajahnya, lalu memutar-mutarkan orang tersebut dengan memegang kakinya dan melemparkan ke luar arena.

“Aku tunggu sampai siang, bila tidak ada yang muncul lagi dan berhasil mengalahkanku, acara utama kita akan dimulai ha ha ha,” ujar Vharok percaya diri. Semua terdiam.

“Tidak usah menunggu siang, aku siap menghadapimu,” ucap Gupala.

UOOOOOOOOOWH!

Orang-orang mendadak ramai berkomentar, ada yang berbisik-bisik dan ada yang tidak percaya dengan apa yang mereka dengar tadi.

“Ha ha ha ha baiklah, sepertinya sudah ada yang mulai tidak sabar untuk turun takhta,” Vharok sinis dan meremehkan.

Melihat hal tersebut, si pengundi segera masuk arena. Menunjukkan sisi koin mana milik Vharok dan sisi koin mana milik Gupala. Lalu dilemparkannya, koin jatuh menggelinding.

Rakyat tegang. Sementara itu, Gupala turun dengan aura wibawa yang sangat kuat, namun wibawa saja tidak cukup, perlu kekuatan untuk dapat tetap mempertahankan takhta kerajaannya, dan rakyat tahu Gupala tidaklah seseorang yang muda lagi.

CLEKH

Koin mulai menunjukkan sisi mana yang akan menyerang duluan. Sisi koin menunjuk milik siapa. “Siapa yang keluar dari arena, dianggap kalah. Gusti Vharok, silakan menyerang terlebih dulu,” ujar orang yang bertugas sebagai pengundi siapa yang menyerang duluan.

Vharok tersenyum, ”Baiklah Gupala, ini adalah hari paling nista dalam hidupmu… HIAAA!” Vharok menyerang dengan sangat cepat, melebihi kecepatan mata penonton pada umumnya.

Serangan pukulan maut itu pasti tidak akan meleset. Tinggal beberapa senti lagi, mendadak.

BUUUF!

Vharok heran, pukulannya tidak mengenai Gupala sama sekali. Area di tempat Gupala berdiri kosong.

Rakyat mendadak riuh rendah karena tertawa dan gembira. Masih bingung dengan apa yang terjadi. Vharok membalikkan tubuhnya dengan cepat.

Tapi dia tidak melihat Gupala di belakangnya. Rakyat semakin gembira dan semakin tertawa lebih keras dari semula.

Penasaran Vharok melihat ke belakang tubuhnya lagi, kali ini lebih cepat dari sebelumnya.

Rakyat tertawa lagi, kali ini suara mereka lebih banyak lagi. Vharok mulai panik, sepertinya mereka menertawakan dirinya.

Kali ini dia mengerahkan kecepatan species-nya, dan dia berhasil melihat ternyata Gupala mempunyai kecepatan seperti yang dia miliki, bahkan jauh lebih cepat lagi.

“TI… TIDAK MUNGKIN!” teriaknya.

Gupala mulai melambatkan gerakannya dan berhenti menghadapi Vharok di tengah arena.

“Apa yang tidak mungkin hmm?” tanya Gupala dengan wajah ramah dan bijak.

Rakyat mulai mengelu-elukan Gupala. Sepertinya mereka mulai tumbuh keyakinan bahwa raja mereka bukanlah raja yang lemah walaupun usianya jauh lebih tua.

“Lebih tua pasti lebih sakti, oleh karena itulah dia jadi raja,” ujar salah satu rakyat.

“Iya, aku juga mulai yakin kalau raja kita itu hebat,” timpal rakyat lainnya menyahut dengan semangat.

Dengan santai dan percaya diri Gupala bersiaga dan menggerakkan telapak tangannya di depan sebagai undangan agar Vharok menyerang terlebih dulu.

Kali ini Vharok berhati-hati. Jelas ini di luar apa yang dia harapkan, mengapa Gupala menjadi punya kekuatan seperti dirinya bahkan seperti raksasa-raksasa yang membantunya selama ini.

“Apakah kau keturunan raksasa?” tanya Vharok penasaran sembari bersiap-siap untuk menyerang Gupala.

 “Menurutmu bagaimana?” jawab Gupala dengan senyum penuh percaya diri.

“SIAL!” teriak Vharok lalu menyerang Gupala dengan sangat cepat. Melebihi kecepatan yang belum pernah dilakukannya sebelumnya.

Walaupun dengan kecepatan yang sudah maksimum tersebut, Gupala masih terlihat melebihi kecepatannya dan mampu menghindar dengan mudahnya, tetapi herannya walaupun banyak celah bagi Gupala untuk menjatuhkan Vharok, sepertinya dengan sengaja Gupala tidak membalasnya.

Akhirnya, Vharok berhenti, ”Mengapa kau tidak membalas bahkan balik menyerang, walaupun ku tahu kau mampu melakukannya?”

“Mengapa aku membalasmu, punya kekuatan lebih hebat dari orang lain bukan berarti kita boleh mempermainkan orang lain, dibutuhkan rasa kasih yang sangat tinggi bila memiliki kemampuan yang lebih…”

“… di situlah jawaban mengapa orang yang diberi kelebihan seharusnya sudah bijaksana, bukan malah kekuatan itu membuat kita menjadi pongah dan menghancurkan yang lain,” jelas Gupala.

“Justru orang yang tidak punya kekuatan apa-apa cenderung merasa dia mempunyai segalanya dan mampu menghancurkan yang lainnya, masih primitif, iri dan dengki masih ada dalam pikirannya,” tambah Gupala.

“Diam!” lalu Vharok mengambil kerisnya. Kerisnya berbentuk unik. Keris tersebut diarahkan ke Gupala. Lalu dengan jempolnya, dia seperti menekan sesuatu.

Mendadak keris tersebut bersinar.

WHUAAAAH!

Suara rakyat sangat kagum. Seperti kerisnya terbuat dari sinar. Keris sinar itu kini ditusukkan ke arah Gupala.

Gupala berkelebat menghindari serangan keris sinar tersebut.

Pada suatu kesempatan Gupala tidak sempat menghindar, tetapi mendadak tubuh Gupala seperti mengeluarkan sinar pelindung, sehingga keris sinar tersebut membal terbentur sinar pelindung tubuh Gupala.

Setelah tahu hal itu. Vharok seperti mundur beberapa langkah, memutar sesuatu di kerisnya.

Mendadak seberkas sinar mengarah kepada Gupala. Dengan sigap Gupala menghindar, bekas sinar tersebut mengenai dinding istana dan dinding tersebut langsung berlobang. Rakyat sontak berlarian menjauhi area pertarungan.

“Lari, lari!” teriak pria gendut yang menyaksikan pertarungan tersebut menjauhi arena.

“Orang sakti bertarung! Menghindaaaar!” ujar pria berpakaian bangsawan yang menonton di area tersebut sembari menjauh.

“Berbahaya menjauh, menjauh!” teriak rakyat satunya lagi yang sedang berlari menjauhi area tersebut.

Hal tersebut membuat Vharok semakin membabi buta menembakkan sinar dari keris tersebut ke arah Gupala.

Mendadak sepertinya Gupala sudah tidak mau bermain-main lagi. Dengan kecepatan melebihi kecepatan semula. Gupala menyarangkan pukulan telak dan mengenai perut Vharok.

Vharok terlempar ke luar arena pertarungan. Pukulan tersebut membuatnya pingsan. Segera saja rakyat bersorak gembira.

Rakyat mengelu-elukan Gupala. Prajurit pengikut Vharok melepaskan pita merah mereka. Vharok dengan segera digotong menggunakan tandu ke dalam istana.

Kemudian Gupala berdiri dengan gagah, ”Mulai hari ini kalian tidak perlu merasa takut lagi di istanaku, kerajaan masih tetap milikku, milik kita, kerajaan kita, aku jamin keamanannya, mari majukan bersama-sama sehingga tetap gemah ripah loh jinawi!” suaranya mantap dan sangat bijak.

“Sudah kukatakan, raja kita memang hebat!” ujar pria berkumis.

“Iya, setujuuuu!” ujar pria bertompel di pipinya dengan gembira.

Setelah mereka semua kembali masuk ke istana. Roro Jonggrang menemui Raja Gupala di ruangan istana.
“Kau hebat sekali,” puji Roro Jonggrang.

“Jaga sikapmu Roro, kenapa kasar sekali kau memanggil ayahanda?” Loro Jongrang ketus.

“Loro tenaaaaang, tidak apa-apa,” ujar Gupala lalu mendadak berubah menjadi Bondowoso.

“AAAAH… SIAPA KAU!” Loro Jonggrang mundur mendadak setelah dia tahu bahwa orang tersebut bukan Gupala.

“STTT… tenang Loro, dia kekasihku, Bondowoso… Stttt… tenaaaaaang,” ucap Roro Jonggrang sembari meletakkan telunjuknya di depan mulutnya yang memonyong.

“Bu… bukankah Bondowoso itu jelek banget, kok ini beda?” Loro Jonggrang mulai melunak dan ragu-ragunya mulai menghilang.

“Dia sepertinya mempunyai aji nyilih rupo, sakti sekali,” Loro Jonggrang memuji.

“Ah… iya, itu masquerade camouflage hologram around the body yang digunakan untuk meniru tampilan orang lain untuk digunakan menyamar menjadi orang lain,” ujar Bondowoso menjelaskan.

“Baiklah aku tak tahu apa yang kau katakan, kenapa kau tidak memberitahuku?” kata Loro Jonggrang kesal kepada Roro.

“Wajah dengan ekspresi asli yang seperti itu yang kami butuhkan, agar orang lain yakin bahwa dia adalah ayah kita,” jawab Roro Jonggrang.

“Sekarang katakan di mana ayah?” Loro celingukan mencari ayahnya.

“Di sini,” ujar suara seseorang.

“Bandung!” Bondowoso dan Roro Jonggrang teriak bersamaan saat mereka melihat Gupala sedang ditawan oleh Bandung dengan pistol milik Bandung telah berada di leher Gupala.

“Bandung apa yang kau lakukan?” tanya Roro Jonggrang tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.

“Entahlah, tetapi menjadi raja adalah hal yang aku cita-citakan selama ini,” jawab Bandung dengan senyumnya yang mendadak menjadi beraura jahat.

Bondowoso memerhatikan tubuh Gupala, dia melihat Bandung seperti menggunakan teknologi modern, entah darimana teknologi modern tersebut dan Bondowoso tidak tahu kegunaan dari alat-alat modern ditubuh Bandung tetapi dia melihat pistol ulekan canggihnya sudah ada di sana.

“Kau ingin jadi raja?” tanya Bondowoso.

“Kekuatan apa yang kau miliki sehingga berani seperti itu,” tanya Bondowoso.

“Kekuatan? Ha ha ha ya memang kekuatan sangat penting, tapi aku tidak perlu menunjukkannya kepadamu bukan ha ha ha,” Bandung dengan percaya diri berkata seperti itu ataukah hanya menggertak saja.

Bondowoso bergerak maju.

“Jangan memaksaku!” ujar Bandung sembari menekan pistol ke leher Gupala.

Mendadak seseorang menerobos dari belakang jendela. Ternyata Aryakreyan yang berusaha menyelamatkan rajanya.

Hal ini membuat Bandung panik dan dengan nekat ditekan tombol senjata ke Gupala sehingga tubuhnya hancur menjadi partikel kecil dan segera Bandung menembak Aryakreyan, sehingga Aryakreyan hancur menjadi partikel-partikel kecil dan tertiup angin.

Kejadian ini begitu cepat dan tidak terduga. Loro dan Roro Jonggrang berteriak dan menangis. Bondowoso tidak sempat berbuat sesuatu. Di saat semuanya masih tercengang dengan kejadian tersebut.

Bandung dengan sigapnya harus mencari solusi pengganti tawanannya, dengan bergerak sangat cepat Bandung berhasil menarik Loro Jonggrang yang ada di dekatnya dan dibawanya kabur.

Bondowoso tercengang dengan kecepatan gerak Bandung. Hal seperti itu tidak dapat dilakukan oleh orang di zaman itu.

Roro masih menangisi ayahnya yang hancur jadi debu. Suasana menjadi hening, beberapa prajurit berdatangan ke tempat tersebut dan melihat hal tersebut, mereka tidak percaya akan apa yang terjadi.

Raja mereka yang hebat luar biasa telah tewas, entah oleh siapa. Mereka segera mengelilingi dan menodongkan senjata mereka ke arah Bondowoso karena hanya dia yang tidak mereka kenal.

Hari berkabung berjalan selama sehari. Roro Jonggrang memerintahkan seorang prajurit untuk membawa Bondowoso ke hadapannya.

“Orang ini bernama Bondowoso, dia bukanlah pembunuh ayahku, lepaskan dia,” ujar Roro Jonggrang.

“Baik gusti putri,” jawab Jaran Sewu yang mengantarkan Bondowoso dari sel ke hadapan Roro Jonggrang.

“Siapa namamu?” tanya Roro Jonggrang.

“Jaran Sewu gusti,” jawab Jaran Sewu.

“Baiklah Jaran Sewu, tinggalkan kami,” ujar Roro Jonggrang.

“Ta… tapi gusti,” jaran Sewu ragu-ragu.

“Aku tahu kau peduli dengan keselamatanku, jangan khawatir, dia orang yang baik,” jelas Roro Jonggrang.

“Baiklah gusti,” Jaran Sewu pun meninggalkan area tersebut.

“Maafkan atas kesalahpahaman ini,” ujar Roro Jonggrang.

“Aku tahu, mereka tidak tahu apa yang mereka lakukan, dan penjaranya tidak begitu buruk, aku mendapatkan makanan yang lebih sehat, seperti menu diet pengurus tubuh,” jawab Bondowoso.

“Mengapa Bandung berubah seperti itu, dan di mana teman-teman kita yang lain,” tanya Roro Jonggrang penasaran.

“Aku bisa menjawabnya,” mendadak Bhorghat muncul di ruangan tersebut.

“Bawa mereka masuk,” ujar Bhorghat.

Lalu raksasa-raksasa tersebut membawa masuk Wanara, Pikatan dan Garudeva yang telah menjadi patung es.

“Kenapa mereka? Dan mereka dingin sekali,” Roro Jonggrang berkata setelah menyentuh patung-patung es tersebut.

“Sepertinya Bandung berhasil mengambil senjata Bondowoso, eh… maksudku, saya yang memberikannya dalam kantung agar diberikan ke Bondowoso, tetapi ternyata Bandung membukanya sebelum diberikan kepada Bondowoso”

“Bandung sepertinya telah menemukan cara untuk menggunakannya,” jelas Bhorghat.

“Dan kini Bandung memiliki tawanan Loro Jonggrang sekaligus ibunya Vharok,” jelas Bhorghat.
“Kenapa bisa begitu?” tanya Bondowoso.

“Karena setelah aku berikan senjatamu itu, tak berapa lama Bandung balik lagi mencariku, kebetulan saat itu aku juga sedang ada di luar istana, kupikir dia akan membicarakan sesuatu untuk perjuangan kalian, dan dia berhasil menipuku untuk ke ruangan penelitian kami,” lanjut Bhorghat.

“Lalu aku tunjukkan apa saja penelitian kami, seperti pakaian tempur model terakhir dengan nama G-TotKc, armor ini menyesuaikan bentuk tubuh pemakainya dan membuat seseorang menjadi sangat kuat dan cepat, bergerak melebihi kami…”

“… tidak itu saja, ada beberapa fungsi senjata yang mematikan di dalamnya semoga Bandung belum mengetahui kemampuan sesungguhnya dari G-TotKc tersebut,” Bhorghat menghela napas.

“Lalu beberapa prajurit metal kami yang dapat dikendalikan menggunakan perintah suara, kami semua tunjukkan sebagai  tour kepadanya, dan tidak ada pikiran bahwa dia menjadi seperti yang kalian lihat,” jelas Bhorghat.

“Hm… typical makhluk yang telah tercerahkan karena evolusi, cenderung jujur, tanpa prasangka dan selalu positive thinking,” ujar Bondowoso.

“Apakah kalian punya teknologi yang mampu membalikkan mereka menjadi normal lagi?” tanya Bondowoso menunjuk ke Wanara, Pikatan, dan Garudeva yang membeku menjadi es.

“Eh… maaf tidak ada, Bandung merusak sebagian besar persenjataan dan alat komunikasi kami,” Jelas Bhorghat.
“Hmm… baiklah,” lalu Bondowoso mendekati Patung Garudeva, menyentuhnya dan berkata,”Gumo Medical technology normalize the freeze victim by ion gun, back to normal,”.

Mendadak beberapa kilauan cahaya yang terdiri dari ribuan gumo technology berpindah dari tangan Bondowoso ke Garudeva yang menjadi es.

Lalu Bondowoso berpindah dan melakukan hal yang sama kepada Pikatan dan Wanara. Tak berapa lama Garudeva, Pikatan dan Wanara perlahan mulai kembali normal, kaki dan jemari mereka dapat digerakkan dengan perlahan dan kemudian semakin cepat lalu mereka terjatuh.

Setelah itu Bondowoso menyentuh tubuh mereka satu persatu dan Gumo technology balik lagi ke tubuh Bondowoso.

“Terima kasih Azrael skrieeeech,” ujar Garudeva.

“Hai teman,” ujar Pikatan sembari memeluk Bondowoso.

“Terima kasih,” ucap Wanara.

“Nah kalian sudah normal kembali, apa rencana kita selanjutnya untuk mengalahkan Bandung?” tanya Roro Jonggrang dengan wajah sedih tetapi terlihat penuh amarah. Semua memandang ke Roro Jonggrang.

“Kulihat Bandung adalah orang yang motivasinya murni menjadi raja, tidak sama seperti Vharok karena sebenarnya kekuasaan tidak begitu penting, tetapi Vharok seorang yang pendendam memang iya, jadi sepertinya justru Bandung yang akan agresif kepada kita,” ujar Bhorghat.

“Kita?” Roro Jonggrang menekankan.

“Ya kita,” mendadak Vharok muncul di ruangan tersebut berjalan dengan perlahan tetapi pasti.

bersambung....


Cerbung ini ada di majalah AN1MAGINE Volume 2 Nomor 4 April 2017 eMagazine Art and Science yang dapat di-download gratis di Play Store, share yaa


“Menerbitkan buku, komik, novel, buku teks atau 
buku ajar, riset atau penelitian di jurnal? An1mage jawabnya”

AN1MAGINE BY AN1MAGE: Enlightening Open Mind Generations
AN1MAGE: Inspiring Creation Mind Enlightening 
website an1mage.net www.an1mage.org

Komentar

Page Views

counter free

Visitor

Flag Counter

Postingan populer dari blog ini

STANLEY MILLER: Eksperimen Awal Mula Kehidupan Organik di Bumi

CERPEN: POHON KERAMAT

Menerbitkan buku di An1mage