Roro Jonggrang di An1magine Volume 1 Nomor 9 November 2016


VHAROK
M.S. Gumelar


“Tetaplah di situ, aku akan mencari buruan, dan kau masak ya, kau pandai memasak seingatku.”

PLAK PLAK PLAK

Garudeva mengepakan sayapnya menjauh dari tempat itu untuk mencari buruan.

*

Bandung meminum lagi jamu yang diberikan Wanara. Demikian juga Pikatan,”Pahiiit!” teriak Pikatan, lalu segera setelah menghabiskannya ia  mengambil asem manis yang ada di tangan Wanara.

“Sepertinya kau tidak begitu merasa sakit… tubuhmu?” tanya Bandung kepada Wanara.

“Ha ha ha iya gusti, selain minum jamu yang sama, saya juga selalu menggunakan pakaian rangkap dengan bahan kulit ulin, kekuatannya mirip besi, tetapi lebih mudah untuk dibentuk menjadi pakaian sejenis pakaian pelindung,” jelas Wanara.

“Ah ternyata, ada baiknya pasukan kerajaan kita menggunakan pakaian pelindung seperti itu, pintar sekali kau,” puji Bandung kepada Wanara sembari menjelaskan harapannya pada pasukan yang dimilikinya.

“Bisakah dalam waktu dekat kita mendapatkannya, minimal tiga lagi, eh empat lagi. Sudah waktunya kita menjemput Roro Jonggrang!” Bandung jadi teringat.

“Sepertinya tidak bisa gusti, ada baiknya lain kali dalam misi lainnya, iya ada baiknya kita segera menjenguk Jonggrang,” jelas Wanara dan setuju untuk melihat Jonggrang.

“Hari sudah sore, ada baiknya besok saja, kalian kan berjalannya sudah lebih baik, tetapi berjalan agak jauh pasti masih tertatih-tatih kayak kakek-kakek, lihat aku, jalanku aja kayak aki-aki he he he,”

Pikatan menawar sembari berdiri dan berjalan memeragakan seperti gerakan kakek-kakek yang kesulitan dan gemetar saat berjalan sembari memegang pinggangnya.

HA HA HA HA HA

Semuanya tertawa dengan ulah Pikatan tersebut.

Istana Baka, istana yang indah berada di area bukit, terhampar dari tampak jauh Gunung Merapi terlihat jelas dan tampak lebih jauh lagi Gunung Merbabu diselimuti awan sore.

Duduk di ruangannya yang megah patih amungkubumi.

Duduknya tidak tenang dan tampak kesal lalu mendadak dia berteriak,”Dvarghaaaaa!”

Seketika muncul dengan cepat sekelebat mahluk dengan tinggi sekitar 3,5 meteran.

“Hamba gusti,” jawab Dvargha.

“Apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Vharok.

“Mohon maaf gusti, dia bernama Bondowoso, sepertinya ingin memasuki istana, keperluannya tidak jelas, tetapi yang jelas, dia mampu menewaskan 5 anggota pasukan kami,” jelas Dvargha.

“APAAAAAA!” bentak Vharok.

“Bukankah kalian batara-batara, kenapa tewas? Apakah ia juga batara?” bentak Vharok.

“Iya gusti,” jelas Dvargha.

“Berarti dia juga bisa membunuhku, aku pikir aku tidak akan bisa mati, ternyata?...” gumam Vharok.
“Gusti adalah campuran antara kaum kami dan kaum manusia, sehingga lebih kuat, tetapi kami tidak pernah bilang bahwa kami juga tidak bisa mati, kami hanya berusia lebih lama dari manusia, namun tetap akan mati,” jelas Dvargha.

“Akh, ternyata, berarti minimal aku hidup setengahnya umur kalian, berapa umurmu sekarang?” tanya Vharok.

“Lima ratus tahun versi kaum manusia gusti,” jawab Dvargha.

“Dan aku minimal akan hidup dua ratus lima puluh tahun, ha ha ha ha paling tidak lebih lama dari manusia lainnya, cukup adil,” ujar Vharok.

“Berapa umur kaummu bila mati secara alami?” tanya Vharok.

“Seribu lima ratus tahun versi kaum manusia gusti,” jelas Dvargha.

“Ah ternyata, mungkin minimal bisa 750 tahun ha ha ha,” Vharok tertawa gembira.

“Iya gusti, selama gusti tidak terbunuh oleh Bondowoso, mungkin akan hidup selama itu,” jawab Dvargha.

“BONDOWOSO! HUUEEEEH!” Vharok geram mendengar kata-kata itu.

“TEMUKAN DAN HABISI DIAAAA!” perintah Vharok dengan murka.

“Baik gusti, laksanakan!” jawab Dvargha lalu dengan gerakan sangat cepat keluar lari ruangan tersebut, karena sangat cepatnya sehingga berkesan menghilang.

Kemudian setelah itu Vharok menuju ke suatu ruangan dan melihat wanita tinggi sekitar 3,25 meteran bertubuh ramping, cantik dan berkulit sangat pucat.

Wanita cantik tersebut tersenyum melihat Vharok mendekatinya, terlihat gigi-giginya yang berupa taring semua, sehingga senyumannya lebih mirip seringai.
“Ada apa anakku, kau tampak bersedih?” tanya wanita itu yang ternyata ibunya Vharok.

“Aku pikir aku tidak bisa mati, melihat tubuhku terluka dan sembuh demikian cepat, dan usiaku sekarang seratus tahun dan tampak seperti usia dua puluh lima tahunan, ibu tidak pernah cerita ternyata aku juga bisa mati,” ujar Vharok kesal.

“Ah, aku pikir kau tidak pernah bertanya dan sepertinya sudah memercayai bahwa kau tidak bisa mati, bagi ibu, melihatmu senang itu sudah cukup,” jawab ibunya.

“Dendamku pada keluarga Gotawa karena membunuh ayahku delapan puluh tahun yang lalu akan terbalas, sekaligus merebut kerajaan keturunannya akan segera terjadi, mendadak muncul penghalang dengan nama Bondowoso, sial!” gerutu Vharok.

“Hmm… ayahmu punya cita-cita besar seperti kau anakku, oleh karena itulah aku mau menjadi pendamping hidupnya, pertemuan yang tidak terduga, kami jatuh cinta, ayahmu tidak melihat ibu sebagai perbedaan, demikian juga ibu, dan kami pun melanjutkan hubungan sampai lahirlah kau anakku, yang gagah perkasa,” jelas ibunya.

“Kenapa kau tidak membalaskan dendam atas kematian ayah!” Vharok menekan kata-katanya sehingga terkesan menahan amarah.

“Kau telah menanyakan hal tersebut berkali-kali anakku, dunia ini sangat luas, melebihi apa yang kamu bayangkan, dan dunia ini punya hukum, ibu terikat hukum untuk tidak ikut campur urusan manusia, bukankah ibu selalu menjawabnya demikian?” ibunya menjelaskan dan balik bertanya.

“Jawaban BODOH!” teriak Vharok.

“Hei anakku, aku tidak mengajarkan berkata-kata kasar, semakin besar kau semakin berbeda dengan ayahmu, ibu merasa sedih,” mata ibu Vharok tampak seperti berkaca-kaca.

“Aku harap kau bisa berubah dan mulai menjadi lebih bijaksana sayang, usiamu seratus tahun tidaklah muda bagi ukuran manusia, menurut ibu cukup untuk segera berubah menjadi lebih baik” tambah ibunya.

BRUAAAAKH

Vharok keluar ruangan tersebut dengan menutup pintu keras sekali.

Ibu Vharok yang terlihat anggun, cantik, sekaligus seperti menyeramkan itu ternyata terlihat memiliki pancaran kebijaksanaan dan rasa peduli yang tinggi dari matanya.

Di tepi sungai, Bondowoso sedang mencelupkan tangan-tangannya dan mendadak dia dengan gembira segera mengangkat tangannya sembari berteriak.

“Kena kau!” sembari matanya melihat seekor lele besar yang sedang menelan tangannya, tetapi Bondowoso tidak merasa kesakitan, walaupun sedikit gigi lele besar tersebut menancap ke lengannya, tetapi tidak masalah baginya.

Kemudian dia bergegas keluar dari sungai dan menuju ke teman-temannya dan dari jauh Bondowoso melihat Bandung dan Pikatan yang baru keluar dari tendanya.

“Selamat pagi,” ujar Pikatan kepada Bandung.

“Met pagi Pikatan,” ujar Bandung membalasnya.

“Sepertinya badan kita sudah lumayan segar, apakah kita akan segera berangkat,” ujar Pikatan.

“Ya, kita akan berangkat setelah sarapan, liat, aku mendapatkan lele besar sekali,” ujar Bondowoso.
“Ho ho ho ngeri, bagaimana lele bisa sebesar itu ya, sekitar dua meter, dan kau tidak apa-apa, bagaimana kau menangkapnya?” ujar Bandung.

“Dengan membuat tanganku sebagai umpan,” ujar Bondowoso.

 “Pantas, sebab bau tanganmu seperti ikan,” canda Wanara sembari menyiapkan pembakaran ikan tersebut.

“HA HA HA HA HA,” semuanya tertawa.

“Bumbu yang ditinggalkan Iyem sepertinya masih cukup,” ujar Pikatan menambahkan sembari mulai menyiapkan dan meracik bumbu-bumbunya.

“Baiklah, sepertinya kayu-kayu kering ini cukup untuk membuat ikan lele itu matang,” Wanara meletakkan beberapa kayu bakar yang dia dapat dari area sekitar, lalu segera berupaya menyalakan lagi api unggun yang hampir mati.

Ditiup-tiupnya api kecil tersebut dan dia menambahkan beberapa daun kering serta kapas yang akhirnya membuat api menyala lagi, dan dia segera menambahkan ranting-ranting kecil yang kering sehingga nyala apinya perlahan mulai membesar lagi.

Setelah bakaran sudah matang dan siap, mereka menikmati bakaran lele tersebut dan bercanda. Namun di sela-sela candaan mereka.

Mendadak muncul sebanyak tiga puluh orang yang tinggi-tinggi berkuda mendekati mereka, pakaian mereka memang ala kerajaan kuno di zaman tersebut, namun pakaian mereka serba berwarna hitam.

“Aku telah mencium bau busukmu yang khas berkilo-kilo meter dari sini Bondosowo,” ujar Dvargha yang ternyata menjadi pimpinan rombongan itu.

Bandung, Pikatan, dan Wanara telah siaga, sedangkan Bondowoso telah berdiri paling depan di antara teman-temannya, menghadang 30 penunggang kuda itu.

“Hah ternyata kalian tidak hangus terkena sinar matahari, seperti dalam cerita-cerita drakula itu,” ujar Bondowoso bercanda.

“Drakula?” Dvargha mengatakan hal itu dan tidak mengerti.

“Ha ha ha kalian tidak mengerti, itu candaan yang lucu, ha ha ha!” ujar Bondowoso sembari tertawa, hal itu membuat Dvargha dan teman-temannya saling berpandangan tak mengerti.

“DIAM!” teriak Dvargha ke arah Bondowoso.

“He he he. Hei ini lelucon yang bagus, he he he,” Bondowoso masih menimpali dengan tenang di antara teman-temannya yang kebingungan dan sudah siap untuk bertarung.

“Baiklah, apa maksudmu mengejar kami?” tanya Bondowoso mulai serius.

“Sederhana, kau ikut dengan kami, atau kami bunuh teman-temanmu,” ujar Dvargha.

“Oh… berarti bila aku ikut kalian, teman-temanku tidak akan kau ganggu?” ujar Bondowoso menyakinkan.

“Benar, kau tahu, makhluk yang terevolusi lebih tinggi seperti kami tidak akan mengingkari janji,” ujar Dvargha.

“Hmm bisa iya bisa tidak, tetapi baiklah,” ujar Bondowoso.

“Apa?” Bandung tidak percaya dengan apa yang didengarnya dan menatap Bondowoso. Pikatan dan Wanara juga saling pandang.

“Bawa aku ke pemimpinmu,” ujar Bondowoso lebih jelas lagi.
“Ha ha ha ternyata tidak sulit, geledah dia dan bawa dia!” ujar Dvargha.

Empat anak buah Dvargha segera turun dari kudanya, memeriksa tubuh Bondowoso dan mengambil beberapa alat yang dibawanya, lalu mengikat Bondowoso dengan alat aneh yang mampu mengikat tangan Bondowoso dengan ketat, dan mendadak alat tersebut seperti punya sulur ajaib.

Selain melingkari tangan Bondowoso, segera pula melingkari ke tubuhnya, sehingga tangannya benar-benar tidak dapat bergerak karena terikat pula ke bagian pinggang.

“Ayo balik ke Baka!,” ujar Dvargha.

Bandung, Pikatan, dan Wanara bengong saja melihat hal tersebut, tanpa bisa berbuat apa-apa lagi, mereka tahu, kemampuan beladiri dan kecepatan mereka bertiga tidak akan mampu mengalahkan satu dari orang-orang tersebut, hanya Bondowoso yang mampu melakukannya, dan dia pun tidak melawan bahkan menyerahkan dirinya.

“SIAAAAAAL!” teriak Bandung, dengan membanting blangkonnya setelah rombongan Dvargha yang membawa Bondowoso sebagai tawanan menjauh.

“Apa rencana kita gusti?” ujar Pikatan.

“Ada baiknya tetap pada rencana semula, yaitu bertemu dengan Roro Jonggrang terlebih dulu,” usul Wanara.

“Baiklah, benar kata Wanara, cuma sepertinya hanya Bondowoso yang tahu di mana kita akan bertemu dengan Jonggrang, itu yang akan menyulitkan kita, ada baiknya kita perlu persiapan dulu, adakah cara lain mendapatkan kayu ulin di area sini Wanara?” ujar Bandung.

“Ada gusti, tetapi jauh, ada hutan yang ada kayu ulin di dataran rendah area sana, perlu waktu dua hari perjalanan naik kuda,” ujar Wanara.

“Kita punya tugas menyelamatkan kerajaan ini, tetapi masalah waktu, sepertinya memang kita tidak bisa cepat setelah mengetahui kendala yang kita hadapi, sepertinya ilmu dan beladiri kita tertinggal jauh,” kata Bandung.

“Ada baiknya kita mempersiapkan diri dan bila dibutuhkan, kita akan merekrut beberapa orang yang kita anggap cukup hebat untuk membantu kita mengatasi orang-orang tinggi besar dan cepat tersebut, kita ke arah kayu ulin itu berada!” ujar Bandung menambahkan.

“Baik gusti!” ujar Pikatan dan Wanara.

SKRIEEEEEECH!

Sebentuk elang besar mendadak turun dari langit dan mendarat dengan mulus di atas pohon kapuk besar, sehingga kapuk-kapuk beterbangan terkena angin dampak hentakan sayapnya.

“Bandung Skrieeeech!” ujar Garudeva.

“Dewa?” Bandung terkesima dengan pemandangan yang ada di depannya. Makhluk gagah berbentuk elang besar tetapi juga hampir mirip manusia.

Bertengger di dahan yang kuat dengan terlihat perkasa dan mengagumkan. Demikian juga Pikatan dan Wanara yang segera bersujud simpuh.

“Oh bukan, namaku Garudeva, aku mendapat kontak via mind network, eh oh lewat telepati eh lewat doa eh oh… untuk menemui kalian di sini, dan mempertemukan kalian dengan Jonggrang,” ujar Garudeva.

“Jonggrang, di mana dia?” ujar Bandung bersemangat.

“Baiklah, ikutilah aku, aku akan terbang terlebih dulu, dan kalian ikuti aku dari bawah,” ujar Garudeva, lalu segera terbang ke suatu arah.

Bandung segera bergegas mengikuti Garudeva dengan kudanya. Saat dia merasa sendirian, dia menoleh ke Pikatan dan Wanara yang masih sujud bersimpuh.

“Ayo Pikatan, Wanara, ikuti dia,” perintah Bandung, Pikatan, dan Wanara segera mendongak ke arah suara Bandung, lalu bergegas menaiki kudanya dan mengikuti Bandung.

Sekitar setengah jam Bandung mengikuti Garudeva akhirnya tiba di suatu mulut goa.

Bandung melihat Roro Jonggrang berada di sana, kemudian manusia burung tadi turun dengan segera dan berada di samping Jonggrang.

“Roro Jonggrang, syukurlah kau baik-baik saja,” ucap Bandung setibanya di depan Roro Jonggrang.

Demikian juga Pikatan dan Wanara segera turun dari kudanya dan gembira melihat Jonggrang. Mata Jonggrang mencari-cari sesuatu.

“Mana Bondowoso?” Roro Jonggrang bertanya dan menatap Bandung.

“Eh bukankah sudah ku katakan, Bondowoso menjadi tawanan kerajaan Baka, Skrieeech” ujar Garudeva kepada Jonggrang.

Jonggrang menoleh ke Garudeva, ”Iya, cuma aku menyakinkan saja apakah benar seperti itu?”

“Sebagai dewa tentu dia akan tahu,” ujar Bandung.

“Aku bukan dewa, skrieeeeech!” jelas Garudeva.

“Baiklah, rencana kita bagaimana selanjutnya?” Jonggrang bertanya.
“Kalian menunggu saja di sini, skrieeeech,” Garudeva berkata.

“Menunggu?” ujar Bandung balik bertanya.

“Iya Skrieeeech, menunggu, Bondowoso akan ke sini,” ujar Garudeva.
“Berapa lama?” tanya Roro Jonggrang.

“Entahlah skrieeeech, tetapi dia bilang minimal satu hari saja, skrieeech” jawab Garudeva.

“Satu hari ya, hmm… begini dewa, hamba perlu bantuanmu,” ujar Bandung kepada Garudeva.

“Kami membutuhkan baju perang dengan bahan kayu ulin, perhatikan anyaman baju luar Wanara, itu terbuat dari kayu ulin, bisakah dewa antar kami untuk mendapatkan kayu ulin tersebut?” pinta Bandung sembari menyembah Garudeva.

“Haiiizh Skrieeeeech, tidak perlu menyembah seperti itu!, skrieeeech, sepertinya aku pernah lihat kayu sejenis itu di sekitar sini, tetapi hanya sekitar dua pohon saja, apakah cukup?” ujar Garudeva.

“Sangat cukup sekali dewa, kau baik sekali!” ujar Wanara dengan gembira dan menghaturkan sembah sujud kepada Garudeva.

“Skrieeeech, tidak perlu menyembah, aku bukan dewa, baiklah sebaiknya kau ikut aku, ujar Garudeva.

Lalu Garudeva terbang perlahan dan mencengkeram pundak Wanara dan dibawanya pergi terbang menuju pohon ulin berada.

“Bagaimana Bondowoso bisa tertangkap?” tanya Jonggrang.

“Dia tidak tertangkap, tetapi menyerahkan dirinya,” ujar Pikatan mendahului Bandung yang akan berkata, akhirnya Bandung urung melanjutkan karena sudah didahului oleh Pikatan.

“Mengapa dia menyerahkan dirinya? Tidak seperti Bondowoso yang pantang menyerah?” tanya Jonggrang.

“Sepertinya dia bukan menyerah gusti, tetapi sepertinya dia punya rencana lain yang kita belum tahu,” jawab Pikatan, lagi-lagi mendahului Bandung yang akan mengucapkan penjelasan, dan lagi-lagi Bangung mengurungkan niatnya untuk berkata.

“Mungkin juga ya, lalu apa rencana kita,” tanya Jonggrang.

“Eh… mm…,” kali ini Pikatan yang biasanya mendahului menjadi tidak punya rencana apa pun yang akan dikatakan, dia lalu melihat Bandung yang sepertinya akan bicara dan sembari nyengir lalu dengan gerakan tanda hormat, tangannya bergerak sebagai tanda mempersilakan Bandung untuk berbicara.

“Terima kasih Pikatan,” ujar Bandung setelah diberi kesempatan Pikatan untuk berbicara.

“Begini, sembari kita menunggu Wanara balik membawa kayu ulin bersama Garudeva, kita akan mencari solusi lain tentang bagaimana menyirep orang-orang tinggi besar dan cepat geraknya itu, sebab mereka sepertinya tidak terpengaruh dengan asap sirep yang dibuat oleh Wanara,” ujar Bandung.

“Tetapi sayangnya aku sendiri tidak tahu tentang racikan herbal membuat sirep untuk mahluk seperti itu, aku memerlukan minimal satu orang tinggi besar dan bergerak cepat itu untuk dijadikan percobaan, bila berhasil, maka kita bisa mengalahkan mereka tanpa bertarung,” lanjut Bandung.

“Ide yang bagus, tetapi bagaimana kita bisa mendapatkan orang tinggi besar dan dapat bergerak cepat itu?” ujar Jonggrang.
“Nah itu dia…” ucap Bandung lalu terdiam, seperti memikirkan cara lainnya.

*

“Ini Bondowoso, yang gusti cari,” kata Dvargha kepada Vharok sembari mendorong Bondowoso sampai tersungkur di lantai dan berhenti tepat di depan Vharok.

“Hm akhirnya Bondowoso,” Vharok turun ke arah Bondowoso, menjangkau dagu Bondowoso yang tertelungkup ke lantai untuk melihat wajahnya, lalu mendadak Vharok meludah dan menutup hidungnya.

“Bau busuk apa ini, cuuuh!” segera saja Vharok meludah dan menutup hidungnya dengan selempang kain.

“Itu bau Bondowoso gusti, kami berhasil melacaknya karena bau tersebut,” ujar Dvargha.

“Hmm… apa maksudmu menghentikan kami Bondowoso?” ujar Vharok.

Bondowoso bergerak untuk duduk bersimpuh dan kemudian menatap wajah Vharok, ”Tak kukira ternyata kau sepertinya persilangan virus dan bakteri, ternyata bisa ha ha ha,” ujar Bondowoso dan tertawa.

“Apa Apa yang kau maksud?” ujar Vharok tidak mengerti.

“Ah ternyata kau tidak diberitahu ya, hm… baiklah,” ujar Bondowoso.

“Kau telah menculik Raja Baka, di mana dia? Kami datang untuk menyelamatkannya,” ujar Bondowoso.

“Ah ternyata ksatria penyelamat keluarga Gotawa ha ha ha,” Vharok tertawa.

“Tahukah kau bahwa ayahnya dia telah membunuh ayahku?” Vharok melanjutkan.

“Oh jadi ini perkaranya? Lalu mengapa anaknya yang menjadi pelampiasan dendam? Bukan ke ayahnya saja?” ucap Bondowoso kalem.

“Dia telah tewas dalam peperangan beberapa tahun lalu, jadi anaknya yang akan menanggungnya ha ha ha,” ujar Vharok terlihat puas.

“Oh jadi karena yang membunuh ayahmu telah tewas, lalu kau membalasnya kepada anaknya? Salah apa dia?” tanya Bondowoso.

Vharok tertegun, ”DIAAAAAAAM!” teriaknya.

“Dendam dibalas dengan dendam, tidak akan berakhir, kulihat kau lebih cerdas dari yang lain, seharusnya kau tahu hal itu,” Bondowoso menambahkan.

“DIAAAAAAAAAM!” teriak Vharok dan terengah-engah, matanya melotot tajam kepada Bondowoso.

“Kau semakin marah karena aku benar, atau kau marah karena kau bodoh?” ujar Bondowoso menambahkan.

“KURANG AJAR!” Vharok mendekati Bondowoso dan menamparnya.

PLAAAAAAKH!

Tamparan itu begitu kerasnya, tetapi sepertinya Bondowoso bergeming dan tertawa mengejek, ”Ha ha ha pengecut seperti kau tidak bakalan berani bertarung satu lawan satu,” ejeknya kepada Vharok.

BLEGGGH!

Vharok menendang tubuh Bondowoso, “Bawa dia ke penjara bawah tanah,” ujar Vharok terlihat murka.

Dvargha dan ke dua anak buahnya segera menyeret paksa Bondowoso ke penjara bawah tanah.

Dvargha seolah biasa saja dengan keadaan yang hampir gelap dalam lorong penjara tersebut, sebab mata mereka seperti mampu melihat dalam gelap karena mata mereka sepertinya mempunyai sinar infra merah, sehingga bersinar merah dalam gelap.

Lalu mereka menempatkan Bondowoso ke dalam salah satu penjara tersebut.

Penjara yang pengap, bunyi cicit tikus besar-besar terdengar dan sesekali menyentuh kaki mereka.

“Kau seharusnya tahu itu salah,” ujar Bondowoso kepada Dvargha.

“Kau sudah tahu Bondowoso, tidak ada yang namanya salah atau benar, yang ada adalah kau mengejar cita-citamu dengan cara apa pun, dan pasti terwujud,” jelas Dvargha.

“Aku pernah seperti itu, tetapi bagiku, mengejar cita-cita, bertahan hidup, harus tidak menyakiti makhluk lainnya!” ujar Bondowoso.

“Ah kita sudah pernah membahas ini bukan, masalah menyakiti atau tidak itu relatif, buktinya kau tetap saja memakan makhluk yang di bawah rantai makananmu bukan? Jangan munafik!” ujar Dvargha.

“Dan ingin kubuktikan bahwa kami tidak seburuk yang kau kira, kuletakkan peralatanmu di depan ruang penjaramu, hanya kami yang berani ke penjara bawah tanah ini, manusia dilarang masuk ke sini, kecuali ya.. kecuali tawanan,” ujar Dvargha.

“Tidak seburuk apanya? Kalian menghisap darah manusia, species kami, tak akan kubiarkan ini terus berlangsung!” teriak Bondowoso.

“Ah, ah, kau mulai menggunakan perasaanmu ketimbang logikamu. Baiklah aku tidak jadi bermaksud baik padamu, aku bawa saja peralatanmu ini, sebab berbahaya juga bila dilihat oleh species manusia di masa ini,” ujar Dvargha.

“Kau tidak akan bisa keluar, pintu penjara ini adalah pintu baja setebal 20 cm, kau yang sudah terevolusi pun… yah evolusi di levelmu, kau tidak mampu mendobraknya, kami pun tidak bisa, apalagi kau,” lalu mereka berjalan keluar area tersebut sembari tertawa.

HA HA HA HA HA!

Dvargha dan kedua temannya tertawa dengan suara serak dan menggema yang membuat siapa pun yang mendengarnya menjadi merinding bulu kuduknya.

“Siaaaal!” teriak Bondowoso, lalu segera duduk.

“Infra Blue night vision on!” Matanya mendadak bersinar seperti mata orang-orang tinggi besar dan bertaring itu, tetapi sinarnya bukan warna merah, tetapi warna kebiruan.

Matanya jelas melihat sekeliling area penjara tersebut.

“Area mapping based on sonar on,” katanya, lalu Bondowoso bersiul, dengan nada lagu burung kakaktua membunyikan suara siulan dan pantulan suara yang terjadi membuat peta di matanya.

Ternyata matanya tersebut merupakan monitor seperti monitor komputer masa sekarang, namun jauh lebih canggih.

Lalu setelah menganalisis, ada area dinding yang tipis dan dapat menembus dinding lainnya. Bondowoso segera mengumpulkan tenaganya ke titik tersebut.

BRAAAAAAAAL!

Pukulannya berhasil meruntuhkan dinding tersebut dan menembus ruangan lainnya, dia melihat kerangka manusia ada di sana, pastilah kerangka orang yang di penjara bawah tanah ini.

Lalu mata Bondowoso mencari-cari lagi dan menganalisis ruangan tersebut dan berhasil memukul runtuh ke ruangan lainnya.

Entah berapa ruangan yang telah dia pukul sampai dia melihat kerangka yang tinggi besar dan melihat bagian tengkoraknya bertaring, ”Sepertinya mereka juga memenjarakan sesama mereka sendiri yang dianggap membangkang.”

Kemudian Bondowoso melihat pintu baja yang di area sampingnya ternyata dari dinding biasa, lalu segera dia memukulnya.

BRAAAAAAL

Dinding tersebut hancur dan terlihat obor menerangi area tersebut,”Infra Blue night Vision off,” lalu mata Bondowoso menjadi normal kembali segera dia memasuki ruangan tersebut.

Di ruangan tersebut ada beberapa sisa makanan di piring periuk, ada banyak semut mengerubuti sisa makanan tersebut.

Tempat minum dari tembaga tergeletak airnya tertumpah berceceran. Ada buah jeruk dan anggur yang hampir busuk.

Di pojokan ruangan tersebut Bondowoso melihat seseorang sedang duduk bersila, berpakaian ala penggede kerajaan, namun dengan warna yang lusuh dan kotor sepertinya tidak diganti sudah beberapa lama.

“Siapa kau?” orang tersebut bertanya dengan suara berat tetapi terasa berwibawa.

“Hamba Bondowoso, utusan Kerajaan Pengging untuk menyelamatkan Raja Baka,” jawab Bondowoso.
“Sungguh? Sudah waktunya kau hadir, aku Gupala Gotawa, Raja Baka,” kata Gupala.

“Hamba haturkan sembah kepada Paduka Raja, dan maaf bau tubuh hamba sangat tidak nyaman,” ujar Bondowoso dan segera duduk dengan hormat dan menghaturkan sembah kehormatan kepada raja dengan menyatukan kedua telapak tangan di depan dadanya dan membungkuk.

“Ha ha ha bau ruangan ini juga busuk, aku sudah terbiasa dengan bau-bau seperti itu,” Gupala berdiri dari duduk silanya,”Berdirilah Bondowoso!”

Bondowoso segera berdiri sembari tetap menghaturkan sikap hormat kepada Raja Baka.

“Tidak kukira, ternyata permaisuriku berhasil lolos sampai ke Pengging,” ujar Gupala.

“Benar gusti,” jawab Bondowoso.

“Baiklah, kau sepertinya sangat kuat Bondowoso, keluarkan kita dari sini terlebih dulu,” ujar Gupala.

“Baik gusti prabu, laksanakan!” Bondowoso segera mencari area dinding yang mudah untuk diruntuhkan dan memukulnya, sedangkan Gupala mengikutinya dari belakang.

Setelah beberapa area, mereka memasuki ruangan yang lebih besar dan lebih terang.

Di dalamnya terdapat enam ekor macan geni. Macan geni tersebut segera melihat ke arah mereka.

“Kuharap kau bisa menangani macan-macan geni ini,” ujar Gupala.
“Tidak masalah gusti, gusti segera menjauh mencari area aman dari area ini terlebih dulu,” ujar Bondowoso.

Gupala segera berlari ke arah belakang saat mereka datang, bersembunyi di balik penjara yang telah dipukul salah satu dindingnya oleh Bondowoso dan sembari mengintip melihat Bondowoso.

Bondowoso meraba peralatannya, dia segera sadar bahwa dia tidak membawanya, karena sudah dirampas oleh Dvargha. Macan geni semakin mendekat, dan segera saja ketiga ekor macan geni melompat menyerang Bondowoso.

Mendadak ketiga ekor macan geni tersebut terlempar menabrak dinding, berkelojotan dan apinya berangsur-angsur padam menandakan telah tewas.

Ketiga macan geni sisanya setelah melihat teman-temannya tewas dan melihat Bondowoso.

Mereka mundur teratur setelah melihat tubuh Bondowoso diliputi sinar tipis seperti bola energi yang menyelimuti tubuhnya dan energi paling kuat berkisar di area kepala sehingga membentuk lingkaran energi di atas kepalanya terlihat lebih terang.

“Gusti prabu, segera keluar dan ikuti hamba!” Bondowoso mengajak Gupala untuk segera keluar dari ruangan tersebut.

Gupala segera keluar dan mengikuti Bondowoso, ketiga macan geni sisanya sepertinya sudah tidak berani lagi mendekati Bondowoso, macan geni tersebut hanya menggeram saja saat keduanya melewati mereka, walaupun begitu Bondowoso dan Gupala masih berhati-hati saat melewatinya.

Setelah berhasil masuk ke ruangan lainnya, Bondowoso segera menutup pintu area tersebut agar macan-macan geni tidak mengikuti mereka.

“Kau sakti mandraguna Bondowoso, tidak salah Raja Pengging memberikan tugas ini kepadamu,” ujar Gupala memuji.
“Terima kasih gusti prabu atas pujiannya, sekarang mari kita keluar terlebih dulu dari kerajaan ini, untuk menyusun strategi berikutnya,” ujar Bondowoso.

“Anakku Jonggrang, dia ditawan juga, tapi masih di ruangan dalam istana area atas,” ujar Gupala.

“Jonggrang? Bukankah Jonggrang selamat?” ujar Bondowoso bertanya-tanya.

“Jonggrang, Loro Jonggrang!” ujar Gupala.

“Ta…tapi gusti!” Bondowoso kebingungan.

“Diam, dan ikuti perintahku, dan ikuti aku,” ujar Gupala.

“Baiklah gusti,” ujar Bondowoso masih heran, tetapi penasaran, dan akhirnya tetap mengikuti ke mana Gupala bergerak.

Mereka bergerak sembunyi-sembunyi melintasi area istana. Beberapa prajurit biasa terlihat mondar-mandir di antara pos jaga mereka, tetapi dengan gerakan lincah dan gesit Gupala berhasil menyelinap diikuti oleh Bondowoso.

Bondowoso kagum dengan ketangkasan dan kelincahan Raja Baka, terlihat jelas bahwa Raja Baka memang ahli dalam bertarung dan strategi.

Sampai di suatu area ruangan yang lebih megah, Raja Baka mengisyaratkan agar lebih berhati-hati, dengan menempelkan jemarinya di depan mulutnya dan menoleh ke arah Bondowoso.

“Kenapa tidak kau bunuh saja aku!” ujar seorang gadis yang terlihat dari belakang, tangannya terikat.

“Aku memang benci dengan keturunan Gotawa, tetapi aku harus membunuhnya secara ksatria, di depan umum, untuk menjadi raja hukumnya adalah dengan membunuh raja, tetapi aku sebenarnya tidak butuh kekuasaan, yang kubutuhkan hanya balas dendam,” ujar Vharok.

“Dan kau sebagai keturunannya masih berguna untukku untuk memancing Keturunan Gotawa lainnya agar keluar dari tempat persembunyiaannya dan menghabisi mereka,” ujar Vharok lebih lanjut.

“Kau pecundang, kenapa kau tidak tantang saja Raja Baka kalau kau berani, pengecut!” ujar gadis tersebut.

PLAAAK!

Tamparan mengenai wajah gadis tersebut.

“Kau pikir aku juga tidak merasa berterima kasih telah diberi jabatan dan kekuasaan, jadi aku sekalian belajar politik, menggulingkan seorang raja dari dalam setelah mendapatkan kekuasaan darinya?” kata Vharok.

“Ini menyenangkan, ada seni dan kepuasan tersendiri daripada langsung membunuhnya, penghianatan dariku akan lebih terasa menyakitkan di benaknya,” jelas Vharok.

“Dan kau Jonggrang, akan menyaksikan keluargamu habis satu demi satu di tanganku ha ha ha ha!” Vharok tertawa terbahak-bahak dan menggema.

“Cuuuuuh!” Jonggrang meludahi wajah Vharok dan tepat mengenai mulutnya, seketika itu Vharok berhenti tertawa dan tersedak.

Setelah tersedaknya selesai, Vharok mendekati Jonggrang dan tangannya diangkat tinggi dan ditamparkan dengan keras.

Jonggrang menutup matanya dan siap dengan tamparan yang selalu menjadi kebiasaan yang diterimanya selama menjadi tawanan di situ.

Mendadak tamparan tersebut terhenti oleh tangan kuat dari Bondowoso. Dan satu pukulan Bondowoso mengenai wajah Vharok, sehingga Vharok terjengkang dan menabrak dinding.

BRUAAAAAAKH!

Segera saja Gupala membebaskan Jonggrang. Namun, mendadak Gupala terjengkang terkena tendangan manusia tinggi besar dan bergerak cepat, ternyata Dvargha.

“Ayah!” ujar Jonggrang dan segera memeluk ayahnya yang menahan sakit. Lalu orang tinggi besar tadi mendekati mereka secara perlahan.

Pada saat yang sama Vharok bangkit dan bergerak mendekati Bondowoso.

“Jadi ini kekuatanmu yang sesungguhnya ya, pantas kau berani menyerahkan diri, ternyata ini tujuanmu, tapi aku tidak akan membiarkannya,” lalu Vharok bergerak cepat, tidak secepat orang-orang tinggi besar tersebut.

Tetapi tetap memiliki sekitar separuh dari kecepatan mereka, dan bagi orang normal, kecepatan seperti itu tidak mungkin dapat dilakukan oleh orang biasa.

Vharok menyerang dengan kecepatan penuh kepada Bondowoso. Bondowoso dapat mengimbangi kecepatan Vharok, sebab dengan kecepatan yang dilakukan oleh orang-orang tinggi dan mampu bergerak cepat itu pun Bondowoso mampu mengimbanginya.

Dengan mudahnya Bondowoso mematahkan serangan Vharok, lalu dengan jurus anehnya, memanfaatkan tenaga yang terpusat pada kepalan tangannya Vharok, Bondowoso memelintirkan tangan tersebut, dan dengan mudah membanting Vharok ke lantai.

BRUUUUUUKH!

Vharok nyengir kesakitan dan bangkit perlahan lalu menggerakkan tangannya sebagai tanda agar anak buahnya yang tinggi-tinggi besar itu untuk menyerang Bondowoso.

Lima belas orang tinggi besar dan bergigi taring menyerang Bondowoso dengan serentak.

Mendadak mereka semua terpental saat Bondowoso berteriak,”Plasma Shield!”.

Mereka semua tertegun, lalu segera saja mereka mengeluarkan semacam alat di pinggang masing-masing dan menembakkan ke arah Bondowoso.

Mengetahui gelagat yang tidak baik ini, segera saja Bondowoso melompat tinggi ke atas dan terbang dengan masih diselimuti oleh plasma shield-nya.

Tembakan senjata sinar beruntun mengenai plasma shield tersebut tetapi tidak berengaruh banyak.

“SIAAAAAAL! SIAPA DIA SESUNGGUHNYA?” teriak Vharok dengan geram.

“DVARGHAAA!” teriak Vharok lagi memanggil anak buah kepercayaannya.

Sementara itu, Gupala dan Jonggrang telah diringkus kembali oleh anak buah Vharok.

Bersamaan dengan itu Dvargha segera mendekati Vharok,”Nama aslinya Azrael Baruna.”

“Dari mana dia?” tanya Vharok.

“Megacity Surabaya,” jawab Dvargha.

“Di mana itu?” tanya Vharok.

“Hamba juga tidak tahu,” jawab Dvargha.


bersambung....


Cerbung ini ada di An1magine majalah eMagazine Art and Science Volume 1 Nomor 9 November 2016
yang dapat di-download gratis di Play Store, share yaa

Komentar

Page Views

counter free

Visitor

Flag Counter

Postingan populer dari blog ini

STANLEY MILLER: Eksperimen Awal Mula Kehidupan Organik di Bumi

CERPEN: POHON KERAMAT

Menerbitkan buku di An1mage