Roro Jonggrang di An1magine Volume 1 Nomor 6 Agustus 2016


HUTAN LARANGAN
M.S. Gumelar


“HEEEEH!” serta merta si tinggi besar mencabut pedangnya dan diarahkan ke Bondowoso, ”Sepertinya arah bau busuknya dari kau!”

Melihat hal tersebut, Pikatan menarik tangan Jonggrang agar menjauh dari situ.

Bersamaan dengan hal tersebut, si tinggi besar menyabetkan pedang besarnya ke arah Bondowoso.

Bondowoso berhasil menghindar dengan cepat. Kemudian melompat ke arah tumpukan ranting-ranting kayu yang telah dikumpulkannya untuk membakar hasil buruan nanti, dia mengambil dua batang kayu bakar dengan ukuran yang lumayan besar di tangan kanan dan kirinya.

Si tinggi besar segera mengejar Bondowoso dengan pedangnya yang siap diayunkan lagi, setelah dekat dengan Bondowoso, pedang besar tersebut diayunkan dengan sekuat tenaga ke arah Bondowoso.

Kali ini Bondowoso tidak menghindar, tetapi memapas serangan pedang tersebut dengan kayu tadi. Pedang tadi melesak masuk ke batang kayu besar tadi dan sulit untuk dilepaskan.

Bondowoso segera bergerak dengan cepat memukulkan kayu satunya yang dia pegang ke arah si tinggi besar.

Si tinggi besar mau tidak mau melepaskan pegangan pada pedangnya untuk menghindar dari hantaman batang kayu yang akan mengenai wajahnya, si tinggi besar berhasil lolos dari serangan tersebut.

Bondowoso melemparkan batang kayu besar yang ada pedangnya dan juga meleparkan batang kayu besar satunya jauh dari area tersebut.

Lalu dia menggenggamkan tangannya mirip seperti mau bertinju dan bergerak maju mundur, seperti orang yang mau bertinju di atas ring.

Si tinggi besar menyeringai, ”Hah kau lebih kecil, kau pasti mati!”

Keduanya berhadapan, si tinggi besar menyerang dengan jurus silatnya.

Dengan cepat Bondowoso menghindar dan berhasil menyarangkan tinjunya.

BLETAAAK!

Rahang si tinggi besar terkena tinju tangan kiri Bondowoso dengan telak.

BLETAAAAAK!

Kali ini tangan kanan Bondowoso dengan cepat mengikuti tangan sebelumnya untuk menyarangkan tinjunya ke rahang sebelahnya.

BRUUUUUKH!

Si tinggi  besar ambruk terkena dua pukulan tinju secara beruntun dan tak sadarkan diri.

“HAAAAAAAAAAH!” teman-teman si tinggi besar berteriak secara bersamaan tanda tak percaya.

“Jurus yang aneh!” teriak salah satu teman si tinggi, namun sangat kurus. Si kurus ini dengan segera melompat dan mendarat tepat di samping si tinggi besar pingsan.

“Bawa dia!” perintah si kurus ke teman-temannya yang lain, yang segera turun dari kudanya dan mengangkat si besar dan diletakkan di kudanya.

“Hm kau kecil tapi tenagamu luar biasa, temanku jatuh hanya dengan dua pukulan, padahal dua puluh kali pukulan dengan orang yang sebesar-besar dia, dia tidak akan jatuh pingsan, siapa kau sebenarnya ki sanak?” tanya si kurus penasaran.

“Aku eh oh eh aku hanya petualang, orang memanggilku Bondowoso,” jelas Bondowoso.

“Hm apakah namamu Bandung Bondowoso?” tandasnya lagi.

“Aku Bondowoso saja, tanpa kata Bandung,” jelas Bondowoso.

“Hmm aneh, sebab aku dengar kabar dengan cepat ada yang bernama Bandung Bondowoso yang sakti mandraguna melawan kawanan begal di ujung luar kerajaan Pengging, ku kira kau ha ha ha,” jelas si kurus.

“Ha ha ha bukan, aku hanya Bondowoso,” jelasnya lagi.

“Dan aku Bandung” kata Bandung yang mendadak muncul dengan buruan kijang di kudanya.

“Wuoooow Bandung Bondowoso, ah ternyata itu nama dua orang, aku baru tahu sekarang, ha ha ha, maafkan perbuatan kami, kami adalah prajurit Kerajaan Baka yang sedang bertugas,” jelasnya mulai melunak.

“Ah kebetulan sekali kalau begitu, maafkan kami, mari bergabung untuk makan hasil buruan bersama kami,” ujar Bandung ramah.

“Ha ha ha baiklah, namaku Rakuti,” jelas si kurus memperkenalkan dirinya.

“Dan yang kau pukul tadi, namanya Kebo Geni,” sembari menunjuk temannya yang masih pingsan.

“Aku Wiseso,” ucap teman Rakuti yang membawa tombak.

“Aku Wirro,” ucap temannya yang berwajah tampan tetapi mirip wanita.

“Aku Munggono,” ucap orang yang berbaju zirah prajurit lengkap.

“Aku Abalan, Rakuti adalah seorang Bekel” orang yang paling akhir berkumis tebal berbadan kekar memperkenalkan dirinya dan menjelaskan jabatan Rakuti.
“Senang berkenalan dengan ki sanak semuanya,” kata Bandung sembari menyerahkan kijang buruannya ke Pikatan.

Pikatan segera menangani kijang tersebut. Bondowoso segera mengumpulkan kayu-kayu lagi dan Jonggrang menyiapkan bumbu ala kadarnya dari kantong bekal yang dibawanya.

“Maafkan kami yang telah berbuat kasar pada ki sanak,” ujar Rakuti setelah menambatkan kudanya.

“Ke mana para penduduk desa ini?” tanya Pikatan.

“Mereka mengungsi ke tempat yang lebih aman, di sini saat-saat tertentu beberapa orang mendadak mati dengan tubuh mengering dan kami belum tahu penyebabnya,” jelas Rakuti lalu mengambil kendi tempat air untuk minum dan setelah menemukannya segera meminumnya.

“Bukannya kalian yang melakukannya?” tanya Pikatan dengan polosnya.

“Hukkh,” Rakuti tersedak saat minum dan mendengar nada menuduh dari Pikatan.

“Ha ha ha, bukan kami, walaupun aku tahu kau curiga karena sikap kami yang buruk, tidak dapat disalahkan, tetapi sikap buruk kami ada tujuannya, untuk mencari tahu siapa yang melakukannya,” jelas Rakuti.

Lalu mereka semua duduk di bawah pohon yang paling rindang. Sementara itu kijang buruan yang telah diberi bumbu diletakkan di atas bara api yang telah dibuat oleh Bondowoso.

Pikatan memutar-mutar bakaran tersebut, sementara itu Jonggrang sedang mempersiapkan wadah dari daun talas sebagai alas makan.
“Hhhh uhukh!” Kebo Geni terbangun dari pingsannya, lalu segera melompat dan bergerak bersiap-siap untuk bertarung.

Semua yang melihat hal tersebut tertawa terbahak-bahak. Hal ini membuat Kebo Geni menjadi kikuk kebingungan.

“Duduklah Geni,” perintah Rakuti, dan menepuk area di sebelahnya yang masih cukup luang untuk duduk. Kebo Geni yang besar tersebut tampak patuh pada Rakuti.

“Ini adalah Bandung, lalu Iyem yang di sana, Pikatan yang di sana dan Bondowoso yang di sana,” jelas Rakuti memperkenalkan kepada Kebo Geni yang masih kebingungan dengan keadaan itu, ”Mereka adalah orang baik-baik”

Bandung kebingungan.

Bondowoso dan Pikatan melirik Jonggrang. Jonggrang sebal, lalu mengarahkan perhatian ke hal lainnya.

“Ayo kita makan dulu,” Jonggrang menyodorkan makanan hasil buruan yang sudah siap dilahap.

Bau aroma daging kijang panggang menyeruak mengundang selera. Sembari lemper yang sudah dihangatkan dengan cara dibakar ulang oleh Bondowoso.

Bondowoso sengaja menjauh agar bau tubuhnya tidak mengganggu acara makan mereka.

Bondowoso seperti biasa, ditemani oleh Pikatan. Sedangkan Roro Jonggrang bergabung dengan Bandung makan bersama enam orang tersebut.

Mereka tampak akrab dan seolah hilang di benak mereka tentang perkelahian yang dilakukan sebelumnya.

“Wuah enak bueeenar bumbunya, Iyem pintar memberi bumbu, kijangnya menjadi terasa lebih nikmat!” puji Rakuti sembari melirik ke Roro Jonggrang.
“Iyem?” kata Bandung lalu melihat ke Jonggrang juga, Jonggrang memberi tanda dengan meletakkan jari telunjuknya di depan bibir ke Bandung.

Bandung mengerti maksudnya.

“Jadi apakah ada hasil analisismu tentang mengapa para korbannya itu menjadi kering?” tanya Bandung mengalihkan perhatian.

Rakuti masih makan dengan lahapnya, belum menjawab ataukah memang tidak terdengar karena sedang fokus ke makanan.

Kebo Geni menyahut, ”Kejadiannya biasanya pagi atau sore, sebentar lagi sore, areanya sih acak, tetapi yang paling sering di ujung desa pintu keluar sana,” tunjuknya ke suatu arah, lalu mengigit daging kijang bakar dengan lahapnya disusul dengan memasukkan lemper dengan sekali telan ke dalam mulutnya.

“Eh jawabannya ngga nyambung,” ujar Pikatan.

“Ha ha ha,” teman-teman yang lainnya ketawa Kebo Geni juga akhirnya ikut tertawa setelah terdiam sejenak oleh komentar Pikatan. Beberapa waktu telah berlalu, akhirnya Rakuti dan kawan-kawan berpamitan.

“Baiklah Bandung, kami melanjutkan menyisir area lainnya, terima kasih dengan makanannya yang enak ha ha ha,” ujar Rakuti.

“Terima kasih sudah mampir dan menemani kami makan, baiklah siapa tahu kita akan dapat bertemu lagi suatu saat,” Bandung berbasa-basi.

Rakuti dan teman-temannya segera naik kuda dan melambaikan tangan sebagai salam perpisahan.

Bandung dan kawan-kawan lainnya juga membalasnya.
“Baiklah, ada baiknya kita segera bergerak,” ujar Bandung.

Mereka segera mengepak apa yang dibutuhkan dan menyiapkan perjalanan berikutnya.

“Ayo Iyem, kau lambat sekali!” canda Bandung terhadap Jonggrang yang paling akhir persiapannya.

Jonggrang cemberut diejek demikian dan mengambil batu kerikil, melemparkan batu kerikil tersebut kepada Bondowoso karena mendapatkan julukan yang nama tidak familiar.

Batu tersebut mengenai Bondowoso, Bondowoso nyengir melihat kelakukan Jonggrang. Akhirnya mereka semua tertawa bersama.

Hari mulai menjelang gelap saat malam menjelang.

Bandung dan kawan-kawan tetap menaiki kudanya dengan perlahan, walaupun daerah tersebut sudah masuk pedesaan namun pedesaanya masih terbilang banyak tanaman besar dan jarak satu rumah dengan rumah lainnya sangat berjauhan.

Bandung berkata, ”Sesampainya di suatu kedai, kita akan berhenti sejenak, kalau mendapatkan penginapan akan lebih baik.”

Pikatan menyahut,”Ada area di sana gusti, sepertinya cahayanya jauh lebih terang dari yang lain, mungkin itu kedai yang lumayan besar,” tunjuk Pikatan ke suatu arah dataran tinggi yang sepertinya dari area mereka menunggang kuda letaknya tidak begitu jauh.

”Baiklah kita ke arah sana. Heaaa!”

Bandung bergegas sembari menjejakkan pedal kudanya, sehingga kudanya bergerak lebih cepat lagi mengarah ketujuan.

Tak berapa lama mereka hampir tiba ke area yang dimaksud,”Hm kenapa cahaya apinya seperti berpencar? Apakah itu obor-obor besar?” Jonggrang berkomentar.

“Ga masalah, paling tidak kita akan tahu sesampainya di sana,” ujar Pikatan.

Sesampainya di sana, mereka celingukan mencari kedai yang dimaksud. Pandangan mereka tertuju pada beberapa pohon-pohon di area tersebut seperti hangus terbakar.

Kata Pikatan,”Lah kok tidak ada kedai dan cahaya api-api itu bergerak sepertinya menjauh dari kita.”

“Bukan menjauh, mengelilingi kita,” ujar Bandung setelah melihat cahaya seperti obor berjumlah 30-an bergerak dari kejauhan mendekati mereka dari sekeliling mereka.

“Tetapi bila itu obor, mengapa lebih rendah kedudukannya, seperti tidak dibawa oleh manusia,” tambah Jonggrang.

Rombongan api seperti obor besar itu semakin mendekat dan mendekat sehingga tampak jelas bentuknya.
“Sial!” teriak Bandung. Terlihat jelas mendekati mereka sekumpulan makhluk berbentuk mirip harimau, namun kaki depannya mirip dengan tangan manusia.

Tubuh makhluk-makhluk tersebut membara seperti api yang tidak akan pernah padam.

Makhluk-makhluk itu bergerak mengitari mereka, seperti kehausan dan lapar. Bandung dan kawan-kawannya terjebak dalam kerumunan lingkaran makhluk api.

“Macan geni!” ucap Jonggrang dan merapatkan kudanya ke Pikatan.

“Bondowoso, kau terlalu dekat ke macan-macan geni itu, segera ke sini!” teriak Jonggrang khawatir.

Mendadak salah satu makhluk tersebut menyerang kaki kuda yang ditunggangi oleh Bondowoso.

Serta merta kuda tersebut jatuh tersungkur dengan ringkikan yang sangat tinggi. Bondowoso segera melompat dari pelana kudanya menjauh.

Segera saja makhluk-makhluk lainnya mengerubungi kuda yang naas tersebut.

Dan yang tersisa seperti kulit yang mengering.

Pikatan segera mencabut tombak yang ada di pelana kuda. Setelah melihat Bondowoso berhasil menjejakkan kakinya ke salah satu dahan pohon.

“Mereka memakan energi makhluk hidup! Waspadaaaa!” teriak Bandung.

Bondowoso yang di atas pohon melihat sekelilingnya, ”Tiga puluh tujuh,” ucapnya setelah menghitung jumlah makhluk tersebut dari atas.

Tiga ekor macan geni mengejar Bondowoso dan sampai tepat di bawah pohon tersebut. Kaki harimau api tersebut menjejakkan ke batang pohon.

NYEEEEESH!

Bunyi kaki-kaki api mengenai batang tersebut membuat pohon tersebut mendadak layu.

Satu ekor harimau api tersebut mulai mencakarkan kakinya dan berhasil naik mendekati Bondowoso.

Sementara itu Bandung yang juga telah mengambil tombaknya segera turun menghalangi dua ekor macan geni yang mulai mendekatinya.

Satu ekor melompat menyerangnya, dengan sigap Bandung merunduk dan menghujamkan tombaknya ke perut macan geni.

Seketika tombaknya membara dan kayu tombaknya terbakar dan langsung patah karena api yang sangat panas.

Bondowoso dengan cekatan melompat lagi ke dekat kuda Jonggrang, lalu menarik Jonggrang turun.

“GILA!” teriak Bandung, lalu melompat mundur dan mencabut pedangnya.

Pikatan mengayun-ayunkan tombaknya ke arah empat ekor macan geni yang mulai berani mendekatinya.

Untuk sementara keempat macan geni tadi dibuat ragu-ragu untuk melanjutkan langkahnya, namun entah untuk berapa lama.
Akan tetapi, tampaknya macan-macan lainnya dengan perlahan merapatkan kepungannya sehingga tigapuluh tujuh macan geni tadi dipastikan akan mendapatkan mangsanya dengan mudah.

“SI..SIAL!” Bandung mengumpat.

Lalu mendadak ringkikan kuda milik Pikatan menggelepar dan mengering saat macan-macan geni tersebut berhasil menyerang.

Dan disusul ringkikan kuda milik Jonggrang dan kemudian satu ringkikan kuda lagi terdengar milik Bandung.

Jonggrang menelan ludah dan berkata, ”Apakah ini akhir kita?”

Bandung bersiaga dan juga sudah tidak mampu berpikir lagi, keempatnya merapat membelakangi satu sama lainnya dan punggung mereka bertemu.

Satu ekor macan geni yang paling besar melompat ke arah Jonggrang.

WUUTH!

Terkaman macan geni itu pasti tidak akan terelakan.

AAAAAAAAAH!

Jonggrang berteriak melihat hal tersebut dan terbayang dia pasti mati.

BRUUUKH!

Macan geni menimpa tubuhnya, tapi macan geni tersebut tidak menerkamnya, tetapi jatuh dan menimpa tubuhnya.

Entah apa yang terjadi, beberapa macan geni yang di dekatnya juga mendadak apinya padam dan tubuh macan geni tersebut berubah menjadi beku seperti batu dan terasa dingin.

Jonggrang menoleh ke Bondowoso, dia melihat Bondowoso memegang ulekannya lagi dan mengarahkannya ke beberapa macan geni yang melompat ke arahnya.

Bondowoso bergerak dengan cepat melakukan hal tersebut, sehingga tinggal sekitar dua puluh macan geni yang tersisa.

Macan geni tersebut sepertinya tahu apa yang terjadi, lalu mereka mulai menjauh dan melarikan diri.

Jonggrang gemetaran lalu memeluk Bondowoso dengan badan yang masih gemetar.

“Trim…Terima kasih,” ucapnya sembari tetap memeluk Bondowoso.

Setelah tenang, Jonggrang mulai melepaskan pelukannya.

Dan melihat pikatan serta Bandung yang juga membeku.

“Apa yang kau lakukan pada mereka?” kata Jonggrang.

“Instant Cryogenik,” jawab Bondowoso, ”Jangan khawatir, mereka masih hidup.”

“Tapi jangan kau ceritakan kejadian ini ya,” pinta Bondowoso.

“Tapi bagaimana? Kita seharusnya pasti mati bukan?” jawab Jonggrang.

“Ha ha ha, iya, bilang saja dewa masih berbaik hati menolong kita, setuju,” jelas Bondowoso.

“Hm… baiklah, janji,” ujar Jonggrang.

“Baiklah, aku akan buat mereka kembali seperti semula,” lalu Bondowoso menembakkan energi dari ulekannya tersebut ke Pikatan lalu ke Bandung.

Tak berapa lama menunggu, mendadak mereka kemudian badannya lemas dan tertidur.

Pikatan membuka matanya, bergegas bangun dan siaga saat melihat macan geni yang di depannya, setelah diperhatikan dia baru sadar macan geni tersebut diam mematung tidak bergerak.

HA HA HA

Bandung dan Jonggrang tertawa bersama melihatnya.

“Ah gusti, apa yang terjadi?” tanya Pikatan.

“Entahlah, aku juga tidak tahu, mendadak aku pingsan, dan saat bangun sudah pada begini keadaannya,” jawab Bandung.

“Bondowoso?” Pikatan mengucapkan nama Bondowoso dengan nada tanya.

“Dia baik-baik saja, sama seperti kita,” jawab Jonggrang.

“Syukurlah,” Pikatan lega mendengarnya.

“Kenapa mereka mendadak seperti patung?” tanya Pikatan.

“Itu yang juga keanehan, dewa-dewa tidak biasanya menolong langsung seperti ini?” jelas Bandung,”Tapi sepertinya mereka melakukannya.”

“Bukankah berarti dengan cara ini kita pasti menang melawan Penculik Raja Baka nantinya?” tambah Pikatan.

“Mudah-mudahan para dewa masih sudi membantu kita,” jawab Bandung, sembari dahinya berkenyit seperti berpikir keras.

“Hai aku dapat kalong untuk makan malam kita,” teriak Bondowoso muncul dari balik rerimbunan pohon.

“Wuah bisa saja dia melihat dalam keadaan malam begini,” ujar Bandung

“Hei Bondowosoooo, aku gembira melihatmu, kau tidak takut di kejar-kejar macan geni?” teriak Pikatan gembira menyambut Bondowoso, mengambil beberapa tiga kalong yang ada di tangannya untuk membantu Bondowoso.

“Ah tidak, sepertinya para dewa berbaik hati pada kita,” lalu Bondowoso menyerahkan dua kalong yang masih ada di tangannya ke Roro Jonggrang.

“Pilihan yang hebat, kalong biasanya pemakan buah-buahan, dagingnya agak liat tapi gurih, daripada kita kelaparan,” kata Bandung.

“Benar sekali gusti,” tambah Roro Jonggrang sembari menyiapkan bumbu-bumbu yang ada di kantong bekalnya.

“Wuah benar, ueeenak,” kata Pikatan saat daging bakar kalong sudah masak dan dirasakan dan dikunyahnya.

“Ha ha ha iya,” tambah Jonggrang.

“Gimana caranya kau menangkap kalong itu Bondowoso?” tanya Bandung sembari juga mengunyah daging kalong tersebut.

“Anu gusti, saat dia mengambil buah di pohon lalu hamba sambit, eh kena,” jelas Bondowoso.

“Ha ha ha kau pasti sangat lihai melempar batu,” lanjut Bandung.

“Wuah dia jagonya menyambit buah dan burung juga gusti he he he,” jelas Pikatan.

“Baiklah, setelah ini kita akan membuat tenda, dan bergantian berjaga, kecuali Roro Jonggrang,” jelas Bandung.

“Baik gusti,” Pikatan dan Bondowoso menjawab berbarengan.

*
Raja Baka


“Selamat pagi,” sapa Jonggrang kepada Pikatan dan Bandung.
Mata Pikatan mencari-cari di mana Bondowoso berada.

Ternyata dia berada di tempat api unggun semalam dan sedang membakar singkong.

Entah dia dapat dari mana makanan berumbi itu.

“Tangkap!” teriak Bondowoso sembari melemparkan singkong utuh yang lumayan besar sebesar lengan orang dewasa ke arah Pikatan.

“Hap, aduh-aduh hei…hei… wuah masih panas, eh … eh!” Pikatan berhasil menerimanya tetapi karena masih panas, akhirnya terlepas dan jatuh ke tanah, diambilnya lagi, kepanasan lagi dan dilepaskan lagi, lalu diambil lagi, kali ini menggunakan alat seperti lipatan kayu yang diambilnya.

“Ha ha ha,” Bondowoso tertawa, sembari membawa hasil bakaran singkong lainnya. Dan membawanya mendekati Bandung dan Jonggrang.

“Setelah sarapan, kita langsung berangkat, kita sudah mulai dekat dengan Kerajaan Baka,” ujar Bandung.

“Semoga kita juga akan bertemu dengan kedai pecel, kayaknya singkong belum kenyang ni,” ujar Pikatan.

HA HA HA

Mereka tertawa bersama.

“Nah paling tidak kita sudah sarapan. Ayo berangkat dan kita harus segera membeli kuda di pasar terdekat, agar kita segera sampai ke Kerajaan Baka,” ujar Bandung.

“Baik gusti,” Pikatan dan Bondowoso menjawab bareng.

Rombongan bergerak lambat karena berjalan kaki. Sekitar tiga jam berjalan kaki, mereka mulai memasuki pedesaan. Dan menemukan penjaja kecil yang menjual nasi pecel.

“Bu, bungkuskan lima nasi pecel,” Roro Jonggrang memesan.

“Baik nduk,” ujar ibu penjual pecel, lalu dengan cekatan menyiapkan pecel bungkusnya.

“Ini nduk,” ujar si ibu pecel.

“Berapa bu?” tanya Jonggrang.

“1/16 tahil perak nduk,” jelas ibu tersebut.

Creck-creck.

Jonggrang memotong satu tahil peraknya menjadi enam belas bagian dan memberikan satu potongan perak tadi ke ibu penjual pecel,”Makasih bu.”

Ibu itu tersenyum,”sama-sama nduk.”

Kemudian Jonggrang berjalan ke pinggiran jalan dan teman-temannya sudah ada di sana di dekat penjual cincau.

“Aku membeli lima bungkus, biar yang kurang bisa nambah,” ujar Jonggrang lalu membagi satu-satu bungkusan nasi pecel kepada Bandung, Bondowoso, dan Pikatan.

Jonggrang kemudian meletakkan sisanya di batu besar yang mereka duduki sebagai tempat berkumpul setelah dia mengambil satu bungkus untuknya.

Pikatan makan lahap sekali, sedangkan Bandung memesan empat minuman cincau dengan wadah seperti tempat minum dari batang bambu.

Lalu Bandung duduk dan mulai membuka bungkus pecelnya dan melahapnya.

“Wuah, kalau lapar sekali, makanan sederhana jadi enak sekali,” ujar Pikatan.

“Ha ha ha iya,” jawab Bondowoso lalu segera mengambil satu bungkus yang tersisa.

“Eit aku juga masih lapaaaaar!” ujar Pikatan,”Bagi dua ya.” Kata Pikatan lagi.

Jonggrang tersenyum melihatnya,”Kalo kurang, bisa beli lagi, penjual pecelnya masih di situ, tuh kelihatan”

“Wuah cincaunya segar juga nih, dicampur air kelapa dan peresan jeruk nipis sepertinya, menambah segar,” ujar Bandung.

Mendengar perkataan Bandung, Pikatan segera meminum cincau miliknya,”Wuah gusti benar, segar sekali.”

Setelah makan, mereka bergerak mencari penjual kuda. Namun, mereka tidak menemukannya.

Lalu mereka bertanya pada seseorang penjual kambing di sudut desa.

“Ki, di mana kami bisa membeli kuda tunggangan?” tanya Pikatan.

“Wuah, kuda di sini sudah diminta semua oleh Kerajaan Baka den,” jelas si penjual kambing.

“Diminta?” ujar Bandung mengulangi lagi perkataan penjual kambing tersebut.

“Iya den, secara paksa, sehingga penjual kuda sudah tidak berdagang lagi, khawatir dagangannya diminta begitu saja, kami kan pedagang den, darimana mendapatkan uang bila diminta begitu saja,” jelas si pedagang kambing.

“Itu sih bukan diminta tetapi diambil, atau paling tepatnya, dirampok oleh kerajaan, seharusnya mereka membelinya walaupun dengan harga jauh lebih murah,” ujar Pikatan.

“Apakah ada desa lain di dekat sini yang menjual kuda tunggangan ki?” tanya Bandung.

“Sepertinya desa-desa sekitar juga mengalami hal yang sama den,” jelas si pedagang kambing.


*

Pedati dengan penarik kerbau bergerak pelan. Di depan sebagai saisnya adalah Pikatan, di samping Pikatan ada Bandung.

“Paling tidak dengan pedati ini kita dapat membeli bekal di perjalanan lebih banyak daripada naik kuda,” ujar Pikatan.

“Ha ha ha iya,” sahut Bondowoso yang ada di sisi belakang pedati dengan bertengger sedikit di atas pijakan kaki.

Sedangkan Jonggrang dengan santainya ada di dalam pedati dan sedang memakan buah jeruk.

Saat menjelang sore, perjalanan mereka mendadak dihentikan oleh seorang pengendara kuda yang bertopi petani, sehingga wajahnya tidak terlihat jelas, terlebih lagi bagian mulut dan hidung tertutup kain juga.

“Ada apa ki sanak?” tanya Bandung.

“Sebaiknya kalian berbalik arah!” saran orang tersebut.

“Kenapakah?” Bandung balik bertanya.

“Karena berbahaya,” jelas orang tersebut sembari mengangkat topinya dan membuka penutup mulut dan hidungnya.

“WANARA!” teriak Pikatan.

“Hm…,” Bandung mendengus kesal.

“Ikut aku,” ajak Wanara.

Dengan segera Pikatan menggerakkan pedatinya berbalik arah lagi dan mengikuti Wanara yang membimbing mereka ke suatu tempat.

Setelah sekitar 30-an menit bergerak. Wanara menghentikan kudanya, lalu turun dan menambatkan kudanya.

Mereka berhenti di suatu gubuk tua dekat hutan kecil.

“Baiklah, kita di sini dulu, ini tempat persembunyianku selama ini,” jelas Wanara.

Bandung, Pikatan, Bondowoso, dan Jonggrang segera turun. Kemudian mereka sibuk dengan tugasnya masing-masing.

Bondowoso segera mengangkat barang-barang bekal ke dalam gubuk. Sedangkan kali ini Pikatan lebih tertarik mengumpulkan kayu bakar untuk memasak.

Jonggrang sudah mempersiapkan alat-alat memasaknya dan membuat racikan bumbu untuk makanan mereka, tahu, tempe, terong, dan sambal terasi, sisanya tinggal menghangatkan lagi nasi kuning yang telah dibelinya di pasar sebelumnya.

Bondowoso sedang berbicara dengan Wanara, mendapatkan informasi yang sangat dibutuhkan oleh mereka.

“Istana mempunyai delapan lapis keamanan, lapisan luar yaitu berjumlah enam belas pos keamanan di bagian luar istana, tiap pos terdiri dari seratus orang prajurit, mereka andal dalam pertahanan jarak jauh, seperti panah dan lembing,” Wanara menjelaskan.

“Lalu lapisan kedua berada di dalam area kerajaan yang terdiri dari delapan pos, tiap pos terdiri dari seratus orang prajurit, di barisan kedua ini lebih banyak yang andal dalam melempar lembing” tambah Pikatan.


bersambung....


Cerbung ini ada di An1magine majalah eMagazine Art and Science Volume 1 Nomor 6 Agustus 2016
yang dapat di-download gratis di Play Store, share yaa



Komentar

Page Views

counter free

Visitor

Flag Counter

Postingan populer dari blog ini

STANLEY MILLER: Eksperimen Awal Mula Kehidupan Organik di Bumi

CERPEN: POHON KERAMAT

Menerbitkan buku di An1mage