Roro Jonggrang di An1magine Volume 1 Nomor 4 Juni 2016


Prajurit
M.S. Gumelar 

Kelompok Sumantri bergegas mengejar dengan kuda-kudanya dan kelompok Lurah Ngenger menuju arah lainnya yang bertujuan untuk mencegat Yandrei di suatu tempat.

Sementara itu kelompok Yandrei dengan menggebu memacu kuda-kudanya, debu-debu berterbangan di sela-sela kaki kuda tersebut menembus malam. Teriakan minta tolong Dumilah belum berhenti juga.

GUBRAAAAAK

Mendadak kuda paling depan terjatuh mengakibatkan kuda-kuda di belakangnya ikut terjatuh terjerembab.

Hal ini membuat pegangan orang yang membawa Dumilah menjadi kurang kuat dan Dumilah terlempar.

Namun sebelum Dumilah terjatuh mengenai tanah, mendadak tubuhnya ditangkap oleh seseorang sehingga terselamatkan, lalu Dumilah diberdirikan dan orang asing tersebut melepaskan ikatan yang membelit tubuh Dumilah.
“Ter…terima kasih den….,” ucap Dumilah.

“Sama-sama,” jawab Ciung.

Melihat Wajah Ciung yang menggunakan masker di mulutnya, membuat Dumilah mundur beberapa langkah.

“Oh maaf, jangan takut, ini hanya untuk menutup mulut saja,” Ciung membuka masker yang ada di mulut, ”Saya tidak bermaksud buruk, maafkan saya,” lanjut Ciung dengan wajah ramah dan tatapan yang santun.

Saat itu kuda-kuda tunggangan kelompok Yandrei sudah dapat berdiri dengan keempat kakinya.

“Bangsaaaaaat! Siapa yang berani melakukannya?!” hardik Yandrei dengan napas terengah-engah.

“Whuooooo, kata-kata yang buruk,” ujar Wanara sembari mengayun-ayunkan gadanya.

“Siapa kalian, kami tidak ada masalah dengan kalian!” hardik Yandrei.

“Memang benar kami tidak ada masalah dengan kalian, tetapi kalian yang membuat masalah dengan kami!” kata-kata berat dan tegas muncul dari seseorang di bawah pohon kelapa, orang tersebut maju dan sinar bulan mengenai orang tersebut.

“SIAPA KAU!” hardik Yandrei lagi.

“Ha ha ha apa artinya suatu nama?” kata Bandung.

“Sangat tidak wajar bukan ada sekelompok laki-laki membawa seorang wanita yang jelas-jelas minta tolong dengan tubuhnya terikat di malam hari pula” lanjut Bandung.

“Hah, ikut campur masalah orang lain, berani sekali, kalian cuma bertiga” ujar Yandrei, setelah pandangan matanya mencari dan menghitung orang yang menjegal kudanya, segera teman-temannya yang berjumlah dua belas segera mengepung Kelompok Bandung.

“Hoeeekh bau apa ini?!” mendadak beberapa teman Yandrei yang berada paling belakang lalu segera orang-orang tersebut menutup hidungnya dengan selempang mereka.

 “Ada aku empat, dan lima sama wanita itu!” teriak Bondowoso menampakkan dirinya.

“Sial! apakah dia penunggu hutan ini?!” ujar orang tersebut setelah salah satu orang Kelompok Yandrei melihat Wajah Bondowoso, lalu mendadak orang tersebut bersama satu orang lain lagi yang telah melihat Wajah Bondowoso segera berlari meninggalkan Yandrei.

“Kembali ke sini kau pengecut!” ujar Yandrei kepada 2 orang temannya yang lari ketakutan melihat Wajah Bondowoso.

“HOEEEKH, BAU BUSUK APA INI?” teriak Yandrei, lalu dia menyelempangkan kain selempangnya ke area hidungnya.

Bondowoso maju semakin mendekat, dan bau semakin menyengat, mendadak lima kelompok Yandrei yang tidak memiliki selempang jatuh dan pingsan karena tidak tahan menahan baunya.

“Sial” umpat Yandrei.

”Ayo teman-teman kita pergi dari sini!” ujar Yandrei dan bergegas naik ke kudanya, teman-temannya yang tidak pingsan segera menyusulnya.

“Ha ha ha ha ha,” tawa Bandung dan teman-temannya menggema mengiringi kepergian mereka menjauh dari tempat tersebut.

“Wuah Bondosowo, kau mengalahkan orang tanpa memukul, kesaktian tertinggi yang pernah aku lihat,” gurau Bandung.

“Ah gusti senopati bisa aja,” jawab Bondowoso kalem.

“Ha ha ha,” Ciung dan Wanara tertawa berbarengan.

Tidak beberapa lama, mereka mendengar suara derap kuda ke arah mereka. Ketua kelompok berkata setelah dekat dengan mereka, ”Apakah saudara-saudara melihat gerombolan pria yang menculik seorang wanita!” tanya Lurah Ngenger.

“Ki Lurah!” sapa Dumilah dan langsung berlari menuju bapak suaminya tersebut.

“Oh syukurlah kau selamat nduk,” Lurah Ngenger merasa berbahagia dan memeluk mantunya tersebut.

“Iya ki, ditolong oleh kesatria-kesatria ini,” ucap Dumilah menjelaskan.

“Terima kasih banyak den kesatria, terima kasih banyak!” Lurah Ngenger mendadak menjatuhkan dirinya dan bersimpuh hormat sebagai tanda terima kasih yang mendalam kepada Bandung dan kawan-kawan.

“Hm bau apa ini?” lalu segera Lurah Ngenger menutup hidungnya dengan selempangnya.

“Maaf ki, itu bau tubuhku,” Bondowoso berkata dengan polosnya.

“Ooooh, maaf kesatria, saya tidak bermaksud menghina maaaaf!” ujar Ngenger sembari merasa kikuk dan terkejut tapi disembunyikan setelah matanya melihat kejelekan wajah dan tampilan Bondowoso.

“Tidak perlu meminta maaf ki, bau badan saya memang seperti ini, saya yang mohon maaf,” ujar Bondowoso lagi.

“Ha ha ha bangunlah ki,” ujar Bandung.

Mendadak rombongan berikutnya muncul dari arah yang sama saat kelompok Yandrei melewati area tersebut.

“Ki, kau berhasil menyelamatkan Dumilah!” teriak Sumantri segera turun dari kudanya.

“Bukan aku, tapi para kesatria ini,” jelas Lurah Ngenger.

*

Sorak sorai pesta pernikahan Sumantri dengan Dumilah semakin meriah setelah peristiwa tersebut.

Pak Lurah memberikan pidato singkat, ”Terima kasih atas kehadiran kembali para undangan yang kami hormati, terima kasih pula dengan bantuan 4 kesatria yang duduk di area sana dan tidak mau disebutkan namanya dalam pidato saya ini,” Lurah Ngenger menunjuk deretan tamu, Bandung dan kawan-kawan yang tengah duduk di area tamu.

“Dengan bantuan mereka dan teman-teman lainnya inilah, sehingga Mantu Saya Dumilah telah kembali, terima kasih banyak!” ucapan sepenuh hati Lurah Ngenger, air matanya menetes bahagia.

Lalu dia melakukan penghormatan kepada Bandung dan kawan-kawan dengan cara Om Swastiastu melekatkan kedua telapak tangan menghadap ke atas di area depan dadanya.

Bandung dan kawan-kawan membalas tanda hormat tersebut dengan melakukan hal yang sama.

“Silakan pesta dilanjutkan kali ini ditambah dengan hidangan spesial yaitu kambing guling” ujar Lurah Ngenger, sorak gembira bergema setelah lurah menyebut kambing guling.

“Monggo dinikmati!” Lurah Ngenger turun dari podium dengan perasaan haru.

Sumantri dan Dumilah saling berpandangan, mereka sangat berbahagia terpancar dari sinar mata mereka yang berbinar-binar, jari jemari mereka saling bertaut.

Esoknya, Bandung dan rombongan kecilnya berpamitan pada Lurah Ngenger dan Sumantri.

”Sampai ketemu lagi suatu saat hai para kesatria, ini ada bawaan sedikit untuk bekal di perjalanan,” ujar Lurah Ngenger.

Sumantri pun menghaturkan terima kasih dengan melekatkan kedua telapak tangannya ke atas di depan dadanya dan terlihat kedua hidungnya diberi masker agar tidak mencium bau busuk dari tubuh Bondowoso yang menyengat.

Bandung dan kawan-kawan membalasnya dengan melakukan hal yang sama,”Terima kasih telah diberi tempat untuk menginap, makanan dan bekal, semoga kita dapat bertemu lagi di suatu waktu,” jawab Bandung, dengan masker hidung seperti biasa sudah dipasangnya.

Kemudian Bandung dan kawan-kawan segera naik ke kudanya masing-masing dan memacu kudanya untuk melanjutkan perjalanan ke Arah Kerajaan Baka.

Menjelang sore pasukan elit khusus tersebut sampai di tepi hutan larangan yang terletak di tepi luar Kerajaan Pengging.

“Kita berkemah di sini dulu, karena pada malam hari akan menjadi kesulitan bila masuk hutan larangan,” jelas Bandung.

“Hm kenapa dinamai hutan larangan?” tanya Ciung.

“Nanti kita akan tahu saat malamnya ha ha ha,” ujar Wanara.

“Ha ha ha kau benar Wanara,” tambah Bandung.

Bondowoso segera mengumpulkan batang kayu-kayu kering di sekitar area tersebut. Menumpuknya seperti saling sanggah antara satu batang dengan lainnya membentuk gundukan seperti kerucut yang kasar.

Lalu dengan segera dia menyalakan api dengan suatu alat dan menyembunyikan alat tersebut dengan cepat tanpa dilihat oleh yang lainnya.

“Api unggun sudah jadi!” Bondowoso memberitakan hasil kerjanya.

“Wuah bagus sekali, cepat sekali kau membuat apinya, pake tenaga dalam? Ha ha ha,” seloroh Bandung.
“Ha ha ha aku saja perlu waktu lama untuk membuatnya dengan benturan batu akik, percikannya baru ke kapas lalu jadi api,” ujar Wanara menambahkan, sedang Ciung juga merasa keheranan. Bondowoso menjawabnya dengan senyuman.

Bondowoso berdiri, memeriksa bawaan yang ada di kuda miliknya, mengambil bongkahan besar dan meletakkannya secara teratur dan membentuknya menjadi tenda berupa kerucut dengan bantuan batang-batang kayu yang ditemukannya.

“Ha ha ha cerdas, baiklah aku juga akan mencontohnya,” kata Bandung.

“Ha ha ha iya, aku juga,” ujar Ciung, sedangkan Wanara langsung lari ke arah kudanya dan mencari kain yang dapat dibuat tenda,” Ah tidak ada yang lebar!” keluhnya.

“Jangan khawatir, aku punya lebih, nih!” Bandung melemparkan lipatan kain yang lumayan lebar ke arah Wanara.

“Wuah makasih gusti!” sambut Wanara gembira.

Sore mulai merangkak malam, api unggun menyala dengan terang di area tersebut.

Mendadak Bandung dengan cepat mengambil kain dan mencelupkannya ke dalam air sungai yang dekat dari area tersebut, lalu segera melompat dengan cepat di depan api unggun lalu menutup api unggun dengan kain tersebut, sehingga api air unggun menjadi mati seketika.

*

Hutan Larangan

Semuanya menjadi terdiam serentak, mendadak di atas mereka sesuatu benda berbentuk bulat terang menyala dengan dengungan pelan berbunyi oooooommm.

Benda tersebut di tepinya berputar dengan cepat, namun di bagian tengahnya diam, dan bagian tepi yang berputar terbagi menjadi dua yang bergerak saling berlawanan arah.

Benda bulat besar bersinar tersebut bergerak pelahan mengambang tanpa roda yang menahan dan Menggerakkannya, tetapi benda besar bersinar tadi mampu melintasi Kelompok Bandung yang sedang bengong dan takjub melihatnya dari bawah.

Kemudian benda tersebut menjauh dari tempat tersebut dan tidak terlihat lagi dari Pandangan Mata Kelompok Bandung karena terhalang oleh pohon-pohon hutan tersebut.

Bandung segera melihat teman-teman Ciung dan Wanara yang bengongnya belum terhenti terlihat dari cahaya bulan yang menimpa wajah mereka, sementara itu Bondowoso yang berdiri agak jauh dari mereka bertiga tidak terlihat jelas reaksi dari mukanya.

“A….Apa….Apakah karena itu disebut hutan larangan…larangan?” tanya Ciung tidak tahu diarahkan untuk bertanya pada siapa.

“Salah satunya, secara acak makhluk bersinar tersebut menelan orang-orang yang tidak beruntung karena berkemah di area sini dengan api unggun yang menyala”

“Aku tadi belum sempat melarang Bondowoso saat dia membuatnya, tetapi aku pikir kita tidak bakalan seberuntung ini sehingga mengalami hal tersebut, ha ha ha,” Bandung tanpa diminta menjawabnya.

“Apa nama makhluk tadi?” tanya Wanara.

“Orang menyebutnya Ndaru Kirana,” jawab Bandung.

“Ndaru ha? Wuah bagus untuk membuat keris tuh” kata Ciung.

“Ha ha ha ndaru yang itu batu meteor yang jatuh, memang untuk membuat keris, tetapi yang tadi bukan ndaru yang dimaksud, bahkan orang-orang sekitar sini ada yang menyebutnya dewandaru, apakah itu dewa yang sesungguhnya? Aku juga kurang tahu” ujar Bandung menambahkan.

Mendadak mereka dikejutkan oleh suara auman harimau di kedalaman hutan.

“Ada baiknya kita tidak perlu menyalakan api unggun lagi,” kata Bandung melihat ke arah Bondowoso.

“Baik gusti,” jawab Bondowoso.

Mereka pun segera kembali ke tenda masing-masing saat Ciung mendadak berteriak,”Keluar dari rerimbunan itu atau kami yang akan memaksamu!”

“Ba…baik den,” ujar orang yang ada di balik rerimbunan semak-semak tersebut.

Muncul dengan perlahan seseorang berpakaian ala pendekar dengan muka tertutup topeng kayu berwarna cokelat gelap dengan Corak Banaspati, dengan menuntun kudanya keluar dari rerimbunan tersebut.

“Buka topengmu!” perintah Wanara yang mendekat bersiaga di samping Ciung. Bandung dan Bondowoso pun segera mendekat dan juga bersiaga.

Perlahan tapi pasti orang tersebut membuka topeng Banaspati tersebut, ternyata di belakang topeng tersebut masih ada masker penutup hidung, kemudian penutup hidungnya juga secara perlahan dibukanya.

“Roro Jongrang!” teriak Bandung lalu segera mendekati Jonggrang.

“Kenapa?” tanya Bandung.

“Aku ingin ikut menyelamatkan Ayahandaku” jawab Roro Jonggrang.

“Baiklah, aku paham perasaanmu, untung saja kau tidak mengalami hal-hal buruk,” Bandung memahami.
“Iya, aku mengikuti kalian dari kejauhan sejak berangkat dari alun-alun Pengging secara sembunyi-sembunyi, hmm… ada satu orang lagi yang membantuku satu punggawa dan satu orang pengelana yang katanya mengenal Bondowoso,” Roro Jonggrang menjelaskan.

Roro kemudian menutup lagi hidung dan mulutnya dengan masker kainnya.

Tak berapa lama keluar dari rerimbunan arah yang sama saat Roro Jonggrang keluar dari rerimbunan. Satu oang berpakaian punggawa ala kerajaan Baka dan satu orang lagi. Dengan cepat Bondowoso berteriak, “Pikatan!”

“Ha ha ha iya, akhirnya kita bertemu lagi,” ujar Pikatan, sambil menutup mulutnya dengan selempangnya.

“Ya, itu Pikatan, dan ini pengawalku ini bernama Angling,” Roro Jonggrang mengenalkan rombongannya. Angling masih menggunakan masker kain penutup hidung dan mulutnya.

“Hmm… hal ini akan menyulitkan kita, tidak semuanya punya kemampuan khusus dalam misi ini!” mendadak Bandung berkata lebih keras.

“Aku tidak dapat menjamin keselamatan kalian!” tambah Bandung.

“Kami tahu gusti, oleh karena itulah kami tahu risiko yang akan kami alami, bahkan kehilangan nyawa kami,” ujar Roro Jonggrang.

“Ha ha ha, baiklah, kami tidak akan memperlakukanmu seperti dalam istana ya Putri Jonggrang, biasakanlah,” ujar Bandung tegas.

“Baik gusti,” jawab Roro Jonggrang.

“Hai Bondowoso, akhirnya kita bisa bertemu, Pikatan banyak bercerita tentangmu,” sapa Roro Jonggrang kepada Bondowoso.
“Oh wo ah…..,” Bondowoso salah tingkah dan salah bicara melihat Roro Jonggrang dan kemudian melihat Pikatan yang sedang tersenyum-senyum ke arahnya.

Kemudian Pikatan segera membuat tenda untuk Roro Jonggrang, Bondowoso membantunya, punggawa tersebut berjaga-jaga di samping Jonggrang.

Tak berapa lama tenda Roro Jonggrang selesai dibuat.

“Tenda sudah siap gusti putri, silakan masuk dan beristirahat,” Angling meminta Roro untuk segera istirahat.

“Baiklah, terima kasih,” jawab Roro dan mulai masuk ke tenda.

Pikatan masih sibuk menabur garam di sekitar tenda-tenda tersebut dan dibantu oleh Bondowoso.

“Garam ini akan membuat ular atau sejenisnya tidak akan masuk ke area tenda, tetapi bagaimana dengan yang sudah di dalam tenda?” ujar Pikatan dan sembari timbul pertanyaan.

“Tentu saja pastikan saat membuat tenda, tidak ada lobang dan di area datar, sehingga kecil kemungkinannya ada ular di area tenda,” jawab Bondowoso.

“Ha ha ha iya, sudah kupilih area seperti itu, tapi bagaimana kalo ternyata ada kalajengking atau sejenisnya yang tidak nampak karena cahaya yang kita andalkan saat itu cuma cahaya bulan saja?” tambah Pikatan berargumentasi.

“Ha ha ha iya, paling tidak sudah berusaha,” jawab Bondowoso.

“Bagaimana kau bisa bertemu Putri Jonggrang?” tanya Bondowoso.

“Hm cuma kebetulan saja, dia sepertinya kebingungan arah mau ke mana, karena punggawanya tidak pandai dalam melacak jejak, kemudian aku tawarkan jasaku, dan hei akhirnya kita ketemu di sini lagi ha ha ha,” jelas Pikatan.

“Ha ha ha iya, aku tahu kau pelacak jejak yang andal,” puji Bondowoso.

“Kau suka kan kupertemukan dengan cewek yang tidak takut atau jijik melihatmu? Seorang putri lagi ha ha ha” ujar Pikatan menggoda.

“Ha ha ha mana mau Putri Jonggrang sama aku,” jawab Bondowoso.

“Hei hei ayooo, jangan merasa hina, perlihatkan bahwa bukan masalah tampilan luar, tapi yang paling penting tunjukkan bahwa kamu orang yang baik, perhatian, dan mampu menghargai wanita, ah cuma sayangnya kamu bukan orang ha ha ha!” Pikatan menghibur Bondowoso secara bersamaan juga menggodanya.

“He he he,” Bondowoso tersenyum kecut, tapi kemudian tertawa lepas,” Ha ha ha ha ha,” karena dia tahu Pikatan memang sifatnya begitu, namun sangat setia kawan dan selalu mendukung dan menghiburnya.

“Lah jadi tambah gilaaaaa!” ujar Pikatan.

Malam semakin larut, bulan tampak indah mengambang di langit, bintang-bintang tampak berkilauan seperti permata berlian yang terkena sinar.

Pagi telah menjelang, kelompok Bandung  tampaknya telah bersiap untuk melanjutkan perjalanan. “Ini adalah hari ketiga, sekitar sore hari bila kita dapat bergerak cepat, kita akan mencapai titik luar Area Kerajaan Baka!” ujar Bandung.

“Ayo kita berangkat!” perintah Bandung.

“Ayoooo!” kelompoknya menyahutinya dengan semangat.

Kelompok kecil tersebut memasuki hutan larangan dengan perlahan, karena hutannya sangat lebat dan pepohonannya terlihat sangat tua dan tinggi-tinggi.

Ciung dan Wanara beberapa kali harus memangkas jalanan setapak yang memasuk hutan, kelihatannya sudah sangat jarang sekali orang-orang melalui area tersebut.

Untungnya, Pikatan dengan teliti membimbing arah jalan mereka dari depan, sehingga Pikatan sebagai pelacak jejak sangat membantu dalam perjalanan dalam hutan tersebut.

Bandung dan kuda yang ditunggangginya berada di belakang kuda Ciung dan Wanara.

Sedangkan Roro Jongrang dan kudanya tepat di belakang Bandung, kemudian Angling dan kudanya seperti biasa ada di dekat sebelah kanan Roro Jonggrang. Kemudian barisan paling belakang adalah Bondowoso, sedang menaiki kudanya dengan santai.

Mendadak Pikatan memberikan aba-aba dengan gerakan tangannya agar rombongan berhenti. Lalu Ciung, Wanara, dan Bandung segera mendekatinya.

“Gusti, ada segerombolan perampok di area sebelah sana, apakah kita akan lanjut dan melawan mereka? Dari jumlahnya sepertinya lebih banyak dari kita,” jelas Pikatan.

“Kita tidak punya banyak waktu untuk bergerak melingkar dan menjauh dari mereka, kita lawan mereka, kau lindungi putri Jonggrang tetap di sini,” perintah Bandung.

“Aku, Ciung, Wanara dan Bondowoso akan berjalan terlebih dahulu, agar perhatian mereka ke arah kami, setelah kami bereskan mereka, kalian boleh menyusulnya,” kata Bandung mengomandoi.

“Baik gusti!” jawab mereka, segera saja, Ciung memberi aba-aba kepada Bondowoso untuk segera mendekat.

Kemudian Bandung, Bondowoso, Ciung dan Wanara bergerak mendekati area yang dimaksud.

Dengan perlahan tapi pasti empat orang berkuda menuju ke arah para perampok berada. Dari semak-semak, bermunculan orang-orang berpakaian kotor dan berperawakan cenderung besar-besar mengepung mereka, persis seperti yang mereka perkirakan.

Setelah mendekat, tanpa dikomando, beberapa orang perampok segera menutup hidungnya dan beberapa orang yang memiliki selempang atau kain lebih di tubuh mereka, segera menutup hidungnya pula dengan selempang yang mereka miliki.

“Baiklah, tak perlu basa-basi, berikan kami barang-barang kalian, agar kalian bisa kami loloskan tanpa kami perlu memaksanya dan berakhir mengenaskan dengan kami membunuh kalian semuanya!” teriak perampok berewokan dengan gada berduri yang ada di tangannya.

“Ha ha ha kalian belum mengenal kami!” ujar Bandung.

“Hallah tidak usah sok jago dan sok pahlawan, sudah banyak orang sepertimu mati mengenaskan!” bentak  pimpinan perampok yang berjumlah dua puluh orang tersebut.

“TURUN!” bentak pimpinan perampok itu.

Bandung, Bondowoso, Ciung, dan Wanara segera turun dengan siaga.

“Ha ha ha bagus, sekarang, berikan  kuda-kuda itu kepada kami!” perintah pimpinan perampok tersebut.

“Siapa nama Anda ki sanak?” tanya Bandung dengan jelas.

“Aku Dharma ha ha ha!” jawab pemimpin perampok itu.

“Baiklah Dharma, nama yang bagus, sayang menjadi rampok,” ujar Bandung.

“AAH DIAAAAAM!” bentak Dharma, lalu menarik tali kekang kuda milik Bandung yang sedang diarahkan kepadanya oleh Bandung.

Saat bersamaan Bandung merunduk dan menyarangkan pukulan ke arah perut bagian bawah Dharma.

Dharma bukanlah sehari dua hari menjadi perampok, mengetahui gerakan itu, segera dia melompat untuk menghindarinya, namun naas.

Bandung dengan sigap berdiri dan menyusulnya dengan serangan berikutnya berupa tendangan yang telak mengenai Dada Dharma.

Dharma terlempar jauh dan mengenai pohon besar.

BLETAAAAK

Bunyinya terdengar seperti ada pelindung di area punggung Dharma. Ternyata Dharma menggunakan pelindung dari kayu di area dada dan punggungnya, kayu yang dibentuk dengan bantuan tali-tali sehingga mampu melindungi area dada dan punggung dengan lebih fleksibel mengikuti bentuk tubuhnya.

“SIAAAAAL, HABISI MEREKAAAA!” Perintah Dharma kepada anak buahnya.  Segera saja anak buahnya menyerang serentak Bandung, Bondowoso, Ciung, dan Wanara dengan gencar.

Kesebelas anak buah Dharma menyerang dengan golok, pedang, dan tombak secara bersamaan ke arah Bandung, Bondowoso, Ciung, dan Wanara.
Bandung segera menyongsong sabetan golok dan pedang yang menuju ke arahnya dengan menggunakan pergelangan tangannya yang dilindungi oleh gelang baja yang lumayan panjang sehingga cukup untuk mementalkan golok dan pedang lawan.

Kemudian dengan cepat Bandung memukul balik penyerangnya, dengan tetap menggunakan gelang tersebut sehingga yang membawa golok terkena hantaman di bagian leher dan terpental jauh.

Sedangkan yang membawa pedang terkena di bagian lengan yang membawa pedang, sehingga pedangnya terlepas dan orangnya mundur kesakitan dengan memegang tangannya.

Sementara itu, tiga orang menyerang Wanara dengan menggunakan pedang. Wanara dengan entengnya mengayunkan gadanya, sehingga pedang di tangan para perampok tadi terlepas karena kerasnya benturan itu.

Segera Wanara akan mengayunkan akan memukul ketiganya, mendadak ketiganya berlari menjauhinya dan keluar dari arena pertarungan entah ke mana.

Empat orang perampok menyerang Bondowoso dengan tombaknya, dengan cepat Bondowoso melepaskan baju lengan pendeknya dan mengibaskan tombak-tombak yang mengarah padanya.

Kemudian tombak-tombak tadi dibuat terlilit oleh baju lengan pendeknya, sehingga susah untuk dilepas karena beberapa bagian tombak tersangkut.

Segera saja dihentakkan bajunya tersebut ke area dalam dan mendadak keempat orang tersebut tertarik maju mendekati Bondowoso dengan cepat Bondowoso melakukan tamparan yang bergerak melingkar.

PLAK, PLAAK, PLAAAK, PLAAAAK bunyi tamparan tangan Bondowoso mengenai pipi mereka, dan tamparan itu langsung membekas merah di pipi mereka.

“Wuah sayang sekali sama tombaknya ya, sampai tidak dilepas, ha ha ha!”

Bondowoso mengingatkan kebodohan mereka, dengan cepat mereka melepaskan tombak-tombaknya.

Ketiganya sontak menutup bau yang menyebar masuk ke hidungnya karena tiga orang terlepas lilitan selempangnya yang ada di hidung mereka dan 1 orang tidak tahan baunya yang menempel di pipi mereka karena tidak menggunakan selempang penutup hidung, dan keempatnya segera melarikan diri tanpa dikomando.

“Hei jangan pergi, baru saja dimulai!” teriak Bondowoso.

Sementara itu, Ciung dengan sigap menggunakan golok besarnya untuk menghalau satu orang yang menggunakan gada dan satu orang yang menggunakan pedang.

Golok Ciung dengan hebat mampu memutuskan gada di tangan perampok yang menyerangnya. Perampok yang memegang gada yang tinggal setengahnya melemparkan gada tersebut dan melarikan diri.

Kemudian Ciung segera menepis serangan pedang dari perampok satunya dengan goloknya pula. Dan berhasil menempatkan goloknya di leher perampok berpedang tadi, perampok itu segera melepaskan pedangnya pula dan berlari menyusul temannya yang terlebih dulu melarikan diri.

Melihat kenyataan itu Dharma segera menyelinap dan melarikan diri pula.

“Baiklah, Jonggrang kau boleh keluar menyusul!” teriak Bandung ke arah area di mana Jonggrang dan teman-teman lainnya.

“Jonggrang, sudah aman!” teriak Bandung lagi.

Bandung, Bondowoso, Ciung dan Wanara bergegas ke area persembunyian Jonggrang.

“Mundur!, berikan harta kalian atau wanita cantik ini akan tinggal nama!” bentak Dharma. Ternyata Pikatan dan Angling sudah terikat oleh kawanan perampok tersebut.

Dan tangan Dharma sudah memegang golok tengah mengarahkannya ke leher Roro Jonggrang.

“Woooo wooo hati-hati Dharma!” ujar Bandung.

“Kau yang hati-hati, ayo copot semua barang berharga kalian dan lemparkan di depan anak buahku!” perintah Dharma.

“Baiklah,” jawab Bandung dengan perlahan melepas beberapa perhiasan yang menempel di tubuhnya.

“Mundur kau, lalu ganti dengan yang di belakangnya!” setelah melihat Bandung melepaskan semua perhiasannya, lalu menunjuk ke Bondowoso.

“Baik!”. Jawab Bondowoso lalu melepaskan perlahan-lahan barang berharga yang ada di tubuhnya.

BRUUUUOOOEEEEEEEETH!

Bau busuk kentut Bondowoso yang sangat kuat merebak dengan cepat, bahkan penutup hidung dari kain tak akan mampu membendungnya. Hal ini membuat Dharma segera melompat mundur dari melupakan tawanannya.

Kesempatan ini digunakan oleh Bondowoso dengan cepat untuk menarik Roro Jonggrang dan dilemparkan ke arah belakang ke area yang aman, kemudian Wanara dengan cepat menangkap Roro Jonggrang.

Lalu setelah berhasil menarik Jonggrang, Bondowoso langsung memberikan tendangan dengan cepat ke arah perut Dharma yang masih kelimpungan dengan bau yang sangat menyengat tersebut.

HEEKHG!

Suara tertahan Dharma terkena tendangan dari Bondowoso, lalu Dharma terlempar menimpa batang pohon yang ada di belakangnya.

BRUUUUUUUUUGH!

Anak buah Dharma terkejut, melihat gelagat tersebut mereka segera kabur dengan serentak. Dharma sepertinya sudah tidak bangun lagi.

“Ah pingsan!” jelas Ciung yang segera menge-check kesadaran Dharma dengan meletakkan tangannya di leher Dharma.

“Ha ha ha luar biasa kau Bondowoso, aji Kentut Sayuto!” puji Bandung sembari bercanda.

“Ha ha ha iya gusti!” Bondowoso tertawa malu.

“Baiklah ayo kita segera berangkat!” Bandung memberi komando.

Perjalanan mereka lanjutkan menembus hutan larangan. Setelah sekian lama perjalanan,”Kita istirahat dan makan, sepertinya matahari sudah di atas ubun-ubun kita,” ujar Bandung setelah melihat aliran sungai yang bersih.

Mereka pun segera mengambil bekalnya masing-masing. Ciung menuntun kudanya untuk minum di tepi sungai, Bondowoso segera mengikutinya membawa kuda pikatan, kudanya sendiri, dan kuda Wanara.

Bersambung....


Cerita ini ada di An1magine majalah eMagazine Art and Science Volume 1 Nomor 4 Juni 2016
yang dapat di-download gratis di Play Store, share yaa

Komentar

Page Views

counter free

Visitor

Flag Counter

Postingan populer dari blog ini

STANLEY MILLER: Eksperimen Awal Mula Kehidupan Organik di Bumi

CERPEN: POHON KERAMAT

Menerbitkan buku di An1mage