ON THE EDGE


ON THE EDGE
Cerita: Handi Yawan
Ilustrasi: Qomar


Prologue
Hari ke-30
Catatan Gerard J.  Clarke, Kapten Jaladara, Tachyon class starship.

Semua perhatian awak Jaladara tertuju ke arah daerah kosong tepi semesta di depan mereka dengan kecamuk air muka berbagai rasa yang sulit dijelaskan. Tetuko yang terjebak di luar semesta ibarat disedot oleh lumpur hisap lebih jauh.

ini berat kehilangan teman-teman kru tanpa ada kabar sama sekali dari mereka yang berada di dalam shuttle pod itu.

Kapten memandang Prof. Jim Butcher dengan serius, sekalipun demikian semua awak tidak tahu apa yang terjadi. Lalu Gerard J.  Clarke mulai teringat sesuatu.

Sejenak Jim Butcher berbicara dengan Lieutenant Commander Jelita Dimyati, lalu kembali menemui Kapten Clarke.

“Coba lihat ini,” kata Jim Butcher sambil menunjuk ke arah jendela anjungan yang berfungsi sebagai monitor utama. Helmsman Jelita Dimyati  menayangkan dua bagan tabulasi pada monitor atas permintaan Jim Butcher.

Tabulasi pertama menampilkan bola-bola dalam model yang berbeda dengan model pada tabulasi yang kedua dan dua-duanya dalam bentuk ilustrasi untuk dibandingkan dan dianalisa.

“Semesta yang hidup ini ternyata berada di tengah samudra bola-bola statis tiada bertepi,” tunjuk Jim Butcher ke monitor. “Daerah kosong di luar semesta adalah proton-proton statis sehingga tanpa neutrino.”

“Tidak ada kehidupan apa pun di dalam lapangan proton-proton statis itu, sehingga apa pun yang memasuki daerah itu lepas dari kehidupan dan di luar jangkauan the Great Attractor!(2)” simpul Jim Butcher.

Bola-bola proton statis ini terus bergelombang mengisi tempat yang semula dimasuki Tetuko, sehingga mendorong Shuttle Pod itu semakin jauh dan sekarang teleskop Nagapasha sudah tidak mampu menangkap citranya.”

Kapten menghela nafas mendengar paparan Prof. Jim Butcher. Berat sekali kehilangan executive officer dan beberapa awaknya sehingga tidak kuasa memandang Jelita yang kehilangan suaminya di dalam shuttle pod itu.

Sementara itu Jelita hanya bisa tersenyum tawar dan mencoba tabah sambil memandang daerah kosong jauh di cakrawala semesta  dengan mata basah berkaca-kaca mengikhlaskan kepergian suami dan teman-teman kru dalam shuttle pod itu.


***

Hari ke-1
Catatan Gerard J.  Clarke, Kapten Jaladara INA 0303.16, Tachyon class starship.

Stasiun luar angkasa Bimasakti sedang membuang sauh di ujung tata surya untuk melepas kepergian satu unit starship yang bernomor lambung Jaladara, INA 303.16, satu unit pesawat luar angkasa jarak tempuh antar galaxy.

Taburan berjuta-juta bintang di langit yang merupakan tata surya masing-masing yang mengisi ruang di Jagat Raya. Sehingga Bima Sakti yang merupakan stasiun luar angkasa terbesar di dunia masih terlihat kecil dalam kesunyian ruang angkasa.

Tata surya-tata surya itu tampak seperti lubang di alam semesta yang di dalamnya ada matahari sebagai pelita.  Matahari itu ibarat di dalam kaca berupa planet-planet yang berkilauan pada orbitnya dinyalakan dari kayu yang diberkati berupa atmosphere sekalipun tidak disentuh oleh api dari matahari.

Solar system-solar system membentuk ruang sedangkan  yang berada antara solar system-solar system merupakan luar ruang yang diisi lautan sinar yang mengisi di mana saja dalam alam semesta ini.

Tachyon Class Starship ini bentuknya mirip sebuah Yoyo dengan masing-masing piringnya berdiameter 2.734 feets. Mengapung di langit dan sedang menerima perintah dari Admiral Mustafa Abuelhassab yang berada dalam Bimasakti.

Monitor utama Jaladara hampir sebesar ruang di anjungan sehingga setiap awak seolah-olah melihat langsung ke langit di luar dan sebentuk inzet menayangkan Admiral yang berada di stasiun Bima Sakti.

Admiral Mustafa Abuelhassab memberikan pidato pengantar untuk Jaladara: “Hari ini kita telah memasuki peradaban Tipe III (4), yang menguasai bentuk energi galaksi.”

“Misi kalian adalah untuk menjawab pertanyaan umat manusia di bumi, yaitu menyelesaikan pemetaan langit di ujung semesta sehingga bisa diperoleh gambaran utuh bagaimana wujud semesta kita,” ujar Admiral. “Sehingga kalian harus membawa Jaladara ke tepi batas semesta?”

“Dulu dengan rintangan hukum relativity, sejumlah cara dicari untuk mendekati kecepatan cahaya. Teori relativitas Einstein telah membuktikan bahwa tidak ada yang mampu melebihi kecepatan cahaya. Tapi tidak untuk peradaban Tipe III, saat ini!

Ternyata solusinya pada pemahaman mutakhir konsepsi atom mengenai Neutrino ini, dengan memahami secara mendetail mengenai peluruhan satu neutrino menjadi satu positron, dan satu elektron.

Sementara itu karena sifat "hantunya", deteksi eksperimental pertama dari neutrino meluncur lebih cepat daripada cahaya (2)?

Para peneliti CERN di Jenewa, mempublikasikan; perjalanan neutrino secara signifikan bergerak lebih cepat dari pada cahaya pada jarak yang sama dalam vakum.

Beberapa tahun kemudian ada klaim mengejutkan dari hasil inovasi teori yang mengubah hukum fisika secara fundamental, bahwa neutrino yang beremisi itu adalah Tachyon! diumumkan oleh Prof. Zwarnaa Yussma penemunya.

Jauh lebih revolusioner, klaimnya mengatakan Tachyon bukan partikel sehingga tidak memiliki massa atau netral.

Hasil dari pengembangan riset Prof. Zwarnaa Yussma, sekarang kita punya Jaladara, Tachyon class starship, pesawat luar angkasa dengan kecepatan Tachyon yang beberapa belas kali lebih cepat daripada cahaya.

Pertanyaan-pertanyaan dari para skeptis, sekarang  tak lagi soal spekulasi omong-kosong yang telah lama kita tinggalkan. Ini semua telah mengantarkan pada era baru dalam hubungan kita dengan alam semesta dan kita takkan pernah lagi memandang langit dengan cara yang sama.

Perkembangan dari evolusi fisika ini, akhirnya telah dapat mengidentifikasi lebih banyak planet mirip bumi. Telah kita datangi 1.000 bintang paling cemerlang di jarak 50 tahun cahaya dari bumi dan akan fokus eksplorasi pada 50 sampai 100 sistem planet mirip Bumi.”  Pungkas Admiral.

Kapten Clarke menegaskan pidato Admiral, “Jaladara telah dilengkapi peta universe sehingga tujuan kita sudah pasti, namun meskipun kecepatan Jaladara sanggup melibihi warp 11, tetap saja bila ditempuh dengan jalur biasa umur kita tidak akan sanggup melewatinya sehingga kita membutuhkan teleportasi yang berada di alam ini.”

Gerard J. Clarke seorang pria paruh baya namun tampak masih bugar biar pun rambut putih telah mewarnai kepalanya.

“Jaladara siap berangkat Lieutenant,” ujar Kapten sambil tersenyum kepada Helmsman cantik sehingga secara tidak langsung pula mengingatkan semua awak pada jadwal.

Lieutenant Commander Jelita mengangguk  lalu  ia alihkan perhatian ke arah konsol di depannya.

Letnan Komandan Jelita mengangguk dan mengalihkan perhatian ke arah konsol di depannya.

Melalui monitor di dalam bridge kapal bintang, Gerard J  Clarke bisa melihat bagaimana antusias orang-orang di bumi mengantarkan para pionir ini mulai bergerak memasuki mulut Heliosphere (3).

***


Helmsman melaporkan, “Heliotail, ekor tata surya ini yang menjadi pilihan paling masuk akal karena teknologi memanfaatkan fungsi suatu blackhole sudah kita kuasai.”

Seolah-olah diingatkan pula, Admiral Mustafa Abuelhassab menyela, “Maaf, bulan madu kalian terganggu,” singgung Admiral sambil menengok Helmsman Jaladara dan Commander Erik Gunarso.

Gerard J.  Clarke tersenyum sambil menengok pula ke arah Lieutenant Jelita yang duduk di belakang meja konsol, Helmsman Jaladara yang memang jelita menjadi tersipu.

Di antara para awak Jaladara ada sepasang kekasih yang menunda bulan madu mereka demi misi ini. Lieutenant Commander Jelita baru saja melangsungkan pernikahan dengan Commander Erik Gunarso.

Erik Gunarso tidak kalah tersipu digoda oleh awak Jaladara lainnya.
Kedua sejoli ini adalah penerbang-penerbang terbaik pula sehingga diikut sertakan dalam misi pionir yang menyita perhatian dunia.

“Ok,” kata Admiral, “Selamat bertugas dan kembali dengan selamat!”  Akhirnya Admiral mengangkat tangan kanan dan meletakkan pangkal lengan di atas dahi sebagai penghormatan mengantar Jaladara memulai perjalanan. Gerard J.  Clarke balas menghormat dan sekaligus mewakili seluruh Kru Jaladara.

“Lieutenant Jelita,” seru Kapten memberikan instruksi pada Helmsman, “Maju dengan kecepatan penuh!”
Lieutenant Jelita mengangguk dengan mantap.


***


Di anjungan Jaladara, Kapten Clarke mengawasi konsol Helmsman dan di saat yang sama Erik Gunarso, mengawasi jendela utama yang berfungsi sebagai monitor.

Jelita Dimyati duduk di konsolnya sambil mengoperasikan jaladara dengan tenang.

Di belakang kursi Kapten, Lieutenant Commander Will Jin Feng duduk pula mengawasi kelayakan mesin pesawat pada konsolnya.

Sementara itu ada yang di luar kebiasaan, tampak seorang pria gendut tidak mengenakan seragam seperti layaknya kru tetapi berpakaian kasual. Ia seorang ketua dewan Sains PBB yang ikut dalam misi ini sebagai penilai.

Kelak dari penilaian Profesor Jim Butcher, apakah Jaladara bisa diputuskan layak terbang lagi atau cukup sekali misi ini saja.

Ada lebih menarik. Seunit robot berbentuk bola, terbang melayang di atas ruangan. Objek ukuran sesepak bola adalah Conny Max, satelit teknologi nano yang memiliki kemampuan untuk berubah menjadi bentuk apa pun dan telah ditanamkan kecerdasan buatan.

Bola mata Conny Max yang hanya satu, berkedip atau melirik ke siapa yang sedang berbicara.

“Max, Bagaimana perjalananmu hari ini?” sapa Kapten.

Conny Max, satelite penjelajah galaksi memberikan jawaban dengan memperdengarkan suara seorang wanita sambil melayang mendekati tempat Kapten berada.

“Bola-bola replikaku yang terdiri dari jutaan, sekarang berada di galaksi yang berjarak  7961.78 tahun cahaya, butuh waktu 10 hari mengirim pesan terkompresi ke dalam Quanta bit melalui teknology teleportasi dan hari ini baru kembali …
Kuhimpun kembali sinyalnya hingga akurat melalui rutin error correction dalam system yang ditanam dalam diriku. Nah, apa yang Anda tanyakan, Kapten?”

Gerard J. Clarke selalu dibuat tersenyum oleh Max yang ramah. “Tidak, aku hanya ingin tahu kenapa data saja yang bisa ditransmisi secara teleportasi dan bukan manusia? sehingga kita tidak perlu repot pergi ke bintang paling jauh di ujung dunia.”

“Tidak bisa Kapten, karena selain butuh kecepatan tachyon, tubuh manusia akan terurai. Manusia memiliki ruh sedangkan data tidak, kecuali kalo ruh bisa dipisahkan dengan tubuh. Tetapi ruh dan jiwa hanya bisa dipisahkan yang berarti mati!” jawaban mengejutkan dari Max membuat Kapten tersenyum lebih lebar.”

“Ha, ha, ha … “ tawa Kapten. “Tapi tetap saja kita butuh teleportasi itu karena tubuh dan ruh kita keburu berpisah bila menempuh rute biasa.”

Max hanya memperdengarkan suara mesin karena ia tidak bisa memahami kalimat terakhir Kapten J. Clarke.

Lalu Kapten mengubah arah duduknya, lebih mencondongkan tubuh ke arah  Lieutenant Commander Jelita Dimyati.

“Bagaimana kesiapan kita masuk ke modus teleportasi yang aman?” tanya Kapten.

Sebelum Helmsman Jaladara yang duduk di depan Kapten memberikan tanggapan, Ia bicara ke bola logam bermata bulat dan besar itu.

“Max, berubah ke modus tablet!” Perintah Lieutenant Jelita. Conny Max segera merespon perintah Lieutenant commander sambil meletakan dirinya di atas tangan Jelita, lalu  hanya dalam hitungan detik mengubah dirinya menjadi sebentuk komputer tablet.

Lieutenant Jelita mengakses data yang dikirim replika Max. Sesaat kemudian di hadapan para kru Jaladara, terbentang monitor virtual yang berasal dari tablet di tangan Lieutenant Commander.

Lalu mengembang sebentuk monitor virtual di hadapan mereka. Monitor memperlihatkan gambaran suatu area langit.

“ini model Supercluster Laniakea (1) telah membuat kita mengenali “rumah” di semesta ini yang merupakan super kluster galaksi yang di dalamnya dihuni oleh ratusan ribu galaksi termasuk Galaksi Bima Sakti, Tata Surya, dan Bumi yang berada dalam jarak 7961.78 tahun cahaya dari galaxy terluar yang telah diidentifikasi Max.” Papar Jelita.

“Tepi semesta ini oleh para ilmuwan dinamai Langittepi,” sambung Jelita, “dan tidak ada tata surya lain di belakangnya atau dengan kata lain merupakan tepi jagat raya di kuadran ini.”

“Alamat baru ini kita identifikasi oleh para ilmuwan yang berhasil menangkap cahaya yang lepas dari Heliosphere sehingga bisa kita amati alamat cahaya itu berasal. Ke alamat inilah Jaladara menuju.”
Sampai di sini para Kru mengerti apa yang dijelaskan oleh Lieutenant Commander.

“Dua supercluster ini telah dipetakan bersama super-super cluster lainnya dalam Universe Navigation Satellite System (UNSS) yang dimiliki Jaladara dan merupakan teknologi yang digunakan untuk menentukan posisi atau lokasi dalam satuan ilmiah di Jagat Raya.”

“Baiklah,” ujar Kapten dengan mantap, “Peta dua supercluster ini membuat posisi atau alamat Bumi di jagat raya, semakin jelas!

“Blackhole yang terletak di luar tata surya ini memiliki tipe yang bersifat berpindah ruang, sehingga bila dimasuki, Jaladara akan berpindah tempat untuk dijadikan jalan pintas mengarungi ruang angkasa yang luas.”

Para Kru tampak puas dengan paparan Lieutenant Jelita dan Kapten Clarke.
Rupanya Blackhole ini yang akan menjadi mesin teleportasi untuk menempuh ke alamat di langittepi.

“Dulu sewaktu belum dikenal, lubang hitam adalah obyek yang sebaiknya tidak didekati dan akan berusaha pergi sejauh mungkin dari lubang hitam,” kenang Jim Butcher.

“Baiklah,” sela Jim Butcher. “Design Jaladara telah dirancang oleh para ahli berdasarkan pengalaman bertahun-tahun mengamati The Great Attractor dan Heliosphere, sehingga kapal berbentuk yoyo seperti ini unik dan paling cocok untuk memasuki sebuah terowongan wormhole”

“Aku sudah baca panduan teknis kerja mesin yang kalian sebut Shuttling system, tapi tetap saja untuk melakukan perjalanan  dengan  kecepatan cahaya saja akan menimbulkan chaos pada system metabolism dan psykologi kita.” Ucap Jim Butcher.

“Apalagi yang akan kita lakukan dalam perjalanan luar angkasa ini kecepatannya melibihi cahaya!”

Kedua mata Jim Butcher terbelalak lebar sambil mengerutkan kedua bahu. Demikian pula kedua telapak tangannya dibuka lebar-lebar menuntut jawaban dari para kru, terutama dari Kapten.

Jim melanjutkan paparannya, “paradox yang terjadi bila kita bergerak mendekati cahaya, pertama terjadi kontraksi!”

Sementara itu Max sudah menutup monitor virtual dan kembali ke wujud bola sehingga bebas bergerak kembali ke mana saja ia suka di atas kepala mereka dalam ruangan itu.

“Ini akan terjadi pada orang yang bergerak mendekati cahaya, orang akan melihat kita mengecil sama halnya kita melihat mereka pun mengecil. Kedua, butuh energi Infinity dan tidak akan sanggup dipenuhi  yang dihasilkan dari kalkulasi E=mc2, dan energi kinetik = ½ mv2 sekalipun!”

“Dan yang terakhir, melambatnya waktu!

Semua orang akan melihat kita mengalami dilasi, tapi kita pun melihat hal yang sama terhadap orang lain. Kalaupun ada yang bisa melakukannya, itu akan sia-sia karena begitu pesawat yang berkecepatan cahaya pergi beberapa detik saja maka yang berada di bumi akan merasakan pesawat ini pergi bertahun-tahun bahkan bisa ratusan tahun.

Padahal yang berada di dalam pesawat merasa dia pergi hanya sebentar. Itulah relativita!”

Semua kru duduk terdiam di kursinya masing-masing. Bukan gambaran yang diberikan Jim Butcher yang membuat mereka membisu, tetapi sikap Jim,  di zaman ini siapa sangka sikap skeptis  masih ada pada diri seorang Profesor Jim Butcher yang nota bene seorang teknokrat!?

“Aku bisa jelaskan…” bisik Conny Max yang hanya bisa didengar oleh Gerard J. Clarke.

Sikap Max bisa dimengerti oleh Kapten. Seunit robot seperti Max saja bisa kesal melihat kelakuan seorang Jim Butcher. Tapi Gerard J. Clarke seorang pria yang sabar.

“Aku tidak mengijinkan!” Sela Kapten.  Bisikan Kapten juga hanya bisa di dengar oleh Max dan yang lain hanya megira Kapten sedang bergumam saja.

“Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan professor, kali ini sebaiknya di jawab oleh Commander Erik Gunarso, yang paling bertanggung jawab segala hal kelayakan pesawat ini,” ucap Kapten memberikan kesempatan kepada commander.

Sebelum Executive Officer berbicara, ia sempatkan memperbaiki duduknya supaya merasa lebih nyaman.

“Kendala-kendala yang dipaparkan oleh Prof. Jim Butcher akan terjadi karena kita menantang hukum-hukum alam yang telah diletakan oleh Newton dan Einstein selama ini.”

Erik Gun adalah pria yang selalu bersikap serius. Badannya atletis dan wajahnya selalu kelimis.

“Tetapi sekarang kita lihat, ketika kita memahami sifat sebenarnya dari alam semesta, menjadi jelas bahwa gaya elektromagnetik lebih kuat dari pada gaya gravitasi. Gaya elektromagnetik  meniadakan peran gravitasi atau menimbulkan massa  ringan sehingga menghasilkan energi yang dapat digunakan dalam jumlah besar dan biaya minimal.”

“Ya,” Ujar Kapten mendukung argumen Commander Erik Gun. “Bisa dilihat teori Newton yang sudah ada 400 tahun lalu, bahkan orang yang bekerja dengan fisika kuantum 100 tahun lalu. Sekarang sudah menjadi kenyataan… teruskan Commander!” pinta Kapten.

Commander Erik Gunarso melanjutkan bantahannya.

“Siapa sangka ada orang  yang secara tekun melakukan pengembangan model motor antigravitasi ciptaan Nicola Tesla. Seperti yang kita ketahui, Nicola Tesla yang jenius tetapi kalah populer dibandingkan Einstein, bahkan Newton sekalipun, karena teori-teorinya menentang hukum alam fundamental yang diletakan oleh Newton dan Einstein yang 200 tahun terbukti berguna.”

“Tetapi sekarang adalah abad penerbangan antar Galaksi, sehingga orang lebih banyak mencari teori-teori yang menjadi solusi dari hukum-hukum Newtonian dan Einstein. Ternyata, jawabannya ada dalam kerja motor  MagnetoHidroDinamik ("MHD") ciptaan Nikola Tesla.

Hukum Newton dan Einstein berguna di dalam lingkungan gravitasi, sedangkan hukum Tesla sebaliknya, meniadakan peran gravitasi atau massa ringan yang merupakan konstanta kosmologis-nya Einstein yang dulu masih merupakan misteri.”

“ Ya aku tahu,” sela Jim butcher. Rupanya menyela sudah menjadi kebiasaannya. Lalu ia lanjutkan argumennya.

“NASA pernah membuat seunit 'piring terbang' untuk melakukan perjalanan robot ke luar angkasa. Waktu itu Piring terbang NASA ini memiliki parasut apabila ia akan mendarat, tapi kemudian Prof.  Zwarnaa Yussma melakukan terobosan, Ia gandakan menjadi dua unit piring yang arah putarannya saling berbalik dan memutar dua piringan secara horizontal sehingga bisa take off maupun landing seperti helikopter.”

“Bukankah itu yang ingin anda katakan?” kata Jim. “Aku mengenal Almarhum Prof. Zwarnaa Yussma karena ia dulu adalah dosen fisikaku.”

“Tapi yang ingin aku tahu, bagaimana konsepsi Tachyon bisa kalian aplikasikan kedalam wujud nyata seperti pada mesin Jaladara ini yang merupakan koreksi konsep atom klaim Prof. Zwarnaa Yussma.”

“Baiklah kalau hal ini sudah Mister Jim pahami,” Kata Erik Gun mulai tidak sabar.

“Dengan mengembangkan prinsip Tachyon, hasilnya sangat jenius, mesin dengan 2 piringan yang arah putarannya berbeda dan telah Prof. Zwarnaa Yussma

patenkan dengan nama Shuttling System yaitu pesawat berupa piring dempet yang di tengahnya tempat kabin awak.

Berbeda dengan interaksi gravitasi yang bersifat hanya tarik-menarik, interaksi elektromagnetik bisa tarik-menarik maupun tolak-menolak.

Interaksi elektromagnetik juga perlu ide-katakanlah Tachyon yang tidak lain adalah Neutrino yang telah mengalami emisi akibat proses fusi pada inti.

Sejauh ini diketahui, Tachyon tak bermassa. Struktur atom dapat dipahami sebagai interaksi tarik-menarik antara proton (inti) dan nuetron yang melingkupi inti, dengan demikian interaksi elektromagnetik memiliki kekuatan interaksi yang relatif lebih besar bila dibandingkan dengan kekuatan interaksi gravitasi.”

"Hm, ini menarik ...." Kata Prof. Jim Butcher, tersenyum ke arah Kapten. Kapten Gerard J. Clarke mengangguk juga dan senang melihat senyum tamunya yang menunjukkan komunikasi mulai cair.

“Langsung saja ke bagian kontruksi mesin shuttling system ini!” Pinta Jim Butcher.

Erik mengambil tablet  miliknya sendiri yang ia letakan di atas konsolnya, lalu mengakses data yang ia butuhkan.


Sesaat kemudian layar virtual menampilkan sebentuk sketsa teknik. Lalu Commander Erik melanjutkan paparannya. “Ini adalah konstruksi pesawat anti gravitasi :

Bagian Atas, menghasilkan massa positif berputar ke kanan sedangkan

Bagian Bawah, bermasa negatif, berputar ke kiri. Kombinasi kerja dua piring yang berlawanan arah putarannya menimbulkan medan ringan di tengah dan Netral, tempat awak pesawat serta perlengkapan dan mesin yang memutar Positif dan Negatif sekaligus.

Masing-masing piring dibelokkan oleh kemudi yang fungsinya seperti layar pada kapal di laut.”

“Dulu ilmu pengetahuan mengira di luar angkasa tidak ada gravitasi. Sekarang rahasianya kemudian yang telah ditemukan oleh para Ilmuwan, ternyata di pusat alam semesta ada the Great Attractor.” ungkap Prof. Jim Butcher.

“Jadi pesawat Shuttling System yang memanipulasi tenaga lenting atau centrifugal cocok untuk bergerak mengarungi gravitasi jagat raya yang memiliki kecepatan sekaligus memberikan massa netral di dalam pesawat seperti Tachyon!” Puji Jim Butcher menyimpulkan sendiri.

“Tapi “benda” ini bilang,” Tetap saja kita butuh mesin teleportasi karena bila menempuh rute biasa, umur kita tidak cukup untuk tiba di tempat tujuan sekalipun menggunakan pesawat berkecepatan Tachyon.”

“Aku bukan Benda!” Conny Max protes. Bunyi suara mesin mirip keluhan terdengar dari Max. “Aku memiliki kecerdasan artifisial dan … “

Max tidak sempat menyelesaikan omelannya karena Commander Erik menegurnya.

“Lalu…” ujar Jim yang tidak terpengaruh oleh protes Max. “Kau belum jelaskan point keduanya!”

Commander  Erik Gun sekarang bisa tersenyum juga.

“Dengan kontruksi shuttling system, otomatis bila putaran itu semakin cepat akan semakin besarlah daya centrifugal dan semakin kecillah daya gravity, akhirnya daya jatuh ini akan hilang sama sekali dan mulailah pesawat terangkat terbang dengan mudah tanpa pengaruh tarikan The Great Attractor sehingga hanya butuh energy yang minimal.”

Wajah Jim Butcher sekarang menjadi cerah, rupanya sikapnya semula hanya merajuk meminta penghormatan dari para Kru Jaladara.

“Ya tapi apa itu energy yang digunakan, apakah rahasia?” canda Jim Butcher.

Commander Erik Gun menggelengkan kepala sambil tersenyum.

“Jaladara menggunakan energi Hydrogen cair yang ditambang dari sinar matahari dan bintang-bintang yang melimpah di luar angkasa. Permukaan logam Jaladara sekaligus berfungsi sebagai solar sel”

“Gaya gesek udara tidak perlu diperhitungkan karena Jaladara beroperasi di luar angksa yang tidak ada udara atau angin, ya?” kata Jim Butcher sekedar menegaskan. “Sekaligus menepis benturan asteroid-asteroid yang menghalangi jalan pesawat ini.”

Erik Gun mengangguk, “Daya gesek pada bearing mesin, temperatur yang ditimbulkan oleh gesekan tersebut juga pada sistem mesin-mesin lainnya didinginkan menggunakan helium terkompresi.” Timpal Commander.


***


“Ok,” Ujar Kapten. “Jaladara, akan memasuki wormhole dan akan membawa kita ke tepi semesta!”

Sebentuk area besar dan yang paling menyilaukan di antara benda-benda luar angksa lainnya ditampilkan pada monitor. Itu adalah gerbang Blackhole yang akan dimasuki oleh Jaladara.

Pemandangan di atap mulai ditutup oleh jendela otomatis sehingga semua kru sudah tidak bisa melihat langit di luar untuk persiapan terbang menempuh kecepatan tachyon.

Sekarang pesawat mengarungi angkasa dipandu navigasi dari hasil perhitungan Conny Max. Dan kali ini Max tidak banyak bicara hanya lampu matanya berkedip dengan nyala berwarna warni, menunjukkan Max sedang mengirim sinyal radar berkecapatan tachyon secara terus menerus untuk memastikan jalur yang ditempuh Jaladara aman.

Kerja Max terus dipantau oleh Helmsman melalui konsolnya.

“Ekor Heliosphere menunjukkan kombinasi cepat dan lambat gerak partikel-partikelnya,” papar Lieutenant Jelita. “Ada dua 'lobus' partikel lambat di sisi, partikel yang lebih cepat di atas dan di bawah, dengan seluruh struktur bengkok, karena mendorong dan menarik medan magnet luar tata surya.”

“Mesin shuttling system yang digunakan Jaladara sekalian membangkitkan pelindung magnetik sehingga menciptakan medan vakum yang melindungi Jaladara dari panas fusi nuklir berantai yang terjadi di dalam Heliosphere.

“Mekanisme mesin Jaladara berfungsi dengan baik, semakin besar putaran mesin maka semakin tebal medan vakum yang tercipta!” simpul Commander Erik Gun.

Lieutenant Will Jin Feng, Chief Engineer duduk bersama kru lain yang mengoperasikan konsolnya masing-masing.

“Berada di daerah lubang cacing membutuhkan banyak antigravitasi, yaitu energy negatif. Tetapi mesin shuttling system meniadakan kebutuhan ini yang diperlukan oleh pesawat luar angkasa konvensional,” ujar Lieutenant Will Jin Feng .

Tampak wajah Gerard J.  Clarke puas dan senang sekali mendapatkan laporan ini. Bahkan tidak ada guncangan sedikit pun dirasakan oleh awak Jaladara.

Lewat konsol helmsman, Kapten dan Commander Erik melihat langsung ekor partikel mengalir di sebelah kanan heliosphere. Bentuknya memanjang dengan warna biru terang, sehingga mereka tahu, Jaladara sudah keluar dari wormhole.

Lieutenant Jelita mengangguk sehingga mereka yakin telah benar-benar keluar dari Heliosphere.


***
Berangsur-angsur Jelita memperlambat kecepatan Jaladara menjadi kecepatan  di bawah kecepatan cahaya sampai menjadi kecepatan minimal. Selanjutnya Jaladara kembali membuka jendela-jendela mekaniknya sehingga seluruh kru di anjungan bisa melihat langit kembali.

Gambar peta UNSS di konsol helmsman memperlihatkan posisi Jaladara di jagat raya ini. Kapten dan awak Jaladara lega telah berhasil mencapai tujuan. Semua awak starship menjadi takjub memandang ke langit ketika mereka sadar telah sampai di tepi jagat raya.

Suatu perjalanan yang singkat dan tidak terasa mereka sudah tiba di tujuan tanpa mengalami hal apa pun yang membahayakan Jaladara dan awaknya.

“Ini adalah Langittepi yang merupakan bagian dari system bintang  Omega Sidron yang terletak di langit Langittepi paling tepi di sisi lain jagat raya ini.” Papar Jelita.

Lalu Max datang mendekati Kapten.

“Kapten,” Conny Max berbicara kepada Kapten. “Ijin replika-replikaku di luar akan masuk dan bergabung denganku.”

“Diijinkan,” Jawab Kapten pendek dan tidak berpaling sedikit pun menyaksikan langit di luar.

Sesaat tubuh  Conny Max diselubungi cahaya biru lalu muncul jutaan replika Max yang lebih kecil dari kelereng yang langsung luruh lalu lebur ke tubuh induknya. Setiap butir kelereng logam itu adalah replika-replika Max yang berfungsi sebagai satelit. Semua menyatu menjadi bagian dari Max.

Baru saja seluruh kelereng-kelereng logam itu selesai menyatu dengan induknya, Lieutenant Will Jin Feng meminta perhatian Kapten.

“Kapten, lihat ke arah jam lima!” tunjuk Lieutenant Will Jin Feng .

Kapten memutar tubuh menengok ke monitor di samping monitor utama. Tampak sebentuk bongkahan sisa seunit pesawat terapung-apung. Awak Jaladara dari anjungan melihat reruntuhan seunit pesawat yang masih menyisakan identitasnya yang masih jelas tertulis di lambung; INA 030.15.

“Hm, itu bangkai pesawat pionir seri Jaladara awal,” ucap Commander. “Bermula dari misi memberangkatkan pesawat tanpa awak ini, sekarang Bimasakti mampu memberangkatkan Jaladara INA 303.16 ini.”

“Jelas sekali bangkai INA 030.15 telah mengalami kebakaran yang parah setelah melewati terowongan wormhole,” ungkap Erik Gunarso penuh hormat terhadap bangkai pesawat itu.


***


Close to the Edge
Sepintas dengan pengamatan biasa, langit di tempat ini tidak berbeda dengan langit-langit lainnya. Tetapi nun jauh di cakrawala semesta, dan bila menengok ke arah jam 9, awak Jaladara melihat pemandangan yang berbeda. Daerah gelap dan tanpa bintang-bintang.

Sungguh mencekam dan menimbulkan rasa takut ibarat memandang ke dalam sebentuk jurang yang tidak berdasar.

Gerard J.  Clarke berpaling ke arah Commander Erik Gunarso yang berdiri di samping.

“Saatnya kita luncurkan Tetuko!” Ujar Kapten mengingatkan. Executive Officer Erik Gunarso mengangguk lalu pergi.

Sebelum berlalu dari anjungan, Lieutenant Jelita sudah berdiri dan menanti suaminya lewat. Sesaat mereka hanya saling berpandangan dan memegang lengan satu sama lain dengan penuh cinta. Lalu Commander Erik Gunarso pergi ke luar anjungan.

Beberapa waktu kemudian, di monitor terlihat seunit shuttle pod keluar dari dek.
Tetuko diawaki empat orang untuk mengamati tepi semesta secara langsung. Commander Erik dan team kecil menerbangkan Tetuko dan tampak di monitor memberikan tanda kesiapan melaksanakan tugas.
Commander ditemani oleh Ensign Carlibach  G. Rabin  sebagai helmsman, ensign Lara Eikamp dan officer Achmed Khammas.

“Sistem navigasi Tetuko dilengkapi teknologi Exapixel yang sudah menggunakan program optimasi citra untuk mendapatkan panorama langit dalam bentuk bola yang dibagi dalam 8 kuadran,” lapor Erik. “Omega Sidron merupakan bagian  dari supercluster Langittepi diletakkan pada kuadran 1 bersama galaksi Bimasakti.”

Ensign Carlibach  G. Rabin  mengoperasikan konsolnya dan membawa Tetuko maju semakin jauh memasuki tepi semesta. Ribuan replika Conny Max terbang di luar untuk mendampingi Tetuko.

Di tempat yang telah ditentukan oleh Commander, replika Max memecah diri menjadi beberapa kelompok lalu masing-masing kelompok terbang ke berbagai jurusan dengan kecepatan fantastis.

Hari ke-7
Ensign Lara Eikamp mengawasi konsolnya dan melihat hasil kerja replika-replika Max. Hanya butuh beberapa saat, kemudian beberapa bentuk gambar langit muncul lalu disusun ulang secara otomatis oleh program UNSS.

“Silakan Kapten,” ujar Erik menyampaikan laporan. “Hasil pencitraan satelite bisa langsung kita lihat.”

Kapten menengok ke arah Ensign Bo Drex yang segera dipahami. Lalu tampilah tayangan langsung hasil pemotretan Tetuko di monitor utama. Sebentuk bola muncul di layar. Lebih tepatnya milyaran cahaya yang membentuk sebentuk bola.

“Apa yang kita dapat hari ini?” tanya Prof Jim Butcher.

“Hari ini adalah pembuktian bahwa Jagat Raya berbentuk bola dan mari kita hitung berapa besar bola yang menjadi rumah kita ini!” Ujar Kapten bersemangat.

“Wujud semesta ini bisa kita asumsikan dengan cara menghitung hasil pemotretan replika-replika Max. Lalu hasilnya kita konversikan ke dalam satuan tahun cahaya supaya lebih sederhana.

Mari kita hitung. Jarak bumi ke omega sidron adalah 7,961.78 tahun cahaya, maka jarak The Great Attractor di pusat Jagat Raya ke tepi adalah dikalikan 2 hasilnya 15.923,56 tahun cahaya.  Maka, luas tepi jagat raya kita ini dalam satuan tahun di bumi adalah 50 ribu tahun dan bisa kita hitung pula berapa besar volume bola semesta ini, yakni (4/3) x pi x (r pangkat 3) tahun ... “

Meski Laniakea dan Langittepi adalah struktur terbesar yang kini telah diketahui di semesta, menghasilkan gambaran utuh wujud semesta dan asumsi perhitungan matematis diketahui semesta ternyata berbentuk sebuah bola, namun semua awak Jaladara tetap merasakan hanya bagian kecil dari alam semesta ini.

 Tetapi rupanya semua belum puas dan masih ada sisi lain yang lebih menantang dan membuat penasaran selama berada di dekat daerah tepi semesta.

Tepi cakrawala yang gelap lebih menarik perhatian Kapten. Jelita paham apa yang sedang di pikirkan oleh Kaptennya.

“Apakah kita perlu maju lebih jauh, Kap?” tanya Jelita.

Kapten J. Clarke tampak ragu. Lalu, “Tidak usah!” ucap kapten memutuskan dengan tegas. “Kita belum tahu ada apa di sana?”

Tapi tetap saja masih menjadi sebuah kepenasaran yang besar bagi semua kru.

“Ada apa di tepi semesta? sekalipun hasil perhitungan yakin bentuknya adalah sebuah bola.” Gumam Erik di layar monitor.

Kapten memahami rasa ingin tahu anak buahnya seperti hal dirinya juga.

“Baiklah, tapi kalau ada sesuatu yang ganjil, kalian harus segera kembali!” Kapten memberikan ijin dengan berat hati.

Tetuko bergerak maju kembali dan semakin masuk ke daerah gelap di cakrawala untuk mendapatkan angle yang terbaik. Dan gerak maju diikuti sebaran replika-replika Max yang berpencar lebih jauh pula.

Akhirnya dari dalam pesawat mereka benar-benar melihat semesta ibarat sebuah bola seperti yang diduga semua kru.

“Kalau kita perhatikan lebih seksama, bola ini adalah air!” gumam Jim Butcher memuji benda yang ia lihat.

“OMG!” seru Kapten yang tidak kuasa turut memuji pula.

“Kemilau jutaan cahaya tampak beriak seperti berada di dalam air. Bola air besar dan di dalamnya bertaburan bola bola air kecil yang berputar dengan gemerlap cahaya. Rupanya itu air di atas air.”  Gumam Jelita kagum memandangi pemandangan yang baru ia lihat.

Semua awak takjub melihat pemandangan di depan mata sehingga lupa, shuttle pod semakin jauh meninggalkan batas tepi semesta.

“Benang-benang kosmik yang terdiri dari galaxy-galaxy  wujudnya persis dengan model microcosmos, sehingga jutaan galaxy tetap berada di dalam kumpulannya dan berada dalam jangkauan Sang Penarik Besar di pusat semesta.” Ujar Jim Butcher yang turut melihat melalui konsol helmsman.

Pengambilan gambar sempat terhenti ketika awak shuttle pod silau oleh segaris cahaya yang datang dari sudut lain di langit.

“Itu Komet…!” seru officer Achmed Khammas dengan takjub .

“Indah sekali….” Puji jelita yang turut melihat dari layar monitor Jaladara. Erik Gunn juga melihat semua awak di anjungan Jaladara turut menyaksikan pemandangan langka ini.

Tidak ada suara apa pun ketika benda yang besar itu datang melayang dengan kecepatan fantastis. Tetapi kecemerlangan cahayanya sampai ke tempat Tetuko berada dan mengalahkan gemerlap milyaran bintang-bintang di langit.

Bergegas asisten Erik Gunarso merekam gambar komet yang terlihat bergerak ke arah tepi dan muncul dari sisi lain pedalaman semesta. Komet itu jelas jauh sekali karena bergerak di belakang bintang-bintang yang dilewatinya.

“Demi yang berbaris susun dengan teratur. Demi yang menerobos dengan benturan...“ gumam Jim Butcher kagum melihat iring-iringan komet itu bergerak.

Tiba-tiba terlihat komet yang bergerak cepat, berbelok arah ketika tiba di daerah kosong tepi semesta, seolah-olah menabrak dinding lalu memantul kembali masuk ke pedalaman semesta secepat kilat.

Sayang sekali benda besar yang cemerlang itu hanya sebentar terlihat. Komet itu sudah menghilang secepat ia datang!

Ada apa di tepi semesta sehingga ada komet memantul ketika melaluinya? pikir semua kru.

Hm, suatu pengalaman yang tiada terhingga tetapi menambah misteri ilmu pengetahuan di jagat raya ini yang teramat luas, pikir Commander Erik Gunarso.

Baik awak Tetuko maupun Jaladara segera menguasai diri dan kembali memusatkan perhatian kepada misi.

Carlibach  G. Rabin  yang menerbangkan Tetuko kembali mengoperasikan konsolnya sehingga shuttle pod melaju terus.

Lampu lampu dari Tetuko yang menyala di luar kini tidak cukup menerangi jalan di depan. Senter tiba-tiba mati sehingga di depan semakin gelap. Meskipun demikian Tetuko tetap melaju tenang.

Tiba-tiba pula Commander Erik Gunarso melihat Jelita berteriak panik sambil melambai-lambaikan kedua tangannya. Commander Erik Gunarso tidak mengerti kenapa istrinya bertindak seperti itu?
Semua kru Tetuko merasakan suasana tiba-tiba sunyi?

Tetapi sunyi yang ganjil!?

Commander akhirnya sadar juga ternyata Tetuko tidak bergerak sekalipun melihat helmsman mendorong pada kecepatan penuh. Meskipun demikian Commander Erik Gunarso tidak panik dan mencari apa yang salah.

Erik Gun melihat wajah istrinya cemas.

Sekarang Erik Gun tahu mesin Tetuko kehilangan kompresi sekalipun helmsman mendorong balik dan beberapa lampu di kabin telah mati sehingga keadaan menjadi gelap.

Gambar-gambar dilayar mulai terganggu sampai akhirnya hilang dari monitor. Dan bola besar yang mereka lihat semakin kecil lalu akhirnya tinggal noktah cahaya.

Dalam keadaan genting seperti itu, disusul monitor-monitor mati. Semua lampu-lampu mati pula. Gelap total!

Sementara itu di anjungan Jaladara, Kapten menyadari Tetuko tidak bergerak dan tidak bertenaga. Tidak ada respon dari Tetuko. Lampu-lampu di tubuh Tetuko padam. Untungnya Tetuko masih terlihat di antara kegelapan daerah kosong.

Para awak Jaladara melihat Tetuko tinggal diam di tempat yang jauh dalam kesunyian. Tapi tidak ada suara dan tidak ada gambar yang dikirim dari Tetuko.

Kapten Gerard J.  Clarke mulai panik dan sadar ada sesuatu yang tidak beres?

“Max, ada apa?” tanya Kapten.
“Tidak tahu, Kapten,” jawab Max tandas. “Replika-replika ku tidak merespon?!”

“Pergilah dan cari tahu apa yang terjadi dengan Tetuko.”

“Siap, Kapten!” Jawab Max.

Cahaya biru menyelubungi lalu Max menghilang dari tempat itu. Max pergi keluar melaksanakan perintah Kapten.

Lalu dari monitor, Kapten melihat Max terbang ke luar menuju Tetuko dengan kecepatan fantastis.

Kapten menunggu hasil observasi robot satelit itu melalui monitor dan berharap segera melihat apa yang terjadi pada Tetuko.

Beberapa menit telah berlalu tapi Kapten belum mendapatkan apa-apa.
“Max!?” Tanya Kapten.

Tidak ada respon dari Max!

***

Sudah enam jam berlalu, tetapi baik Tetuko maupun Max tidak  memberikan respon.

Kapten merasa seolah-olah mati kutu, dan tidak mampu mengambil keputusan apa-apa. Kapten hanya duduk bersender pada kursinya sambil memandangi monitor yang hanya memperlihatkan tempat kosong di luar.

Semua kru terdiam dan Jelita yang paling tampak gelisah. Kapten sudah mulai tertekan dan merasa frustasi sambil duduk di kursinya bertopang dagu.

“Kapten!” seru Jelita, “kita harus secepatnya menjemput mereka. Aku kuatir kita terlambat!”

Seolah-olah diingatkan, Kapten segera berdiri dari tempat duduknya. “Baiklah, kita maju menjemput mereka!”

Jelita bersemangat dengan keputusan ini, lalu membawa Jaladara maju dengan kecepatan penuh.

Tetapi sebelum Jaladara maju lebih jauh. Tiba-tiba alarm berbunyi keras dan panjang!

Kapten  mengepalkan tinjunya dan terpaksa Jelita mengurangi kecepatan. Beberapa lampu di ruangan nakhoda mati dan bunyi alarm semakin panjang.

Bahkan Lieutenant commander Jin Feng  mengingatkan, “Kapten ... tenaga Jaladara terus menurun dan kehilangan kompresi!”

“Tidak! Maju terus…” teriak Jelita. “Tetuko perlu pertolongan, cadangan oksigen mereka cuma cukup 6 jam!”

Kapten mengangkat tangan kanan sambil membuka kelima jarinya. Bergegas Jelita melanjutkan gerak maju Kapal.

“Kapten! Awak Jaladara puluhan orang, sedangkan Tetuko hanya empat. Ini tidak sebanding!” sela Lieutenant Jin Feng.

Akhirnya Kapten lebih rasional lalu membatalkan perintah. Seketika Kapten Mengepalkan jari-jari tangannya. Dan Jelita terpaksa  menghentikan laju pesawat.

Sekarang, setelah lampu penerangan di anjungan mati, beberapa layar di monitor ikut mati.

Pandangan mata Jelita menampakkan marah sekali kepada Lieutenant Jin Feng. Tetapi Kapten bertindak tegas dan tidak menanggapi sambil memandangan lurus saja ke depan mengamati perubahan kondisi.

“Mundur!” Gerard J.  Clarke mengambil keputusan Tegas dan memberi perintah kepada Helmsman.

Tetapi Jelita telah kehilangan konrol diri dan hanya diam mematung serta wajahnya berubah pucat dan tegang.

“Jelita!” seru Kapten disertai nada suara yang tinggi. Namun Jelita bergeming sama sekali.

Akhirnya Gerard J. Clarke berpaling ke arah Officer Bo Drex.

“Drex, kau tahu apa yang harus kau lakukan!” ucap Kapten kepada orang dari Alpha Centaury.

Officer yang duduk di belakang kursi kapten tidak bisa mendengar, tetapi ia punya kemampuan merespon tingkat saraf.

Bergegas Bo Drex berdiri dan mendekati Jelita.

Jelita terkejut melihat Bo Drex mendekati dirinya. Dia tahu kemampuan asistennya yang berasal dari Alpha Centauri dapat mengontrol pikiran orang lain.

“Drex, Jangan coba-coba ...!“ Jelita mencegah.

Tetapi sekonyong-konyong Jelita menjadi diam. Lalu Drex menyentuh bahu Jelita. Drex pergi diikuti oleh Jelita begitu saja ibarat kerbau telah dicocok hidung.

Kapten tidak menunggu Drex dan Jelita menghilang pergi ke luar anjungan, bergegas Ia memberi perintah pada Lieutenant Will Jin Feng menggantikan posisi Jelita.

“Lieutenant, bawa mundur Jaladara secepatnya!” perintah Kapten.

Bergegas Lieutenant Jin Feng pindah ke konsol helmsman.

Lieutenant Will Jin Feng membawa Jaladara mundur dengan sisa tenaga yang ada.

Perlahan-lahan tenaga Jaladara mengalami akselarasi kecepatan kembali.
Ketika tercapai posisi awal sewaktu Jaladara mulai maju, lampu-lampu menyala kembali dan gambar-gambar di monitor-monitor tampak sudah normal.

Kapten bernafas lega melihat parameter-parameter di konsol helmsman kembali normal dan terlihat Jaladara mencapai tenaga penuh pula.

Akhirnya Kapten memerintahkan Lieutenant Jin Feng menghentikan gerak mundur Jaladara lalu memberi aba-aba berhenti.

Setelah keadaan normal, Kapten Gerard J. Clarke meminta Prof. Jim Butcher menganalisa apa yang terjadi.

Profesor Jim Butcher tampak pucat akibat ketegangan tadi. Meskipun demikian ia cepat-cepat menguasai diri.

Setelah bisa menguasai diri, Jim Butcher memberikan analisa, “Ternyata di luar bola semesta, benang-benang semesta tidak menjangkau sampai ketempat itu sehingga perlahan-lahan shuttle pod hanyut terseret lebih jauh ke dalam kegelapan akibat tenaga dorongnya sendiri.”

“Di luar permukaan matahari dan bulan serta di luar daerah atmosphere bumi, adalah semua cahaya atau sinar. Baik di bumi maupun di luar angkasa merupakan lautan kehampaan yang luas, dipenuhi sinar yang abstrak.”

“Tapi semesta yang hidup ini ternyata berada di tengah samudra bola-bola statis tiada bertepi,” tunjuk Jim Butcher ke monitor. “Daerah kosong di luar semesta adalah proton-proton statis sehingga tanpa neutrino.”

"Static sehingga tidak memiliki gravitasi dan tidak membentuk apa pun sehingga diam mengambang sejak alam semesta diciptakan."

Kapten memandang wajah Prof. Jim Butcher sangat serius ketika teringat sesuatu.

“Prof, menurutmu apa yang terjadi dengan komet tadi sehingga memantul, seolah-olah menabrak sebidang dinding ketika tiba di tepi?” tanya Kapten.

“Saya tidak yakin...” aku Jim Butcher. “Tapi bila dilihat bola-bola statis yang berada di luar semesta, itulah yang menyebabkan komet balik memantul!”

Sejenak Jim Butcher meletakkan kedua tangannya di area dada dan menaruh telunjuk kiri pada bibirnya sambil berpikir keras. Lalu seolah-olah mendapatkan petunjuk dari ucapannya sendiri, Profesor Astrofisika ini mengambil kesimpulan.
“Lihat! oleh sebab itu pula komet yang bergerak secepat itu tadi memantul kembali ketika memasuki daerah luar jagat raya yang berupa lautan proton statis.”

“Tidak ada kehidupan apa pun di dalam lapangan proton-proton statis itu, sehingga apa pun yang memasuki daerah itu lepas dari kehidupan dan diluar jangkauan the Great Attractor!”

Karena tidak ada apa pun yang bisa dilakukan untuk menolong Tetuko, akhirnya Kapten berserah diri saja.

“Baiklah, aku harus melaporkan semua ini kepada Admiral,” Ujar Kapten mengambil keputusan.

“Max ikut lenyap, jadi pesan yang akan kukirim melalui mesin teleportasi lain dan ini butuh waktu lebih lama dari yang bisa dilakukan oleh Max.”


Hari ke-31
Catatan Kapten Jaladara INA 0303.16, Tachyon class starship

Gerard J.  Clarke menemui Jelita di kabinnya.

Jelita menyambut Kaptennya dengan tersenyum, melihat hal ini Kapten Clarke merasa senang karena di luar dugaannya ia mengira Lieutenant Jelita masih marah padanya.

“Kapten,” sambut Jelita. “Maafkan aku ...”

“Ah, sudahlah ... “ sela Kapten ikut tersenyum. “Kita semua sudah maklum keadaannya. Tapi aku senang sekarang kau sudah pulih.”

“Aku dengar kau menemui Lieutenant Jin Feng dan meminta maaf atas kejadian kemarin. Aku senang mendengarnya.”

“Tapi, terpaksa aku harus kusampaikan, teleskop Nagapasa … sejak kemarin sudah tidak mampu menangkap citra Tetuko.”

Kapten merendahkan suara dan berat menyampaikan kabar ini. “Tetuko lenyap ditelan gelap dan sunyi di batas luar semesta.”

 “Saya sudah ikhlas Kapten ...” Jawab Jelita sambil tersenyum.

Sejenak Kapten menjadi kikuk atas kebesaran hati Lieutenant-nya. Namun segera jiwa seorang Kaptennya timbul kembali.

“Ok, mulai hari ini kau kembali bertugas ...” kata Kapten sambil merentangkan kedua tangannya.

Jelita girang sekali lalu memeluk Kapten Gerard J.  Clarke.

Mereka berpelukan dan saling memaafkan sebentar, lalu Kapten mempersilahkan Jelita jalan duluan keluar kabin. Jelita melangkah dengan hati senang lalu didampingi Kapten.

Mereka berdua berjalan berdampingan sepanjang koridor menuju anjungan.

Tiba di dalam anjungan, Jelita disambut hangat oleh Lieutenant Commander Will Jin Feng, dan asisten Jelita sendiri, Officer Bo Drex yang tidak pernah bicara.

Setelah kru lain ikut menyambut kedatangan Lieutenant Jelita, Jelita lalu duduk menghadapi konsolnya kembali dan segera ikut menyimak apa yang berjalan.

Jelita sudah tahu bahwa Kapten Gerard J.  Clarke telah menerima pesan balasan dari Admiral Mustafa Abuelhassab agar kembali ke Bumi untuk menyerahkan hasil perjalanan Jaladara.

Lieutenant Jelita menyempatkan diri melihat ke arah terakhir Tetuko terlihat. Ia hanya mampu menatap kosong merelakan kepergian suaminya dalam shuttle pod yang sudah tidak nampak di monitor. Matanya berkaca-kaca tetapi mencoba tetap tegar.

(24.04-16 TAMAT)

Referensi :
1. http://www.physics-astronomy.com/2014/12/scientists-made-amazing-discovery-by.html#.VwHwmflYpkg
2. http://phys.org/news/2014-12-faster-than-light-particles.html
3. http://iopscience.iop.org/article/10.1088/0004-637X/771/2/77/meta;jsessionid=336E9E11EFF48DE733E1C70048FB0FAA.ip-10-40-2-73
4. http://futurism.com/the-kardashev-scale-type-i-ii-iii-iv-v-civilization/


Cerpen ini ada di An1magine majalah eMagazine Art and Science Volume 1 Nomor 9 November 2016
yang dapat di-download gratis di Play Store, share yaa


Komentar

Page Views

counter free

Visitor

Flag Counter

Postingan populer dari blog ini

STANLEY MILLER: Eksperimen Awal Mula Kehidupan Organik di Bumi

Menerbitkan buku di An1mage

CALL FOR CHARACTERS - ICF3 - exhibit your original characters globally for free