MUTIARA MOERDANI: Sang Ibu Suri


An1mareaders, bagi komunitas pebiliar di Indonesia, ‘Mutiara Moerdani’ nama yang sudah familiar di telinga, mengingat pebiliar putri ini sudah cukup lama berkiprah di dunia biliar. 

Di kalangan pebiliar putri, wanita ini sering di sebut sebagai ‘ibunya’ anak-anak, karena kebiasaannya membimbing dan melatih para pebiliar putri junior sejak awal karirnya di dunia biliar pada era awal tahun 2001. Di kalangan Anggota Pebiliar Putri Indonesia di Jakarta, mereka menjulukinya ‘ibu suri’, entah karena tabiat dan karakternya yang sangat keras dalam membimbing Para Junior PEPI atau karena hal lain.

Banyak pebiliar putri yang menganggapnya sebagai motivator dalam meningkatkan semangat bertanding, mungkin karena itulah pada tahun 2005, wanita berdarah Dayak – Jawa ini sempat ditunjuk sebagai pelatih putri Sea Games 2005. Meski sejak usia 13 tahun, sang ayah menghadiahkan sepetak meja biliar 6 feet pada hari ulang tahunnya, namun Muti, panggilan akrabnya, belum merasa tertarik pada biliar.

Baru pada  tahun 2000, barulah kecintaannya pada biliar dimulai, dan sejak itu Muti langsung terlibat dalam banyak tournament open putri dan bahkan di tahun 2001, ia dilantik sebagai Sekretaris Jendral POBSI Banten dan untuk pertama kalinya cabang putri dipertandingkan dalam Kejurnas Biliar di Palembang.

Delapan tahun, Muti bergabung di bawah bendera POBSI Banten, sebagai atlet dan pengurus, di mana ia juga bertindak sebagai pelatih dan membimbing Para Atlet Banten. Dari mulai seleksi hingga membuat program latihan untuk persiapan PON, di mana akhirnya prestasi demi prestasi pun mulai berdatangan, baik sebagai atlet maupun sebagai pembina dan pelatih.


Selain berprofesi sebagai penulis dan dosen freelance di salah satu universitas swasta nasional sejak tahun 2001, Muti juga aktif dalam kepengurusan PB POBSI periode tahun 2002 – 2006 dan periode 2010 – 2014 sebagai anggota bidang pembinaan prestasi. Prestasi yang membanggakan bagi Muti adalah saat ditunjuk sebagai Pelatih Sea Games Cabang Olahraga Biliar untuk Putri 2005, meski akhirnya Muti harus mundur karena putrinya sakit berat saat itu.

Kemudian juga saat Muti meraih Medali Perunggu Bola 8 Pra PON 2003 di Bandung, karena saat itu dari Pengprov POBSI Banten Cabor Biliar Divisi Pool hanya Mutia yang meraih medali sebagai syarat maju ke PON 2004, dengan saya masuk, saat itu semua divisi pool dari Pengprov POBSI Banten jadi lolos kualifikasi untuk bertanding di PON 2004.

Bisa dikatakan sebagai atlet, prestasinya tidak pernah terlalu gemilang, namun sebagai pembina dan pengurus POBSI, ia terbilang cukup sukses dan berdedikasi tinggi. Sejak tahun 2001 Muti bekerja dan mendirikan club pembinaan, mulai dari Menara Club Sports Community, XBC Club, Bengkel Billiard Club, JackBall Club dan terakhir TNT Kura Kura Billiard, dan club yang dipimpinnya selalu sukses mendapatkan medali perak ataupun perunggu dalam Kejurnas Club, meski tidak pernah menjadi juara satu.

Namun dengan personel kelas menengah yang dimiliki timnya, prestasi tersebut bisa dikatakan sangat membanggakan. Tiga tahun Muti sempat berhenti dan menghilang dari dunia biliar, saat memutuskan mundur dari kepengurusan POBSI Banten pada tahun 2009 dan bekerja full time sebagai jurnalist reporter di televisi swasta nasional.



Namun rupanya kecintaannya pada biliar tak pernah bisa terlupakan, sehingga pada tahun 2011, ia kembali menggeluti dunia biliar dan bergabung sebagai Atlet Provinsi Kepulauan Riau dan mulai aktif kembali sebagai Humas dan PR pada Sea Games 2011 di Palembang untuk cabang biliar. Pada PON 2012, ia juga ditunjuk sebagai Ketua Perwasitan, namun karena alasan pribadi, ia mengundurkan diri dan memilih menjadi official Pengprov POBSI Kepulauan Riau.

Keprihatinan pada sepinya kegiatan turnament putri, menggugah Muti untuk mendirikan Pebiliar Putri Indonesia alias PEPI pada bulan Juni 2012, komunitas pebiliar putri ini awalnya hanya bertujuan menjadi wadah para pebiliar untuk melakukan sparing bersama dalam bentuk arisan tournament.

Siapa sangka dengan berdirinya PEPI semangat para pebiliar putri pun kembali membara dan membuat tournament putri pun hidup kembali, di tahun 2012 sebanyak 2 tournament putri di selenggarakan, ditahun 2013 sebanyak 3 tournament putri, dan di tahun 2014 ini, sudah 4 tournament putri terselenggara, sungguh luar biasa.

Bahkan di tahun 2014, PEPI bisa mengadakan Tournament Putri Tingkat Nasional PEPI CUP 2014 atas support dari Adrian Goh, Jimmy Jusman dan Imran Ibrahim, di tahun yang sama Muti juga berhasil mentransisikan Arisan Tournament menjadi bentuk Liga atas bantuan Koko ALiang dan Ben, pemilik Afterhour Poins Square yang begitu berdedikasi mensupport PEPI.

Selain itu pada tahun 2014 ini juga, PEPI menerbitkan majalah khusus komunitas biliar dengan nama ‘Suara PEPI’. Page PEPI di Facebook pun semakin hari semakin ramai dikunjungi para pencinta biliar, secara perlahan tapi pasti masyarakat biliar pun mulai mengakui keberadaan PEPI sebagai ajang pembinaan atlet putri Indonesia, setiap tournament putri yang akan diselenggarakanpun selalu di konfirmasi melalui PEPI.

Di page inipun, masyarakat biliar tidak segan menanyakan hal-hal teknis tentang biliar yang menunjukkan suatu bukti apresiasi yang sangat besar kepada keberadaan komunitas ini. Bahkan pada bulan Desember ini, TV Swasta Nasional RCTI, mengakui keberadaan PEPI dengan mengundang Mutiara selaku ketua PEPI dalam acara ‘Gathering Nasional Seluruh Perkumpulan Komunitas di Indonesia’, sebanyak 80 komunitas diundang dan hanya 3 diantaranya yang merupakan komunitas khusus perempuan, yaitu komunitas bikers, musisi dan pebiliar.

“Suatu kebanggaan dan kebahagiaan bagi kami mendapat undangan dari RCTI Komunitas, sebagai bukti pengakuan dari dunia di luar biliar” ucap Muti lugas. Prestasi terbaik yang Mutiara raih dalam olahraga biliar, bukanlah medali emas dalam PON, Sea Games atau Asian Games.


Namun ia telah membuka jalan bagi para pebiliar putri Indonesia untuk bisa berlaga di sana, sebelumnya wanita hanyalah gula-gula dalam olahraga ini, hanya menjadi wasit yang dijadikan pemanis dalam pertandingan. Kini, Laskar Pebiliar Putri Indonesia sudah mampu sedikit berbicara di kancah Internasional, dan meskipun Muti bukanlah atlet terbaik andalan Indonesia, namun jalan yang telah ia rintis memberikan peluang bagi pebiliar wanita di dunia olahraga biliar untuk bisa dihargai setara dengan atlet pria.

Cita-cita sederhananya hanyalah ingin memajukan Pebiliar Putri Indonesia, baik dalam jumlah dan kualitas, “Saya juga ingin merombak stereotype pemikiran bahwa pebiliar putri hanyalah warga kelas dua dalam olahraga ini” ujar Muti tegas. Muti memiliki motto “Stay true in the dark & Humble in the Spotlight” maknanya saya selalu ingat untuk tetap gigih berjuang dalam segala kesulitan yang saya hadapi dan tetap rendah hati saat saya mencapai tujuan saya dan dipuji banyak orang.

Kini organisasi Pebiliar Putri Indonesia yang didirikan Muti sudah memiliki tempat tersendiri di mata seluruh pebiliar di tanah air, susunan pengurus pun sudah solid dan berjalan dengan baik sesuai dengan struktur organisasi yang ada. Muti kembali melanjutkan mimpinya sejak kecil, yaitu menjadi seorang ‘guru’, secara resmi mulai tahun ajaran baru 2016 – 2017, Muti akan mulai mengajar sebagai guru fine art di suatu lembaga sekolah internasional di Batam, ia merasa sudah saatnya untuk meraih mimpinya yang tertunda di dunia pendidikan. (TM)



Artikel ini ada di An1magine majalah eMagazine Art and Science Volume 1 Nomor 7 September 2016
yang dapat di-download gratis di Play Store, share yaa


Komentar

Page Views

counter free

Visitor

Flag Counter

Postingan populer dari blog ini

STANLEY MILLER: Eksperimen Awal Mula Kehidupan Organik di Bumi

CERPEN: POHON KERAMAT

Menerbitkan buku di An1mage