MINDPORTER: Mindporting to Plante di An1magine Volume 2 Nomor 4 April 2017


MINDPORTER:
Mindporting to Plante
M.S. Gumelar


Rhalemug dan Glaric menuju ruangan yang dimaksud. Ruangan itu besar. Mungkin dua atau tiga kali besarnya dari pada flat milik Rhalemug. Ada satu set sofa di sana di tengahnya. Benar-benar timpang. Sofa yang berwarna hitam itu kontras dengan ruangan yang serba putih.

“Bagaimana pendapatmu?” bisik Rhalemug pada Glaric.

“Benar-benar ruangan yang fantastis. Nyaman,” sahut Glaric.

Rhalemug nyengir. Sepertinya ia salah bertanya. “Bagaimana perasaanmu bisa kembali menginjakkan kaki lagi ke mari?” katanya merevisi.

Glaric tersenyum tapi tidak terlihat lepas. “Rasanya seperti tersedot ke masa lalu. Hampir tidak ada yang berubah. Mungkin orang-orangnya saja. Tapi apa yang kau harapkan dari suatu pesawat? Melakukan perubahan dalam Plante kemungkinannya sangat kecil”.

Obrolan mereka terhenti ketika pintu terayun membuka.

Seorang gadis dengan rambut ikal sepinggang memasuki ruangan bersama seorang rekannya yang berpotongan rambut lurus sepanjang dagu.

Mereka berdua membawa komputer tablet mirip milik Mozza namun terlihat lebih mentereng. Sepertinya versi yang lebih baru.

Rhalemug bertanya-tanya dalam hati, mungkinkah kedua gadis ini masuk dalam jajaran regulator. Ia sudah membayangkan akan bertemu dengan orang tua seperti Patizio untuk rapat kali ini. Namun dugaannya salah.

“Selamat kau menginjak lantai teratas dan utama Plante, tidak semua penduduk mampu mendapatkan kesempatan ini. Namaku Jhatatysa, tugasku menangani seluruh urusan internal Plante”

“Ini rekanku Niaqu, ia sudah pernah mengirimkan pesan singkat ke komputermu,” sapa gadis dengan rambut sepinggang memperkenalkan diri.

Niaqu mengangguk samar. Ia seolah tengah membangun benteng kasat mata untuk menjaga orang-orang asing tidak melangkah seenaknya ke dalam hidupnya. Rhalemug masuk dalam golongan orang asing, tentunya

“Aku Rhalemug, pihak yang bertanggung jawab atas Aracheas datang bersama salah satu petani, Glaric,” ujar Rhalemug lambat-lambat. Jantungnya berdetak tak karuan.

Apakah harus segugup ini untuk menemui regulator?

“Patizio sudah selayaknya memasuki masa pensiun. Senang sekali dapat bertemu denganmu,” katanya formal.

Mereka duduk di ruangan dengan interior serba hitam. Sofa, meja, hingga tirai ruang rapat menggunakan warna gelap.

Lantainya yang putih bersih benar-benar terlihat kontras. Di samping itu Jhatatysa dan rekannya juga menggunakan baju berwarna putih.

Rhalemug menelan liurnya dengan susah payah. Bajunya dan Glaric yang berwarna  coklat seolah kurang bisa di terima oleh ruangan ini. Seandainya ia bisa tenggelam dan menghilang dalam sofa, pasti sudah dilakukannya.

“Aku membawa laporan Aracheas. Tentunya kau sudah mendengar kondisi pertanian sedang buruk sekarang. Kami juga telah mengirimkan beberapa sample gulma untuk di teliti ke laboratorium,” ujar Rhalemug berusaha tetap terlihat tenang dan profesional.

Jhatatysa mengangguk. Beberapa rambutnya jatuh ke depan ketika ia menyodorkan beberapa dokumen kepada Rhalemug melalui komputernya.

Niaqu memberikan komputer tablet yang dibawanya pada Jhatatysa.

“Parasit sejati, kau harus memusnahkan tumbuhan inang yang sudah terjangkit”.
Jhatatysa mungkin saja bukan tipe makhluk yang ramah.

Jarang berbicara, jarang bercanda, jarang tersenyum di hadapan orang asing. Tapi entah mengapa, untuk pertama kalinya Rhalemug merasa nyaman berada di dekatnya.

Ia menceritakan kabar buruk tanpa menekan. Bisa saja orang lain membentaknya. Menyalahkan apa yang terjadi di Plante sebagai tanggung jawab Rhalemug.

Namun Jhatatysa tidak bersikap seperti itu. Benar kata Heere, gadis di hadapannya benar-benar cerdas, cantik, juga baik.

“Aku khawatir bukan hanya gulma, namun kandungan tanah dan air dari Aracheas mengalami perubahan. Kuharap laboratorium tetap mendukung Aracheas. Kami hanya mengira-ngira, tidak memiliki pengetahuan untuk membuktikan,” pinta Rhalemug.

Glaric mengeluarkan dua botol yang telah disiapkannya. Satu berisi tanah Aracheas, satunya berisi air dari sungai kesayangan para petani.

“Tidak masalah,” angguk Jhatatysa.

Tanpa diminta, Niaqu segera mengambil botol itu dan keluar dari ruangan.

“Apakah kau memiliki solusi untuk mengatasi produksi pangan Aracheas? Generoro membutuhkannya. Kita semua membutuhkan energi dan energi itu berasal dari makanan,” tuntut Jhatatysa sembari memindahkan seluruh rambutnya ke bahu kanannya.

Rambutnya berkilau tertimpa cahaya lampu. Jika tidak salah melihat, Jhatatysa memiliki semburat-semburat ungu pada rambutnya.

“Kami akan membudidayakan tanaman yang cocok dengan kondisi Aracheas sekarang. Mungkin variasinya tidak terlalu banyak, namun kami usahakan Generoro tidak merasakan kelaparan,” terang Rhalemug menceritakan rencananya.

Jhatatysa mengangguk-angguk setuju.

Tidak hanya memiliki paras cantik, dia juga memiliki sikap yang tenang. Kata-kata yang meluncur dari bibirnya seolah telah ditata rapi lebih dulu.

“Plante memberiku banyak tugas untuk dipikirkan,” gumamnya sembari memandangi meja mereka yang diisi dengan pasir.

“Karena kau memiliki kedudukan di sini,” timpal Rhalemug.

“Kita semua memiliki tanggung jawab. Untuk diri kita sendiri, juga untuk orang lain. Tinggal porsi mana yang harus di dahulukan untuk waktu tertentu,” katanya sembari tertawa.

Ia mengalihkan pandangannya pada Glaric. “Senang bisa bertemu denganmu kembali ilmuwan”.

Glaric yang tidak menyangka akan disapa seperti itu sontak langsung menunduk karena malu.

“Aku mendengar banyak hal hebat yang kau kerjakan Jhatatysa,” puji Glaric.

“Karena kebetulan aku memiliki kekuasaan saja. Seandainya aku berprofesi di divisi lain, belum tentu aku dapat mempelajari banyak hal. Aku senang takdir membawaku di Equilibrium”.

“Lantai penemuan dan harapan,” bisik Glaric. Suaranya kecil namun masih terdengar oleh Rhalemug dan Equilibrium.

“Aku tak tahu apakah sebutan itu masih valid. Kau pernah di sini, kau tahu keadaannya. Plante sudah cukup lama mati suri. Mematikan keingintahuan. Terbuai dalam mimpi-mimpi palsu,” cemooh Jhatatysa.

“Kadang aku muak dengan segala regulasi di sini. Aku bahkan harus memberikan persetujuan dulu supaya suatu penelitian dapat dilaksanakan. Kita bandingkan”

“Penelitian gulma yang dikirim Patizio dengan sampel yang baru saja kalian bawa. Jika aku langsung yang memberikan perintah, semuanya bisa berjalan dengan lebih cepat!” imbuhnya dengan nada sedikit muak.
Rhalemug rasanya ingin tertawa. Jhatatysa benar-benar berbeda tanpa Niaqu. Ia rasa Niaqu bukan saja assisten dan bawahan dari Jhatatysa, tapi ia juga penasihat juga anjing penjaganya.

“Regulator memperketat hukum Plante gara-gara ulahku berpuluh-puuh tahun yang silam. Aku harus meminta maaf padamu karenanya,” ujar Glaric, masih menunduk.

“Santai saja bung. Memang atasanku yang saja yang terlalu protektif pada Plante. Sebenarnya aku ingin tahu lebih mendalam mengenai program yang pernah kau lakukan secara diam-diam”

“Mengatas namakan bioteknologi. Menurutku itu sangat jenius! Apa nama programmu?”

“Sekoci,” jawab Glaric, singkat.

“Ah! Benar namanya Sekoci! Aku sempat melupakan namanya. Ingatanku benar-benar payah!” kikiknya.

Meski Jhatatysa berkata begitu, Rhalemug sama sekali tidak percaya jika gadis di hadapannya pelupa. Jhatatysa hanya kebanyakan urusan saja sehingga banyak informasi yang tumpang tindih di kepalanya.

Niaqu kembali masuk ke dalam ruangan. Jhatatysa memberikan komputer yang dipegangnya. Tanpa berkata-kata Niaqu langsung menyentuh-nyentuh layarnya dan memberikannya kembali pada atasannya.

Jhatatysa terlihat mengernyitkan sedikit dahinya ketika melihat apa yang ada di layar. Glaric menyenggol Rhalemug dengan lututnya.

“Biar kubagikan data ini, sehingga kalian juga bisa melihatnya”. Jhatatysa menekan tombol virtual dan secara seketika monitor yang ada di hadapan Rhalemug dan Glaric menyala, menampilkan gambar yang benar-benar berbeda.

Rhalemug tidak mengerti singkatan-singkatan yang tertera di layar. Ia langsung melirik Glaric. Temannya sedang memandangi monitor tersebut dengan mulut menganga.

Jelas ia mengerti maksud dari deretan huruf dan angka yang lebih mirip kode sandi itu.

“Kurasa Glaric memahami data-data ini,” ujar Jhatatysa. Ia mengambil cangkir yang ada di atas meja. Membaliknya dan mengisinya dengan air teh yang ada di teko.

“Ceritakan pada kami”.

Glaric membenahi posisi kacamatanya.

“Dugaan kita benar. Tanah kita kekurangan zat hara. Sementara kadar oksigen Verzacasa menurun drastis. Kelembaban dan tumbuhnya ganggang. Mungkinkah Verzacasa mengalami kelebihan fosfat dan nitrat?” gumam Glaric lebih pada dirinya sendiri.

“Kita bisa menyebarkan bakteri untuk membantu mengurasi nutrisi dalam air,” saran Jhatatysa.

Pengetahuan gadis ini memang tidak dapat diremehkan. Tidak semua petani Rhalemug akan memiliki ide untuk menyebarkan bakteri dalam air.

“Berhubung kejadian ini merupakan faktor alam, atau jika aku boleh nyatakan karena Plante sendiri, apakah orang-orang lantai atas dapat segera membantu keadaan Aracheas supaya segera kembali normal?”

“Boleh kau perjelas maksud pernyataanmu barusan?” sela Niaqu.

Agak mengagetkan mengingat gadis itu sedari tadi lebih banyak diam dan berkutat dengan data.
Jhatatysa memberikan isyarat supaya rekannya tidak menginterupsi.

Glaric menyenggol Rhalemug menggunakan lututnya.

Rhalemug sendiri juga merasa agak kelepasan bicara seperti barusan. Namun bukan saatnya buat mundur kan? Siapa tahu ini adalah jalan pembukanya.

“Permasalahan di Aracheas, juga divisi lainnya, bukan murni kesalahan para pekerja. Bencana muncul karena adanya kerusakan pada Plante sehingga menyebabkan berbagai perubahan internal,” jelas Rhalemug.

Agak ragu sebenarnya karena ia tidak benar-benar menguasai apa yang dikatakannya.

Niaqu terlihat ingin bicara lagi namun kembali di tahan oleh Jhatatysa.

“Kami tidak akan mengelak. Memang Plante tengah mengalami beberapa kerusakan di beberapa titik,” katanya mendahului Niaqu.

“Tapi diluar dugaanku, aku cukup terkesan akan pengetahuanmu wahai ketua baru”.

“Aku hanya banyak membaca, dan memiliki banyak kenalan hebat,” aku Rhalemug sembari menghindari tatapan Niaqu. Gadis itu benar-benar membuatnya tidak nyaman.

Jhatatysa memandangi Glaric saat ‘kenalan hebat’ disebut. Ia mengangguk. Jhatatysa memang sudah mengenal Glaric meskipun mereka tidak pernah benar-benar mengobrol sebelum ini.

Ia mengenali Glaric sebagai seseorang dari divisi energi yang dipindahkan.

“Apakah pembicaraan kita akan berujung pada Sekoci?” tebaknya.

Wajah Glaric terlihat memucat. Rhalemug harus melindunginya. Bukankah tujuannya kemari selain Aracheas, juga adalah negosiasi? Tidak ada waktu untuk mundur lagi.

“Mungkin akan lebih tepat jika kami bertanya apakah kalian dapat segera memperbaiki kerusakan Plante? Jika memang kemungkinannya kecil dan memakan waktu lama, aku sangat setuju dengan program sekoci,” tegas Rhalemug.

“Kita tidak akan membiarkan Generoro mati kelaparan, bukankah begitu?”

“Sebenarnya masalah Plante sudah berlangsung selama beberapa bulan terakhir dan makin melebar,” desah Jhatatysa.

Ia kembali membagikan data ke komputer di hadapan Rhalemug dan Glaric.

“Kalau tidak salah kalian tinggal di Sintesa Samiroonc?”

Baik Rhalemug dan Glaric keduanya mengangguk.

“Pernah mendengar suara-suara?”

Glaric menggeleng sementara Rhalemug mengangguk.

“Suara berdebam yang berulang-ulang. Aku hingga terbangun dari tidur,” aku Rhalemug.

“Sudah tidak mendengarnya lagi tentunya. Kami sudah memperbaiki bagian tersebut.

Ada lempengan yang sempat terbuka. Sama sekali bukan kondisi yang baik ya?” sahutnya sembari tersenyum pahit.

Ia menyentuh komputernya dan saat itu kerangka dari Plante muncul. Jhatatysa menunjukkan bagian yang sempat bermasalah.

“Kebocoran. Mengubah isi Plante. Perlahan. Air, tanah, udara sedang mengalami perubahan sekarang,” Jhatatysa menunjukkan bagian yang rusak.

“Bukankah itu artinya juga mengubah Generoro?” sela Glaric.

“Jika waktunya bisa bertahan lama. Penyesuaian tubuh tidak akan secepat itu. Bagaimana jika kita tidak bisa lagi menghirup udara sebelum tubuh kita berubah?” tanya Jhatatysa sembari memelintir sedikit rambutnya.

“Katakan, kalian dapat mengatasinya atau tidak?” geram Rhalemug. Kondisi mereka ternyata lebih buruk dari pada yang ia bayangkan. Tercekik di ‘surga’ benar-benar bukan pilihannya untuk menuju kematian.

“Tentu kami mengusahakannya, dan kuharap kau bisa lebih sopan ketika berbicara dengan Jhatatysa. Ingat posisimu hanya kepala Aracheas! Jhatatysa ini wakil ketua Plante!” bentak Niaqu.

Terlihat benar-benar tidak menyukai Rhalemug dan Glaric.

“Aku tidak bermaksud untuk tidak sopan,” timpal Rhalemug.

Memangnya siapa yang mampu menggaransi pembicaraan mengenai Plante akan mulus, tanpa adu urat dan otak. Rhalemug hanya ingin mengetahui bagaimana kondisi tempat tinggalnya, kondisi yang sebenarnya.

Jhatatysa berdehem. “Boleh kau ambilkan minuman untuk kami Niaqu?”
Niaqu melemparkan pandangan tidak senang.

Ia tidak ingin meninggalkan Jhatatysa bersama dua petani gila di hadapannya. Belum lagi yang satunya adalah ilmuwan yang dibuang dari tingkat atas. Menurutnya, Rhalemug seharusnya mengajak petani lain.

“Tolong,” ulang Jhatatysa secara halus.
Dengan langkah berat, Niaqu mengikuti perintah atasannya.

“Kurasa dia tidak suka dengan topik pembicaraan kita. Niaqu sangat mencintai Plante, seperti kebanyakan penduduk di sini. Bagaimana jika kita kembali kepembicaraan Sekoci?”

“Tunggu Jhatatysa, kau belum menjawab apakah orang-orang di Equilibrium segera dapat mengatasi permasalahan Plante?” sela Rhalemug. Ia sangat membutuhkan jawaban.

Jhatatysa melengkungkan bibirnya.

Ekspresinya mengerikan.

“Kurasa tidak bisa. Tapi itu pendapat pribadiku”.

“Plante akan hancur!” seru Rhalemug.

“Maka dari itu aku senang kau membawa teman ilmuwanmu kemari. Aku akan membantu kalian untuk melakukan negosiasi dengan pak tua atasanku. Jujur saja, aku ingin sekali meninggalkan tempat ini dan tinggal di dunia yang sesungguhnya”.

“Kau tidak sedang menjebak kami kan?” tanya Glaric curiga.

Jhatatysa menggeleng. “Aku tahu kau sekarang tidak mudah percaya dengan orang asing, apalagi yang berasal dari Equilibrium. Tapi percayalah. Aku akan membantu kau si Ilmuwan terbuang juga putra dari Jakarov untuk keluar dari sini”.

“Kau tahu siapa aku?” tanya Rhalemug yang mendapatkan kejutan lain. Jhatatysa seratus persen bukan gadis yang bisa diremehkan.
“Aku ini teman dari Heere. Mungkin tidak sekarang tapi kuharap perlahan kalian akan mempercayaiku”.

Niaqu muncul dengan nampan minuman.

Empat cangkir di tata cantik di atasnya. Ia menaruh keempat benda itu di atas meja.

Aroma teh mawar. Rhalemug tidak mungkin salah. Ternyata resep dari ibu Irrina sudah meluas di lantai atas.

“Kami baru saja selesai membahas kondisi Plante yang kurang bagus dan bagaimana ilmuwan-ilmuan kita tengah bekerja keras untuk mengatasinya Niaqu”

“Namun kupikir kita tetap membutuhkan rencana lain seandainya kerusakan Plante semakin tidak mampu teratasi”

“Aku sedang berpikir apakah Sekoci perlu dilanjutkan,” papar Jhatatysa. Ia meniup-niup permukaan tehnya.

Glaric yang sudah lebih dulu mengambil tehnya, hampir tersedak mendengarkan ucapan Jhatatysa.

“Kau gila Jhatatysa! Ketua tidak akan suka dengan usul itu! Kau bisa terjebak dalam masalah!”

“Kali ini kita menempatkan Sekoci sebagai rencana cadangan, bukan program illegal. Pengerjaannya pun dipastikan tidak secara diam-diam. Segala laporan akan sampai ke tangan ketua”

“Sebaiknya kita mencoba dulu membicarakan hal ini secara matang. Kita akan mengadakan pertemuan lagi,” tegas Jhatatysa, secara samar ia memberikan kedipan pada Rhalemug.

Untuk pertama kalinya jantung Rhalemug berdegup begitu kencang. Mungkin karena Sekoci. Mungkin karena Jhatatysa.

*
“Seandainya dapat merasakan, kau ingin hidup sebagai tanaman apa?” tanya Alo pada suatu sore yang datar, mereka baru saja menyelesaikan jam kerja. Tidak benar-benar ada perbedaan yang ekstrim antara pagi, siang, sore, maupun malam di Plante.

Suhu yang mereka rasakan juga selalu sama. Yang membedakaan hanyalah lampu-lampu yang di redupkan ketika malam hari.

Rhalemug terdiam sebentar kemudian bergumam, “Talanau”.

“Pohon yang sangat sulit mati itu? Apakah kau yakin untuk hidup selama itu?” oceh Alo sembari menduduki meja yang biasa digunakan untuk melakukan pencampuran pupuk maupun larutan nutrisi.

Dilain pihak Rhalemug sedang membersihkan sekop dari tanah yang menempel di sana.

“Tidak masalah. Talanau merupakan pohon yang sangat bermanfaat. Batangnya yang kokoh dapat diambil untuk membuat mebel, daunnya mampu menjadi penawar segala penyakit, dan meski tidak berbuah, kita dapat mengonsumsi rantingnya. Namun ada satu manfaat yang paling kusuka. Talanau memproduksi bahan untuk membuat Wakno”.

“Kalau aku ingin merasakan menjadi bunga,” ujar Alo sembari menatap botol-botol nutrisi yang ada di hadapannya.

“Ferona?” tebak Rhalemug.

“Tidak, aku tidak ingin berbunga hanya untuk dipetik dan layu tiga jam kemudian”

“Aku ingin tumbuh sebagai bunga mawar yang harum, selalu mencuri perhatian, dan yang paling penting berduri”

“Uh! Kau sangat berbahaya Alo. Memangnya sekarang ini kau tidak merasa menjadi pusat perhatian di Aracheas? Dan apakah menurutmu dirimu kurang menyeramkan?”

“Aku menyeramkan?” sela Alo sembari menunjuk wajahnya.

Rhalemug terkekeh pelan. “Kau itu dominan dan perfeksionis. Jika dua kata tadi dirangkum dalam satu kata maka akan menjadi...”.

“Lanjutkan,” desak Alo ingin mengetahui apa yang Rhalemug maksudkan.

“Menyebalkan,” kekeh Rhalemug.

Alo mendengus. “Kau tahu ayahku seorang aparat, secara tidak langsung aku juga mengikuti pola pikirnya. Bagi aparat salah adalah salah. Hitam adalah hitam, putih adalah putih. Semuanya sudah ada aturannya”.

“Padahal menurutku hidup tak sekaku itu Alo. Banyak sisi abu-abu yang menarik,” sanggah Rhalemug sembari menjatuhkan beberapa tanah kering yang berhasil dicongkelnya ke tanah.

Alo membuka mulut seolah ingin mengajukan protes. Namun ia urungkan. Setelah menghela napas panjang akhirnya ia berkata, “Sulit berpikir seperti itu jika kau memiliki pola pikir yang berbeda. Tapi aku penasaran mengapa kau mau berteman dengan orang yang menyebalkan ini”.

“Karena orang yang menyebalkan itu menyukai tanaman seperti aku. Karena orang yang menyebalkan itu merupakan temanku sedari bangku sekolah.

“Di luar itu semua, karena orang yang menyebalkan itu adalah kau Alo. Kau temanku, dan aku tahu kau selalu bersikap demikian karena ingin mendapatkan sesuatu yang lebih dari pada standar yang ada,” sahut Rhalemug yang sudah selesai membersihkan peralatan bertaninya.
Alo menganggkat alis kemudian tawanya meledak. “Terima kasih sudah mau berteman dengan orang yang keras kepala sepertiku!” serunya, ringan.

“Tidak masalah,” cengir Rhalemug sembari mengembalikan sekopnya ke tempat penyimpanan.


*
Tujuan Hidup
Mahluk ciptaan adalah ancaman, tetapi sama seperti mahluk cerdas lainnya,
Tujuan hidup adalah bertahan hidup, maka tujuan untuk tetap hidup merupakan pilihannya.

"Dvorak, lariiiiii," teriak Xentar.

Dengan sangat kencang Dvorak melesat menggunakan kekuatan alami species-nya yang mampu berlari sangat cepat, ada yang lima kali bahkan ada yang sampai tujuh kali kecepatan suara.

Dvorak merasa bangga sebab dia salah satu pemilik kecepatan yang mampu bergerak tujuh kali kecepatan suara.

Tujuannya adalah segera sampai ke tempat penelitiannya dan segera membuktikan bahwa alatnya dapat digunakan untuk segera mengakhiri perang tanpa henti yang tengah berlangsung lima puluh tahun dengan para robot yang mampu bergerak 1 kali kecepatan cahaya.

Xentar dengan gigihnya menembakkan senjata sinarnya ke beberapa robot yang memburu Dvorak yang tengah berlari kencang ke arah lab-nya.

Sesekali ekor Xentar mengibas ke arah robot-robot yang bentuknya seperti bola gelinding tetapi memiliki sulur-sulur seperti gurita yang mampu menembakkan sinar sekaligus melilit lawannya sehingga lehernya tercekik sampai tewas.

Tembakan sinar memang ampuh untuk melumpuhkan bahkan membuat robot-robot tersebut hancur, namun senjata sinar belum bisa melumpuhkan robot-robot tersebut secara bersamaan.

Robot yang Thorant ciptakan sudah melawan Thorant sendiri, species yang membuat robot tersebut.

Ya Thorant adalah mahluk cerdas berkaki dua evolusi dari reptil dengan penyeimbang ekor yang panjang dengan kemampuan evolusi berlari yang setara dengan satu sampai tujuh kali kecepatan suara.

Namun kecerdasan mereka seperti pedang bermata dua, membuat Thorant sendiri terancam dan jatuh dalam tebing kepunahan species tersebut.

Harapan mereka kini ada pada seorang pemuda bernama Dvorak yang entah dari mana memiliki ide untuk membuat senjata pemusnah massal untuk para robot yang telah mengusai hampir 1/10 populasi planet tersebut.

Karena Xentar tahu Dvorak cuma anak bodoh yang tidak bisa apa-apa saat kecilnya, mendadak setelah dewasa menjelma menjadi thorant yang hebat tanpa pendidikan yang tinggi.

Kini perjuangan mereka menemukan titik harapan yang baru untuk melawan robot-robot cerdas dan kuat tersebut.

Dvorak tidak bisa menjelaskan kenapa ia bisa mendapatkan pemikiran tersebut dan darimana teknologi yang aneh tersebut, ia hanya bilang bahwa ide itu muncul begitu saja di pikirannya melalui mimpi.

Dan yang dia butuhkan hanya kepercayaan para ilmuwan dan teknisi untuk mengikutinya walaupun ada beberapa teori aneh yang belum diketahui oleh para ilmuwan dan teknisi tersebut.

Bahkan ada dari para ilmuwan dan teknisi yang meninggalkannya, tetapi entah bagaimana Dvorak tetap melanjutkan penelitian tersebut dan berhasil menunjukkan kemajuan walaupun dalam bentuk miniatur, tetapi dia berhasil.

Hal ini membuat beberapa ilmuwan dan teknisi yang melihat hasilnya dengan segera membuatnya dalam skala besar, karena senjata itu ada kemungkinan besar berhasil untuk dibuat.

Dvorak mendapatkan kepercayaan mereka, dan di satu sisi Dvorak mempunyai sifat yang ramah, mengutamakan kepentingan sesama, bahkan melindungi mahluk lainnya, kecuali robot tentunya.

Xentar terhempas saat ada salah satu robot yang berhasil mengejar dan menyabetkan sulurnya.

Untung di dekat area tersebut seseorang menyambarnya dan membawanya melesat menjauh menggunakan Xprox mobil supercepat yang mampu mengimbangi kecepatan robot-robot tersebut.

Beruntungnya robot-robot lainnya tidak peduli dan tetap mengejar Dvorak yang dengan lincah menyusup di antara area-area sempit dan berliku untuk sampai ke tempat penelitiannya dengan membawa baterai yang dibutuhkan untuk meng-on-kan alat buatannya sebagai pemusnah massal robot-robot tersebut.

"Xentar, kau terluka," dengan segera Lidvinax membalut ekor Xentar yang berlumuran darah berwarna ungu gelap.

"Tidak begitu parah..”. gumam Xentar.

"Tidak begitu parah? ekormu hampir putus, Axtra bawa kita keluar dari sini segera ke paramedis area di Entixong," perintah Lidvinax.

"Siapa yang melindungi Dvorak?" Teriak Xentar.

"Zhroac dan Miath," ucap Lidvinax.

"Zhroac, wanita yang cantik dan tangkas, Semoga mereka berhasil," ucap Xentar.

Dvorak berlari kencang dan sesekali melakukan gerak zigzag agar robot-robot yang mengikutinya salah langkah.

Berada tak jauh di sisi kiri dan kanannya yang juga berlari dengan kecepatan yang sama, satu satu sahabatnya dan satunya kekasihnya berlari dengan senjata sinar di tangannya melindunginya dari robot-robot tersebut dan juga melindungi diri mereka sendiri.

Sedangkan di kedua tangan Dvorak adalah baterai dengan rakitan sendiri untuk dibawa ke tempat penelitian lainnya.

Dengan alat buatannya tersebut Dvorak yakin dia bisa mengakhiri perang ini ataukah mati dan gagal sehingga seluruh species-nya mati dalam jagad raya yang luas ini, dan sepertinya tidak ada mahluk atau species lain yang turun tangan untuk membantu selain species-nya sendiri.

"Ayo, tidak ada yang bisa mengubah takdir kita kalau tidak kita sendiri yang mengubahnya, ayo berusaha," ucap Dvorak untuk memberi semangat pada dirinya sendiri.

"Tinggal sedikit lagi kita sampai, sampai sejauh ini kita bisa," teriak Zhroac menggunakan alat komunikasi yang ada di kepalanya kepada teman-teman lainnya.

"Iya, ayooo kita bisaaaaaa, arrrrrg!" Miath terkena sabetan sulur salah satu robot yang telah dekat dengan dirinya, segera dia terpelanting dan menghantam tembok dengan keras, tubuhnya hancur karena kecepatan yang tinggi.

"Miath, selamat jalan sobat," air mata Dvorak menetes saat masih berlari kencang, lalu dia menoleh ke arah Zhroac yang juga terlihat geram sembari tetap menembakkan senjata sinarnya, tiga robot jatuh tersungkur dan hancur meledak berkeping menabrak tembok terkena senjatanya.

"Untuk Miath, maju terus, sebentar lagi sampai!" teriak Zhroac.

"Akhirnya," ucap Dvorak, setelah sampai di gedung penelitiannya, disusul Zhroac masuk.

"Plasma Shield on," teriak Dvorak.

"Plasma Shield on" jawab komputer area lab tersebut.

"Bagus, kau berjaga, lindungi aku, dengan kemampuan robot-robot level tinggi yang mengikuti kita, paling tidak memberi waktu kita tiga detik sudah cukup," jelas Dvorak.

"OK, kau fokus ke alatmu, segera!" jawab Zhroac.

Dengan segera Dvorak membuka alatnya dan segera menempatkan baterai ke slot di alatnya,"Baterai ion atom sudah terpasang, meng-on-kan system, perlu dua detik lagi”.

"Dua detik? kita sudah berjalan satu setengah detik, kita tidak punya waktu untuk itu, plasma shield sudah hampir tertembus robot-robot level tinggi," teriak Zhroac.

"Sebentar lagi sistem EMP Wave Blaster siap," Kata Dvorak.

"Ayoooo, mereka sudah menembus perisaiiii," teriak Zhroac sembari menembakkan senjata sinarnya ke robot-robot yang sudah mulai meluruk masuk dan ada yang yang lolos.

Dvorak segera mengangkat alat buatannya,"Sudah selesai, saatnya tiba," namun mendadak satu sulur salah satu robot menembus jantungnya.

"Dvoraaaak" teriak Zhroac kelu. dengan cepat berlari dan menembak robot yang sulurnya mengenai Dvorak.

"Zraaath" senjata sinar tadi menembus dan merusak kepala robot menjadi hancur berantakan.

"Dvorak?" Zhroac meletakkan kepala Dvorak di pangkuannya, sementara itu Dvorak masih berupaya menekan tombol alatnya.

Saat yang bersamaan puluhan robot melompat dan merangsek masuk mendekati mereka berdua.

Zhroac yang melihat itu, segera menutup mata, dia tahu ini adalah akhir bagi dirinya dan Dvorak.

Setelah sekian detik berlalu, dia membuka matanya, beberapa robot jatuh berserakan dan ada yang hampir mengenai dirinya, mereka diam. seperti barang rongsokan yang tidak memiliki memory dan kecerdasan.

Lalu Zhroac melihat ke Dvorak,"Kita telah berhasil Zhroac, ambil kristal data ini di dalamnya ada desain EMP gun dan EMP canon yang dapat digunakan melawan mereka dalam skala keciiiiiiiil" lalu Dvorak melihat dirinya direfleksi alat metalnya, tersenyum lalu menutup matanya.

Zhroac menangis.

*
Rhalemug terbangun dari tidurnya.

Mimpinya tentang Alo dan mimpi aneh lainnya, dia melihat wajahnya seperti reptil species lainnya di mimpi tersebut, bukan species Generoro, tetapi lebih mirip kadal dan mampu bergerak super cepat.

Apakah ada kehidupan seperti itu selain Generoro? Ah tidak usah dipikirkan.

Tetapi tentang Alo? Mimpi barusan merupakan penggalan kenangannya. Masa lalu yang terasa indah. Masa yang telah berubah.

Ia melirik jam di komputernya. Pukul tiga pagi. Rasanya mustahil untuk kembali tidur.

Sebelum tidur tadi, Rhalemug tengah membaca buku tulisan ibunya.

Bab kedua dari Plante dulu, Plante sekarang karya Ygmy. Waktu yang diperlukannya untuk melanjutkan buku-buku ini benar-benar panjang.

Sebagai tempat yang telah dirancang dengan seksama, Plante memiliki pembagian yang jelas bagi penduduknya.

Pembagian secara garis besar didasarkan pada lima departemen.

Dari lima kategori besar, di pecah menjadi divisi-divisi yang akan dijabarkan seperti berikut.

Departemen Hukum dan Hak Asasi

Divisi Penjaga Perdamaian

Penjaga perdamaian berfungsi untuk menjaga ketertiban di Plante. Mereka berseragam hitam dan dapat ditemui dengan mudah di tempat-tempat umum.

Mereka juga bertugas untuk membantu kepindahan seseorang menuju divisi yang baru.

Sebagai pihak yang memiliki wewenang untuk menegakkan hukum, aparat berhak melakukan tindak kekerasan dan memberikan hukuman bagi pihak yang melakukan pelanggaran berdasarkan aturan yang telah ditetapkan. Salah satu contohnya ketika ada penduduk yang mengunjungi departemen lain tanpa izin.

Divisi Ketenagakerjaan

Memastikan seluruh penduduk mendapatkan pekerjaan adalah tugas mereka.

Termasuk memutasi seorang pekerja dari suatu divisi ke divisi lain. Mereka dapat dikenali dengan seragam warna ungu gelap.

Divisi Sosial

Tugas mereka meliputi pengaturan populasi penduduk juga pembagian lahan tinggal.

Mereka mendata seluruh penduduk juga memastikan mereka mendapat akses komputer yang layak untuk melakukan interaksi dan mendapat informasi.

Merah merupakan warna untuk mengenai orang-orang dari divisi ini.

Departemen Energi dan Sumber  Daya

Divisi Riset dan Lingkungan
Memastikan seluruh hal yang berhubungan dengan alam dapat berjalan dengan baik.

Mereka memeriksa kesuburan tanah, zat-zat yang ada di Plante, bahkan kualitas udara.

Dengan seragam putih, mereka melakukan tugas untuk melakukan penelitian, dan pengembangan teknologi di ruangan laboratorium.

Divisi Penjelajah

Pakaian silver menandai orang-orang divisi ini. Mereka merupakan penduduk yang memiliki keberanian untuk mengeksplorasi hal-hal baru.

Keterampilan menerbangkan pesawat merupakan sesuatu yang dasar. Mereka juga memiliki pengetahuan alam yang cukup baik.

Departemen Pelayanan Umum

Divisi Kesehatan
Menangani pengobatan penduduk yang terjangkit penyakit baik secara pembedahan juga tradisional.

Mereka juga mampu memasukkan seseorang dalam rehabilitasi atau mengisolasi penduduk yang dinilai terkena penyakir menular. Pekerja kesehatan dapat ditilik dari baju mereka yang berwarna hijau.

Divisi Kebersihan

Menjaga lingkungan internal Plante tetap bersih juga memikirkan daur ulang terhadap sampah merupakan kewajiban mereka. Selain itu, pekerja dari divisi ini juga diwajibkan melakukan kontrol polusi yang meliputi air, tanah, dan udara. Temui pejuang kebersihan dengan pakaian jingga mereka.

Kadang kalian dapat menemukan mereka tengah melakukan perawatan tempat-tempat umum seperti taman kota.

Divisi Pendidikan dan Pengetahuan

Berkewajiban untuk meneruskan informasi dan mengajarkan berbagai keterampilan pada generasi baru.

Mereka memiliki keahlian untuk mendeteksi kemampuan dan bakat dari seseorang.

Para pengajar kita selalu muncul dengan seragam biru dongker. Beberapa orang terpilih dari divisi ini membantu penyebaran informasi ke komputer atau monitor penduduk.

Pustakawan masuk dalam golongan ini, namun mereka tidak memiliki seragam khusus mengingat tempat bekerja mereka yang sudah jelas dan tidak bersifat mobile.

Departemen Ketahanan Pangan

Divisi Pertanian
Berseragam cokelat akan mengingatkan siapapun yang melihatnya sebagai warna tanah.

Para penggarap sumber kehidupan ini bekerja di ladang yang disebut sebagai Aracheas.

Sebagai pusat budidaya tanaman terbesar di Plante, Aracheas memiliki tujuh tingkat yang meliputi tingkat Hidroponik yang menggunakan area dua lantai, Farmakultur, Olerikultur, Frutikultur, Florikultur, dan lantai dasar.

Divisi Peternakan

Areanya disebut Gnemoe. Beberapa hasil budidaya mereka adalah aneka serangga juga ikan. Pekerja di Gnemoe mengenakan pakaian warna turquise dan beberapa dari mereka senang menggunakan penutup telinga atau topi nelayan.

Divisi Kuliner

Menyediakan makanan dan memastikan tidak ada yang kelaparan di Plante merupakan tugas divisi ini.

Mengolah bahan makanan menjadi makanan siap santap dan membuang bahan-bahan yang tidak baik untuk tubuh menjadi konsentrasi dari divisi yang memiliki seragam kebangsaan berwarna peach ini.

Departemen Teknik dan Kendali

Divisi Perawatan Mesin

Sebagai pesawat super canggih buatan Generoro, Plante membutuhkan para teknisi handal untuk melakukan pengecekan bahwa mesin-mesin berjalan sesuai harapan.

Para teknisi ini berseragam kuning dan wajib menggunakan helm proyek.

Mereka dapat bekerja di dalam juga di bagian luar Plante, tentunya dengan alat-alat pengaman yang telah disediakan.

Divisi Kendali

Plante bukanlah pesawat tanpa tujuan. Ia terus bergerak di luar angkasa dengan gagah berani, menghindari asteroid juga benda-benda luar angkasa lainnya.

Selain memastikan Plante tetap aman dan pada jalurnya, divisi kendali juga mampu mendaratkan Plante di planet yang ditunjuk bangsa Generoro.

Tenaga kendali berseragam putih dengan dua garis hitam di bagian tubuh kanan mereka.

Dalam bab ketiga, kita akan membahas sedikit mengenai cara mengendalikan Plante. Juga fitur-fitur di dalamnya dalam bahasa yang mudah dimengerti. Saya mencoba tidak terlalu teknik untuk menjabarkan bab terakhir dari buku ini.

Semakin jelas dan mudah dimengerti Rhalemug. Kini Rhalemug mengakses bab tiga namun komputernya tidak menunjukkan halaman yang ia minta. Ia mencoba menutup program bacaannya dan membukanya kembali namun hasilnya nihil.

Padahal program lain berjalan.

Ia melihat jam. Sudah pukul lima pagi sekarang. Ia memutuskan untuk mengirimkan pesan pada Mozza melalui Mimosa Paradiamo.

Mungkin Mozza bisa membantu mengecek file mengenai Plante dulu, Plante sekarang karena bisa saja file di bab tiga memang sengaja dihapus.

Alih-alih menggunakan panggilan video, Rhalemug memilih mengirimkan pesan singkat. Siapa tahu panggilannya subuh-subuh begini malah mengganggu waktu istirahat Mozza.

Sekitar sepuluh menit setelah mengirimkan pesan, Rhalemug sudah mendapatkan jawaban.

Mozz : Kurasa kau benar, file bab tiga telah dihapus.
Kecurigaannya memang benar.

Rha : Apa kau dapat melakukan sesuatu untuk mendapatkan file bab 3?
Mozz : Aku tidak yakin.

Ini tidak baik, batin Rhalemug. Semenit kemudian, Mozza mengirimkan ia pesan kembali.

Mozz : Tapi aku akan mencoba mencari buku panduan soal Plante. Aku tidak tahu apa dapat menemukannya.

Para regulator pasti sudah sangat teliti untuk menghilangkan file yang menurut mereka ‘berbahaya’ dari publik.

Rha : Kau memang dewa penolongku. Ngomong-ngomong kau sudah bangun jam segini?

Mozz : Insomnia. Aku belum tidur sama sekali. Hari ini aku akan izin untuk tidak masuk.

Rha : Kuharap kau baik-baik saja.

Mozz : Terima kasih. Aku akan mencoba memejamkan mata lagi.

Rhalemug menghembuskan napas panjang. Ia kembali merebahkan tubuhnya di atas kasur lalu memandangi langit-langit kamarnya.

Jadwalnya untuk bertemu Jhatatysa hari ini pukul delapan pagi. Semakin jam delapan ditunggu, rasanya waktu bergerak semakin lambat.

Alunan lagu dari tuts-tuts piano menggema di ruangan 156. Rhalemug yakin sebelumnya tidak ada piano di situ dan memang tidak ada. Yang ada hanyalah Jhatatysa yang sedang memainkan musik dengan komputer tabletnya.

Rhalemug tidak yakin pernah mendengar alunan itu sebelumnya. Sangat nyaman, mententramkan.

Nada-nada itu seolah memiliki kekuatan magis yang mampu membuat siapapun yang mendengarnya merasa damai.

Rasanya Rhalemug belum puas mendengar alunan itu ketika Jhatatysa menghentikan permainannya yang agung.

Sesuatu seperti terenggut darinya.

“Masuklah. Kau membuat nadaku bocor kemana-mana dengan membuka pintu seperti itu,” tegur Jhatatysa sembari membenahi rambut panjangnya.

“Permainanmu sangat bagus,” puji Rhalemug.

“Kau bukan orang pertama yang mengatakannya. Tapi aku senang ada orang yang menyukai permainanku. Mungkin aku harus segera beralih profesi menjadi musisi. Sayang tidak ada divisi hiburan di tempat jelek ini,” Jhatatysa tertawa sembari menekan beberapa nots di layar sentuhnya.

“Apa aku boleh memiliki beberapa lagumu untuk didengarkan di flat?” tanya Rhalemug penuh harap.

“Nah kalau kali ini baru kau yang memintanya. Aku akan mengirimkan beberapa lagu setelah pulang kerja tapi jangan kecewa kalau beberapa jelek ya,” janjinya sembari mulai memainkan lagu kembali.

Ruangan itu kembali dipenuhi nada-nada indah. Rasanya seperti tidak sedang berada di Plante.

“Beruntung sekali kau kemari lebih awal sehingga bisa melihatku sedang memainkan musik. Lima belas menit dari kesepakatan. Kau ini disiplin ya,” sambung Jhatatysa tanpa menghentikan permainannya.

“Aku hanya terlalu bersemangat,” jawab Rhalemug, agak tersipu malu.
“Sampai meninggalkan temanmu di Aracheas dan duluan kemari,” goda Jhatatysa.

“Glaric masih ada di ladang. Ia mengatakan akan segera kemari setelah pekerjaannya selesai. Kuharap ia bisa kemari tepat waktu”.

Jhatatysa memainkan lagu lain. Kentara dari tempo yang berubah menjadi lebih cepat. Lebih semangat. “Kau tahu kadang aku ingin memiliki lirik dari lagu-laguku, tapi aku tak pernah mendapatkannya”.

“Kau mana bisa fokus dengan setumpuk pekerjaan. Aku curiga kau tidak pernah mengambil cuti”.

“Bagaimana tebakanmu bisa sangat jitu Rhalemug!” seru Jhatatysa dengan mata berbinar-binar.

Karena aku juga pernah terlalu tenggelam dalam pekerjaan, batin Rhalemug namun tidak disuarakan.

Rhalemug menyodorkan komputer tabletnya. Ia tidak mau menjadi penduduk yang manja sehingga harus mengandalkan komputer milik orang lain.

Komputer tablet itu dibelinya di Schavelle akhir pekan yang lalu. Glaric membantunya memilih.

“Bisa memainkan dengan dua komputer sekaligus?” tantang Rhalemug.

Jhatatysa mengangguk sembari tertawa. “Empat tangan pun aku bisa! Tapi komputermu harus diinstal program musiknya terlebih dulu”. Ia menghentikan permainannya dan mengirimkan data instalasi ke komputer milik Rhalemug.

Rhalemug ingin sekali menyentuh rambut Jhatatysa yang panjang. Tapi ia tidak yakin gadis itu akan mengizinkan. Rambut gadis itu bergerak-gerak membuat tangannya ingin mencoba merasakan apakah mereka sehalus yang Rhalemug bayangkan.

“Siapa yang mengajarimu?” Tanya Rhalemug.

“Bermain musik? Ayahku itu ilmuwan dan seniman! Ia menurunkan keduanya padaku selama beberapa tahun yang panjang,” ceritanya sembari tersenyum.

“Bagaimana dengan ibumu?” Rhalemug ingin tahu lebih banyak.

“Seseorang dari divisi kuliner. Tapi memasak adalah sesuatu yang tidak kukuasai Rhalemug. Mencuci, memotong, masaknya pada suhu tertentu selama jangka waktu tertentu bisa membuatku gila,” gelaknya. Rambut gadis itu bergoyang lagi.

“Apakah terjadi pergantian regulasi? Maksudku dulu ayahku petani, ibuku ilmuwan. Ayahmu ilmuwan dan ibumu dari divisi kuliner”.

Jhatatysa mengangguk. “Sejak insiden ibumu, regulator memutuskan agar para penduduk berinteraksi dengan orang-orang di divisinya saja. Tujuannya supaya penyebaran informasi lebih terkendali. Misalnya seorang dokter tidak perlu mengetahui ranah peternakan”.

“Kalau begitu kebijakan mereka telah berhasil,” gumam Rhalemug.

Kedua orang di dalam ruangan menoleh ke arah Glaric yang baru saja membuka pintu.

“Apakah aku terlambat?” tanyanya takut-takut.

Jhatatysa melirik jam di komputernya. “Meetingnya belum kami mulai meski ternyata kita sudah kelewatan sepuluh menit. Aku berpikir di manakah Niaqu”.

Sejurus kemudian Niaqu muncul dengan wajah tegang.

“Maafkan kalian harus menungguku,” katanya dengan wajah agak pucat.

Sepertinya ia sedikit berlari-lari menuju ruang rapat.

“Kabar baik?” terka Jhatatysa sembari memilin rambutnya yang panjang.

Niaqu mengangguk. Ia membagikan datanya ke seluruh komputer yang ada di ruangan itu. Komputer Rhalemug yang baru juga secara otomatis mendapatkannya.

“Ketua menyetujui program Sekoci untuk dijalankan kembali”

“Dengan syarat : tidak ada yang boleh membocorkan keadaan Plante yang sesungguhnya. Ia tidak mau penduduk Plante menjadi panik karena kebocoran pesawat yang tengah kita alami”.

“Tapi bukankah regulator semestinya melindungi seluruh penduduknya? Bagaimana mungkin mereka berpikir untuk menyembunyikan keadaan darurat?” tuntut Rhalemug, memprotes.

Jhatatysa menyatukan keempat tangannya.

Terlihat sedang berpikir.

“Kurasa kita tidak mungkin memaksakan keberuntungan. Belum lagi jumlah sekoci sebenarnya tidak mampu menampung seluruh penduduk. Benarkan Glaric?”

Glaric mengangguk mantap.

Ini adalah sesuatu yang sangat dikuasainya. “Jumlah sekoci kita hanya tiga ratus. Satu sekoci hanya muat delapan hingga dua belas orang. Belum dipotong sekoci yang mengalami kerusakan”


bersambung....


Cerbung ini ada di majalah AN1MAGINE Volume 2 Nomor 4 April 2017 eMagazine Art and Science yang dapat di-download gratis di Play Store, share yaa


“Menerbitkan buku, komik, novel, buku teks atau 
buku ajar, riset atau penelitian di jurnal? An1mage jawabnya”

AN1MAGINE BY AN1MAGE: Enlightening Open Mind Generations
AN1MAGE: Inspiring Creation Mind Enlightening 
website an1mage.net www.an1mage.org

Komentar

Page Views

counter free

Visitor

Flag Counter

Postingan populer dari blog ini

STANLEY MILLER: Eksperimen Awal Mula Kehidupan Organik di Bumi

CERPEN: POHON KERAMAT

Menerbitkan buku di An1mage