MINDPORTER: Mindporting to Plante di An1magine Volume 2 Nomor 4 April 2017 olume 2 Nomor 2 Februari 2017


MINDPORTER:
Mindporting to Plante
M.S. Gumelar


“Belum kritis. Frutikultur harus mengalami keterlambatan apel untuk berbuah. Beberapa tanaman juga terkena ulat buah seperti pada jambu air, namun persentase dari kerusakannya masih dalam titik normal. Kami mengusahakan tetap dapat memberikan suplai buah-buahan seperti biasa,” jelasnya sembari membagikan beberapa gambar dari lantai yang dipimpinnya kepada seluruh peserta rapat.

Flora, ketua dari Florikultur menyatakan,
”Pasokan bunga masih baik. Mungkin ini lancang, tapi kalian bisa menggunakan sebagian dari lahanku untuk keperluan pangan jika memang dibutuhkan”.

“Bunga dan tanaman hias tetap merupakan tanaman kebanggaan Generoro. Terima kasih atas kebesaran hatimu Flora,” angguk Patizio.

Patizio berdiri dari duduknya. Ia memandangi seluruh petani yang disayanginya.

“Tadi aku sudah mengelilingi lantai tujuh juga lantai dasar. Aku tidak ingin berbohong namun keadaan kita benar-benar tidak baik. Maka dari itu, aku menginginkan masukan dari kalian untuk mengatasinya,” kata Patizio.

Beberapa orang di ruangan mulai berdiskusi satu sama lain. Hanya Alo dan Rhalemug, serta Patizio sendiri yang tetap duduk dengan tenang.

Setelah kurang lebih beberapa menit ruangan itu dipenuhi dengungan, Patizio bertanya dengan lantang hingga seluruh orang menoleh padanya. Pertanyaan itu ditujukan pada Rhalemug.

“Rhalemug, coba utarakan ide yang ada di kepalamu,” pinta Patizio, kembali duduk di kursinya.

“Tanaman kita beragam, bukan hanya secara jenis, dari sifatnya pun berbeda. Kita bisa meminta bantuan divisi riset untuk melakukan penelitian kondisi Aracheas sehingga petani memahami apa yang semestinya kita kerjakan.
“Setelah itu kita dapat memperbanyak tanaman pangan yang dapat bertahan dengan kondisi alam. Sembari mencari solusi untuk mengatasi keadaan kita,” imbuh Rhalemug.

Dada Rhalemug bergetar kencang. Ia tidak tahu apakah itu menjadi jalan keluar yang tepat, ia hanya mengucapkan apa yang dipikirkannya. Semoga pernyataannya tidak terdengar bodoh.

Tepuk tangan itu terdengar di telinga Rhalemug. Ia mendongak. Patizio memberinya apresiasi. Hal itu diikuti para petani lain yang ikut rapat.

Rhalemug membuka mulutnya. Tapi tidak tahu apa yang harus dikatakan.

Perasaannya campur aduk.
“Membudidayakan tanaman yang cocok dengan situasi yang dihadapi, sama seperti yang aku pikirkan,” ungkap Patizio.

Ia kemudian diam untuk menyita perhatian seluruh orang di ruangan itu.

“Pengetahuan yang matang dan kemampuan memecahkan masalah tentunya dimiliki oleh petani kita, Rhalemug….”

“… oleh karenanya, aku Patizio, menunjuk Rhalemug sebagai ketua divisi peternakan yang baru. Ia kutunjuk untuk merealisasikan kata-katanya barusan…”

“Untuk Aracheas, untuk Plante,” putusnya dengan nada tegas.
Rhalemug tersenyum lebar. Inikah hadiah yang dimaksud Patizio tempo hari? Atas tebakan Wakno? Atas usulannya untuk menjaga Aracheas?

Ruangan menjadi riuh. Beberapa orang yang duduk di dekat langsung menyalaminya. Berbeda dengan Alo yang nampak tegang.

Alo, tentu saja setelah membuat sekian banyak kebohongan akhirnya akan terbongkar juga. Pemalsuan laporan bahwa Aracheas baik-baik saja, pengusiran Glaric, pembuatan irigasi palsu, sampai juga menanamkan kepercayaan pada petani bahwa ia adalah penerus Patizio.

Rhalemug yang merupakan sahabat terdekatnya sekali pun ikut menjadi korban bualannya. Benar-benar seseorang yang haus kekuasaan. Sebenarnya apa yang ia inginkan dengan menyebarkan kenyataan bohong?

Gerak-gerik Alo sudah sedari tadi diamati Patizio. Ketidaktenangan dan ketakutan memancar dengan jelas dari wajahnya yang pucat.

“Kemudian aku ingin menegaskan bahwa Tuan Glaric tidak diberhentikan dari Aracheas. Aku memang membuat peraturan supaya Glaric tidak berladang selama laporan yang kuterima masih simpang siur. Itu karena sebagai pemimpin aku berusaha melindungi petaniku.
Aku takut Glaric mengalami kekerasan fisik dan mental dari petani yang mudah terkena hasut. Sementara peraturan tidak boleh mengunjungi Glaric, tidak pernah ada. Peraturan itu tidak lebih dari akal-akalan yang dibuat oleh Alo saja,” imbuhnya.

Patizio menatap Alo dengan tajam.
“Boleh tahu nak. Apa yang membuatmu mengarang kata, mengarang data?” tanyanya dengan nada datar.

Alo memberanikan diri untuk mengangkat kepalanya dan menatap balik Patizio.
“Kau tidak tahu masa laluku. Tidak ada yang tahu. Maka dari itu tidak perlu peduli sekarang. Jadi apa yang kau inginkan? Mengusirku dari Aracheas?” tantangnya.

“Terima kasih atas pengabdianmu, nak. Kau sudah bekerja lama di Aracheas, namun kau tidak pernah memiliki sikap seorang petani teladan yang penuh dengan kesederhanaan. Ada baiknya jika kau menggeluti dunia yang sesuai denganmu,” ujar Patizio tenang.

Alo diberhentikan dengan tidak hormat dari divisi Pertanian. Sementara itu Rhalemug diangkat menjadi kepala Aracheas. Patizio sendiri yang memutuskan dan keputusannya bersifat mutlak.

Rhalemug tidak tahu harus senang atau sedih. Ia bahkan tidak tahu caranya untuk senang dan sedih bersamaan. Segalanya berlangsung secara cepat dan mengejutkan.
Kepala Aracheas bukanlah sesuatu yang pernah ia impikan. Ia tidak mengejar jabatan, ia menikmati pekerjaannya sebagai petani oleh karenanya ia bekerja di Aracheas.

Terlebih keadaan yang sangat bertolak belakang seperti itu membuatnya seolah-olah menjatuhkan Alo. Mereka berteman untuk waktu yang sangat lama. Namun sekarang perpisahan itu harus terjadi dengan posisi yang tidak mengenakkan.

Rasanya Rhalemug sudah lama sekali tidak merasakan kehilangan. Insiden Glaric memang menyakitkan, namun luka yang ditimbulkan tidak separah yang sekarang. Dan peraturan mereka jelas-jelas menyebutkan untuk tidak menerima kembali orang yang sudah diberhentikan.

Sama seperti Glaric yang tidak mungkin kembali ke divisi asalnya, Alo juga tidak akan dapat menjadi petani lagi.

Petualangan anak seorang petugas penjaga perdamaian yang memilih menjadi petani sudah berakhir, dan satu hal yang pasti : Rhalemug tidak dapat membantunya.

Rhalemug tidak dapat melupakan ekspresi sakit hati Alo ketika Patizio mengusirnya dengan cara halus.

Mendadak sudah ada petugas penjaga perdamaian yang muncul ke ruangan dan siap untuk membawanya pergi menjauhi Aracheas. Patizio sudah mengaturnya.

Rhalemug bahkan tidak sempat mengucapkan kata-kata perpisahan. Semuanya terjadi terlalu cepat, dan lidahnya mendadak kelu setelah keputusan di bacakan.

Seolah telinganya menjadi tuli dan mulutnya bisu. Alo pasti marah dengan kuputusan Patizio, marah juga dengannya. Seolah ia melakukan sebuah konspirasi untuk menjatuhkannya.

“Berbahagialah nak! Bahagia!”
Suara Patizio membawanya kembali kepada kenyataan. Ia melihat orang tua itu dengan pandangan nanar. Masih belum bisa mengatakan sepatah katapun.

“Terkadang keputusan yang baik memang membutuhkan pengorbanan. Kau akan belajar banyak mengenai hal itu ke depan. Kita akan menjalani masa transisi selama tiga bulan, kita akan sering bertemu setelah ini. Sekarang kau pulanglah dulu untuk menenangkan pikiran”. Saran Patizio.

Rhalemug mengangguk. Saran itu mirip seperti perintah yang halus dan tidak dapat ditolaknya.

Patizio meninggalkan ruangan rapat yang sudah hampir kosong itu. Beberapa senior dan petinggi sudah kembali bekerja.

Sekarang tinggal Citrio yang ada di sana bersamanya.

Orang tua itu mendekati Rhalemug dan menepuk bahunya dua kali sebelum melewatinya dan meninggalkannya sendirian.

Rhalemug merasa dunianya berubah dalam satu jentikan jari. Semuanya. Ia merasa terlempar masuk ke dunia lain tanpa waktu yang cukup buat memahami.

Kira-kira setengah jam kemudian ia baru mulai beranjak dari ruangan rapat. Memandangi daun-daun hasil hidroponik tanpa semangat seperti biasanya.

Ia menuju lift dan menuju dasar, memandangi sungai Verzacasa dan menyentuh airnya. Seolah air itu berubah menjadi lebih dingin. Setelahnya baru menuju ruang penyimpanan.

Glaric yang ada di lantai bawah terheran-heran saat melihat Rhalemug memasuki ruang penyimpanan, melepaskan sarung tangannya dan pandangannya kosong.

“Kau sakit sobat?” tanyanya cemas.

“Aku akan segera pulang Glaric”. Rhalemug tidak membenarkan atau menyangkal.

“Aku akan mengunjungimu setelah jam kerja berakhir,” janjinya.

*

Visi Baru

Kebahagiaan dapat diciptakan tetapi
ketidakbahagiaan juga dapat diciptakan
Memilih untuk bahagia adalah langkah pertama mendapatkan kebahagiaan

Glaric memenuhi janjinya. Ia mengetuk flat milik Rhalemug. Butuh tiga kali ketukan hingga pintu itu terbuka.

Rhalemug sudah kelihatan lebih baik dari pada tadi siang.

Ini pertama kalinya Glaric mengunjungi flat temannya dan jujur saja Flat ini lebih terlihat kosong dan lapang di banding flatnya yang penuh dengan barang.

Rhalemug benar-benar tidak memberi sentuhannya pada tempat tinggalnya. Seolah memang flat ia gunakan untuk tidur saja.

Rhalemug sangat kentara hanya menggunakan ruangan depan yang ia jadikan sebagai kamarnya dan kamar mandi.

Mungkin hanya dua ruangan itu yang ia gunakan. Entah apa yang diletakkannya dalam kamar.

“Kau baik-baik saja sobat?” Tanya Glaric.
Rhalemug memandangi Glaric dan langsung meminta maaf. Dengan suara yang parau ia menceritakan semuanya. Mengenai keputusan Patizio dan kepergian Alo.

Ia bahkan sekali lagi meminta maaf pada Glaric atas apa yang Alo perbuat padanya.

“Bukan salahmu, sobat. Bukan kau yang harus meminta maaf. Lagipula kita tidak perlu membahas hal itu lagi. Alo sudah menerima ganjaran dari perbuatannya.

Termasuk berpura-pura bertingkah sebagai tangan kanan Patizio, benar-benar gila.

“Aku tidak mengerti ada orang-orang yang sengaja berbohong untuk mendapatkan kekuasaan,” hibur Glaric. “Bagaimana dengan menyampaikan kabar gembira ini pada Mozza?”

“Mozza?” Tanya Rhalemug masih linglung.

“Kita ini Trio! Kau tidak mungkin membuatnya ketinggalan informasi.

Mungkin kita juga harus membuat rencana untuk merayakan jabatanmu yang baru! Kita secara tidak langsung bisa membuatnya memasak. Kau belum pernah mencoba masakannya kan?”
Glaric sudah mendekati komputer milik Rhalemug dan mulai menyenyuh-nyentuh layarnya.

“Malam Rhalemug, tumben kau menghubungiku,” sapa suara di seberang.

“Ini Glaric!” kata Glaric riang seperti biasanya. Pria itu membenahi letak kacamatanya dengan agak grogi, seolah Mozza sedang ada di hadapannya.

“Astaga Glaric! Ada apa dengan komputer di flatmu hingga kau harus meminjam milik Rhalemug?” suara Mozza melengking, memenuhi flat Rhalemug.

“Aku hanya ingin memastikan kau memberikan ucapan selamat pada teman kita ini.  Dia telah ditunjuk sebagai kepala Aracheas hari ini!” sela Garic dengan cengiran lebar.

“Kau serius? Selamat Rhalemug! Astaga! Kita harus segera merayakannya. Bagaimana dengan akhir pekan ini? Aku akan memasak banyak!” seru Mozza tak kalah hebohnya.

“Terima kasih atas dukungannya teman-teman,” sahut Rhalemug tersipu mau. Ia merasa agak baikan. Senang rasanya memiliki teman yang selalu mendorongnya untuk maju. Hal yang jarang ia dapat dari Alo.

Alo memang teman berbagi suka bersama. Mereka banyak bertukar pikiran dan pengetahuan. Bertahun-tahun melewati berbagai pengalaman bersama.

Namun kebohongan membuatnya jatuh.
Rhalemug tidak menyangka temannya dapat menciptakan kenyataan palsu di Aracheas.

Bahkan Rhalemug pribadi pun percaya jika dia adalah tangan kanan Alo. Belum lagi dengan laporan yang di edit supaya terlihat bagus. Entah apa tujuannya.

“Tidak perlu formal seperti itu sobat! Oh iya aku mulai harus memanggilmu dengan sebutan ketua supaya lebih sopan,” kelakar Glaric.

Rhalemug nyengir lebar. “Biasa saja Glaric, aku tidak haus penghormatan seperti itu. Lagipula Patizio akan mengajariku terlebih dulu. Aku tidak benar-benar mengerti apa itu kepemimpinan”.

“OK, teman kita terlihat gugup sekarang,” goda Glaric.

“Hahaha... demam kedudukan,” Mozza ikut-ikutan menimpali. “Jadi kita akan merayakannya di mana?”

“Tentu saja di rumah atasanku! Aku akan ke Schavelle untuk membantumu membawa belanjaan. Pastikan kau memasak makanan yang enak-enak!” Glaric mengedipkan matanya pada Rhalemug.

“Serahkan saja padaku!” kata Mozza lantang. Bak prajurit yang diminta untuk pergi berperang. Kemudian ia memutuskan sambungan.

Glaric masih dengan cengirannya berbalik ke arah Rhalemug dan berbaring di sampingnya. Sesaat Rhalemug merasa seperti gay saja. Namun ia membiarkan Glaric memandangi langit-langit sembari senyum-senyum.

Rhalemug menahan desis tawanya ketika memandangi ekspresi Glaric. Benar-benar kasmaran. Ia bertanya-tanya dalam hati, hal apa yang mungkin dapat dilakukannya untuk mendekatkan kedua temannya itu.

Meski jujur saja Mozza itu gadis yang sulit di tebak. Ia baik kepada siapa saja, terkadang kekanak-kanakan juga. Gadis itu seolah tidak menyukai siapa-siapa. Hanya menjalani pekerjaan dan hobi memasaknya dengan damai.

“Mungkin  benar perkataan yang menyebutkan, jika ingin mengambil hati pria, maka penuhilah perutnya,” ujar Glaric tiba-tiba setelah acara senyam-senyum yang cukup menguras waktu.

Iseng Rhalemug ingin mengatakan ‘memangnya kau yakin Mozza ingin mengambil hatimu?’ tapi ia urungkan. Lebih baik mengeluarkan pernyataan yang mendorong semangat Glaric. Bukan sebaliknya. Ada saatnya bercanda ringan dapat terasa sangat menyakitkan.

“Kau tahu sobat, aku agak merasa menyesal karena melewatkan Ferosa Feromonia tanpa memberikan bunga buat Mozza. Aku harus mencobanya. Mengambil Ferosa dari Aira dan membawakannya ke tempat tinggal pujaanku,” sesal Glaric, setengah melamun.

“Kau tidak membutuhkan Ferosa Feromonia untuk menyatakan perasaan. Setiap hari bisa menjadi hari spesial bagi kalian,” sahut Rhalemug.

Rhalemug bangkit dari tempat tidurnya. Ia mengisi gelasnya dengan separuh air panas, sisanya air dengan suhu biasa. Tenggorokannya agak sakit.

“Menurutmu Mozza menyukaiku?” celetuk Glaric.

Ups! Jangan menanyakan itu, gerutu Rhalemug dalam hati.

Bagaimana ia bisa mengetahui Mozza menyukai Glaric atau tidak. Rhalemug tidak pernah menerka-nerkanya. Ia juga tidak tahu apakah memang Mozza baik kepada semua pria. Setidaknya ia merasa kelakuan Mozza pada Glaric dan dirinya sama saja.

“Yang aku tahu, ia nyaman bersamamu,” jawab Rhalemug.

“Kuharap itu bukti sesuatu yang lebih”. Harap Glaric.

Rhalemug memilih untuk tidak memberikan komentar. Ia merasakan permukaan luar gelasnya. Kemudian menghabiskan airnya dalam beberapa teguk dan nyaris tersedak.

“Kau sendiri menyukai seseorang sekarang?” Tanya Glaric.

Rhalemug menggeleng. Ia merasakan sensasi hangat air yang baru saja diminumnya. Membuat tenggorokannya terasa lebih nyaman.

“Entahlah. Sepertinya lebih sulit bagimu untuk mengenal lebih banyak orang setelah kau bekerja. Sebagian besar waktumu sudah di habiskan di ladang. Saat kau pulang yang ada di kepala hanyalah segera beristirahat,” aku Rhalemug.

“Seandainya dengan mudah kita dapat berhubungan dengan wanita dari divisi lain. Mungkin menyenangkan. Namun hal itu terlihat mustahil sobat, kita tidak diizinkan mengunjungi divisi lain”.

“Aku bahkan tidak memiliki keinginan mengunjungi divisi lain. Hanya Gnemoe saja yang benar-benar aku kunjungi selain Aracheas. Itu juga karena Kami sebenarnya masuk dalam departemen pangan”.

Glaric mengubah posisi berbaringnya. Sementara Rhalemug kini duduk di dekat mesin air minumnya. Kembali mengisi gelas.

“Benar-benar ya Generoro suka sekali hidup dalam kepalsuan dan keterbatasan.
Tapi seandainya ada cara, aku ingin mempertaruhkan nyawa keluar Plante”.

“Pergi dari Plante memang bisa disebut sebagai mempertaruhkan nyawa,” timpal Rhalemug setuju. “Aku ingin merasakan hujan sungguhan”.

Rhalemug ingat di mana saat Ferosa Feromonia ia ke tempat Glaric dan merasakan sensasi hujan yang temannya ceritakan. Hal pertama yang terlintas dipikiran Rhalemug, hujan terasa seperti mandi karena membuat seluruh tubuh basah.
Glaric dengan iseng menggoyang-goyangkan peralatan yang sudah dibuatnya.

“Aku tidak benar-benar mengerti suara gemuruh. Namun leluhur menceritakan hujan kebanyakan ada suara mengiringinya di samping suara percikan air,” jelas Glaric dengan ekspresi ragu-ragu.

Mereka bermain hujan buatan selama kurang lebih satu jam. Untung meski basah untuk waktu yang cukup panjang, Rhalemug tidak sampai sakit setelahnya.
Selain sensasi basah, Rhalemug juga menyukai bau parfum yang di temukan Glaric di toko langganannya di Schavelle.

Penjual toko itu memastikan parfum tersebut memiliki wangi setelah hujan.
Saat mengirupnya, Rhalemug bisa merasakan kesegaran.

Aroma yang bisa membuatnya bahagia. Semenjak saat itu ia selalu berharap suatu hari mampu merasakan hujan sungguhan. Mungkin sensasinya lebih menyenangkan.

Udara Aracheas yang tidak pernah diguyur hujan tentunya berbeda. Bau tanah yang basah hanya bisa di rasakan sehari sekali yakni ketika para petani tengah mengaktifkan sistem penyiraman otomatis tiap jam sepuluh pagi.

Keesokan paginya, Rhalemug di sambut dengan kalung bunga. Tidak. Iya yakin hari ini bukan Feromonia, lagipula bunga yang ia dapat juga bukan Ferosa.
"Selamat atas terpilihnya Rhalemug sebagai ketua Aracheas!" seru Citrio diiringi dengan tepuk tangan meriah dari para petani yang jumlahnya ada ratusan.

Ia tidak ingat petani Plante ada sebanyak itu bila dikumpulkan.

"Terima kasih atas sambutan yang hangat," ujar Rhalemug membuka pidatonya. Sebenarnya bukan benar-benar pidato hanya semacam perkenalan diri sebagai ketua yang baru.

"Aracheas dan tanaman merupakan dua hal yang sudah mendarah daging, bukan hanya buatku namun juga buat seluruh petani yang mencintai biji dan menjadikannnya tanaman…”

“… hanya sekarang kita sedang menghadapi tantangan, faktor alam, di mana tanaman-tanaman kita diserang. Dengan kerendahan hati saya meminta pertolongan teman-teman semua untuk bahu membahu menyelamatkan tanaman yang kita cintai”.

"Apakah ada jalan keluar untuk mengatasinya?" seorang petani dari lantai sayuran mengajukan pertanyaan.

"Kita telah membawa permasalahan ini hingga tingkat atas. Mereka berjanji mereka akan membantu secepat yang mereka bisa," jawab Rhalemug yang enggan menyebutkan kata 'regulator'.

Ia pribadi tidak terlalu yakin para regulator dapat mengatasi gulma-gulma ganas ini. Dilain pihak ia ingin memberikan berbagai data Aracheas kepada mereka supaya sadar bahwa tidak lama lagi Plante akan menghadapi masa-masa kritis.

"Kami tentu akan bekerja keras demi menyelamatkan Plante!" seru Citrio bersungguh-sungguh. Kata-katanya banyak direspon dengan anggukan petani lain.

Rhalemug dalam hati menyangsikan perkataan itu. Mungkin ia harus mengusulkan suatu kampanye mengenai dunia yang baru, dunia yang sesungguhnya.

Ia tidak membenci Plante, tempat ini adalah rumahnya. Namun setelah mengetahui plante adalah pesawat besar sehingga mereka dapat ke tempat lain, planet sebagai tempat tinggal yang sesungguhnya, ia ingin menjajalnya.

Agar generasi selanjutnya harus bisa memiliki pengalaman menari-nari di bawah hujan.

Setelah menyelesaikan ramah tamah, Rhalemug menuju ke gudang dan mendekati tempat penyimpanan alat-alatnya.

"Itulah alasan aku menyukai atasan yang masih muda! Bukan tanpa pengalaman dan pengetahuan tentunya. Namun karena ia lebih sering kelihatan di tempat kerja… Aku tidak mungkin melihat Patizio yang renta mencangkul di lantai dasar," ujar Glaric saat melihat Rhalemug datang.
"Aku belum tahu apakah dapat lebih baik dari Patizio. Namun bukan berarti kau bisa mengatai orang lain seenaknya saja.
Patizio masih kuat mencangkul! Masih cekatan" tegas Rhalemug teringat saat ia datang ke rumah pensiunan Aracheas itu.

"Lagipula aku sudah tidak akan terlalu banyak muncul di sini, sobat”.

"Aku tahu kau memiliki tugas yang lebih mulia!" cengir Glaric sembari membenahi kacamata yang sebenarnya letaknya sudah tepat. Mungkin ia agak gatal saja sehingga menggoyang-goyangkan benda itu.

"Kau tahu ternyata aku mendapatkan akses," aku Rhalemug sembari memegangi sekop kecil kesayangannya. Sekop yang biasa ia gunakan untuk menanam biji juga mencabut gulma

“Untuk?” Sela Glaric.

“Mengunjungi lantai atas,” kata Rhalemug. Ia mengeluarkan secarik kartu dari
sakunya. Kartu itu masih baru, tidak ada goresan di sana.

Mata Glaric membulat. “Kau benar-benar seorang ketua!”

“Kuharap kau mau menemaniku ke lantai atas minggu depan. Aku tidak ingin ke sana sendiri,” ajak Rhalemug.

“Tapi kenapa? Aku?” tanya Glaric masih memandangi kartu itu.
“Karena kau pernah menjadi orang tingkat atas. Aku ingin kau membantuku memahami Equilibrium. Tenang saja, ketua memang boleh membawa pendamping. Tarn sering ke lantai atas bersama Patizio,” jelas Rhalemug.

“Semoga Tarn tidak marah atau cemburu padaku,” kekeh Glaric.

“Dia itu teman baik Patizio, wajar mereka bersama ke atas. Untuk kasusku, kau teman baikku, kau yang kuajak ke atas. Lagipula aku dan Tarn tidak terlalu dekat”.

*

Patizio mengajarkan banyak hal pada Rhalemug saat mereka bertemu lagi, terutama mengenai pengelolaan.

Pengetahuan tumbuhan sendiri sudah tidak ia singgung karena baginya Rhalemug sudah menguasai hal itu.

Ia banyak menceritakan tugas-tugasnya yang harus memerhatikan ketersediaan pangan juga kelayakan tumbuhan. Juga mengadakan kontak dengan para regulator mengenai keadaan Plante.

Pengetahuan yang paling dibutuhkan Rhalemug, menurut Patizio adalah bagaimana merangkul sumber daya manusia dari Aracheas.

"Petani kebanyakan sudah mencintai tanaman, tinggal bagaimana kau berinteraksi dengan mereka. Memastikan kerja sama di antara mereka baik, dan tentunya tidak ada yang berusaha mengambil keuntungan pribadi seperti temanmu. Lucu sekali aku mengajarkan hal ini padahal pernah gagal”.

Patizio mengayunkan gelas yang ia bawa dan mengisinya dengan air Verzacasa. Ia minum hingga gelasnya kembali kering.
"Kadang orang seperti itu. Diberikan tugas dan tanggung jawab kemudian lupa diri. Merasa dia orang hebat, bahkan melebihi atasannya...

“… bawahan yang baik akan mengklaim dirinya hebat sementara atasannya tidak lebih dari orang yang tidak berguna. Padahal atasan memang bertugas buat memerintah, memberikan tujuan," tambahnya.

Rhalemug menggigit buah yang sudah ia persiapkan untuknya dan Patizio. Buah Guar, berwarna ungu. Mulanya banyak yang mengira itu buah beracun namun ternyata rasanya sangat lezat juga mampu menghilangkan rasa mual.

"Namun tidak semua atasan baik!" wanti Patizio sembari ikut mengambil Guar sebuah. Namun tidak dimakannya. Ia hanya memutar-mutar buah itu ditelapak tangannya. "Ada atasan bermental pekerja. Tidak siap sehingga malah dibenci anak buahnya. Misalnya terlalu mencampuri pekerjaan anak buahnya”.

"Tapi bukankah atasan memang berwenang untuk mencampuri pekerjaan bawahannya? Asal ia tidak menyerang kehidupan pribadi kurasa itu diperlukan," sela Rhalemug.

Patizio menepuk bahu penerusnya, "Mengarahkan. Tapi kau tidak perlu menjadi pemandu jalan. Biarkan dia menentukan caranya. Dari situ kau akan banyak belajar bahwa untuk mencapai suatu tujuan…”

“… kita dapat mencoba beberapa cara yang berbeda. Asal anak buahmu mampu mencapai tujuannya secara tepat dan bila memungkinkan dalam waktu yang lebih cepat dengan caranya sendiri, itu sudah berhasil”.

Rhalemug kembali menggigit Guar. Ia mencerna kata-kata Patizio sembari memandangi Verzacasa.

"Aku yakin kau bisa menjadi pemimpin yang dicintai banyak orang!" serunya memantapkan hati Rhalemug.

Mudah saja bicara begitu, batin Rhalemug. Ia bahkan tidak benar-benar tahu sebenarnya petaninya pro pada Alo atau padanya. Karena selama ini para petani terlihat tunduk pada Alo. Tentunya sebelum Alo kehilangan pekerjaan sebagai petani.

Pekerjaan Rhalemug memang telah berubah. Dari pekerja kasar di ladang, mendadak ia harus tenggelam dalam berbagai laporan.

Di samping itu Patizio juga telah membantunya memberikan sampel gulma pada divisi riset. Ia mestinya menerima hasilnya hari ini.

Benar saja, baru saja Rhalemug akan menggunakan sarung tangannya. Seorang petani baru menghampirinya.

“Data Gulma. Mereka sudah mengirimkan datanya ke komputermu, ketua,” katanya kemudian berlalu. Rhalemug tidak mengenal petani barusan dan tidak memiliki kesempatan buat berkenalan.

Ia menyingkirkan sarung tangannya dan menyalakan komputer. Sebagai ketua, ia memiliki ruangan pribadi yang dilengkapi dengan komputer.

Meski begitu, ia lebih banyak membaca laporan di rumah. Selama di Aracheas Rhalemug membantu petaninya menghadapi krisis.

Begitu komputernya menyala, Rhalemug segera mengetikkan username dan passwordnya, muncul pesan:

Kabar buruk, Aracheas tengah menghadapi wabah gulma ganas. Gulma parasit sejati, di mana gulma jenis ini tidak mempunyai daun, tidak mempunyai klorofil, tidak dapat melakukan asimilasi sendiri. Singkat kata, kebutuhan akan makanannya diambil langsung dari tanaman inangnya dan akar pengisapnya memasuki sampai ke jaringan floem.
Kuharap kau dapat segera mengunjungi Equilibrium dan pimpinanku akan menjelaskan perihal gulma ini secara lebih mendetail. Kita akan memikirkan solusinya bersama-sama.

Niaqu,
Sekretaris Plante

Tentu saja aku akan segera mengunjungi lantai khayangan tersebut, janji Rhalemug dalam hati.


*


Kesimpulan & Pencerahan

Orang dapat berubah baik dan jahat
bergantung pada dua hal
Membaca dan meresapi informasi yang
mencerahkannya atau bertemu dengan
 orang yang hebat

Glaric dan Mozza datang dengan segambreng belanjaan. Mereka masing-masing menjinjing plastik berisi bahan makanan.

Setelah membuka pintu depan, Rhalemug segera menyingkir ke samping agar kedua temannya bisa masuk.

“Ruanganmu nampak lebih lega sobat!” sahut Glaric sembari menaruh belanjaan ke atas meja.

Setelah menutup pintu, ia segera membantu temannya buat membongkar plastik-plastik belanjaan.
Mereka akan makan besar hari ini dan Rhalemug mendadak merasa malu karena ia tidak mengeluarkan sepeser pun uangnya. Mungkin ia harus menawarkan penggantian.

“Kurasa aku harus mengganti belanjaan ini,” kata Rhalemug dengan wajah seriusnya. Entah mengapa tiap kali ia ingin serius, ia malah menunjukkan mimik yang mengerikan.

“Tentu saja, kau harus menggantinya saat aku ulang tahun,” sahut Mozza enteng.

Namun Rhalemug tidak tahu kapan itu, jadi ia segera mendekati Glaric.

“Sekitar sebulan lagi,” katanya memberitahu.

Rhalemug menggucapkan ‘mengerti’ tanpa suara. Sementara Glaric
memberikan jempolnya. Senang sekali mengingat banyak yang dirayakan, artinya banyak hal yang baik terjadi.

Berhubung Rhalemug sudah mengeluarkan alat-alat masaknya, Mozza dengan segera bisa mulai menggunakannya. Ia mencuci sayuran dan mulai memotong-motong.

Melihat hal itu, Rhalemug meninggalkan Glaric yang masih membongkar belanjaan dan mendekati Mozza, membantu gadis itu dengan sayuran.

“Tidak! Tidak seperti itu cara memotongnya. Harus seragam. Mozza mencontohkan pemotongan yang ia mau. Atau kau bisa menyetel lagu saja dengan Glaric, aku bisa menangani masakanku sendiri,” tegas Mozza yang secara tidak langsung mengusir Rhalemug secara halus.

“Percayalah dia mendadak galak tiap kali berurusan dengan masak memasak,” kekeh Glaric pelan.

Rhalemug memasukkan kedua tangan kirinya ke dalam saku kemudian mengakses komputernya. Lagu-lagu di Plante tidak banyak.

Mereka mungkin tidak memiliki penyanyi lagi sekarang. Lagu yang tersedia hanyalah yang menggugah semangat Plante. Bahu membahu bersama mencari dunia yang indah, kurang lebih begitu kata-kata dalam liriknya.

Rhalemug merasa ia ingin mendengarkan lagu lain, lagu baru yang indah. Namun siapa seniman yang mampu berlagu di Plante? Satupun ia tidak kenal.
Rhalemug memandangi Mozza yang tengah berkutat dengan dapurnya.

Ia pernah melihat Ahora, namun Mozza jelas lebih andal untuk kemampuan memasaknya. Siapa sangka yang mahir memasak adalah bibi jauhnya, sementara Irrina tidak bisa memasak.

Keahlian memang bukan sesuatu yang dapat diwariskan begitu saja. Kuncinya ada pada praktek dan kemauan buat memelajari. Jika orang tersebut tidak mau belajar, ia tidak akan bisa.

Tangan-tangan cekatan Mozza mengolah berbagai sayuran juga serangga. Seperti pianis yang memainkan simfoni indah, jari-jari indah Mozza menari di atas bahan-bahan makanan.

Ia bisa memasak beberapa jenis makanan sekaligus tanpa melupakan apa yang harus ditambahkan pada masakan ini, dan apa yang harus di lakukan pada masakan itu.

“Apa kau banyak belajar memasak dari ibu Irrina?” Tanya Rhalemug sembari
memandangi keempat tangan Mozza yang terus bekerja.

Mozza terlihat berpikir sebentar, keempat tangannya mengambang di udara. “Bibi memang sangat mahir mencampurkan bunga-bunga ke dalam makanan. Tapi aku tidak semahir itu. Aku tertarik memasak karena melihat buku-buku. Makanan yang sudah jadi terlihat lezat, aku jadi ingin membuatnya”.

“Kalau aku memandang memasak hanya membuang waktu saja Mozz. Kau bayangkan. Belanja, membersihkannya kemudian menunggunya hingga matang. Makannya hanya sebentar. Setelah itu kau harus membersihkan seluruh perkakas memasak juga alat-alat bekas makan,” ujar Glaric sembari memberikan opininya.

“Apa kau berpikir hal yang sama Rhalemug?” tanya Mozza sembari memasukkan serangga-serangga yang telah dia bersihkan ke dalam panci dengan air yang mendidih.

“Sukar untuk menyukai sesuatu yang tidak bersinggungan denganmu. Aku selalu mendapatkan makanan dari divisi kuliner tanpa memikirkan cara membuatnya.

Berapa lama yang mereka butuhkan untuk menyiapkan semuanya. Benar-benar di luar jangkauanku,” sesal Rhalemug.
Mozza terdiam, namun tangan-tangannya masih bekerja.

“Yah, pada akhirnya kita semua memiliki kesukaan pribadi,” katanya, akhirnya.

“Masalah memasak, aku pernah membaca di komputer mengenainya. Bukan resep, maksudku, namun artikel yang menyebutkan memasak adalah suatu keahlian hidup dasar,” kata Rhalemug sembari menyalakan penyedot udara.

Agak terlambat karena bau masakan sudah mulai memenuhi ruangan.

Glaric membenahi kacamatanya, “Aku tidak percaya komputer kita menyimpan informasi-informasi seperti itu!”

“Coba kau cek,” usul Mozza sembari mengaduk-aduk sayur rebusannya.
Mereka masih di ruangan yang sama.

Meski begitu Rhalemug dan Glaric mendekati sudut ruangan. Rhalemug sudah memindahkan ranjangnya ke kamar.
Beruntung Ahora pernah tinggal di rumahnya, sehingga ia bisa menggunakan kamarnya yang sudah rapi untuk hal-hal semacam ini. Ketika tamu-tamu datang ke rumahmu.

Rhalemug membuka password komputernya kemudian membiarkan Glaric melakukan penelusuran.

“Hmm...”. Glaric bergumam tidak jelas.

“Benar ada?” Tanya Mozza terkejut.

Sepertinya ia lebih mampu membaca gerak-gerik Glaric.

“Segala pengetahuan mengenai bertahan hidup secara dasar sebenarnya. Tidak hanya memasak. Ada cara bercocok tanam juga membangun tempat tinggal juga,” kata Glaric sembari mengerutkan keningnya.

“Terdengar seperti mustahil,” kata Mozza memberikan komentar. Ia mematikan api pada salah satu masakannya. Sementara tangannya yang lain menambahkan bumbu pada masakan lainnya.

Ia benar-benar sudah mempersiapkan segalanya. Berbelanja bahan-bahan yang ia butuhkan dan tidak ada yang terlewat.

Mozza mematikan api untuk masakannya yang kedua. Namun masih terus mengaduk sayur tersebut sembari menambahkan sedikit rempah-rempah.

“Maaf menginterupsi, namun aku berpikir untuk mencampurkan Wakno-mu ke masakanku. Apa kau memiliki persediaannya?”

“Ada di ujung kanan depan lemari atasmu Mozz,” jelas Rhalemug mendeskripsikan benda yang di cari Mozza.

Mozza mengikuti perkataan Rhalemug dan mendapatkan Wakno dengan mudah. Ia menaruh sedikit wakno ke telapak tangan kanan atasnya dan mencicipinya sebelum mencampurkannya pada salah satu makanan yang belum selesai di masak.

“Hal itu membuktikan bahwa pendahulu kita memang tidak menginginkan buat terjebak dalam Plante. Bergenerasi-generasi. Selamanya. Lima puluh tahun kurasa sudah sangat lama,” celetuk Mozza sembari mematikan api dari masakannya.

Semuanya sudah siap. Aroma makanan menguar di udara benar-benar menggiurkan.

Mereka makan besar hari ini. Empat macam lauk untuk tiga orang.

“Untuk Rhalemug!” seru Mozza sembari mengangkat empat gelas berisi air perasan Guar dengan keempat tangannya.

Sudah menjadi kebiasaan di Plante, suatu perayaan harus di mulai dengan bersulang. Rhalemug membayangkan ia akan kembung duluan dengan empat gelas Guar dan mungkin tidak bisa makan masakan Mozza banyak-banyak.

“Untuk Rhalemug!” ulang Glaric sembari memegang empat gelas.

Rhalemug mengambil gelas-gelasnya dengan sedikit mengernyit. Ia ingin mencicipi masakan Mozza namun harus terjebak dalam kebiasaan Plante.

Mereka membenturkan masing-masing gelas kemudian meminumnya satu per satu.

Dengan susah payah Rhalemug menghabiskan gelasnya yang keempat. Sementara Mozza dan Glaric terlihat biasa-biasa saja harus meminum empat gelas secara serempak.

Glaric membantu menyingkirkan tiga gelas dari masing-masing orang ke washtafel sementara Mozza mulai membagi-bagikan masakannya.

Rhalemug benar-benar seperti raja sekarang. Asal bukan dia yang harus mencuci seluruh perkakas makanan saja setelah perayaan ini selesai.

Canda tawa memenuhi ruangan itu. Setelah menyelesaikan makan malam. Saat itu Mozza memandangi ruangan Rhalemug.

Dengan mata membulat ia menunjuk pot bunga yang ada di atas meja tamu milik Rhalemug.
Ia mengitari ruangan duduk yang digunakan Rhalemug sebagai ruang tidurnya.

“Bukankah ini tanaman yang menghasilkan bunga Ferona?”

Sepersekian detik Rhalemug merasa terkejut dengan pertanyaan yang diajukan Mozza. Detik berikutnya ia merasa kekagumannya pada gadis itu bertambah kuat.

Bagaimana seseorang dari divisi energi dan perpustakaan mengetahui tanaman dengan baik? Bahkan Alo dan Ahora yang pernah tinggal di flatnya selama seminggu tidak pernah menyinggung tanaman ini atau bahkan memberi tebakan yang baik.

“Bagaimana kau bisa mengidentifikasinya, Mozza?”

“Itu karena bentuk batangnya yang beruas-ruas dan  jarang memiliki tunas. Selain itu bentuk daunnya yang khas.... Daun bunga Ferona berbentuk oval sempurna di dekat akarnya, makin mendekati pucuk daunnya berubah menjadi lebih bulat…”

“… perubahan warna juga terjadi pada tanaman ini. Semakin mendekati puncak, batangnya malah berwarna lebih gelap”.

“Pengetahuanmu mengenai tanaman ternyata tidak dapat diremehkan,” puji Rhalemug.
“Tunggu Mozz, kupikir kau benar-benar tidak tertarik pada Ferosa Feromonia,” tuntut Glaric.

“Aku memang tidak merayakannya dalam waktu yang lama. Namun aku pernah mengikutinya,” kenang Mozza.

Rhalemug tidak tahu harus berkomentar apa. Glaric pasti akan tambah menyesal karena tidak memberikan sebatang Ferosa pada Mozza.

Tapi siapa tahu kejadian ini akan memantapkannya untuk memberi Ferosa tahun depan.

Mozza masih meneliti tanaman tersebut.
“Jadi kau berhasil menanamnya di flatmu! Menanam Ferona merupakan hal yang hampir mustahil karena tanaman ini mudah stress saat dipindahkan ke media yang baru…”

“… katakan Rhalemug, apakah kau menanamnya agar tidak perlu bersusah payah berebut bunga Ferona di Aira saat Feromonia tiba?”

“Sebenarnya tanamanku itu hanya tumbuh tanpa berbunga. Cukup selaras dengan tujuan awalku…”

“… menanam tanaman yang hampir mustahil untuk dipindahkan dari daerah asalnya. Aku tidak tahu jika kau juga memiliki ketertarikan pada dunia tumbuhan. Suatu kerajaan dari kehidupan yang sunyi”.

“Sebenarnya ketertarikan itu muncul karenamu Rhalemug. Sebelum ini aku banyak membaca buku-buku mengenai teknik mesin dan perubahan energi yang dihasilkannya…”

“… namun semenjak kedatanganmu keperpustakaan secara perlahan ketertarikanku pada tanaman muncul.

“Awalnya aku hanya ingin mencari buku-buku yang bagus mengenai tanaman untuk memberikannya padamu sebagai referensi. Siapa sangka pada akhirnya aku juga ikut masuk ke dalam duniamu,” imbuhnya sembari tertawa.

Glaric membenahi kacamatanya yang memang miring. Ia tidak suka ini. Mozza dan Rhalemug berbicara seolah tidak ada dia di ruangan yang sama. Seolah dia ini kasat mata. Rasa disingkirkan bertunas dalam pikirannya.

“Kau ini benar-benar menyerahkan hidupmu sepenuhnya untuk tanaman, pengetahuanku tidak mungkin disandingkan denganmu,” decak gadis itu lagi.

Kemudian ia menunjuk benda di samping tanaman Rhalemug. “Kalau boleh tahu ini keranjang apa Rhalemug?”

“Keranjang?” Rhalemug bangkit dari tempat duduknya dan mendekati benda yang dimaksud Mozza.

“Oh, ini keranjang yang kudapatkan saat perayaan Feromonia. Keranjang itu tadinya berisi berbagai macam kue berbentuk bunga dengan rasa yang sangat enak”.

“Pacarmu pasti merupakan orang yang cantik dan pintar memasak”.

“Eh, sebenarnya gadis itu bukan pacarku. Kami secara kebetulan bertemu karena mengalami patah hati dalam waktu yang bersamaan. Kami bahkan tidak bertukar nama satu sama lain. Yang lebih menyedihkan lagi, aku tidak mampu mengingat wajah gadis itu lagi.

Kejadiannya sudah cukup lama. Sekitar delapan tahun yang silam”.

“Apakah kau masih sering memikirkan gadis itu?”

“Tidak Mozza, aku hanya berharap gadis itu menemukan orang yang mencintainya. Agar pengalaman cinta yang buruk tidak dialaminya kembali”.

Mozza terdiam mendengarkan kata-kata Rhalemug. Ia memandangi tanaman Ferosa sekali lagi.

“Ngomong-ngomong Rhalemug, seandainya suatu hari pohon ini mengeluarkan bunga Ferona, kau harus memberikan bunga itu padaku!”

Saat itulah bunyi logam yang menghantam lantai terdengar.

“Maaf aku tidak hati-hati,” kata Glaric.
Rhalemug sendiri tidak tahu harus berkomentar bagaimana. Menurutnya Mozza hanya iseng saja meminta bunga Ferosa dari tanaman miliknya. Tidak ada arti lebih. Tapi siapa yang tahu apa yang dipikirkan Glaric?

Sembari membungkukkan badan, Glaric mengambil sendok yang dijatuhkannya.

Melanjutkan kegiatannya merapikan meja. Namun saat itu ia bergumam.

“Ada apa?” tanya Rhalemug.

“Sepertinya ada sesuatu yang terselip di belakang meja komputermu,” kata Glaric dengan dahi mengeryit.

“Benda apa?” tanya Mozza masih berdiri di samping tanaman milik Rhalemug.

“Sepertinya kertas. Rhalemug kau jarang membersihkan flatmu ya?” tuduh Glaric.
Rhalemug nyengir.

“Seminggu sekali. Hanya membersihkan bagian yang terlihat saja. Aku hampir tidak pernah mengubah posisi barang-barangku”.

“Jangan bicara begitu pada Rhalemug, kau sendiri juga harus lebih rapi dengan kabel-kabel mautmu!” tegur Mozza.

Giliran Glaric yang nyengir.

Rhalemug mengikuti kata-kata Glaric. Ia menuju ke belakang komputernya dan memang benar ada sesuatu di sana. Sesuatu dari masa lalu. Berdebu dan usang.

Ia menemukan foto dengan lima orang di dalamnya. Tiga pria dan dua wanita saling merangkul dengan senyum. Itu adalah ayahnya, yang paling kiri. Ibu Alo kedua dari kanan sementara pria yang sepertinya ia kenal ada di tengah.

“Apa itu sobat?”

“Foto,” jawab Rhalemug pendek. Ia menunjukkan foto itu pada teman-temannya.

“Kenapa Heere ada di sini?” sahut Mozza, kaget.

Heere. Heere nama itu harusnya tidak asing. Tentu saja, Rhalemug pernah bertemu dengannya. Suatu pagi di Schavelle. Petugas kebersihan yang sempat mengobrol dengannya. Tidak salah!

“Kau yakin itu Heere?” tanya Rhalemug.

“Siapa itu Heere?” tanya Glaric kebingungan.

“Petugas kebersihan di Schavelle,” jelas Rhalemug. “Aku tidak menyangka orang tuaku dan Alo juga bersahabat. Ada foto ibu Alo di sini”.

“Apakah orang tua Alo pernah menceritakan sesuatu padamu?” Mozza tidak mau kalah untuk bertanya.

bersambung....


Cerbung ini ada di An1magine majalah eMagazine Art and Science Volume 2 Nomor 2 Februari 2017
yang dapat di-download gratis di Play Store, share yaa

Komentar

Page Views

counter free

Visitor

Flag Counter

Postingan populer dari blog ini

STANLEY MILLER: Eksperimen Awal Mula Kehidupan Organik di Bumi

Menerbitkan buku di An1mage

CALL FOR CHARACTERS - ICF3 - exhibit your original characters globally for free